About Us

Assassination Classroom © Yuusei Matsui

Story © Arisa-Amori27

Romance

Gaje,abal,aneh,EYD amburadul, diksi belepotan, Typo(s) epliwel, AU, Sho-ai

All x Nagi

.

.

.

Chapter 2 : Jikan (Time)


Asa (Morning)


Namanya Norita Yuuji, siswa tahun ketiga jurusan Sosial SMA Kunugigaoka. Pagi itu, jarum jam masih menunjukkan pukul enam lebih lima. Langkah kakinya ringan menyusuri koridor sekolah yang sepi nan sunyi. Jemarinya merapihkan –menjabrikkan rambut kehitamannya. Sesekali dasinya ditarik ulur menyesuaikan kerah leher, tak lupa membenahi kemeja keabuan yang membalut tubuhnya.

3-A…. 3-B….. 3-C…. 3-D…..

Aha, ini dia kelas 2-A yang ia cari semenjak tadi !

Ia melongokkan kepalanya sedikit, mencari-cari surai sebiru horizon yang membuainya dalam keindahan jatuh cinta. Selaput itu menangkap sesosok pemuda biru tengah mengetik. Jemari lentiknya menari-nari di atas papan ketik, lincah. Atensinya terpusat pada layar tipis beradiasi, terkadang kedua irisnya beralih pada lembar kertas fotokopi.

Yuuji nyengir. Ia berbalik, kembali merapihkan penampilan yang sebenarnya sudah keren. Setelah selesai dengan segala persiapan, ia melangkah pasti ke arah depan pintu. Terlihat disana, ada seorang gadis tengah mengatur seragamnya di depan kaca pintu kelas.

"Ehm, permisi dek…"

Si gadis menoleh, seketika mengernyitkan kening, "Iya, senpai ? cari siapa ya ?"

"Shiota Nagisa ada ?"

"Nagisa ?" Kerutan di dahinya semakin kentara jelas.

"Ada atau tidak ?" Yuuji mulai kehilangan kesabaran.

"Seharusnya senpai tahu kalau dia ada, dari tadi senpai sudah mengintip bukan ?" Ujar si gadis penuh tanya. Yuuji mati gaya.

"Pokoknya panggilkan dia, bilang padanya ada keperluan penting !" Titahnya.

"Ya, ya aku panggilkan" Ujar si gadis ogah-ogahan.

Menit berikutnya pemuda biru itu sudah di depannya dengan tatapan bertanya. Yuuji pasang tampang ganteng sedangkan raut muka Nagisa bak orang hilang.

"Ada apa, senpai ?" Tanya Nagisa.

"Ah, sebelum itu perkenalkan, aku Norita Yuuji, senior kelas tiga jurusan Sosial paling ganteng dan keren ! Salam kenal Nagisa-chan !"

Nagisa mengerutkan dahi tak suka, "Ada keperluan apa ?"

"Begini.. em… To the point saja… aku suka padamu" Ungkapnya blak-blakkan.

Seketika mimik wajah Nagisa berubah menjadi ekspresi siapa-elo-siapa-gue dengan tak elitnya.

"Maaf, aku tak mengerti maksudmu, tolong seriuslah, aku tak harus membuang waktuku dengan ini.." Ujar Nagisa sedikit ketus.

"Kenapa harus terburu-buru sih ? aku'kan ingin mengenalmu lebih dekat, oh ya… berikan aku nomor ponselmu, akun Facebook, akun Twitter, Pin BBM, LINE, Instagram…"

"Sebentar ! Senpai mau menerorku ? Aku tak bisa memberikan akun pribadiku pada sembarang orang !" Ucap Nagisa memotong ucapan Yuuji.

"Ayolah…" Yuuji memasang wajah memohon.

"Tapi, aku-"

"SHIOTA NAGISA ! SELESAIKAN PROPOSAL BULAN BAHASA SEKARANG JUGA !"

Telinga Nagisa terasa pengang berkat teriakan ketua panitia alias Kataoka Megu. Gadis itu tengah memandang garang padanya. Nagisa seketika jiper. Kembali, ia tolehkan kepalanya pada sang senior.

"Aku masuk dulu,senpai" Pamitnya.

"Ah tunggu, Nagisa-chan !" Cegahnya sembari menahan lengan Nagisa.

"Apa ?"

"Istirahat nanti kita sambung lagi, yah ?" Pinta Yuuji.

"emm, kalau aku tidak sibuk" Ujar Nagisa.

"Kuanggap itu jawaban ya !" Yuuji berucap. Nagisa mengangguk pelan, sebelum meninggalkan Yuuji terambang pada daun pintu.


Hiruma (Daytime)


Sial. Silahkan tambahkan pada namaku. Kimura 'sial' Masayoshi. Oh, jika perlu beri aku julukan Kimura si makhluk sial tapi JUSTICE.

Yep, jangan tanyakan aku mengapa aku bisa begini. Ini dimulai ketika aku bangun, sialnya alarm bututku kehabisan baterai. Walhasil, aku harus terbirit-birit pergi ke sekolah. Di saat sampai, aku berhadapan dengan guru tatib karena terlambat lebih dari sepuluh menit. Setelah itu aku menulis surat pelanggaran dan mencari tanda tangan guru kesiswaan serta guru pengajar. Sialnya (lagi) aku tak menemukan guru kesiswaan itu.

ARRGH ! bikin pusing saja.

Akhirnya yang kulakukan adalah mempalsukan tanda tangannya (kebetulan aku pernah melihatnya) dan memasuki kelas serta menyerahkan kertas pelanggaran pada guru pengajar. Dan inilah yang paling sial, ketika aku sudah duduk dibangku tersayangku, guru pengajar itu menyerahkan selembar kertas penuh angka. Dalam sekejap, aku melongo bak diberi segelas teh rasa daging sapi.

"Lho, kamu lupa kalau hari ini ada ulangan ?" Ujar si guru pengajar, sedangkan aku hanya makin merutuk dalam hati. Ketika hasil ulangan dibagikan, aku hanya pasrah saat guru matematika itu menceramahiku panjang lebar dan menyuruhku belajar lagi.

Dengan hati yang luar biasa dongkol, aku melangkah ke perpustakaan untuk meminjam beberapa buku bertulis rumus yang –katanya– dapat membantuku belajar.

Aku menyusuri gang sempit diantara rak-rak buku yang berjejer rapih. Jemari telunjukku yang menjulur mulai menyusuri nama demi nama buku bersampul itu, hingga telunjuk pucat porselen hampir bersentuhan dengan jemariku. Aku terkesiap, setengah memekik saking terkejutnya.

"Na-Nagisa ?!" Pekikku.

"Oh, Kimura-kun ternyata. Huff, kau mengagetkanku tahu !" Ujar pemuda bersurai biru itu.

"Seharusnya aku yang berkata seperti itu !" Ucapku, tak sengaja meninggikan oktaf.

"Ssstt…" Desisnya sembari menempelkan telunjuknya di bibirku.

"Kau mengganggu orang yang sedang membaca, Kimura-kun"

Oh, sial !

Aku berumpat lirih, entah dengan kekuatan sihir apa, pemuda di depanku ini mampu membuat debar jantungku lebih cepat, secepat ketika dikejar guru BK karena ketahuan menyusup saat terlambat.

"Jadi ada perlu apa kau kemari ?" Tanya Nagisa, alisnya naik sebelah.

"Memangnya salah jika seorang murid berada di perpustakaan ?" Tanyaku balik.

"Bukan begitu. Hanya saja tumben sekali kau ke perpustakaan, biasanya jam segini sudah tepar di bangku atau taman" jelasnya.

"Wah, kau sampai tahu kebiasaanku, jangan-jangan kau stalker yah ?"

"Kalau iya kenapa ?"

Frasanya membekukanku dalam sekejap. Mataku mengerjap cepat, setiap sel-sel otakku mencoba mencerna kalimat Nagisa.

"Sebentar, Nagisa. Jadi selama ini kamu.."

"Ya bohonglah ! Untuk apa aku jadi stalker-mu ?" Ucapnya. Aku menghela napas lega.

"Oh, kukira"

"Jadi butuh bantuan, Kimura-kun ?" Tanya Nagisa.

"Errrr…. Aku butuh buku panduan belajar matematika"

"Matematika ?" Nagisa mengerutkan kening.

"Aku baru saja dapat nilai jelek saat ulangan Matematika"

"Daripada belajar dari buku, lebih baik belajar pada teman yang mengerti saja" Ujarnya memberi saran.

"Ya, aku mau saja, tapi dengan siapa aku harus meminta tolong ?" Tanyaku.

"Bisa pada Karma atau Asano-kun mungkin ? Kau tahulah mereka itu jenius" Usulnya.

"Aku tidak mau !" Tolakku spontan.

Yah, siapa juga yang tak kenal dengan Akabane Karma dan Asano Gakushuu ? Walau yang satu tukang jotos yang satu lagi tukang melotot tapi otaknya jos tiada banding. Tetap saja, aku tak ingin berurusan dengan mereka berdua. Bisa-bisa aku gila dan masuk rumah sakit jiwa.

"Eh, kenapa ? Setidaknya mereka bisa membantumu bukan ?" Tanya Nagisa sembari memiringkan kepalanya. Aduh manisnya.

"Bantu sih bantu, tapi akhirnya kalau tidak dihajar ya diintimidasi" Ujarku.

"Jadi, kau maunya dengan siapa ?" Tanyanya mulai putus asa.

"Denganmu saja !" Cetusku tanpa pikir panjang.

"E-eh ? tapi aku ini tak pan-"

"Juara tiga olimpiade matematika tingkat provinsi dan juara dua olimpiade MIPA tingkat nasional, masih mau bilang tak pandai ?" Ujarku sedikit menyeringai.

"um…itu kebetulan kok, lagipula tetap saja, yang dapat juara satu kalau tidak Asano-kun ya Karma !" Sanggahnya.

"Aku tidak peduli, yang terbaik itu belum tentu nomor satu, lagipula aku maunya kamu, hanya kamu! Tidak Karma maupun Asano, aku maunya kamu !" Ujarku ngotot.

"Iya, ya ! tapi, tanganmu kalau pegangan jangan keras-keras dong !"

Aku terhenyak, baru menyadari bahwa aku menggenggam lengan Nagisa dengan kuat, hingga warna merah membekas apik pada pergelangan kurus itu.

"Maaf, aku terlalu bersemangat…"Ujarku sembari nyengir.

"Kalau begitu, sepulang sekolah nanti, di perpustakaan ya.." Nagisa berlalu cepat sebelum aku sempat mencegahnya.

Ah, kupikir hari ini tak begitu sial menurutku.


Gogo (Afternoon)


"AYO LATIHAN ! PEMAIN KUMPUL !

"MALEEESS !"

"AYO ! SEBELUM PEMBINA DATANG !"

"NANTI SAJA ! AKU LAGI MALES !"

"ADEGAN SATU…."

"MAMPUS LU ! LATIHAN YOK !"

"CAMERA…"

"LEVEL YANG PANJANG TARUH TENGAH WOY !"

"ROLLING…"

"PEDANGNYA TARUH DULU !"

"ACTION !"

Hiruk pikuk sore itu memenuhi gazebo sekolah. Teriakan demi teriakan terlontar nyaring, menabrak pilar penyangga atap dan memantul ke seluruh penjuru sekolah. Lagu Lavender's Blue ikut serta sebagai pengiring.

Tak banyak siswa yang berada di sekolah, mungkin hanya murid dengan keperluan yang terlewat pentinglah yang masih tinggal di sekolah. Laksana pemuda biru yang sedang menatap lembayung senja ditengah rehat latihan sembari memutar otak untuk adegan selanjutnya.

"Melamun ?"

Nyeeeess!

Nagisa terkesiap. Dingin merambati pipi pualamnya yang kemerah-merahan. Sontak tangannya memegangi pipinya. Ia menoleh, mendapati teman berambut poni abnormalnya.

"Chiba-kun ! Kau bikin kaget saja !"

"Maaf, maaf. Ini, sekaleng teh untukmu. Otsukare~" Ujar Chiba sembari menyerahkan kaleng teh.

"Wah,terima kasih, jadi merepotkanmu"

"Santai saja. Aku tahu kamu kecapekan setelah berteriak tadi" Sanggahnya.

"Terima kasih sudah perhatian padaku" Ucap Nagisa malu-malu.

Chiba hanya mengangguk singkat sebagai balasan. Setelah itu hening, keduanya sama-sama membungkam suara. Mencari topik lain agar bisa dibahas bersama. Atmosfir disekitar mereka mulai memuakkan dada. Mereka duduk bersebelahan tapi mulut hanya berbisu saja.

"Um, Chiba-kun itu… mengurus bagian apa ?" Tanya Nagisa sekedar baik budi yang terlewat basi.

"Perlengkapan atau bisa disebut juga properti. Kenapa ? butuh bantuan ?" Chiba berbalik tanya.

"Tidak juga. Properti drama sudah selesai, yah aku hanya menanyakannya saja.. haha.." Ujar Nagisa seraya tertawa garing renyah.

"Jadi, bagaimana perkembangan drama ? Sudah berjalan dengan baik ?"

Nagisa menggeleng, "Perkembangannya tidak begitu bagus, pemainnya tak bisa diatur, seenaknya sendiri. Aku jadi bingung harus bersikap bagaimana pada mereka" Jawab Nagisa, wajahnya menunduk sedih.

"Kalau mereka tak bisa profesional, buang saja mereka, kita tak butuh pemain tak berguna. Toh, mati satu tumbuh seribu, bukan ?" Ujar Chiba tajam. Nagisa bak dirajam.

"Itu tidak mudah, mengingat sekarang sudah mendekati hari H. Aku tidak mau repot-repot mengurusi pemilihan pemain lagi" Tolak Nagisa halus.

"Terserahmu. Aku hanya memberi saran" Ucap Chiba.

"Terima kasih-Hoaahm~"

"Mau tidur sebentar, Nagisa ?" Tawar Chiba.

"Ya, aku akan mengambil tasku untuk jadi bantal"

Sebelum Nagisa sempat berdiri, Chiba menarik lengan Nagisa. Membuat Nagisa kembali terduduk. Jemarinya menuntun kepala Nagisa bersandar pada bahunya.

"Apa yang-"

"Kau tak butuh tas sebagai bantal sementaramu. Ada aku disampingmu yang bisa kau jadikan sandaran" Ucap Chiba.

"Kita dilihat banyak orang, Chiba-kun !"

"Masa bodoh dengan orang lain, yang penting kau bisa beristirahat sebentar"

"Ta-tapi-"

"Sudahlah, tidur saja !"

Nagisa menghela napas, menyerah pada pemuda dengan poni menutup mata itu. Akhirnya ia mulai memejamkan mata, sembari menetralisir degupan jantung yang kian lama makin cepat, sebelum jatuh dalam buaian alam mimpi.

"Gute Nacht, Prizessin."


Yoru (Evening)


Kala itu adalah malam yang mencekam bagi Shiota Nagisa. Wallpaper bermotif bunga-bunga merah marun mempesona, kini bercak darah memenuhi dinding tak berdosa. Ruangan terang berpancar kebahagian telah jadi tempat eksekusi mati para pendusta. Sinar bulan menelusup masuk disela-sela robekan gorden akibat koyakan brutal. Sofa dan meja terbalik dan terbelah jadi dua.

Pemuda mungil itu merapat pada dinding, tubuhnya menggigil hebat, bibirnya bergemelutuk cepat, wajahnya pias pucat. Irisnya menoleh ke kiri, mendapati ibunya yang tergeletak, tak bergerak maupun bernapas. Napasnya memburu, jemari tangannya menjambaki rambut kebiruannya.

'Tolong… Siapapun tolong aku…'

Tap.

Nagisa mendongak. Iris Aurum yang berkilat ditimpa segaris cahaya, menatapnya nyalang. Bibirnya mengukir senyum miring, seringai. Pipinya ternoda darah merah segar. Sebilah belati tergenggam erat pada jemari lesinya.

"A-apa yang kau inginkan dariku, K-karma ?"

Pemuda merah itu bergeming, namun langkah makin mendekati Nagisa, perlahan-lahan tapi pasti. Belati itu berkilau sengit ketika bertemu dengan cahaya tipis. Wajahnya sedingin es, lagaknya bagai robot, tatapannya datar tanpa perasaan –Bukan ! ini bukan Karma yang Nagisa kenal !

Langkahnya mendekat, jantung berdegup cepat, aliran darah mengalir kencang, kedua tangan berkeringat dingin. Setengah jiwanya sudah pergi, sedangkan setengah jiwa yang tertinggal sudah siap untuk dicabut paksa.

Karma mulai mengacungkan belati itu. Nafsu membunuhnya kentara jelas, menciutkan keberanian Nagisa.

Langit siap memainkan orkestranya yang menakutkan. Tawa setan siap berkumandang. Ruangan ini siap ia tinggalkan.

Sterben. Sterben. STERBEN. STERBEN.

Karma sudah berdiri di depannya, belati teracung bengis, mata tajam menghunus objek.

Tinggal beberapa detik lagi, Nagisa….

Pisau terayun cepat, Nagisa menutup mata.

JLEB !

Setelah itu Nagisa terhempas ke lantai. Tak sadarkan diri, karena terlampau syok.

Karma mencabut pisau yang tertancap pada dinding berselimut wallpaper robek itu. Memandang lembut pada Nagisa sejenak, sebelum ia berbalik dan pergi.

"Maafkan aku, Nagisa" Bisiknya.


Mayonaka (Midnight)


Asano Gakushuu memijit atas hidungnya. Matanya ia pejamkan sejenak, mengusir pening yang menyerang telak pada syaraf halus. Ia menghempas napas lelah, kertas dalam genggamannya tak ia acuhkan. Selaput bening itu melirik bundaran yang berdetak. Jarum panjang menunjuk pada angka 12 dan jarum pendek yang mengistirahatkan diri angka yang sama.

Ketua Osis Kunugigaoka itu mengalihkan perhatiannya pada seseorang di pembaringan sana. Terlelap dalam buaian bunga tidur panjang. Asano mendekat perlahan-lahan, berusaha tak membuat satu suarapun. Sekejap, dirinya sudah sampai pada bibir ranjang.

Iris violet itu memandang lirih pada tubuh berhias selang infus dan alat bantu pernafasan. Jemarinya menaut jari kecil milik pemuda surai langit itu. Wajahnya yang tertidur, terlihat damai bagai tak berbeban. Padahal pundak kecil nan ringkih itu telah memikul banyak problematika kehidupan. Nafasnya nampak naik-turun teratur.

"Mau sampai kapan kau akan tidur, Nagi ?" Gumamnya bertanya pada pemuda yang kerap disapa Nagisa. Sang objek hanya bergeming –memang seharusnya diam seolah mengabaikan pertanyaan sang empu.

"Kau tahu ? Ibumu, teman-temanmu –kelas 3E…" Asano mengambil napas.

"…mengharap kau bisa kembali bangun dan kembali bersama kami, aku janji, jika kau bangun, aku akan mengajakmu ke taman hiburan, seperti yang kita lalui saat kecil dulu. Kau ingat ?" Celotehnya tanpa balasan, persis seperti malam-malam sebelumnya. Dimana dia akan menjadikan kamar rawat inap Nagisa sebagai rumah keduanya, mengerjakan tugasnya, setelah itu bermonolog bersama Nagisa yang masih lelap dengan mimpinya.

"Kau ingat ? Dulu kita bertiga –Aku, kau dan si Setan Merah alias Karma bermain di taman Dream Land saat kelas dua SD, aku sempat panik kehilanganmu dan bocah merah itu, untunglah aku menemukan kalian berdua duduk-duduk santai di bangku" Ujarnya sembari terkekeh.

"Yah, aku rindu masa-masa itu, waktu kau masih bisa berlari dengan girang kesana-kemari, tertawa lepas tanpa kemunafikan dan selalu ceria setiap saat. Aku rindu itu semua, Nagi. Aku rindu kamu"

"Sudah puas dengar itu semua, Nagi ? Kalau begitu, selamat tidur, Nagi. Mimpi indah" Ucapnya sembari mengecup lembut dahi Nagisa dan mematikan lampu, sebelum ikut terlelap di sebelah Nagisa.


Theme 2 : END


VOCAB :

Gute Nacht : Selamat beristirahat

Prizessin : Puteri

Sterben : Bunuh


Halo ? /krik krik

Ada yang kangen Arisa ? /gak ada

Sebelumnya, Arisa minta maaaaaaaf baaaangeeet, ini ngaaaaaareeeeeeet banget naujubilleh ! dan malah post-nya di tengah UAS /bandel ni anak

Terutama sama Shinra-san yang req tema 'Waktu' ini :'v sama Kuo-san yang req pair YuuNagi :'v Semoga terbalaskan yah~~

Yah ada faktornya sih, nah disalah satu drabble ada curhatan Arisa disana :'v /cie melacur

dan ada curhatan temen Arisa ikut masuk, silahkan ditebak :'v

seperti biasa, saran tema sangat dibutuhkan :'v

Sekian dari Arisa...

Terima kritik dan saran...

BUT, no for FLAME !

Unterzeichnet,

Arisa-Amori27