Thanks to Reviewers #bow

Viviandra Phanthom : Tsu-kun traveling ke masa lalu, ke Italy~ trims ya reviewny ^^

FamelA05 : Traveling dia, ke masanya Giotto 400 tahun lalu :D iyah, trims reviewny ya

NuruHime-chan19 : Iyah Nuru-chan ^^ ini update, trims ya reviewny :D

Guest : Sip, ini udah update :D trims reviewny ^^


.

.

.

Out of Nowhere

Katekyo Hitman Reborn © Akira Amano

Runriran

Chapter II

Warnings : OOC, OC, Typos, Gajeness, Time Traveling

Don't Like ? Don't Read !

.

.

.


•° Di Suatu Tempat di Italy °•

Pooof

Asap berwarna pink muncul tiba-tiba. Tsuna tidak bergeming, ia membiarkan asap pink itu menghilang perlahan-lahan lalu barulah ia memutuskan untuk melihat keadaan sekitar. Tsuna menoleh ke kiri dan ke kanan. Di sisi kanan pohon, di sisi kiri pohon. Dan munculah suatu kesimpulan bahwa dia sedang berada di dalam hutan. 'Untuk apa diriku di masa depan berada di hutan ?' batin Tsuna mengingat-ingat kejadian pada saat pertama kali ia terlempar ke masa depan oleh basoka Lambo. Pertama, peti mati di hutan dan sekarang ia sedang berdiri di hutan. Kenapa selalu hutan ? Apa ada kaitan antara basoka dan hutan atau kaitan di antara Tsuna di 10 tahun kemudian dengan hutan ? Benar-benar memusingkan.

Tsuna lalu memutuskan untuk 'sedikit' menjelajah hutan sambil menghabiskan sisa waktu 5 menit untuk kembali ke masanya. Namun, semakin lama ia berjalan entah kenapa perasaanya semakin tidak enak dan Tsuna pun memutuskan untuk berhenti. Tsuna menyenderkan tubuhnya di sebuah pohon. Ia lalu merasa terganggu dengan sesuatu yang kini disadarinya kalau tubuhnya menyusut. Tsuna mengangkat tangannya, 'Ma-masa sih ?' bulir-bulir keringat mulai meluncur dari kepalanya. 5 menit sudah berlalu dan dia belum juga kembali ke masanya ditambah tubuhnya yang menyusut seperti anak sd berumur tujuh tahunan. 'Gawat… Jangan-jangan basoka Lambo bermasalah ? Bukannya dia baru saja pulang dari Italy ya…' Pemikiran-pemikiran aneh Tsuna mulai memenuhi kepalanya dan hal itu terganggu oleh sebuah ledakan 'Baam' yang berasal tidak jauh dari tempatnya berada. Ingin memastikan, Tsuna memanjat sebuah pohon yang lumayan *baca:sangat* tinggi untuk melihat apa yang sedang terjadi.

Setelah Tsuna sampai di pertengahan ia berdiri di atas satu dahan pohon yang besar. Tsuna memicingkan matanya, ia melihat seseorang laki-laki bersurai pink, 'Pink ? What the hell !?' sedang bertarung melawan beberapa pria berjas hitam, walau dalam jumlah bisa dipastikan kalau itu bukanlah pertarungan melainkan pengeroyokan. Tapi, walaupun laki-laki bersurai pink itu sendirian ia tidak kalah oleh lawan-lawannya. Mengungguli malah, 'Hebat !' batin Tsuna. Dan pada saat wajah laki-laki itu bisa terlihat agak jelas Tsuna shock, ia mengenali tattoo itu. Laki-laki yang pernah seharian penuh menggantikan posisi storm guardiannya. Vongola Primo Storm Guardian, G.

Satu kata yang terlintas di benak Tsuna sekarang. 'Pergi !' Kalau apa yang dia pikirkan benar, maka sekarang ia bukanlah di masa depan. Melainkan di masa lalu, 400 tahun lalu ! Tsuna lalu turun dari pohon dengan gesit. Terima kasih untuk Reborn karena selalu melatihnya hingga kini Tsuna sudah terbiasa dengan berbagai hal-hal extreme. Tsuna lalu berlari menjauh dari arah pertempuran itu dan lebih dari setengah jam kemudian ia melihat sebuah kota kecil di kejauhan. 'Syukurlah' batinnya, namun belum sempat ia selesai bernafas lega sebuah suara aneh terdengar di dekatnya.

Gulp

Tsuna menelan ludahnya, horror. Dan kemudian munculah seekor babi hutan yang kini langsung menerjangnya tanpa aba-aba terlebih dahulu. Tidak siap menerima serangan si babi, Tsuna mundur ke belakang dan terjungkal jatuh. Rasa sakit menjalar di kepalanya, kesadarannya perlahan-lahan mulai menghilang namun telinganya mendengar sebuah teriakan seseorang sebelum kegelapan benar-benar menyelimuti dirinya.

.

.

.

Pintu kedai sushi terbuka, "Tadaima," salam Yamamoto Takeshi yang baru saja pulang dari sekolahnya,

"Okaeri, Takeshi," Yamamoto menutup pintunya, "Ah, ada temanmu yang datang berkunjung," ucap Tsuyoshi sambil mengarahkan lirikan matanya pada seseorang yang dengan tenang sedang menyeruput teh hangatnya. Yamamoto mengenalinya, gadis yang kemarin baru saja ia kenal, Noémi,

"Konnichiwa, Takeshi," sapa Noémi pelan seraya menoleh ke arah Yamamoto. Yamamoto pun lalu tersenyum dan menjawab salam Noémi.

"Ada apa ?" tanya Yamamoto

"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin berkunjung," Noémi kembali menyeruput tehnya, "Ada rencana hari ini ?" Yamamoto menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal. Melihat tanda-tanada pemuda di depannya kesulitan, cepat-cepat Noémi menambahkan, "Kalau Takeshi ada acara tidak apa-apa kok,"

"Sebenarnya aku ingin pergi ke rumah Tsuna, sih," Noémi menaikkan alisnya,

"Aku boleh ikut ?" tanyanya penuh harap,

"Yah, aku rasa tidak apa-apa," Noémi tersenyum senang mendengar jawaban Yamamoto, 'Mudah-mudahan Gokudera tidak marah-marah,' batinnya,

Setelah beberapa menit Yamamoto keluar dengan pakaian biasanya, lalu pergi ke kediaman Sawada bersama Noémi. "Ng, Noémi ?" Noémi menoleh kea rah Yamamoto,

"Naomi," Yamamoto yang tidak mengerti hanya bisa menjawab 'ha ?', "Panggil saja Naomi. Noémi itu pelafalan dari Naomi." Yamamoto lalu mengangguk mengerti,

"Aku tidak tau kalau kau bisa bahasa Jepang ?" Naomi tertawa kecil, ia lalu mengangguk,

"Maaf ya, aku tidak bermaksud untuk membohongimu. Tapi, karena melihat Hayato sangat bersemangat menjadi translator dadakan aku jadi tidak enak padanya," Yamamoto mengangguk-angguk mengerti,

"Walaupun kita tidak tau dia akan marah atau tidak setelah ini," Naomi mengangguk meng'iya'kan,

"Yah, mudah-mudahan saja Hayato tidak marah," ucap Naomi pelan, tidak terasa mereka sudah berada di depan kediaman Sawada. Yamamoto dan Naomi pun melangkahkan kaki mereka ke depan pintu kediaman Sawada,

Ting Tong

Pintu rumah terbuka, seorang wanita muda menyambut kedatangan mereka dengan senyum cerahnya, "Ah, teman Tsu-kun. Silahkan masuk." sapanya ramah, "Ara, sepertinya ini pertama kalinya kita bertemu yah," Naomi membungkukkan badannya,

"Perkenalkan, nama saya Noémi Milletoiles, Sawada-san. Panggil saja Naomi," Naomi memperkenalkan dirinya secara singkat pada wanita di depannya ini,

"Ah, senang berkenalan denganmu Nao-chan dan tidak perlu seformal itu. Panggil saja Nana," Naomi menunjukkan wajah 'eh ?' tidak nyaman memanggil orang yang lebih tua darinya hanya dengan namanya saja,

"Etto,"

"Lambo ! Dame !" terdengar suara seorang anak kecil dari arah dapur yang diikuti dengan seorang anak berumur 5 tahun dengan rambut afro dan baju sapinya. Ia berlari lalu memeluk kaki Nana,

"Mama, Lambo-sama ingin permen gula-gula !" anak yang di panggil lambo itu menarik-narik baju Nana sedangkan anak kecil yang memakai baju china menghampiri mereka,

"Iya, iya, ayo kita cari permen gula-gula. I-pin juga ikut, ayo." Nana menggandeng tangan Lambo dan I-pin ke luar rumah,

"Takeshi-nii ?" seorang anak melongokkan kepalanya dari ruang tengah,

"Fuuta," Yamamoto menghampiri Fuuta. Naomi tersenyum pada anak itu, "Ah, ini Naomi,"

"Salam kenal, Fuu-chan" ucapnya ramah, Fuuta pun tersenyum dan membungkukkan badannya singkat. Gokudera muncul dari arah dapur, ia memandang Naomi tidak suka,

"Yakyuu baka, sedang apa gadis itu di sini !?"

"Hanya ingin berkunjung, Hayato" jawab Naomi riang,

"Ka-kau, mengerti bahasa Jepang !?" Naomi mengangguk membuat dahi Gokudera berkerut, "Hayato, maaf, aku tidak bermaksud membohongimi, sungguh," ucap Naomi sambil berpose meminta maaf,

"Ka-"

"Gokudera," sebuah suara menginterupsi Gokudera, "Cepat kerjakan sekarang juga, atau"

"Ah, baik Reborn-san !" Gokudera berjalan melewati Naomi lalu menoleh pada Yamamoto, "Yakyuu baka, ikut denganku !" titahnya, lalu mereka berduapun pergi.

"Noémi Milletoiles" Reborn berdiri di hadapan gadis itu,

"Hai, Reborn-san,"

.

.

.


~Owari~

°•(̯^┌┐^)•°

Mind to Review