Disclaimer: Tadatoshi Fujimaki

Genre: Romance, Drama, Friendship, etc.

Warning: OOC, GAJE, TYPO(?), etc.


Hening.

Kau tidak merespon pernyataan Akashi barusan.

Setelah selang beberapa saat, akhirnya kau angkat bicara. "Ne, Akashi. Memangnya supirmu tidak mencarimu?"

"Dia sudah bilang tidak akan menjemputku."

"Tidak apa nih, kau terus menggendongku?" Tanyamu dengan nada tidak enak.

"Aku bertanggung jawab atas penggemarku. Walaupun bukan aku yang melakukannya, tetapi secara tidak langsung aku yang melakukannya." Tutur Akashi.

"Beneran tidak apa? Bukannya kau akan tambah pendek ya?" Ujarmu dengan nada mengejek.

"Urusai, [Name]!"

"Ne, Akashi. Aku turut berduka," ujarmu sangat hati-hati. Takut membuka luka pemuda yang sedang menggendongmu.

"..." Akashi tak merespon.

"Maaf, tapi aku tidak bermaksud." Ucapmu yang sedikit menyesal. Tetapi juga lega karena bisa mengatakannya.

"Tak apa. Terima kasih." Responnya dingin.

Setelah beberapa lama...

"Istirahat dulu," Akashi berjalan ke arah tempat seperti halte.

Saat kalian sudah duduk, kau mengatakan hal yang sempat terlupakan.

"Akashi, kau bilang kau bertanggung jawab kan?" Akashi menyimaknya. "Tetapi dulu kau tak melakukan hal seperti ini."

Akashi bungkam. Tak tahu apa yang akan dikatakannya.


Akashi menurunkanmu dengan perlahan.

"Maaf dan terima kasih, Akashi!"

"Tak masalah."

"Kalau begitu aku masuk dulu ya." Kau memasuki mansion. Akashi hanya memandangi punggungmu sampai menghilang. Lalu pulang ke rumah.

Sesampainya di kamar kau segera berganti baju lalu bersiap membaca novel. The Monochrome World. Tapi tunggu, bukankah ada di tas? Tasmu kan ada di Kagami.

"Arrrgggghhhhh!" Gerammu kesal.


Keesokan paginya kau berangkat 30 menit dari sebelumnya. Tahu mengapa? Untuk mengantipasi kejadian kemarin tidak terulang. Kau memakai sepatu cadangan.

Saat kau turun dari mobil, dan di situ juga terlihat Akashi Seijuurou yang turun dari mobilnya. Kau segera berjalan cepat mendahului Akashi.

Akashi yang menyadari tindakanmu tersenyum mengejek.

Setelah kau mengganti sepatu dengan uwabaki, tanpa basa-basi langsung menuju kelas setelah melihat Akashi sudah dekat.

Sampai kelas dengan selamat!

Di kelas ini hanya baru ada kau.

KRIET

Pintu terbuka dan menampakkan Akashi yang memasuki kelas. Kau pura-pura tidak mengetahuinya.

"Bagaimana, selamat mengganti uwabaki?" Akashi menyeringai. Kau mengabaikannya. Tapi berdecih. Akashi duduk di tempatnya.

"[Name]?" Akashi memanggilmu.

"Hn?"

"Harukaze Takuna itu... teman SMP-mu, ya?"

Deg Deg Deg

Takuna-kun! Ah, aku selalu suka jika membicarakan Takuna-kun.

"Ya, kenapa?" Tanyamu yang ingin melanjutkan pembicaraan. Karena objeknya Harukaze.

"Tidak, hanya bertanya." Kau langsung memasang raut kecewa. Akashi tidak berterus terang.

"Menurutmu Takuna-kun itu bagaimana?" Ujarmu berterus terang.

"Tidak tahu. Aku belum berbicara padanya." Lalu Akashi menghadap ke depan. Menyelesaikan pembicaraan tentang Harukaze Takuna.

KRIET

Pintu terbuka lagi untuk yang ketiga kalinya. Dan terdapat sosok Harukaze di ambang pintu.

Sosok tinggi, 180 cm di atas Akashi. Bersurai hitam dengan potongan rambut ke kazan dan sedikit berjambul. Manik hitam-kelabu. Bibir yang selalu terlihat tersenyum. Sosok yang mirip seperti pemeran action.

"Ohayou, [Name]!" Sapa Harukaze kepadamu.

"Ohayou, Takuna-kun!" Balasmu dengan tersenyum.

Harukaze melirik penampakkan orang selain dirimu. "Ah, pagi Akashi-san."

Akashi terlihat terkejut dengan sapaan Harukaze barusan. "Hn."

Harukaze duduk di tempatnya.

"Oh ya, Takuna-kun. Walaupun aku baru membaca seperempat bukunya, tapi sudah seru saja!" Serumu.

"Benar kan!" Harukaze langsung bersemangat.

Kau dan Harukaze terus berbincang-bincang. Yang tanpa kalian sadari, Akashi terus memperhatikan kalian berdua. Memandang dengan pandangan cemburu. Ya, Akashi cemburu. Cemburu pada Harukaze.

...

"Jika semuanya sudah selesai mengisi angket, harap kumpulkan pada saya. Di ruang guru."

Setelah semuanya mengumpulkan angket, Akashi berbicara. "Bawa ke ruang guru, [Name]!" Perintahnya.

"Kau saja. Kau kan ketua kelas!" Bantahmu.

"Sensei bilang padaku untuk memilih satu. Dan sensei bilang tidak boleh membantah." Akashi tersenyum penuh kemenangan.

"Tch," desahmu.

"Semua yang ada di meja guru, bawa semua!"

"Maksudmu?!" Ucapmu geram.

Bagaimana tidak! Berarti bersama soal latihan tiga pelajaran sebelumnya. Dan berarti kau harus membawa 80 lembar.

"Oke!" Ucapmu kesal.

Kau mengangkat kertas-kertas tersebut. Dan tingginya menutupi wajahmu.

Harukaze berdiri dari tempatnya, menujumu lalu mengambil tiga perempat kertas tersebut.

"Takuna-kun!"

Deg Deg Deg

Takuna-kun baik sekali!

Harukaze tersenyum lalu berjalan menuju ruang guru yang berdampingan denganmu.

Akashi membulatkan matanya tak percaya. Rasa cemburu kembali menyerangnya.


"Arigatou, Takuna-kun!" Ucapmu seraya berjalan di koridor setelah menyerahkan kertas-kertas tersebut.

"Douita." Balasnya singkat.

"Takuna-kun beda ya, dengan laki-laki yang lain." Tuturmu.

"Maksudmu?" Harukaze mengangkat sebelah alisnya.

"Tidak ada laki-laki yang sangat baik pada semua orang. Takuna-kun sangat baik kepada semua orang. Bahkan kau rela menolong orang yang tidak ada sangkut pautnya denganmu." Ungkapmu.

"Benarkah? Aku selalu berusaha semaksimal mungkin untuk orang disekitarku."

Kau tersenyum. "Kau tahu, Takuna-kun. Aku senang berada di SMA yang sama denganmu." Kau tersenyum tulus.

Harukaze membulatkan matanya. Lalu tersenyum. "Aku juga senang berada di sekolah yang sama lagi denganmu."

Sekarang ini gantian kau yang membulatkan mata.

"Kau orang yang peduli dengan sesama. Kau tidak membeda-bedakan teman. Kau juga tidak pilih kasih. Dan, kau juga bukan seorang pendendam. Akashi Seijuurou itu teman SD-mu, kan. Aku tahu dulu dia suka mengerjaimu. Tapi kau melupakannya kan, itu menandakan tidak ada dendam padanya." Tutur Harukaze.

"Dan juga, saat kelas satu SMP, saat Shiroka-san marah padamu karena Koreki menyukaimu, kau tak marah padanya. Saat kelas tiga, saat Harumi sakit, kau membuatkan catatan untuknya yang berada di UKS. Saat study tour, tepatnya saat kau mengantri ice cream, ada anak laki-laki yang mengantri di belakangmu. Kau mempersilahkannya duluan. Padahal kau tahu ice cream tersebut tinggal satu. Dan juga kau sudah mengantri lama."

Kau semakin terkejut dengan ucapan Harukaze barusan.

"Ah, maaf aku banyak bercerita. Aku duluan," Harukaze cepat-cepat melangkahkan kakinya tanpa menunggu jawaban darimu.

Kau tak menyadari semburat merah yang menghiasi pipi Harukaze dan pipimu.

Takuna-kun mengetahui hal yang kulakukan? Apakah dia memperhatikanku? Kalau begitu, mungkinkah ia menyukaiku? Ah, itu tidak mungkin. Tapi, jika Takuna-kun juga menyukaiku, akan sebahagia apa hidupku nanti.

Harukaze membuka pintu kelas. Tatapan Akashi langsung tertuju padanya. Menatap tajam Harukaze yang datang sendiri dan menutupi wajahnya dengan semburat merah dipipinya. Apa yang terjadi pada mereka berdua?! Perasaan cemburu kembali menyerangnya.

Tak lama kau datang dengan ekspresi yang sama dengan orang yang sebelumnya memasuki kelas ini. Dan tatapan Akashi juga sama.


TEEEETTTT

Bel itu menandakan bahwa kegiatan belajar telah usai hari itu.

Kau yang sudah tidak sabar untuk segera menuju Klub Baton, buru-buru membereskan bukumu dan tancap gas menuju tempat.

"Sumimasen, kemarin saya tidak hadir!" Kau membungkukkan punggungmu saat mencapai lapangan indoor tempat berlatih.

Semua anggotan Klub Baton memang sudah berkumpul tapi belum memulai kegiatan.

"Ah, hisashiburi [Name]-chan!" Sapa salah satu senpai. Sepertinya ketua.

"Takira-senpai!" Serumu terkejut.

Orang itu adalah Takira Yuna, mantan senpai di SMP. Dia juga berada di Klub Baton bersamamu saat SMP. Sebenarnya kau sudah mengetahui bahwa ia masuk SMA Teiko. Sekarang dia berada di kelas tiga.

"Oh baiklah, kita perkenalan ulang," semua anggota klub berkumpul.

"Anggota Klub Baton tahun ini ada 9 orang. 3 orang kelas tiga, 4 orang kelas dua, dan 2 orang kelas satu. Dan pastinya semua perempuan." Jelas Takira.

"Ayo, perkenalan dirimu, [Name]-chan!"

"Hajimemashite. Saya[Surname] [Name] dari kelas 1-A. Yoroshiku!"

Senpai dengan warna rambut putih keabu-abuan adalah Takira Yuna. Dari 3-C.

Senpai dengan warna rambut kuning dan iris yang senada adalah Kise Rukira. Dari 3-C.

Senpai dengan warna rambut coklat terang adalah Shirayuki Shiro. Padahal warna rambutnya bukan putih. Dari 3-A.

Dua orang senpai kembar bernama Yukari Yuka dan Yukari Yuko. Warna rambut mereka merah muda terang. Yuka berada di 2-C dan Yuko di 2-D.

Senpai dengan warna rambut hitam keabu-abuan adalah Kunomi Kara. Dari 2-A.

Senpai dengan warna rambut hitam pekat adalah Shanyao Akari. Chinese. Dari 2-C

Dan murid yang sebaya denganmu adalah Haruki Era. Warna rambutnya hijau pudar. Dari 1-C.

Di tempat lain di sekitar Teiko kouko.

Seorang Akashi Seijuurou mendribble bola basket dengan ekspresi yang bisa dibilang sebal. Pass-nya juga tidak karuan.

Apalagi saat tidak sengaja ia melirik Kagami Taiga. Bola basket tersebut ia lempar ke arah tembok. Sementara anggota lainnya memandang si kapten heran.

"Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Akashi-kun?" Tanya Kuroko simpati.

"Entah!" Jawabnya kasar. Lalu menuju bench dan meneguk air sebanyaknya.

...

Waktu latihan sudah berakhir, yang lain sudah mengganti bajunya kecuali Akashi. Akashi yang masih berada di gym.

"Tidak pulang, Akashi?" Tanya Midorima yang sudah siap pulang dengan yang lainnya.

"Kalian duluan saja. Aku masih akan berlatih." Tolaknya.

Yang lainnya sudah pergi dan tinggallah Akashi sendiri di gym.

Ia meraih bola berwarna oren tersebut. Mendribblenya lalu menshootnyake ranjang selama berulang-ulang.

Kenapa? Kenapa aku bisa secemburu ini? Apa ada yang salah denganku? Melihatnya tersenyum bahagia bersama Takuna sangat membuatku sakit!

Akashi melempar bola tersebut ke tembok lagi. Lalu mengganti baju dan menuju loker sekolah untuk pulang.


Latihan baton hari itu hanya sebentar. Hanya 30 menit. Sebelum kau pulang, Takira menahanmu untuk berbincang-bincang. Lagipula belum terlalu sore. Kalian berbincang-bincang di teras atau di depan pintu lapanganindoor.

"Jadi, bagaimana sekolah di sini?" Tanya Takira.

"Menyenangkan!" Ucapmu dengan tidak menambahkan kata 'tapi'

"Jadi, sudah ada yang menarik perhatianmu?" Tanya Takira jail.

Oh ya, satu lagi tentang Takira Yuna. Dia demen banget sama yang namanyacogan alias cowo ganteng atau ikemen. Senpai ataupun kouhai akan tetap ia bicarakan, asalkan tampan.

"Kebiasaanmu timbul ya, senpai!"

"Hehe," Takira tertawa renyah. "Kau di kelas 1-A kan?"

"Ha'i!"

"Akashi Seijuurou juga di situ kan?" Tanya Takira bersemangat.

"I-iya,"

"Dia ganteng banget tau!" Takira mulai ber-fangirling.

"Hn." Ganteng ya? Gajah Tenggelam?

"Oh ya, Haru-kun ke SMA Teiko juga kan?"

"Harukaze Takuna?" Tanyamu memastikan.

"Ya!"

"Iya, kami juga sekelas." Ucapmu bersemangat.

"Kemarin aku lihat dia lagi jalan ke kantin. Haru-kun makin tinggi dan ganteng saja!"

"Ya," sahutmu tersenyum.

"Kamu pernah tertarik padanya?" Tanya Takira tersenyum jahil.

"A-apa? Ti-ti-tidak!" Semburat merah dengan cepat menjalar di pipimu.

"Haha, aku bercanda." Takira terkekeh.

Kalian berbincang-bincang tentang segala yang terjadi pada kalian.

Sudah ada orang yang menarik perhatianku sejak dua tahun yang lalu, Takira-senpai!


Akashi mengganti uwabaki dengan sepatunya. Dan, setelah ia memandang lurus ke depan, ke arah gerbang sekolah, ada pemandangan yang membuat Akashi meninju loker di sampingnya.

Kau dan Harukaze Takuna berjalan bersama dan bercanda di ambang-ambang senja.


"Eh, Takuna-kun?" Serumu terkejut melihat Harukaze yang juga sedang mengganti uwabaki.

"Baru mau pulang, [Name]?" Tanya Harukaze yang sudah selesai memakai sepatunya.

"Iya, tadi aku ngobrol dulu dengan Takira-senpai." Jelasmu.

"Takira-senpai masuk Teiko juga?"

"Hm,"

"Aku juga rapat jurnalistik dulu tadi,"

"Rumah kita searah, kan. Ayo, jalan bareng saja." Ajak Harukaze.

"Hontou? Tunggu!" Dengan cepat kau menyusul Harukaze.

"Ayo cepat," Harukaze menyentil jidatmu sambil tersenyum terkekeh.

Sementara kau hanya diam mati rasa. Kontak fisik pertamaku dengan Takuna-kun! Lagi-lagi semburat merah menghiasi pipimu.

Untung saja sudah di ambang senja, jadi Harukaze tidak menyadari semburat di pipimu.


Rumahmu berjarak 3 km dari rumah. Harukaze searah denganmu hanya saja ia berbelok ke kiri dan kau ke kanan saat ada perempat pertama. Sementara Akashi terus searah denganmu, hanya saja rumahnya berjarak 5 km dari sekolah.


"Besok kau harus pulang cepat ya, [Name]!" Ujar Nakusa, otou-sanmu saat makan malam. Okaa-sanmu sedang keluar kota.

"Memang kenapa?"

"Kita mendapat undangan makan malam dari keluarga Akashi."

Deg!

"Akashi?" Kau memperjelas.

"Ya. Akashi Seijuurou bersekolah di SMA Teiko juga kan?"

"Iya," jawabmu sudah malas.

"Bagaimana? Ia masih suka mengerjaimu, [Name], haha!"

"Otou-san!"

Sepertinya aku harus menyiapkan mental!


Keesokan paginya kau tetap berangkat 30 menit dari biasanya. Untuk mengantipasi kejadian 2 hari lalu tidak terulang.

Déjà vu seperti kemarin, baru turun mobil sudah terlihat Akashi.

Setelah selesai memakai uwabaki dengan cepat kau langsung melesat ke kelas.

...

"Kamu Harukaze Takuna kan?" Ujar sensei di akhir pelajaran.

"Ha'i." Harukaze mengangguk sopan.

"Berarti kau pembuat novel yang akan dimainkan peran oleh hollywood itu kan?"

"Hm... bisa dibilang seperti itu." Akunya.

"Semangat terus ya!" Sensei menepuk bahu Harukaze.


TEEEETTTT

Bel pulang akhirnya berbunyi. Kau yang sekarang disuruh pulang cepat karena ada undangan makan malam harus melaksanakan piket kelas dulu.

Ngomong-ngomong setiap hari ada 4 orang yang piket. Nah, hari ini kau cuma piket berdua. Kenapa? Karena yang satu sedang sakit di UKS dan yang satunya lagi ada lomba.

Jadi, sekarang kau hanya piket berdua dengan Akashi Seijuurou.

Setelah kelas mulai sepi, kau dan Akashi mulai melaksanakan piket.

Hening. Tidak ada percakapan kecil untuk mencairkan suasana. Hanya terdengar bunyi lantai yang disapu, jendela yang ditutup, kursi yang dinaikkan dan papan tulis yang dihapus.

Setelah sudah beres, kau mengambil tasmu dan keluar kelas, kalau seseorang tidak memanggilmu.

"[Name]!" Seru Akashi dengan suara berat.

"Ya?"

"Apa kau masih membenciku?" Tanya Akashi dengan tatapan mengintimidasi. Suara tersebut terdengar jelas karena jarak antara kalian hanya 1 meter.

Kau tersenyum tipis. "Kenapa bertanya seperti itu?" Kau menatap balik Akashi.

"Jawab saja!" Titahnya.

Senyuman tipis masih menghiasi wajahmu. "Asal kau tahu, Akashi. Aku tidak pernah membencimu. Selama ini aku juga tidak dendam dengan semua perbuatanmu. Aku bukan orang yang pendendam, kok." Jelasmu.

Terlihat jelas mata Akashi membesar karena terkejut dengan ucapanmu.

Akashi tersenyumtulus. "Terima kasih sudah memaafkan semua perbuatanku. Maaf aku selalu menganggumu, [Name]."

Sekarang giliran kau yang membesarkan mata. Senyuman apa itu? Tidak pernah kulihat ia tersenyum seperti itu. Aura yang ia pancarkan dari senyumannya tadi benar-benar beda dengan senyumannya biasa. Rasanya hangat dan penuh cinta. Lagipula, kata-kata apa itu barusan!

"Hn." Kau langsung keluar dari kelas.

...

Kalau ketuanya Takira Yuna, pekan pertama latihan memang sebentar. Tapi jangan salah, ia adalah orang yang tegas.

Lucky! Kau bisa pulang dengan cepat.


Deg Deg Deg Deg Deg

Sekarang ini kau sedang menapakkan kaki di kediaman Akashi.

Suasana mewahnya sebeles dua belas dengan masionmu. Sampai kau duduk di kursi meja makan, keteganganmu berkurang.

Tepat di depanmu, Akashi Seijuurou sedang menikmati makanannya dengan dandanan yang juga sebelas dua belas denganmu.

Oke, makan malam tersebut berlangsung dengan canggung, bagimu. Hanya bagimu.


Biasalah orang tua, ngobrol-ngobrol juga akhirnya. Pada malam itu Akashi bisa melihat dengan jelas. Ayahnya agak hangat.

Daripada bosan mendengar percakapan mereka. Kalian tahu kan, kalau orangtua ngumpul ngomongin apa. Sebagian besar sih, pasti ngomongin aib anaknya.

Karena bosan, kau berjalan menuju balkon.

"Ehem. Ada apa ke sini?" Ucap seorang yang sadari tadi memang sudah ada di situ.

"Akashi!" Serumu kaget.

"Aku hanya mencari angin. Ah, maaf jika aku mengganggu." Kau akan segera balik jika saja Akashi mengizinkanmu.

"Tak apa." Akashi menyamai letak berdirinya dan dirimu.

"Ngomong-ngomong, Takuna hebat juga ya. Novelnya sampai akan difilmkan oleh hollywood." Ujar Akashi dengan tidak ikhlas.

Senyummu mengembang. "Takuna-kun memang hebat!"

"Dia juga baik kepada semua orang. Orang tua maupun anak-anak selalu ia perlakukan dengan baik. Aku pernah melihatnya menpersilahkan seorang lansia untuk menduduki tempat duduknya. Dia juga selalu membela yang benar. Ia selalu menolong orang, walaupun orang tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan Takuna-kun..."

Kau terus mengoceh tentang Harukaze Takuna, tanpa sadar raut kecemburuan yang tertera di wajah Akashi.

"Intinya kau menyukainya, kan!" Potong Akashi.

Kau terkejut dengan pernyataan Akashi barusan. "A-apa? Aku ti-ti-tidak–"

"Terlihat jelas dengan kata-katamu tentang Takuna, yang barusan dan semburat merah dipipimu!" Jelas Akashi.

"Be-benarkah?" Kau menepuk kedua pipimu. Dan benar saja, panas!

"Mou!" Kau duduk dan menyembunyikan wajahmu.

Dimalam seperti ini kenapa Akashi bisa melihat semburat di wajah orang! Malu tahu, rahasia yang sudah kusimpan sendiri selama dua tahun terbongkar!

"Jadi, kau benar menyukainya, kan." Akashi ikut duduk di sebelahmu. Kau mengaggukkan kepala yang masih kau sembunyikan.

Sampai kau bisa meredakan kemaluanmu, kau mengangkat kepala. "Aku menyukai Takuna-kun sejak kelas dua SMP. Waktu kelas satu dan tiga aku tidak sekelas dengannya. Tetapi waktu kelas dua aku sekelas. Saat kelas satu aku hanya menganggapnya sebagai teman. Pertama kali aku berbiacara padanya adalah saat ujian pertama, saat aku belajar di perpustakaan."


KRIIIIIIIIIING

Bel masuk setelah istirahat berbunyi nyaring. Kau yang sedang belajar di perpustakaan buru-buru kembali ke kelas.

Saat kau sudah mencapai pintu depan perpustakaan, ada yang memanggilmu.

"[Surname]-san!" Kau membalikkan tubuhmu dan mendapati murid dari kelas sebelah.

"Harukaze-san!"

"Ini, bukumu tertinggal." Harukaze menyerahkan buku tulismu.

Dan kau baru ingat kalau kau hanya menenteng alat tulis. "Ah, aku , Harukaze-san. Aku duluan!" Sebelum mendengar balasan dari Harukaze, kau langsung berlari ke kelas.


"Aku menyukainya seminggu setelah sekelas dengannya."


Kau berjalan di koridor karena sekolah sudah dipulangkan. Tanpa sengaja kau melihat Harukaze yang sedang membela seorangkouhai. Dan di situ kau juga melihat teman seangkatanmu.

"Memangnya dulu kita diperlakukan seperti ini? Memangnya kau mau dibully?" Bentak Harukaze.

Kau hanya memandang Harukaze takjub. Rasa yang belum pernah kau rasakan sebelumnya tiba-tiba datang. Jantungmu berdetak hebat saat itu.

Hari-hari sesudahnya, kau merasa senang sekali hanya dengan melihat Harukaze Takuna.

Kau tahu perasaan apa ini.


"Aku senang bisa bertemu Takuna-kun. Sebelumnya aku merasa tidak akan bisa menyukai seseorang. Aku terlalu takut jika benar-benar tidak bisa suka pada seseorang. Sampai akhirnya aku bertemu Takuna-kun. Dia adalah orang pertama yang kusukai."

Senyuman tulus terus terpasang di wajahmu selama kau menceritakannya. Sementara raut wajah Akashi sangat bertolak belakang denganmu. Yang Akashi rasakan adalah sedih, kecewa, sebal dan cemburu.

"Saat kelas tiga aku kecewa karena tidak sekelas lagi dengannya. Kelasku berada paling pojok, jadi aku selalu melewati kelas Takuna-kun setiap menuju kantin atau ruang guru. Setiap melewati kelasnya, aku selalu memperhatikan Takuna-kun. Tempat duduknya selalu di depan. Karena itu juga aku sering menjadi sukarelawan guru."

"Tapi, aku tidak yakin Takuna-kun membalas perasaanku."

"Kenapa?"

"Walaupun dia baik padaku, tetapi itu hal wajar. Karena ia memang baik pada semua orang." Ucapmu lesu. Akashi tak merespon.

"Hei Akashi, apa kau pernah menyukai seseorang?" Tanyamu menyadarkan Akashi dari lamunannya.

"Menurutmu?" Akashi merespon denganmood yang sudah jelek.

"Belum." Kau menjawab polos.

Kau tidak peka ya, dengan perasaan orang!

Mendengar seruan otou-sanmu untuk pulang, kau beranjak dari dudukmu dan diikuti Akashi.

"Akashi, terima kasih ya!" Ucapmu sambil menatap Akashi. Masih di balkon.

"Untuk apa?" Tanyanya mengangkat sebelah alisnya.

"Karena mau mendengar ceritaku. Selama ini aku selalu menyimpannya sendiri. Hanya kau dan aku yang tahu!" Tanpa menunggu respon dari Akashi, kau langsung berlalu menuju otou-sanmu.

Sementara itu Akashi hanya diam dengan ekspresi terkejutnya. Lalu tersenyum masam. Tapi bukankah initerlihat seperti 'friendzone'?!

Asal kau tahu, [Name]. Aku mengambil uwabakimu agar kau lebih pagi ke sekolah. Agar aku bisa berlama-lama melihatmu.


Keesokan harinya kau berangkat 15 menit lebih telat dari kemarin. Hasilnya... Déjà vu beberapa hari yang lalu. Bedanya orang itu meletakkan uwabaki di atas loker yang tak bisa kau capai.

"Oi, Bakashi. Kembalikan!" Kau masih berusaha meraih uwabaki yang di atas loker.

"Lagian pendek!" Ejek Akashi.

"Bagi perempuan tinggiku itu ideal tau, kau kali yang pendek!" Kau balik mengejek Akashi.

"Enak saja! Aku juga tinggi di kalangan laki-laki tahu!" Sergah Akashi.

"Pffffttt. Coba bandingkan dengan Taiga! Apalagi dengan Yao Ming. Hahahahaha!" Kau geli sendiri membayangkannya.

Akashi mengernyitkan dahinya. "Kau mengejekku, [Name]?" Akashi berjalan mendekat ke arahmu lalu...

"Hakashi! Hakit-hakit! Hepasin!" Kau meronta-ronta karena Akashi mencubit kedua pipimu dengan sekuat tenaganya.

"Katakan yang tadi sekali lagi, [Name]!"

Karena Akashi tak kunjung melepasnya, kau memukul lengan Akashi dengan kuat hingga tangannya terlepas dari pipimu.

"Sakit Akashi!" Kau mengelus kedua pipimu.

"Ya, maaf." Kau terkejut dengan pernyataan Akashi barusan.

"Tapi untuk uwabakimu, urus sendiri ya!" Akashi menyeringai lalu menjauh, belum kembali ke kelas.

Kau masih berusaha meraih uwabaki sampai ada sebuah tangan yang mengambilnya.

"Ini." Ucapnya halus.

"Takuna-kun!" Kau terkejut bukan main.

Harukaze tersenyum.

"Ah, arigatou Takuna-kun."

Akashi yang melihat pemandangan tersebut langsung menuju kelas.

"Oh ya. Aku sudah selesai membacanya." Kau mengeluarkan novel The Monochrome World yang kau pinjam beberapa hari lalu.

"Bagaimana, seru bukan?" Harukaze mulai bersemangat.

"Seru banget! Aku paling suka bagian yang..."

Kau dan Harukaze terus berbincang-bincang tentang novel tersebut di sepanjang koridor dan di kelas.

Karena kau bosan di kelas, akhirnya kau berjalan ke taman belakang sekolah. Sekalian ingin tahu bagaimana taman belakang sekolahmu.

Dan wow, keren gila!

Di sana masih banyak sakura yang bermekaran. Kau terus menyusuri taman tersebut sampai kau mendengar suara...

"Apa yang kau lakukan, baka neko!" Seru seorang pemuda berambut hijau.

Jelas saja orang itu marah. Kucing tersebut menganggunya yang sedang makan.

Kau menghampirinya karena kenal dengan orang itu.

"Midorima!" Serumu.

"[Name] kan?" Midorima masih berusaha mengenali.

"Ya. Kau diganggu kucing?" Kau mengangkat kucing tersebut agar tidak menganggu Midorima.

"Tidak," hmmm sepertinya kumat deh.

Kau memasang raut jengkel.

"Aku tidak tahu loh, kamu masuk SMA Teiko juga. Kamu kok gak ngasih tau sih?" Kau duduk di sebelah Midorima.

"Buat apa aku kasih tahu kamu! Aku saja tahu kau sekolah di sini, bu-bukan berarti aku mencari tahu!"TUH KAN KUMAT NIH ANAK!

"Hahahahaha," kau tertawa puas melihat ketsunderean Midorima.

Pertama kali kau bertemu dengannya itu waktu pesta ulang tahun teman SMP-mu, saat itu tidak sengaja kau menabrak menjatuhkan figure tokoh Natsu dari anime Fairy Tail. Setelah kau minta maaf, kau tahu kalau dia bermarga Midorima karena ada teman yang memanggilnya. Dan kau tahu otou-sanmu mempunyai teman bermarga Midorima. Setelah itu kalian ngobrol. Kamu suka gangguin Midorima. Kamu suka sama tsunderenya walaupun kadang sebal juga.

"Apaan tuh?" Tanpa seizin Midorima, kau langsung mengambillucky item milik Midorima.

Figure Levi dari anime Shingeki no Kyoujin.

"Dapat dari mana Midorima? Perasaan habis mulu deh,"

"Oi, kembalikan!" Midorima berusaha mengambilnya, tetapi hasrat isengmu keluar. Kau tidak membiarkan Midorima mendapatkannya.

Sampai figure itu terlepas dan jatuh ke tanah.

"Ah, maaf Midorima!" Untung tidak ada masalah dengan figurenya.

"Iya, tidak apa."

"Aku kembali ke kelas dulu, ya!"

Kamu sendiri gak sadar, kamu sama isengnya kayak Akashi.

Yosh, karena ini hari Jum'at tandanya besok Sabtu. Bisa bergadang!

Biasanya kalau bergadang Kamu suka nonton film atau anime. Sebenarnya kamu tidak terlalu suka anime, sukanya yang rame-rame aja. Kayak Naruto, One Piece, Fairy Tail, Bleach, Death Note, Shingeki no Kyoujin, Beelzebub, Black Butler, pokoknya yang rame-rame deh.

Oke, entah kenapamalam ini kamu gak bisa bergadang. Ngantuk!

Lalu kau memutuskan untuk langsung tidur.

"Bangun [Name],"

"[Name], ayo bangun!"

Seseorang mengguncangkan tubuhmu.

"Dasar kebo, bangun!"

Suara ini mirip...

"Aniki!" Kau langsung bangun dari tidur dan terkejut.

"Yo. I'm home!"

TBC...


Omake

Semalam setelah Akashi makan malam, para maid bingung karena Akashi bolak-balik minum susu. Lalu ia ke kamar dan melakukan push up sebanyak-banyaknya. Sampai para maid tersebut sadar, Akashi lagi meninggikan tubuh.


A/N: Gimana? Dah panjang kan!

Ternyata saya bisa menyelasikan chapter 2 sebelum ke asrama.

Berarti chapter 3 bakal satu setengah bulan lagi. Yang sabar aja!

Saya kepo deh, kalian lebih nge fly yg sama Akashi atau Takuna?

Ada yang bersedia ngitung berapa kali bel?

Teima kasih banyak yg udh review, fav, follow!

Belum sempat di balas.

See you soon!