Ansatsu Kyoushitsu by: Yusei Matsui.

BREAK DOWN by: Amaya Kuruta.

Fiction ini hanya khayalan author belaka dengan meminjam Chara dari Manga ciptaan beliau diatas. Yang belum membaca atau menonton serial animenya disarankan untuk menontonnya ^^.

WARNING!

Pasca pertengkaran Karma Nagisa. No Civil War. Berantemnya aja yang masuk. Penuh siksaan lahir batin, OOC, dan typo yang.. saya ga tau gimana ngilanginnya. Diikhlaskan saja ya ^^.

Depression!Nagisa. Bisa saja KarmaxNagisa XD.

Selamat menikmati ^^/

Chapter: 2

.

"Jadi, kau punya rencana untuk pembunuhan selanjutnya, Karma?" Tanya Chiba. Karma menatap seisi kelas datar. Dia memang menggagalkan rencana Nagisa. Tapi bukan berarti setelahnya semua rencana diserahkan padanya kan?

"Entahlah. Kalian tau sendiri levelnya untuk menjadi target dalam sebuah pembunuhan benar-benar tinggi." Jawab Karma.

"Memang benar…"

"Tapi.."

"Ah, mungkin kita butuh ide untuk jebakan lainnya? Nagisa! Coba kita lihat apa yang ada dibuku catatanmu!" Seru Kayano. Nagisa menunduk.

"Aku.. sepertinya aku lupa membawanya."Jawab Nagisa pelan. Para murid terdiam. Mereka hampir tak pernah melihat Nagisa meninggalkan buku kecil itu.

"Oh.. sayang sekali. Kalau begitu, coba kita ingat lagi.. apa saja kelemahan sensei.." Kataoka segera menimpali. Para murid mulai menyebutkan kelemahan senseinya satu persatu. Nagisa terdiam mendengarnya. Ia tau. Mungkin ia satu-satunya yang menyadari.. kelemahan terbesar dari senseinya.

"Oi, Itona! Apa kau tidak diberitahu kelemahan lain darinya saat di lab tempat karantinamu itu?" Tanya Terasaka. Itona menggeleng.

"Menurutku kelemahan terbesarnya jelas jantungnya kan?" Jawab itona.

"Hhh.. kurasa kau benar.." Jawab Muramatsu.

"Masalahnya, bagaimana caranya kita bisa menusuk jantungnya dengan kecepatan segila itu?" Tanya Yoshida. Seisi kelas mendengung. Bagaimana caranya? Nagisa terdiam.. dia harus melakukannya kah? Benarkah? Apa dia harus? Tidak bisakah ia pergi saja?

"Oi, Nagisa-kun." Panggil Karma. Nagisa menoleh.

"Kau tidak mengganti pakaianmu?" Tanya Karma. Nagisa terdiam.

"Aku akan menggantinya. Sebentar lagi pelajaran PE kan?" Tanya Nagisa. Karma mengangguk. Kemudian keduanya kembali terdiam. Ini sudah jam istirahat. Jadi kenapa Nagisa tidak segera mengganti pakaiannya? Bel berbunyi. Menandakan bahwa waktu istirahat telah usai. Para murid bergegas menuju ruang ganti untuk mengganti pakaian mereka. Nagisa masih terduduk disana. Setelah menghela nafas, ia segera bangkit. Sedikit mengernyit. Dan dengan perlahan ia melangkah.

.

.

"Hari ini kita akan melakukan pemanasan seperti biasanya. Silahkan berlari mengelilingi gunung ini dalam waktu 15 menit. Selanjutnya.." Karasuma melirik pada monster kuning yang tengah tersenyum lebar didepannya. "Dia akan membantu latihan hari ini. Dan dia bilang dia rela menjadi objek lempar pisau dan peluru." Lanjut Karasuma. Para murid mengerang tak rela.

"Yang benar saja!"

"Kau tau itu terlihat mustahil!"

"Nurufufufu~ jadi kalian semua menyerah untuk membunuhku?" Tanya Koro sensei. Para murid mendengus kesal. Karasuma hanya melihat para murid itu datar.

"Kalau begitu, latihan dimulai!" Komandonya. Para murid segera berlari memasuki hutan. Berlari melewati bebatuan dan melompat dari satu dahan bergantung pada dahan lainnya. Hal yang terdengar mustahil bisa dilakukan oleh murid kelas 3 SMP. Setelah 15 menit berlalu, para murid sudah terkapar dilapangan.

"Semuanya istirahat lima menit. Setelah itu kita akan memulai permainannya." Ujar Karasuma

"Baik." Jawab mereka. Kayano menoleh kekanan dan kekiri.

"Hei, dimana Nagisa?" Tanyanya. Para murid segera menoleh kekanan dan kekiri.

"Mungkin dia ke toilet?" Tebak Mimura.

"Ah, mungkin saja." Gumam Kayano. Kemana Nagisa? Lima menit berlalu, namun Nagisa belum juga nampak. Karasuma diam-diam memperhatikan sekelilingnya. Dimana Nagisa? Apa dia juga membolos seperti yang dia lakukan kemarin?

"Baiklah, semuanya persiapkan diri. Kita akan segera berlatih." Karasuma menggambar sebuah lingkaran dengan Koro sensei ditengahnya.

"Kalian lihat, dia tak akan keluar dari lingkaran ini." Karasuma menunjuk lingkaran yang dibuatnya.

"Tolong panggil aku Koro sensei, Karasuma sensei!" Protes Koro sensei. Karasuma ta menghiraukannya.

"Tugas kalian hanya menyerangnya bergantian. Kalian faham?" Tanya Karasuma. Para murid mengangguk.

"Fufufufu~ aku yakin kali ini masih belum ada yang beruntung.." Ejek Koro sensei. Para murid menatap gurunya dengan tatapan kesal.

"Kalian siap?" Tanya Karasuma. Para murid mengangguk

"MULAI!" Teriak Karasuma. Serangan dimulai dengan Kanzaki yang tiba-tiba melompat dan hampir saja mengenai kepala Koro sensei. Dan ketika Koro sensei menghindar, Kataoka sudah ada disana. Chiba dan Hayami sudah berada diposisi terbaiknya. Dan saat Karma memberi isyarat nanti, mereka akan segera menembak. Latihan terjadi sengit dilapangan itu. Karma melihat dari luar lingkaran dengan komando-komando keluar dari mulutnya. Sebenarnya ada yang kurang. Ya, Nagisa. Dimana dia?

"Nurufufufufu~ sudah kubilang sejak awal, kalian masih terlalu lambat untuk sensei.. NYUAA! Karma-kun!" Karma menyeringai lebar saat pisaunya terlempar dan nyaris melukai senseinya. Serangan tak terduga memang menyenangkan kan? Siapa yang akan menduga Karma akan menyerang dari jarak itu? ketika suasana semakin panas, tiba-tiba para murid tersentak. Sebuah sensasi dingin dan membelit terasa di sekitar mereka. Membuat mereka terdiam. Rasa takut menjalar dan mencekam di jiwa mereka. Seperti memasuki sarang ular berbisa dan tak ada jalan untuk lari. Dan tiba-tiba saja..

ZRASSS

SPLASH

"NYUNYAAA!"

Semua terjadi begitu cepat. Nagisa sudah mengalungkan tangannya dileher Koro sensei. Koro sensei ambruk dengan Nagisa masih memeluknya. Para murid melihat kejadian itu dengan shock. Mereka bisa melihat tentakel kuning milik Koro sensei bergeletak di tanah. Lima. Semua ada lima tentakel. Nagisa segera memegang erat pakaian senseinya dan mengangkat pisau ditangannya. Tatapannya dingin. Teramat dingin. Para murid menatap Nagisa dalam diam. Apa ini semua hasil karya Nagisa? Dan lagi, dia muncul darimana?

"NAGISA!" Semua mata menoleh. Karma berteriak tepat saat Nagisa mengayunkan pisau anti senseinya. Nagisa menghentikan gerakannya. Ia melirik dingin kearah teman-temannya. Koro sensei masih shock, mengangkat tentakelnya yang masih selamat dan menekan lembut nadi Nagisa. Nagisa memejamkan matanya pelan. Kemudian ia membukanya. Mata dingin itu kini berubah. Kembali menjadi mata yang biasa mereka lihat. Nagisa segera bangkit dari tubuh senseinya dan menoleh kearah teman-temannya.

"Maaf.. padahal tadi kesempatan yang bagus, kurasa." Jawab Nagisa sambil tersenyum manis.

"Eh? Aa.. tidak apa-apa.." Jawab Isogai bingung. Karasuma masih terdiam. Apa-apaan tadi? Semua masih normal sebelum Nagisa datang. Hanya saja… sensasi itu.. yang dirasakan saat itu.. apa Nagisa kembali melakukannya? Sensasi yang membekukan lawannya dalam beberapa detik. Dan menyerang lima tentakel sekaligus? Karasuma menatap punggung mungil Nagisa yang kini berjalan menjauh dari teman-temannya. Tunggu.. ini masih jam pelajarannya.

"Nagisa-kun, kau mau kema-" Dan tubuh mungil itu terhuyung sebelum akhirnya menyentuh tanah.

.

.

Koro sensei mengusap rambut biru itu lembut. Sesekali mengganti kompres di dahi Nagisa. Panas. Nagisa dilanda demam. Para murid kini tengah mengikuti pelajaran bahasa Inggris dari Bitch sensei. Dengan absennya Nagisa, kelas terasa sedikit sepi. Ya, Nagisa memang bukan murid yang sebegitu vocal dikelas. Hanya saja, Bitch sensei biasanya akan menggoda Nagisa saat dikelas. Dan melihat Bitch sensei jadi sedikit serius dengan pelajarannya, benar-benar hal yang aneh.

"Nah, sekarang tuliskan satu kata dengan menggunakan bahasa inggris yang menggambarkan suasana hatimu." Jawab Bitch sensei. Seisi kelas mengangkat wajahnya dan menatap guru mesum itu heran.

"Ayo! Atau kalian mau kusuruh untuk menuliskan essay tentang perasaan kalian hari ini?" Tawar Bitch sensei. Para murid segera menggeleng dan menunduk. Mencoba menuliskan satu kata. Hanya satu kata saja. Tapi mereka terdiam. Mereka tak tau bahwa mencari satu kata bisa sesulit itu. Setelah sepuluh menit berlalu, Bitch sensei menepuk tangannya.

"Waktu habis! Kataoka-san, tolong kumpulkan kertasnya." Perintah Bitch sensei. Kataoka menghela nafas. Akhirnya ia bangkit dan berjalan. Dibantu Isogai, dia mengumpulkan kertas-kertas itu. setelah selesai, mereka menyerahkan kertasnya ketangan Bitch sensei.

"Nah, kurasa pelajaran hari ini cukup. Kalian boleh pulang." Ucap Bitch sensei. Para murid mengerjap bingung. Jadi, mereka selesai lebih awal kali ini? Bitch sensei langsung melenggang meninggalkan kelas.

"Emm.. jadi, sekarang kita bersantai dulu di kelas atau langsung mengganti pakaian?" Okajima bersuara bingung.

"Mungkin sebaiknya kita tunggu Karasuma sensei saja." Jawab Isogai. Akhirnya kelas memutuskan menunggu dua puluh menit dengan bersantai didalam kelas. Sebenarnya tidak ada jam lagi setelah ini. hanya saja, yang dibicarakan adalah kelas E. Jadi.. sudah pasti setelah jam pelajaran habis, mereka masih harus berlatih dengan Karasuma sensei setiap pulang sekolah. Karma menatap bangku kosong disebelah Nakamura. Ia segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu.

"Karma, kau mau kemana?" Tanya isogai. Karma menoleh dengan senyuman khasnya.

"Aku? Hanya ingin menghabiskan waktu sebelum latihan nanti." Jawab Karma. Kemudian tanpa menunggu respon, dia melangkah keluar kelas. Nakamura tersenyum setengah mendengus.

"Aku bertaruh dia pergi kesana." Gumamnya.

"Ng? ada apa, Nakamura-san?" Tanya Kayano. Nakamura menoleh kearahnya dan tersenyum kecil.

"Tidak ada apa-apa." Jawabnya.

.

.

Koro sensei tersenyum lebar saat melihat kelopak mata itu membuka. Menampakkan manik biru yang menyala terang. Wajah itu pucat. Namun semburat merah karena panas juga terlihat jelas disana.

"Nagisa-kun, bagaimana perasaanmu?" Tanya Koro sensei. Kemudian ia mengambil segelas air dan menyerahkannya kearah Nagisa. Nagisa menatap gelas itu sejenak. Kemudian ia menerimanya.

"Terimakasih sensei.." Kemudian ia meneguk minumannya.

"Nah, sensei akan bertanya lagi.. bagaimana perasaanmu?" Tanya Koro sensei. Nagisa tersenyum kecil.

"Tidak apa-apa.. aku ba-"

"Bodoh~ bodoh~ kau bodoh Nagisa.." Nagisa terdiam. Suara siapa itu?

"Kaa-san selalu ingin anak perempuan, Nagisa.."

"Kaa-san bekerja begitu keras hanya untukmu!"

"Jadilah anak berguna, Nagisa! Kau tidak tau bagaimana menderitanya ibu setiap kali ibu ingat kau bukan anak perempuan!"

"Nagisa, jangan pernah mengatakan hal itu lagi. . . dan tidak ada yang bisa mengubah kenyataan itu."

"Nagisa! bersikaplah yang baik padanya! Pemuda itu jelas tertarik padamu!"

"SHIOTA NAGISA! SEKALI LAGI KAU BILANG BAHWA KAU LAKI-LAKI, IBU AKAN MEMBUNUHMU!"

Ah..

Semua..

Sudah..

Mati..

Nagisa menatap selimut dikakinya gelap. Semuanya mati. Ya, sudah mati. Selesai. Ibunya telah membunuhnya. Tunggu! dia masih punya Koro sensei kan?

"Ya… dia juga akan meninggalkanmu maret nanti.." Suara itu menjawab. Bagaimana dengan teman-temannya? Karma?

"Hmm.. kau lupa kau sudah berlaku egois kemarin? Mereka tentu saja hanya akan menjadi temanmu sampai kelulusan saja. Bakatmu. Bakatmu yang masih membuat mereka bertahan denganmu. dengan bakatmu, mereka semua akan bisa membunuh Koro sensei."

"Meskipun aku tidak mau melakukannya?" Gumam Nagisa tanpa sadar.

"Tentu saja! Kau pikir kau sehebat apa? Hanya itu yang bisa kau banggakan bukan? Ayolah.. jenis kelaminmu saja masih menjadi pertanyaan untuk mereka. Kau bercanda jika kau bilang semua orang didunia ini mengakuimu. Ingat, kau sendiri yang bilang menjadi boneka itu lebih mudah. Iya kan?"

Nagisa mengangguk. Koro sensei hanya diam memperhatikan Nagisa. Kemudian Koro sensei melakukannya lagi. Menekan lembut nadi Nagisa. Nagisa mengerjapkan matanya. Ia menoleh untuk melihat wajah tersenyum sang guru.

"Merasa lebih baik?" Tanya Koro sensei. Nagisa diam tak menjawab. Yang benar saja. Apa dia harus kehilangan kehangatan ini dalam waktu dekat? Apa dia harus kehilangan satu-satunya makhluk yang selalu berhasil membuatnya merasa dibutuhkan? Apa dia harus kehilangan sensei yang sudah ia anggap keluarganya? Yang bisa menyayanginya dengan sebenar-benarnya?

"YA! HARUS!" Suara itu kembali berulah. Nagisa merasa nafasnya sesak. Suara tarikan dan helaan nafas yang memburu dan berat itu membuat Koro sensei menepuk punggung Nagisa.

"Na-Nagisa-kun? Nagisa-kun? Tenanglah, Nagisa-kun!" Koro sensei bergerak panic. Kemudian pintu bergeser. Sosok berambut merah berdiri disitu dengan mata menatap tak percaya. Didepannya, Nagisa sudah dalam keadaan berbaring. Namun badannya menggelinjang. Nafasnya memburu. Tatapan matanya tidak focus. Bulir air mata mengalir deras dimata itu. Karma-tanpa diperintah- segera merangsek masuk dan mencoba menahan tubuh Nagisa.

"Hhhh..Hhhh…Hhhh…"

"Karma-kun, pegang..tidak. Tahan tubuhnya. Kau bisa melakukannya?" Tanya Koro sensei. Karma mengangguk. Karma segera mempererat pegangannya.

"Na-gisa-kun.. tenanglah!" Ucap Karma. Namun ucapannya hanya dijawab dengan suara dari tenggorokan Nagisa. Nagisa seperti kehabisan nafas. Karma melihat dada Nagisa yang bergerak naik turun untuk meraup oksigen sebanyak yang ia bisa.

"Nagisa.. apa yang sebenarnya terjadi?"

Setelah beberapa detik, Koro sensei kembali dengan sebuah suntikan ditangannya.

"Karma-kun, pegang tangannya." Perintah Koro sensei. Karma memegang tangan Nagisa erat. Sedangkan Koro sensei menahan tubuh Nagisa dengan tentakel-tentakelnya. Kemudian ia menyuntikkan cairan itu kedalam tubuh Nagisa. Sepuluh detik setelahnya, tubuh Nagisa melemas. Mata itu kembali menutup. Karma melepas pegangannya dan menatap Koro sensei yang tengah menatap Nagisa.

"Cairan apa itu?" Tanya Karma. Koro sensei menoleh.

"Ah, ini? hanya obat penenang." Jawab Koro sensei. Karma mengangguk mengerti. Kemudian kedua makhluk itu menatap sosok mungil Nagisa yang mulai tenang. Kembali tertidur.

"Oh, ngomong-ngomong kenapa kau ada disini, karma-kun?" Tanya Koro sensei.

"Bitch sensei menyelesaikan pelajarannya lebih awal. Semuanya sedang menunggu dikelas untuk pelajaran tambahan dari Karasuma sensei. Aku bosan dan.. yah.." Karma menjawab sembari mengangkat bahunya diakhir kalimat. Kemudian ia menoleh.

"Jadi, apa yang terjadi?" Tanya Karma. Koro sensei menatap Nagisa dan mengusap kepala biru itu pelan.

"Sensei juga tidak tau." Jawab Koro Sensei pelan. " Dia baik-baik saja, tadinya. Tapi tiba-tiba.." Koro sensei tidak melanjutkan kalimatnya. Karma mengikuti arah pandang senseinya. Nagisa.. ada apa dengan teman birunya itu?

.

.

Nagisa membungkuk sopan kepada Koro sensei saat Koro sensei terbang meninggalkan kediamannya. Setelah berdebat selama lima belas menit dengan senseinya, Nagisa harus rela diantar pulang tanpa kelas khusus sore itu. Demamnya sudah lebih baik. Ia berjalan tertatih memasuki apartementnya.

"Aku pulang." Ucap Nagisa. Sepi. Tentu saja sepi. Ibunya tidak akan pulang sebelum jam lima. Dan sekarang baru jam empat. Nagisa memutuskan untuk menunggu diruang keluarga. Akan sangat merepotkan jika ia harus turun saat ibunya memanggil nanti. Nagisa memilih untuk duduk didepan televise dan menyalakannya. Kepalanya masih pening akibat demam. Tapi ini lebih baik dibandingkan duduk membaca buku. Nagisa menatap layar tanpa minat. Meski matanya terpaku pada layar, namun pikiran Nagisa melayang entah kemana. Kosong, hampa. Selain putaran kisah yang menyakitkan, hanya kata-kata menusuk yang pernah ia dengarlah yang berkeliaran disana. Nagisa tidak tau apa yang terjadi. Apa yang harusnya ia lakukan. Nagisa merasa semuanya salah. Semuanya, dirinya, dan Keberadaannya.

"Aku pulang, ah.. kau lebih awal kali ini." Nagisa menoleh.

"Selamat datang, Kaa-san." Jawab Nagisa. Hiromi berjalan menuju anak lelakinya dan mengernyit.

"Nagisa, aku sudah sering mengatakan agar kau mengganti bajumu terlebih dahulu." Ucap Hiromi. Nagisa tersenyum.

"Aku… aku tidak bisa menaiki tangga itu sendiri, Kaa-san." Jawab Nagisa pelan. Hiromi menatap Nagisa tak suka.

"Hentikan bersikap konyol, Nagisa. Kau sudah kelas 3 sekolah menengah. Dan kau bukan Bayi. Jadi aku yakin kau bisa menaiki tanga itu sendiri." Ucap Hiromi ketus. Nagisa menggeleng pelan.

"Rasanya sakit, Kaa-san. Kau memukulku terlalu keras tadi malam." Lirih Nagisa. Ia tak tau lagi apa yang ia ucapkan. Semua mengalir dengan sendirinya. Hiromi menatap tajam. Kemudian ia menarik kuncir dua biru diatas kepala Nagisa keras.

"Kau mau bilang ini salah Kaa-san?" Suara Hiromi rendah. Namun penuh dengan amarah. Nagisa mengernyit namun tak menjawab.

"KAU PIKIR SALAH SIAPA ITU SEMUA TERJADI, HAH?!" Hiromi bertanya. Tapi Nagisa tau maksudnya. Itu hanya pertanyaan basa-basi. Kemudian Hiromi melepaskan pegangannya. Nagisa kembali terduduk. Hiromi berbalik dan berjalan menjauh.

"Aku tidak peduli dengan kakimu. Jadi lekas naik, ganti pakaianmu dan setelah itu kau akan berbelanja untukku. Aku yang akan memasak jadi kau yang akan berbelanja. Kau mengerti?" Ucap Hiromi tanpa menoleh. Nagisa menatap lantai dibawahnya datar. Kemudian bibirnya terbuka.

"Ya." Jawabnya pelan.

.

.

Sumire Hara tengah sibuk menimbang apa yang harus ia ambil. Salahkan ibunya yang menuliskan dua pesanan sebagai atau namun tak memilih mana yang lebih baik. Wortel atau lobak? Hara melihat harga dibawah sayur yang dipajang itu. Lobak sedang diskon. Tapi… Hara ingin sekali memasak wortel. Setidaknya dia juga akan membantu memasak kan?

"Huh, Hara-san?" Hara menoleh dan mengangkat alisnya.

"Karma-kun! Sedang apa kau disini?" Tanya Hara heran. Apa yang dilakukan iblis di minimarket stand sayuran ini?

"Tentu saja membeli sesuatu, Hara-san~. Kau fikir kenapa manusia datang kesini?" Tanya Karma sambil mengambil sebungkus wortel yang hanya tinggal satu itu. Hara menatap wortel itu tragis. Habis sudah angannya untuk memasak wortel. Bagaimanapun, Karma tetap saja menjadi iblis meski diluar kelas mereka.

"O-oh… begitu.." Jawab Hara lemas. Kemudian pandangannya beralih pada sosok yang berada du arak di samping mereka.

"Hm? Itu Nagisa kan?" Tunjuk Hara. Karma menoleh. Ya, itu Nagisa. Kemudian alis Karma mengerut. Itu Shiota Nagisa. Tapi siapa pria yang sedang berbicara dengannya itu?

-TBC

Ah, akhirnya bisa update ^^/

Nah, terimakasih banyak yah untuk respon kalian.. saya senang fic ini masih ada yang baca XD

: Wkwkwkwk saya mau aja berbagi harta karun. Dan bener… saya juga butuh asupan!*ngasup demi diri sendiri XD. Terimakasih sudah mampir ^^/

Ai Haruka: Ok~ Terimakasih sudah mampir ^^

Iblis Wasabi: Nggak kok… nggak… x'D saya sedang khilaf.. Nagisa tak akan saya siksa seperti itu. Saya siksa yang lain aja XD. Terimakasih sudah mampir J

Hani A.K: Saya baik kok XD*dilempar*. Ok, Terimakasih sudah mampir :D

Hanazawa kay: Ya.. mari berdoa bersama XD. Terimakasih sudah mampir ^^

Kyunauzumi: OKKKK! SAYA LANJUTKAN! Terimakasih sudah mampir ^^

Frwt: Ada kok :D. terimakasih sudah mampir J

Aisora:ugh… sulit ya? Ga jadi deh *ditendang*. Ah, saya bersyukur kalo typo menipis. Saya terharu :'). Terimakasih banyak sudah mampir ^.~

Dan untuk yang udah Follow, Fav, Review, PM, saya ucapkan Terimakasih banyaaak… saya cinta kalian semuaaaaa

Jaa~!