.
THAT'S NOT ME
Cast : Yunjae! dan pair lainnya
Genre : Angst/Drama
Warning : GENDERSWITCH / CERITA KLISE / TYPOS / AUTHOR BARU
Disclaimer : Semua pemeran milik Tuhan dan keluarganya, author hanya meminjam nama mereka.
Terinspirasi dari banyak drama.
.
.
Episode 02 – Bukan Sekedar Kebetulan
.
Penjabaran Tokoh #1
Jung Yunho
.
25 tahun
Tinggal dan menetap di Kanada sejak berusia 7 tahun
Pimpinan salah satu anak perusahaan Jung Corp.
.
.
Kim Jaejoong
23 tahun
Tinggal dan menetap di Seoul sejak 3 tahun terakhir
Bekerja sebagai editor salah satu majalah remaja
.
.
Park Yoochun
23 tahun
Mahasiswa jurusan bisnis di salah satu universitas swasta di Seoul
Bekerja sambilan sebagai karyawan restoran
.
.
Episode sebelumnya:
"Youngwoongie!", Yunho tiba-tiba berdiri dan menarik pelayang itu kedalam pelukannya.
"Youngwoongie?", kata pelayan itu mengulangi apa yang dikatakan pelanggan aneh didepannya.
"Apa yang kau lakukan?! Dasar tidak sopan!", teriak Jaejoong setelah menampar pipi Yunho keras.
.
.
BRAKK!
Meja tanpa dosa itu digebrak oleh pemiliknya yang sedang naik darah saat ini.
"Kau ini, benar-benar hanya membuatku pusing! Berani-beraninya kau membuat keributan direstoranku, eoh? Kau sudah bosan bekerja disini?! BEGITU?"
"Tapi Sajang-nim… Orang itu yang mulai kurang ajar padaku, apa kau tidak liha—"
"Berhenti beralasan, Kim Jaejoong! Aku sudah muak denganmu. Ini!", orang yang sedang marah-marah itu melemparkan amblop persegi panjang ke atas meja dengan kasar.
"Apa ini, Sajang-nim?", tanya Jaejoong bingung.
"Itu uang pesangonmu. Mulai besok tidak usah datang lagi kemari untuk bekerja, kecuali jika kau datang sebagai pelanggan. Silahkan tinggalkan ruanganku, Kim Jaejoong-sshi.", kata manajer restoran itu lalu kembali berkutat dengan kertas-kertas laporan keuangannya.
Jaejoong yang tidak menyangka dirinya akan dipecat tidak hormat seperti itu hanya bisa diam, memandang tak percaya pada manajer-nya.
Si manajer yang merasa terus dipandangi lawan bicara dihadapannya pun kembali mengalihkan perhatiannya pada orang tersebut.
"Hhh… Kim Jaejoong-sshi, dengar. Aku memecatmu bukan hanya karena kekacauan hari ini, tapi juga karena performa-mu selama bekerja disini tidak bisa dibilang memuaskan. Kau terlambat, kerjamu tidak rapi, kadang kau tertidur saat bekerja. Maafkan aku, tapi ini semua sudah diluar batas toleransiku. Silahkan cari tempat lain yang bisa menerima sikapmu yang seperti ini.", kata manajer itu dengan nada formal kali ini. Bagaimana pun ia harus tetap terlihat profesional.
"Tapi aku korban disini…", gumam Jaejoong pelan, sangat pelan.
"Ne?", tanya si manajer.
"Ani. Jika kau memang memecatku karena hal yang kau ucapkan barusan, aku bisa terima itu. Terima kasih, Sajang-nim. Dan, maaf karena selalu membuatmu kesal selama aku bekerja disini.", Jaejoong bangkit setelah mengambil amplop di atas meja. Ia memberi salam terakhir untuk manajer, mantan-manajer-nya, lalu keluar dari ruangan itu.
Di dapur, Yoochun dan beberapa pegawai restoran lain terlihat mengunggu Jaejoong dengan ekspresi yang beragam. Kasihan. Kesal. Ingin tahu. Dan semuanya menunjukkan ekspresi yang sama ketika Jaejoong tampak memegang sebuah amplop. Kasihan.
"Jae… Gwaenchana?", tanya Yoochun yang menjadi orang pertama membuka suara di dapur itu.
Jaejoong hanya menganggukkan kepala lemah, lalu berjalan menuju ruang ganti pakaian. Tak berapa lama, ia keluar dengan pakaian yang ia pakai ke kantor majalahnya pagi ini.
Ia membungkuk pada semua karyawan disana, tanda perpisahan. Tidak ada kata keluar dari mulutnya. Ia terlalu lelah hari ini.
'Aku sedang sial hari ini…', begitu pikir Jaejoong.
Sudahlah. Setidaknya ia masih punya pekerjaan tetap di siang hari. Mungkin dia akan beristirahat selama seminggu sebelum mencari pekerjaan tambahan baru.
'Ambil sisi positif-nya Kim Jaejoong. Ambil sisi positif-nya…', katanya dalam hati berulang-ulang.
Jaejoong keluar lewat pintu belakang restoran dan langsung menuju rumahnya. Berjalan dengan malas. Ia berhenti dan duduk sejenak di sebuah halte bis. Bukan untuk menunggu bis, karena rumahnya memang hanya beberapa blok dari restoran tempat ia bekerja, dulu.
Ia duduk mengistirahatkan kakinya. Entah kenapa, padahal tidak sebegitu jauh, tapi rasanya pegal sekali. Ia memandang kosong kearah jalanan hingga tidak menyadari ada seseorang yang menghampirinya. Orang itu memandang Jaejoong tanpa berkedip sekalipun. Dan tak bersuara sama sekali.
Merasa ada yang memperhatikannya, Jaejoong pun menoleh kearah orang tersebut dan kalian pasti tahu siapa orang yang berdiri membatu disana.
"Kau!", Jaejoong bangkit dari bangku halte itu, ia memandang tajam kearah orang di hadapannya.
"Gara-gara kau, aku di pecat dari tempatku, kau tahu! Dasar pria mesum!", lanjut Jaejoong emosi.
Pria itu, Jung Yunho, ia hanya memandangi Jaejoong disana. Ia bahkan tidak tahu harus membalas apa kata-kata yang baru saja Jaejoong ucapkan. Hanya satu kata yang ada dipikirannya saat ini. Satu kata. Satu nama.
"Youngwoongie…", ucap Yunho akhirnya.
Jaejoong yang tadi memandang kesal, kini berubah jadi bingung.
'Orang gila!', pikir Jaejoong saat itu.
Yunho berjalan selangkah mendekat. Namun, Jaejoong berjalan selangkah mundur hampir disaat yang bersamaan.
"Jangan mendekat! Atau aku akan berteriak!", ancam Jaejoong.
"Youngwoongie… Ini aku, Yunho. Apa yang terjadi denganmu?", tanya Yunho kemudian.
"Seharusnya aku yang bertanya 'Apa yang terjadi denganmu?', apa kau gila atau semacamnya?", balas Jaejoong.
Yunho kaget mendengar kalimat kasar dari mulut manis kekasihnya. Atau itu hanya pikirannya saja.
"Youngwoongie—", Yunho kembali berjalan mendekat.
"Berhenti, kau—. Siapa pun kau. Dengar. Di restoran kau memanggilku 'Youngwoongie' dan sekarang kau memanggilku 'Youngwoongie'. Aku tidak tahu apa masalahmu tapi namaku bukan 'Youngwoongie', OK? Dan, sebaiknya kau pergi ke psikiater sebelum kondisimu memburuk.", kata Jaejoong cukup panjang.
"Kenapa kau jadi kasar seperti ini, Youngwoo—"
"Aku bukan 'Youngwoongie'! Namaku Kim Jaejoong. Jelas?! Kim-Jae-Joong! Apa kau bisa mendengarnya dengan baik?", potong Jaejoong berteriak.
Yunho mengerutkan dahinya, bingung.
"Dengar… Aku akan memaafkan perbuatanmu hari ini karena aku tidak mengenalmu dan kukira kau memang tidak sehat, oke? Permisi..",lanjut Jaejoong sambil membetulkan letak tas selendangnya lalu berjalan menjauhi halte bis dan 'orang gila' itu. Jaejoong memanggap Yunho gila, depresi, dan sejenisnya.
Jaejoong sudah berjalan sangat jauh. Yunho yang masih diam di halte bis masih belum bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi saat itu.
"Kim… Jaejoong…?", gumamnya pada kekosongan disekitarnya.
.
.
===THAT'S NOT ME===
.
.
Hari Sabtu.
Hari damai untuk seorang Kim Jaejoong. Sabtu dan Minggu adalah harinya untuk ber-hibernasi di apartemen kecil yang ditempatinya. Menghabiskan waktu seharian untuk tidur atau menonton televisi. Atau sekedar membawa pakaian kotornya ke laundry.
10.23 siang.
Jaejoong baru bangun dari tidur nyenyaknya. Seberat apa pun hari yang ia lalui sebelumnya. Ia bersyukur selalu bisa tidur dengan nyenyak, melupakan segala masalah yang terjadi di kehidupannya. Ia bisa tidur dengan nyenyak kapan pun, dimana pun.
Siang itu ia memutuskan menghabiskan waktunya di apartemen Yoochun yang letaknya persis disamping apartemennya. Setelah mandi, memakai pakaian santai, dan menyisir rambutnya kali ini, ia bergegas pergi ke tempat yang bisa di bilang rumah keduanya. Setidaknya itu anggapan Jaejoong. Berbeda halnya dengan anggapan si tuan rumah, Park Yoochun.
"Jae… Aku baru mengepel lantainya, kenapa diinjak lagi…!", kesal Yoochun lalu kembali mengepel lantai yang ada jejak kaki Jaejoong-nya.
"Ups… Mianhae, Yoochun-ah…", kata Jaejoong sambil lalu ke dapur Yoochun.
Jaejoong membuka satu per satu laci lemari makanan di dapur itu.
"Yoochun-ah, apa kau punya sesuatu untuk dimakan? Kue beras kemarin sepertinya sudah tidak berbekas di perutku..", lanjut Jaejoong masih berusaha mencari sesuatu yang bisa digunakannya untuk mengganjal perut langsingnya itu. Atau… perut kurusnya itu.
"Ada kimchi didalam box biru dekat kompor. Tinggal sedikit. Habiskan saja.", jawab Yoochun dari arah kamar mandi. Ia baru saja menyimpan peralatan bersih-bersihnya disana.
"Apa sebelum kemari kau membereskan apartemenmu, Jae?", tanya Yoochun yang kini sudah berada bersama Jaejoong di dapur.
"Ha?", Jaejoong mengangkat kepalanya memandang kearah Yoochun, mulutnya terlihat penuh mengunyah kimchi dan nasi yang dicampur bersamaan.
"Eu, lupakan… Habiskan saja makananmu…", lanjut Yoochun lalu mengambil gelas dan mengisinya dengan air lalu menyerahkannya pada Jaejoong.
"Makanlah pelan-pelan. Kau seperti tidak makan berhari-hari, Jae…", lanjut Yoochun dengan maksud bercanda.
Tapi faktanya, baru hari itu Jaejoong merasakan kembali nikmatnya rasa nasi di mulutnya. Benar-benar nasi sungguhan.
Bukannya Jaejoong sangat miskin hingga tidak sanggup membeli beras atau tidak bisa memasak sendiri makanannya. Ia hanya bermasalah dengan pengaturan waktu. Kadang ia suka lupa makan saking sibuknya dengan pekerjaan.
Ne.
Menjadi seorang editor bukanlah pekerjaan yang mudah, ketelitian dan ketekunan serta ketenangan dalam mengerjakan tugasnya itu sangatlah penting. Belum lagi jika apa yang sudah ia kerjakan ternyata tidak mendapat persetujuan dari kepala editornya atau ada revisi untuk apa yang dia kerjakan. Maka, ia harus mengerjakannya kembali dari awal. Dari awal.
"Aku keluar sebentar, Jae. Jangan bukakan pintu untuk orang asing!", kata Yoochun saat mengambil sepatunya dan memakainya di depan pintu.
"Ne, Abeoji!", teriak Jaejoong dari dapur.
Yoochun yang mendengar dirinya dipanggil 'abeoji' oleh orang yang bahkan lebih tua beberapa bulan darinya itu hanya bisa tersenyum.
"Hati-hati di rumah ne, Halmeoni!", balas Yoochun sebelum menutup pintu.
"YA!", mendengar itu Jaejoong hanya bisa berteriak kesal.
"Dasar, jidat-lebar! Apa aku terlihat setua itu? Bahkan aku tidak pantas di sebut Ahjumma…", gumam Jaejoong kesal sambil mengaduk nasi-kimchi-nya sebelum memasukkan satu sendok penuh makanan itu ke mulutnya, mengunyahnya lalu menelannya.
Tak berapa lama, box kimchi berukuran sedang itu telah kosong. Ya. Bahkan Jaejoong tidak memakai piring atau mangkuk saat itu.
"Aahhh~ kenyang sekali…", Jaejoong mengusap perutnya dengan tangan setelah mencuci dan menyimpan box bekas makannya ke tampat semula.
Hm… Sekarang dia bingung apa yang hendak ia kerjakan. Ia ingat pertanyaan Yoochun soal 'membereskan-apartemen', tapi ia terlalu malas melakukannya. Ia hanya ingin duduk diam sambil menonton televisi saja. Ya. Itu saja. Ia sudah memutuskan untuk menjadi gajah-malas saja.
Apa?
Kalian belum tahu? Yaa… Jaejoong suka sekali dengan binatang bernama gajah. Ia sering membuat ungkapan sendiri dengan memasukkan gajah didalamnya. Gajah-malas: untuk benar-benar berdiam dirumah sambil makan, siraman-gajah: ketika ia mandi menggunakan shower, pukulan-gajah: ketika ia menemukan seekor kecoa di dapur apartemennya, dan masih banyak lagi ungkapan-ungkapan yang ia buat.
Ia sedang menontong acara kesukaannya saat itu ketika ia menyadari sesuatu yang penting tidak ia bawa bersamanya. Boneka gajah? Sayangnya tebakan kalian salah. Ponsel. Dia meninggalkan ponselnya di apartemennya. Kenapa itu sangat penting? Karena siapa tahu ada pesan masuk kesana. Pesan yang selalu Jaejoong tunggu. Pesan dari seseorang yang dia sukai sejak beberapa bulan ini.
Ia kembali ke apartemennya sebentar untuk mengambil ponsel. Namun, raut kekecewaan terlihat jelas diwajahnya ketika melihat layar ponselnya yang kosong tanpa notifikasi pesan masuk.
Ia lalu kembali ke apartemen Yoochun setelah mengunci apartemennya sendiri.
Apartemen itu terletak di kawasan pinggiran kota Seoul sehingga tidak begitu padat. Di depan apartemennya masih terdapat sebuah lapangan kecil yang biasa digunakan anak-anak sekitar untuk bermain. Karena ini hari sabtu dan masih siang, lapangan itu terlihat sepi karena anak-anak disana masih ada disekolahnya masing-masing.
Apartemen milik Jaejoong dan Yoochun berada di lantai 3 bangunan berlantai 5 tersebut. Cukup lah untuk bisa menikmati pemandangan luar dari beranda depannya.
Sebelum masuk kembali ke apartemen Yoochun, Jaejoong sengaja melihat-lihat pemandangan didepan apartemennya itu. Meski tidak terlalu indah seperti di kampong halamannya di _, tapi Jaejoong senang berada disana.
Ia masih diam disana, menikmati hembusan angin musim gugur sambil menyenderkan badan di tembok penghalang yang tingginya sebatas dada Jaejoong ketika suatu objek asing menarik perhatiannya.
Objek asing itu adalah sebuah mobil mewah berwarna putih yang kini terparkir persis di lapangan kecil di bawah sana. Jaejoong yang penasaran karena jarang sekali tamu yang datang dengan mobil semewah itu.
'Apa itu mobil baru pemilik apartemen?', tanya Jaejoong dalam hati.
'Ah… tidak mungkin pemilik apartemen sanggup membeli mobil semewah itu…', pikir Jaejoong lagi.
Karena si pengemudi mobil itu tidak kunjung keluar juga, maka Jaejoong memutuskan untuk masuk ke apartemen Yoochun. Namun ia tiba-tiba mendengar sesuatu yang mencurigakan…
"Permisi, Ahjussi …!", suara teriakan dari bawah sana.
"Ne? Ada yang bisa ku bantu", kata suara lain. Suasana yang bisa dibilang sepi memungkinkan suara-suara itu terbawa angin dan sampai ke telinga Jaejoong.
"Aku ingin bertanya… Apa… Disini tinggal yeoja bernama Kim Jaejoong?", tanya suara pertama.
CKLEK!
Pintu apartemen itu kembali di tutup Jaejoong ketika ia mendengar namanya disebut-sebut dibawah sana. Ia lantas kembali mendekati tembok pembatas dan mengintip kearah sumber suara.
Dan…
'Astaga! Orang itu?!', teriak Jaejoong dalam hati.
'Apa dia stalker atau semacamnya? Kenapa dia mencariku kemari? Ah! Apa… Apa… Apa dia pembunuh bayaran yang ditugaskan untuk melenyapkanku?', pikir Jaejoong mulai panik.
*Baiklah, sepertinya uri -Jaejoong terlalu banyak menonton film action pemirsa sekalian…*
Dilihatnya Ahjussi yang mengobol dengan 'orang-gila' itu menunjuk kearah apartemennya.
Jaejoong dengan refleks menjauhkan badannya dari tembok pembatas.
'Sial! Kenapa orang-orang disini mudah saja menjawab pertanyaan orang asing?!', pikirnya tidak percaya.
Setelahnya, Jaejoong bergegas masuk ke apartemen Yoochun lalu menguncinya dari dalam. Ia mematikan televisi lalu berjalan kedapur. Disana ia segera membuka ponsel flip tuanya dan menekan beberapa tombol. Ia sedang berusaha menghubungi seseorang.
Tuut… Tuuut…
Line -nya sudah terhubung tapi belum diangkat.
Tuut… Tuuut…
"Ne, Jaejoongie wae—"
"Yoochun-ah, kau dimana? Cepatlah pulang!", kata Jaejoong begitu orang di seberang sana mengangkat panggilannya.
"Waey—"
"Ada orang mencurigakan mengikutiku, Yoochun-ah! Kau ingat pria yang ku tampar di restoran kemarin…?!"
"Ne…"
"Dia ada di bawah dan pasti sedang menuju kemari! Cepat kembali Yoochun-ah! Aku takut..!", Jaejoong mulai terdengar panik.
"Jae… Tenanglah. Mungkin dia hanya ingin minta ganti rugi atau permintaan maaf darimu atas kejadian kemarin. Kau janga—"
"TAPI DIA ORANG GILA!", potong Jaejoong.
"Mwo?!", Yoochun terdengar bingung.
"Cepat kembali, Yoochun-ah… Aku takut *hiks*…", baiklah ini terdengar serius jika Jaejoong sudah menangis.
"Aku kesana, ne? Tetap diam di apartemenku, arraseo?!"
TUT…
Sambungan diputuskan.
.
.
.
===THAT'S NOT ME===
.
.
.
"Jadi… Tuan Jung—"
"Panggil saja Yunho, tidak usah terlalu formal denganku.", potong Yunho pada penghuni apartemen tempat ia berada saat ini.
"Eu… Baiklah. Berhubung kau lebih tua maka akan ku panggil hyung saja, bagaimana?", tanya orang tadi memastikan.
"Tidak masalah…", jawab Yunho.
"Baiklah… Yunho…-hyung, jadi kau mencoba mengatakan kalau teman dibelakangku ini adalah calon istrimu begitu?"
"Yoochun-ah apa yang kau bicarakan?!", tanya orang dibelakang Yoochun tidak percaya.
"Tenanglah, ada aku disini, ok?!", balas Yoochun menyakinkan yang dibalas dengan dengusan sebal dari orang dibelakangnya itu.
"Jadi, Yunho…-hyung, apa yang membuatmu sangat yakin kalau temanku ini adalah orang yang sedang kau cari saat ini?", tanya Yoochun lagi.
"Karena dia memang calon istriku, dia Kim Youngwoong, aku tidak mungkin tidak mengenalinya!", jawab Yunho kemudian.
"Lihat! Lihat kan?! Yoochun-ah, sudah kukatakan padamu dia itu orang gila, sejak dari restoran dia memanggilku 'Youngwoong'-'Youngwoong'. Cepat usir dia dari sini Yoochun-ah!", rengek Jaejoong pada Yoochun. Bagaimana pun dia ketakutan sekarang.
"Jae… Kita harus mencaritahu sebab-sebabnya dulu, dia juga tidak mungkin tidak punya alasan terlebih lagi kalian baru bertemu kemarin, iya kan?"
Memang masuk akal. Pasti ada yang salah disini. Pikir Jaejoong dan Yoochun.
"Justru karena baru bertemu kemarin… Bagaimana bisa kau membiarkan orang asing dan gila ini masuk kemari—"
"Jae! Jaga bicaramu!", potong Yoochun kesal. Entah kenapa tapi Yoochun merasa harus mendengarkan apa-apa yang ingin disampaikan Yunho saat itu.
"Apa kau yakin kau tidak mengalami kecelakaan lalu amnesia karenanya? Mungkin kau masih shock atau—", tanya Yunho pada Jaejoong.
"Lihat, Yoochun-ah! Dia benar-benar gila!", kata Jaejoong frustasi.
"Dengar, Yunho…-hyung, orang ini…", Yoochun menunjuk Jaejoong, "…adalah tetangga disebelah apartemenku sejak 3 tahun ini. Jadi bisa kupastikan dia tidak pernah mengalami kecelakaan apalagi amnesia, dan kupastikan dia ini Kim Jaejoong, bukan Kim Youngwoong…"
"Kau dengar itu?! Sekarang pergilah dari sini!", usir Jaejoong pada Yunho.
"Jae…", Yoochun mencoba menenangkan Jaejoong yang sedari tadi bersembunyi dibalik bahu lebarnya.
"Tapi… Tidak mungkin bisa semirip ini?!", Yunho pun kini mulai kebingungan.
"Kecuali kau punya saudara kembar, Jae…?", kata Yoochun yang tiba-tiba mendapat satu kesimpulan masuk akal atas segala kebingungan yang melanda mereka bertiga saat ini.
"Aku anak pertama dan satu-satunya, Park Yoochun!", tegas Jaejoong.
"Lalu apa yang mungkin terjadi disini…", gumam Yoochun sambil mengusap dagunya.
"Apa kau punya photo Kim Youngwoong, Yunho…-hyung?", lanjut Yoochun.
Yunho terlihat berpikir. Lalu dia mengeluarkan dompetnya, mengambil satu photo yang terselip lama disana.
"Ini photo saat kami masih di SMA…", kata Yunho setelah menyerahkannya pada Yoochun.
Sebuah photo lama. Yoochun dan Jaejoong memperhatikan objek dalam photo itu lekat-lekat.
"Memang terlihat mirip…", gumam Yoochun.
"Ya… Dia memang sedikit mirip denganku. Ini hanya kebetulan saja, tidak lebih. Apa kau pernah dengar mitos bahwa kita sebenarnya punya 7 kembaran di seluruh dunia. Yaa. Itu mungkin benar, buktinya aku dan orang di photo ini, iya kan?", kata Jaejoong mencoba menarik kesimpulannya sendiri.
"Apa kau punya photo terbarunya?", tanya Yoochun tanpa memperdulikan omongan Jaejoong, ia ingin memastikan seberapa mirip Kim Youngwoong yang disebut Yunho dengan tetangganya, Kim Jaejoong.
Yunho kembali terlihat berpikir.
"Ku kira aku tidak membawanya. Eh tapi tunggu!", Yunho mengeluarkan smartphone-nya lalu mengotak-atiknya sesaat.
"Ini photo yang ku ambil secara diam-diam saat pesta pertunangan kami…", lanjutnya setelah menyerahkan smartphone -nya pada Yoochun.
Jaejoong tidak langsung melihatnya kali ini. Ia menyandarkan badannya di sandaran sofa di belakang Yoochun.
Yoochun yang melihat objek didalam smartphone itu langsung diam seribu bahasa. Ia membuka mata lebar-lebar saking kagetnya.
Jaejoong yang melihat Yoochun tiba-tiba diam pun jadi penasaran.
"Waeyo, Yoochun-ah?", tanya Jaejoong sambil merebut smartphone Yunho dari tangan Yoochun.
Tidak sampai satu detik setelah melihatnya, Jaejoong bereaksi sama seperti Yoochun.
"Yoo-Yoochun-ah… I-inii—"
"Ne… Ini jelas-jelas bukan sekedar kebetulan, Jae…", kata Yoochun melengkapi kalimat Jaejoong.
'Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa bisa ada dua orang yang sama persis seperti ini…?', pikir Jaejoong dalam hati.
'Tapi meskipun kami memang mirip, Kim Youngwoong ini, dia… Dia jauh lebih beruntung dariku…', pikir Jaejoong yang tiba-tiba merasakan kesedihan mendalam dihatinya.
Dan entah kenapa, Jaejoong seperti punya keterikatan dengan orang bernama Kim Youngwoong ini, orang yang hanya ia lihat photonya. Seperti… Ada bagian kosong yang terisi dalam diri Kim Jaejoong, dan bagian kosong itu diisi oleh pikiran mengenai Kim Youngwoong…
.
.
.
===To be continued===
.
.
.
Alur terasa terlalu cepat?
Mianhae… Episode depan akan mengupas bagian yang dilewat di episode ini.
Dan mungkin teka-teki keberadaan Youngwoong juga akan terungkap disana… Mungkin aja yaaa… Mungkin loh… #plak
Aku shock liat Youngwoong lebih cantik dari Jaemma dimari… ckck #dijewer-Jaemma (piku ada di wp)
Gimana menurut pemirsa? Siapa yang lebih cantik?
.
.
uriesky : ne... entah kenapa dihapus #sedih. monggo mampir ne, yang sering ya *plak
Aoi Ko Mamoru : sudah lanjut, semoga menjawab rasa penasaran chingu, neee~
js-ie : masih bingung? ne, tunggu aj ya, akan banyak yunjaewoong moment nanti, fufufu
