Huaaaa! Dah lama banget gx up date! Readersku yang tercinta! Maafin author nista ini ya!
Maklum saya lagi binggung nyari inspirasi nih! Jadi saya akan melanjutkan fic yang satu ini!
Sekali lagi maaf ya!
Accidentally in Love
Genre: Humor and Romance
Pairing: Natsu x Lucy
Diclaimer:
Hiro Mashima
Warning: OOC, gx lucu banget, dikit jorok usahakan bawa kantung plastik namun bukan Ecchi!
Chapter 2 : Weird Family
Happy Reading
"KAU!"
Setelah mereka berteriak satu sama lain, mereka terdiam sejenak dengan seluruh tubuh memutih. Tapi 3 detik kemudian Lucy mengeluarkan 5 urat di dahinya.
Lucy langsung berlari menuju ke arah Natsu dan membantingnya ke lantai. Tak pikir panjang, Lucy melompat ke punggung Natsu dengan berat lebih dari 1 ton.#PLAAAKK!
"Uaagh! BERAAAT!"
"BIAARIIIN!" teriak Lucy sambil mencekik leher Natsu dari belakang. "...hah...g-gak...bisa...naf-fas...OOYY! B-blondie! Hent-tikan..!" ujar Natsu dengan wajah biru puncat.
"GAK MAU! DASAR PINKY!"
"cewe-ek l-liar!"
"KAU BILANG APA?!"
"Gak a-ada!"
"BOHONG!"
"Tidak k-kok"
Lucy semakin mencekik Natsu.
"O-oy! Lepasin!"
"DL!" ujar Lucy. "A-appua it-tu?" tanya Natsu sempat. "DERITA LOEE!".
"Oh, Lucy! Ternyata kau berjumpa dengan Natsu~kun ya?" tanya Layla tersenyum. "Kelihatan memang begitu..." balas Grandine. "Benar! Lihat saja mereka! Akrab seperti dulu.."ucap Judo.
.
.
.
.
.
.
.
Lucy pun berhenti mencekik Natsu dan memperhatikan Papanya, begitu juga dengan Natsu. "Dulu?" tanya mereka berbarengan. "Apa maksud Papa dengan 'dulu'?" tanya Lucy.
"Iya! Apa maksudnya, paman berkumis?"
JTAAAKK!
"ADUH!"
"Jangan memanggil Papaku dengan sembutan aneh seperti itu!" ujar Lucy setelah menjitak kepala Natsu. Judo hanya bisa tertawa lebar mendengarnya "Hey Lucy! Perlakukan tamu dengan sopan dong!".
"Mana bisa aku memperlakukan tamu yang sudah mengen***** buku kesayanganku dengan baik?!". Lyla dan Judo pun tersentak dengan wajah membiru dan menahan sesuatu dari tenggorokan mereka. "Hey Blondie! Jangan katakan hal itu!" ujar Natsu dengan wajah memerah. "Mana peduli? Biar tau malu".
"Ya ampun, Natsu!...ternyata kau mengompol?" tanya Grandine. "A-ano bukan begitu...sebenarnya.." oceh Natsu "Ternyata aku memang harus membeli popok..." ucap Grandine sambil menahan tawa sedangkan Layla dan Judo sudah berada di kamar mandi (kalian sudah pasti tau kenapa).
"IBU!"
"Maaf! Ibu cuma bercanda! Tapi tetap saja kau tidak boleh membanjiri buku orang lain dengan air sucimu apalagi dengan seorang gadis! Itu memalukan tau!" kata Grandine yang kelihatanya tidak memperdulikan suara m*ntahan dari kamar mandi.
"Itu bukan salahku! Salahkan dia!" kata Natsu menunjuk Lucy.
"Eeehhh...Kenapa aku?" tanya Lucy menunjuk dirinya sendiri. "Kan kau yang menabrakku!".
"Itu karena kau berlarian!"
"Aku kan kebelet!"
"Memangnya kebelet itu harus berlarian?!"
"Tentu saja! Masa' pake slow motion?!"
"Kalau gitu larinya pake mata dong!"
"Emang ada orang jalan pake mata?! Pasti pake kaki tau!"
"Liatnya pake mata!"
"Lalu larinya pake apa!?"
"Ya tentu pake kaki !"
"Kau bilang tadi lari pake mata?!"
"Itu kan lain!"
"Aduh! Cewek aneh ini bikin punyeng saja!"
"Apa kau bilang?!"
"CEWEK ANEH!"
"DASAR IDIOT!"
"RAMBUT LEMON!"
"RAMBUT SALMON!"
"STOOOOOP!" teriak Layla. Natsu dan Lucy pun kaget dan berhenti. Mereka melihat ke arah Layla yang sudah keluar dari kamar mandi dengan Judo belakangnya. "Kalian berdua berhenti bertengkar! Malam ini adalah malam special jadi Mama tidak akan biarkan siapapun merusaknya!...Natsu?!".
"I-iya Tante!?" ucap Natsu tergagap-gagap. "Tante tidak tahu bagaimana kejadiannya tapi lebih baik jika kamu minta maaf pada Lucy!" "A-aye!" jawab Natsu.
"Weeee!" ujar Lucy menjulurkan lidahnya. Natsu pun mengendus.
"Lucy!?"
"Iya, Ma?!" jawab Lucy. "Walaupun Natsu telah membagi air keemasannya pada bukumu tapi dia tetap tamu berharga bagi Mama jadi kau bersikap sopanlah dengan dia dan minta maaflah juga!".
"Baik, Bu!" balas Lucy gugup. "Weee...!" kali ini Natsu yang menjulurkan lidahnya ke arah Lucy. Lucy pun mengluarkan glarenya.
"Kalian berdua! Cepat minta maaf!" perintah Layla lagi. Sedangkan Judo bengong melihat reaksi istrinya yang berubah 179,99990 derajat itu.
Hening sejenak namun Natsu mulai menjulurkan tangan kearah Lucy walaupun sangat lamban dan terpaksa. "G-gomen...atas yang tadi pagi...". Lucy pun memaksa tangannya untuk menjabat tangan Natsu. "Aku juga...".
Melihat pemandangan itu, Layla pun tersenyum gembira "Bagus! Bukanlah lebih baik?". Natsu dan Lucy pun cepat-cepat menarik tangan mereka masing-masing. "I-iya benar kata Mama" ucap Lucy "A-aye!".
"Aduh! Sepertinya aku harus cuci tangan selama 1 jam setelah ini!" pikir Lucy. "Ibu dan anak sama saja!" pikir Natsu memperhatikan Layla.
"Oh iya, Grandine! Bukannya kau juga punya anak perempuan?" tanya Judo. Grandine hanya mengangguk "Iya, kau benar!". "Lalu dimana dia?" tanya Layla yang sepertinya sudah kembali normal. "Betul juga! ! Cepat masuk! Jangan jadi gadis pemalu seperti dong!".
"H-hai!" balas suara mungil gadis dari balik pintu. Muncullah sesosok gadis kecil berambut biru tua dengan mata karamel coklat seperti Lucy sambil membawa koper.
"Ya ampun! Manis sekali~!" puji Layla mendekati Wendy. "A-arigatou..."Wendy hanya bisa blushing karenanya. "Siapa namamu, gadis munggil?" tanya Layla sekali lagi. "W-Wend-dy, Tante...".
"Ayolah, Wendy! Jangan seperti itu!" suruh Grandine. "B-baik! Gomen nasai!" ucap Wendy sambil menunduk. Grandine hanya bisa sweatdrop ria melihat anak perempuannya yang pemalu itu. "Maaf ya atas kelakuan anak perempuanku yang satu ini. Dia memang sangat pemalu kalau bertemu dengan orang lain yang belum dia kenal".
"Tidak apa-apa kok! Malah aku sangat suka dengan gadis lugu seperti dia.." ucap Layla terkekeh. "Natsu, Wendy! Perkenalkan, ini adalah sahabat baik Ibu dari dulu. Tante Layla dan Paman Judo!".
"Hai, T-Tante Layla, Paman J-Judo! Senang bertemu k-kalian.." salam Wendy ragu-ragu. "Ano...maafkan tingkah adik kecilku ini! Senang bertemu dengan kalian juga!" kata Natsu nyengir sambil mengusap-usap kepala Wendy.
"Oh, tidak masalah! Senang bertemu kalian juga! Ternyata kalian sudah besar-besar!" balas Judo. "Oh Iya, Wendy! Perkenalkan, ini Lucy anak semata wayang kami!" kata Layla memegang kedua pundak Lucy.
"Senang juga bertemu denganmu, Lucy~san...namaku Wendy" Lucy hanya tersenyum melihat keluguan Wendy "Aku juga~! Aduh...kau benar-benar lucu! Beda sekali dengan kakakmu yang disebelah sana itu". Mendengar apa yang yang dikatakan Lucy, Natsu pun menoleh ke arah Lucy.
"Apa kau bilang!?"
"Kau tidak dengar?"
"Tidak! Memangnya kau bilang apa?!"
"Beda sekali!"
"Apa?!"
"Be-da se-ka-li!"
"Beda apanya?"
"Yah...aku hanya heran kenapa Wendy yang kecil dan imut ini punya kakak yang jorok dan suka ng*mpol?" ujar Lucy yang membuat Layla menutup mulutnya dan kembali ke kamar mandi dengan wajah biru. Sedangkan Judo sepertinya sudah kelihatan kebal.
"Hey! Kalo soal itu, jangan tanya aku!" ujar Natsu.
"Lalu tanya siapa?"
"Tanya saja sama yang buat tuh!" ujar Natsu menunjuk ibunya. "Eh...Kenapa jadi ke Ibu?" tanya Grandine. "Bukannya Ibu dan Ayah yang buat kami berdua jadi tolong jelasin sama si Blondie itu tuh!" ujar Natsu. "Astaga, Natsu...! Jangan bicara sesuatu yang memalukankan seperti itu" ujar Grandine dengan wajah merah.
"Bukannya itu kenyataan?" tanya Natsu polos.
"Tapi jangan bicara sesuatu yang tidak benar!" kata Grandine makin memerah.
"Tidak benar?! Berarti yang buat kami berdua itu siapa, Bu?! Jangan-jangan Ibu selingkuh?! Lalu aku dan Wendy anak siapa dong?!" ujar Natsu panik.
"BUKAN ITU MAKSUD IBU!"
"Tapi Ibu bilang itu tidak benar"
"Iya! Ibu bilang begitu tapi.."
"Berarti aku benar dong?!"
"Bukan! Maksud ibu bicaramu yang tida-..Arghhh!"
"Kenapa, Bu? Ingin punya anak lagi?"
"Natsu! Jika kau masih berbicara lagi, Ibu akan mengutukmu!"
"Eh...! Jangan!Jangan!Jangan!...Maafin Natsu ya? ya?" ujar Natsu meminta belas kasihan sambil memasang Puppy Eyes no Jutsunya pada Ibunya yang hampir memasuki Mode Super Saiya 4 itu.
Grandine pun hanya bisa mengehela nafas panjang. "Ya sudah! Ibu maafkan...beruntung Ibu belum mengeluarkan jurus yang bernama 'Mengutuk anak berambut spike pink berantakan yang menanyakan dari mana dia berasal' kepunyaanku".
"Nama jurusnya kok panjang banget dan aneh pula?" pikir Lucy."Terima Kasih Bu! Ibu waktu ngegagalin kutukan itu cantik deh..." ujar Natsu.
Grandine kembali sweatdrop "Memang ada ibu-ibu terlihat cantik waktu tidak jadi mengutuk anaknya?". "Ada kok! Ibu contohnya!" kata Natsu menunjuk ke arah Grandine dan Grandine pun hanya bisa memasang poker facenya sambil berpikir "Dari mana sih asal-usul anak ini?"
"Tapi memangnya tadi itu Ibu mau mengutukku jadi apa?" tanya Natsu.
"Jadi B-a dan B-u"
"Apa itu?"
"Babu!"
"Bukannya seharusnya jadi batu?"
"Kalo batu gak ada gunanya...paling-paling cuma jadi pajangan. Mending jadi babu, kan bisa disurh-suruh" kata Grandine berkacak pinggang sambil nyengir. "Hah?" tanya Natsu sedangkan Lucy, Wendy, Judo, Layla(sudah keluar dari kamar mandi) dan bahkan cicak-cicak di dinding pun hanya bisa sweatdrop.
"Buuuuuusseeeet...ibu dan anak sama saja! Sama-sama b*go...Kayak pepatah...buah durian takkan jatuh jauh dari pohon kelapanya...loh kok pohon kepala..eh maksudnya pohon kelapa! Apa mungkin pohon kelapanya selingkuh sama pohon durian? Aduh! Kok jadi b*go juga nih?!" pikir mereka semua yang entah kenapa bisa berbarengan dan sama.
"Sudah! Sudah! Sudah! Berhenti bicaranya! Mending kita mulai makan malamnya! Nanti makanannya diserbu sama lalat nanti!" kata Judo. "Iya! Itu benar! Ayo kita makan!" lanjut Layla.
"Huh!" eluh Natsu dan Lucy.
.
.
.
At Dinner
Saat makan malam pun tiba. Grandine makan di bersebrangan dengan Lyla sambil berbincang-bincang tentang Fasion, Nature, Celebritas seperti obrolan ibu-ibu biasa. Disamping Layla ada Judo yang tidak masuk dalam pembicaraan itu hanya bisa fokus pada makanannya. Wendy yang disamping Grandine hanya memperhatikan hidangan yang ada di hadapannya sambil berpikir.
"Makanan apa ini? Terbuat dari apa? Gimana cara masaknya? Siapa yang masak? Apa rasanya enak? Apa ada resep rahasia? Apa mungkin ada racunnya? Presiden Amerika sekarang siapa ya?" pikir Wendy dengan pertanyaan-pertanyaan polos berkeliaran di otaknya yang lugu walau ada pertanyaan yang tidak nyambung sama sekali.
Sedangkan Natsu duduk di samping Wendy yang masih meniliti makanannya sendiri dan Lucy duduk di samping Papanya yang masih makan dengan beribawa.
Sehingga Natsu dan Lucy duduk berhadapan. Namun sepertinya mereka tidak memperdulikan makanan mereka dan saling memandang tajam ke satu sama lain dan mengeluarkan glare masing-masing.
Natsu mengeluarkan glare hitam, Lucy membalasnya dengan glare putih.
Lucy mengeluarkan glare dingin, Natsu membalasnya dengan glare panas.
Natsu mengeluarkan glare Yin, Lucy membalasnya dengan glare Yang.
Lucy mengeluarkan glare penjajahan, Natsu membalasnya dengan glare merdeka.
Natsu mengeluarkan glare lemak menggumpal, Lucy membalasnya dengan glare obat diet.
Mereka pun terus bermain glare tangkis hingga Judo selesai makan dan mulai angkat bicara. "Layla...Kurasa sekarang waktu yang tepat untuk berbicara.." Layla pun tersenyum "Iya! Kurasa begitu!" Grandine pun bingung dengan percakapan sepasang suami-istri itu namun beberapa saat dia pun mengerti dan tersenyum. Judo pun menoleh ke arah atlit kita dan berkata "Lucy, Natsu..?".
Natsu dan Lucy pun berhenti berolahraga dan menghadap ke arah Judo. "Ada apa, Papa?" tanya Lucy. "Boleh aku bertanya pada kalian berdua?" tanya Judo. "Apa itu, Papa Blondie?" tanya Natsu balik dan sepertinya dia juga sudah menemukan nama aneh lagi untuk Judo namun sepertinya Judo tidak terlalu memperdulikannya.
Judo hening sejenak dan mulai berbicara. "Bagaimana...kalau kalian...
.
.
.
.
...bertunangan".
Natsu dan Lucy pun hanya bisa menghela nafas panjang "Oh...kupikir apa..." ucap mereka berdua berdua.
.
.
.
.
*TO BE CONTINEU*
.
.
.
.
.
.
.
"TUNGGU DULU! WHAAAAT?!" teriak mereka menyingkirkan kalimat TBC.
~
~
Yah...berakhirlah chappy two ya...Makasih pada para readers yang telah membaca FF ini!^_^
Yah...walau FF ini banyak yang aneh, typos dan gaje buanget! Kayaxnya di chapter ini terpokus ke Humor dari pada Romance tapi mungkin Next Chapter romancenya dikit...entah kenapa buat Genre Humor itu seru...
Untuk balasan Review akan saya tampilkan walau ada yang sudah saya balas lewat PM namun ada lagi yang review jadi saya balas sekalian aja#boros!
Untuk balasan Review saya persilahkan pada Natsu dan Lucy:
Natsu: "Yah akhirnya dapet giliran juga!"
Lucy: "Iya! Dan mulai sekarang kami akan jadi pembalas review pada readers sekalian"
Natsu:"Tapi kenapa kita gak bertengkar kayak fic di atas?"
Lucy:"Itu kan hanya acting!"
Natsu: "Oh iya!"
Lucy: "Kau ini! Sepertinya begomu itu bukan acting deh!"
Natsu:"Eh...nantangin nih?!"
Lucy: "Memang!
Natsu: "Kalau gitu ayo main glare tangkis lagi!"
Lucy:"Boleh!"
Hikaru: "WOY! BALES REVIEW DULU!"
Natsu and Lucy: "H-hai!"
Natsu: "Nah, ayo balas review! Mulai dari yang pertama dari hikaaxrii: Salam Kenal juga dari author Hikaru! Keep reading!"
Lucy: "Selanjutnya...untuk Near1001: Hikaru sendiri pun tertawa saat menulisnya jadi wajar kalau Near~san tertawa! Bahkan aku menahan tawa saat melakukan adegan itu...Hmmpp...hahahahah!"
Natsu:"Hey diam! Oke selanjutnya adalah adalah bjtatihowo: Kalo masalah tenar sih memang bj~san yg paling top cer dah!^_^! Mmmm...kalo benar ngakak waktu baca adegan itu sih... aku syukur2 aja! Alasan napa Lucy menyimpan buku itu karena mungkin dia pikir air s*ni ku wangi.."
Lucy:"Woy! Ngaco kamu! Sapa juga yang mau nyimpan air keramat itu! Cuma ikutin naskah aja kok! Tolong jangan dihiraukan para readers! Berikutnya adalah hafiza uzumaki: Terima kasih ya telah menyukai FF ini! Keep reading!"
Natsu:"Next is Fionna in Adventure Time: Memang disini aku sedikit OOC sih...namun terima kasih telah tertawa atas...k-kejadian i-itu..."
Lucy:"Wah..Natsu pundung tuh! Oke! Selanjutnya Kuchiki Rukia-taichou: Memang author merancang kami bertemu itu gak terlalu romantis tapi kalo langsung jatuh cinta, nama FF ini akan berubah menjadi 'Love on Firstsigh'...terima kasih karena telah turut berduka cita padaku dalam ancident i-itu..."
Natsu:"Haha...loe yang sekarang pundung! Nah yang ini baru kusuka! Dari Viviane. Scarlter: Chappy 2 nya dah Update! Terima kasih karna telah nari2 untuk Author ya!"
Lucy:"Iya! Nari2! Pake pom-pom lagi!"
Natsu:"Untuk shapire blues: Ano...kayaknya di Chapter 2 ini...Ibuku akan beliin aku popok deh..Tapi tetap Thanks!"
Lucy:"Untuk Guest: Siapa yang bilang tidak dilanjutin? Ini dah lanjut! Thanks dah Review!"
Natsu:"Kemudian dari Nnatsuki:...gimana cara bicaranya ya?...aduh! Cup-cup jangan nangis ya! Lagi pula bukan buku Nnatsuki~chan yang aku-Argh! Keep Reading ya!"
Lucy:"Yang terakhir buat Novi Eucliffe: Tenang Novi~san! Bunganya telah kusiram dan tumbuh subur kok! Buat Natsu sih...dia memang begitu...Dan terima kasih Ya!"
Natsu:"..."
Lucy:"Hey, Natsu! Kenapa cemberut? Cemungut donk!"
Natsu:"Habis...banyak readers yang pikir aku ini jorok hanya karena adegan itu!"
Lucy:"Mau gimana? Itu kan naskah yang dibuat!"
Natsu:"Tapi kan melakukan! Nanti malam akan kubakar rumahnya Hikaru!"
Lucy:"Hush..! Nanti kontrakmu sama Hikaru itu batal dan gaji kamu yang buat beli popok juga hilang lho!"
Natsu:"Mmmmm...betul juga sih! Eh..! Apa katamu!?"
Lucy:"Hihihi...Peace!"
Natsu: "Yah sudalah! Nah sekian dari kami! Tolong tetap tunggu ya Chappy 3 nya!"
Lucy: "Juga tetap tinggalkan dua patah kata ya di kotak review!"
Natsu and Lucy: "DAH!"
.
.
.
Lucy:"Oh iya! Bukannya kau nantangin main glare tangkis tadi?"
Natsu:"Benar! Aku ambil raket dulu ya!" (berlari menuju rumahnya)
Lucy:"Bukanya glare tangkis itu gx pake raket ya?"
Hkaru:"Sabar~.."
Mind to Review?
