"Ini obat dan selimutnya." Yoongi menyerahkan sebuah obat, selimut, cream penghilang bekas luka dan body lotion kepada Jimin.
"Aku benar-benar membencimu Min Yoongi." Bukannya mengambil barang yang di serahkan Yoongi, Jimin malah mengulangi kata-kata penuh kebenciannya. "Aku mau pulang, kau simpan saja semua itu atau kalau perlu kau buang dan bakar semuanya." Ia mencoba berdiri, namun saat luka itu tidak sengaja tergesek celananya sendiri, rasa perih itu menyerang sehingga membuat ia susah untuk mencoba bangkit. "Isshh.." ringisnya tertahan.
Yoongi yang melihat Jimin kesusahan untuk berdiri reflek mengait lengan lelaki itu dengan tangannya. "Bisa kau pegang ini?" tanyanya dengan nada lebih seperti menyuruh.
"NO WAY!"
"Ya Tuhan bisakah kau tidak berteriak seperti itu Park Jimin! Aku masih bisa mendengarmu." Yoongi menutup kupingnya. "Berdiri dan diam di tempat, aku akan melakukannya secara profesional." Lanjutnya kemudian.
"Apa yang akan kau‒"
Belum selesai Jimin berbicara, Yoongi segera melilitkan selimut pink polkadot yang ia beli tadi di sekitar pinggul ramping Jimin. "Obati segera lukamu, aku akan mengantarmu pulang."
Jimin menatap Yoongi tajam. Lelaki itu benar-benar ingin menampar lelaki di hadapannya . Namun Jimin tak bisa banyak bergerak, sedikit pergerakan membuat lukanya semakin perih. "Sekertaris Min, kenapa kau masih ada disini? Kau bilang mau menunggu di luar?" Tanyanya heran.
Yoongi mendadak kikuk, ia mengusap belakang kepalanya gugup. Wajahnya sedikit lebih padam dari pada sebelumnya. Ia gugup seperti maling tertangkap basah. "I- i- itu.. a-aku.. err.." Jimin sedikit mendekatkan wajahnya dan matanya membesar lucu. Cukup membuat seorang ice prince seperti Yoongi makin salah tingkah. "Ya! Su- sudah cepat pakai obatnya! Ku antar kau pulang." Ia mengalihkan wajahnya walau sesekali masih melirik keadaan Jimin.
"Ya kau keluar sana! Kenapa masih disini!" balas Jimin tak kalah ketus.
Akhirnya Jimin menutup pintu bilik tersebut kesal. Dilihatnya barang-barang yang Yoongi berikan tadi. Cream penghilang bekas luka, body lotion dan obat merah dan juga.. selimut pink polkadot yang lucu. Ia tersenyum , menatap Yoongi dari balik pintu dan mengucapkan terima kasih tanpa mengeluarkan suara. Segera setelah botol obat merah tersebut di bukanya, ia mengoleskannya secara perlahan. "Isshh..." ringisnya kesakitan ketika menyentuh lukanya, ia meniup-niupkan pahanya agar capat kering. "Aaaishh sakiitt.."
Dari luar, Yoongi segera menoleh ke bilik ketika mendengar suara rintihan Jimin. "Sekertaris Park, apa kau baik-baik saja?" tanyanya ragu.
"Eung, aku baik-baik saja. Bisakah kau tunggu di luar toilet sekertaris Min? Aku mau keluar."
"Baiklah, aku akan menunggumu di mobil."
"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri, kau pulanglah, pasti Direktur Kim mengkhawatirkanmu." Jimin menolak dengan halus, dia benar-benar malas jika harus satu mobil dengan Yoongi. Melihat wajah datarnya saja ia ingin mengguyurnya dengan air supaya sedikit berekspresi.
"Hei, kau kira aku anak kecil? Dasar idiot." Maki Yoongi.
"Iya iya aku tahu kau lebih tua dariku 2 tahun, sekertaris Min. Aku ingat itu, maaf!"
Yoongi mendecih. Mulutnya bergerak-gerak mencibir Jimin tanpa suara. "Idiot." Ucapnya pelan.
"Kenapa ini bisa terjadi? Seharusnya kau maafkan saja dia dan masalah akan selesai, Jimin-ah."Park Myungeun, adik kembar 5 detik Jimin berbicara ketika sedang mengobati kakak kembar laki-lakinya. Dengan hati-hati, tangan lentik itu mengolesi luka bakar yang lumayan panjang di paha putih kakaknya. Sedangkan Jimin terus saja bergoyang sambil mengigit handuk bersih untuk menghindari perihnya obat itu. "Ya! Park Jimin! Berhenti bergerak-gerak liar seperti itu! Aish kau menyusahkanku tau!"
Jimin melepaskan gigitan handuknya. "Ya! Park Myungeun! Kau tidak tahu apa-apa sebaiknya diam dan tutup mulutmu. A-aakhh apa yang kau lakukan! Perih bodoh!" Jimin memukul kepala adiknya lumayan keras ketika ia merasakan kalau aura jahil Myungeun menguap, dia menekan luka bakar Jimin dengan sengaja agar kembarannyanya jera. Ngomong-ngomong, Park Myungeun itu sifat anehnya sama seperti sahabat Jimin, Kim 'alien' Taehyung. Mereka sama-sama berkelakuan aneh.
"Aku pulang."
Sebuah suara pria terdengar sesaat setelah pintu apartemen mereka terbuka kuncinya, kembar lima detik itu menoleh bersamaan dan tersenyum menyambut seseorang yang beru saja datang. Giliran si lelaki yang kaget ketika melihat apa yang sedang dua orang itu lakukan. "Omo! Hyung, kau kenapa?" tanya si lelaki khawatir. Lelaki itu segera membuka coat hitam serta jas hitamnya dan langsung menghampiri kakaknya.
"Myungjin-ah, ganti baju dan bersihkan badanmu dulu." Myungeun menyuruh adik lelaki satu-satunya sambil tetap mengipasi paha kakanya. "Jangan ajak Jiminie berbicara dulu, dia sedang dalam monster mode on." Kata-kata Myungeun lagi-lagi berhasil membuat Jimin melotot dan memukul lengan adiknya yang lebih putih itu menjadi merah.
Myungjin menghela napas lelah. "Ya Tuhan.. kenapa kau berikan aku kehidupan dengan dua saudara kembar tidak identik dan juga kelakuan mereka yang luar biasa.." ucapnya pelan, namun dua saudara kembar tersebut berstatus kakaknya itu menoleh horor. "Aigoo.. kenapa hari ini banyak sekali yang memperhatikanku? Aku tahu aku tampan, nona-nona cantik."
"Park Myungjin segera mandi dan ganti baju, kita makan bersama." Jimin membuka suara. "Kau tahu betapa laparnya kami menunggumu pulang hanya untuk makan bersama? Dan berhenti memperlakukanku seperti wanita! Argh! Sial! Kenapa hari ini aku sial sekali sih!"
"Maaf hyung, di kantor pekerjaanku menumpuk dan tidak mungkin aku membawanya ke rumah, pasti kau marah besar." Myungjin melepas dasi yang mengikat lehernya seharian. "Siapa yang memasak hari ini?" Tanyanya sebelum masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Aku." Jawab Myungeun. "Aku memask sup kimchi dan daging sapi saus barbekyu. Cepatlah Myungjin, kami tunggu di meja makan." Myungjin pun mengangguk.
Myungeun berdiri untuk meletakkan obat yang ia gunakan untuk mengobati Jimin. Ia sedikit merasa kasihan kepada kakaknya, karena insiden kopi panas tumpah itu kakaknya jadi harus berhati-hati dalam setiap melangkah. Takut-takut lukanya tergesek pakaiannya. Dan yang paling penting adalah, Jimin harus memakai rok atau celana katun super longgar setiap hendak pergi kemana-mana. Padahal, kakaknya adalah lelaki. Mana ada lelaki yang mau mengenakan rok? Tapi untuk kali ini seorang Park Jimin harus menurunkan egonya yang enggan memakai rok, jika bukan dalam keadaan terpaksa seperti ini. Bisa dibilang kakaknya malu. Ya iyalah! Mana ada lelaki memakai rok, ku tekankan sekali lagi! Walaupun demikian, kakak berbeda lima detik lebih tua darinya itu sama seperti lelaki kebanyakan. Lebih suka menghabiskan waktu untuk bermain game atau menonton film porno bersama sahabatnya.
Hampir sama dengan kakaknya. Myungeun pun tak kalah menawan dengan Jimin, mereka saudara kembar, namun tinggi Myungeun untuk ukuran seorang wanita tergolong lumayan tinggi, berbeda dengan Jimin dengan tinggi pas-pas an. Jimin pernah bermimpi menjadi model internasional. Namun impiannya itu malah di tertawakan saudara-saudaranya dan orang tuanya. Walaupun memiliki kulit putih bersih, wajah dengan tulang pipi yang tegas dan juga hidung mancung ideal, semua itu terasa percuma ketika melihat sentimeter dalam tinggi seorang Park Jimin.
Sedang Myungeun, tinggi dan bentuk tubuh yang ideal malah sering menolak agensi sekelas S+. Itu yang membuat Jimin iri setengah mati, walaupun wajah Myungeun sangat Korea, namun tertolong dengan tinggi badannya. Myungeun bilang dia ingin menjadi penyanyi ketimbang seorang model.
Setiap kelebihan pasti ada kelemahan. Jimin memiliki kelemahan pada tekanan darahnya, jika dia kelelahan, ia pasti akan pingsan karena tekanan darahnya rendah. Sedangkan Myungeun, dia phobia akan ruangan sempit yang gelap.
Jimin memiliki tinggi 173cm sedangkan Myungeun memiliki tinggi 168cm. Warna kulit Jimin sedikit lebih gelap di bandingkan Myungeun, tapi bagaimanapun itu sama sekali tidak mengurangi aura menawan Jimin. Jimin menganggap kalau dirinya itu lebih seksi dan eksotis daripada Myungeun yang memiliki kulit sedikit lebih putih.
Dan saudara Park yang terakhir. Satu-satunya lelaki yang tidak mempunyai saudara kembar dalam keluarga Park. Park Myungjin. Lelaki dengan tinggi 185cm ini bisa dibilang perpaduan dari wajah kedua orang tuanya. Jimin sempat ngambek pada orang tuanya karena merasa tinggi Myungjin tidak adil bila dibandingkan dengannya. Sewaktu Myungjin sekolah menenengah pertama, tinggi Jimin dan Myungjin sama. Padahal Jimin lebih tua darinya. Sifat Myungjin juga berbeda dengan Jimin yang kadang suka merajuk seperti anak kecil, maka dari itu Jimin merasa Myungjin sebagai rival ketimbang adik. Namun Myungjin bilang, kalau sifat Jimin yang asli adalah Jimin yang lebih dewasa yang lebih sabar, penyayang dan lebih pengertian yang membuat Myungjin tidak bisa membandingkannya dengan sang kakak. Hanya cara penyampaiannya saja yang berbeda, penampilan Myungjin lebih kalem dan bertugas sebagai penengah diantara kedua saudara kembarnya itulah menjadikan Myungjin menjadi anak yang patuh dan tenang menghadapi masalah.
"Myungeunie, coba kau panggil Myungjinie sana. Tumben sekali dia mandinya lama." Jimin menyuruh adiknya, sedangkan dia menyiapkan nasi dan menghangatkan sayuran yang sudah Myungeun masak tadi.
"Bukan lama Chim, tapi kau yang sudah terlalu lapar. Baiklah aku panggil dia dulu. Jangan makan sebelum aku kembali." Suruhnya.
"Iya iya, dasar cerewet!" jawab Jimin ketus. Dan Myungeun pun tersenyum puas meninggalkan kakaknya untuk memanggil adiknya.
Myungeun mengetuk pintu kamar mandi. "Myungjinie, kau mandi atau berendam? Apa kau pingsan? Apa kau sedang melamun jorok?" tanya Myungeun sekenanya. "Myung-ah, kalau kau ingin menuntaskan hasratmu sebaiknya di tunda dulu, hyung mu yang satu itu sudah kelaparan setengah mati. Cepat Park Myungjin." Lanjutnya dengan tampang pasrah dan polos.
"Siapa yang kau tuduh melamun jorok noonim?" tiba-tiba suara suara Myungjin menginterupsi. Dia sudah rapi mengenakan kaos putih polos dan celana pendek rumahan. "Aku sudah selesai daritadi kok, ayo makan." Ajaknya sambil mengeringkan rambut basahnya dengan handuk kecil.
Myungeun menatap punggung Myungjin malas, wanita itu hanya memutar matanya seolah tak peduli. Ia menyeret langkah kakinya menuju meja makan dan langsung duduk tepat di samping Myungjin.
"Hyung, ceritakan padaku hari ini kakimu kenapa? Mengapa kau tidak memberitahuku hyung? Aku bisa menjemputmu dan mengantarmu pulang." Myungjin bertanya dengan nada khawatir tak lupa sesuap nasi sebagai penutup pertanyaannya.
"Percuma Myung-ah, yang mengantar Chim tadi‒" kata-kata Myungeun terputus saat Jimin menyumpalnya dengan sebuah potongan daging yang cukup besar. Myungjin hanya bengong melihatnya.
"Jangan pernah menyebut nama itu dihadapanku! Cih, membuat napsu makanku hilang saja kau Park Myungeun." Ucap Jimin kesal dan menyuap dua sendok nasi ke dalam mulutnya serta merta mengunyahnya dengan kasar.
Myungjin yang memang dasarnya polos agak sedikit tidak peka‒sengaja tidak peka untuk memastikan jawabannya‒ menanyakan pada dirinya sendiri, sampai ada satu buah nama di dalam benaknya yang selalu membuat hyungnya marah-marah jika berhadapan dengan orang tersebut.
"Sekertaris Min?" tanyanya polos.
Jimin menatap Myungjin horor. "Ya! Kenapa malah kau sebut namanya! Ah, sudahlah aku malas makan jadinya." Jimin meninggalkan meja makan dan langsung menuju kamarnya.
"Ya! Chimin-ah! Habisakan makanmu! Kau kira aku tidak tahu kalau setiap tengah malam kau akan bangun dan membuat ramen hanya karena malas makan?" teriak Myungeun frustasi mengeluarkan uneg-unegnya.
Myungjin yang kini akhirnya mengerti permasalahannya hanya bisa memejamkan matanya sambil menghela napas panjang. "Tuhan.. lindungi kupingku dan tabahkanlah hatiku."
Pukul 2 dini hari. Apa yang di katakan Myungeun memang benar, Jimin tidak bisa tidur nyenyak jika dia masih merasa lapar. Akibat dari rasa gengsinya itu adalah seperti sekarang ini, matanya enggan terpejam sedangkan perutnya minta di isi. Dia sudah terlanjur janji pada Myungeun tadi untuk tidak makan ramen lagi di tengah malam. Tapi kalau dia tidak tidur sekarang, besok pasti dia kesiangan pergi ke kantor, sedangkan Namjoon membutuhkannya karena kemarin dia izin tidak masuk.
Ia bergulang-guling kesana-kemari tak karuan, wajahnya cemberut lucu antara bingung ingin makan ramen atau memaksakan tidur dalam kondisi lapar.
"Argh." Gerutunya sambil mengacak-acak rambut. "Aku ke kedai saja daripada aku gila."
Kedai yang buka 24 jam itu terlihat sepi. Hanya ada satu orang pelanggan duduk di salah satu kursi pojok dekat kaca. Jimin masuk dan segera menuju meja kasir.
"Eoh? Kookie, kau jaga malam?" tanyanya pada pria di balik kasir.
Lelaki yang yang panggil Kookie itu tersenyum. "Yup, aku bertugas malam kali ini hyung. Kau mau pesan apa? Seperti biasa?"
"Tidak. Aku ingin ramen." Jawab Jimin melas ia mengusap-usap perutnya.
Alis tebal pria yang di panggil Kookie itu bertautan. "Kau kira kedai ini mini market, hyung?" tanyanya balik.
"Tapi aku ingin ramen Kookie~" ia menghentak-hentakan kakinya seperti anak kecil yang meminta permen.
"Ada apa ini?" Taehyung yang tak sengaja mendengar percakapan Kookie atau Jungkook, dan Jimin pun datang. "Ah Chim. Kau ingin pesan seperti biasa?" tanyanya langsung.
Jimin menggeleng lucu, ia memajukan bibirnya dua senti. Sedangkan Jungkook dan Taehyung hanya bisa menatap satu sama lain dengan wajah heran. "Dia ingin ramen Hyung." Jawab Jungkook jujur.
"Ramen?" Taehyung balik bertanya pada Jimin. Sedangkan Jimin hanya menatapnya melas sambil mengangguk. "Kutebak pasti kau tidak makan malam tadi." Pernyataan Taehyung 50% benar. "Baiklah, akan kubelikan jajangmyun di mini market depan. Kau tunggu disini ya." Karena Jimin adalah sahabatnya, jadi Taehyung langsung mengerti keadaan Jimin yang sedang lapar berat tanpa bertanya macam-macam. Biasanya Taehyung akan memarahi Jimin dengan makian-makian sayang ala Kim Taehyung, hanya saja malam ini Taehyung terlalu gengsi untuk memarahi Jimin karena ada Jungkook sang pujaan hati yang tak kunjung di berikan jawaban. Kasihan uri TaeTae.
Jimin tersenyum sangat manis pada Taehyung. "Gomawo Taehyungie" jawabnya dengan nada sangat imut. Jungkook yang melihat kelakuan Jimin langsung mengerutkan alisnya heran. "Kookie-ya, aku pesan Nutella caramel frappucinno, blended!"
Jungkook hanya bisa mengangguk patuh."Jadi 3500won, apa kau ingin yang lain hyung?"
Jimin berpikir sejenak, "Eumm.. croissant coklat dan muffin coklat masih-masing satu, dibungkus."
"Di hangatkan?"
"Tidak perlu, itu untuk Myungeun dan Myungjin."
"Oke, semuanya jadi 20 ribu won." lelaki itu mencatat pesanan Jimin. "Kau mau bayar cash atau kartu kredit?"
"Kartu kredit. Aku tidak membawa uang cash." Jawab Jimin sambil menyerahkan sebuah kartu kredit platinum. "eum iya Jungkook-ah. Bagaimana progressmu dengan Taehyung?" Jimin menaik-naikkan alisnya jahil, dan sukses membuat Jungkook memerah padam. Jungkook mengigit bibir bawahnya malu dan fokus ke layar kasir, "Berisik ah Hyung." Jawabnya sambil tersipu. Sedangkan Jimin hanya senyum-senyum puas tidak jelas.
Tepat sedetik sebelum Taehyung keluar kedai, bel pintu kedai itu berbunyi. Mau tidak mau Taehyung mengurungkan niatnya untuk pergi meninggalkan kedai dan melayani pesanan dari pelanggan yang datang. Ia kembali masuk kedalam pantry dan mengenakan apronnya. Sedangkan Jimin yang sedang mendengarkan musik tidak mendengar ada yang datang ataupun keluar meinggalkan kedai. Ia hanya duduk manis dekat jendela sambil menunggu jajangmyun yang di janjikan Taehyung dan pesanannya pada Jungkook.
"Selamat datang, selamat malam." Sambut Jungkook dan Taehyung ramah. "Ah, Yoongi hyung, kau rupanya."
"Hai guys." Jawabnya cool. "Aku mau pesan green tea hangat dan tiramisu." Pesannya pada Jungkook.
"Kau mau mencoba pastry baru kami tidak? Namanya Rainbow cheese velvet, hasil menghancurkan dapur dua hari oleh Seulong hyung." tanya Jungkook sedikit bercanda. Yoongi tersenyum memperlihatnkan gummy smilenya, agaknya dia tertarik oleh nama yang diberikan pada resep baru tersebut.
"Bagaimana rasanya?" tanyanya balik.
"Hmm.. lumayan.." Jungkook menjawab sambil meletakkan jari telunjuknya di dagu. "Tapi balik lagi ke selera. Kalau menurutku sih lumayan, karena tidak terlalu manis. Bagaimana?"
"Boleh, di bungkus saja."
"Berapa?"
"Dua. Untukku dan Hoseok." Jawab Yoongi sambil mengeluarkan beberapa lembar won untuk membayar pesanannya. "Ini uangnya, Kook."
"Baik. Dan ini kembaliannya. Kau tunggu Taehyung Hyung membuatkan pesananmu di sana ya." Jungkook menatap Yoongi yang sedang mencari tempat duduk sampai akhirnya mata elang Yoongi melihat seorang lelaki duduk sendirian di dekat kaca. Yoongi tahu kalau itu Jimin, lelaki itu segera melihat paha putih Jimin. Paha yang dulu mulus tanpa noda kini memiliki garis hitam lumayan panjang, rupanya Yoongi telah membuat Jimin memiliki luka yang cukup parah. Dan ia pun makin merasa bersalah karenanya. "Hei,hyung." Panggil Jungkook. Yoongi segera menoleh dan menatap Jungkook.
"i-Iya Kook. Kenapa memanggilku?" jawab Yoongi gelagapan.
"Kau kenal dengan lelaki itu?" Jungkook mengarahkan dagunya pada Jimin. Yoongi mengangguk mengiyakan.
"Dia sekertaris Direktur perusaan Galaxy."
"Direktur perusahaan GALAXY? Maksudmu dia sekertaris Kim Namjoon?" Yoongi mengangguk. "bukannya kau tahu juga Kook?" tanyanya balik.
Jungkook menggeleng. "Tidak, yang ku tahu dia hanya seorang sekertaris dan juga sahabat Taehyung hyung. Lagi pula aku belum terlalu dekat dengannya kok."
"Yoongi hyung! Ini pesananmu." Panggil Taehyung agak keras. Yoongi pun menoleh dan mengacungkan jempolnya. "Aku harus pergi sebentar, ini pesananmu."
"Kau mau kemana,Tae? Kau tidak mengenakan seragam?" Yoongi bertanya pada Taehyung yang sedang melepas apronnya.
"Aku mau ke mini market depan. Mau membelikan lelaki yang duduk dipinggir jendela jajangmyun, katanya dia lapar." Jawabnya jujur.
Yoongi menautkan alisnya. "Jimin?"
"Kau kenal dia?" giliran Taehyung yang bertanya dengan nada heran. Yoongi hanya mengangguk sambil menyeruput green tea nya. "Bagaimana bisa kau kenal dengannya? Padahal untuk dekat dengannya saja aku membutuhkan waktu 3 bulan. Dia bilang dia menghindariku karena aku aneh seperti alien. Sial. Tapi sekarang malah kami sangat dekat."
"Dia sekertaris Direktur perusahaan GALAXY."
"Kim Namjoon?" Taehyung memastikan, dan lagi-lagi hanya di jawab dengan anggukan oleh Yoongi.
"Tae, biar aku saja yang ke mini market, kau duduk disini saja."
Taehyung berpikir sejenak. "Hmm.. baiklah." Putusnya kemudian.
Jimin yang sedang asik berkaraoke ria tiba-tiba di kejutkan dengan sebuah kantong palstik hitam di hadapannya. Ia melepaskan ear phone yang ia kenakan dan mengambil kantong plastik tersebut. Namun pergerakan tangannya terhenti ketika mata bulan sabitnya melihat siapa orang yang menyerahkan kantong plastik berisi jajangmyun kesukaannya. Ia melepaskan kembali plastik yang telah digenggamnya. Dan tanpa berkata apa-apa lelaki itu bediri dan segera meninggalkan kursi yang ia duduki.
Belum ada dua langkah ia meninggalkan kursi tersebut, lengannya di cekal oleh sebuah tangan besar khas pria yang membuat mau tidak mau ia jatuh terduduk kembali di kursinya tersebut.
"Taehyung, bilang kau lapar makanya datang kemari. Ini aku belikan pesananmu yang di janjikan Taehyung, dan juga selimut untuk menutupi lukamu." Yoongi. Tidak lain dan tidak bukan. Pria itu yang menyodorkan jajangmyun pada Jimin. "Dan kenapa kau mengenakan celana yang sangat pendek keluar rumah? Apa kau tidak malu dengan luka hitam mu, idiot?"
Jimin diam. Ia hanya menatap Yoongi dengan intens dan kelaparan. Perutnya tidak bisa berbohong. Di saat ia mempertahankan harga dirinya, dengan tanpa malu perutnya mengeluarkan suara pertanda minta di isi yang cukup lumayan keras. Hal itu tak sengaja terdengar oleh Jungkook dan membuat pria yang sedari tadi konsentrasi dengan ipadnya segera menoleh dan tertawa dengan nada tak sengaja mengejek. Jimin memelototi Jungkook lucu. Pria itu segera menghentikan tawanya dan meminta maaf pada Jimin.
"Hei idiot kau belum menjawab pertanyaanku." Yoongi mendesak.
"Peduli apa kau terhadapku Seketaris Min? Kau selalu memanggilku idiot dan kau juga selalu membuatku susah." Jimin menatap dalam mata elang Yoongi. "Bahkan kau sama sekali tidak meminta maaf karena telah membuatku celaka seperti ini."
"Ya! Yang seharusnya meminta maaf duluan itu kau idiot!" Yoongi sedikit berseru. "Kau dengan seenaknya bilang kalau rapat jam 9 pagi, padahal seharusnya rapat itu dilaksanakan sore hari. Siapa yang bersalah duluan? Dan siapa yang harus meminta maaf duluan!" Yoongi menyudahi kekesalannya.
Jimin menautkan alisnya heran. "Jadi hanya karena itu kau mau membalaskan dendam mu dengan menumpahkan kopi panas ke kakiku, begitu? Hooh~ kekanakan sekali kau Sekertaris Min." Jimin bersandar pada tempat duduknya sambil melipat tangannya didepan dada.
"Makanlah." Nada bicara Yoongi melemah, ia membukakan jajangmyun yang dia beli untuk Jimin tadi. "Selagi masih hangat."
"Apa ini juga salah satu akal-akalanmu saja Sekertaris Min?" Yoongi menggeleng, pria itu hanya mengaduk-aduk jajangmyun dihadapannya. "Cih, bahkan kau tak berani menatapku."
"Maaf." Ucap Yoongi tiba-tiba.
"Apa?" Jimin terkejut.
"Maaf. Dan cepat makan ini."
"Apa pedulimu aku kelaparan atau tidak!" Jimin berteriak kesal setengah mati.
Yoongi menghirup napas dalam-dalam. Menenangkan diri sebelum berbicara pada lelaki tempramental di hadapannya. "Aku peduli padamu Park Jimin! Tapi kau selalu mengacuhkan kepedulianku padamu!"
"Hahaha lucu sekali! Peduli sebagai apa hah!"
"Sebagai..." tiba-tiba Yoongi kehilangan kata-katanya.
.
.
.
To be continued Episode 3 ^^
saya mau minta maaf dulu soalnya bikin Jimin kayanya rada OOC dan lenjeh bgt ya? soalnya dia carrier ceria macem Ji eun tak gitu.. wkwkwkw XD
dan Yoongi seperti biyazah lelaki dominan yang tsundere humm XD
baiiklaah, segitu aja cuap-cuapnya, terima kasih untuk semuanya yang reader, review, favorite dan follow cerita ini XD *deepbow
Regards
.Sky.
