Chapter 2: Mio-sensei

Disclaimer: Kakifly

Warning: OC, OOC –maybe-, typo, dll.

Happy reading 'n enjoy, minna!

Terlihat seorang gadis tengah sibuk mondar-mandir di sebuah pintu ruang kelas. Kadang-kadang tangannya terulur untuk membuka knop pintu, namun sedetik kemudian dijauhkannya kembali. Terlihat sekali kalau gadis itu terlihat cemas. Sedaritadi tangannya tak henti-hentinya meremas rok yang ia pakai. Mengumpulkan segenap keberanian yang ia miliki, gadis itu pun memasuki ruangan kelas. Tentu saja setelah sebelumnya menuliskan 'hito' pada telapak tangannya dan pura-pura memakannya. Begitulah cara ampuh bagi gadis ini mengurangi kegugupannya.

"O-ohayogozaimasu," Sapa sang gadis kepada semua murid di kelas itu.

Siiinggg...

Suasana berubah menjadi sepi. Tampak semua yang ada di ruangan itu memperhatikan gadis asing yang baru saja memasuki kelas mereka. Sementara yang diperhatikan hanya bisa gugup dengan wajah yang memerah.

"Ah! Kau yang menyanyi saat konser waktu itu 'kan?" teriak salah seorang siswa, memecah kesunyian.

"Gadis waktu itu ya?"

"Penampilanya sangat keren!"

"Benar. Aku sampai ikut menangis melihat penampilanya."

"Hei lihat, wajahnya memerah... kawaii~"

"Ne, ne, aku pertama kali melihatmu, apa kamu murid baru?" tanya salah seorang siswa, membuat siswa yang lain menoleh padanya.

"Benar juga. Aku juga pertama kali melihatnya," sambung siswa lainnya.

Suasana yang tadinya sepi berubah menjadi ramai dengan suara orang-orang yang mulai berbisik-bisik disana-sini. Mereka tidak tahu kalau gadis itu benar-benar gugup dan risih karena sedaritadi terus diperhatikan.

"A-ano..." Gadis itu berusaha mengintrupsi.

"Saya Akiyama Mio, yoroshiku!" Akhirnya, dengan susah payah, ia bisa memperkenalkan dirinya.

"Oh, jadi namamu Mio? Masih ingat padaku?" tanya gadis berambut kuning dengan hiasan rambut kupu-kupu ceria sembari menghampiri Mio. Sedangkan yang ditanya berusaha mengingat siapa gerangan gadis ini.

"Eto... kau keyboardis itu 'kan?" jawabnya ragu.

"Yups. Aku Kashiwasaki Sena yoroshiku ne, Mio-chan!" Dengan senyum yang masih melekat di wajahnya, gadis itu pun memperkenalkan diri.

"Mi-mio-chan?" tanya Mio spontan.

"Eh, kenapa? Kau tidak suka ku panggil Mio-chan ya?" tanyanya sedih.

"Emh... sebaiknya aku memanggilmu apa ya? Umh..." Ia mengerutkan kening, berusaha mencari nama panggilan yang cocok untuk Mio. Kadang-kadang matanya menerawang ke atas dengan lengan yang dilipat di dada. Bukti kalau ia memikirkan dengan serius nama panggilan untuk Mio.

"Mio-chan, Mio..chan...chan.. chan... Mi..chan? Micchan! Micchan!" ucapnya semangat, sembari mengguncang-guncang bahu Mio.

"Eh?" Mio tampaknya tidak mengerti kenapa Sena bisa sesemangat ini.

"Mulai sekarang panggilanmu, Micchan!"

"HEH? Tung-tunggu dulu, kanapa kau memanggilku dengan embel-embel –chan?" tanya Mio tak mengerti kenapa seorang guru seperti dirinya dipanggil –chan.

"Kenapa? Tentu saja karena mulai sekarang kau akan menjadi bagian kelas kami," jelasnya.

'Bukan itu masalahnya,' rutuk Mio dalam hati.

"Umh, memang wajarnya orang yang baru pertama bertemu memanggil kita dengan embel-embel –san, Mio-san, akiyama-san, atau semacamnya. Tapi..."

'Sudah ku bilang bukan itu masalahnya.' Lagi-lagi Mio hanya bisa menggerutu dalam hati tanpa bisa mengungkapkannya.

"...apa kau tidak merasa kalau embel-embel –san itu memberi jarak yang besar pada hubungan kita? Bukankah dalam menjalin sebuah pertemanan harusnya tidak ada jarak yang memisahkan 'kan? Benar 'kan? Pertemanan itu ada untuk membuat kita menjadi semakin dekat, saling mengisi, saling membagi dan menerima. Kau berpikir hal yang sama juga 'kan Micchan?"

Sena berkata seolah-olah ia sedang memerankan sebuah drama tentang seorang gadis yang akan ditinggalkan kekasihnya pergi. Dengan segala macam ekspresi dan gerakan yang dibuat sesedih mungkin. Entah kenapa hal ini mengingatkan Mio pada sahabatnya Ritsu.

"Urusai, niku!"

Salah seorang siswa menginstrupsi obrolan mereka. Seorang gadis dengan rambut hitam panjang digerai. Mirip seperti Mio hanya saja bentuk poni dan matanya berbeda. Ia memiliki mata berwarna ungu.

"Apa urusanmu? dan berhenti memanggilku 'niku'!" Dengan kesal, Sena menghampiri siswa tersebut.

"Sebenarnya, nama niku juga terlalu bagus disandangkan padamu. Tapi karena kasihan, ku biarkan kau menyandang panggilan itu. Bersyukurlah!" Gadis itu menimpali dengan enteng.

"Kauuu... Hemh. Aku masih lebih baik daripada orang yang tidak bertanggungjawab sepertimu!" balas Sena kesal.

"Apa maksudmu?" tanyanya dingin dan menusuk, membuat suasana tiba-tiba terasa mencekam. Terlihat sekali kalau ia tidak suka dengan perkataan Sena padanya.

"Y-ya, siapa orang yang dengan seenaknya mengusulkan kita untuk konser, ta-tapi orangnya sendiri tidak datang? Bukannya yang seperti itu tidak bertanggungjawab namanya?" Walaupun sedikit takut, Sena berusaha menyampaikan kekesalannya.

"Bukannya aku tidak mau datang, hanya saja aku... Hah, lupakan saja!" Ia tidak melanjutkan ucapannya, membuat Sena dan yang lainnya penasaran.

Mio hanya bisa melihat apa yang terjadi tanpa bisa berbuat apa-apa. Selain karena tidak berani bicara, ia juga tidak paham dengan situasi yang terjadi saat ini.

"Hah, lihat. Kau bahkan tidak punya alasan, untung saja saat itu ada Micchan. Ne, Micchan," ucapnya berbalik melihat Mio.

"Huh?" hanya itu yang terlontar sebagai jawaban. Ia benar-benar bingung harus menghadapi situasi seperti ini. Sementara itu gadis tadi hanya bisa mendengus dan mengalihkan pandangannya ke jendela.

"Oh iya, aku hampir lupa. Micchan, disana ada tempat kosong, kau bisa duduk disana. Akan lama kalau kau menunggu sensei yang satu itu, ia selalu saja terlambat. Dasar sensei pemalas!"

"Jangan pernah mengatainya begitu!" bentak gadis itu marah, sembari berdiri dari tempat duduknya. Tentu saja hal ini membuat seisi kelas melihat kearahnya.

Dalam sekejap, suasana berubah jadi sepi. Sena hanya diam, antara terkejut, takut dan mungkin menyesal karena telah mengatai gurunya. Tapi bukan hanya karena itu ia diam, ia merasa heran kenapa gadis itu bisa marah hanya karena ia mengatai Akira-sensei?

"A-ano. Semuanya, tenang!" instruksi Mio, membuat suasana yang awalnya nampak tegang, sedikit cair. Sebagai seorang guru tentu ia tidak boleh diam saja melihat kejadian ini.

"A-ah, aku lupa. Micchan ayo kita duduk. Mungkin sebentar lagi Akira-sensei akan masuk, kalau tetap berdiri disini, ia bisa marah. Ayo!" Sena menuntun Mio untuk segera duduk di bangku kosong dekat jendela, berusaha mengalihkan pembicaraan. Terlihat sekali dari caranya berbicara, ia merasa sedikit gugup karena kejadian tadi. Gadis tadi juga sudah duduk kembali dan melanjutkan aktivitasnya melihat keluar jendela.

"Tidak pe-perlu, aku akan duduk disini saja," ucap Mio sembari menunjuk meja guru, membuat semua orang heran.

"Ano ne, itukan tempat sensei..." ucap Sena merasa bingung.

"Aku lupa memberitahu kalian..." Seisi kelas melihat kearahnya, penasaran akan apa yang hendak Mio katakan. Dan bukan Mio namanya kalau wajahnya tidak memerah sekarang.

"...mulai hari ini, Akira-sensei tidak akan lagi mengajar di sekolah ini."

"Heee..." ucap semua siswa kaget, terutama gadis tadi.

"Ini memang mendadak, jadi kalian tentu terkejut mendengar kabar ini. Sebagai gantinya, mulai sekarang aku akan menggantikan ia sebagai guru baru disini. Aku belum punya pengalaman sebelumnya, jadi mohon bantuannya," ucap Mio sedikit menundukan badan.

"Hffft... hahaha..." Mio melirik kearah Sena yang mentertawakannya. Lalu ia melirik seisi kelas, mereka juga seperti menahan tawa.

"K-kenapa kau tertawa?" tanya Mio. Rasanya ia ingin menangis, karena merasa tidak dihargai muridnya.

"Haha... Micchan, ternyata kau bisa melucu juga. Haha..."

"..."

"Huff... maaf, aku kelewatan. Masih kurang 1000 tahun lagi sebelum kau bisa mengerjaiku. Harusnya kau pakai pakaian yang biasa seorang guru pakai, lalu pakai kacamata, baru kami bisa percaya," terang Sena menjelaskan, lebih tepatnya memberi nasehat untuk 'mengerjai orang dengan benar'.

"Aku tidak sedang mengerjai kalian, dan aku juga memakai pakaian gu-" Mio berusaha membela diri, kemudian melihat pakaian yang dipakainya.

"He? HEEEEEHHH?"

Oh Mio-chan, apa seorang guru memakai seragam sekolah untuk mengajar?

######\(^o^)/\(^o^)/\(^o^)/######

Yahoo~

Adakah yang nunggu lanjutan fict ini? #Siiinggg~

Ugh, akhirnya selesai juga chap 2, gomen ne, lama ya? #krik krik~

Ma-maa, kalau begitu... Jaa na! ^^

#Kaburrr