Disclaimer: Franchise Saint Seiya (mau yang seri dan bagian manapun) bukanlah milik saya. Adapun pembuatan fan fiksi ini bukanlah untuk mencari keuntungan (finansial ataupun bukan), melainkan untuk mencari kesenangan belaka.
Jalan: Kambing Laut
Oleh masamune11
Chapitre II
Dabih: Ini Bukan Tempat Bermain
Malam pertamanya di Sanctuary, jika ia ingat kembali, bukanlah sesuatu yang menyebalkan.
Bagaimana dirinya bisa menyebut berkah ini sebagai kutukan? Dirinya yang sudah kehilangan ayah walinya, meski hubungan mereka lebih mirip bisnis pertukaran biasa daripada hubungan wali dan anak. Perlukah dia disalahkan? Bahkan untuk ukuran anak kecil yang dibeli oleh pedagang, perlakuan yang diberikan oleh walinya itu sudah memenuhi standar hak asasi manusia.
Dan ketika dalam satu malam, semua hal itu diambil darinya, bukankah sudah sebaiknya ia bersyukur dengan apa yang diberikan padanya sekarang?
Dua bronze saint yang memandunya dari kaki gunung Gramos dengan sigap membawanya berjalan melewati salah satu area Sanctuary. Memang situasi yang gelap membuat mata sedikit tidak bisa fokus pada apa yang ada di depannya, namun El Cid yakin bahwa tempat yang mereka lewati mirip dengan arena menonton. Kakinya sempat berhenti berjalan karena perasaan ingin tahu yang mulai mencuat, sampai akhirnya Dimitri memutuskan untuk menariknya dari lamunan.
"Kita tidak boleh berhenti dulu, El Cid," Dimitri menegurnya dengan desisan yang agak menyebalkan. Namun, tiga hari berjalan dengan orang ini sudah cukup memberikan impresi bahwa Dimitri mampu mengekspresikan segala macam emosi dalam bentuk yang belum ia kenal dengan baik.
"Kita harus bertemu dengan Pope terlebih dahulu," Atlas juga menyeletuk, jelas-jelas mendukung argumen yang dibuat oleh partnernya. El Cid kecil berpikir sejak kapan dunia menjadi terbalik, karena dua orang ini—setidaknya selama perjalanan pendek mereka—tidak pernah terlihat saling mendukung satu sama lain; jika Dimitri berbicara terus-terusan, Atlas lah yang akan diam dan malah melakukan sesuatu yang lain.
Ini adalah bentuk keajaiban?
El Cid muda menghentikan kereta pikirannya ketika perjalanan pendek mereka membawanya pada satu bangunan besar ala Yunani kuno dengan pilar-pilar yang mulai retak karena usia. Apa yang menangkap pikirannya justru bukan simbol satu garis yang bercabang dan membentuk sepasang lengkungan. Apa yang membuatnya sedikit tidak nyaman adalah bagaimana aura bangunan tersebut membuatnya enggan untuk berjalan masuk—aura yang terasa begitu familiar, namun asing.
Persetan dengan kakinya yang berhenti di anak tangga pertama; Dimitri dan Atlas sudah keburu memanjat naik. Mana mungkin dirinya mau ditinggalkan sendiri di kaki tangga?
"Lionet Atlas dan Sextans Dimitri melapor padamu, Yang Mulia."
El Cid berlutut di hadapan orang yang dimaksudkan kedua saint tersebut bukan karena respek atau takut, namun karena paru-parunya berusaha memompa udara sebanyak-banyaknya. Menaiki tangga dari tigabelas kuil yang tersusun secara beruntun menjadi suatu hal yang melelahkan untuk anak seusianya. Tampaknya, dua orang yang menjadi penjaganya itu tidak menyadari penderitaan El Cid. Ah, tapi anak ini terlalu keras kepala untuk menyuarakan pendapatnya bahwa dia sudah terlewat kelelahan setelah melewati ratusan anak tangga sepanjang 12 kuil zodiak.
"Bangun, Lionet Atlas, juga Sextans Dimitri," perintah sosok berjubah tersebut (El Cid dapat melihat warna biru yang mewarnai jubah panjang dari sudut matanya). Mengikuti perintah darinya, figur yang membawanya ke sini turut naik. El Cid kecil sayangnya masih mengejar napasnya yang masih memburu… atau memang dirinya merasa tidak diperintahkan untuk bangkit dari tekukan lututnya.
"Kau juga, anak muda," kata-kata tambahan tersebut membuat El Cid sedikit terheran-heran di tempatnya sendiri. Namun, El Cid akhirnya berdiri dan tanpa sungkan mendongak dan terpaku di tempat. Helm yang menutup figur wajah tersebut memang terlihat mengerikan, terutama bayangan helm yang menyembunyikan wajah dari si pemakai. Bukankah begitu pula tampang dari perampok yang telah datang menyerang karavannya, kemudian membunuh dengan keji satu-satunya orang yang menjaganya?
El Cid tidak berkata apa-apa dan kemudian menurunkan pandangannya. Melihat ornamen itu saja membuat bulu tengkuknya berdiri.
"Jadi, katakan apa yang bisa kalian laporkan padaku," perintah si pemilik suara, sebelum yang bersangkutan kembali duduk di singgasananya untuk mendengarkan apa yang perlu disampaikan. Kali ini, Dimitri menyalip duluan usaha Atlas untuk berbicara.
"Hai. Kami baru saja pulang dari misi yang diberikan dari Anda, Yang Mulia," mulainya dengan tenang—sesuatu yang membuat El Cid kecil sedikit kaget dan heran. Bagaimana bisa seorang Dimitri berbicara seperti itu setelah tiga hari membuat telinganya berdesing?
"Desa di bawah kaki gunung Gramos habis diserang hama dan penyakit. Kami memang melakukan pencarian secara menyeluruh akan tanda-tanda specter di area, namun… sepertinya kami terlambat."
Mereka mungkin tidak melihatnya, namun ketiganya bisa merasakan frustrasi yang mulai menumpuk pada asam urat sosok tua tersebut. "Lalu?"
Dimitri awalnya ingin berbicara lebih lanjut, namun terpaksa menutup mulut karena Atlas membalas lebih dahulu. "Awalnya kami memutuskan untuk mengejar specter yang bertanggung jawab akan kerusakan di sana, hanya saja…," pandangan Atlas tertuju sekilas pada sosok kecil yang ada di belakangnya, "ada perubahan situasi."
Grand Pope yang duduk di hadapan mereka mengangkat alis, sementara matanya melirik kembali sosok kecil dari El Cid. Sage bisa merasakan bahwa anak ini mengenal cosmo; sejauh apa, dia tidak pernah tahu. Artinya, bocah yang ada di sana bisa menjadi aset yang baik di kala perang suci selanjutnya.
"Kami menemukan anak ini di pinggiran desa… bersama sisa-sisa karavan. Kerusakan yang terjadi tidak mungkin dilakukan oleh orang biasa. Mengetahui bahwa hanya ada anak ini, El Cid, di sana dan terkapar, kami berkesimpulan bahwa—"
Atlas dengan segera menutup mulutnya ketika sang Pope mengangkat tangannya sebagai tanda 'cukup', lalu berdiri.
"Selamat datang di Sanctuary, anak muda," Sage memulai kata-katanya, sedikit-sedikit mengerling pada dua saint yang mengapit sosok muda tersebut. El Cid bolehlah berdiri di hadapan sosok yang begitu enigma sekaligus besar, namun bukan berarti sosok tersebut lolos dari observasi seluruh indranya.
El Cid, entah bagaimana, dapat membaca bahwa sosok yang ada di hadapannya ini benar-benar kuat. Lebih kuat daripada Dimitri ataupun Atlas.
"Ah, sepertinya kalian menemukan salah satu yang bertalenta, ya?"
El Cid buru-buru melirik ke arah pria itu, yang kini tersenyum seakan dia menuntut banyak hal darinya. El Cid terbiasa dengan permintaan dan tuntutan, karena walinya selalu mengajarkan bahwa tuntutan adalah harapan dalam bentuk konkret dan dapat membuat satu atau banyak pihak bahagia. Tapi sekarang walinya sudah tewas. Hanya dengan pikiran itu saja, El Cid kembali menatap lantai.
"Namamu, nak?"
Antara si bapak tua ini memang tidak mendengarkan kata-kata Atlas (karena El Cid sangat yakin pria tersebut menyebut namanya), atau memang beliau memutuskan sedikit kesopanan akan membuatnya lebih tenang, biarpun hanya sedikit.
"…El Cid… dari Kerajaan Spanyol."
"Apa kau tahu tempat ini apa, dan mengapa kau dibawa ke sini, El Cid?"
El Cid mempertemukan kembali matanya dengan lantai. "Untuk bisa mengabdi pada dunia dan menjaga keadilan agar terus berdiri di dunia ini… di bawah naungan Dewi Athena…," jawabnya dengan sedikit gelisah. "…Atlas dan Dimitri bilang aku bisa menjadi bagian dari pasukan itu…"
"…Begitukah?" El Cid dapat merasakan pandangan pria tua tersebut pindah dari dirinya menuju dua pria yang ada di sebelahnya, sebelum kembali padanya. Kata-kata orang itu selanjutnya sebut saja membuat El Cid bingung—dan heran.
"Tinggallah sebentar bersama mereka berdua dan dapatkan kepastianmu, nak," nada yang mengalun terdengar begitu tanpa beban, "Lihatlah bagaimana kami menempa diri, dan mungkin kau akan merasa lebih yakin."
Pertama kali dalam hidupnya, El Cid kecil menganggap tuntutan dan harapan sebagai dua hal yang berbeda, terutama ketika kata-kata itu keluar dari mulut pria tersebut.
"Oi, El Cid! Kalau tidak bergegas, kau bisa dihukum angkat batu!"
"Ya!"
Lupakan fakta bahwa dirinya belum terlalu bisa mengendalikan energi yang menyusun alam semesta dalam diri, El Cid kecil sangat antusias menyangkut kegiatan-kegiatan yang dilakukan di Sanctuary. Padahal ini baru minggu ketiganya di sini, namun melihat puluhan orang berlatih dan mengasah kemampuan bertarung masing-masing, El Cid dapat merasakan semangat yang membara di balik aksi-aksi.
Tidak hanya itu. Ketika El Cid melewati beberapa kelompok yang tengah berlatih di Coliseum, El Cid tidak hanya melihat semangat tersebut muncul dalam sebuah manifestasi konkret, namun juga niatan yang tersembunyi di setiap pukulan dan tendangan. Orang-orang ini ingin melindungi sesuatu, atau seseorang.
Tiga minggu dirinya sudah ada di tempat ini, dan El Cid tidak pernah belajar lebih banyak tentang orang-orang, selain di tempat ini.
Mempercepat langkah kakinya, bocah tersebut buru-buru mengejar Dimitri yang sudah memanggilnya beberapa kali. Tangannya memegang sebuah apel merah yang diniatkan untuk dimakan, hadiah (atau lebih tepatnya, imbalan)setelah berhasil selamat dari latihan super-intens bersama dengan Sisyphos (lagi, seorang anak sepantar dengannya dan kebetulan adalah adik dari gold saint yang bersangkutan), di bawah naungan Leo Ilias. Diniatkan, karena ia sadar bahwa akan ada satu sosok yang muncul dari belakangnya dan akan mencuri apel tersebut—
—sebuah siluet hitam yang menyerang dari sisi kanannya. El Cid dengan sigap menyingkir beberapa langkah ke belakang untuk menghindari serangan tiba-tiba tersebut, sangat sadar dan tahu siapa yang baru saja menyerangnya tiba-tiba. Dahi mengerut, bibir mencibir, terutama ketika penyerangnya melempar apel kepunyaan El Cid, sukses dicuri.
"Manigoldo, itu apelku."
Manigoldo adalah anak yang paling menyebalkan yang pernah ia temui, sungguh. Tidak menghitung fakta bahwa dirinya jarang bergaul dengan anak-anak seumuran dengannya, setidaknya El Cid tahu bahwa mencuri kepunyaan orang lain jelas tidak baik. Jika ini adalah ide dari Manigoldo untuk bermain, oh, El Cid sangat tidak suka dengan kejadian ini.
Dan demi Athena, Manigoldo di sana hanya berdiri dan menjulurkan lidahnya dengan tampang remeh. El Cid memang memiliki kesabaran yang lumayan, namun apel yang ia dapatkan itu adalah hasil kerja kerasnya. Sebut saja, bahkan dengan kesabaran yang tinggi pun, Capricorn muda ini tidak akan mengikhlaskan kehilangan buah kemerahan tersebut.
"Ha! Sayang sekali apa yang aku ambil menjadi milikku, baka Al-Sid!"
Itu cukup membuat bocah kelahiran Spanyol ini untuk melesat ke arah pencuri apelnya. Manigoldo tentunya dengan mudah menghindari tubrukan si kambing muda, dan El Cid tidak butuh beberapa detik untuk tahu bahwa sosok tersebut berusaha memukulnya dari belakang. Oh, tentu saja tiga minggu berlatih di Sanctuary membuatnya sedikit lebih apik dalam pertarungan, karena El Cid dengan cepat menahan pukulan Manigoldo yang diarahkan tepat pada kepalanya.
El Cid tidak menghentikan serangannya, karena mata yang sedari tadi mengamati gerak-gerik bocah Italia tersebut menyadari bahwa apel di tangannya tampak begitu tidak dijaga. Dengan gesit, tangannya yang satu lagi mencoba mengambil apel di tangan kiri Manigoldo.
Manigoldo rupanya selangkah lebih maju, karena dia buru-buru melemparkan apel tersebut ke udara dan memegang tangan El Cid yang gagal mengambil kembali apelnya. Dan sebelum bocah Spanyol tersebut sadar dengan apa yang terjadi, Manigoldo mengaktifkan cosmo dan memutar tubuhnya, sembari membanting El Cid ke tanah.
El Cid merasa segalanya begitu cepat terjadi, sebelum sadar bahwa matanya kini menatap langit, sementara punggungnya menempel dengan tanah. Padahal apelnya masih jauh membumbung di atas. Kalau dibiarkan, Manigoldo pasti akan meraih buahnya kembali dan—
"Kalian berdua ya!"
—tunggu, mengapa rasanya ia mengenal suara tersebut? Oh, dan tangan Manigoldo yang sudah menyingkir dari tangannya sendiri. Tampaknya tidak sampai di situ, karena El Cid bisa melihat siluet Manigoldo yang terjatuh karena ditabrak sesuatu. Apel yang ada di udara hilang dari pandangan, ditangkap oleh seseorang.
El Cid ingat suara tersebut, kemudian melihat sosok yang ia kira; Rasgard berdiri menjulang, dan El Cid tidak melihat adanya ekspresi ramah pada wajah pria sepantar dengannya itu. Apel miliknya dengan aman sampai di tangannya, sementara El Cid bisa merasakan delikan dari si banteng.
Rasgard mungkin merupakan salah satu dari beberapa anak yang ia kenal di Sanctuary, terlepas dari Manigoldo yang hobi mengganggunya, juga sosok kakak yang bisa diandalkan. Melihat salah satu sosok yang ia hormati dan hargai mendelik ke arahnya seakan hanya dirinya lah yang salah malah menambah kejengkelan pribadi. Dan jika dia mau jujur, Manigoldo sudah cukup membuat hidupnya hari ini penuh dengan kekesalan.
"Arahkan delikanmu itu pada Manigoldo juga. Dia yang memulai," potongnya dingin, sebelum akhirnya berdiri dan mengepak bajunya yang kotor karena tanah. "Dan apelku, Rasgard. Sungguh, aku mendapatkannya susah payah dari Ilias-sama. Mana mungkin aku memberikan dengan seenaknya."
Sebenarnya nama gold saint tersebut cukup membuat Rasgard memandangnya dengan penuh simpati dan menyerahkan apel tersebut pada pemiliknya. Rasgard tahu bahwa beliau selalu melatih murid atau bawahannya dengan sangat keras, meskipun Leo Ilias dicanangkan sebagai salah satu gold saint paling bijak dalam jajarannya. Sebut saja, dia pernah merasakannya juga karena banyak mata yang memandang dan mengakui kemampuannya pada minggu pertamanya di tempat ini.
Hal yang sama terjadi pada El Cid; entah jika dia menganggap itu sebagai hal baik atau buruk. Namun, melihat bagaimana rasa antusias terus berkembang dalam diri El Cid, Rasgard hanya bisa menyimpulkan bahwa El Cid menikmatinya.
"Terima kasih," ucapnya lagi dengan tenang dan dengan protektif menyimpannya di kantongnya. Di belakangnya, Manigoldo mendengus kesal—sesuatu yang baru ia dengar dua kali sampai saat ini, dan biasanya karena tidak berhasil mengeksekusi rencananya.
"Tsk, Rasgard! Ngapain kau mengganggu segala! Harusnya aku bisa memakan apel itu dan kau—"
"Astaga, Manigoldo! Meskipun kau murid personal dari Grand Pope, kau tidak boleh mengambil barang orang seenaknya! Dan jangan kau berbohong, aku tahu kau mau mencoba memakai teknik itu!"
"Psah, jika Al-Sid di sana tidak bisa menghindari serangan dengan konsentrat roh yang lebih kecil, mana bisa dia menjadi saint!"
"…" tidak berkomentar lebih jauh, El Cid mulai berjalan menjauhi mereka berdua. Jika ada satu hal yang ingin ia hindari saat berbicara dengan Manigoldo terlalu lama, itu adalah pertarungan di saat seperti ini. Bukan karena ia pengecut, bukan. Justru jika ia menghabiskan waktu lebih lama di tempat ini, Dimitri dan Atlas akan menghukumnya dengan membawa batu-batuan dengan besar 15 sampai 20 kali besarnya.
Hidup di Sanctuary, terutama di bawah petunjuk seorang gold saint dan naungan dua orang bronze saints, tidak memperbolehkannya untuk bermalas-malasan.
"Baguslah kau tidak terlambat bukan, El Cid?"
Sisyphos adalah orang pertama yang menyapanya di Coliseum, ketika kumpulan manusia kandidat saint di sana sibuk dengan urusannya masing-masing. Dimitri dan Atlas bahkan larut dalam kegiatannya untuk melatih calon-calon saint ini. Tiga minggu berkenalan dengan El Cid kecil, mereka cukup tahu bahwa El Cid sudah bisa bertanggung jawab terhadap tugas yang sudah diberikan padanya.
"Bagus kok, Sisyphos," jawabnya kalem, sembari menajamkan kembali cosmonya di tangan kanan, sebelum menyabetkan energi tersebut pada sebuah batu dengan besar 20 kali dirinya sendiri. Bukannya dalam bentuk sabetan tajam, energi yang melesat ke arah batu tersebut sedikit lebih tumpul dan—malah—hanya terlihat seperti sebuah pukulan biasa. Batu tersebut diam bergeming sementara El Cid hanya mendengus kesal dengan tiadanya perubahan.
"Namun jika latihan kita di sini hanya sebatas ini, jujur saja, aku akan merasa bosan dalam waktu dekat."
Sisyphos hanya menunjuk batu tersebut dengan senyum, "ayolah, jangan begitu juga. Bahkan kau belum bisa menghancurkan batu itu."
"Satu lagi alasan mengapa aku ingin mengganti jenis latihanku."
Sisyphos menghela napas panjang, "El Cid, meski kau baru tiga minggu bersama kami, mungkin akan lebih baik jika aku menyampaikan ini lebih awal."
El Cid sejak tadi memang mendengarkan kata-kata Sisyphos, namun belum sekalinya ia menengok ke arahnya. Ketika ia melihat bahwa mata coklat tersebut menyimpan tekad dan semangat yang tersembunyi, juga loyalitas yang hanya diarahkan pada satu orang—El Cid tidak perlu pernyataan verbal untuk mengetahui siapa orang tersebut.
"Menjadi saint adalah tidak menganggap remeh apa yang diembankan kepada seseorang," mulainya. "Dan tidak menghitung sikap Manigoldo, kita semua di sini dilatih dan ditempa menjadi pelindung Athena. Sanctuary bukanlah tempat untuk bermain."
Sisyphos tidak menyangka El Cid akan tertawa.
"Sisyphos, aku tahu itu, karena Sanctuary adalah rumahku."
"Kalau begitu, tentunya batu yang ada di hadapanmu itu bukan hambatan yang sulit untuk dihancurkan, bukan?" Tanyanya kembali, seakan menantang El Cid. Keduanya tidak bertukar kata lebih lanjut, karena Sisyphos hanya tersenyum lega mendengar kata-kata tersebut keluar dari mulut El Cid, sebelum pergi dari tempat.
El Cid menajamkan cosmonya sekali lagi dan kembali menebas batu tersebut. Meski tidak hancur, serangan yang ia tinggalkan membentuk sebuah retakan besar pada bagian tengah. El Cid mendengus.
"Ya, Sisyphos. Ini belum seberapa."
[ To be Continued ]
A/N: Dabih merupakan salah satu bintang yang membentuk konstelasi Capricornus dan menjadi bagian kepala dari si kambing laut. Diambil dari bahasa Arab, Dabih berarti "penjagal". Dalam ilmu astronomi modern, bintang ini diberi nama Beta Capricorni.
