Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning!

AU, OOC, Slight MaleSaku, typo bertaburan

Oh, My Girl!

© Yoruichi Shihouin Kuchiki

"A—apa katamu?! P—peremp—puan?" saat itu Sakura hanya berharap kalau pendengarannya sedang terganggu.

Sai melipat kedua lengannya di depan dada, "Ya, perempuan," imbuhnya angkuh.

"Syarat macam apa itu?! Kau gila! Kenapa aku harus jadi perempuan?!" Sakura agak merinding mendengar syarat yang diajukan Sai.

Jelas saja! Apa jadinya kalau laki-laki yang terkenal paling berandal seantero—Jepang malah harus berubah jenis kelamin menjadi seorang perempuan? Terlebih lagi dari dulu Sakura selalu benci dengan yang namanya P-E-R-E-M-P-U-A-N. Kenapa? Satu-satunya jawaban adalah karena mereka sangat berisik! Dan itu selalu membuat kepala Sakura menjadi sakit.

'HELL NO!' Inner Sakura menjerit dalam hati.

"Itu adalah syarat yang menguntungkan untuk kita berdua, Sakura Utaka. Terserah kau mau menerimanya atau tidak," lanjut Sai datar.

Sakura mengacak-acak rambutnya frustasi, "MENGUNTUNGKAN APANYA, HAH?! JELAS SAJA INI SANGAT TIDAK MENGUNTUNGKAN BAGIKU!"

Sai tetap tidak bergeming sedikit pun, "Iya atau tidak? Hanya itu pilihannya."

"Katamu kau adalah malaikat pencabut nyawaku, berarti kau tetap bisa menghidupkanku sebagai laki-laki kan? Jadi aku tidak perlu dihidupkan kembali sebagai seorang perempuan!" ucap Sakura sengit.

Sai memutar bola matanya bosan, "Kau benar-benar keras kepala. Kalau menghidupkanmu sebagai laki-laki akan percuma saja. Kau akan kembali mengulangi dosa-dosa yang pernah kau perbuat. Aku memberimu kesempatan untuk hidup sebagai seorang perempuan bukan tanpa alasan. Yaitu agar kau dapat menebus dosa-dosamu dan memperbaiki semua kesalahan yang pernah kau perbuat," jelas Sai panjang lebar.

"Tapi kenapa harus menjadi perempuan, hah?!" Sakura mencengkram erat kedua lengan Sai.

Sai menghela nafas panjang, "Sepertinya otakmu benar-benar lamban ya, Sakura Utaka. Sudah jelas agar kau bisa berlaku lebih sopan dan menghentikan segala kebiasaan burukmu," jawab Sai bosan.

"Apa kau bilang?!" perempatan siku-siku muncul di dahi lebar Sakura.

Sai mengeluarkan gulungan kertas dari sakunya kemudian membukanya dan membiarkan ujung gulungan kertas panjang itu jatuh menyentuh lantai. Sakura mengernyitkan dahinya melihat gulungan kertas yang panjangnya bahkan melebihi dirinya yang masih melayang-layang di atas udara.

"Sakura Utaka, tanggal X bulan Y pukul 08.00, kau terlambat masuk sekolah lalu pukul 09.00 kau mencontek saat ulangan harian, pukul 09.30 kau merampas bekal makan siang temanmu dan menghabiskannya, pukul 11.00 kau bolos di tengah pelajaran kemudian pukul 14.00 kau berkelahi dengan orang lalu blablablabla . . . " Sai mengoceh panjang lebar. Sementara Sakura menutup kedua telinganya rapat-rapat. Telinganya terasa panas terus-menerus mendengar rentetan daftar dosa yang diperbuatnya, terlebih lagi ocehan panjang Sai tadi adalah daftar dosanya dalam satu hari! Bayangkan saja! Mambaca daftar dosa Sakura dalam satu hari saja bisa sampai setengah jam apalagi satu bulan! Atau satu tahun!

"Kau mengerti? Dosamu terlalu banyak, kau bisa ukur berapa meter panjang gulungan kertas ini," ucap Sai datar sambil membalikkan sisi depan kertas itu ke arah Sakura. Iris kelam dan emerald itu memandang rinci gulungan yang terjuntai ke lantai—mencari tiitik ujung dari gulungan kertas tadi. Sakura nyengir miring dengan sebelah alis terangkat melihat ujung kertas tadi sudah menyentuh tembok ruangan itu.

"Peduli amat dengan kertas itu. Tidak mungkin dosaku sampai sebanyak itu. Kau pasti mengarangnya sendiri kan?" sahut Sakura sinis kemudian tertawa dibuat-buat.

Sai menatap datar pemuda berambut aneh itu. Dia tidak habis pikir, selama dirinya menjabat menjadi malaikat pencabut nyawa—belum pernah sekalipun dia menemukan orang yang keras kepala seperti Sakura. Bahkan sudah mati pun, dia sama sekali tidak mau mengakui kesalahan dan dosa-dosa selama hidupnya.

"Bodoh!" satu kata yang sontak membuat wajah manis Sakura berubah menjadi sangar.

"Apa kau bilang?" delik Sakura tajam sambil memperlihatkan kepalan tangannya di depan muka Sai.

Sai memajukan sebelah telapak tangannya ke wajah Sakura, "Cukup! Aku tidak mau membuang-buang waktuku untuk berdebat dengan orang sepertimu," tandas Sai ketus.

"Cih!" Sakura membuang wajahnya sebal.

"Aku beri kau waktu satu hari untuk berpikir. Semua keputusan ada di tanganmu, hidup kembali dengan syarat tadi atau—" Sai menggantungkan kalimatnya dan menatap tajam kedua manik klorofil Sakura, "—mati selamanya dan pergi ke alam baka."

Ada rasa ngeri ketika Sakura mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Sai tadi. Terlebih lagi sorot mata yang diperlihatkan Sai kepadanya bukan main-main. Antara hidup dan mati? Laki-laki dan perempuan? Jahat dan baik? Dua sisi yang saling bertolak belakang itu dipertaruhkan sekarang.

Sakura bersitegang dengan Sai bukan karena dia tidak ingin hidup lagi. Tentu saja dia ingin kedua kakinya kembali menapak ke tanah dan tubuhnya tidak lagi transparan seperti ini. Hanya saja, yah kembali ke syarat yang diajukan Sai. Itulah satu-satunya penyebab dirinya menjadi galau. Seandainya saja syarat yang diberikan Sai bukanlah mengharuskan dirinya menjadi—err—perempuan, dengan satu tarikan nafas Sakura pasti akan langsung menjawab 'IYA!'. Tapi—kembali lagi ke syarat yang diajukan malaikat pencabut nyawanya tadi—harga dirinya sebagai seorang raja berandal bisa runtuh kalau tiba-tiba Sakura menjelma menjadi seorang perempuan!

'Oh God! Help me!' lagi-lagi inner berteriak frustasi.

Pertentangan batin masih bergejolak di dalam diri Sakura. Tanpa sadar Sai sudah berjalan melewatinya dan naik ke atas jendela yang tengah terbuka. Angin malam berhembus dan menusuk saat itu. Gorden jendela itu pun ikut bergoyang tertiup hembusan angin yang dingin. Sakura menoleh ke arah pemuda bersayap hitam itu.

"Kita akan bertemu lagi. Selain itu, ada tempat yang akan kau kunjungi besok. Jadi siapkan dirimu," ucap Sai datar.

Sai melirik ke arah Sakura sebentar sebelum dia kembali mengepakkan kedua sayap hitamnya ke udara. Sampai akhirnya kedua sayap yang warnanya senada dengan gelapnya malam itu tersamarkan dan menghilang di balik kegelapan.

oOo

(Sakura's POV)

Aku menatap tubuhku sendiri yang terbujur kaku di ranjang putih itu. Miris rasanya! Melihat diriku sendiri yang telah mati, heh? Aku masih belum percaya akan semua ini. Yang benar saja! Kenapa aku harus mati dalam usia muda seperti ini? Menyusul kedua orangtuaku yang mungkin sudah tenang di alam baka sana.

Berkali-kali aku mencoba menyentuh tubuhku dengan kedua tanganku. Bahkan aku melompat agar rohku ini bisa kembali masuk ke dalam tubuhku. Tapi—nihil. Semuanya tidak berguna. Sekarang pun aku sama sekali tidak merasakan sakit akibat rohku yang terhempas ke lantai. Aku menatap telapak tanganku sendiri—benar-benar tembus pandang. Ternyata aku memang sudah mati, huh!

Sai tadi keluar jendela dan terbang. Aku pun sekarang melayang. Seharusnya aku juga bisa terbang bebas di udara dengan tubuhku yang sekarang. Aku mendekati jendela yang masih terbuka tadi. Angin malam berhembus sangat kencang. Aku masih bisa merasakan dingin yang menerpa tubuhku. Atau karena memang tubuhku sudah dingin dan tidak ada lagi kehangatan di dalamnya?

Dulu waktu kecil aku pernah bermimpi untuk bisa terbang di langit. Dan nampaknya mimpi masa kecil itu tercapai sekarang. Lihat saja tubuhku yang sekarang melayang-layang di udara. Menurut hukum gravitasi, semestinya aku sudah terjun bebas sekarang. Tapi kenyataannya sekarang aku malah melayang bebas di atas ketinggian berpuluh-puluh meter.

Baru kali ini, aku merasakan kegelapan malam dari jarak setinggi ini. Walaupun sudah tengah malam tapi aku masih bisa melihat lalu lalang orang di jalanan kota ini. Benar ternyata kalau kota ini tidak pernah mati. Aku hanya bisa menatap mereka semua tanpa ada satu pun yang balik menatapku.

Sepi.

Benar-benar sepi.

Aku sudah biasa sendiri, tapi aku—tidak pernah merasa sesepi ini.

Sampai ketika emeraldku tak sengaja menangkap bayangan seseorang yang kukenal keluar dari sebuah bar tak jauh dari sana. Kedua manikku membulat tak percaya. Aku langsung melesat ke arahnya sebelum dia masuk ke dalam mobil sportnya.

"Sasukeee!" aku berteriak memanggilnya. Tapi pemuda itu tidak mendengar.

Dia mulai membuka kunci mobilnya. Aku melesat semakin kencang, "Sasukeee!" untuk yang kedua kalinya aku memanggil namanya. Tapi percuma—suaraku pasti tidak akan terdengar olehnya. Karena kami sekarang berada di dunia yang berbeda.

Pemuda berambut raven itu membungkukkan sedikit badannya agar ia dapat masuk ke dalam mobilnya, "Sasuke," ucapku lirih berharap ada keajaiban dia mendengar suaraku.

Aku menyentuh lengannya yang lebih besar dariku. Tentu saja tidak bisa tersentuh oleh tanganku—hanya menembus. Tapi tiba-tiba dia menghentikan kegiatannya. Kedua onyx kelamnya menoleh ke kanan-kiri. Mungkinkah itu berarti dia merasakan sentuhanku tadi? Apakah dia menyadari keberadaanku?

Sekali lagi aku memanggilnya dengan penuh harap, "Woi Sasuke!"

Tapi kali ini dia memegang tengkuknya dengan sebelah tangan. Apa dia takut? Mungkin bulu kuduknya sudah berdiri. Kalau dipikir-pikir wajar saja dia takut. Aku sekarang adalah hantu. Benar kan?

Sasuke lalu masuk ke dalam mobil sportnya. Tak lama kemudian mobil itu melaju cepat dan menghilang dari hadapanku. Aku tak bisa berkata apa-apa dan hanya menatap mobilnya hingga menghilang dari pelupuk mataku.

Satu-satunya harapanku kini benar-benar sirna. Dan sekarang aku akan kembali sendirian seperti biasanya. Terus sendirian—sampai nanti fajar kembali menyingsing di ufuk Timur. Hingga sang mentari kembali menghangatkan bumi ini.

oOo

(Normal POV)

Matahari sudah merangkak naik dari persembunyiannya. Setiap sudut jalan juga sudah mulai dilewati oleh banyak orang yang kembali melakukan aktivitasnya. Para siswi tampak bercengkrama satu sama lain dengan teman-teman mereka di sepanjang jalan ke sekolah. Tanpa mereka sadari di bawah salah satu tiang listrik di jalan itu ada sesosok makhluk pinky yang sedang meringkuk dan tak terlihat secara kasat mata.

Langit yang tiba-tiba cerah itu mendadak gelap. Seakan ada sesuatu yang menghalang sinar matahari untuk menembus daratannya. Sepasang sayap hitam itu kembali terbentang lebar di angkasa dan tentu saja sepasang sayap itu hanya menjadi bayangan kegelapan bagi manusia yang alaminya tidak peka terhadap hal yang tidak dapat dinalar secara logika.

Pemuda bersayap hitam itu menatap datar pemuda berambut aneh yang tengah tertidur di bawah tiang listrik itu, "Bangun!" perintah Sai kepada Sakura sambil menyentil jidat lebarnya.

Spontan Sakura terbangun karena kaget, "Uwaaa!" teriaknya kaget.

Sai mendengus sebal melihat tingkah urakan Sakura, "Bahkan dengan kondisi seperti itu kau masih bisa malas-malasan dan tidur dengan pulas," ucap Sai sinis.

"Sebagai hantu aku juga perlu istirahat dan tidur tahu!" balas Sakura tak kalah ketus. Pemuda itu beberapa kali mengerjap dan menguap lebar. Kemudian menggerak-gerakkan pinggang dan tangannya ke kiri dan kanan untuk merilekskan tubuhnya yang masih kaku.

"Bagaimana? Kau sudah memutuskannya?" tanya Sai tanpa basa-basi.

Sakura menatap Sai sebentar kemudian memicingkan matanya ke bawah, " . . . " tidak ada satu pun kata yang keluar dari bibir pemuda itu.

Padahal hanya menjawab iya atau tidak. Tapi entah kenapa hal itu menjadi sangat sulit bagi Sakura. Hatinya masih belum mantap untuk memutuskan. Seakan dia masih belum percaya dengan apa yang telah terjadi dan tidak mau kehilangan harga dirinya yang setinggi langit.

"Jadi masih belum memutuskan ya?" tebak Sai tepat sasaran.

"Apa tidak ada syarat lain?" tanya Sakura agak ragu—tidak yakin kalau Sai akan mengubah syaratnya.

"Tidak ada tawar-menawar," tolak Sai langsung sambil menggerakkan telapak tangannya di depan wajah Sakura.

Lagi-lagi Sakura hanya bisa mendecih kesal.

"Ikut aku, kemarin aku sudah berjanji untuk mengajakmu ke suatu tempat kan?" Sai mulai mengepakkan sayapnya ke udara.

"Eh? Mau kemana?" tanya Sakura bingung. Kepalanya harus didongakkan agar ia dapat menatap iris kelam milik Sai.

Sai diam sejenak sambil menatap emerald Sakura lekat, "Prosesi pemakamanmu," dan dua kata singkat itu cukup untuk membuat tubuh Sakura menegang. Nafasnya serasa tercekat, kedua maniknya membulat seiring dengan bibir tipisnya yang sedikit terbuka.

"Ikuti aku," tanpa mau melihat ekspresi Sakura selanjutnya, Sai terbang mendahului Sakura yang masih diam di tempat.

Tidak ada yang bisa dipirkan oleh Sakura, otaknya yang memang pas-pasan semakin buntu mendengar jawaban Sai tadi. Pemilik emerald tadi menatap Sai yang sudah terbang mendahuluinya. Sakura merapatkan jemarinya dan menggeram sampai akhirnya dia pun melesat terbang mengikuti kemana sayap Sai menuju.

Mereka pun tiba di tempat itu—rumah Sakura yang nampak lebih ramai dari biasanya. Banyak tamu yang berkunjung ke rumahnya hari ini—tamu dengan warna pakaian yang sama—hitam. Sakura bisa lihat jelas peti yang mengangkut tubuhnya dan bingkai fotonya dengan rangkaian bunga yang menghiasi setiap sudut bingkai itu. Dan saat itu tidak akan ada kata yang mampu melukiskan betapa hancurnya hati Sakura saat itu.

"Hiks, hiks, Sakura . . . Aku tidak menyangka kau akan pergi meninggalkan kami secepat ini," iris Sakura menoleh ke arah isakan seorang pemuda kuning jabrik yang sangat dikenalinya.

"Naruto . . . " lirih Sakura.

"Cepatlah kembali, Sakura. Bagaimana nasib geng kita kalau kau tidak ada? Lalu siapa yang akan menjadi pemimpin dan menggantikan kau?" isak Kiba sambil mengusap air mata yang jatuh membasahi wajahnya.

"Sakura sudah pergi, relakanlah dia agar arwahnya tenang di alam sana," seorang pemuda berambut kuncir nanas menepuk pundak Kiba dan Naruto dari belakang. Keduanya menatap pemuda tadi dengan mata yang basah lalu memeluk pemuda nanas itu—Shikamaru dan meraung-raung di pelukan pemuda itu. Shikamaru hanya bisa pasrah menghadapi perlakuan kedua teman akrabnya itu.

Emerald Sakura kemudian beralih ke sosok pemuda berambut raven yang ditemuinya tadi malam. Pemuda bermata onyx kelam itu hanya menatap figura Sakura lekat. Tidak ada satu ucapan pun yang keluar dari bibir pemuda itu. Hanya dengan satu tatapan yang membiuskan itu—Sakura bisa tahu kalau pemuda itu—Sasuke juga merasakan hal yang sama dengan ketiga sahabatnya yang lain. Ya, hanya satu—yaitu kehilangan seorang sahabat untuk selamanya.

"Huwaaaaa! Panngeran Sakuraaaaa!" Sakura juga masih mendengar suara-suara cempreng nan berisik dari ujung sana yang juga ikut menangisi kepergiannya.

"Pangeran Sakura! Hiks hiks, kenapa kau harus pergi meninggalkan kami secepat ini?" isak seorang gadis dengan rambut dikuncir ala ponytail sambil memegang sebuah poster bergambar Sakura—close up yang entah didapatnya darimana.

"Hiks, pangeran, sampai kapanpun tidak akan ada yang bisa menyaingi wajah cantik dan imutmu. Hiks hiks," kali ini seorang gadis berambut merah menyala menangisi kepergian Sakura.

Sewaktu Sakura masih hidup dulu, dua orang itu memang merupakan fans fanatik Sakura. Sampai-sampai mereka membuat klub yang menjijikkan bagi Sakura—'Prince Sakura Fans Club Forever'. Entah ide gila darimana yang mereka dapat sampai membuat perkumpulan fanatik yang anggotanya adalah kumpulan orang-orang berisik dan menyebalkan. Yah, tapi mungkin sejarah perkumpulan gila itu akan berhenti sampai sini.

Iring-iringan peti itu mulai meninggalkan kediaman Sakura. Isak dan tangis itu pun kembali berlanjut seiring dengan langkah kaki yang semakin mendekati tempat peristirahatan terkhir pemuda itu. Sakura dan Sai pun masih tetap mengikuti prosesi itu. Sampai akhirnya pemuda beriris emerald itu bisa melihat sendiri batu nisan yang bertuliskan namanya.

R.I.P

Sakura Utaka

28-03-19xx 15-08-20xx

Rasa sakit dan ngilu itu kembali menjalar di hati Sakura. Kepalanya terasa berat saat melihat makamnya sendiri. Rahangnya mengeras akibat gertakan gigi-gigi rapatnya. Tangannya kembali mengepal. Sesak dan sakit—itulah yang dirasakan pemuda itu. Dunianya benar-benar hancur saat itu juga.

"Pedih bukan melihat makammu sendiri?" manik kelam Sai tidak berpaling sedikit pun dari batu nisan itu.

" . . . " Sakura masih terdiam sambil menatap makamnya.

Sai menoleh ke arah pemuda di sampingnya itu, "Bagaimana? Sudah kau putuskan?" tanya Sai datar.

Sakura memjamkan matanya kemudian menghela nafasnya panjang-panjang. Kedua permata hijaunya balik menatap Sai tajam. Seakan sudah yakin akan satu keputusan. Melihat itu Sai tersenyum tipis seolah pemuda stoic itu tahu jawaban apa yang akan diberikan Sakura.

oOo

Konoha Gakuen

Koridor sekolah yang mestinya sudah lenggang karena bel sudah berbunyi malah lebih ramai dari biasanya. Murid-murid baik siswa maupun siswi yang berada di dalam kelas ikut keluar dari kelasnya demi melihat sosok siluet berparas cantik yang dengan santainya berjalan melewati berpuluh-puluh pasang mata yang menepi di setiap sudut tembok sekolah. Tak ayal decak kagum dan semburat merah juga menghiasi setiap orang yang menatap sosok gadis berparas ayu itu. Kaki jenjangnya terus melangkah seakan sudah pasti arah tujuannya. Hingga langkahnya terhenti tepat di depan sebuah kelas dan masuk ke dalam ditemani oleh seorang guru yang mengantarnya sejak tadi.

"Pagi, anak-anak," sapa guru berambut perak dan menggunakan masker hitam di wajahnya.

Murid-murid yang tadinya sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing langsung menatap fokus ke depan—tepatnya ke arah gadsi bersurai merah muda yang sudah berdiri di depan kelas sambil terus melemparkan senyum manisnya.

"Nah, anak-anak hari ini kita kedatangan murid baru. Ayo, perkenalkan dirimu, Sakura," laki-laki itu tersenyum di balik maskernya.

Gadis berambut merah muda panjang itu maju selangkah ke depan, "Namaku Sakura Haruno. Salam kenal dan semoga kita bisa berteman baik," jelas Sakura kemudian tersenyum ramah pada teman-teman sekelasnya.

Dan mulai saat ini, kehidupan keduanya baru akan dimulai sekarang.

~TBC~

Author's Note :

Ketemu lagi dengan aku di chapter kedua..
XD

Sesuai permintaan para reviewer akhirnya aku melanjutkan fict ini. Sebelumnya aku mau berterima kasih dulu sebanyak-banyaknya kepada kalian yang udah ngereview chapter pertama :

Guest, Tsurugi De Lelouch, Andromeda no Rei, me (1), tobi suka lolipop, me (2), Icha Momo, Momo Haruyuki, Bunga Sakura, Kuromi no Sora, shinzoku uchiha, Uchiha Hime is Poetry Celemoet

Terima kasih untuk review kalian semua dan maaf kalo ada kesalahan penulisan..
XD

After all, semua uneg-uneg dan komentar kalian tentang chapter kedua ini aku terima dengan senang hati. Maaf juga karena masih belom bisa nampilin adegan SasuSaku di chapter ini. Tapi mungkin di chapter depan bakalan aku buat.

Thanks for reading and finally REVIEW PLEASE.. :D