Barcelona, I'm in Love
© aniranzracz
Harry Potter © JKR
.
.
Ambil sisi positifnya; pemandangan Barcelona yang indah—paling tidak—bisa membuat Lily melupakan semua kesialannya hari ini dan kemarin.
Kesialan pertama, ia masih dibayang-bayangi oleh masalahnya dengan Scorpius dan Cecilia. Dari kemarin malam sampai pagi menjelang, Lily bahkan tidak tidur hanya karena bayangan itu. Kesialan kedua, ia harus menyamar dengan pakaian yang… er, bukan dirinya sekali karena ia tidak mau ketahuan oleh seluruh penyihir. Well, wajar. Karena ia terkenal sekali di kalangan dunia sihir dan ia tidak bisa mengambil resiko ketahuan ingin lari. Kesialan ketiga, tadi, ketika sampai di bandara El Prat, Barcelona, ia nyaris kecopetan! Nyaris… karena seorang supir taksi menyelamatkannya.
Ia sedang berjalan ke luar bandara sambil menenteng koper merah dan menggerutu kesal karena masalahnya, sampai akhirnya ada pencopet yang diam-diam mengambil dompetnya dari saku legging Lily. Untung Lily memakai legging, karena itu, Lily tahu kalau ia dicopet—Lily tahu itu dari dompetnya yang sudah tidak 'menempel' lagi di pahanya.
Belum sempat Lily berteriak, seorang supir taksi yang melihat hal itu sudah mengejar pencopet itu lebih dulu. Dengan bantuan satpam, akhirnya pencopet itu berhasil dibekuk, dan dompet Lily dikembalikan.
Karena rasa berterimakasihnya, Lily akhirnya memutuskan naik taksi yang bisa dibilang butut milik supir taksi tersebut. Dan untunglah karena Lily menaiki taksi yang disupiri orang itu sebagai transportasi. Karena orang itu ramah, dan karena akhirnya orang itu membantu Lily. Lily diberitahu olehnya kalau hotel di Barcelona penuh sesak—namanya juga kota wisata—dan Lily ditawari oleh orang itu untuk menginap di rumahnya.
Awalnya Lily ragu. Tapi, karena kebaikan orang itu, Lily akhirnya mengangguk setuju. Orang itu kelihatannya baik dan tidak mungkin mencelakakan Lily. Lagipula, orang itu mempunyai seorang anak laki-laki yang katanya sebaya dengan Lily.
Lumayan. Ada teman untuk berkeliling Barcelona.
Walaupun Lily tahu kekesalannya yang terbawa dari London belum tentu hilang hanya karena orang itu.
Tetapi, sekali lagi, pemandangan kota wisata Barcelona, bisa membuat Lily melupakan sejenak masalah-masalahnya. Bahkan rasa panas dan kesal akan baju 'ketat'nya yang sangat ia benci seakan hilang.
Barcelona, kota terbesar kedua setelah Madrid di Spayol ini, sangat indah. Sampai-sampai, perjalanan dari Bandara El Prat sampai pemukiman yang terletak sekitar satu kilometer dari La Rambla ini tidak terasa sama sekali.
La Rambla adalah salah satu ikon wisata di Barcelona. La Rambla juga disebut surga bagi para pejalan kaki. La Rambla ini membentang dari Plaza Catalonia sampai Patung Columbus. Di sini, seluruh manusia dapat berjalan-jalan, duduk nongkrong, atau sekedar memberi makan burung-burung merpati.
Begitu taksi sampai di depan rumah yang akan ditempati Lily selama liburan superpanjangnya itu, Lily mengambil napas panjang. Ia sama sekali tidak menyangka akan mengambil langkah nekat seperti ini. Ia kan bisa bersantai di rumah untuk melupakan kekesalannya! Kenapa ia harus repot-repot terbang ke Spanyol? Negara yang sama sekali jauh dari pikirannya?
Oh, bagus. Sekarang Lily mulai menyesal.
"Stop, Lils," batin Lily pada dirinya sendiri. Ia membuka pintu mobil taksi itu. "Kau tidak boleh menyesal. Kau sudah mengambil langkah ini, dan tak akan pernah mundur lagi!"
Supir taksi itu mengambil koper Lily dari bagasi, lalu memencet bel rumahnya—yang luasnya relatif kecil. Ia membiarkan Lily mengekor di belakangnya dengan diam.
Sebelum pintu terbuka, supir itu tersenyum ke arah Lily. "Welcome home, Lily! Kau boleh menempati rumah ini sampai kapan pun kau mau. Terserah. Dan semuanya gratis, tanpa imbalan apa pun."
Lily balas tersenyum. Senang karena belum satu hari ia menginjakkan kaki di tanah Barcelona, ia sudah mendapatkan teman yang sangat amat baik. Walaupun ia masih ragu orang ini melakukannya dengan ikhlas atau tidak. "Well… terima kasih, Mr Carson."
Ia sudah berkenalan dengan supir ini di taksi tadi. Namanya adalah Mr Clark Carson. Umurnya sekarang kurang lebih lima puluh tahun. Dan anaknya… bernama Antonio Carson. Mr Clark Carson ini adalah seorang orangtua tunggal. Ia ditinggalkan oleh Mrs Carson, istrinya, dua puluh lima tahun yang lalu karena kecelakaan.
Ironis, dua puluh lima tahun yang lalu berarti kurang lebih sama ketika Lily dan anaknya lahir.
Pintu rumah itu akhirnya terbuka setelah bel dipencet dua kali, menampakkan seorang laki-laki yang mirip dengan supir taksi tersebut. Ini pasti Antonio Carson, anak dari Mr Carson.
Wajah laki-laki itu... mempesona. Dengan kulit kecokelatan yang menawan dan serasi dengan warna matanya yang juga cokelat—padahal mata Mr Carson, ayahnya, berwarna hitam. Rambutnya ikal hitam. Wajahnya itu sangat 'Spanyol'. Dan seperti kebanyakan orang Spanyol yang 'selalu' tampan, orang itu bisa dibilang sangat tampan.
"Hei, Dad," sapa orang itu sambil tersenyum ramah. Lalu matanya melirik Lily yang ada di belakang ayahnya. "Dan… siapa orang ini, Dad?"
Ayah Antonio masuk ke dalam rumah itu setelah Antonio membuka jalan. Lily masih mengekor di belakang Mr Carson ini. "Jangan membiasakan berbicara dengan tamu di depan pintu, Nak. Mari kita berbicara di dalam rumah."
Mr Carson menaruh koper Lily di dekat kursi ruang tamu yang sederhana itu, lalu ia menyeka keringatnya. Hari ini, kebetulan adalah hari di mana musim panas akan berlangsung, jadi wajar saja suasana sekarang panas. Walaupun panasnya belum maksimal karena musim panas baru akan datang beberapa hari lagi.
"Oke," kata Mr Carson. "Antonio, perkenalkan ini adalah Lily Potter."
Antonio tersenyum ramah dan mengulurkan tangan pada Lily. "Namaku Antonio Carson. Panggil aku Antonio atau Oni. Senang bertemu denganmu, Potter."
Lily membalas uluran tangan Antonio—atau Oni—Carson tersebut. "Yeah. Namaku Lily Potter. Kau juga bisa memanggilku Lily. Dan… senang juga bertemu denganmu."
"Bagus," kata Mr Carson sambil menepukkan kedua tangannya. "Kalian sudah saling kenal dan kuharap kalian berdua akan jadi teman yang baik." Setelah itu Mr Carson beralih pada Antonio. "Oni, Lily akan menginap di rumah ini, sampai… aku tak tahu kapan. Jadi… kuharap kau bisa menemaninya."
"Tentu, Dad," kata Antonio ramah. "Aku senang sekali mempunyai teman."
"Bagus," kata Mr Carson lagi. "Kalau begitu, aku akan berangkat kerja lagi. Selamat siang, Lily, Oni."
"Selamat siang, Dad," balas Antonio.
"Selamat siang, Mr Carson." Lily juga ikut membalas sapaan Mr Carson. "Semoga hari Anda menyenangkan."
Begitu Mr Carson itu keluar dan menutup pintu ruang tamu, Antonio langsung berbicara, "Ayo, Lily. Biar kutunjukkan kau kamarku."
"Kamarmu?" tanya Lily heran.
"Yeah," kata Antonio. "Memang kau mau tidur di mana lagi?"
"Kau tidur di mana?"
"Seperti yang kaulihat, di sini ada sofa."
Lily langsung merasa tidak enak. Ia kira di sini ada kamar tamu yang bisa ia tempati, jadi ia tidak perlu menyusahkan Antonio. Tapi ternyata Antonio malah memberikan kamarnya sendiri untuk ditempati Lily. Kalau tahu seperti ini, mungkin Lily akan memilih tinggal di hotel saja.
"Ayo," ajak Antonio. "Kau memikirkan apa, sih?"
Lily menggeleng. "Tidak. Aku tidak memikirkan apa-apa. Ayo."
Mereka pun berjalan menaiki tangga ke lantai dua, lalu, begitu sampai di lantai dua, mereka berbelok ke kanan, tempat kamar Antonio berada.
"Oke, ini kamarku," kata Antonio. "Selamat datang, Lily."
Lily melongok ke dalam kamar Antonio. Kamar itu kecil, agak sumpek—tidak ada pendingin ruangan seperti di rumah Lily—walaupun jendelanya sudah dibuka lebar. Di sana hanya ada satu lemari berukuran kecil tempat menaruh baju dan satu kasur kecil yang kelihatan keras untuk ditempati tidur. Walaupun begitu, kamar ini bersih serta rapi sekali untuk ukuran kamar seorang lelaki. Lagipula, Lily merasa ia akan cocok dengan kamar ini.
"Wow," kata Lily. "Ini hebat! Terima kasih sudah meminjamkanku kamarmu, Oni."
"Sama-sama," kata Antonio. "Dan maaf. Kamarku tampaknya benar-benar menyedihkan untuk ukuran seorang gadis mewah sepertimu."
Lily mengernyit. "Memangnya kau pernah mengenalku sebelum ini?"
"Tidak."
"Terus bagaimana caramu bisa beranggapan kalau aku hidup mewah?" tanya Lily. Sebenarnya ia agak tersinggung kalau dikatai hidup mewah atau semacamnya. Menurutnya itu terlalu berlebihan dan membuat dirinya seperti tidak bisa hidup susah.
"Aku lihat itu dari cara berpakaianmu," kata Antonio santai.
Lily langsung sadar kalau ia memang mengenakan pakaian yang… menor dan berlebihan untuk penyamarannya.
"Hahaha." Lily tertawa. "Tidak. Aku biasanya tidak berpakaian seperti ini. Ini hanya untuk… penyamaran saja."
"Penyamaran?" Antonio mengernyit heran.
Lily langsung menggeleng. "Tidak penting."
Antonio teringat sesuatu. "Aduh! Maaf! Seharusnya aku membiarkanmu masuk kamar lebih dulu! Kenapa aku mengajakmu mengobrol? Maaf, Lily!"
"Ah, biasa saja. Tidak apa-apa."
"Oke," kata Antonio. "Silakan masuk. Aku akan mengantar kopermu nanti."
"Terima kasih, Oni."
Antonio pun menuruni tangga lagi, meninggalkan Lily sendirian di atas sana.
Lily pun segera masuk ke kamar Antonio yang sementara ini menjadi kamarnya.
Sejenak Lily berhenti. Lalu ia tersenyum.
Ia tahu ini jalan yang terbaik. Biarlah orang berkata apa. Biarlah orangtua, saudara, dan sepupu-sepupunya mencarinya. Biarlah ia dikeluarkan dari Holyhead Harpies. Biarlah! Terserah! Semuanya sekarang hanya bisa ia tertawai.
Dan untuk mengawali jalan baiknya, mungkin ia harus 'melepas' yang buruk-buruk dulu. Misalnya… ya, baju nenek-nenek yang ia kenakan sekarang. Dan ia juga harus menghapus riasan menor yang sangat ia benci dan sangat bertolak belakang dengan dirinya yang sekarang.
Baju yang Lily kenakan adalah blus kedodoran yang—anehnya—hanya sampai pinggulnya saja. Warnanya hijau terang. Lalu ia memakai legging merah tua yang mengilap dan bermotif bunga-bunga matahari. Sungguh norak jika dipadukan. Apalagi aksesorisnya adalah kalung berbandul bunga yang besar, kacamata bening, dan scarf kuning.
Sementara make-up-nya benar-benar menor. Bedak putih yang melebihi dosis, blush-on merah tua, dan lipstick merah terang yang memuakkan. Paling tidak itu menurut Lily.
Mungkin make-up tidak terlalu Lily pusingkan. Toh make-up tidak membuatnya merasa gerah atau seperti apa. Tapi pakaiannya ini yang membuatnya gerah.
Karena itu ia langsung membuka leggingnya. Ia bahkan tidak menutup jendelanya karena ia berpikir siapa sih yang mau mengintipnya dari sini? Di sini kan tinggi! Dan ia juga tidak menutup—
PINTUNYA!
Terlambat. Belum sempat Lily menutup pintu kamar itu, Antonio sudah masuk.
"Lily, ini kopermu," kata Antonio. Lalu ia menatap Lily yang… yah, tak perlu dijelaskan lagi.
Lily spontan berteriak. "Aaaaa! Keluar kau!"
Antonio berlari keluar kamar dan langsung membanting pintunya.
Lily memakai rok pendeknya—yang ia ambil buru- buru dari kopernya—dan langsung menyusul Antonio keluar.
"Hei, Carson!" seru Lily kesal. "Apa-apaan kau ini? Dasar mesum! Kau ini bego atau apa? Sudah tahu ada wanita yang berganti baju di situ, kau malah mengintipnya!"
"Eh? Aku kan tidak sengaja—"
"Alasan!" Lily mengamuk. "Sungguh aku sangat sangat amat menyesal sudah bertemu denganmu, Brengsek!"
"Hei, aku tidak salah," kata Antonio sabar. "Baik, aku minta maaf kalau aku sempat melihatmu dengan keadaan yang seperti itu. Tapi… itu kan salahmu karena tidak menutup pin—"
"Aku tidak salah!" seru Lily keras kepala.
"Kau harus tahu kalau kau itu—"
"Terserah! Aku tidak mau dengar lagi!" seru Lily. Lalu ia kembali ke kamarnya.
Antonio menyusul.
"Lily…"
Tetapi Lily sudah sampai di dalam kamarnya. Dan sebelum Antonio berhasil masuk, Lily sudah membanting pintu itu, membuat hidung mancung Antonio terantuk pintu kayu itu dengan keras.
"Aaau!"
-ooo-
Sementara itu di London…
"Lily tidak masuk hari ini," kata Steven, asisten sekretaris tim Quidditch Holyhead Harpies tempat Lily bekerja. Steven juga sahabat Al, kakak Lily. Ia dulu satu asrama dengan Al di Slytherin walaupun beda angkatan. "Aneh. Biasanya dia yang paling semangat! Apalagi hari ini tim Bulgaria khusus jauh-jauh datang untuk berlatih bersama Holyhead Harpies!"
Al mengernyit. Well, memang tidak biasanya Lily 'membolos'. Al, sudah ditugaskan membawa Lily ke The Burrow. Hari ini ulang tahun Roxanne, mungkin Lily lupa dan juga lupa datang ke The Burrow saking sibuknya. Dan karena kantor Holyhead Harpies sangat jauh dari The Burrow, Al ditugaskan menjemput Lily.
"Jadi bagaimana?" tanya Steven. "Apakah kau masih mau menjemput Lily di sini?"
"Tentu tidak," kata Al jengkel. Ia heran dengan berapa sebenarnya kapasitas otak Steven. Bagaimana bisa ia menjemput orang di suatu tempat padahal ia sudah tahu orang itu tidak ada di sana? "Aku akan pergi ke apartemennya."
"Oke," kata Steven. "Dan tolong tanyakan pada Lily kalau kau sudah bertemu dengannya, kenapa dia tidak masuk hari ini. Dan ingatkan kalau dia harus datang besok karena tim Bulgaria akan pulang lusa, jadi besok adalah latihan terakhir."
"Iya, iya," kata Al. Lalu ia melanjutkan dalam hati, "dasar cerewet."
"Bye."
"Bye."
Al pun langsung ber-apparate ke gang kosong di tepi apartemen yang Lily tinggali, lalu ia cepat-cepat berjalan ke apartemen Lily. Ia harus buru-buru, karena pesta Roxanne harusnya sudah dimulai.
"Dasar Lily pelupa," pikir Al seraya berjalan cepat menuju kamar Lily. Ia sedang menaiki lift sekarang. "Sudah pelupa, malas menghubungi orang lagi! Mentang-mentang dia baru putus dengan Scorpius! Semuanya dilupakan dan tidak dikerjakan!"
Begitu sampai di depan kamar Lily, Al segera mengetuk pintu tidak sabar.
Ketika ketukannya tidak dibalas dengan bukaan pintu atau bahkan suara, Al mengetuk ulang. "Lily? Ini aku, Al. Cepat buka pintunya! Hari ini ulang tahun Roxanne, kan? Kau lupa? Untung aku mau menjemputmu!"
Tetap tidak ada jawaban.
Al tiba-tiba merasa khawatir. Ia mencoba memutar gagang pintu, dan… ternyata tidak dikunci. Kekhawatiran Al langsung bertambah beberapa kali lipat.
"Jangan-jangan… Lily kerampokan dan diculik?" pikir Al sambil memasuki apartemen adik satu-satunya tersebut. "Tapi sepertinya tidak. Keamanan apartemen ini kan sudah sangat maksimal."
Dan mungkin memang tidak dirampok. Barang-barang Lily di ruang tamu yang bergabung dengan ruang keluarga itu kelihatannya masih lengkap.
"Lily?" panggil Al pelan.
Al berjalan mengelilingi apartemen itu. Ia berjalan ke dapur, kamar mandi, kamar tamu, kemudian kamar utama yang Lily tempati.
Semuanya kosong.
Al memeriksa lemari pakaian.
Dan ia terkejut. Lemari kosong tanpa baju-baju sedikit pun.
Al langsung ber-disapparate ke depan The Burrow. Kita memang tidak bisa ber-apparate ke The Burrow, jadi Al hanya ber-apparate ke depan pintunya saja.
-ooo-
Al membuka pintu The Burrow dengan cepat.
"Mana Lily?" tanya Ginny, Ibu Lily sekaligus Al. "Bukannya kau tadi sudah Mum suruh untuk menjemputnya?"
"Aunt Lily!" seru Gordon Potter, membuat James—ayahnya—mencium pipinya gemas. Gordon memang menggemaskan dan sering membuat Al meleleh dengan kata-kata dan ekspresi wajahnya, tapi tidak untuk sekarang. Ketakutannya akan Lily yang menghilang benar-benar mengalahkan segala emosi yang ada dalam hatinya.
"Lily… tidak ada!" seru Al. Mata emerald-nya menyiratkan ketakutan.
"Maksudmu?" tanya Fred heran. "Lily tidak ada di kantor Holyhead Harpies?"
"Aduh," kata James menyela. "Kau ini bodoh sekali! Aku saja yang sering dibilangi bodoh oleh Dad masih lebih pintar darimu! Kalau Lily tidak ada di kantor Holyhead Harpies, ya kaucari saja di apartemennya! Dasar bodoh!"
Evelin Wood, istri James, mencubit James keras. Membuat suaminya itu mengaduh. "Jangan pernah berkata-kata seperti kata 'bodoh', James! Nanti Gordon akan mengikutinya!"
Rina Nott—pacar Al—mendelik ke arah James. Ia memang tidak sungkan pada James karena James dulu adalah teman seangkatannya di Hogwarts. "Tentu tidak! Al pintar, James! Dia tidak sama sepertimu!"
"Aku sudah mencarinya ke kantor Holyhead Harpies sekaligus ke rumahnya!" seru Al. "Tapi dia tidak ada!"
"Tuh kan! Kubilang juga apa! Kau itu memang bodoh!" seru James (Evelin mencubit lengannya) "Al, kau tidak perlu khawatir! Bodoh benar kau kalau ketakukan seperti itu hanya karena hal ini! Lily pastilah pergi berbelanja! Kau tidak usah mengkhawatirkannya atau mengatakan itu pada kami dengan wajah ketakutan seperti itu!"
"Aku pintar!" bela Al. "Aku sudah mencari ke sekeliling apartemennya, dan semuanya nihil. Tidak ada Lily di sana. Dan waktu aku ke kamarnya dan membuka lemari bajunya, bajunya tidak ada satupun di sana!"
"Dasar bo—" James tiba-tiba berhenti. "Apa?"
Sekarang The Burrow penuh dengan kepanikan.
"Aunt Lily!" Gordon masih memanggil-manggil Lily.
"Hei! Lily menghilang? Dia sepupuku yang paling dekat denganku!" seru Rose.
"Dia tidak mungkin menghilang!" balas Lucy.
Tapi sepanik-paniknya semua orang di The Burrow, tidak ada yang sepanik Harry yang seperti orang kebakaran jenggot saking paniknya. "Bagaimana ini? Kenapa dia bisa menghilang? Tidak mungkin! Lily itu pintar!"
Lalu Ron masuk bersama Hermione. Mereka terlambat datang. "Ada apa? Pesta Roxanne belum dimulai?"
"Lily menghilang!" seru Fred.
"Apa?" kata Ron dan Hermione. Mereka terkejut.
Hening.
"Sudah pasti ini perbuatan Malfoy!" seru Ron meledak dengan keras, membuat semua pasang mata sekarang menoleh ke arahnya. Lily memang keponakan yang paling Ron sayang dan Ron pasti tidak akan rela jika keponakan tersayangnya itu menghilang.
"Harry!" seru Ron sambil menunjuk Harry dengan tenaga penuh. Ron memang sudah tua, tapi ia masih kuat. Pengalamannya bertualang dengan Harry sewaktu ia masih remaja mendidiknya menjadi seseorang yang kuat. "Sudah kubilang, seharusnya kau jangan pernah menyetujui Malfoy sialan itu untuk jadi pacar dari anakmu! Coba lihat sekarang? Aku kan yang benar!"
"Tapi dia—Scorpius—kelihatan bersungguh-sungguh waktu itu, Ron!" bela Ginny. "Dan tidak salah kalau Harry memutuskan menerima Scorpius!"
"Lagipula belum tentu Scorpius yang menculik Lily!" seru Harry tidak kalah emosi dengan Ron.
"Tidak, tidak, dan tidak mungkin!" seru Ron. "Memang Scorpius yang menculik Lily! Aku tahu itu!"
"Memangnya kau peramal? Tahu segala hal?" tanya Ginny dongkol, disambut dengan anggukan antusias Harry. "Yang kutahu kau mendapat D sewaktu OWL pelajaran Ramalan!"
"Di dunia ini ada yang namanya insting, adikku tersayang!"
"Tapi itu insting, bukan realita! Belum tentu benar!"
"Yang jelasnya aku yakin Lily diculik oleh Malfoy! Sekali lagi kukatakan padamu, Harry, aku sudah pernah mengatakan padamu kalau semua Malfoy itu sama saja! Lihat Lucius Malfoy, dia brengsek! Draco Malfoy, dia juga! Dan Scorpius Malfoy? Tentu sama saja! Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya!"
"Tidak semuanya begitu, Ron!" balas Harry.
"Jadi kau membela orang yang menculik anakmu?"
"Scorpius belum tentu menculik Lily," kata Ginny. "Apa kau tidak baca Daily Prophet kemarin? Kata pacar Scorpius sekarang, Cecilia Zabini, Scorpius yang memutuskan hubungannya dengan Lily! Bukan Lily! Dan untuk apa Scorpius menculik mantannya sendiri yang ia putuskan?"
"Sejak kapan kau percaya Daily Prophet?"
"Sudah, sudah!" seru Hermione melerai pertengkaran model anak kecil yang terjadi pada orang-orang yang sudah berumur lima puluhan tersebut. "Daripada kita meributkan siapa yang menculik Lily dengan jejak-jejak yang masih samar, kenapa kita tidak berusaha mencari Lily? Lily penyihir, mungkin ia diculik—atau pergi sendiri—ke suatu tempat dengan cara apparition. Dan apparition terlacak oleh Kemetrian, jadi aku akan menghubungi Kemetrian sekarang."
Hermione akhirnya menelepon Kementrian. Sekarang dunia Muggle sudah mulai merambah ke dunia sihir. Salah satu contohnya adalah penggunaan telepon. "Kementrian Sihir? Bagian teleportasi? (jeda) Ini Hermione Weasley. Baru-baru tadi, ada laporan Lily Luna Potter menghilang. Mungkin dia pergi dengan apparition. Jadi… apakah bisa tolong dicek dulu? (jeda) Ya, dia menghilang hari ini. (jeda) Oke, aku menunggu."
Hermione terdiam. Semua anggota The Burrow ikut diam dan menahan napas.
"Intinya, jangan sampai berita ini terdengar oleh Daily Prophet dan majalah atau koran sihir lainnya dulu," kata Harry. "Sebelum kita memutuskan akan memberitahu mereka. Kita akan memasang iklan tentang orang hilang nanti."
"Kenapa kau tidak ingin memberitahu mereka sekarang?" tanya Ron.
"Tidak," kata Harry. "Aku yakin Lily tidak akan lari. Dia akan kembali pada kita."
"Kenapa kau membiarkan Prophet tidak tahu dulu?"
"Karena kalau Prophet dan dunia sihir tahu tanpa kejelasan, mereka akan menambah-nambahkan cerita Lily yang menghilang," kata Harry. "Dan itu bisa menjadi aib bagi keluarga kita semua."
Hermione mengisyaratkan diam dengan jarinya, lalu ia mulai berbicara…
"Apa? Ada? Di mana? (jeda) Hm… oke. Terima kasih. Dan selamat sore juga."
"Bagaimana?" tanya Ginny, Harry, dan Ron bersamaan.
"Dia ada," kata Hermione. "Di Geneva. Dia ber-apparate ke sana tadi jam enam pagi. Berarti dia tidak diculik Scorpius karena aku masih melihat Scorpius di Kementrian tepat jam enam pagi tadi."
Diam-diam Rose menelan ludah. Ia sudah berpikir tentang kota yang menjadi tujuan Lily, tapi ternyata tujuannya itu salah.
"Tuh kan, kau itu sok tahu, Ron!" seru Ginny.
"Hei!" protes Ron. "Itu kan salah satu kemungkinannya!"
"Sudahlah, jangan bertengkar lagi," kata Hermione melerai. "Sekarang kita pikir siapa yang akan ber-apparate ke sana dan mencari Lily."
"Aku saja," kata Al.
"Aku ikut." Rina Nott langsung mengusulkan diri. Pacar Al ini memang tidak bisa 'lepas' sedikitpun dari Al. "Kalau Al pergi, berarti aku harus pergi juga."
"Ya. Kalian bisa pergi besok pagi," kata Hermione. "Kemasi barangmu nanti, Al."
"Terserah kau saja," kata Harry pusing. "Aku pusing dengan masalah tiba-tiba ini. Tujuan kita kan ingin merayakan ulang tahun Roxanne, jadi sebaiknya kita laksanakan sekarang saja. Ayo, kita mulai pestanya."
Kebetulan saat itu, George dan Angelina Weasley—tamu terakhir—tiba dan mereka langsung merayakan pesta. Sebelumnya mereka telah diberitahu kalau Lily menghilang, dan dijelaskan solusinya kalau Al akan pergi ke Geneva bersama Rina besok.
Tapi tidak ada satu orang pun yang benar-benar menikmati pesta itu sampai pesta itu usai.
Dan diam-diam, Rose memikirkan sesuatu.
-ooo-
TBC
Huahh! Panjang banget 3.308 kata! XD *bangga. Padahal itu masih dikit banget*
Bdw di sini Molly dan Arthur sudah meninggal -_-
Oke… bagaimana dengan chapter ini? Review, please? Satu review berarti satu semangat untuk saya XD terima kasih.
Thanks for reading and mind to RnR?
