Helloooo~ everyone I'm baaaaack. Jadi yah saya kembali dengan Chapter 2. Chapter 1 kemarin bener-bener ancur total lah. Gila typo-nya banyaaaak banget. -,- Sebenernya udah pada bener sih, cuma gara-gara Auto-Correct sialan jadi salah lagi deh. Huh. Oke, jadi saya persembhakan Chapter 2 ini buat para reader ku tersayang, semoga kalian semua suka!
Kemaren pada ga ada yang suka Owl City ya. Aku sedih. Padahal aku ini kan fans nomor satunya.
WARNING: AU, OOC, abal, gaje deh. Bakal ada misstypo. Dun dun dun!
Disclaimer: Bleach hanya milik Kubo Tite-sensei seorang. Saya hanya seseorang yang dengan seenaknya menggunakan karakter-karakter ciptaannya untuk membuat ceritaku sendiri.
Kali ini saya memperkenalkan program baru (cieelah apaan) yang namanya "Listen to while reading" *drum roll* maksudnya di setiap chapter saya akan ngasih satu dua lagu buat didengerin sambil baca chapter tersebut. Mengerti? Dan HARUS didengerin, kalo ngga, saya bakalan ngambek tau ga ke kalian. Gamau tau pokoknya harus dengerin.
Listen to while reading: Oasis – Wonderwall, DEPAPEPE - Start (oh iya lagu listen yo while reading yang chapter 1 kemaren Goo Goo Dolls - Iris yaaaa huwaaaa Rifky Finaldi :( (apaaaaaan curcol))
(Siapa yang udah nonton ED Bleach yang terbaru! ADA ULQUIORRA NYAAAAAAA! Semoga ini berarti dia akan hidup lagi dan kembali terus hidup bahagia dengan Orihime. Amin. *berdoa dengan khusyu*)
Higabana Production
Presents
.
.
Renaissance
.
.
Chapter 2
Start
Ulquiorra memutar kenop pintu apartemennya dan membukanya. Apartemen itu bersih, kecil, namun rapi. Ruang duduk disatukan dengan ruang makan, dan saat ia memasuki kamar tidur (yang bernuansa abu-abu, Ulquiorra mau tidak mau mengagumi selera siapapun yang mendesain interiornya) ia menemukan satu setel seragam SMA Karakura di atas tempat tidur, sudah di seterika dan di lipat rapi. Ia berjalan ke arah lemari dan membukanya. Alisnya bertaut jijik melihat deretan baju yang – ya Tuhan – berwarna cerah-cerah seperti pelangi.
Sambil memandang ke seluruh penjuru ruangan, Ulquiorra berpikir bahwa hukuman ini mungkin tidak akan seberat yang dikiranya. Satu-satunya hal yang membuatnya kesal adalah bahwa sayapnya dihilangkan, sehingga ia harus membiasakan diri berjalan kaki kemana-mana. Ia juga harus melatih diri agar tidak berjalan menabrak tembok karena lupa ia tidak bisa lagi terbang menembus dinding sesuka hatinya.
{-;-}
Hari-hari pertamanya di SMA Karakura segera membuatnya berubah pikiran.
Ia segera mendapat julukan 'the Skeleton' berkat kulitnya yang seputih tulang dan perawakannya yang kurus. Berkat pengamatannya pada manusia selama lebih dari dua ribu tahun hidupnya (atau lebih tepat eksistensinya) ia bisa menjawab semua pertanyaan dan soal yang dilontarkan para guru kepadanya dengan sempurna, hingga membuatnya bosan. Efek dari semua ini, yaitu tatapan kagum dari teman-teman sekelasnya dan perempuan yang berbisik-bisik di lorong-lorong sekolah saat ia lewat, membuatnya mual.
Ulquiorra sudah lelah dengan gerombolan-gerombolan cewek yang mengikutinya kemanapun ia pergi, bahkan saat ia harus pergi ke WC, pasti ada dua atau tiga perempuan yang membuntutinya. Gerombolan-gerombolan cewek itu sepertinya tidak surut-surut juga, malah sepertinya jumlah mereka terus bertambah setiap hari.
Satu-satunya hal yang ditunggunya, justru tertunda.
Ia sekelas dengan Orihime (Ulquiorra curiga Kami-sama punya andil dalam kebetulan ini), namun selama tiga minggu pertamanya di SMA Karakura, ia belum pernah bertemu dengannya. Rupanya gadis itu masih dalam masa penyembuhan di rumah sakit, dan tetap harus beristirahat.
Tetapi suatu Rabu pagi saat ia memasuki ruangan kelas, ia melihat teman-teman sekelasnya bergerombol di satu meja, berbicara dengan suara-suara senang. Ia tahu itu pasti Orihime, dan sontak rasa penasaran muncul di dirinya. Tapi ia tetap berjalan ke mejanya tanpa menoleh, pura-pura tidak tahu dengan topeng datar terpasang di wajahnya. Selama pelajaran berlangsung, Ulquiorra beberapa kali menangkap basah Orihime sedang memandanginya, namun gadis berambut panjang itu buru-buru menunduk saat mata mereka betemu.
Saat istirahat, Orihime menghampiri mejanya, tersenyum dan mengulurkan tangannya.
"Halo! Aku Inoue Orihime!" ia memperkenalkan diri dengan ceria. Ulquiorra mendongak dan melihat senyum cerah di wajah gadis bermata kelabu itu, tangan kanannya yang sehat dan tidak diperban terangkat ke arahnya. Laki-laki itu menjabat tangannya, merasakan teksturnya yang lembut dan hangat.
"Aku Ulquiorra Schiffer," jawabnya dengan suaranya yang monoton.
"Oh, ya, aku tahu. Anak-anak yang lain yang memberi tahuku," ia tertawa kecil. Kemudian ia menelengkan kepalanya ke satu sisi, dan berkata pelan, "Namamu sedih sekali. 'Dia yang menangis'..."
Ulquiorra menaikkan alisnya, terkejut.
"Kau bisa bahasa Spanyol?" tanyanya. Tidak pernah ada yang mengerti arti namanya sebelumnya. Gadis di hadapannya terkikik.
"Oh, sedikit. Sado-kun yang mengajariku," ia menunjuk salah satu teman sekelas mereka, laki-laki pendiam berbadan besar dengan rambut keriwil. Kemudian ia menelengkan kepalanya ke sisi yang lain. "Tapi..." ia tidak melanjutkan, tapi kembali terkikik. Alis Ulquiorra bertaut.
"Apa? Apa ada yang lucu?" tanyanya.
"Mungkin... karena alismu begini, dan kau selalu cemberut," ia menggambar garis yang melengkung ke bawah di udara dengan telunjuknya. "Kau memang terlihat seperti akan menangis," ia tekekeh.
"Benarkah?" tanyanya dan gadis itu mengangguk, tersenyum. Tapi kemudian temannya yang berambut hitam jabrik itu memanggilnya, dan ia menoleh.
"Oh! Tatsuki-chan memanggilku. Aku harus pergi sekarang. Senang bisa sekelas denganmu Ulquiorra-san!" kemudian ia membungkuk, berbalik, dan mengejar temannya.
{-;-}
Sepulang sekolah Ulquiorra tidak langsung pulang ke apartemennya. Ia mampir ke sebuah taman kecil yang terlupakan di sudut bloknya. Taman itu benar-benar tidak terawat. Rumput dan semak-semak tumbuh dengan liar, yang tertinggi mencapai pinggangnya. Di situ ia duduk di bawah sebuah pohon rindang yang daun-daunnya melambai malas tertiup angin, dan memikirkan Inoue Orihime. Gadis itu... menarik, simpulnya.
Segera setelah memikirkan itu, perempuan berambut merah-kecoklatan yang baru saja ia pikirkan melewati taman itu. Ia menoleh, mengenalinya, dan berlari kecil ke arahnya.
"Haloo~ Ulquiorra-san!" ia menyapa dengan ceria. "Kau belum pulang? Sedang apa disini?"
"Aku... malas pulang," jawabnya pendek.
"Hm..." ia mengangguk. "Kalau begitu, aku akan menemanimu," dan dengan itu, ia duduk di sebelahnya di bawah pohon rindang. Ulquiorra memandangnya, alisnya bertaut.
"Aku tidak meminta untuk ditemani," ceplosnya. Sedetik kemudian, ia menyesali
perkataannya. Tapi gadis itu tetap tersenyum.
"Aku tahu," ucapnya. "Tapi tidak apa-apa. Aku menemanimu karena aku ingin. Lagi pula, di rumah tidak ada siapa-siapa. Senang bisa bersama orang lain," ia berkata, senyum manis di bibirnya. Kemudian mereka diam, menikmati semilir angin sore saat matahari mulai hilang di garis horizon. Ulquiorra merasakan tatapan Orihime kepadanya, tapi ia pura-pura tidak tahu.
"Mengapa kulitmu putih sekali, Ulquiorra-san? Apa kau terlahir seperti ini?" tanyanya tiba-tiba.
"Ya," jawabnya, agak terkejut dengan pertanyaan Orihime. "Kulitku dari dulu seperti ini. Menurutmu aneh?"
"Oh, tidak, tidak," jawabnya tersenyum. "Menurutku kulitmu keren sekali," ujarnya, matanya menelusuri lengan Ulquiorra. "Putih sekali... seperti – "
"Tulang," ia melanjutkan, sudah tahu apa yang akan dikatakannya. Gadis itu terkekeh.
"Well, iya," akunya. "Anak-anak yang lain memanggilmu 'skeleton', kau tahu."
"Aku tahu."
"Apa kau tidak suka? Apa itu membuatmu marah?" tanyanya. "Kalau iya, akan kuminta mereka berhenti memanggilmu itu."
"Tidak. Biarkan saja mereka," Ulquiorra berkata, menutup matanya. Saat ia membukanya lagi, ia mendapati Orihime mengamati wajahnya, namun ia buru-buru mengalihkan pandangan.
"Ada apa?"
"Ti – tidak," ia tergagap, wajahnya memerah.
"Ceritakan padaku," perintahnya.
"Eeh... banyak cewek di sekolah yang menyukaimu, kau tahu," ia akhirnya berkata. "Mereka bilang kau... tampan."
Ulquiorra menaikkan alisnya. "Dan kau?"
"A – aku? Maksudmu, menurutku?" ia bertanya, dan Ulquiorra mengangguk. "Well, ya, menurutku kau memang tampan," ia mengaku, wajahnya kini merah padam. Mau tak mau, senyum kecil menghiasi bibir Ulquiorra, tapi cepat-cepat ia hilangkan.
"Hm, begitukah?" ia bertanya, tapi gadis itu tidak menyahut, wajahnya menghadap ke sisi yang lain. Ulquiorra memandang sekelilingnya. Senja sudah mulai turun, dan bintang-bintang pertama sudah mulai berkedip di langit yang keunguan.
"Sebaiknya kita pulang," ia berkata, berdiri, dan menepuk-nepuk celananya. "Mau kuantar pulang?" tanyanya pada Orihime yang ikut bangkit juga. Perempuan itu menatapnya, terkejut.
"Tidak usah, Ulquiorra-san, aku hanya akan merepotkanmu," ia menolak.
"Sudahlah, ayo kuantarkan," ia bersikeras. "Lagi pula tidak aman bagi perempuan untuk berada di luar sendirian malam-malam begini. Kecuali kalau kau bisa bela diri?"
"Hmm... baiklah," akhirnya ia menerima, mengangkat bahunya. Kemudian Ulquiorra menggamit siku Orihime, menariknya ke arah menuju rumahnya.
{-,-}
Mata azure Grimmjow terus mengikuti Ulquiorra dan Orihime, dan ia tidak menoleh saat Harribel bergabung dengannya.
"Rasanya aneh melihat Ulquiorra tanpa sayap," ia berbasa-basi, matanya menyipit. "Dia dekat sekali dengan perempuan itu. Hari pertama bertemu dan mereka sudah akrab."
"Ya," Harribel menyahut. "Kau tahu, aku rasa Kami-sama merencanakan semua ini. Mulai dari saat pertama Ulquiorra mengamati Orihime, bagaimana Ulquiorra yang mencabut nyawa Orihime, dan skors Ulquiorra. Tapi, well, kadang-kadang ia lebih suka membiarkan segalanya berjalan sendiri tanpa campur tangannya."
"Hn," hanya itu yang dikatakan Grimmjow.
Jadi... gimana chapter ini menurut kalian para reader? kependekan yah? -,- Oke, jadi Orihime udah dipertemukan dengan Ulquiorra, dan kelanjutannya... baca terus. *grin* Apakah alurnya terlalu cepat? Saya memang selalu punya masalah dengan kelajuan alur. -,- Silakan kalian klik tombol yang berbunyi 'Review this story' di bawah sono dan kalau bisa sekalian cheklist tuh favorite story. Tapi ga maksa kok. Cuma mengharuskan. On to reviewers!
Koizumi nanaho: Iyahahaha karena saya merasa fic ulquihime di FBI sedikit sekali, jadi saya berinisiatif untuk berkontribusi. (cieelah apaan) dan berhubung mereka pairing favorit saya HAHAHAHAH! :D dan... tebakanmu tepat nak, ;)
Arisa-Yuki-Kyutsa : hahaha tenang sajaaaa Ulquiorra akan menikmati hukuman ini kok. *kedip-kedip* ah mimpi aja terus sana, kan Ulquiorra milik aku seorang. Wleeeeeeee. :D salam kenal ya Arisa-chan panggil Aka-san aja juga boleh. :D oh iya dengan senang hati silakan yeeey \m/
Ayano646cweety : wah pelit banget nih reviewnya. Hahahaha. ini udah update. ;;)
Tsukimori Raisa : semua udah kan yaaa kemarin di chat. ;;)
Hanaka of nadeshiko : iyaaaa senang yaaaa (?) waaah makasih, aku jadi tersipu BWAHAHAHAHA eh? Terimakasih ya udah fave! Senangnyaaaaa baru chapter pertama tapi udah di fave *peluk peluk cium* Salam kenal juga hana-chan.
Chai mol : yaaa salam kenal juga yaaa chai-chan! Huuummm... makasiiih. :D mendekati tidak yaaaaaaaa... karena itu, teruslah baca Renaissance! *jeng jeng!*
Sekian saja dari saya kali ini. Terima kasih atas perhatiannya.
Wassalamualaikum wr. Wb.
*maaf jadi pidato*
~Aka-chan
