Paris, You, and Me

Vocaloid©Yamaha Corp.

Paris, You, and Me©Arisa Kaminaga

Summary: Rin berlibur ke Paris! Yey! Tapi, dia bertemu seseorang yang membuatnya mengalami banyak hal.

Genre: Romance

Rated: T

Warning: GaJe, typo, OOC, garing, bahasa campur aduk, dan berbagai warning-warning lainnya!

Story 2. First Day, Eiffel

"Kau tidur di sofa!" perintah Rin.

"Ah, Rin, aku ingin tidur di kasur," pinta Len.

"Tidak! Aku tidur di kasur, kau tidur di sofa! Sampai kau pindah ke kasur, lihat saja apa yang terjadi besok!" bentak Rin.

"Hai'," Len mengambil bantalnya lalu tiduran di sofa sebelah kasur. Rin langsung meletakkan(?) tubuhnya ke atas kasur.

'Fufufu...Rin, lihat saja! Besok pagi kau akan melihatku di sebelahmu!' batin Len sambil tersenyum licik. Ia terus menunggu hingga Rin benar-benar terlelap. Pukul 01.00, Len mengendap-endap berpindah tempat dan tidur di sebelah Rin.

Oh, Len, sadarlah. Kau tak tahu apa yang akan terjadi esok, kan?

xXx

Ciitt...citt..

Burung-burung kecil bernyanyi dengan merdunya di dahan pohon.

"Ng...," Rin mengerjap-ngerjap, pandangannya masih buram. Ia melihat sesosok berambut kuning dan memakai piyama kuning berada di sebelahnya.

"Ng? Len, ohayou," kata Rin yang masih tak sadar.

Rin menggosok matanya. Berambut kuning? Piyama kuning? Len?

10%

.

.

.

30%

.

.

.

50%

.

.

.

80%

.

.

.

100%

.

.

.

Loading...

.

.

.

Success!

.

.

.

"KYAAAAAAAAA!"

Kaca jendela, pecah. Cermin toilet, pecah. Vas bunga, pecah. Dan parahnya, gendang telinga Len, ikut pecah.

"Ada apa Rin?" tanya Len yang masih mengantuk.

"Ngapain kamu di sini?!" pekik Rin.

"Ng? Tidur," jawab Len sambil memasang wajah tanpa dosa.

"Sudah kubilang, KAU TIDUR DI SOFA!" bentak Rin.

"Ah, aku lupa. Kemarin, aku terjatuh saat tidur di sofa. Kau tahu, kalau aku tidur, aku selalu banyak gerak. Jadi, karena aku nggak mau jatuh lagi, jadi aku pindah ke kasur," Len mencari alasan.

"Huffthh... ya sudahlah," Rin berjalan mengambil baju dari kopernya. "Aku mandi dulu," Rin masuk ke dalam kamar mandi.

'Hehe...sukses!' seru Len dalam hati. Ia jingkrak-jingkrak sendiri.

'Selanjutnya apa ya?' pikir Len.

Skiptime..

"Nah, Len..," Rin keluar dari kamar mandi sambil merapikan bajunya. "Kyaa! Kamu ngapain?!"

Wajah Rin sangat merah seperti kepiting mentah(?). Bagaimana tidak, Len melepas atasan piyamanya dan hanya memakai celana piyama yang tadi dipakainya.

Len mengambil handuk. "Tentu saja aku ingin mandi. Tapi, kenapa wajahmu merah begitu?" goda Len sambil mendekatkan wajahnya.

"T-tidak...CEPATLAH MANDI!" pekik Rin panik sambil mendorong Len.

"Hati-hati Rin! Kalau tubuh atletisku ini terluka bagaimana?" tanya Len dengan polosnya.

"Bodoh amat dengan itu! Cepatlah mandi, dan 'kita' akan pergi ke Eiffel!" Rin keluar kamar.

"Heh? Kita?" Len bingung. "Maksudnya, dia mengajakku?"

xXx

Rin mengambil kamera DSLR miliknya dan mengalungkannya di lehernya.

"Kau sudah, Len?" tanya Rin.

Len merapikan sweater yang dipakainya. "Sudah."

"Ayo," ajak Rin. Len membuntuti Rin.

"Huaa... Eiffel disaat musim dingin pasti sangat indah!" seru Rin tak sabar.

"Lebih keren kalau malam hari," sahut Len.

"Benar!" Rin menggenggam kedua tangan Len. "Len, nanti malam kita ke Eiffel lagi yuk! Aku ingin memotretnya dan menunjukkannya pada Kaito-kun! Habisnya, selama ini aku ke sini setiap musim panas, dan ini pertama kalinya aku kemari di musim dingin! Boleh ya?" pinta Rin.

"Heh? Kaito? Siapa itu?" tanya Len sambil menyembunyikan wajah sebalnya.

"Kaito-kun itu...," wajah Rin memerah. "Pacar aku."

"Oh...," Len berjalan tanpa memedulikan Rin.

"Lho, kenapa kamu marah?" tanya Rin sambil berjalan mengejar Len.

Len menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah Rin. "Siapa yang marah?"

"Habisnya, kamu keliatan sebal gitu sih..."

"Itu artinya...," Len menjulurkan lidahnya. "Kau ketipu."

"Ap-" Rin mengejar Len. "LENNNNN!"

"Huffthh...," Rin ngos-ngosan. "Kenapa kamu lari?!"

"Lho, kau yang mengejarku!" Len membela diri.

"Ah, sudahlah! Lihat!" Rin menunjuk menara Eiffel yang tertutup oleh salju. "Sugoi... Len, kau potret aku ya!"

Rin memberi kamera miliknya kepada Len.

"Hhmmm...," Len berjalan ke samping Rin. "Foto berdua, ya?"

"Demo...," Rin mencoba menolak.

"Ayolah, sebagai kenangan," pinta Len. "Aku ingin punya kenangan bersamamu."

"Aa...baiklah," Rin memilih mengalah.

Len mengarahkan lensa kamera ke arah dia dan Rin.

"Oke! 1...2...," Len memberi aba-aba.

CKRIK! (eh, emangnya, suara kamera kayak gitu ya?)

Len mencium pipi Rin saat kamera memotret mereka. Rin langsung mematung.

"A...apa...," Rin sangat sulit untuk berbicara.

"Wah, foto yang keren," puji Len sambil melihat foto di kamera Rin.

"APA YANG KAU LAKUKAN?!"

BLETAK!

Sebuah jitakan melayang ke kepala Len.

"Aww, Rin... sakit," Len mengelus kepalanya.

"Dasar genit!" Rin menjulurkan lidahnya. Ia mengambil kamera dari tangan Len dan berniat menghapus fotonya bersama Len.

"Kamu masih beruntung, tau," dengus Len. "Kau masih beruntung karena aku hanya mencium pipimu."

Rin hanya terdiam.

Len mendekatkan wajahnya. "Aku tahu, kalau aku melakukannya di sini, kau pasti akan membenciku," Len meletakkan telunjuknya di bibir Len. "Aku tak mau kau membenciku."

Wajah Rin memerah. "Nah, sekarang kau foto aku sendirian ya!"

Len mengambil kembali kamera milik Rin dan memotret Rin. Wajahnya memerah saat melihat Rin tersenyum gembira. Tapi, dia tahu, senyum itu bukan untuknya, melainkan untuk seseorang bernama Kaito.

Skiptime..

"Len, ke kedai es krim yuk!" ajak Rin.

"Ini musim dingin. Jangan," Len mencoba memperingati Rin.

Rin membenarkan letak syalnya. "Ah, Len ayolah...," Rin menarik tangan Len.

"Kita ke kedai kecil itu saja, di sana kelihatannya menarik," Len menarik tangan Rin.

"Aku mau es krim...," rengek Rin.

"Kalau kamu masuk angin jadi repot kan Rin...," tolak Len. "Aku nggak mau kamu sakit..."

"Ah, ya sudahlah. Ayo," Rin mengikuti kemauan Len. Len dan Rin memasuki kedai kecil itu.

"Accueil," sapa seorang pelayan dengan senyuman. Rin hanya membalas dengan senyum tipis. Mereka duduk di dekat jendela.

"Kamu pesan apa?" tanya Len.

"Terserah lu aja deh," jawab Rin yang masih sebal.

"Oke, ratatouille 2, and umm...," Len sibuk mencari menu berbau pisang.

"Waitress, nothing banana here?" tanya Len.

Waitress hanya menggeleng.

"Nothing orange too?" Rin ikut bertanya. Waitress juga menggeleng.

"Ugh...oke, just 2 ratatouille," ujar Len.

"Merci... please wait for 20 minutes...," waitress itu masuk ke dalam dapur.

"Tuh kan! Di sini tak ada jeruk! Dan di kedai es krim itu, rasa apa pun ada!" seru Rin.

"Sudahlah Rin... bagaimana kalau sehabis dari sini, kita ke kedai es krim itu?" usul Len.

Rin berpikir. "Oke!" pekik Rin refleks memeluk Len tanpa sadar.

"Rin?" Len bingung.

"Ah!" Rin melepas pelukannya. "Gomen!"

"Hehe..," Len menyeringai. "Kamu suka aku ya?"

"Whoaaa...enak saja! Yang kusuka cuma Kaito-kun!" bantah Rin yang pipinya sedang merah.

Len kembali memasang wajah sebal. "Yakin cuma Si Kaito?"

"Ah, kenapa kamu tanya seperti itu sih?!" Rin menggembungkan pipinya karena sebal.

"Dasar, gampang banget ketipu. Kau...ketipu lagi!" Len mencubit pipi Rin karena saking gemasnya.

Rin melepas cubitan Len. "Sakit tau!"

"Hehe...gomen..."

Skiptime...

"Nah, sesuai janjimu, BELIKAN AKU ES KRIM!" pekik Rin sambil menarik tangan Len.

"Iya, iya. Aduh...suaramu kecilin dong...lama-lama gendang telinga aku rusak nih...," omel Len. Mereka memasuki kedai es krim itu. Rin membeli triple scoop rasa jeruk, strawberry, dan pisang. Sedangkan Len, ia membeli es krim rasa pisang.

"Whoaa... sudah jam setengah 7 malam, balik ke Eiffel yuk!" ajak Rin.

'Ini cewek... gak ada capeknya...,' keluh Len dalam hati. "Ayo."

xXx

"Dingin...," gumam Rin. Ia menggosok-gosok kedua telapak tangannya.

"Sudah kubilang kan, jangan makan es krim di saat seperti ini," kata Len. "Pegang tanganku, mungkin bakal bantu hangatin kamu," saran Len.

Rin menggenggam tangan Len. "Ah, Len. Masih dingin," keluh Rin.

Len mencari akal. Akhirnya, ia memeluk Rin.

"Lho? Len?" Rin kaget.

"Buat hangatin badan kamu," ujar Len.

'Whoaa...meskipun sedikit hentai, dia ternyata lembut juga ya... Aku sudah salah mengatainya hentai. Tapi, kenyataannya, dia emang begitu sih...,' batin Rin.

CKRIK!

Sebuah flash kamera mengagetkan mereka.

"Wah...pasangan yang serasi di bawah Eiffel yang bersalju. Indah sekali...," seorang fotografer memotret mereka.

"Eh? Siapa kamu?! Dan...dan kenapa memotret tanpa izin?!" pekik Rin.

"Perkenalkan, saya Leon, fotografer handal di sini," fotografer itu memperkenalkan diri. "Dan, saya memotret kalian, karena saya rasa kalian merupakan couple palinh serasi di sini!"

"Couple?!" pekik Rin. "Hei, kami tidak ada hubungan apa-apa!"

"Ini untuk kalian," Leon memberi foto yang tadi ia potret kepada Len. Leon berjalan meninggalkan mereka.

Len menatap foto yang dipegangnya. Fotonya yang memeluk Rin dengan latar belakang menara Eiffel yang tertutup salju.

"UWWOOOO! FOTI TERBAIK YANG PERNAH KUMILIKI!" Len langsung nosebleed.

"Len..." Rin hanya sweatdrop. "Kau benar-benar...hentai."

TBC

"Hulo, minna-san! Arisa updet cepet nih...hehe...ide lagi numpuk sih...

Dan, aku sangaattttt...berterimakasih sama temen-teman aku yang mau bantu cariin ini itu di mbah gugel yang berhubungan dengan Prancis. Arigatou, minna... XD

Oh ya, masalah Len...dia itu hentai apa lembut ya? Arisa juga bingung o.O Habisnya, terkadang aku bikin Len jadi hentai, dan terkadang juga, aku juga bikin Len jadi care. Aduh...aku bingung! Ngng... kalo reader sekalian, lebih suka yang mana? O.o

Nah, it's time to reply review!

Kiriko Alicia :

"Benarkah? Padahal aku nggak bisa ngelawak lho..."

Kurotori Rei :

"Wah...kocak nih? Kalau boleh ngaku, aku itu nggak bisa ngelawak, tapi kalau Rei-chan anggap ini lucu, syukur deh...X3

Whoaa... Rin bukan dukun! Tapi entahlah, sihir apa yang dipakai Rin sampai bisa tau isi hati Len #duak

Memang...pas pertama kali ketemu, Rin nggak bisa akur sama Len, tapi lama-kelamaan, mereka bakal bisa saling ngerti..."

Crystal Akane :

"Wehh...Rin sangar ya? Haha...

Oke...makasih udah di-fave dan follow...x)"

Oke.. segini aja, dan kata terakhir,

.

.

.

Review please XD