Disclaimer _ Naruto © Masashi Kishimoto
Genre: Romance/Drama/Friendship
Pairing : NaruSaku
Rate : T (Teen)
Haruna Kei Present
- Wind -
Warning: AU, GaJe OOC_May Be, OC, Minim deskriptif, Typo Abal, EYD Ngawur, Banyak kekurangan dan sebagainya
Happy reading all, if you don't like don't read. R&R Please
Semoga chapter kali ini tidak mengecewakan
Chapter 1 - Pertemuan
Sinar matahari menyeruak kedalam bilik bilik jendela besar apartemen sang Uzumaki muda. Jam dinding yang terpasang di dinding kamarnya menunjukan pukul 06:15. Namun Uzumaki muda masih bersembunyi dibalik selimut tebalnya sembari mendengkur lirih. Suhu musim gugur lumayan membuat tubuhnya dingin dan meringkuk nyaman di atas ranjang yang tak terlalu besar tapi muat untuk dua orang. Naruto sesekali merubah posisi tidurnya, menggeliat kesamping kanan dan kiri dengan gerakan cepat, sesaat kemudian posisinya terlentang menghadap ke arah langit-langit atap kamar, tangannya bergerak kearah perut dan mengusap-usap perutnya.
KRUUYUKKK
Suara dalam perut seolah mendemo pemiliknya untuk segera bangun dan mengisinya. Tak butuh waktu lama, mata beriris safir yang semula tertutup kini nampak untuk menyongsong paginya. Mengucek mata lalu berdiri berjalan kearah tirai jendela sambil meregangkan otot tubuhnya.
SRAK
Tirai terbuka, dan sinar matahari langsung masuk kedalam kamar pemilik apartemen tersebut tanpa ijin. Sontak Naruto menutup sebelah mata karena silau.
"Sudah pagi ? Ohayou Gozaimasu Minna !" ujarnya pada diri sendiri dan mahluk hidup yang berlalu lalang didepannya.
Memutar tubuhnya dan berjalan kearah pintu kamar. Dibiarkan pintu tersebut tetap terbuka lalu menuju ke area dapur, membuka pintu bagian bawah lemari pendingin serta merta matanya menyapu pandangan dalam lemari pendingin tersebut. Berujar untuk menemukan sesuatu yang setidaknya dapat mengganjal perut yang sedang dilanda kelaparan. Sepertinya takdir berkata lain, isi lemari pendingin longgar hanya terisi beberapa minuman kaleng dan jus dalam kemasan. Tangannya beralih ke bagian pintu atas. Beruntung dia menemukan tiga potong momiji manjuu, dengan sigap dia mengambil semua potongan sekaligus, lalu membuka pintu bawah lemari pendingin lagi utnuk mengamil sebotol susu dan berjalan kearah meja makan. Sarapan untuk pagi ini.
Seusai kegiatan dipagi hari selesai seperti beres beres rumah, mandi dan menjemur pakaian. Dia sudah bersiap untuk pergi, coat orange sepaha serta celana panjang hitam dan beanie hitam sebagai penutup kepala, tampilan modis untuk guru fisika. Dia mendudukan dirinya di sofa ruang tamu. Mencatat sesuatu di kertas kecil dan berujar sendiri
" Isi kulkas hampir kosong, persediaan ramen juga tinggal 3 cup, cairan pembersih lantai dan porselin kamar mandi juga habis, beras tinggal 1 kg. Pembersih muka….hm, masih ada. Lalu apa lagi ya ?" cerca pemuda blode sambil mengusap dagunya tanda berfikir. Menimang nimang apa saja yang akan dibeli nanti.
"Mungkin sementara ini saja sudah cukup, selagi hari minggu aku harus benar benar menyiapkan agar besok tidak kerepotan" gumam Naruto pada dirinya sendiri.
Hari minggu adalah hari libur kebanyakan orang untuk bersenang-senang, mengistirahatkan tubuh sejenak dari berbagai rutinitas yang harus dikerjakan. Lain dengan pemuda blode ini, dia belum merasakan rutinitas sebagaimana orang lain, karena hari esoklah dia akan mendapatkan rutinitas tersebut.
Langkahnya berhenti di depan rak sepatu, mengamit sepasang sepatu kets hitam lalu memakainya. Tangan kirinya terangkat dan matanya merlirik kearah arloji yang terpasang.
"Semoga swalayan sudah buka." Gumam Naruto mengucapkan kalimat permohonan sebelum melesat pergi.
Salon Kirei – Tokyo
"Ohayou gozaimasu, Shion-chan. Apa salonnya sudah buka ?" Sapa gadis berambut soft pink pada pemilik salon yang bernama Shion.
"Ah Sakura-chan. Ohayou gozaimasu, okaerinasai." Jawabnya sembari memmbungkukkan badan
"Shion-chan, tak perlu seformal itu. Kita seumuran kan ?" Sanggah Sakura sedikit menolah diperlakukan seperti itu, seolah – olah dirinya adalah tamu kehormatan.
"Eh ? Sudah jadi kebiasaan…. Hehehe. Kau jarang sekali kesini. Apa kau selalu sibuk ?"
"Kau benar, akhir-akhir ini banyak sekali kasus dan tindakan kriminal. Entah itu kasus pencurian bahkan sampai korupsi, membuat ku harus lari ke sana kemari, belum lagi kalau sudah sampai apartemen. Berantakan, cucian numpuk, barang kebutuhan sehari-hari tak sempat diurus rapih. HAAH…. Aku bisa gila mendadak!" Curhat Sakura panjang lebar
"Kau pasti lelah sekali ya ?" Tanggap Shion dengan perasaan iba
"Haha… tak masalah Shion-chan, itu sudah jadi tugas ku." Ujar Sakura sambil mengibas-ngibaskan tangan kanannya yang berarti 'tak perlu khawatir'. Sakura lantas mendudukan dirinya dikursi salon untuk memulai perawatan.
"Tapi kalau tak ada orang seperti mu, pasti Tokyo tak akan aman. Tetap berjuang ya !" Sanggah Shion memberi semangat.
"itu tak seberapa Shion-chan…. Hm, apa rambut ku terlihat kering dan kusut ya ?" Ucapnya sambil menunjukan rambut soft pink yang diikat ala pony tail. Shion langsung melepas ikatan rambut Sakura lalu mengusapnya pelan.
"Ya, sedikit." Jawab Shion seraya menyisir rambut Sakura. "Mau yang bagaimana ?" Sambungnya.
"Seperti biasa" Ujar Sakura singkat
"Baiklah, akan ku lakukan"
Shion dengan cekatan melakukan perawatan rambut Sakura, sedangkan gadis bermarga Haruno hanya rileks menikmati hari liburnya di salon.
Sementara itu di toko swalayan terlihat pemuda blode sedang mendorong troli belanjaannya, isinya hampir penuh dengan barang-barang yang sempat ia tulis tadi pagi. Langkahnya terhenti di stand mie instant, matanya menyapu pandangan pada rak-rak yang berisi mie instant di depannya.
"Ramen…. Ramen…. Ramen" Gumamnya berkali-kali menyebut nama kebutuhan pokok yang harus ada dilemarinya.
"Ah… Ketemu !" Wajahnya girang seketika menemukan barang yang ia cari. Tanpa pikir panjang dia mengambil puluhan bungkus ramen lalu memasukannya ke dalam troli. Sekarang isi trolipun penuh dengan barang-barang kesehariannya yang ia beli. Naruto terus bejalan menuju ke meja kasir. Sebelum sampai pada bagian yang dituju, dari lawan aran seorang laki-laki berambut kribo dengan kemeja biru muda berlari kencang kearahnya. Tangannya memegang tas di depan dada, dengan raut wajah panik dan terburu-buru tanpa sengaja dia menabrak bahu pemuda pirang yang ada di depannya. Tak ayal, mereka berdua langsung terpental dan jatuh terjungkal ke lantai.
BRUK
Debaman lumayan keras ketika pantat keduanya telah sukses mendarat dengan kasar ke lantai. Naruto merintih kesal karena pantatnya harus mencium lantai dengan kasar.
"Bisakah kau sedikit hati-hati Tuan !" Ujarnya sembari berdiri lalu menepuk-nepuk pantatnya yang sedikit kotor karena debu.
"Ma-maafkan saya." Jawab pria kribo membungkukkan badannya dalam dalam.
"PENCURI…. PENCURI !" Teriak seorang wanita dari arah belakang. Belum sempat sampai, Pria kribo langsung melesat pergi tanpa permisi.
"HEY TUAN KRIBO, TUNGGU !" Teriak naruto merasa sedikit curiga ketika melihat gelagat muka tegang dan panik pada pria tadi.
"PENCURI ! Tolong kembalikan tas ku!" Teriak wanita, bukan lebih tepatnya ibu-ibu lagi. Berlari kearah Naruto dengan nafas tersegal-segal.
"Tunggu bibi ! Apa pria berambut kribo tadi itu pencurinya ?!" Tanya Naruto untuk meminta penegasan.
"Ya, Nak ! Tolong kejar dia !" Teriaknya seraya meminta
"Nona kasir ! tolong jaga belajaan ku!" Naruto langsung berlari kencang menuju kearah pintu keluar toko. Tak disangka bibi yang kecurian ternyata ikut mengejar pencuri tersebut, kecepatan lari yang lumayan cepat lalu mensejajarkan kecepatan larinya dengan Naruto.
Dia sedikit terkejut dengan kecepatan bibi itu, menoleh ke samping sejenak. 'Wanita yang perkasa' gumamnya dengan tersenyum simpul.
Kecepatan lari kedua orang itu tak bisa diremehkan, dalam hitungan menit saja mereka mampu menemukan kemana arah lari pencuri yang dikejarnya.
"Berhenti ! Pencuri !" Teriak bibi itu geram
"Percuma bibi teriak ! sebaiknya kau lapor polisi ! kantornya tak jauh dari sini! Cepat !" Perintah Naruto masih berlari.
"Tapi!" Protes bibi itu masih berlari juga
"Percayalah ! Aku bukan kaki tangannya, Dattebayo !" Ujarnya sambil tersenyum untuk meyakinkan
"Ba —baik !" Jawab bibi dengan sedikit mengurangi kecepatan larinya. Sementara itu Naruto tetap berlari, sedangkan bibi tersebut berhenti sejenak dan pandanganya menyapu area untuk menemukan tempat yang dikatakan oleh pemuda blode tadi. Tak ayal menemuka, dia berlari kecil agar segera menemukan letak kantor polisi.
Dalam waktu bersamaan, seorang gadis berambut soft pink keluar dari salon usai melakukan perawatan, tangannya memegang keranjang plastic kecil yang berisikan alat-alat perawatan rambut, dia melangkah tenang keluar dari salon. Langkahnya terhenti mendadak ketika seseorang berlari kencang dihadapannya dan hampir menabrak jika ia tak sempat menghindar. Selang beberapa detik, pemuda berambut blode mengejarnya. Ketika wajah mereka bertemu, Sakura melihat bagian samping wajah pemuda blode yang sekarang di hadapannya, tiba-tiba dunia seolah-olah berhenti berputar, waktu tak berjalan, semua gerakan terlihat melambat saat itu. Mata sakura melebar seketika saat melihat dengan jelas lekuk wajah pemuda blode yang sedang dihadapannya saat ini, tatapan pemuda itu tetap kearah depan dengan raut wajah serius dan sedikit ringisan kekesalan.
"BERHENTI !" Teriakan pemuda blode memecahkan ketidakstabilan waktu -menurut Sakura- menjadi normal lagi. Dilihatnya pemuda tadi tetap berlari yang sekarang memunggungi dirinya.
"Dia …" Gumam Sakura pelan sambil menunjuk kikuk kearah pemuda blode. Merasa tak asing dengan wajah pria tadi, berfikir sejenak untuk memutar memori yang tersimpan di otaknya untuk mengingat beberapa kejadian-kejadian yang terlewati seiring berjalannya waktu. "Haa….!" Mendongkakan kepalanya seolah-olah dia menemukan dokumentasi ingatan yang sedang ia cari.
"Nona ! Permisi !" Seorang wanita memanggilnya ketika sedang diam berdiri dengan tampang berfikir. Ternyata bibi yang tadi kecurian.
"Ya !" Sakura meloncat kaget dari tempat berdirinya, jantungnya serasa mau copot. "Ada yang bisa saya bantu, bibi ?" Sambungnya dengan memberi penawaran.
"Pencuri…" Bibi itu hanya bergumam pelan
"Hah… ?" Merasa kurang jelas dengan ucapan bibi itu, Sakura lantas mendekatkan telinganya kearah wajah bibi tersebut.
"Tadi… tadi yang lari di depan sana itu pencuri ! sekarang beri tahu aku di mana letak kantor polisi Nona !" Teriak bibi frustasi dikarenakan sejak tadi belum menemukan letak lokasi kantor polisi.
"APA ?! PENCURI !" Alih-alih menjawab, Sakura palahan meneriakan dua kata barusan
"Ya ! tolong beritahu aku Nona ! dimana kantor polisinya !" Bentak bibi itu sedikit memaksa
"Tenangkan diri mu dulu bibi. Aku seorang polisi, jadi tak perlu khawatir. Masalah di mana kantor polisi itu nomer 27. Yang terpenting sekarang adalah menangkap pencuri itu dulu, bukan begitu ?" Ujar Sakura menenangkan sembari menepuk bahu wanita yang berdiri di depannya. "Baiklah aku pergi ! Bibi tanyakan saja pada pemilik salon di dalam ! dia tau letak kantor polisinya !" terianya lagi dengan berlari sambil menoleh ke belakang.
"Tapi pemuda tadi su— " Bibi itu mengurungkan niatnya untuk melanjutkan kalimat barusan. Sadar kalau perkataannya tak akan didengar oleh gadis berambut soft pink yang sekarang sendang berlari cepat menyusul kedua pemuda yang sedang saling kejar. Pandangannya beralih kearah pintu masuk salon, bermaksud untuk menanyakan letak kantor polisi sesuai saran gadis berambut soft pink yang ia temui tadi.
Sementara itu Naruto masih mengejar pencuri yang berlari kencang di depannya. Dengan segenap kekuatan dia menambah kecepatan larinya.
"BERHENTI ! KRIBO ! Percuma saja kau lari ! toh pada akhirnya kau akan berakhir di balik jeruji !" Oceh Naruto sedikit memberi peringatan. Langkah kakinya semakin lebar, sekitar jarak 10 meter lagi dia bisa meringkus pencuri yang ada di depannya.
"Sial !" Gumam pria kribo kesal
"Berhenti !" Sekarang suara teriakan perempuan terdengar di belakang mereka, keduanya menoleh ke belakang sejenak lalu dengan cepat melempar pandangan fokus lagi ke depan. Ternyata Sakura, polisi berambut soft pink yang menyusul mereka berdua.
"Berhenti !" Teriak Sakura lagi, tapi sekarang keduanya tak menggubris sedikitpun. Merasa kesal dirinya diabaikan, Sakura lantas berhenti. Tangannya dengan sigap melepas sandal jepitnya, lalu kakinya membentuk posisi ancang-ancang. Tanpa pikir panjang dia melempar sandal kearah larinya kedua pemuda tadi. Sandalnya melesat cepat, melambung tinggi memecah udara. Matanya menerawang jauh kearah melambungnya sandal di udara, berharap lemparannya tepat mengenai sasaran. Namun tak disangka, ternyata—
PLUKKK
Sandal yang ia lempar mendarat dengan indah di wajah pejalan kaki yang sedang berjalan di trotoar jalan.
Sakura facepalm seketika "Sial ! Meleset !". Sedikit menelan ludah, takut alih alih akan kena marah karena kelakuannya, hancur sudah kredibilitasnya sebagai polisi. Dia melangkah kikuk kearah mendaratnya sandal, lalu dengan kecepatan kilat dia mengambil sandalnya yang masih bertengger nyaman di wajah korban dan membungkukkan badannya dalam-dalam.
"Tadi itu meleset ! Permisi" Takut membuang waktu untuk berdebat, dia langsung melesat pergi.
Korban melesetnya sandal hanya bisa bengong dengan kejadian yang barusan dialaminya.
Sakura tetap berlari kencang menyusul kedua pemuda tadi, langkah larinya yang luar biasa cepat mampu menyusul keduanya.
'Sedikit lagi !' Gumamnya
"Berhenti kau !" Sakura mulai berteriak, kecepatan larinya semakin menambah
Naruto menoleh sejenak kearah belakang, mendapati seorang perempuan yang tadi berteriak. Dia tetap berlari, sesekali tersenyum simpul karena bukan hanya dirinya saja yang mengejar pencuri. Satu bala bantuan datang, pikirnya. Mereka bertiga tetap berlari, dan sekarang memasuki ke area gang sempit yang sepi.
'Tamatlah riwayat mu, Tuan Kribo!' dengusan kekesalan memuncak, tinggal beberapa meter lagi dia mampu meraih kerah belakang pencuri yang ada di depannya.
"Berhenti !" Sakura masih teriak kesetanan "Kau yang berambut pirang ! BERHENTI KATAKU !" Sambungnya dengan nada garang
"Eh ? Aku ?!" Ternyata dugaannya salah
"Ya ! Kau ! BERHENTI KATA KU !" Teriak Sakura lagi
"Bukan aku pencurinya ! dia yang ada di depan yang berambut kribo!" Ujar Naruto membela diri karena dirinya disangka pencuri.
Sakura tak menanggapi perkataan Naruto barusan, justru langkah larinya semakin ia percepat. Naruto semakin bingung dengan dugaan perempuan yang mengejarnya.
"Bukan aku pencurinya ! Kenapa kau tetap mengejar ku!" Ujar Naruto kalang kabut
"URUSAI !" Kejar Sakura
"Aku Warga Negara yang baik, mana mungkin mencuri. Kau tidak lihat ? aku tak membawa tasnya Nona !" Naruto lantas memutar tubuhnya untuk menghadap ke belakang sambil terus berlari.
"Jangan berkilah !" Bentak Sakura garang
"Bukan aku pencurinya !" Bela Naruto lagi
Sekarang jarak kedunya tinggal beberapa meter, sedangkan pencuri yang 'asli' memanfaatkan kesempatan yang dianggapnya sebagai keberuntungan dadakan.
"CIATTT…..!" Sakura melompat kearah Naruto dan langsung menerjangnya.
BRUKK
Keduanya jatuh tersungkur ke tanah, Naruto sebagai tindihan ambruk terkapar tergeletak menengadah kelangit, sedangkan Sakura menindih tubuhnya dan dengan cepat ia mengunci pergerakan Naruto.
"Apa yang kau lakukan Nona ! AGRHHH…..!" Jerit rintihan Naruto ketika persendiannya dikunci seketika.
Sakura lagi lagi tak menggubris perkataan Naruto, tubunya yang sudah terlatih tentang ilmu bela diri langsung memutar balik pria yang ia tubruk dan menarik lengannya untuk dikunci kebelakang.
"AGRHHH…. SAKIT NONA !" Teriak Naruto kesakitan
"Diam kau !" Bentaknya
Tak hanya 'menyiksa' pria yang dibuatnya bernasib naas, tangannya meraih shampoo yang tergeletak tak jauh dari jangkauannya, lalu membuka tutupnya dan menyemprotkan isi shampoo ke muka pemuda blode yang tubuhnya masih ia tindih.
"Tidak ! MATA KU … MATA KU ! Singkirkan benda itu dari mata ku !" Naruto terus berontak.
"Ciat ! Ciat ! Ciat !" Sakura dengan beringas meraupkan seluruh isi shampoo dengan tangannya ke wajah Naruto.
"Hentikan Monster ! Tche…. Aku menelannya ! Aku bisa mati di sini ! TOLONG AKU….! Siapa saja tolong aku !" Ujar Naruto menjerit histeris
Tak hanya itu, Sakura lantas meraih handuk serta sisirnya untuk mengikat pergelangan tangan pemuda yang dianggapnya sebagai pencuri, borgol daruratl. Setelah acara 'penyiksaan' selesai Sakura menarik kerah coat Naruto dengan kasar, menyuruh berdiri lalu menyeretnya dengan kasar.
"Bisakah seorang Polisi memperlakukan seorang warga dengan lebih berperikemanusiaan ?!" Pinta Naruto dengan sedikit membentak
"Bisa saja ! Tapi tidak untuk pencuri seperti mu !" Jawab Sakura garang
"Sudah ku katakan ! Aku bukan pencurinya, Monster!" Naruto membela dirinya
"Seorang pencuri pasti akan mengatakan hal itu ! simpan ocehan mu, sebaiknya digunakan untuk perlawanan di pengadilan nanti !" Jelas Sakura
Mereka berdua berjalan menuju ke kantor polisi. Naruto uring uringan seketika, tak disangka dihari minggunya akan bernasib sial seperti ini. Apalagi sampai berhubungan dengan tindakan kriminal. Seumur hidupnya dia tak pernah berhubungan dengan polisi, kecuali dengan ayahnya. Dari banyaknya seorang polisi kenapa dia harus bertemu polisi berambut pink seperti monster ini. Tunggu ! Naruto tercekat, sekarang dia baru menyadari kalau mereka berdua pernah bertemu sebelumnya. Di atap gedung hotel. Dimalam hari. Break Street Dance. Bunuh diri.
"Hey kau" Panggil Naruto lirih namun masih terdengar oleh telinga Sakura.
"Kau punya hak untuk menyewa pengacara, kalau kau tak memiliki uang…. Negara akan menyewakan mu pengacara. Tapi aku tak yakin kau bisa lolos semudah itu, karena nasib mu sebentar lagi akan meringkuk dibalik jeruji" Jelas Sakura tanpa mengalihkan pandangannya kearah Naruto.
"Bukan itu yang ingin aku bicarakan, Monster !" Ujar Naruto jengkel
Sakura berhenti seketika, kini matanya menatap tajam kearah pemuda blode yang terus memanggilnya dengan sebutan monster. Kesal dengan sebutan itu, dia langsung berteriak
"BERHENTI MEMANGGIL KU MONSTER ! AKU PUNYA NAMA ! PRIA RUBAH !" Teriaknya kesetanan
"Oh ya?" Ujar Naruto dengan nada mengejek "Pinky-kah ? Sebutan itu tak cocok untuk Polisi monster seperti mu !" sambungnya sinis
"KAU !" Sakura lantas mengepalkan tangannya untuk meluncurkan tinjuan ke wajah pemuda blode yang bicaranya seenak lutut.
"Kenapa kau ingin bunuh diri malam itu ? tak ku sangka, polisi monster seperti mu bisa menangis ketika rencananya gagal" Alih alih menanggapi perkataan Sakura, palahan ia hanya bergumam santai yang membuatnya terkikik geli.
"Jadi benar, kau yang di atap itu kemarin ?! tak ku duga kau seorang pencuri !" Tebak Sakura ngawur
"Aku bukan pencuri !"
"Atau mungkin kau kabur setelah berhasil melakukan aksi pencurian di hotel kemarin ?!" Tuduh Sakura lagi
"…." Naruto hanya melengos mendengarnya
"Berapa kali kau mencuri !" Bentak Sakura mengintimidasi
"Bicaralah sepuasmu monster ! yang jelas. AKU. BUKAN. PENCURI. –NYA !" Ujar Naruto dengan menekankan setiap kata terakhirnya.
Sakura hanya diam, pandangannya sedikit menunduk. Dia mengingat kejadian 2 hari yang lalu diatap gedung hotel. Kalau bukan karena ocehan pemuda blode yang sekarang berjalan di sampingnya dia mungkin tak berada di sini sekarang.
Tiba tiba angin berhembus lembut menerpa wajahnya, dia lalu mendongkakan kepalanya dan pandangannya beralih kearah Naruto.
'kata-kata yang dia ucapkan lumayan bijak. Apa benar ia seorang pencuri ?' Gumam Sakura dalam batin
Genggaman dipergelangan pemuda itu semakin kencang, lalu ia menyeretnya lagi.
"Ikut aku !" Ujar Sakura singkat
"Mau kemana ?!"
"Kantor polisi, jelaskan semuanya di sana." Jelas Sakura
Alih alih takut dirinya akan di bawa ke kantor polisi, Naruto hanya tersenyum simpul
"Baik ! Pasti bibi yang aku tolong sudah tiba di sana" Naruto langsung melenggang di depan Sakura
"Jangan kabur !" Cegat Sakura
"Tenang, aku bukan pengecut !" Ujarnya sembari tersenyum
Tokyo - Kantor Polisi
BRAKK
Suara keras yang dihasilkan dari seseorang yang menggebrak pintu dengan kasar. Polisi berambut soft pink memasuki ruangan tanpa mengucapkan salam apapun untuk sekedar basa-basi. Seisi ruanganpun menoleh kesumber yang membuat mereka terkejut serempak.
'benar-benar monster' Gumam Naruto seraya tersenyum miris
"Pak ! Seorang kriminal tertangkap basah !" Lapor Sakura to the point
"Bukannya kau sedang bebas tugas hari ini Sakura ?" Tanggap seorang petugas yang bernama Kiba.
"GUK !" Anjingnya pun ikut andil dengan perkataan majikannya
"Kiba, polisi tetaplah polisi. Walapun sedang bebas tugas !" Ujar Sakura bijak
Sambil menyeret Naruto untuk dibawanya kebangku dimintai keterangan, langkahnya terhenti di depan seorang wanita yang ia kenal. Bibi yang ia temui tadi pagi, yang menanyakan di mana letak kantor polisi.
"Bibi ! Ini kan pencurinya ?! Aku menangkapnya !" Ujar Sakura semangat sambil meraih leher Naruto lalu menghadapkan wajahnya pada wanita yang ia panggil bibi.
"Bu—" Belum sempat menggatakan sesuatu Sakura buru-buru menyeret Naruto untuk segera duduk. Tubuh Naruto ia hempaskan dengan kasar ke sofa, memaksanya untuk menghadap kebelakang. Sakura mengambil dompet di saku celananya.
"Duduk diam disini ! saat kau ditanya, jawab dengan jujur !"
"Oke" Jawab Naruto singkat
"Nama mu ?!" Sakura mulai mengintrogasi
"Uzumaki Naruto"
"Pekerjaan !"
"Guru Fisika di Tokyo Women High"
"Jangan bercanda ! atau kau akan benar-benar dalam masalah !" Ancamnya
"Aku tak bohong, Aku mulai mengajar senin besok !" Ujar Naruto membela dirinya
"Tunggu sebentar Nona Polisi" Sela Bibi
"Ada apa bibi ? kau mengenal orang ini ?"
"Dia pemuda yang mengejar pencurinya." Jelas bibi singkat
"Kau dengar monster ?! Aku tak bersalah ! Aku bukan pencuri !" Teriak Naruto akhirnya membuka mulut.
"Diam Kau !" Bentak Sakura
"Aku bisa mengingat ciri-ciri pencuri itu. Dia memakai kemeja biru muda dan celana hitam panjang. Rambutnya kribo dan memakai anting-anting disalah satu telinganya. Matanya sipit, dan sedikit berjenggot—"
Saat Naruto menjelaskan tentang ciri-ciri dari pencuri yang sedang ia uraikan, ada seseorang petugas yang mendengarkan dan menggambarnya dengan sigap sesuai penjelasan yang ia dengar, namanya tertera di bagian dada kirinya. Sai.
"Hidungnya mancung, berkulit putih dan memakai sepatu kets hitam bertali. Badannya sedikit kurus dan tingginya sekitar 173-an." Ujar Naruto panjang lebar menjelaskan ciri-ciri pencuri yang ia kejar.
"Kau mengingatnya sangat baik. Apa kau mau menghianati rekan mu, lalu kau bisa bebas. Hah ?!" Tabrak Sakura yang masih belum percaya atas penjelasan yang Naruto berikan.
"Pemikiran buruk terhadap orang lain adalah cerminan dari dirimu sendiri." Ujar Naruto bijak
"Jangan berdalih !" Bentak Sakura tak terima
"Aku tak sedang berdalih ! Itu kenyataan, Monster !" Balas Naruto tak kalah sengit
Ketika keduanya sibuk beradu mulut, bentak sana bentak sini. Sai mewasiti mereka berdua agar tak membuat masalah di kantor polisi.
"Kalian berdua diamlah" Ujarnya dingin. Naruto dan Sakura berdua diam seketika.
"Tuan Uzumaki, apa seperti ini orangnya ?" Sambung Sai dengan menunjukan selembar kertas yang tertera gambar seseorang dengan ciri-ciri pencuri yang barusan Naruto beberkan. Lantas kertas itu diambil oleh Naruto, dia mengamati hasil gambar itu baik-baik.
"Kau benar, hmm….."
"Sai…. Panggil saja Sai"
"Kau benar, Sai ! Bibi, orangnya seperti ini kan ?!" Ujarnya girang sambil menunjukan gambar tersebut pada wanita itu.
"Iya. Seperti ini pencurinya !" Tanggap bibi itu member penjelasan
"Baiklah kalau be—" Sai berujar, belum sempat ia menyelesaikan perkataanya lengannya ditarik oleh Sakura sedikit menjauh dari Naruto dan bibi itu.
"Sai ! apa-apa an kau ini, jangan memberikan keputusan secepatnya !" Bisik Sakura sepelan mungkin
"Tapi tak ada buktinya kan, Sakura ?"
"Lihat ! Lihat gambar ini ?!" Tunjuk Sakura pada gambar yang terpajang dibagian papan, seorang buronan. "Apa kau tak melihat gelagat kriminal pada dirinya ?" Sambung Sakura serius.
"Aku tak melihatnya" Ujar Sai singkat
"Aku tak memiliki pemikiran untuk melakukan tindakan kriminal sedikitpun !" Protes Naruto dari kejauhan, dia mendengar percakapan Sai dan Sakura.
"Pendengarannya pun sangat tajam" Bisik Sakura lagi
"…." Tanggap Sai
Mereka berdua lalu menghampiri Naruto yang sedang terduduk diam di sofa. Pandangannya sedang menerawang jauh ke luar jendela.
"Tuan Uzumaki—" Sanggah Sai
"Naruto, panggil saja Naruto" Ujarnya membenarkan
"Baiklah, Naruto-kun. Kali ini kau bebas, tidak ada bukti yang terkait atas tindakan pencurian dengan mu. Tapi kau bebas bersyarat, sebelum pencuri itu tertangkap"
"Bebas bersyarat ?"
"Ya, itu—" Lagi lagi kalimat Sai terpotong
"Sai !" Bentak Sakura protes
"Sakura …." Ujar Sai sembari menatap datar kearah Sakura
"Baiklah, kau bebas pirang" Ujar Sakura lemas
"Kalau begitu, aku permisi" Naruto melenggang pergi keluar dari kantor polisi. Perasaannya berkecamuk antara marah dan sedih. Kenapa pemuda pirang itu sedih ? ada sesuatu hal yang membuatnya mengingatkan pada masa lalunya.
Dia terus berjalan menyusuri jalanan kota menuju ke toko swalayan, mengambil barang belanjaanya yang belum sempat ia bayar. Langkahnya terhenti ketika dipertigaan gang, dia melihat sesuatu yang tergeletak. Merasa penasaran dengan benda yang dihadapannya sekarang, ia lantas mendekat dan berjongkok untuk mengambil benda tadi. Sekarang dia diam berfikir sejenak, mengingat-ingat benda yang tak lumayan asing. Butuh beberapa menit untuk berfikir, setelah itu dia mengingat dengan jelas benda yang sedang ia pegang sekarang.
"Tas ini ! Milik Bibi yang kecurian tadi" Dengan cepat ia langsung bediri, memutar badannya untuk menuju ke kantor polisi lagi. Belum sempat berjalan, ia dikagetkan dengan wanita yang sekarang sedang berdiri di belakangnya dengan tatapan membunuh.
"…..!" Naruto melompat kaget dari tempat berdirinya, dia menjatuhkan tas yang ia pegang tadi. Ternyata Sakura yang diam-diam menguntit di belakang Naruto.
"Jadi ini yang dinamakan 'Bebas Bersyarat' tadi ya ?" Ujarnya lemas
Sakura mendekat kearah Naruto, berjongkok untuk mengambil tas yang barusan dijatuhkan oleh pemuda blode tadi. Mengecek isi tas sejenak, lalu menatap kembali kearah Naruto dengan tatapan membunuh. Langkahnya terus menuju kearah Naruto, mengunci arah gerak pemuda yang sekarang sedang panik.
"Ja… Jangan salah sangka. Aku hanya menemukannya tadi di sini. Bukan aku yang mencuri…. Percayalah. Bukan ak—" Ujar Naruto, kalimatnya terpotong seiring tas melayang kearah wajahnya
"Insting ku tak pernah salah. Kau ditahan !" Bentaknya sembari menyeret kerah coat Naruto 'lagi'.
Kini mereka berdua sampai di kantor polisi, Naruto benar-benar pasrah sekarang. Dia tak bersalah sedikitpun tetapi dirinya dianggap tetap bersalah. Sedangkan Sakura menyeringai puas, dengan hasil tangkapannya.
"SAY CHEESSS !" Suara gaduh di dalam kantor ketika Sakura sudah membuka pintu masuk. Dia melihat semua petugas sedang berfoto dengan seseorang yang berambut kribo yang menurutnya asing.
"Eh ? Rambut kribo ? Kalian sudah berhasil menangkapnya ya ?" Tanya Sakura
"Tidak, dia menyerahkan diri ke sini" Jawab Kiba mewakili rekan yang lain
"Oh, baiklah kalau begitu. Selamat bertugas kembali !" Ujarnya sembari hormat dengan melemparkan tas yang ia pegang kearah Kiba. Kiba dengan sigap menangkap tas yang dilempar Sakura. Lalu ia melenggangkan pergi begitu saja, ya… begitu saja, tanpa mengatakan sesuatu apapun pada Naruto yang sedari tadi ia cengkram kerah coatnya.
Naruto ? Dia hanya diam, diam karena marah. Dirinya merasa dituduh dan diperlakukan seperti boneka yang dilempar kesana kemari begitu saja. Emosinya sekarang memuncak sampai atas kepalanya.
"HEY !" Bentaknya garang
Sakura dengan santainya hanya memalingkan wajahnya kearah belakang .
"Kau memanggil ku? Uzumaki ?" Ujarnya santai
Alih alih bertambah marah atas kesantaian sikap Sakura, ternyata emosinya tak menguar-nguar seperti tadi.
"Kau pergi begitu saja ?! Tidak bisakah kau meminta maaf ?"
"Kata maaf tak ada dalam kamus ku. Kalau kau ingin mendengarnya gantilah nama mu menjadi 'maaf', maka aku akan berteriak 'MAAF' pada mu" Ujar Sakura dengan nada sengit
"Dasar monster keras kepala !" Ejek Naruto bengis
"Rubah cerewet !" Balas Sakura
Keduanya berjalan berlawanan arah, Naruto menuju ke toko swalayan yang kegiatannya sempat tertunda dengan kejadian barusan. Sedangkan Sakura pulang menuju apartemennya, kembali merilekskan tubuhnya di hari libur. Sibuk dengan pikiran masing masing, menuju ke tempat berbeda. Seolah saling terikat satu sama lain mereka mendongkakan kepalanya, melihat kearah langit bersamaan.
"Uzumaki Naruto... / Sakura…." Gumam mereka bersamaan di tempat yang berbeda.
Angin bertiup membawa suasana sejuk kepada setiap insan yang berada di bumi ini.
HUWAAA... STRES... STRES... #Njambak2 rambut
Mengarang plus menulis ternyata bukan hal yang mudah, aku mengerti sekarang. Mengerti... Mengerti... #Manggut berkali kali
Konnichiwa Minna-san ! Akhirnya up date juga setelah beberapa minggu.
Maaf ya ngaret banget... #mbungkukin badan dalam dalam (ya, walaupun hanya beberapa doang yang menanti cerita ini buat di up date).
Aku ga bisa ngasih tepat kapan waktunya bisa up date. Intinya pasti aku up date (Walau ngaret #dilempar bakiak)
Domo arigatou gozaimasu buat : Kalong No Kitsune, Heryanilinda, Mistic Shadow, OhhunnyEKA, Waraney, Guest, Tuama, Tetsuya Deimihi (Review udah aku balas lewat PM ya, bagi yang ga log in tentu ga bisa aku bales... hehehehe)
Kritik dan sarannya ya ? Fic ini jauh dari kata sempurna... FLAME ? (aku belum siap) tapi kalo ada yang nge-flame aku masukin jantung aja dah.
R
E
V
I
E
W
