NARUTO belongs to Masashi Kishimoto, I gain no profit from this fanfiction.
Love in the Ice © Shim (Max/Choikang) Changmin TVXQ!
Note: AU, OoC (karena keadaan), mungkin masih ada (miss) typo, masih berhubungan dengan fic Winter Rose, maaf ada kekerasan di chapter ini tapi tidak bermaksud bashing chara
.
.
*~*~*~*~*~*~*
~* Love in the Ice *~
*~*~*~*~*~*~*
.
.
Cahaya….
Bersinar dengan terang dalam kegelapan
Melintas pada suatu masa
Di balik tembok kenyataan
Seperti bintang yang tak pernah meninggalkan langit malam yang gelap
Saling merasakan kehangatan di antara hati yang berhenti bernapas
.
.
Gadis mungil yang belum genap enam tahun itu tampak kesulitan mengangkat teko kecil dari atas kompor. Kaki-kakinya yang dibungkus kaus kaki kumal masih berjinjit kendati ada kursi kayu berkaki rendah yang dijadikan tumpuannya. Dengan penuh kehati-hatian, ia menuangkan air yang baru mendidih itu ke cangkir tembikar yang sebelumnya sudah ia isi bubuk kopi dan gula.
"Hinata! Kenapa lama sekali!"
Teriakan ayahnya membuat konsentrasinya sempat buyar, sehingga tangan kirinya tak sengaja terkena sedikit percikan air yang panas itu.
"S-sebentar lagi, Otousan!" jawabnya dengan sedikit keras agar bisa didengar ayahnya yang sedang menonton televisi di ruang sebelah. Pria yang menggantikan posisi ayah kandungnya itu hanya berprofesi sebagai salah seorang buruh di lahan pertanian Tuan Sarutobi, jadi kerjanya tidak menentu dan akan menganggur jika tidak dibutuhkan, seperti hari ini.
Hinata mengulum jari telunjuknya yang seperti terbakar, sementara tangan lainnya mengaduk air di cangkir yang kini berwarna gelap. Merasa sudah cukup, kedua tangannya membawa kopi buatannya itu dengan memegang lepek yang menjadi alas cangkir. Langkahnya pendek-pendek untuk menjaga isi cangkir tidak terlalu banyak tumpah ke lepek. Ia tidak berani mengangkat wajahnya ketika sudah memasuki ruang tengah lantaran sekian detik sebelumnya tatapan tajam ayah tirinya begitu menciutkan nyalinya. Dengan pelan ia meletakkan secangkir kopi panas itu di meja berkaki rendah yang dihadap pria itu.
"Bruuussshhh!"
Hinata mulai merasakan firasat buruk ketika pria bernama lengkap Shimura Danzou itu menyemburkan kopi yang baru masuk mulutnya.
"KAU INGIN MEMBUATKU PENYAKITAN DENGAN KOPI YANG KEMANISAN INI, HAH?!"
Hinata tidak sempat menghindar tatkala tangan kekar Danzou menarik rambutnya. Ia meringis kesakitan dan tak henti-hentinya meminta ampun. Padahal ia merasa sudah mencontoh apa yang dilakukan ibunya, dulu.
"A-ampun … ampun, Otousan…," mohonnya sembari memegangi tangan ayahnya yang menjambak rambut pendeknya kuat-kuat, "Ampun…."
"BUAT KOPI SAJA TIDAK BECUS! KAU PIKIR GULA ITU TIDAK BELI, APA?! KAU DAN IBUMU SAMA SAJA! BISANYA CUMA MENYUSAHKANKU!"
BRUK!
Hinata buru-buru bangun dan meninggalkan ruangan setelah terjatuh membentur pintu geser karena dorongan Danzou. Ia tahu Danzou belum selesai melampiaskan emosinya, dan kali ini ia memutuskan untuk kabur sebelum dipukuli sapu seperti kemarin. Melihat Danzou yang bergegas mengejarnya, ia cepat-cepat mengambil sepatunya di depan pintu dan berlari sekencang-kencangnya menjauhi rumah reyotnya dengan mengabaikan umpatan serta pekikan murka ayah tirinya itu.
Merasa sudah jauh dari rumahnya, Hinata memakai sepatu bututnya yang sedari tadi ia dekap. Kakinya yang hanya berbalut kaus kaki berlubang terasa membeku karena jalanan bersalju yang dilaluinya. Lantas ia melangkah tak tentu arah lantaran pulang sekarang hanya akan menambah luka fisiknya. Hingga langkahnya kembali membawanya ke taman yang lagi-lagi ramai.
Ia mengintip anak-anak yang tampak ceria dan saling melempar bola salju dengan riang. Ia ingin bergabung dan tertawa seperti mereka. Namun—ia memerhatikan pakaiannya sejenak—mungkin mereka bisa kabur karena jijik melihat pakaiannya yang lusuh. Mereka terlihat seperti anak-anak orang kaya, bahkan di antara mereka juga ada putri kepala desa—Nona Muda Haruno yang jelita, serta cucu laki-laki Tuan Sarutobi.
Ia masih memandang dengan tatapan iri yang hampa, tanpa menyadari anak laki-laki berusia sepuluh tahunan yang menghampirinya.
"Oi, Naruto, mau ke mana?"
"Yah~ tidak seru, ah!" protes anak lainnya yang merasa diabaikan meski ia sudah melontari bocah bernama Naruto itu dengan bulatan salju yang ia buat.
Hinata baru tersadar dari tatapan kosongnya tatkala seruan protes itu mengisi udara. Dan tahu-tahu kakak laki-laki itu sudah berdiri di dekatnya.
"Hei," sapanya dengan senyum mengembang.
Hinata hanya sekilas melihat sepasang mata biru anak laki-laki yang lebih tinggi darinya itu sebelum menunduk sembari memainkan jari telunjuknya dengan gugup. Pasalnya baru kali ini ada anak yang menyapanya terlebih dulu. Biasanya mereka malah menghindarinya yang katanya aneh dan bau.
"Mau main bersama?"
Mendengar ajakan yang terasa asing itu, ia malah berlari menghindar. Padahal jauh di dalam lubuk hatinya ia ingin menerima tawaran yang menyenangkan itu. Tetapi ia tidak tahu mengapa kakak itu turut memacu langkah lebar mengikutinya. Dan ia sudah tidak mendengar suara kakak yang mengejarnya setelah ia bersembunyi di balik pagar tembok salah satu rumah.
Namun ia jadi penasaran pada kakak yang terlihat baik itu. Sebelum terlalu jauh, ia membuntuti kakak berambut pirang itu yang tidak kembali ke taman, tetapi memasuki gerbang penginapan yang menjadi bagian dari salah satu resor mewah yang ada di Desa Niseko tersebut.
Ia masih merasa gentar untuk pulang. Akhirnya ia kembali berjalan tanpa tujuan. Merasakan perutnya yang perih, ia sadar kalau ia belum sarapan dan sekarang sudah beranjak siang. Bahkan semalam ia hanya makan sisa ibunya. Ia juga teringat ibunya yang seharusnya sudah ia suapi pada jam ini. Tapi ia benar-benar takut kalau ayahnya akan memukulinya lagi lantaran ia pulang sebelum kemarahan pria itu mereda. Padahal sakit yang kemarin saja belum hilang.
Ia berjalan lebih ke pinggir ketika gerobak sayur yang mengangkut hasil panen Tuan Sarutobi melewatinya. Musim dingin seperti ini, biasanya mereka hanya menanam ubi, wortel, kentang, dan lobak. Dan memang itulah yang bisa dilihat Hinata di dalam keranjang-keranjang penuh yang diangkut gerobak tersebut. Sayur-sayur itu akan dibawa ke lumbung penyimpanan sebelum dikelompokkan menurut jenis dan kualitasnya.
Bagaikan menemukan emas, mata Hinata berbinar begitu melihat beberapa sayuran yang terjatuh dari gerobak. Setelah gerobak sudah makin jauh, ia menoleh ke kanan-kiri untuk memastikan tidak ada orang yang akan memergokinya mengambil sayuran itu. Ia melepaskan mantelnya untuk meletakkan wortel dan kentang yang dipungutnya, lalu berlari dengan mendekap buntalan itu sebelum rombongan anak-anak yang pulang dari taman kian mendekat.
Langkah lebar kaki pendeknya membawanya ke tepian Sungai Shiribetsu yang sangat jernih karena mengalirkan air dari salju yang mencair. Namun sekarang sungai itu masih beku.
Biasanya sekitar jam dua siang ada burung atau angsa yang mencari makan di pinggiran sungai. Ia berjongkok di bawah pohon yang meranggas daunnya, dan digantikan tumpukan salju di dahannya. Sambil menunggu unggas-unggas itu, ia mengambil satu wortel dan membaginya menjadi dua—satunya ia makan sendiri untuk mengganjal perutnya, sedangkan bagian lainnya ia lemparkan sedikit jauh ke depan. Dan hari ini ia tidak perlu menunggu lama untuk melihat kawanan angsa cantik yang menukik turun lantaran undangannya.
.
.
Hinata memasuki rumahnya dengan takut-takut. Mungkin ayahnya sedang tidur siang karena sepi, juga tidak terdengar suara dari televisi kecilnya. Ia mengendap-endap di koridor. Jantungnya berdenyut kencang ketika ia menangkap sosok ayah tirinya sedang tidur di tatami ruang tengah melalui pintu geser yang terbuka sedikit. Dengan perlahan ia mencuci sayuran temuannya di bak cuci yang ada di dapur setelah menggelar buntalan mantelnya di lantai.
Ia harus segera membuatkan makanan untuk ibunya. Tetapi dengan beras yang tinggal sedikit, ia hanya bisa membuat bubur ala kadarnya yang ia beri cacahan halus wortel dan kentang. Ia berusaha tidak menimbulkan suara yang berlebihan agar ayahnya tidak terbangun dan mengamuk. Dengan sedikit tergesa ia membawa nampan berisi semangkuk bubur dan satu gelas air itu ke kamar ibunya. Pasti ibunya sudah sangat lapar karena tidak makan sejak pagi, dan sekarang sudah hampir sore.
"Okaasan … waktunya makan…," katanya dengan suara yang dibuat ceria. Wanita berambut panjang itu tetap dengan posisinya yang duduk membelakanginya. Ia langsung memposisikan dirinya di sebelah ibunya yang duduk bersimpuh di lantai dan siap menyuapi. Ia meletakkan nampan di tatami, kemudian mengambil satu sendok bubur yang ia tiup berkali-kali sebelum mendekatkannya pada mulut kering ibunya yang mengatup.
Lama tidak mendapatkan sambutan seperti biasanya, ia menjadi sedih, "Apa Okaasan marah karena Hina tidak cepat pulang?"
Ibunya malah terkekeh pelan sembari menimang boneka usang di lengannya. Hinata hanya memandang sendu manakala mendengar racauan ibunya seolah-olah boneka berbentuk bayi itu hidup, namun ia terus berusaha untuk tersenyum menghadapinya.
Ibunya tiba-tiba bertingkah seperti itu semenjak adiknya pergi. Danzou hanya bilang kalau adiknya yang baru dilahirkan oleh ibunya langsung meninggal. Ia juga belum melihat rupa adiknya. Bahkan ia tidak tahu adiknya laki-laki atau perempuan.
Tangan mungilnya membelai rambut kusam ibunya dengan penuh sayang. Ia juga menyibakkan beberapa rambut yang menutupi wajah cantik wanita yang telah melahirkannya itu.
"Okaasan makan dulu, ya…," bujuknya lagi dengan kesabaran penuh.
"Dedek … dedek…," racau ibunya sambil menunjukkan boneka itu kepadanya.
Hinata kembali menunjukkan senyum lembutnya, "Iya, Okaasan … Hina akan suapin adik juga…."
.
.
Malam harinya, setelah mandi bersama ibunya, untuk kesekian kalinya Hinata makan bubur yang tidak dihabiskan ibunya karena tidak ada lagi yang tersisa di panci. Begitu mangkuk itu bersih, ia membawanya ke dapur dan bergegas mencucinya. Dan setelah semua pekerjaannya selesai, ia kembali menemui ibunya. Sudah waktunya ibunya tidur.
Ia menggelar futon di sisi ibunya yang masih bersenandung ringan sambil menimang bonekanya. Ia lalu mendekati ibunya setelah menata bantalnya juga.
"Ayo bobok, Okaasan…," ajak Hinata dengan sebelah tangan menepuk futon.
Ibunya menurut dan ia membantu ibunya yang masih asyik dengan bonekanya itu untuk rebahan. Ia memberikan kecupan lembut di kening ibunya setelah menyelimuti tubuh ringkih itu. Tidak lupa ia menyanyikan lagu yang beberapa bulan lalu masih menjadi pengantar tidurnya. Setiap malam ibunya menyanyikan lagu itu untuk meninabobokannya, jadi ia bisa cepat hafal dan sekarang gilirannya untuk memanjakan orang terkasihnya.
Belum juga ibunya terlelap, ia dikejutkan derap langkah di koridor yang disusul suara gesekan mengerikan karena pintu di depannya digeser cepat. Ia terbelalak melihat Danzou menghampirinya dengan wajah murka. Ia nyaris bangkit ketika merasakan dadanya dilempari sesuatu yang keras, yang kemudian ia ketahui sebagai kentang setelah sayuran itu menggelinding di tatami. Padahal ia sudah menyembunyikan sisa sayuran itu di rak bawah kompor.
Karena masih mengelus dadanya yang sakit, ia pun tidak sempat menghindar tatkala Danzou menarik tangannya agar ia bangun hanya untuk dijatuhkan lagi dengan pukulan.
"SIAPA YANG MENGAJARIMU MENCURI?!"
Danzou mencengkeram pergelangan tangan Hinata hingga anak tirinya itu meringis kesakitan, ditambah tarikan kuat di rambutnya.
"MESKI MISKIN, AKU TIDAK PERNAH MENGAJARIMU MENGAMBIL BARANG MILIK ORANG LAIN!" bentaknya lagi sembari mengencangkan tarikannya di rambut Hinata. "SIAPA YANG KAU TIRU, HAH?! AYAHMU YANG SUDAH MATI ITU?!"
Hinata tidak terima jika ayahnya dijelek-jelekkan. Walaupun ia tidak pernah melihat ayahnya secara langsung, ia yakin bahwa pria itu adalah orang baik karena dulu ibunya selalu bercerita mengenai kebaikannya. Ia lantas mencoba mencakar kedua tangan Danzou yang masih mencengkeram sebelah lengannya juga rambutnya, meskipun hal itu tidak membuat rasa sakitnya berkurang, malah sebaliknya. Ia pun mual mencium aroma sake dari napas Danzou.
"Hina—Hina…," racau ibunya yang beranjak memukul Danzou dengan bonekanya, "Hina—lepas, Hina…."
"DIAM KAU, WANITA GILA!" Danzou mendorong wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu hingga terjerembap. Lantas ia menyeret Hinata keluar rumah dan dengan teganya ia menghempaskan tubuh mungil itu ke tanah yang dipenuhi salju.
"MALAM INI KAU TIDUR DI LUAR!" Danzou langsung mengunci pintunya saat Hinata masih berusaha untuk bangkit.
"Otousan, ampun … maafkan aku…." Hinata terisak untuk pertama kalinya hari ini. Ia terus menggedor pintu rumahnya dengan tangan kecilnya. "Di sini dingin sekali…. Biarkan aku masuk, Otousan…. Aku janji tidak akan memungut sayuran lagi…."
Merasa usahanya tidak membuahkan hasil, Hinata berhenti memukulkan kepalan tangannya ke pintu. Sembari menyeka air matanya, ia kembali melangkah tak tentu arah. Ia hanya bisa berdoa agar ibunya bisa tidur nyenyak malam ini, meski tanpa nyanyian dan belaiannya.
.
.
Ternyata tidak sia-sia Hinata menunggu di depan pagar penginapan resor Niseko Hanazono. Kakak bermata biru itu hari ini juga keluar penginapan. Malahan kakak itu langsung menghampirinya seperti kemarin setelah melihatnya berdiri di sana.
"Aku mau main ski sama Otouchan dan Okaachan," kata kakak itu dengan semangat, tidak tertinggal senyumnya yang hangat, "—ayo ikut!"
Ia belum menjawab ketika ia melihat dua orang dewasa di belakang kakak itu menyunggingkan senyum untuknya. Sepertinya itu ayah dan ibu kakak itu, dan mereka tidak tampak keberatan kalau ia turut serta.
"Ayo!" ajak kakak itu lagi saat kedua orang tuanya mulai melangkah menuju lokasi wisata ski.
"I-itai…." Rintihannya meluncur begitu saja karena kakak itu menarik pergelangan tangannya yang semalam dicengkeram ayahnya dengan sangat kuat.
"Apa tarikanku terlalu keras?"
Kakak itu sepertinya merasa bersalah, tapi ia tidak menyalahkannya. Ia mengerti kalau kakak itu tidak tahu mengenai keadaannya. Namun ia merasa sedikit cemas lantaran kakak itu menyingkap lengan mantelnya. Bahkan ia sendiri juga kaget melihat lebam di kulitnya yang pucat.
"Astaga … apa ini gara-gara aku?"
Bukan!
Hinata menggeleng cepat.
"Gomen ne…."
Sebagai gantinya, kakak itu mengizinkannya untuk bergandengan tangan. Awalnya ia ragu untuk menggamit tangan bersarung wol itu, namun melihat senyum yang ditunjukkan kepadanya, ia merasa sangat senang sekaligus tenang. Bagi seseorang yang menanggung luka seperti dirinya, sentuhan kasih seringan apapun dapat menghangatkan hati.
"Aku Naruto. Kamu?"
"H-Hinata."
.
.
Hinata pulang ke rumahnya saat menjelang makan siang. Ia merasa sangat senang hari ini, kendati kecemasan akan kembali merasakan siksaan ayahnya masih menggelayuti hatinya. Ia pun terus teringat akan ibunya yang pastinya belum sarapan karena ayahnya tidak mungkin mengurusi ibunya. Namun setidaknya ia mendapatkan hiburan atas rasa dingin yang menyelimutinya semalaman.
Andai ibunya sesehat dulu….
Mengingat pengalaman menyenangkannya bersama Kak Naruto, ia jadi ingin mengajak ibunya bermain di arena ski. Terlebih saat ia terkenang pemandangan memukau yang dapat ia nikmati dari dalam gondola. Tadi adalah kali pertamanya masuk lokasi wisata ski, apalagi sampai menaiki kereta gantung yang dari dalamnya ia bisa melihat pegunungan setinggi ribuan meter yang membentang mengelilingi Desa Niseko. Sungguh menyenangkan dan tak ingin dilupakannya. Pokoknya ia harus berbagi cerita dengan ibunya.
Ia tersenyum saat menangkupkan sepasang telapak tangannya di kedua pipinya yang kemerahan. Pasalnya sekarang telapak mungilnya terasa hangat lantaran terlindungi sarung tangan rajutan pemberian Kak Naruto. Kakinya juga tidak kedinginan lagi karena ibu Kak Naruto mengganti sepatunya yang jebol dengan sepatu baru berwarna biru muda yang sangat cantik. Ia amat menyukainya. Ia juga senang bersama Kak Naruto dan keluarganya. Mereka semua adalah orang-orang berhati baik seperti ibunya.
Namun kesenangannya tidak lama. Bahkan ia tidak dibiarkan memiliki sarung tangan wol dan sepatu indah. Ternyata hari ini pun ayahnya tidak bekerja, dan kembali menyiksanya begitu melihatnya pulang dengan penampilan yang sedikit berbeda. Ia benar-benar kesakitan kali ini, hingga tangisannya meraung-raung menyayat hati.
.
.
Hinata terbangun dari tidurnya dengan kepala pening dan tubuh yang terasa remuk. Ia banyak menangis semalam, sampai-sampai matanya bengkak bukan hanya lantaran pukulan ayahnya. Tampak juga lebam di salah satu tulang pipinya. Ibunya yang masih rebahan memandangnya dengan tatapan yang nyaris sama seperti dulu. Tidak biasanya ibunya mengabaikan bonekanya.
Apakah ibunya bisa merasakan rasa sakitnya?
Tapi ia tidak akan menangis lagi, karena seharusnya ia sudah kebal dengan segala rasa sakit.
"Okaasan sudah lapar?" tanyanya dengan menahan perih di salah satu sudut bibirnya.
"Hina…," lirih ibunya yang kemudian membelai wajahnya dengan pelan. Ia menggenggam lembut jemari kurus ibunya yang bergerak mengusap pipinya yang nyeri. Ia merasa ibunya sudah kembali, meski tak sama lagi dengan yang dulu. Hingga ibunya kembali meraih bonekanya dan ia sadar bahwa ibunya belum sembuh. Ia tetap harus bersyukur karena Danzou tidak jadi membawa ibunya ke rumah sakit jiwa. Ia tidak ingin berpisah dengan ibunya, sampai kapanpun.
Mengingat ia harus segera menyiapkan sarapan untuk ibunya, ia beranjak meninggalkan kamar. Sebelum itu, ia mengintip keadaan di luar kamar melalui celah pintu yang ia geser sedikit. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Danzou, mungkin ayah tirinya itu bekerja hari ini.
Ia hanya menemukan satu ubi panjang di dapur. Setidaknya ayah tirinya masih menyisakan bahan makanan untuknya dan ibunya. Ia lalu memanaskan air untuk merebus kentang manis itu, tak lupa ia mencucinya terlebih dahulu.
Saat menunggu ubinya empuk, ia teringat ajakan Kak Naruto untuk kembali bertemu. Katanya ia harus datang, apapun yang terjadi. Semoga saja ibunya bisa tidur lagi setelah ini, sehingga ia bisa memenuhi undangan Kak Naruto.
.
.
"Kenapa dengan wajahmu?"
Hinata sudah mengira Kak Naruto akan langsung menanyakannya begitu mereka bertemu. Ia kemudian menundukkan pandangan, namun ia masih sempat melihat raut cemas Kak Naruto.
"J-jatuh," kilahnya.
Ia makin menunduk karena merasa Kak Naruto masih memandanginya lekat-lekat. Kak Naruto mungkin melihat kalau sekarang ia hanya memakai sepatu yang rusak di sana-sini, bukan sepatu baru yang mungkin sudah dijual ayahnya di pasar loak. Bahkan ia harus membongkar bekas rak sepatunya di gudang belakang rumah untuk mencari sepatu lamanya agar ia tetap bisa keluar rumah dengan mengenakan alas kaki.
"Makanya kamu harus lebih hati-hati, Hina-chan…," tutur Naruto yang sebenarnya meragukan jawaban gadis mungil yang sudah dianggapnya sebagai adiknya itu. Dan ia mendapatkan anggukan lemah sebagai balasan. Berikutnya ia berusaha untuk tidak berpikir negatif.
.
.
"Makannya pelan-pelan saja, Hina-chan…." Naruto tertawa geli melihat Hinata dengan lahapnya menyantap kue-kue yang dibelikannya.
Bagi Hinata, ini adalah kesempatan yang begitu langka sejak ibunya mengalami gangguan kejiwaan. Ia yang biasanya makan seadanya, bahkan lebih sering hanya menghabiskan sisa ibunya, kini ia bisa makan banyak, apalagi kue-kue mahal yang sangat jarang dibelikan oleh ibunya, dulu.
Naruto tak bosan memerhatikan bagaimana Hinata menikmati kue-kuenya, hingga pipinya yang kemerahan belepotan dengan krim, malahan ada yang menempel di ujung hidung. Ia memberikan piringnya yang isinya masih penuh melihat kue Hinata nyaris tandas.
"Kenapa tidak dihabiskan?" tanya Naruto melihat potongan kue yang tidak disentuh Hinata.
"Untuk Okaasan…." Hinata menjawab disertai senyum lembut.
"Habiskan saja, kita bisa beli yang baru untuk ibumu."
Naruto tersenyum senang lantaran Hinata menurutinya, juga karena ia bisa kembali melihat kelucuan gadis mungil bermata unik itu.
Hinata belum tahu kalau hari itu adalah terakhir kalinya ia bisa bermain dengan Kak Naruto. Keesokan harinya ia diminta kembali datang, namun Kak Naruto hanya ingin menyampaikan salam perpisahan padanya sebelum pulang ke kota yang katanya bernama Tokyo.
Padahal ia sudah berusaha untuk menahan Kak Naruto dengan menyanggupi bahwa ia bersedia bermain ski. Ia juga akan menunjukkan Sungai Shiribetsu agar Kak Naruto tahu tentang airnya yang begitu jernih juga angsanya yang sangat cantik. Namun tetap saja usahanya berbuah kesia-siaan. Kak Naruto dan keluarganya harus tetap meninggalkan Hokkaido karena liburan musim dingin akan segera berakhir.
Ia hanya bungkam ketika Kak Naruto menggantungkan kalung berbandul cincin di lehernya, sedangkan yang lebih ia butuhkan adalah kehadiran.
"Sampai jumpa, Hina-chan…."
Tangan mungilnya yang kedinginan dan bibirnya yang gemetar, mampu berdusta seolah-olah tak ada yang terjadi. Ia berjuang untuk menelan kata yang menggelegak di bibirnya, meskipun hatinya semakin dingin.
Pada akhirnya, hanya air mata yang bercucuran.
.
.
.
Naruto melihatnya di sana, di antara para pekerja barunya. Sosok yang pernah ia cari di desa, dan sekarang gadis itu datang sendiri kepadanya. Hinata, entah mengapa ia langsung mengenalinya sebagai si gadis mungil yang dahulu ia anggap sebagai adiknya.
Gadis yang bagaikan salju putih yang rapuh, meski tatapan itu tak sehangat dulu, dan raut itu tak selembut kala itu.
.
Sebenarnya apa yang terjadi padamu selama aku tak berada di sisimu?
Kau bahkan tak lagi mengenaliku?
.
.
Kau takut mengingat seseorang?
Kau takut mencintai seseorang?
Setiap orang punya luka dan kekecewaan
Derita juga rasa kesepian
Jangan takut hanya karena ditinggalkan sendirian
Aku sedang berusaha mencari ruang pada saat aku bisa menarikmu ke pelukanku
Sampai kita bisa bersama di duniaku
Aku akan melindungimu
Aku akan memperlihatkan cintaku padamu
Karena aku mencintaimu
Jika aku adalah orang itu
Sekali lagi, aku akan mendekap hati kerasmu dengan erat di pelukanku
Selamanya….
.
.
.
TbC lagi?
Saya menulis fic ini sambil mendengarkan lagu Love in the Ice yang versi Jepang, berulang-ulang terus entah sampai berapa kali tapi saya tidak pernah bosan. Ah, jadi sedih~ *gara-gara lagunya*
Bagaimana Hinata bisa ke kota, dan apa yang terjadi pada orang tuanya, tunggu chapter berikutnya, hoho. Semoga masih bisa apdet, hehe. Sekali lagi, saya tidak bermaksud bashing chara. Salahkan saja plotnya~ #plak
Terima kasih banyak bagi pembaca, apalagi yang sudah mereview: sarangchullpa92, fathiyah, pangestika. dwifandini, Hyuna toki, scorpion vx, anzuka16, Paris Violette, sunny, chiaki arishima, Pasta Gigi Gum, Neerval-Li, amexki chan, Saachy, NaruGankster, Hasegawa Nanaho, al-afraa, susanoo, Guest, rikananami, Miss A, Deshe Lusi, naruto lover, uchiha-yudha
Sampai jumpa di fic lainnya~ ^^
Sabtu, 09/02/2013
