Zraaaash
Lagi, sepanjang hari ini hujan turun lagi. Entah sudah berapa hari semenjak aku terbangun dari tidur panjangku hari-hari yang telah kulewati terus saja bermandikan hujan. Tersenyum simpul, menelaah langit malam yang kosong dari jeruji kastil ini...
"Kejam, padahal aku merindunkan para bintang..." ujarku lirih, cocok untuk mencerminkan hatiku yang tertohok, begitu sakit. "Ah, tenang aku juga merindukanmu kok, Dewi Bulan yang cantik" segera kualihkan pemikiran absurdku dengan hal lain yang juga absurd, tak pelak senyum lebarku terpulas lagi menangggapi kebodohanku sendiri.
"Sepertinya, alam pun tahu kebangkitan kita... makanya, dia ingin memberitahukan pada dunia bahwa salah satu sudut kegelapan di bumi ini telah bangun dari tidurnya nee, Uchiha-kun" ujarku saat ku rasakan hawa dingin menusuk tubuhku yang sama di dinginnya.
"Terus, apakah kau menyesal..." akhirnya, suara bass itu bisa menggelitik telingaku lagi.
"Dengar, meski langit dan bumi bergoyah dan runtuh, aku takkan melepaskanmu dari sangkarku—" bisiknya dalam. Aku hanya dapat tersenyum kecil dan berbisik, "Egois.."
"Kau baru menyadarinya hnn?" ah, sepertinya aku telah memancing selera humornya.
"Kalau kau inginkan malam yang cerah, tatap saja mataku, jika kau ingin hangatnya pagi hari, aku akan merangkulmu, apapun yang kau inginkan, tubuh, jiwa dan hati ini akan kupersembahkan untuk memenuhi keinginanmu" ujarnya panjang lebar tak pelak membuatku menahan gelak tawa dan air mata yang mendesak keluar sejak tadi. Jarang sekali, andaikan aku membawa type recorder maka akan kurekam kata-kata gombalnya yang bukannya membuatku tersipu tapi malah membuatku tertawa terbahak.
Chuuu
Ah bibir itu... akirnya bisa kurasakan kembali kecupannya.
"Maka dari itu, untuk kebangkitan kali ini, kau harus tetap dalam genggamanku, kau mengerti?"
RUNE #02: SONG
Suasana ruang kelas ini baik-baik saja. Sejak jam istirahat dimulai, sudah banyak siswa yang membuka bekal siangnya, ada juga yang langsung pegi ke kantin atau yang hanya berbincang-bincang dengan teman yang lain. Namun, hanya satu hal tak baik-baik saja di sana. Di barisan kedua dari belakang dekat jendela tampak seorang seorang pemuda yang menundukkan kepalanya dalam. Tidak, ia tak tertidur seperti biasanya, malah kau akan mendapati muka suram dengan kantup mata yang menghitam juga wajah menciut yang tak dapat kau derkripsikan bagaimana wujudnya.
"Kau... baik-baik saja, Naruto?" tanya seorangg pemuda yang menyandarkan tubuhnya di atas meja dengan alis yang terangkat sangat tinggi, menandakan betapa bingungnya ia melihat Naruto yang kusut.
Seakan frame yang terjatuh dari pakunya, Naruto menjatuhkan keningnya di atas meja dengan suara berdebam yang cukup keras, cukup membuat tiga orang temannya terkaget ngeri.
"Nande~ mo nai~, Kiba-kun~" balas Naruto lirih... sangat lirih...
Dengan lesu Naruto mengangkat bokongnya dari kursi dan berjalan terhuyung meninggalkan ruang kelas dengan tiga orang temannya yang mendelik tidak karuan serta dengan otak mereka yang terus saja dibayangi tanda tanya.
#
Hening, tengah malam yang hening. Tak ada suara selain pantulan suara kendaraan di balik bukit sana. Namun, di malam yang hening itu ada tiga orang pemuda yang membisu, membatu di tempat mereka masing-masing.
Kedua bibir itu bertaut, tak ada pergerakan, hanya kecupan biasa. Namun, itu sudah cukup membuat Naruto pingsan seketika, ah bahkan mati.
"Hei, sampai kapan kau mau seperti itu terus?"
Akhirnya sebuah suara mengisi kekosongan nada di sana. Menyadarkan Naruto yang akhirnya memberontak di tangan pria yang tak ia kenal—yang dengan seenaknya menciumnya, merebut ciuman pertamanya.
Selagi Naruto sibuk sendiri dengan dirinya, pria raven yang merangkulnya itu tak juga melepas peganggannya pada Naruto. Ia hanya menyengir tajam ke arah pemuda lain di atas sana. Sedangkan yang di atas sana hanya memandang tanpa ada niat untuk membalas tatapan itu.
Snif snif
"Kau tahu, aroma tubuhmu masih sama seperti dulu, irama jantungmu, kental darahmu... bisa kukatakan tak ada yang berubah" pemuda Raven itu berbisik di telinga Naruto dengan pela, cukup membuat Naruto tertohok dan membatu di sana.
"Kau yang disana, sampaikan pada pendeta tertinggi, ah bahkan gereja pusat, tak ada untunya untuk kalian melenyapkanku," ucap lelaki itu, ia tak berteriak, hanya berbicara dengan suara yang lantang.
"Tapi... Jangan pernah kalian tinggalkan setitik goresan pun pada mawarku" ujarnya menghakimi dengan sepasang mata merah yang menyala dalam jelaga.
"Sayang sekali, tuan arrogant, aku hanya menjalankan amanat yang disampaikan oleh Father," dengan kalimat itu pria berrambut panjang diatas sana sekejap menghilang.
Dan dengan cepatnya ia berada tepat satu meter di depan Naruto dan sang pemuda Raven. Hawa dingin malam seakan menambah nikmat rasa mencekam yang tiba-tiba saja memonopoli tempat itu. Sedikit terhentak, Naruto tak menyukai atmosfer saat itu. Entah mengapa, rasa takut menggelayuti tubuh dan pikirannya. Seperti ada sesuatu dalam dirinya yang mendorongnya untuk mencegah apapun yang akan kedua orang itu lakukan.
Seperti, apapun yang akan dilakukan kedua orang itu akan membuka kotak Pandora dalam dirinya yang selama ini ia kubur dalam-dalam.
Pria Raven itu akhirnya melepaskan Naruto dari kekangannya. Namun, anehnya Naruto seakan tak dapat bergerak dari tempat itu, ia hanya terduduk bagaikan seekor burung dalam sangkar besi. "Tunggulah sebentar di sini"
Dan dengan itu sebuah pertarungan kilat dimulai. saking cepatnya pergerakan para pemuda itu hingga hanya menciptakan kilat kecil pertanda kalau keduanya bertemu. Naruto hanya ternganga di tempatnya, sepertinya iya memang tak perlu takut sebab beberapa kali serangan nyasar menubruknya namun tampaknya ia telah dilindungidengan sebuah selubung tak berwarna yang menahan serangan-serangan nyasar itu.
Dalam kesendirian ia yang menyaksikan pertarungan kasat mata itu dan hanya dapat mendengar dentingan serangan yang saling beradu, Naruto tertunduk dalam, kedua lutunya bergetar pendir tak dianya. Tidak, bukannya takut akan serangan nyasar yang mungkin akan melukai dirinya. Ia pun tak tahu mengapa namun hatinya melirih, berdenyut kuat seakan ingin melopat dari tubuhnya. Perasaan aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, dan bahkan ia tak pernah memikirkan bagaimana bentuk perasaan itu sendiri.
Tidak, ia menolak ini. Otot-otonya seakan kendur, kehilangan energi. Pundaknya telah jatuh, begitu pula dengan rambut spike-nya yang mulai merosot turun.
Deeng deeeng deeeeng
Itulah yang ia dengar, atau tepatnya seakan ia dengar. Dentingan lonceng yang menabuh gendang telinganya dengan perasaan berat yang membuatnya ingin muntah. Ia hanya bisa bertanya pada dirinya sendiri.
Gigi-giginya menggeretak. Jemarinya mengkantup erat dak heran kukunya meninggalkan bekas di sana. Matanya tertutup rapat dan kedua alinya bertaut erat. Cukup sudah semua kebingungan ini. Bukankah ia hanyalah seorang pemuda biasa yang seharusnya mendapatkan kehidupan yang biasa pula?
"Huh? Lagu?" bingungnya saat sebuah suara menyentil telinganya samar...
Koko ni akasou omae no na wo
Goran are ga inochi naru hi
[Here shall I prove your name
Look, that is the light that will become life]
Sedang di seberang sana, dua orang itu masih terus saja mengadu serangan. Bedanya sang Raven hanya menyerang sebagai tangkisan untuk lawannya. Dan terlihat sekali kalau lawannya itu sangat berusaha untuk membuat lutut sang Raven jatuh di tanah.
Seakan berpijak pada angin, mereka melompat, menghindar, terbang tanpa sedetikpun menyentuh tanah. Lihatlah apa yang telah mereka lakukan dengan tanah yang berada di bawah mereka. Sebuah lubang besar menganga di sana. Saking besarnya para ahli astronomi bisa salah mengira kalau itu adalah kawah meteor jatuh.
toki wo tsumugu PAURO no ne yo
towa ni tsutau monogatari yo
[Oh music of Paul that weaves time
Eternally tell the story]
Anehnya, tak ada tanda-tanda orang lain selain mereka bertiga di jalanan yang sudah tak berbentuk itu. Namun, beberapa suara mobil yang memental dari bukit sana bisa menjelaskan bahwa di seberang sana masih ada orang lain selain mereka, tapi tidak di tempat ini. Tidak di area pertarungan yang semakin memanas ini.
yami wo terasu chiisaki mono
narae kare ni watashi mo mata
[Little ones that shine down in the darkness
Again follow him, and me as well]
"YAMETE KURE, FUTARI TOMO!"
Suara melengking yang memecahkan gendang telinga itu sukses membuat kedua 'naga' berhenti bertarung. Dari atas sana dapat mereka saksikan sebuah wajah garang yang dialiri air mata yang deras.
"Cukup sudah! Baka, baka! Aku tak mengerti kalian, aku bahkan tak mengenali kalian!"
Bulir keringat turun di atas kepala kedua orang itu menyaksikan seorang pemuda bersurai emas yang mengamuk. Terlihat seperti... anak burung yang.
"Dan kau pantat ayam! Seenaknya saja menciumku!" Sang Raven yang tadinya ingin mendekat dan menenangkannya akhirnya mundur kembali.
"Kau juga Crossdreser aneh! Seenaknya saja menyerangku!" ah, sang pria rambut panjang juga kena rupanya.
"Seenaknya saja kalian menjerumuskanku ke dalam masalah kalian! Kalian tahu, aku sangat lelah dan ingin pulang! Ini sudah larut malam! Pulanglah sana ke ibu kalian masing-masing!" sejuta kata serapah dan umpatan mengalir layaknya air sungai yang deras. Sudah cukup kebingungan yang Naruto dapatkan malam itu. Sedang kedua pria di atas hanya dapat menunduk dalam, merasa bersalah mungkin?...
"Hah hah... dan, apa ini? kenapa aku menangis?" ujar Naruto lirih akhirnya. Kemarahannya mulai berkurang dinyatakan dengan suaranya yang perlahan tenggelam.
Inoritatae inochi no hi wo
Kitaru hi made tomo ni aran
Tomo ni aran
[Extol the light of life with prayers
Until the day to come, let it be with you
let it be with you]
"Hiks, dan lagi... lagu itu masih terdengar di telingaku... hik" ujarnya bingung.
Sang Raven sedikit terbelalak, ia lalu dengan cepat berdiri di hadapan Naruto yang sibuk membersihkan air mata di pipinya dengan kasar, kesan bahwa ia tak ingin terlihat kekanakan karena menangis.
Selanjutnya, pandangan Naruto menggelap. Hal terakhir yang di didengarnya adalah...
"Bodoh, jangan mengingatnya..."
###
"Argh menyebalkan!" umpat Naruto. "Tch, kenapa aku harus bermimpi seaneh itu semalam" gusarnya lagi.
"Terserah lah, yang penting aku harus memberikan titipan Kakashi sensei... eh—?" Naruto mulai panik saat merogoh sakunya dan ternyata benda yang dititipkan padanya tak dapat ia gapai, atau lebih tepatnya memang tak ada di sakunya.
"Uso da! Aku yakin kemarin aku menyimpannya di saku celana ini! Huaaaa ini gawat!" panik, Naruto hampis saja akan melucuti pakaiannya satu per satu untuk mencari benda titipan itu.
"Kau mencari ini?"
Sampai suara bass menohok tenggorokannya. Tubuh Naruto menjadi kaku dalam sekejap, wajahnya membiru dan keringat terus menajuhi pipinya. Bukan karena dalamnya suara bass itu, tapi karena... suara itu, suara yang hadir dalam mimpinya...
Suara itu, kini ada di belakangnya.
"Semalam aku lupa mengembalikannya, ah dan sepertinya kau sudah tak apa, maaf aku lancang mencicipi sedikit darahmu semalam..."
Ckiiit
"Arh leherku?" dengan wajah yang sangat tertegun, Naruto mendapati dua bintik merah di lehernya melalui kaca jendela di sampingnya.
"Bohong..."
Next Rune preview:
"Kapan kita akan mengunjungi mereka?"
"Huaaaaa siapa kau?"
"Sudah lama aku tak melihatnya"
"Sudah kubilang si Kuning itu akan tetap kubawa!"
"kau... seorang Jinchuriki...?"
"Argh Sakit—"
A Naruto's FanFiction _ Noir of Blast: Prelude
Diclaimer : All Right Reserved
Genre : Mystery, Tragedy, Romance, Humor
Main Cast: Naruto U, Sasuke U
Warnings: AU, Vampfic, A lil bit GORE, Strange, ODD, typo(s) any etc...
NEXT RUNE: PAIN
See You Next Week
With a piece of Feathers, Thank you for reading
Direct by Lucky Aoyami
