Waktu berlalu begitu cepat bagi Kuroko. Padahal seingatnya baru kemarin ia ikut rapat besar-besaran bersama semua guru yang terlibat di acara Teikousai, lalu sekarang dirinya harus disibukkan dengan dekorasi panggung utama untuk acara esok hari. Ya, besok adalah final dari jerih payah mereka semua—para panitia Teikousai—selama empat bulan belakangan ini. Walau begitu, Kuroko merasa masih ada yang kurang dari rancangan dekorasi tersebut.
"Apa ya, yang kurang?" gumamnya pelan sambil memperhatikan panggung dengan seksama.
"Coba kau tambahkan empat pohon sakura mini di atas depan panggung."
"Eh?" Laki-laki berpakaian kaos olahraga sekolah itu menengok ke sumber suara.
Tak disangka olehnya, seorang alumni yang ia kenali bernama Mayuzumi Chihiro datang berkunjung. "Yo, Kuroko," sapanya seraya mendekati laki-laki dengan tinggi 168 cm tersebut. Senyum ramah walau sangat tipis terlihat di wajah putih pucatnya.
"Konnichiwa, Mayuzumi-senpai," sapa Kuroko balik dan membungkuk hormat.
Sang alumni tersenyum geli. "Masih kaku, ya? Sudahlah, santai saja padaku, Kuroko."
"Mm, un." Mata bulat besar milik Kuroko seolah mencari sesuatu di balik punggung Mayuzumi setelah mengangguk sedikit. "Senpai, sendirian ke sini? Biasanya dengan Nijimura-senpai," tanyanya dengan nada bingung. Akhir-akhir ini memang ia jarang melihat senpai-nya itu berkunjung ke SMA Teikou dengan sang mantan kapten klub basket, Nijimura Shouzo.
"Tadinya dia mau ikut, tapi sudah ada janji dengan pacarnya," jawab Mayuzumi.
"Oh, begitu. Memang, mm, kalau boleh tahu, siapa pacarnya Nijimura-senpai?"
Mayuzumi memasang ekspresi berpikir sebentar dengan menaikkan alis sebelah kanannya. "Aku juga kurang tahu. Dia nggak bilang apa-apa, tapi banyak yang bilang kalau pacarnya itu masih anak sekolahan," jawab laki-laki yang memiliki ekspresi sama datarnya dengan Kuroko. "Mungkin kau tahu siapa yang kumaksud, Kuroko," tambahnya sambil menatap sang kouhai.
Melihat Kuroko mengangguk kecil, Mayuzumi tersenyum kecil. Kedua matanya memandang sekilas ke lembaran kertas yang dibawa Kuroko. "Itu konsep dekorasi panggungnya?"
Mata bulat berwarna birunya ikut menatap lembaran tersebut. "Iya, senpai."
"Sou ka. Boleh kulihat?"
Kuroko mengangguk kecil lalu memberikannya pada Mayuzumi.
"Kuroko! Bagian depan panggung masih kosong, nih!" seru seseorang dari bagian Seksi Dekorasi.
"Iya, tunggu sebentar!" Ia menengok ke arah senpai-nya. "Senpai, kalau mau, ikut denganku atau ingin ke tempat Akashi-kun di Sekre Organisasi Kesiswaan untuk persiapan besok," saran Kuroko. Ya, besok di Teikousai, Mayuzumi dan anggota bandnya—termasuk Nijimura—diundang sebagai bintang tamu. Sebenarnya Kuroko juga baru tahu sebulan yang lalu kalau Mayuzumi punya suara yang bagus dan pintar bermain gitar. Sedang Nijimura memang sudah terkenal dengan keahliannya dalam bermain keyboard dan piano.
"Oke, aku ke tempat Akashi saja. Semangat, Kuroko." Mayuzumi tersenyum sekilas.
"Hai. Ganbarimasu," balasnya sambil mengepalkan kedua tangan ke atas dada.
Tingkah reflek Kuroko cukup membuat sang senpai tersenyum geli.
Kuroko no Basuke Disclaimer by Fujimaki Tadatoshi
CRUSH by Oto Ichiiyan
Rate : T
Genre : General, Romance, Friendship, School Life
Pairing : KurokoxAkashi [with all pairing]
Warning : OOC, Typos, dsb. Just for fun, minna-san! ._. Hope you enjoy it.
Hari yang ditunggu akhirnya datang juga. Semua panitia yang berseragam kaos biru-putih lengan pendek berpencar untuk mengerjakan tugasnya masing-masing. Kuroko sendiri mendapat tugas untuk ikut mengawasi kegiatan atau bisa dibilang, ia ikut menjadi Seksi K3 dan membantu mengawasi stand tiap kelas. Kedua mata itu memandang sekilas sosok Ketua Seksi Acara yang tengah bicara dengan—ehem—anak buahnya di pinggir panggung. Pandangannya berubah sayu begitu seseorang datang mendekati laki-laki tersebut.
"Kurokocchi! Kau dipanggil teman sekelasmu!" seru Kise dari ujung koridor.
"A-ah, iya!"
Ia bergegas masuk ke dalam gedung utama lalu ikut berlari di belakang Kise Ryouta menaiki tangga menuju ruang kelas 2-3 yang berada di lantai dua dan sudah diubah menjadi café mini.
"Aku ke kelas Aominecchi dulu, ya!" pamit Kise.
"Iya, Kise-kun."
Laki-laki jangkung berambut pirang itu berjalan melewati kelasnya.
Baru saja ia sampai di ambang pintu café, teman terdekat atau bisa dibilang sahabat Kuroko yang tadi memanggilnya lewat Kise langsung menariknya masuk ke dalam dengan pintu yang lain. "Kuroko! Kau lama sekali datangnya!" kesal Furihata Kouki sambil berkacak pinggang.
"Gomennasai, aku harus keliling stand dengan temanku tadi," kata Kuroko.
Furihata hanya bisa memajukan bibirnya mendengar ucapan sang sahabat. "Oke..."
"Jadi, aku harus menggantikanmu untuk sementara?" tanyanya.
"Yap! Hanya sebentar kok, mungkin setengah jam. Bisa, kan? Bisa, ya? Bisa, dong?" Laki-laki berambut coklat dengan pakaian khas butler yang identik dengan warna hitam itu menatap Kuroko dengan wajah memelas.
Melihat hal tersebut membuatnya menghela napas pelan. Ia memang sulit untuk menolak permintaan sahabatnya yang satu ini, karena Furihata adalah orang yang pertama kali menyadari keberadaannya dulu di kelas, sewaktu mereka masih kelas 1. Kuroko sangat bersyukur saat doanya terkabul untuk bisa sekelas dengannya lagi. "Baiklah."
"YEY! Kuroko memang sahabat terbaik yang pernah ada!"
Kuroko mengangguk pelan saat Furihata memeluknya.
Tak butuh waktu lama untuk mereka berganti baju. Furihata sempat mengajarkan sahabatnya itu tentang bagaimana caranya menjadi seorang butler yang baik dan benar. Yaaah, walau dalam hati ia agak ragu dengan ekspresi Kuroko yang kelewat datar. "Ingat, Kuroko. Saat melayani pengunjung, kau harus tersenyum dan jangan membuat mereka kaget. Oke?" jelas laki-laki tersebut untuk yang kedua kalinya.
"Sebenarnya kau ingin bertemu siapa, Furihata-kun?" tanya Kuroko penasaran.
"Ada sahabat jauhku yang datang dari Hokkaido ingin bertemu denganku."
Dari nadanya, Furihata terdengar senang sekali. "Sahabat atau sahabat?" Nada menggoda ikut menyertai pertanyaan yang keluar dari bibir si bayangan Teikou. "Sahabat, kok. Kemarin aku sudah cerita padamu." Senyum geli kini tercetak di wajah Kuroko begitu melihat ekspresi laki-laki yang berjalan beriringan di sisi kanannya.
Mereka berhenti melangkah saat sampai di depan pintu.
"Kalau begitu, aku pergi dulu, ya! Terima kasih sekali lagi, Kuroko!" seru Furihata.
Dilihatnya sang sahabat sudah menuruni tangga, ia pun masuk ke dalam kelas dan memulai tugasnya sebagai salah satu butler. "Irrashaimase, Ojou-sama. Untuk berapa orang?" tanya Kuroko pada beberapa gadis yang baru saja masuk ke café setelah membungkukkan badan sedikit ke arah mereka.
"A-a, mm, untuk empat orang," jawab salah satu gadis.
Senyum ramah diperlihatkan Kuroko seperti apa yang Furihata katakan tadi. "Silahkan ikut saya," katanya dengan nada lembut.
.
.
.
"Irrashaimase, Goshujin-sama. Untuk berapa orang?" tanya sang butler sambil tersenyum ramah. Jika diperhatikan lebih teliti, kedua alisnya terlihat agak berkedut setelah cahaya blitz kamera mengenai wajahnya.
Terima kasih kepada Kise, wajah Kuroko berubah jadi sedatar triplek lagi.
"Usu, Kurokocchi! Ehehehe."
Wajah tak berdosa milik Kise terlihat di balik kamera SLR miliknya.
Seorang laki-laki yang selama setahun ini Kuroko jadikan cahayanya itu tersenyum arogan pada sang bayangan di belakang Kise. "Yo, Tetsu. Aku tak tahu kalau kau ditugasi jadi butler juga di stand kelasmu."
"Aku hanya menggantikan temanku untuk sementara waktu," sahut Kuroko.
"Sou." Aomine Daiki menatap Kuroko sebentar. "Kostummu cocok, Tetsu," pujinya.
"Doumo," balas Kuroko. "Aomine-kun, tidak ikut bantu-bantu di kelas?"
Mata dark sapphire-nya melirik ke arah Kise yang sibuk memotret sekeliling café di ambang pintu. "Kalau bukan karena anak itu yang menarikku keluar juga aku akan bantu," jawabnya dengan nada malas yang sebenarnya ditujukan kepada laki-laki berambut kuning tersebut. "Oi, Kise! Kau menghalangi jalan masuk, bodoh!"
"Ups, gomen-ssu," gumam Kise dan langsung menyingkir dari pintu.
Kuroko tersenyum ramah lalu membungkuk saat beberapa pengunjung keluar café.
Ia menatap Aomine dan Kise secara bergantian. "Kalian tidak mau masuk ke dalam?"
Kedua mata amber Kise langsung berbinar-binar. "Mauuu!" serunya seraya mengerling pada Aomine yang nampak memasang wajah gondok. "Nee, Aominecchi. Waktu itu kau janji akan mentraktirku makan, lho... Traktir makan di café kelas Kurokocchi saja, ya!"
"Hanya 'makanan' saja, ya."
"Eeeh?! Dengan minumannya juga, dong!"
"Tadi 'kan kau bilang hanya mentraktirmu 'makan'."
Bibir Kise mengkerucut sebal. "Aominecchi nggak ikhlas traktirnya-ssu. Nee, Kurokocchi?" tanyanya, meminta persetujuan dari Kuroko.
Kepala Kuroko mengangguk sedikit. Kalau diingat-ingat memang si laki-laki berkulit dim dan penyuka basket jalanan itu pernah taruhan dengan Kise mengenai pertandingan final di NBA seminggu yang lalu. Kemudian lusa kemarin, tim yang dijagokan sang model dari Zunon Boy menang dengan skor tipis, yaitu 106-105. Jadilah Aomine harus merelakan uang sakunya yang diawal ingin ia belikan majalah Mai-chan kesayangannya untuk mentraktir Kise.
"Aomine-kun, sekali-kali mentraktir teman sendiri tidak masalah, kan?" kata Kuroko dengan nada menyindir yang dibalas decakan sebal dari laki-laki tersebut.
"Oke, oke. Carikan kami meja kosong, Tetsu," suruhnya.
Wajah datar itu menatap Aomine. "Kau memerintahku, Aomine-kun?"
Kalau Kuroko yang bicara seperti itu, tentu Aomine tidak akan takut. Beda lagi kalau si Ketua Klub Basket Putera yang mengatakan demikian. "Kau 'kan butler-nya, Tetsu."
"Kalau begitu, ikuti saya," suruhnya halus layaknya seorang pelayan café.
"Bagaimana kalau di pojok sana? Itu salah satu tempat romantis di café ini."
Twitch! Muncul perempatan di kening Aomine. "Kau kira kami sedang kencan apa!?"
Kise kembali mengerucutkan bibirnya yang cukup seksi untuk ukuran laki-laki. "Hidoi-ssu, Aominecchi," rajuknya. Setelah sampai di meja yang dimaksud Kuroko dan memesan sesuatu, ia memotret lagi beberapa pengunjung yang menurutnya menarik. Para pelayan juga tak luput dari lensa kameranya.
Tapi entah kenapa dari sekian banyaknya orang di café mini itu, mata Kise tak henti-hentinya memperhatikan seorang laki-laki yang memiliki dua warna rambut dari balik punggung Aomine yang sibuk menggerutu tidak jelas.
"Ini pesanannya."
Ucapan Kuroko mengintrupsi kegiatan Kise, sontak ia menengok.
"Silahkan dinikmati," katanya lagi seraya mengundurkan diri dari hadapan keduanya.
"Arigatou-ssu!" Kise melirik lagi ke belakang punggung laki-laki yang duduk berhadapan dengannya dan kini tengah menyeruput kopi hitam yang ia pesan tadi. Bola mata itu bergulir ke arah lain, mencoba mengikuti arah pandang sosok yang sudah dua menit terakhir ia perhatikan. Kurokocchi? Ia mengerjap sekali, lalu memandangi Aomine.
Yang dipandang tentu merasa risih. "Apa?"
"Ada yang memperhatikan Kurokocchi-ssu," bisiknya.
Alis sebelah kanan Aomine nampak terangkat. "Siapa?"
"Laki-laki yang duduk di belakang—" Secara reflek tangan kanan Kise menarik wajah Aomine supaya tidak jadi menengok ke belakang. "Aominecchi baka! Jangan langsung menengok!" serunya dengan nada berbisik lagi. Benar saja sosok itu kini memandang ke arah mereka, Kise yang takut ketahuan langsung menyembunyikan wajahnya di balik kepala Aomine.
Tanpa sadar, sikapnya itu mengundang rona merah di wajah dim ace Teikou. "Teme—"
"—psst! Dia melihat ke arah kita." Tangan kanannya beralih menutupi mulut Aomine. Ia melirik lagi lalu menghela napas lega. Entah Kise yang terlalu bodoh atau tidak peka, napas berbau mint-nya mengenai wajah Aomine tanpa sengaja dan membuat laki-laki itu menahan napas secara tidak langsung. Dalam hati ia merutuk pada jantungnya yang kembali berdetak lebih cepat tiap kali bersama seorang Kise Ryouta, teman setimnya yang super berisik dan childish itu.
Saat ingin protes, Kise menarik tangan kanannya lalu menyambar kamera untuk bersiap-siap membidik objek yang berada duduk di belakang Aomine dan menghadap ke arahnya. "Aominecchi, geser sedikit ke kiri," perintah Kise, lagi-lagi dengan nada berbisik.
Ia menurut tanpa mengucapkan sepatah kata.
"Bukan-ssu! Ke kanan, maksudku!"
Twitch! "Tadi kau—"
"—cepaaat!"
Menghela napas, Aomine menggeser badannya atau lebih tepatnya mencondongkan tubuh mendekati jendela sambil menyangga dagu. Kedua matanya terus memperhatikan sosok di hadapannya. Jujur saja, hari ini ia sedang malas meributkan hal yang tidak penting dengan Kise. Lelah, mungkin? Cukup lama pandangan Aomine tertuju pada laki-laki tersebut sampai tidak sadar kalau yang diperhatikan kini menatapnya balik.
"Aominecchi?" panggil Kise dengan nada khawatir di sana.
"Apa?" tanya Aomine balik tanpa mengalihkan arah pandangnya.
"Sedari tadi kau memperhatikan wajahku, apa ada yang aneh?"
Aomine menatap keluar jendela. "Aku baru sadar, wajahmu tidak berubah sama sekali. Tetap terlihat aneh, Kise." Ekspresi wajah laki-laki itu berubah dalam hitungan detik, membuat Aomine kembali menatap lurus ke depan. "Cepat habiskan, aku ingin berkeliling setelah ini," suruhnya lalu menyesap kopi pesanannya lagi.
"Eh? Kau ingin berkeliling denganku, Aominecchi?" tanya Kise dengan mata berbinar-binar, berharap laki-laki meng-iya-kan pertanyaannya.
"Aku ingin keliling bunkasai sendiri. Ada masalah?"
"Yaaah, kencannya nggak jadi, deh," gumam Kise pelan.
"Huh? Kau bilang apa?" tanya Aomine, entah pura-pura atau memang tidak mendengar ucapan Kise barusan.
"Maaf mengganggu acara romantis Goshujin-sama. Ini pay bill-nya."
Tiba-tiba saja Kuroko muncul dan mengulurkan sebuah kertas ke arah Aomine.
Ekspresi suram mencuat di wajah laki-laki berambut biru tua tersebut. "Tetsu, tak bisakah kau muncul dengan cara yang biasa? Untung saja aku tidak tersedak dan lagi, ucapanmu hari ini sangat menyebalkan," gerutunya. Ia mengambil kertas itu setelah dihadiahi wajah datar khas seorang Kuroko Tetsuya.
"Kurokocchi, katakan cheese~!" seru Kise sambil mengarahkan kamera ponsel hitamnya ke arah sang pelayan.
Sontak Kuroko membalikkan badan supaya tidak bisa difoto.
"Mou, Kurokocchi~! Foto sekali saja, ya?"
"Tidak, terima kasih," tolaknya tegas seraya melangkah pergi.
Pandangan memelas ditujukan oleh Kise setelah menahan lengan Kuroko. "Sekali iniii saja. Ya, ya, ya? Kurokocchi imut, deh!" Ups, dirimu salah memberikan pujian, Nak. Tatapan tidak suka dari si pelayan langsung menyerang Kise. "Eh!? B-bukan, maksudku, Kurokocchi keren-ssu!" Cengiran lima jari ia persembahkan di akhir.
"Baiklah," ucap Kuroko pasrah dan berjalan mendekati meja mereka lagi.
"YEY! Aominecchi, tolong foto kami, ya!"
Tanpa tedeng aling-aling, Kise memberikan ponselnya dengan kamera tengah menyala kemudian memeluk leher Kuroko. Tangan kirinya membentuk mode 'peace' sambil tersenyum lebar. Sedang laki-laki berambut soft blue yang tengah dipeluk menampakkan wajah datar seperti biasa dengan tubuh condong ke depan sedikit.
Lama-lama Aomine jengah juga melihat ekspresi Kuroko yang kelewat datar itu. Emosinya kini tertuju pada bayangannya yang sebelumnya tertuju pada Kise karena sudah menyuruhnya seenak jidat. "Oi, Tetsu! Senyumlah sedikit!"
"Bisa dipercepat fotonya sebelum aku berubah pikiran?"
Oke, Kuroko mulai mengancam sekarang.
"Ck, terserah, deh."
Jepret!
"Sankyu-ssu!" Dengan cepat tangan Kise menyambar ponselnya setelah melepas pelukan di leher Kuroko. Ia tersenyum puas melihat hasil fotonya. "Aominecchi mau foto dengan Kurokocchi juga? Biar kufotokan untukmu," tawar Kise.
"Tidak, terima kasih. Aku tak suka difoto," tolaknya.
"Kalau pun difoto juga takkan terlihat, Kise-kun," timpal Kuroko.
"OI!"
Tawa Kise menggelegar setelahnya dan sempat menjadi pusat perhatian untuk beberapa puluh detik. Tangan kanannya memegang perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa. "Ya ampun, ahahaha! Kurokocchi benar-ssu! Ahahaha." Ia menutup mulutnya dengan punggung tangan kiri yang masih menggenggam ponsel hitamnya.
"Berhenti tertawa, Kise! Tidak lucu!" seru Aomine.
"Oke, oke-ssu. Gomen, ehehehe," kata Kise.
Melihat kedekatan mereka, Kuroko hanya bisa tersenyum tipis secara diam-diam. Entah keduanya sadar atau tidak, laki-laki berparas manis itu selalu merasakan adanya ikatan istimewa di antara Aomine dan Kise sejak melihat mereka one on one untuk pertama kali beberapa bulan yang lalu. Mungkin ia terlihat sok tahu, tapi dari cara mereka memandang satu sama lainlah yang membuat Kuroko berpikir demikian. Salahkah jika ia berpikiran seperti itu?
Tanpa sadar Kuroko menahan napas begitu melihat seseorang yang tengah berjalan sambil membawa papan ulangan di bawah sana. Walau tak bisa melihatnya secara jelas, tapi ia tahu siapa sosok tersebut.
"Akashicchi nggak datang ke sini, ya?" tanya Kise tiba-tiba.
Bibir itu membentuk sebuah senyuman penuh arti di wajah Kuroko.
"Dia 'kan Ketua Seksi Acara, pasti sibuk mengurus acara di panggung utama."
"Yaaah, sayang banget. Padahal Kurokocchi jarang—mungkin—nggak pernah mau ber-cosplay sebagai butler, kecuali sekarang-ssu," sahut laki-laki berambut pirang tersebut seraya menyuapkan sesendok omelet rice yang sedari tadi belum sempat disentuhnya.
"Mau bagaimana lagi? Itu 'kan sudah jadi tugasnya, Kise-kun."
Aomine diam memperhatikan kedua teman setimnya itu dengan pandangan tidak mengerti. Matanya menatap sosok sang bayangan Teikou yang masih betah memandangi acara festival di bawah sana dari balik kaca jendela. Kise terlihat tenang-tenang saja memakan omelet rice-nya tanpa mempedulikan dirinya yang butuh sebuah penjelasan.
"Oh iya, setelah ini Aominecchi mau ke mana dulu-ssu?" tanya Kise.
"Bukankah sudah kubilang, aku akan berkeliling sendiri?"
Laki-laki yang memiliki sifat deredere hanya menekuk mulutnya ke bawah.
"Tetsu," panggil Aomine. "Kau jadian dengan Akashi?"
"..."
"Uhuk, uhuk, uhuk!"
Kedua alisnya mengkerut, pertanda tengah berpikir dan mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Tiba-tiba saja Kise batuk-batuk dan Kuroko menengok ke arahnya dengan mata melotot, efek kaget atas pertanyaan yang dilontarkan Aomine. Ia hanya menyimpulkan semua kejadian yang bersangkutan dengan pemain bernomor 15 dengan sang Kapten yang sempat akrab, walau akhir-akhir ini ia sering melihat keduanya selalu saling menghindar secara tidak langsung.
Tapi... rasanya tidak mungkin kalau sepasang manusia yang sudah jadian lalu saling menghindar, kan?
Lalu kenapa pertanyaannya berefek seperti itu?
"Tetsu? Kau jadian dengan Akashi, ya?" tanya Aomine lagi.
"Tidak, kami hanya teman, kok," jawab Kuroko dengan nada datar. Set! Mendadak lehernya dipeluk seseorang dari belakang. Saat ia menengok, terlihat salah satu partner-nya di tim tengah tersenyum. "Takao-kun?"
"Hanya teman katamu? Tapi matamu bilang sebaliknya, lho," kata Takao Kazunari.
Ekspresi pemain bayangan di Teikou itu memasang wajah super datar. "Tidak."
"Hm~? Terus kenapa akhir-akhir ini malah menghindari Akashi?" tanya Takao.
Checkmate!
Mulutnya terkatup rapat. Ia tak bisa menjawab pertanyaan Takao secara asal. Kalau tidak, tamatlah sudah. Jujur saja, Kuroko belum pernah menceritakannya kepada siapa pun, kecuali Kise karena kecerobohannya yang menulis nama Akashi Seijuurou di halaman belakang buku catatan pelajaran sejarahnya. Dari sekian banyak orang, hanya Takao Kazunari yang harus diwaspadai. Ia terlalu pintar membaca situasi di sekitarnya.
"Kami hanya teman, tidak lebih, Takao-kun," sanggah Kuroko.
"Kupikir juga begitu. Tetsu masih straight, jadi tidak mungkin dia jadian dengan Akashi," timpal Aomine seraya mengambil cangkir berisi kopi hitam miliknya. Saat bibirnya sudah menempel di bibir cangkir, alisnya mengkerut. Kopinya ke mana? tanyanya dalam hati. Saat ia menjauhkan cangkir tersebut, perempatan di keningnya muncul.
"Siapa yang minum kopiku!?" kesal Aomine.
"Aku-ssu," jawab Kise dengan nada mencicit.
"Kau—!"
Takao tertawa pelan. "Mereka sudah indirect kiss, kan?" tanyanya pada Kuroko.
Kuroko sendiri hanya mengangguk. "Bodoh," gumam laki-laki itu.
"Hanya teman katamu? Tapi matamu bilang sebaliknya, lho."
—Takao Kazunari
Midorima Shintarou selaku Ketua Pelaksana Teikousai kelima sibuk mengawasi acara yang berlangsung di panggung utama. Di sampingnya ada seseorang berambut merah yang juga sibuk mengatur anggota Seksi Acara untuk menyesuaikan tugas. Satu menit sudah sang Ketuplak dianggap patung oleh mereka, tapi Midorima tidak terlalu mempedulikannya. Bagaimana pun juga itu sudah jadi tugas Seksi Acara supaya acara bisa terkendali tanpa hambatan yang berarti.
"Midorima, kau tahu di mana Kise sekarang?" tanya Akashi Seijuurou tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya. Sikap yang cukup kurang ajar, tapi sekali lagi, Midorima tidak mempermasalahkan hal itu.
"Kata Kawamura, dia sedang mendokumentasikan setiap stand—no da yo."
"Oh, syukurlah." Kepalanya mendongak untuk melihat keadaan di panggung utama.
Helaan napas berat terdengar dari belakang Akashi. "Padahal kau yang pantas jadi Ketuplak dibanding diriku," curhat colongan seorang Midorima.
"Mengeluh lagi?" tanya si lawan bicara sambil menahan tawa.
"Tidak, aku hanya heran, kenapa aku yang dipilih—no da yo."
Senyum tipis tercetak di wajah tampan Akashi. Ia tak habis pikir, kenapa ada orang se-tsundere laki-laki di sampingnya ini. Jelas-jelas ia mengeluh, tapi tak mau mengaku. Sudah berulang kali juga ia mendengar keluhannya itu dan Akashi hanya bisa tertawa pelan atau tersenyum untuk menanggapinya.
"Kau tak mau masuk ke stand kelas Kuroko, Akashi?"
Ah, ini dia yang membuat Akashi agak kesal dengan sikap Midorima.
Selain tsundere, ia juga pintar mengalihkan topik pembicaraan.
"Sekarang kenapa kita harus membicarakan Kuroko sementara masih ada yang harus dikerjakan ketimbang membicarakan seseorang?" balas laki-laki berambut merah tersebut. Sebelum sang—ehem—sahabat atau salah satu anak buahnya(?) menyahut, ia langsung menyela. "Untuk apa aku ke sana, sampai-sampai harus meninggalkan tugasku, Midorima?"
"Kuroko jadi butler sekarang, kata Kise. Aku memberitahumu bukan berarti aku peduli pada kalian—no da yo," ujar sang Ketuplak sambil menaikkan sedikit kacamata berbingkai warna hitam miliknya.
"Oh, sankyu."
Akashi kembali tersenyum tipis.
Aku sudah melihatnya tadi, tentu saja.
Tangan kanan laki-laki itu yang semula sibuk menulis sesuatu di selembar kertas tiba-tiba berhenti bergerak. Sebuah ide yang cukup bagus mampir di pikirannya. "Midorima, menurutmu... laki-laki suka memakai gantungan tas?" tanya Akashi sambil melanjutkan acara menulisnya.
"Relatif, tergantung siapa yang memberi."
"Oh."
"Jangan-jangan kau..."
Dan senyuman Akashi memberikan sebuah jawaban atas pertanyaan Midorima yang belum sempat teruraikan secara lengkap.
.
.
.
Tepat pukul 11.30 siang, acara dihentikan selama satu jam. Para panitia menggunakan waktu tersebut untuk beristirahat dan makan siang bersama di sekre OSIS. Kuroko Tetsuya menyeka keringat di keningnya dengan punggung tangan kanan. Ia mengambil papan ulangan miliknya yang sempat tergeletak begitu saja di pinggir panggung. Dilihatnya anggota Seksi Dekorasi mulai berjalan menjauhi panggung untuk ikut beristirahat di sekre OSIS.
"Kuro-chin, Aka-chin, kalian istirahat dulu saja di sekre."
Suara Murasakibara Atsushi membuat Kuroko menengok. "Hai," jawabnya.
"Akashi, kau bisa mengurus jadwal acaranya lagi nanti setelah makan siang—no da yo," kata Midorima yang berada di samping kiri center tertinggi dan terkuat di Teikou.
"Iya," sahut Akashi sambil melangkah mendekati mereka bertiga setelah meminta yang bekerja mengurus sound speaker untuk menonaktifkannya selama jam istirahat. Langkahnya terhenti tepat di samping Kuroko yang sedang sibuk membuka email masuk di ponselnya. Karena jaraknya terlalu dekat, Akashi bisa melihat siapa saja tiga pengirim email tersebut. Ada dua pesan dari Momoi Satsuki dan satu pesan dari Furihata Kouki.
"Ayo, Kuroko. Waktu kita tidak banyak," ajak Akashi.
Laki-laki itu mengangguk lalu berjalan mengekori Midorima.
Murasakibara tidak ikut ke sekre karena ditugaskan untuk menemui beberapa panitia yang masih bekerja di beberapa tempat dan menyuruhnya makan siang. Di kedua tangannya juga ada kantong plastik berisi 10 kotak bento di tiap kantongnya.
Sesampainya di sekre, baik Akashi dan Kuroko langsung mengambil satu kotak bento lalu duduk bersampingan di pojok ruangan. Semua panitia terlihat kelelahan, bahkan sampai ada yang tertidur. Apa tahun lalu juga seperti ini, ya? tanya Kuroko dalam hati. Tahun lalu memang ia tidak ikut jadi panitia karena masih kelas 1, sementara yang dibolehkan menjadi panitia hanya kelas 2 dan 3.
Kedua tangannya membuka penutup kotak bento dengan gerakan lemas.
"Baru pertama kali jadi panitia di event besar seperti ini?" tanya Akashi.
"...ya. Ternyata sangat melelahkan," sahut Kuroko.
Mereka berdua mulai memakan isi bento tersebut dalam diam. Mungkin dari luar Kuroko terlihat biasa saja dengan ekspresi datar seperti biasanya, tapi sebenarnya ia sangat panik sekarang. Bahu kanannya dan bahu kiri Akashi bersentuhan secara tidak langsung. Sudah tiga suapan nasi beserta lauknya masuk ke dalam mulut, rasa kenyang mulai terasa di perut sang phantom.
"Habiskan makananmu, Kuroko." Akashi terlihat tengah menyuapkan telur gulung ke dalam mulutnya sendiri dengan santai ketika Kuroko menengok ke arahnya.
Tanpa sadar ia terus memperhatikan wajah laki-laki berambut merah itu.
Wajah Akashi-kun tidak terlihat kelelahan sama sekali, pujinya dalam hati.
Saat orang yang diperhatikan menengok ke arahnya, Kuroko langsung buang muka ke samping lalu menundukkan kepala. Ia memandangi isi kotak bento itu sebentar, kemudian memakannya lagi. Mau tidak mau, Kuroko harus memakannya karena perut minta untuk diisi.
Hatenaki yume motomeru shirube naki sekai de...
Lagu Blaze-nya Kotani Kinya terdengar dari arah Kuroko.
Dua buah sumpit ia letakkan di atas kotak bento seraya mengambil ponselnya dari dalam saku celana. Dengan segera Kuroko berdiri setelah meletakkan kotak bento-nya ke sisi sebelah kiri Akashi. Ia juga meminta izin pada laki-laki tersebut untuk pergi keluar ruangan sebentar.
Sayup-sayup Akashi bisa mendengar Kuroko menyebut background panggung yang harus diganti sebelum acara di panggung utama dimulai lagi. Hampir lima menit berlalu, Kuroko pun kembali duduk di sampingnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Ada apa?" tanya Akashi penasaran.
"Background-nya sedikit bermasalah, tapi semuanya sudah teratasi."
"Oh, begitu. Syukurlah."
Lagi-lagi suasana hening mengisi atmosfer di antara keduanya.
Drrrt! Drrrttt! Kali ini ada email masuk yang mengganggu acara makan siang Kuroko. Ia pun menaruh kembali sumpitnya ke atas kotak bento dan membuka email terebut. Terlihat kepalanya agak terkantuk setelah menghela napas berat setelah membalas email itu.
"Siapa lagi?" tanya Akashi dengan nada dingin.
Rasa takut kini merasuk ke dalam Kuroko.
"M-maaf sudah mengganggu acara makan Akashi-kun," katanya pelan.
Akashi menghembuskan napasnya lewat mulut lalu menaruh tangan kirinya ke atas kepala Kuroko sebentar. Ia menepuk pelan kepala tersebut dan mengacaknya. "Bukan aku saja yang terganggu, tapi kau yang justru lebih terganggu." Tangan Akashi menjauh dari kepala pemain bayangannya.
"Aku tidak apa-apa, ini sudah jadi tugasku," sahut Kuroko.
Ia kembali menyuap makanannya.
"Kuroko-san ada di dalam?"
Mendengar namanya dipanggil, sontak ia langsung berniat untuk menghampiri dua orang yang mencarinya itu. Namun pergelangan tangan kanannya ditahan. Kepalanya menengok ke arah sang pelaku. "Akashi-kun?" tanya Kuroko dengan nada heran.
"Tunggu sebentar," perintah Akashi.
Kedua mata Kuroko mengikuti arah pandang laki-laki itu.
"Ada apa mencarinya?" tanya Midorima yang ditanyai oleh mereka.
"Kami ingin meminta bantuannya untuk memberi saran soal dekorasi di stand kami," jawab si gadis berambut pendek. "Kuroko-san sedang istirahat, ya?" tanya laki-laki berambut spike.
"Ya, dan kuharap kalian bisa menunggu sepuluh menit lagi—no da yo."
"Baiklah. Maaf mengganggu."
Midorima menatap mereka berdua yang sudah mulai melangkah pergi sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ia nampak berdiri tegap di ambang pintu. Sosok yang dicari tadi tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya saat ia berbalik ingin masuk ke dalam ruangan. "Kuroko!?"
"Doumo."
"Doumo janai!"
Entah ada angin apa, Kuroko tersenyum tipis ke arahnya. Untuk beberapa saat seorang Midorima Shintarou terpaku dan membisu di tempat. Tolong ingatkan Midorima untuk tidak berada di pihak Kuroko lagi, dalam artian membela laki-laki manis itu.
"Arigatou, Midorima-kun."
Senyuman Kuroko semakin lebar.
Ctak! Kacamatanya pun akhirnya retak sebelah.
Ia berdeham sebentar. "Bukan berarti aku peduli padamu, aku hanya tak suka kau sakit setelah ini—no da yo."
"Iya. Kalau begitu, aku ke stand mereka dulu," pamit Kuroko.
Begitu sosok itu pergi, Midorima mendekati Akashi yang sudah selesai makan siang.
"Ck, anak itu di luar kuasaku," keluhnya.
Tangan kanan Midorima menaikkan kacamatanya sedikit. "Makanya aku benci Aquarius berdarah A seperti Kuroko—no da yo," timpal laki-laki berambut hijau itu tidak nyambung sama sekali dengan topik pembicaraan semula. "Hmph, makanannya belum habis malah langsung pergi. Itu sama saja membuang-buang nikmat yang diberikan Kami-sama. Pantas saja hari ini Aquarius berada di peringkat terakhir—no da yo," sambungnya.
"Kuroko terlalu keras kepala dan susah diatur," keluh Akashi lagi.
"Sama sepertimu."
Lirikan tajam dari mata Akashi membuat syaraf Midorima terhenti sejenak.
To Be Continued
Oke! Mood saya sedang membaik! :) So, saya update fanfic ini dan berusaha untuk update fanfic on-going lainnya tapi bukan di fandom KnB. Saya juga sedang melanjutkan project lama, tapi nge-stuck lagi. #CurCol
BIG THANKS FOR :
Guest, KyraAkaKuroLover, Kuroyuki31, sofi asat, talithabalqis, dan silent readers juga-ssu! #Bow
Oh iya, soal ekspresi Kuroko akan saya buat kembali IC, mudah-mudahan bisa. Tapi mungkin akan OOC lagi kalau cuma berdua dengan Sei-kun. :D Untuk perkataan Midorima, jujur aja, saya lebih suka 'no da yo' karena gak terlalu panjang. Di lagu solo-nya juga ada yang judulnya "Doko ni aru no da yo". :)
Cukup segini aja cuap-cuapnya...
SELAMAT BUAT SEIRIN YANG MENANG MELAWAN RAKUZAN! :D OMEDETOU!
Terima kasih buat saran & kritiknya, minna! #Bow
See You Next CRUSH!
CHAU!
