Disclaimer: J.K Rowling's
A/N: Chapter2 ada flashback ya;)
.
.
Pemuda bermata abu-abu itu ingin sekali berlari, hal yang sudah sangat lama, bahkan mungkin tidak pernah ia lakukan.
Draco ingin merasa bebas, seolah dia burung yang pertama kali mengecap udara luas setelah bertahun-tahun terkurung dalam sangkar emas. Sebagian besar masa hidupnya ia habiskan dengan berusaha sekeras mungkin menjadi putra terbaik untuk orangtuanya.
Menuruti kemauan mereka.
Menjaga nama baik keluarga Malfoy.
Mengesampingkan keinginan pribadi...
...dan cintanya.
Semua atas dasar kehormatan sebagai seorang bangsawan.
Juga kesetiaan seorang abdi Pangeran Kegelapan.
Ia tidak menghindar dari tanggung jawabnya sebagai seorang Malfoy untuk mengagungkan keturunan darah murni, karena ia tidak ingin mengecewakan keluarganya.
Ia tidak pernah berusaha lari saat posisinya sebagai Pelahap Maut menuntutnya untuk membunuh Albus Dumbledore. Draco berusaha, karena jika ia begitu saja lari dari tugas yang dibebankan Voldemort, sama saja seperti menandatangani kontrak kematian dirinya dan kedua orangtuanya.
Ah, tugasnya sudah selesai ketika Voldemort tumbang. Narcissa dan Lucius aman dari tirani Sang Pangeran Kegelapan. Mereka tinggal memulihkan nama baik dengan berderma sebanyak mungkin, seperti yang selama ini mereka lakukan.
Mudah. Ya, kan?
Misinya jadi Pelahap Maut dan bangsawan kecil sudah selesai.
Semua telah berakhir.
Draco memeluk Narcissa untuk yang terakhir kalinya, mengusap air mata wanita itu dengan telapak tangan.
"Aku pergi, Mum," katanya singkat, berharap ibunya mengerti, bahwa kini Draco ingin memulai lembaran baru hidupnya. Menjalani kehidupan yang berbeda.
Saat itu Narcissa hanya tersenyum lemah dan mengusap rambut pirang Draco lembut, sama seperti saat ia kecil dulu.
Draco merindukan belaian itu. Ibu dan ayahnya begitu menyayangi dan menganggapnya harta yang paling berharga.
'Andai kita bisa kembali ke masa-masa itu, Mum… Masa ketika keluarga kita hidup aman, tanpa bayang-bayang Pelahap Maut dan Pangeran Kegelapan.'
Draco mengecup pipi basah ibunya, dan berbisik lirih, "Sampaikan salamku untuk Dad."
Narcissa mengangguk pelan, tidak menatap mata anaknya yang sendu. Dia ingin menahan kepergian Draco, menjaga anak tunggalnya agar tidak sedetik pun menghilang dari pandangan.
Ia sudah kehilangan suaminya, haruskah ia bersabar menghadapi kepergian Draco?
"Mum dan Dad akan baik-baik saja…" Draco melepaskan diri dari genggaman ibunya, mundur beberapa langkah.
Lalu ia mulai berlari, 'Maafkan aku, Mum.'
Kini, waktunya untuk mengambil kembali sesuatu yang seharusnya sudah jadi miliknya sedari dulu.
.
.
Hermione selalu berlari.
Berlari untuk mengikuti pelajaran yang super padat.
Berlari menghindari manusia serigala yang tak lain adalah gurunya sendiri.
Berlari dari kejaran anggota Kementrian dan para Pelahap Maut.
Sebagai sahabat Harry Potter, ia tidak punya pilihan lain: Lari atau mati.
Begitu banyak bahaya yang telah ia, Harry dan Ron hadapi. Jika mereka bukan pelari yang handal dengan sedikit keberuntungan, mungkin sudah sejak dulu mereka tertangkap.
Dia tidak pernah mengeluh mempunyai sahabat yang tampaknya jadi magnet bagi banyak masalah. Hermione malah mensyukurinya. Bahaya dan permasalahan yang mereka hadapi seolah jadi pelajaran berharga untuk lebih menghargai hidup. Pelajaran yang tidak akan pernah ia temukan dari buku apapun.
Hidup mereka begitu rapuh dan sering berada di ujung tanduk,. Pilihan yang salah bisa mengantarkan mereka ke tangan Kematian. Mereka begitu beruntung karena selalu diberi kesempatan untuk melarikan diri.
Hermione pikir, sekarang ia tidak bisa lagi berlari untuk menyelamatkan diri.
Bukankah misi sebagai pendamping Harry dalam menempuh bahaya sudah berakhir saat Voldemort mati? Mereka masih berteman, tentu saja. Tapi mungkin pilihan Hermione kali ini akan mengguncang persahabatan mereka.
Semua telah berakhir.
Hermione memeluk kedua sahabatnya sambil menangis haru.
Harry dan Ron membalas pelukannya, rasa bahagia karena Voldemort telah dikalahkan, menyatu dengan kesedihan kehilangan beberapa orang yang gugur secara terhormat.
Ketika mereka melepaskan pelukan, ada kecanggungan yang tidak nyaman. Masing-masing tampak sibuk memilih kata yang akan mereka sampaikan.
Harry dan Ron sudah mengetahui rencana Hermione malam ini. Hermione sudah memberitahu kedua sahabatnya dengan suara bergetar, menahan emosi yang bercampur aduk.
Kedua pemuda itu belum menerima keputusannnya dengan baik, terutama Ron yang menampakkan raut wajah kesal.
"Kau benar-benar akan pergi, Hermione? Serius?" Ron melipat kedua lengan di dada, tampak marah.
Hermione mengangguk mantap,"Sekarang atau tidak sama sekali."
"Setidaknya jangan pergi malam ini, Mione!" Ron maju selangkah, sekarang benar-benar marah.
"Ron!" Harry memperingatkan, memegangi lengan Ron dengan kencang. Mata zamrudnya melembut saat melihat Hermione. Sang Terpilih menarik nafas dalam, berusaha menjadi penengah diantara kedua sahabatnya. "Kau boleh pergi sekarang, Mione."
Hermione mengangguk, lalu mulai berlari pergi ketika didengarnya Ron berteriak, "PENGKHIANAT!"
Hermione mengerti kepedihan Ron yang baru kehilangan salah satu anggota keluarganya. Gadis itu bahkan belum bisa menghapus bayangan Fred dan korban-korban lain dari pikirannya. Pasti beban Ron beratus kali lipat dari apa yang ia rasakan.
'Oh, Ron. Maafkan aku.'
Tanpa menoleh ke belakang untuk yang terakhir kali, Hermione memacu langkahnya lebih cepat.
Kini, Hermione berlari bukan untuk menghindar dari maut, tapi untuk menjemput kebahagiannya sendiri.
.
.
tbc
A/N: Ripiu? #ngumpet dibalik pohon:)
