Dinyanyikan olehnya, tepat saat aku menutup mata.
#AnsatsuHalloweenPartII
Belati tepat mengarah ke jantungku. Aku tidak mungkin salah membidik. Kutekan sedikit demi sedikit, sungguh sakit. Lalu aku menyerah, memilihnya datang menjemputku lebih dulu. Jadi aku menunggu lagi.
.
.
Keesokan harinya, silet menggores pergelangan tanganku. Perih rasanya. Lalu aku berhenti, sekali lagi enggan mencicipi mati. Melihat rembesan darah di tanganku, aku mengernyit jijik. Cepat-cepat kuhapus sebelum membilasnya dengan kucuran air keran. Setelah itu aku kembali duduk, dan menunggunya datang.
.
.
Helaian softblueku basah, badai bergemuruh dan aku tetap duduk di balkon kamar. Menatap langit, walaupun lembayung dipayungi pekat awan. Percikannya membuat mataku semakin pedih, seolah menusuk-nusuk retinaku. Napasku berhembus, mengepul putih kabut tipisnya.
Lalu aku berjalan memasuki kamarku, meraih hair dryer. Begitu jemariku menyentuh ujung besi yang biasa menyalurkan listrik pada alat itu, azureku mengerjap. Tanpa ragu kudekatkan telunjukku ke dua lubang kecil di sisi saklar lampu kamarku. Tetapi saat percikan kecil menyengat sikuku—tepian lampu belajarku melecutkan listrik statis—sekali lagi, aku mengurungkan niatku.
Aku hanya bisa menunggu.
.
.
"Nagisa," bisik bibirku bak gaung di gua, "Kembali lah. Kumohon, kembali lah."
Di depan cermin itu, iris sewarna tembaga menyendu.
Tetapi aku hanya diam—dan menunggu.
.
.
Sepucuk senjata api tergeletak di sudut pintu kamarku. Desingnya sempat terdengar tadi, dan bau mesiunya masih tercium. Keningku tergores, darahnya menetes.
Sekali lagi aku menangis, dan di depan cermin itu merah yang menutupi kepalaku.
.
.
Aku selalu menunggu. Tak peduli kau berkata kau takkan kembali, aku tetap menunggu.
Sampai merah itu menghitam, lalu anyir menjadi busuk.
Ada satu tubuh yang membengkak di kerubungi lalat, tepat di bawah ranjangku. Lengan putihnya ditemani lebam biru, dan lambat laun aku mual dibuatnya. Dan ketika aku memuntahkan isi perutku, untuk pertama kalinya mata kita kembali bertemu.
Azure itu tanpa nyawa.
.
.
Teringat lantunan yang kau ciptakan. Teringat janji yang kau ucapkan.
Selama ini kita selalu bersama, tanpa seorangpun mengetahuinya. Kau datang setiap malam, mendekapku dalam erat yang hangat. Senandungmu kunantikan, kita menyambut mimpi bersama.
Tetapi malam itu kau menangis seraya berkata, "Nagisa, ini malam terakhir kita."
chapter 2
