FATHER FIGURE
Harry Potter by JK Rowling
-o0o-
"Profesor Snape menginginkan bertemu denganmu, Harry."
Tak percaya. Harry terdiam sejenak. "Bertemu—denganku?"
Hermione mengangguk. Menunggu sampai Harry melewatinya, melewati pintu kamar. Dan yang ada di dalam sana semua melihat ke arah Harry.
Canggung.
Harry berjalan menuju tempat tidur Snape. Berhenti tiga-empat langkah sebelumnya.
"Saya—saya dengar Anda sudah sadar," sahutnya.
Madam Pomfrey selesai memeriksa tensi. Memasukkan tongkat ke dalam jubahnya. Mengangguk pada Snape, dan berjalan ke luar kamar.
Profesor McGonagall menepuk lembut tangan Snape, dan menyahut, "Beristirahatlah," lalu berjalan keluar kamar.
Draco mengangguk pada Snape, berjalan menuju ke luar kamar, melewati Harry, dan mengangguk juga pada Harry, lalu berjalan ke luar.
Hermione sedari tadi berdiri di pintu kamar, keluar dan menutup pintu kamar dari luar.
Harry tak tahu apa yang harus dilakukan.
Maju ke dekat pembaringan, ada kursi di sana, tadinya digunakan Profesor McGonagall. Tapi ia tidak duduk di sana, hanya menggeser kursi, dan berdiri di sana. Kemudian ia mendadak ingat pada memori yang diberikan padanya sesaat setelah Nagini menggigit Snape.
Dirabanya saku jubahnya. Ada di sana. Memang selalu ada di sana, tak pernah ia berani menyimpannya sembarangan. Dikeluarkannya.
"Milik Anda," sahutnya pelan, diserahkan pada Snape.
Dari tadi Snape memandang Harry tanpa berkedip. Tapi kini ia menunduk. "Simpanlah," sahutnya tak kalah pelan.
Ada beberapa saat di mana keduanya tak saling memandang. Keadaan yang aneh, karena biasanya di masa sekolah dulu, keduanya sering ngotot saling memandang dengan penuh amarah.
Harry berusaha mengangkat kepalanya duluan, "Sir—"
Snape juga mengangkat kepala, tapi tidak melihat ke arahnya.
Berusaha tak gemetar, Harry meneruskan, "Saya—saya minta maaf," suaranya masih tetap pelan.
"Untuk apa?" Snape menoleh.
Menelan ludah, Harry melanjutkan, "Untuk—untuk semuanya. Karena saya—karena saya menyebut anda pengecut. Karena saya—"
"Akulah yang harus minta maaf, Potter."
Tak percaya Harry memandang tepat di wajah Snape, yang kini juga tepat memandangnya.
"Karena selama ini aku melihatmu sebagai Potter junior," Snape menunduk lagi. Melanjutkan dengan suara lebih pelan, "Bukan sebagai anak Lily."
"Sir?"
"Kau anak Potter, memang. Tapi kau juga anak Lily," Snape mengulang. Memandang Harry kali ini. Lama. Karena Harry tak tahu harus berkata apa.
Snape beringsut membenarkan duduknya. Harry mendekat dan membantunya, otomatis. Tapi setelahnya, canggung lagi. Takut—ia tersinggung.
"Menurut Poppy—kau yang menyembuhkanku?"
"—eh, ya. Maksud saya, saya hanya—"
"Hanya kau yang sudah pernah terlatih Legilimency kukira."
"Tidak, tidak, Draco juga—"
"Draco hanya membantu sebagian, ia mengaku. Ia hanya terlatih Occlumency, jangan lupa."
Matanya kini menatap tajam pada Harry. Harry menunduk.
"Jadi, kau?"
Harry mengangguk.
"Dan siapa yang memberimu pilihan, mana yang harus diprioritaskan?"
"—saya—" Harry kembali menelan ludah. Tidak, ia sudah berjanji akan menerima semua kemarahan Snape apapun yang terjadi—
"Bagaimana kau bisa tahu mana yang aku inginkan untuk diproritaskan? Bagaimana kau bisa tahu bahwa yang kuinginkan di atas segala hal adalah memori, bukan kemampuan motorik kasar seperti berjalan dan berlari?"
"Eh—"
Suara Snape yang sudah naik, perlahan turun lagi, "Bagaimana kau tahu persis apa keinginanku?"
Harry tersentak. Mengangkat kepala.
Tidak ada kemarahan dalam mata hitam yang sedang menatapnya lekat-lekat.
"Terima kasih, Potter."
Menelan ludah sekali lagi, Harry memaksa diri untuk berbicara, "Harry saja, Sir."
"Harry. Duduklah."
-o0o-
Harry mengocek teh di cangkir sebelum akhirnya menyerahkan cangkirnya pada Snape hati-hati. Kemudian mengocek teh di cangkir yang satunya lagi, untuknya. Duduk di dekat tempat tidur dan memperhatikan cangkir Snape, tangannya memang bergetar, tetapi tidak menampakkan tanda-tanda akan jatuh.
Bagian terakhir dari otak yang dibersihkan Harry adalah pusat gerakan motorik kasar, dan itu berarti duduk, berdiri, berjalan, dan sebagainya. Dan itu tidak sempat diselesaikan Harry. Berarti Snape harus mulai belajar dari awal lagi: duduk, berdiri, berjalan.
Tapi Snape tidak menyesalinya. Paling tidak, itu yang nampak dari raut wajahnya. Ia lebih menyukai kenyataan bahwa memorinya kembali utuh. Itu juga yang dikatakannya pada Madam Pomfrey, ketika ia mengatakan memilih Harry sebagai perawatnya. Madam Pomfrey sampai tak percaya, sampai harus memintanya mengulang dua kali kalimatnya. Harry … merawatnya?
Mungkin … kepribadiannya ada yang berubah setelah tercuci oleh bisa Nagini? Bisa jadi, tapi Harry tak ingin tahu. Yang ia ingin lakukan hanya berusaha memperbaiki hubungannya.
"Kau tak menyesal, merawatku di sini? Mengajariku berdiri dan berjalan?"
Harry menggeleng. Tadi seharian ia berusaha melatih Snape berdiri lagi, dan setelah bisa, setelah makan siang, ia bersikeras belajar berjalan.
"Anda seharusnya lebih banyak beristirahat."
"Aku sudah tidur seminggu penuh minggu lalu," raut wajah Snape keukeuh.
Harry mengalah, dan tak berbicara lagi. Hanya sesekali mengusulkan untuk duduk, dan kali ini usulnya untuk minum teh diterima. Itu juga setelah dikatakan bahwa tehnya dikirimkan khusus oleh Profesor McGonagall.
"Kau tak menyesal terus-terusan melatihku di sini?" ulang Snape setelah menyesap setengah cangkir tehnya.
Harry menggeleng.
"Atau kau memang ingin bersembunyi, menghindari para wartawan?"
Harry tersenyum kecil. Sejak Perang Besar selesai, alangkah banyaknya permintaan wawancara, baik wawancara penuh maupun hanya sekalimat-dua kalimat mengenai sesuatu hal. Dari wawancara menyeluruh tentang politik persihiran hingga bagaimana pendapatnya tentang warna lipstick yang akan digunakan dalam pemilihan Miss Wizard bulan yang akan datang. Dari Daily Prophet hingga Witch Weekly. Satu-satunya yang dilayani hanyalah wawancara dengan Luna untuk The Quibbler, itu juga tidak disadarinya sebagai wawancara, sebelum akhirnya Luna nyengir dan berkata percakapan tadi akan dimuat untuk The Quibbler nomer mendatang.
"Anda sudah tahu," sahutnya pendek, nyengir.
Snape menyerahkan cangkirnya, dan berusaha untuk berdiri lagi. Harry cepat-cepat menyimpan cangkir-cangkir itu dan membantu Snape berdiri.
Tidak langsung, ia hanya berdiri tepat di belakangnya, siap untuk memegangnya jika terjatuh. Harry melihat sendiri bahwa Snape berusaha keras untuk bisa berdiri dan berjalan sendiri. Secepatnya.
Secepatnya?
Itu kesan Harry. Seperti Snape ingin bisa bergerak sendiri secepatnya, dan … pergi dari sini?
Harry berusaha menekan perasaannya, dan dalam diam membantu terus melatih Snape berdiri, bangkit, berjalan.
"Kau nampak sudah lelah, Harry?" selidik Snape.
"Tidak, ti—"
"Setelah Kreacher mengantar makan malam, pergilah beristirahat."
"Tapi, Anda—"
"Aku tidak apa-apa. Aku sudah bisa mengambil gelas sendiri. Dan jangan khawatir, aku tidak akan mengambil Firewhiskey."
Harry terpaksa tersenyum. Madam Pomfrey keras sekali melarang minuman beralkohol di Hospital Wings.
"Baiklah. Tapi Anda juga beristirahat—"
Snape mengangguk, kelihatan sekali hanya untuk menenangkan Harry.
"Tapi, jangan—"
"Tidak, aku tidak akan berdiri atau berjalan. Kalau tidak bisa tidur, aku akan membaca perkamen-perkamen, itu saja."
Harry menghela napas. "Besok pagi saya kembali."
Snape mengangguk.
Harry menatap Snape lama sampai Kreacher datang membawakan makan malam mereka. Baru ia memindahkan pandangannya.
"Terimakasih, Kreacher."
"Sama-sama, Master Harry. Master Profesor," dan ia membungkuk dalam-dalam sebelum menghilang.
Harry menata piring dan sendok-garpu. Ia bersikeras untuk tetap di sana selama makan malam, agar ia melihat sendiri seberapa banyak Snape makan.
"Tapi kau juga makan," sahut Snape, tak menggerakkan tangannya sampai Harry mengambil juga sebuah piring dan mengisinya, "Aku tak mau justru kau yang jatuh sakit."
Harry merasa justru seperti ia sedang mengawasi, seperti sedang mengkhawatirkan anaknya agar tidak jatuh sakit—lagi.
-o0o-
Pagi masih dingin saat Harry menelusuri koridor menuju Hospital Wings, tapi di sana rupanya sudah ada suara-suara. Sepertinya Profesor McGonagall sudah mengunjungi koleganya pagi ini.
Tapi Harry menghentikan langkahnya.
Seperti … pertengkaran.
"—baiklah, baiklah, kalau itu memang maumu. Aku—" suara McGonagall terputus. Menghela napas. "Baiklah. Aku tak bisa memaksamu."
Suara McGonagall berdiri dari kursi, dan membuka pintu kamar, akan keluar. "Selamat pagi, Severus."
"Pagi."
Dan McGonagall keluar. Menghentikan langkah ketika melihat Harry, dan tidak jadi menutup pintu. Membiarkan Harry lewat—setelah Harry mengangguk padanya.
"Tutup pintunya," sahut Snape pelan.
Harry menutup pintu tanpa suara. Di meja di samping tempat tidur, sudah ada sebaki sarapan yang belum disentuh. Tanpa bicara, Harry mengangkat dan meletakkan piringnya di atas pangkuan Snape, menyodorkan sendok dan garpunya. Snape terpaksa menerima.
"Makanlah," sahut Harry tenang—ditenang-tenangkan. Sama sekali tidak menyinggung peristiwa barusan.
"Kau juga makan," akhirnya Snape menurut dengan syarat. Harry menjentikkan jari, dan Kreacher datang membawa sarapan untuknya. Sebenarnya Harry sudah makan, tetapi demi agar Snape mau menghabiskan sarapannya, ia makan sekali lagi pelan-pelan.
"Aku akan kembali ke Spinner's End." Pendek.
"Sendirian?" Ada banyak pertanyaan yang mengikuti, tapi hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Harry.
"Kalau kau bersedia—denganmu. Hanya untuk waktu sementara. Setelah aku bisa berjalan bebas lagi, kau bebas untuk—"
Harry meletakkan piringnya. "Saya bersedia. Sampai waktu tak terbatas. Dengan syarat—Anda kembali lagi ke Hogwarts 1 September."
Telak.
Rupanya, itu yang sedari tadi dipertengkarkan dengan McGonagall, dan Harry dengan tepat membawa persoalannya terbuka.
Snape berhenti mengunyah, dan menyimpan piringnya juga. "Aku—sudah tak ingin bertemu dengan murid-murid, apalagi mengajar." Ia menghembuskan napas panjang, dan menerawang ke langit-langit. "Minerva justru menginginkan aku kembali—sebagai Kepala Sekolah."
Harry terdiam sejenak. Lalu menyahut pelan, "Profesor McGonagall hanya Pejabat Sementara Kepala Sekolah Hogwarts, Profesor Snape."
"Aku sudah bukan Profesor-mu lagi, Harry."
"Anda masih, Sir. Dan akan masih menjadi Profesor untuk waktu yang lama."
Snape menunduk. Lalu, parau nadanya, "Mengapa orang tidak mau membiarkanku sendiri? Aku bersedia menerima jabatan Kepala Sekolah hanya untuk menjaga para murid agar tidak jatuh lebih dalam cengkeraman para Pelahap Maut, dan aku memperkirakan hanya satu tahun paling lama. Kenapa dengan kerjaku yang seperti itu masih ada saja orang yang ingin menjadikanku Kepala Sekolah?" suaranya semakin tinggi, tetap parau, tetap tak stabil.
Tak tahu harus berkata apa, Harry menyahut pelan, "Mereka menghormati Anda, Sir."
"Dengan pembunuhan Alb—" nadanya pendek, pelan, terpotong tak mampu ia teruskan.
"Mereka—dan saya juga—hanya ingin tetap bersama-sama Anda lagi, Sir."
Harry memberanikan diri menatap wajahnya, dan menemukan mata hitam yang biasanya tajam itu, terluka.
"Sir?"
Snape tak menjawab untuk waktu yang lama.
Betapa inginnya Harry melakukan sesuatu. Memeluknya, mungkin? Tapi Harry sendiri juga tak pernah merasakan berada dalam situasi seperti ini. Harus bagaimana?
Harry bergeser maju dari kursinya. Tangannya diletakkan perlahan di atas tangan Snape.
"Paling tidak, jika Anda tidak ingin menjadi Kepala Sekolah, tetaplah menjadi Guru Ramuan kami, Sir."
Snape memandang Harry dalam-dalam. Harry mengangguk. Snape memejamkan matanya sejenak, sebelum kemudian menyahut pelan.
"Spinner's End, besok pagi."
Harry menghembuskan napas lega. "Dan 1 September?"
Snape terdiam sejenak, kemudian, "Outstanding untuk Ramuan."
Harry tersenyum lega. "Deal." Tak apa ia harus bekerja keras, tak apa ia harus berusaha untuk hal yang nyaris tak mungkin: Outstanding untuk Ramuan, tapi ia akan berusaha!
"—dan jangan kau kira itu mudah."
"Yes, Sir."
-o0o-
Kemarin siang, Harry mengantar Snape ke Kantor Kepala Sekolah untuk menemui Profesor McGonagall. Walau agak kecewa, namun nampaknya McGonagall menerima keinginan Snape. Tidak menjadi Kepala Sekolah, hanya sebatas Guru Ramuan.
"Kau saja yang menjadi Kepala Sekolah," usul Snape pada rival-sekaligus-koleganya.
"Aku tak tahu, Severus. Aku takut tak cukup mampu untuk memangku jabatan itu."
"Aku akan membantu." Harry belum pernah mendengar percakapan semacam ini dari kedua gurunya, tapi kelihatannya mereka sebenarnya cukup bersahabat.
"Aku akan mendengarkan kata Dewan Sekolah saja nanti," sahut McGonagall, "dan jangan kau cabut janjimu untuk membantu."
Snape mengangguk. "Untuk sementara ini, aku akan pulang dulu. Kalau boleh—Harry aku bawa."
McGonagall mengangkat bahu, "Terserah, tanya saja dia, mau atau tidak."
Harry tersenyum lebar. "Tentu saja, saya bersedia dengan syarat Profesor Snape kembali ke Hogwarts 1 September nanti."
"Diam-diam kau licik juga ya, Harry," McGonagall tersenyum, "jangan-jangan kau sebenarnya bukan Gryffindor tapi Slytherin."
Alangkah senangnya kalau suasana seperti itu terus setiap hari.
Pagi ini, ia sudah bersiap-siap. Datang pagi-pagi benar ke Hospital Wings, ternyata Snape sudah bangun.
"Apakah tidak lebih baik kalau saya membawa Kreacher? Untuk bersih-bersih?" usul Harry hati-hati.
"Bawa saja. Asal ia berhati-hati saat bersih-bersih nanti."
Jadilah mereka berdua berjalan sampai titik Apparation di ujung halaman Hogwarts. DisApparate, dan Apparate di tepi sebuah sungai. Kreacher akan langsung menyusul nanti.
Sungai yang tidak begitu besar, tidak begitu bersih. Tercekat Harry melihatnya lingkungannya. Bagaimana bisa seorang gurunya hidup di tempat seperti ini?
Mereka menyeberangi sungai, yang tidak bisa dikatakan beraroma segar. Tepiannya ditumbuhi semak, sampah berserakan. Nun sebagai latar sebuah cerobong besar kehitaman, peninggalan penggilingan yang sudah tak terpakai, menjulang seperti bayangan mengerikan.
Berjalan menyusuri jalan batu sempit, di antara rumah-rumah seragam dari bata kumuh, jendela-jendelanya suram dan tertutup dalam kegelapan. Sebagian pecah dan ditutupi papan—tak ada upaya perbaikan. Salah satu jalan itu bernama Spinner's End.
Snape mendahului berjalan hingga sampai di rumah paling ujung. Berhenti dan mengeluarkan tongkat dari dalam jubah, dan membisikkan 'Alohomora'. Terbuka, dan mereka masuk. Lapisan debu menyambut.
"Kreacher!"
PLOP!
Kreacher datang seketika dengan seperangkat alat bersih-bersih.
Ruangan pertama yang menyambut mereka adalah sebuah ruang duduk kecil dengan seluruh dinding yang berupa rak buku. Dengan acungan tongkat Snape, salah satu rak membuka, dan itu ternyata adalah pintu-berlapis-rak-buku ke arah sebuah ruangan.
"Kamar tidurku," sahut Snape, dan mengacungkan tongkat ke arah yang lain, terbuka lagi sebuah pintu-berlapis-rak-buku yang lain, membuka ke arah sebuah ruangan di bawah tangga.
"Aku khawatir … ini adalah kamar tidurmu. Kecil tetapi—"
"Jauh lebih besar dari kamar-di-bawah-tangga di Privet Drive," sahut Harry ringan, dan meletakkan ranselnya di kamar itu. "Kreacher, hati-hati membersihkannya, jangan memindahkan barang yang tak perlu dipindahkan."
"Baik, Master," dan dengan riang ia mulai membersihkan debu yang menumpuk.
"Sebaiknya kita keluar dulu," Snape bertelekan pada tongkat, "ada sesuatu yang ingin kuperlihatkan."
Heran, Harry mengikuti saja langkah Snape. Keluar dari rumah, mereka berjalan hati-hati terkadang Harry memapah langkah Snape menyusuri tepian sungai. Mengikuti isyarat Snape, mereka menyeberangi sungai di bagian yang lain. Menanjak sedikit, dan mereka muncul di sebuah tempat yang agak lapang.
Déjà vu bagi Harry.
Sebuah tempat bermain yang tak terawat. Semak-semak nyaris menutupi beberapa tempat. Dua ayunan yang sudah berkarat, ditutupi debu dan sarang laba-laba.
"Kau mengenalinya?"
Tentu saja. Persis seperti apa yang ada dalam kenangan yang diberikan Snape di Shrieking Shack. Pelan Harry mengangguk.
"Jalan kecil ke sana," Snape menunjuk, "jika diikuti terus akan keluar di perumahan. Di sanalah rumah ora—kakek dan nenekmu." Matanya menerawang jauh. "Sekarang sudah berganti pemilik. Kakek dan nenekmu sudah meninggal, Petunia menikah dan pindah ke Privet Drive, dan ibumu—sejak menikah ia tinggal di Godric Hollow." Suaranya hampa.
"Sir," Harry tak tahu harus berkata apa.
"Sebenarnya mereka pindah sejak Lily kelas enam."
"Anda tahu ke mana mereka pindah?"
Snape mengangguk.
"Anda tahu, dan tidak menyusul?"
"Untuk apa? Lily sudah tidak menganggapku ada lagi," suaranya semakin pelan.
Harry menghela napas. "Anda selalu mengingatnya, sementara ia sudah pergi dengan orang lain?" suaranya terasa aneh mengingat yang disebutnya 'orang lain' adalah ayahnya sendiri.
Snape terdiam.
Snape maju, mendekati sebuah ayunan. Menepis beberapa daun dan sarang laba-laba di atasnya, dan perlahan duduk. Tidak begitu stabil, karenanya Harry bergegas menahan ayunan itu agar Snape dapat duduk dengan baik. Sedikit membungkuk, Snape meraih sekuntum bunga kering, memandanginya—bunga yang sama dengan yang jatuh dari semak, yang disihir oleh ibunya Harry. Nyaris tak ada yang berubah dari lingkungan itu—dan meremasnya hingga hancur.
Harry menatap Snape dalam-dalam. Ada rasa terluka di matanya. Ada rasa menyerah. Ada rasa pasrah. Ada rasa tak kuasa.
Disentuhnya pelan lengan baju Snape. Angin agak dingin terasa walau di musim panas—Inggris tak pernah punya musim panas yang benar-benar panas—.
"Kita kembali saja, Sir. Anginnya kurang baik. Lagipula, Kreacher mungkin sudah selesai bersih-bersih dan sedang menyiapkan makan siang."
Snape tidak menjawab, tapi perlahan berdiri dan melangkah, kembali.
Begitu tiba, Kreacher memang sudah selesai. Ia sedang menyiapkan makan siang. Dengan isyarat tanpa suara ia menghilang, meninggalkan Harry dan Snape. Mereka makan dalam diam.
Selesai makan, Snape menyusuri koleksi bukunya, dan mulai membaca salah satu. Harry meng-Accio sapunya, dan mulai menyemir. Sesekali dilihatnya Snape sedang apa, dan kali terakhir dilihatnya sudah tertidur dengan buku di tangan.
Diselimutinya.
Harry merasa seperti ia sedang mengawasi, seperti sedang mengkhawatirkan anaknya agar tidak sakit hati—lagi.
-o0o-
Standing Ovation yang spontan dan riuh di Aula Besar saat Profesor McGonagall mengumumkan bahwa Profesor Snape akan tetap bersama mereka di malam pembukaan musim belajar 1998-1999. Sambil ikut bertepuk tangan mata Harry menatap tajam raut wajah profesornya.
Wajah yang lelah. Harry tahu, lelah yang ditutupi. Kembali ia menguatkan tekad untuk mendapat Outstanding dalam NEWT nanti.
Keseluruhan situasi memang lebih menguntungkan untuk mereka yang benar-benar belajar. Lebih kooperatif.
Begitu selesai makan malam, Harry naik ke Ruang Rekreasi dan mulai membaca, ketika Ron menyusul. Mengangkat buku yang sedang dibaca Harry.
"Ramuan? Kita malah baru akan dapat Ramuan hari Kamis mendatang, Harry!"
"Aku sudah berjanji pada Snape untuk hasil Outstanding, Ron."
Hermione masuk membawa setumpuk buku seperti biasa. "Aku diberitahu anak-anak kelas tiga yang mendapat Ramuan hari ini. Kelasnya tidak menyeramkan seperti Ramuan tahun-tahun lalu."
Ron memandang Harry, memandang Hermione, memandang Harry lagi. "Jangan-jangan … bagian dari otak yang tidak sempat kau bersihkan darinya, adalah kekejaman?"
Ron dan Hermione tertawa kecil, Harry tersenyum, tapi pikirannya berjalan. Jangan-jangan Ron benar?
Disimpannya bukunya, dan ia berjalan ke luar Ruang Rekreasi, menuju ke Ruang Bawah Tanah. Diketuknya sejenak sebelum dibukanya pintu. Snape sedang memeriksa hasil kuis anak-anak.
"Ada apa, Harry?"
"Eh—tidak. Hanya—mengecek keadaan Anda—"
"Aku tidak apa-apa. Kembalilah. Pergi belajar, atau pergi tidur. Kau perlu itu."
Sarkasme-nya masih tetap seperti dulu, tapi Harry menangkap ada perhatian pada nada suaranya.
"Y-Ya, Sir. Selamat malam, Sir." Dan ia menutup pintu.
Tidak ada bagian yang terhapus, tidak ada bagian yang terlewat dari otaknya saat Legilimency kemarin, pikir Hary lega. Hanya bagian motorik kasar yang harus terus dilatih.
Tapi tiba-tiba Harry merasa khawatir.
Harry merasa seperti ia sedang mengawasi, seperti sedang mengkhawatirkan kesehatan anaknya agar tidak sakit—lagi.
-o0o-
Outstanding pada Ramuan sudah dilewati. Snape hanya tersenyum kecil saat Harry memperlihatkan hasilnya, tapi ia tahu Snape bangga dari sorot matanya.
Setelah itu pendidikan Auror yang ketat. Nyaris Harry tidak punya waktu untuk mengunjungi Snape, tapi disempat-sempatkannya juga. Apalagi setelah tertangkap olehnya, sorot mata.
Sorot mata yang lelah, sekarang juga adalah sorot mata yang sepi.
Harry mengunjunginya sesempat dia bisa, dan di waktu-waktu lain ia meminta Kreacher agar membantunya mengawasi. Dan tiap kali Kreacher kembali, Kreacher selalu membawa laporan yang tak begitu mengenakkan. Snape begitu terfokus pada pekerjaan, pada penelitian, kadang lupa makan, kadang lupa istirahat. Jangankan latihan untuk motoriknya.
Maka dipaksakannya juga mengunjunginya, sekedar menemaninya makan, sekedar menemaninya berjalan-jalan agar Snape mau berlatih berjalan. Sebenarnya kalau bisa ia ingin memeriksakan kemajuan otaknya, ia ingin tahu apakah ada yang salah pada pekerjaannya dulu.
Sekali waktu pernah juga terucap. Tapi Snape hanya mendengus sambil menggeleng.
"Tidak usah, Harry. Kalaupun dulu kau melakukan kesalahan dalam Legilimency, untuk apa diungkit-ungkit? Aku sudah cukup puas dengan keadaanku sekarang."
"Paling tidak, jaga kesehatan Anda—"
"Aku menjaga kesehatanku—"
"—dengan kadang tidak makan, dengan kadang tidak beristirahat? Sebenarnya apa yang Anda cari? Begitu terburu-buru, seolah-olah Anda sudah tak punya waktu lagi—"
Jawaannya pelan, tapi membuat Harry tersentak.
"Sebenarnya, untuk apa aku dibiarkan hidup? Aku tak punya tujuan hidup lagi sekarang."
Beberapa detik Harry membeku, sebelum akhirnya mencoba menjawab pelan, "Kalau—kalau boleh—kalau diperbolehkan untuk berlaku egois, saya ingin Anda tetap hidup waktu itu karena saya—karena saya ingin merasakannya. Ingin mengulang kembali hidup tanpa rasa sesal bersama Anda. Ingin menerima dibentak-bentak. Didetensi. Saya—saya memang egois."
Hening.
Ketika Harry sudah memutuskan untuk tak melanjutkan lagi percakapan, Snape mengangkat wajahnya, "Menginaplah di sini. Malam ini."
Dan malam itu di tengah-tengah percakapan yang hangat tentang segala hal, Harry melihat mata hitam itu sedikit menyala. Hidup.
Harry merasa seperti ia sedang mengawasi, seperti sedang mengkhawatirkan keadaan anaknya agar tidak sepi, sendiri—lagi.
-o0o-
Perlahan, dan dengan susah payah, Harry membawa Snape ke dalam kehidupan di The Burrow. Sesekali makan malam bersama. Walau awalnya mata Snape selalu mengawasi telinga George dengan perasaan bersalah—dan diantisipasi George dengan wajar seperti dia tak pernah mempermasalahkannya—Snape masuk juga ke dalam kehidupan The Burrow. Molly yang selalu ngomel-ngomel—dengan sayang—betapa dahulu Snape tak pernah mau mencicipi sup bawangnya; Fleur yang membanding-bandingkan pelajaran Ramuan dengan di Beauxbaton--yang diajar oleh seorang Madam yang cantik jelita; dan sebagainya. Walau tak banyak bicara, Harry merasa Snape sudah merasa punya tempat di sana. Ia bisa sedikit menghela napas lega.
Waktu berlalu dengan cepat. Harry menikahi Ginny. James lahir. Dan sekarang Ginny sedang menantikan kelahiran anak kedua.
Harry muncul di Spinner's End seperti biasa, menjelang tengah malam.
"Kau tidak dinanti keluargamu?"
"Ginny sedang menginap di The Burrow, kangen katanya. Molly sedang senang-senangnya tidur bersama James. Hermione dan Ron juga sedang berada di The Burrow bersama bayi Rose. Kutinggal sebentar tentu saja tak apa."
Snape tak menjawab, hanya merapikan tumpukan buku di meja. "Kalau aku sudah tak ada, aku hibahkan buku-buku ini ke Hogwarts."
"Sir?"
"Kecuali yang ini. Kau mau menyimpannya?" tangannya mengangsurkan buku yang ia kenal benar—yang pernah ia sembunyikan di Kamar Kebutuhan, dan ketemu lagi saat Snape sudah mengajar kembali di Hogwarts.
Harry mengangguk. "Tapi, kenapa—Sir?"
Sejenak Snape tak menjawab, tapi kemudian ia berbicara pelan, "Kita kan tak hidup selama-lamanya. Aku kan tak punya Horcrux—" tersenyum tipis.
Harry terpaksa tersenyum juga.
Malam itu berlalu dengan percakapan hangat tentang segala hal, tentang masa lalu, tentang betapa bencinya Harry muda pada pelajaran Ramuan, bahkan tentang Lily—.
Harry akhirnya menginap di Spinner's End malam itu. Dan terbangun kesiangan, matahari sudah masuk ke celah-celah jendela.
Tapi tak ada suara sama sekali.
Harry mengetuk kamar Snape. Tak ada jawaban. Hatinya mulai tak enak. Dicobanya membuka pintu. Tak terkunci.
Harry lemas berlutut di sisi pembaringan.
-o0o-
"Ia tersenyum, seolah-olah tersenyum adalah kebiasaan sehari-hari dalam kehidupannya," sahut Harry pelan. Ginny tak berkata apa-apa, mengelus kandungannya dan menggenggam tangan Harry. Hermione menepuk pundak Harry. Ron, Bil, George, dan Arthur sedang sibuk mengatur segala sesuatu agar jenazah bisa dibawa ke Hogwarts, dan dimakamkan di sebelah Albus Dumbledore.
Seekor burung hantu sekolah hinggap di ambang jendela. Hermione menangkapnya, membuka surat yang dibawanya, membacanya, dan memberikannya pada Harry.
Dari Profesor McGonagall, menjelaskan bahwa persiapan untuk persemayaman Snape sudah siap.
'—dan Harry, lukisannya tadi pagi sudah muncul di sebelah lukisan Dumbledore. Mereka sedang bercakap-cakap sekarang. Severus sudah berulang kali menolak permen jeruk yang ditawarkan Albus—'
Harry menghapus sebutir cairan yang turun meluncur.
FIN
AN:
Ambu nulis adegan terakhir ini di tengah-tengah berita WS Rendra. Kalimat puisi terakhir yang ditulisnya adalah: Tuhan, aku cinta pada-Mu.
Entah kenapa, rasanya sedih banget. Seperti sesuatu tercerabut dari kehidupan Ambu, padahal Ambu jarang mengapresiasi puisi Rendra. Ambu kurang bisa mengapresiasi puisi.
Fic ini selesai juga. Please, don't kill me!
