A/N: Wah telat 3 hari.. gomen ya, soalnya saya ada TryOut jadi gk sempet ( ._.)a tapi untung sempet diselesain ^ ^

Wkrish57: Makasih, makasih :) Mudah mudahan saya makin bagus dalam nulis fic hehe xD tapi ada 1 masalah, ini kan timeline nya udh modern, bukan HTTnya pindah ke masa lalu, jadi gk mungkin ketemu sama anggota 501st :D (tapi jadi dapet ide nih X3)

ShadowFreddyRaven: I will translate it into English as soon as I can, just hope for me that I have extra time XD


Disclaimer: I don't own anything, K-On! and Strike Witches belongs to its rightful owner. I only own the fanfiction story.

Chapter 1: Meetings


.

.

Dua sosok perempuan berjalan menaiki tangga menuju ke lantai tiga.

"Mereka benar-benar terkejut, ya kan?" Tanya salah satu sosok itu setelah mereka berhenti di depan jendela di dekat ruangan yang berada di lantai tiga.

"Hmm.. ya." Jawab sosok yang lain, menyetujui perkataannya.

"Rencana ku berjalan dengan mulus," Ucap sosok itu dengan bangga, "Sekarang.." katanya sambil mengimajinasikan anggota Ho-Kago Tea Time mengangkatnya dan bersorak 'Sawako! Sawako! Sawako!'

Sawako 'mendobrak' pintu ruangan klub musik lalu berteriak, "Minna! Otsukaresama.. Hah? Kemana mereka?" kata Sawako bertanya-tanya setelah melihat ruangan klub musik yang kosong. Bahkan alat musik dan tas mereka tidak ada disana.

"Nodoka-chan, mereka naik kan setelah konser mereka itu?" Tanya Sawako kepada Nodoka yang berada di belakangnya.

"Ya, mereka bilang akan segera naik setelah membereskan peralatan mereka." Balas Nodoka, menjawab pertanyaan Sawako dengan raut wajah sedikit khawatir.

Raut muka Sawako berubah menjadi bingung dan khawatir, "Lalu, mereka sekarang berada di mana?"

.

.

"WUUUUAAAAAAAAAAAAA-"

BRUK

"Itai..." seru kelima sahabat itu dengan seksama, mereka semua saling tindih akibat terjatuh dari pintu rahasia yang tanpa sengaja telah diaktifkan oleh Yui.

"Y-yui-senpai.. awas kakimu. Sepatumu berada tepat di wajahku." Keluh Azusa yang diwajahnya tertempel sepatu milik Yui.

"D-demo, Azu-nyan, aku tidak bisa bergerak," Jawab Yui kepada Azusa, lalu ia menoleh kearah Ritsu yang menindih kakinya dan berkata, "Ricchan, awas sedikit."

"Yui.. Aku sendiri tidak bisa bergerak" Jawab Ritsu dengan nada kesal, "Awas, Mio." Ucap Ritsu sebelum mendorong Mio yang menimpa tubuh Ritsu.

Hasilnya Mio pun tergeser dari posisinya dan tejatuh ke lantai dengan kepala pertama, "Itai!" teriak Mio yang kesakitan karena kepalanya terjedut lantai.

"Aaaahhh.. akhirnya, bebas.." Ucap Ritsu setelah terbebas dari tindihan Mio dan bangun dari posisinya, sambil membersihkan debu dan kotoran di bajunya.

Mio berdiri dan segera berteriak, "Ritsu!" yang membuat Ritsu terkejut dan terjatuh ke posisi duduk.

"Aa.. ehehe, gomen gomen, aku sebenarnya tidak bermaksud melakukan itu." Ucap Ritsu memohon maaf kepada Mio dan mencoba menenangkannya, "Ngomong-ngomong, kita sekarang berada dimana?"

"Jangan mencoba mengganti topik pembicaraan!" ucap Mio mengetahui rencana Ritsu yang ingin lolos dari situasi ini.

"Senpai.. pelankan suara mu sedikit," kata Azusa memotong percakapan Mio dan Ritsu, "Lihatlah, kita seperti berada di dalam sebuah ruangan." Lanjut Azusa.

"Waaaaahh, iya, kamu benar Azusa-chan." kata Mugi menyetujui perkataan Azusa.

Mio yang sepertinya tanpa sadar telah melupakan kejadian sebelumnya pun menambahkan, "Tapi tempat ini gelap sekali, dimana senternya?"

Yui menjawab dengan menunjuk-nunjuk ke arah lantai, dan rupanya disitu terdapat senter yang sudah terpecah berkeping-keping.

"Astaga, sekarang kita tidak punya sumber penerangan." Ucap Mio setelah melihat senter yang pecah berkeping-keping itu.

Yui mengangkat tangannya dengan penuh energi dan berkata, "Oh! Oh! Mungkin kita bisa mencari tombol lampu di dindingnya."

"Mou, senpai.. kurasa kita tidak akan menemukan tombol lampu di tempat seperti ini." Balas Azusa kepada Yui, menolak mentah-mentah ide aneh Yui itu.

"Ya, mungkin saja kan.. hehehe" balas Yui.

Ritsu berdiri dan menghampiri Azusa, "Ne, Azusa. Terima kasih sudah menyelamatkan nyawaku." bisik Ritsu yang berterimakasih kepada Azusa yang sudah menyelamatkannya dari kemarahan Mio.

"Aku tidak bermaksud menyelamatkanmu senpai.." jawab Azusa membantah perkataan Ritsu.

"Ano.. minna! Lihat apa yang ku temukan!" teriak Mugi dari kejauhan. Membuat yang lainnya menghampiri Mugi dengan ekspresi penasaran.

"Apa yang kau temukan Mugi-senpai?" Tanya Azusa setelah menghampiri Mugi.

"Lihatlah ini!" Balas Mugi sambil menunjuk suatu objek yang tertempel di dinding.

Yui dengan sigap memperhatikan objek itu lalu berkata, "Oh! Itu seperti tuas!" ucap Yui dengan semangat, "Ayo kita tarik, mungkin ada pintu rahasia yang akan terbuka!" Lanjut Yui.

Mugi dengan cepat menyetujui Yui, "Ooohh, iya benar! Ayo, kita tarik tuas ini." mereka pun menghampiri tuas itu lalu menariknya.

Azusa berusaha memperingati mereka, "S-senpai! Tunggu dulu, mungkin saja itu pintu jebakan seperti tadi!" Ucap Azusa. Namun perkataannya itu terlambat, tuas itu sudah tertarik dan tiba-tiba seluruh ruangan berbunyi dengan keras.

Lima sahabat itu menutup mata mereka, menunggu suatu hal terjadi. Namun, tidak ada kejadian apa apa, dan akhirnya suara-suara itu hilang dengan sendirinya.

Mereka membuka mata mereka dan melihat kalau seluruh ruangan itu sudah terang, "Rupanya tuas itu adalah tuas untuk menyalakan lampu.." ucap Mio yang terkejut.

"Sugoi.." Ucap Mugi yang kagum melihat ruangan tempat mereka berada, yang sebelumnya dikira ruangan sempit dan kotor, ternyata sebenarnya sangat besar dan terlihat canggih.

"Tempat ini seperti sebuah.. laboratorium.." kata Azusa yang juga terkesima.

Mereka mulai berjalan menyusuri laboratorium itu. Lalu, mereka tiba di sebuah ruangan yang terlihat seperti laboratorium utama. Banyak meja-meja penuh komputer dan di samping kanan dan kiri ruangan itu tersusun delapan kotak yang dikelilingi pagar kawat besi berwarna hitam, masing masing sisi ruangan terdapat empat kotak. Dan di ujung ruangan itu terdapat monitor yang sangat besar dan dibawahnya tersusun beberapa kotak kecil lagi. Kali ini hanya ditutupi oleh kain berwarna putih.

Mereka lalu memasuki ruangan itu dan mulai menyelidikinya, mereka berjalan melewati barisan komputer dan menghampiri barisan terdepan yang tersusun beberapa kotak kecil. Dengan penasaran Yui menghampiri satu kotak yang terletak ditengah semua kotak-kotak itu, dan kotak itu juga lebih panjang dari kotak yang lain.

Yui mengulurkan tangannya dan mencoba menyentuh kotak yang tertutup kain itu, namun tiba-tiba terdengar suara yang berasal dari atas mereka, "Jadi kalian akhirnya datang, kami sudah menunggu kalian." Yui terkejut dan melompat kebelakang, lalu menoleh keatas; sumber suara yang sudah membuat Yui dan lainnya terkejut.

Di hadapan mereka berdiri seorang pemuda tampan beramput perak mengenakan celana panjang berwarna hitam, jas putih panjang, dan kacamata.

"A-apa maksudmu kau sudah menunggu kami?" Tanya Mio dengan terbata-bata.

"Ya, kami sudah menunggu kalian sejak lama. Dan kami juga tahu akan kedatangan kalian semua." Jawab orang misterius itu, membuat lima sahabat itu terkejut.

"S-sejak lama? Se-sebenarnya kamu ini siapa?" Tanya Mio lagi dengan gugup, terkejut dengan perkataan orang misterius itu.

"Oh, iya. Maafkan atas ketidak sopanan ku. Boku wa Vino Fernandes, yoroshiku onegaishimasu." Ucap orang misterius itu yang rupanya bernama Vino Fernandes, sambil membungkuk hormat.

"Yo-yorosh- Tapi, a-apa yang kamu inginkan dari kami?" Tanya Mio kembali kepada orang misterius yang bernama Vino itu.

Vino terlihat berpikir sedikit, lalu mulai berbicara, "Hmm.. penjelasannya panjang dan rumit, namun bisa kubilang kalian itu 'istimewa'." Ucap Vino kepada kelima anggota Light Music itu.

Azusa kali ini kebingungan dan mulai berkata, "Istimewa? Apa Maksudmu?" Tanyanya dengan muka penasaran dan bingung.

"Baiklah.." Kata Vino, dia lalu mengeluarkan sesuatu dari kantung di jasnya dan bergeser dari posisi semulanya yang berada persis di depan monitor besar itu. Dia lalu mengarahkan benda yang dipegangnya itu menghadap ke monitor dan menekan benda itu. Monitor itu lalu menyala dan memutar sebuah video, dan Vino pun menjelaskan panjang lebar tentang Witches dan Neuroi.

"Tapi.. aku tidak mengerti. Kenapa kita tidak pernah mengetahui semua ini?" Tanya Azusa setelah selesai mendengarkan penjelasan panjang Vino.

Vino menjawab dengan cepat, "Itu.. keputusan seluruh dunia," Ucapnya kepada kelima perempuan itu, "Setelah semua Neuroi dengan misterius menghilang pada tahun 1950, semua negara di dunia membuat keputusan untuk melupakan semua kejadian ini." Lanjutnya, dengan nada dan ekspresi serius, berbeda dengan sikapnya yang santai sebelum ini.

"Setiap berita, acara televisi, siaran radio yang membahas kejadian itu, akan langsung di tutupi oleh pemerintah. Dan akhirnya, masyarakat lupa akan semua kejadian sebelumnya. Hanya segelintir orang yang masih mengetahui, dan mereka pun tidak diperbolehkan membicarakan itu." Ucapnya menyelesaikan perkataan dia.

"Naruhodo.." Kata Azusa, "Tapi, apa hubungan semua ini dengan kami?" Tanya Azusa kembali kepada Vino.

"Ya.. kalian ini.. 'spesial'. Kalian mempunyai tingkat kekuatan sihir yang tinggi, kalian itu Witch!" Seru Vino membalas pertanyaan Azusa.

"Kita.. Witch?" Tanya Mio, bingung atas perkataan Vino.

"Hai, kalian adalah Witch." balas Vino.

"Ki-kita..? Kau- kau pasti berbohong." Ucap Azusa yang terkejut atas perkataan Vino.

"Tidak, aku tidak berbohong." Jawab Vino, meyakinkan Azusa.

"Ta-tapi.." kata Yui yang tiba-tiba bergabung kedalam percakapan ini.

"Hmm.. baiklah, kalau kalian tidak percaya. Aku akan memberikan keputusannya kepada kalian sendiri," ucap Vino dengan kecewa, lalu dia melanjutkan "Kalau kalian ingin kembali, masuk kedalam pintu itu. Nanti kalian akan diantarkan ke tempat awal kalian."

"Ha-hai.." ucap Azusa, lalu mereka pun pergi menuju pintu yang berada di sebelah kanan mereka, dan membukanya. Mereka masuk kedalam dan menemukan lorong gelap panjang yang menuju ke dua sisi, sisi kanan menanjak dan sisi kiri menurun.

"Ehh? Tempat apa ini?" Tanya Ritsu dengan bingung, lalu tiba-tiba lantai yang mereka pijak bergerak - mengejutkan mereka semua.

"Ooohh, sou! sou! Lantai ini bergerak dan akan mengantarkan kita ke tempat awal tanpa kita harus berjalan, sugoi ne.." Kata Mugi dengan senang, kagum atas kecanggihan teknologi yang mereka saksikan sekarang.

"...Sou desu ne.." Ucap Azusa menyetujui perkataan Mugi.

.

.

Mereka pun sampai dan perlahan lantai yang mereka pijak memperlambat dengan sendirinya. Lalu, pintu yang berada di kanan mereka pun terbuka dengan sendirinya.

"Hmm, baiklah. Sepertinya kita telah sampai, mari kita kembali ke ruangan klub." kata Mio setelah mereka semua keluar dari lorong itu. Mereka pun kembali ke ruangan penyimpanan tempat instrumen mereka berada.

Azusa mengambil gitarnya dan gitar Yui, lalu memberikannya kepada Yui yang terlihat sedang melamun, "Ini, Yui-senpai." Kata Azusa sambil memberikan Giitah kepada Yui.

"Hah? Oh, arigatou Azu-nyan." kata Yui berterima kasih kepada Azusa, dan mengambil gitarnya dari tangan Azusa.

"Ano.. Yui-senpai? Kau tidak apa-apa?" Tanya Azusa yang khawatir dengan sikap Yui yang tidak biasa itu.

Yui membalas dengan cepat, "Hm, aku tidak apa-apa Azu-nyan." ucap Yui dengan senyuman.

"Baiklah.." Balas Azusa, "Ayo, kita kembali ke ruang klub." lanjut Azusa, yang dibalas dengan anggukan Yui. Mereka pun berjalan menuju ruang klub ditemani oleh langit yang sudah berwarna jingga dan matahari yang bersembunyi dibalik pepohonan. Namun, Yui tidak bisa melupakan kejadian itu dan memikirkannya dengan keras.

'Jadi, Strike Witches huh?'


To Be Continued つづく

(A/N): Kalau ada yg bingung tentang lantai berjalan, itu semacan eskalator, tapi kalau eskalator kan kayak tangganya yg jalan, nah kalo ini lantainya yg jalan ^^"

PS: Chapter keluar setiap seminggu sekali (kecuali kalau ada halangan, hehehe) ^^V