Cio : hah... Hah... Hah... Dua chapter dalam kurung waktu kurang dari 24 jam _ jempol gw dah merah x3
Kiri : kalau gitu, jangan banyak2 pembukaannya D
Cio : Terserah gw dong mau panjang pa ga -3-
Kiri : Makasih yang udah ngeriview, masalah Tsuna kenapa bisa kekirim bakal kejawab pas ch. 7 setelah semua sudut pandang guardian primo selesai :3
Cio : silahkan dibaca :)!
Title : Want to Meet You Again
Rated : K+
Genre : Angst/Friendship
Main Pairing : All Primo Guardian x TYL 27
Major Pairing : All Primo Guardian x Giotto
Disclaimed : Want to Meet you Again © Me
KHR © Amano Akira
Warning : Gaje, AU story, Character Death, OOC
Chapter 2, Asari Ugetsu-Rain Guardian
'Apakah... Hari ini aku tidak bisa menitipkan tangisku pada hujan...?'
~Asari Ugetsu, In the middle of forest
Suara lantunan seruling itu terdengar merdu dan indah, sangat kontras dengan suasana musim panas yang saat itu terasa di Jepang saat. Tetapi, walaupun nada yang dilantunkan terdengar ceria, tidak bisa menyembunyikan perasaan sedih yang ia alami.
Seorang laki-laki Jepang yang memainkannya menghentikan lagu yang ia bunyikan. Lagu yang mengingatkannya pada orang yang benar-benar ia harapkan untuk datang, tetapi ia tidak akan mungkin ada untuk kembali ke sisinya, kesisi mereka semua.
"...Giotto-dono..."
-*_*Flash Back*_*-
Seorang anak laki-laki berusia 16 tahun terlihat memainkan sebuah lagu disebuah tempat yang dipenuhi pohon sakura. Saat itu, musim panas sedang berada dipuncaknya. Ia menghentikan permainan seruling ketika menyadari seseorang mendekat kearahnya.
"Apakah kau ada perlu denganku...?" Laki-laki itu hanya tersenyum tipis tanpa memandang kearah laki-laki itu.
"Kau... Yang bernama Asari Ugetsu?" Ugetsu membalikkan badannya dan melihat kearah orang itu. Seseorang berambut kuning blonde senada dengan warna matahari, begitu juga warna matanya. Ia mengenakan jas berwarna abu-abu dengan jubah berwarna putih. Walaupun memakai baju berlapis, tidak tampak keringat ditubuhnya.
"Ada perlu denganku?" Jawab Ugetsu sambil tersenyum melihatnya. "Dan bisa aku tahu siapa namamu?"
"Ah, maaf atas ketidaksopananku... Namaku adalah Giotto. Aku mendengar tentang bakat yang kau miliki..." Giotto menundukkan kepalanya sedikit, mencoba untuk bersifat sesopan mungkin. "Aku ingin mengajakmu masuk kedalam kelompok mafiaku..."
Ugetsu hanya diam dan melihat Giotto. Bukan hanya Giotto yang pernah mengajaknya untuk bergabung dengan kelompok mafia atau semacamnya. Tetapi, dia tidak menyukai kekerasan dan tidak ingin menggunakan kekuatannya untuk melukai orang lain.
"Maaf Giotto-dono... Aku tidak bisa... Aku tidak ingin menggunakan kemampuanku untuk melukai orang-orang..." Jawab Ugetsu sambil menundukkan kepalanya dan menolak dengan halus.
"Kau tidak perlu melukai orang lain..." Giotto tersenyum dan melihat kearah Ugetsu. "Aku... Bukan hanya mendengar tentang kekuatanmu dalam hal pedang... Tetapi, yang aku cari adalah kebaikan yang ada didalam hatimu... Yang bahkan dikatakan dapat mencairkan hati sekeras baja sekalipun..." Giotto menutup matanya dan menatap keatas langit. "Aku... Membutuhkannya untuk melindungi semua orang yang aku sayangi..."
-*_*End*_*-
Pada saat bertemu Giotto untuk pertama kalinya, Ugetsu merasa dialah orang yang tepat untuk ia bantu. Bahkan, Giotto tidak memaksakannya untuk bertarung kalau memang ia tidak menginginkannya. Pada akhirnya, ia sadar bahwa Giottolah yang bisa dengan mudah meluluhkan hati seseorang dengan kebaikan yang ia miliki.
Ia selalu ingat, lagu yang ia mainkan pada saat pertama kali bertemu dengan Giotto. Sekarang ini ia selalu ingin melupakan lagu itu, karena setiap kali ia memainkannya ia selalu ingin Giotto mendatanginya dan tersenyum kearahnya. Tetapi, sekarang itu tidak akan pernah terjadi. Orang itu sudah pergi untuk selamanya.
Semua memori mengenai orang itu, seakan berputar kembali dikepalanya. Giotto, orang yang paling mengerti dirinya. Ia yang selalu tidak mau dan tidak bisa menunjukkan emosinya didepan orang lain bahkan pernah menunjukkan rasa sedihnya, air matanya yang tidak pernah ia tunjukkan pada orang lain.
-*_*Flash Back*_*-
"Ugetsu!" Knuckle, sun guardian Vongola langsung mendobrak pintu yang ada didepannya dan mencari sosok yang dipanggilnya.
"Ada apa Knuckle-dono?" Ugetsu sedang memandangi hujan yang turun dari atas langit. Dan ia membalikkan badannya melihat kearah Knuckle dengan senyuman seperti biasanya.
"E-eh?" Knuckle terlihat bingung melihat Ugetsu yang hanya bersikap seperti biasa. "Kau tidak apa-apa...? Kudengar... Adikmu satu-satunya tewas terbunuh di Jepang...?" Knuckle sedikit tidak enak hati ketika mengatakannya.
"Aku tidak apa-apa..." Ugetsu hanya tertawa kecil dan melihat kearah Knuckle, Giotto, dan G yang menatapnya. "Ada apa? Aku baik-baik saja... Tenang saja teman-teman..."
"Tch, sudah kuduga dia itu terlalu menggampangkan masalah..." G hanya memalingkan wajahnya dan membelakangi Ugetsu. "Kalau dia memang tidak memikirkan tentang keluarganya, sia-sia saja kita menghawatirkannya..."
"G... Knuckle... Biarkan aku dan Ugetsu berdua..." Giotto berjalan menghampiri Ugetsu dan menyuruh G serta Knuckle untuk keluar. Dan mereka berduapun menundukkan kepalanya dan meninggalkan Giotto dan Ugetsu sendirian.
"Ah... Hujannya berhenti..." Ugetsu melihat langit yang kembali diterangi oleh bulan purnama itu.
"Tidak... Aku merasa hujan itu belum berhenti..." Giotto duduk didekat Ugetsu dan menatapnya dengan tatapan sedih. "Kau tidak perlu memaksakan dirimu Ugetsu... Aku tahu kalau kau ingin menangis. Kau selalu memaksakan dirimu untuk tersenyum walaupun kau sedang bersedih..."
"Aku tidak menyembunyikannya..." Ugetsu menatap langit sejenak, lalu ia melihat kearah Giotto. "Aku hanya menitipkannya kepada hujan yang turun... Setiap kali aku merasa sedih, hujan pasti akan turun..."
"Lalu... Kalau hujan itu tidak turun seperti sekarang...? Apakah kau akan tetap mengatakan kalau kau tidak memaksakan dirimu...?"
"Aku tidak merasa sedih..." Ugetsu hanya menundukkan kepalanya saja. "Aku tidak akan sedih kalau hujan tidak turun..."
"..." Giotto memandangi Ugetsu dan mencoba untuk menatap matanya dalam-dalam. "Sedikit apapun hujan turun... Langit pasti akan tahu... Aku tahu apa yang kau rasakan Ugetsu... Menangislah kalau kau memang ingin menangis... Aku akan selalu ada jika kau ingin menceritakan kesedihanmu..." Ugetsu hanya diam menatap orang yang ada didepannya itu. Ia yang selama ini tidak mau dan tidak pernah menunjukkan kesedihannya menggenggam bahu Giotto dengan erat dan hanya menundukkan kepalanya, mengeluarkan semua air matanya yang selama ini ia sembunyikan untuk yang pertama kalinya.
-*_*End*_*-
Ia menatap kearah langit yang kala itu cerah. Semenjak Giotto meninggal, lagi-lagi ia selalu menunggu hujan untuk menitipkan semua kesedihannya. Dan sekarang, semua itu tidak muncul. Ia hanya bisa menutup matanya dan mengeratkan giginya.
"Apakah... Hari inipun aku tidak bisa menitipkan air mataku pada hujan yang turun...?" Ugetsu menundukkan kepalanya. "Giotto-dono..."
Sebenarnya, bukan hanya kebaikan Giotto yang pernah ia rasakan. Ia pernah dimarahi olehnya pada suatu hari karena suatu alasan yang sebenarnya sangat menguntungkan bagi Giotto. Pada saat, ia menukarkan satu-satunya peninggalan keluarganya. Seruling, yang selalu ia bawa kemanapun. Benda yang sangat berharga itu ia tukarkan dengan 4 buah senjata yang ingin ia gunakan untuk membantu Giotto.
-*_*Flash Back*_*-
"Akhir-akhir ini aku tidak pernah mendengarkan suara seruling Ugetsu..." G yang sedang berkumpul dengan Ugetsu, Giotto, dan Knuckle hanya diam melihat Ugetsu.
"Benar juga, semenjak kau kembali dari misi aku tidak pernah lagi melihat seruling itu." Knuckle menatap Ugetsu yang sekarang ini hanya tersenyum sambil menggaruk dagunya.
"Sebenarnya... Seruling itu sudah tidak ada lagi..." Giotto menghentikan pekerjaannya ketika mendengar hal itu. Ia menatap Ugetsu dengan tatapan terkejut dan tidak percaya. "Aku menukarnya dengan 3 buah pedang kecil dan sebuah pedang panjang..."
"Tunggu, bukankah seruling itu adalah satu-satunya peninggalan dari keluargamu?" Giotto menatap Ugetsu dan ia hanya mengangguk. "Lalu kenapa kau menukarnya?"
"Itu karena..." Ugetsu menggaruk leher belakangnya. "Aku merasa kalau menggunakan pedang yang sekarang aku tidak cukup kuat untuk melindungimu... Tetapi tidak apa-apa, karena melindungimu lebih penting daripada itu."
"Kenapa kau melakukan hal itu!" Giotto mengeraskan suaranya, dan ia terlihat sangat marah. Baru kali ini G dan yang lainnya melihat Giotto marah seperti itu. "Aku tidak suka kalau kau mengorbankan kenanganmu hanya karena aku! Kau fikir, aku akan senang? Aku tidak ingin kau mengorbankan kenangan keluargamu hanya karena aku!"
"Kau tahu Primo...?" Ugetsu menutup matanya sambil tersenyum. "Seruling itu, memang mempunyai banyak kenangan tentang keluargaku. Tetapi, walau bagaimanapun aku tidak bisa terikat dengan kenangan masa lalu... Memang aku sudah tidak mempunyai keluarga kandung disini. Tetapi, kau dan juga yang lainnya adalah keluargaku juga... Makanya, aku akan mengorbankan semua yang aku miliki agar aku tidak perlu merasakan kehilangan lagi..."
-*_*End*_*-
Walau ia mengatakan hal seperti itu, tetapi pada akhirnya ia malah kehilangan orang itu. Orang yang paling tidak ia inginkan untuk meninggalkannya selamanya. Ia gagal, kau sudah berjanji pada dirimu untuk melindunginya tetapi kau bahkan tidak bisa menghentikannya ketika ia akan mengorbankan dirinya. Kau hanya bisa diam dan melihatnya menghembuskan nafas terakhirnya didepan mata.
-*_*Flash Back*_*-
Semua terjadi begitu cepat, sebelum ia menyadarinya Giotto sudah berlari kearah panah yang ditembakkan oleh G. Ia mencoba untuk menghentikannya karena tahu apa yang akan dilakukan oleh Giotto.
"G, hentikan Primo! Dia akan-" Terlambat, detik kemudian yang ia lihat adalah tubuh itu terjatuh begitu saja. Sesaat, rasanya jantung Ugetsu terhenti sejenak. Dan ia hanya merasakan ketakutan yang selama ini tidak pernah ia rasakan.
Ia hanya bisa melihat Giotto yang semakin melemah, dan melemah. Ia tidak bisa melakukan apapun. Ia hanya bisa melihatnya yang bahkan malah menghawatirkanmu dan juga yang lainnya.
"Ugetsu..." Ketika sadar, Ugetsu melihat Giotto yang memanggilnya. Dengan segera Ugetsu memegang tangannya dan mencoba untuk tersenyum seperti biasa.
"K-Kau tidak akan apa-apa Primo... Aku percaya itu..." Suaranya bergetar. Ia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya walaupun tidak ada satupun air mata yang keluar dari matanya.
"Kau... Selalu menyelesaikan semua masalah dengan kepala dingin... Kau selalu membawa suasana ceria didalam markas... Kalau sampai keteguhan hatimu itu menghilang... Aku yakin yang lainnya juga akan terpuruk..." Giotto hanya tersenyum lembut kearahnya. "Kuharap... Kau lebih membuka hatimu tanpa mengurangi keteguhan hatimu yang tak terkalahkan itu... Tanpa mengurangi kebaikan hatimu..."
"..." Ia hanya bisa diam tidak bisa mengatakan apapun lagi. Ia ingin mencoba untuk mengatakan jangan pergi kepada Giotto. Tetapi ia sadar itu tidak akan berarti.
"Aku... Berharap bisa bersama... Dengan kalian... Selamanya, sampai kapanpun..."
-*_*End*_*-
Ia sadar, ia ingat kata-kata terakhir dari Giotto. Ia harus tetap kuat dan harus membuat yang lainnya tetap seperti ketika Giotto masih ada.
Ketika ia sadar, ia melihat kalau sekarang ia sudah berada didepan peti mati Giotto. Dan yang ia lihat adalah sosok G yang selama ini terlihat kuat menjadi lemah hanya karena kematian Giotto.
"Kau... Masih tetap menyalahkan dirimu sendiri...?" Dia mengerti, ia mengerti kalau G tidak akan mungkin memaafkan dirinya walaupun Giotto sudah mengatakan untuk tidak menyalahkan dirinya sendiri.
"Kenapa kau ada disini...?" Ia tahu, dia dan G mempunyai perasaan yang sama. Perasaan rindu kepada Giotto, dan perasaan takut karena besok mereka tidak akan mungkin lagi menemukan sosok yang selama ini selalu ada didepan mereka. "Tinggalkan aku sendirian..."
Dia ingin meninggalkan G sendirian saat itu. Tetapi ia tidak bisa kalau keadaan G terus seperti itu. Ia harus bisa membuatnya ingat dengan kata-kata terakhir Giotto. Ia menggeleng pelan dan berjalan kearahnya.
"Kau lupa... Dengan kata-kata terakhir yang diucapkan Primo...? Ia mengatakan 'Jangan menyalahkan dirimu...'?"
"Hentikan..." Kalau saja G tahu, kalau saat itu ia ingin sekali diam dan membiarkannya dalam keadaan seperti itu hingga ia puas.
"Apakah dengan mudahnya kau melupakan kata-kata itu!" Ugetsu tetap berjalan, mencoba untuk menyadarkan G.
"Kubilang hentikan...!"
Tidak kalau G tetap dalam keadaan seperti itu. Ia tidak akan pernah berhenti. "Giotto tidak menginginkanmu seperti ini! Kau seharusnya mengerti-!" Kata-katanya tertahan ketika dorongan keras membuatnya menabrak pohon yang ada dibelakangnya.
"Aku bilang hentikan!" Ia bisa merasakan tubuh G bergetar. "Kau tidak mengerti! Aku sudah membunuhnya! Dengan tanganku, didepan mataku, aku sudah membuatnya meninggal! Dan kau mengatakan aku tidak boleh menyalahkan diriku!" Bukan, bukan ia yang mengatakannya. Bukan ia yang menginginkannya tetapi Giotto. "Hanya dia... Satu-satunya orang yang harus aku lindungi... Aku tidak bisa menerima kenyataan kalau dia sudah tidak ada lagi dihadapanku..." G tidak pernah tahu, Ugetsu juga merasakan hal yang sama dengannya. Bahkan ia merasakan tekanan yang lebih berat dengan pesan terakhir Giotto yang mengatakan untuk tetap menjadi dirinya sendiri.
Ia sudah tidak tahan, apakah ia boleh untuk sekali ini saja melakukan hal yang tidak biasa ia lakukan sebelumnya. "Kau fikir..." Ia tidak ingin... Ia tidak ingin menangis saat langit cerah, ia tidak ingin menunjukkan pada Giotto kalau ia menangis lagi. Tetapi, ia sudah tidak bisa menahannya lagi. "Kau fikir hanya kau... Yang tidak bisa memaafkan dirimu...?" Untuk pertama kalinya Ugetsu menangis selain didepan Giotto. Ia menyesal tidak bisa melindunginya sebagai seorang guardian. "Aku berada didekatnya dan aku tidak bisa menghentikannya saat itu... Aku gagal melindunginya sebagai seorang guardian..."
Ia dan G hanya bisa diam beberapa saat. Sebelum akhirnya sebuah ledakan mengagetkannya. Ia melihat ledakan yang berasal dari peti mati Giotto.
Ia hanya bisa diam, terkejut dengan apa yang terjadi didepannya. Ia tidak ingin terjadi apapun dengan peti itu juga tubuh Giotto.
"Uhuk... Uhuk... Apa yang terjadi...?" Suara itu, sama seperti suara yang ia dengar terakhir kali. Siluet orang itu sama dengan yang selalu ia lihat ketika orang itu masih hidup.
"G-Giotto...-dono..."Ia ingin mempercayai apa yang ia lihat. Tetapi, ia terlalu takut jika ternyata yang ia lihat saat ini hanya ilusi. Ketika memandangi laki-laki yang ada didepannya sekarang, mirip sekali dengan orang itu. Rambutnya, tatapan matanya, dan juga suaranya yang lembut. Tetapi, ia sadar itu bukan Giotto. Warna rambut dan juga matanya berbeda.
Tatapan mata yang sama dengan orang itu kini menatapnya dan suara yang persis dengan orang itu menyebutkan nama yang tidak ia kenal. "Y-Yamamoto-kun?"
"Siapa... Kau...?"
Sepertinya ia menyadari sesuatu dan berjalan keluar dari dalam Coffin. Ketika ia mendekati mereka, orang itu menundukkan kepalanya dan memperkenalkan namanya. "N-Namaku... Sawada Tsunayoshi..."
"Sawada...?" Ia dan juga G saling berpandangan dan menatapnya lagi. "Itu adalah nama belakang primo di Jepang... Kau mempunyai hubungan apa dengan Primo?"
"H-Hie, ternyata benar..." Orang itu menunjukkan ekspresi terkejut. "K-kalian... Asari Ugetsu, Rain Guardian Vongola... Dan G, Storm Guardian Vongola...?"
"Bagaimana kau bisa tahu kami dan Vongola...!" G bersiap dengan pistol yang ada ditangannya sekarang.
"T-Tunggu dulu, biar aku jelaskan!" Tsunayoshi Sawada menggelengkan kepalanya dan mencoba untuk membuat mereka percaya. "Mungkin... Kalian akau susah untuk mempercayainya... Tetapi..." Tsuna menunjukkan cincin yang ia pakai. "Namaku, adalah Sawada Tsunayoshi... Dan aku adalah penerus Giotto sebagai pemimpin Vongola generasi kesepuluh... Dengan kata lain, aku berasal dari masa depan..."
"..." Suasana hening, Ugetsu dan G hanya saling bertatapan dan menoleh kearah Tsuna. "Masa depan...?"
Cio : Setiap ch. Bakal ditambahin sedikit demi sedikit dialognya xD
Kirizaki : *yawn* ngantuk ni sensei...
Cio : Kozu-kun mana?
Kozuka : *zzzz* cliff... Hanger lagi sensei...
Cio : *swete* ya udah :3 karena waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, kita sudahi Ch. 2 Want to meet you again xD untuk ch. 3, giliran Knuckle dan dialog tentang Tsuna bakal tambah.
Kirizaki : Baiklah, maaf karena bikin crita primo familinga seenak jidatnya aja -3- kalau ada kesamaan cerita ada yang disengaja dan ada yang tidak disengaja. Jadi, akhir kata silahkan para reader untuk meriview xD
All : Tunggu Chapter selanjutnya! Knuckle-Sun Guardian!
