Puzzle

(kuroko no basuke X free! crossover)

Disclaimer: Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi. Free! © Ouji Kouji. Tidak ada keuntungan material apapun yang didapat dari pembuatan karya ini. Ditulis hanya untuk hiburan dan berbagi kesenangan semata.
Characters: Momoi Satsuki – Matsuoka Gou. Genre: Friendship. Rating: K+. Other notes: little bit modified canon. continuation of Gemini.

(Gou meminjam puzel milik Satsuki. Setidaknya itu bukan hal buruk.)


Satu kali minuman disedot, satu kali pula potongan puzel supermini itu dipasang Gou. Siklus tersebut berulang. Matanya terpaku pada bagian sana, berbeda dengan Satsuki yang sesekali mengecek ponselnya, bila gilirannya memasang potongan selesai. Bisa juga mengecek isi gelas plastik minumannya yang dia hemat-hemat seolah tak ada lagi uang jajan untuk mengganti gelas tersebut berikut isinya, serta sesekali pula memandang Gou, yang tidak kunjung berubah ekspresi.

"Gou-chan," panggil Satsuki, meletakkan gelasnya yang sekarang benar-benar habis. Dia menyibakkan sedikit bagian rambutnya yang menghalau mata, "Kurasa ... ada yang beda."

Jari Gou menggantung di udara dengan sebuah potongan puzel. "Apanya?"

"Kau."

Gou memandang ke atas lalu meniup poninya. Dia menemukan kotoran kecil yang mungkin berasal dari pohon musim gugur yang dia lewati di sepanjang perjalanan, dan dia meraihnya. Kemudian juga meniupnya ke arah samping. "Mm, cuma sedang bingung."

"Ayolah," Satsuki terkekeh gembira kemudian mencubit pipi Gou. "Puzelnya tidak susah, kok!"

Kepala Gou jatuh menunduk ke meja, dengan kening yang menghantam permukaan dengan efek bunyi yang cukup nyaring. Tak lama setelahnya dia pun mendongak dan menatap Satsuki dengan mata sendu, "Bukan iniii!"

"Mmh, sudah-sudah, jangan dijelaskan," ucap Satsuki tanpa memandang Gou. Dia mengambil satu potongan lalu memasangnya di pojok papan puzel yang baru seperempat mereka selesaikan. Bagaimanapun, puzel itu terlalu besar untuk diselesaikan dalam waktu singkat—walaupun pemainnya berdua—dan mungkin mereka akan selesai ketika senja tiba nanti. "Aku tahu," lanjut Satsuki, memasang dua potongan sekaligus yang dia temukan cocok. "Haruka-senpai, hm?"

"Ng~" angguk Gou sampai ekor kudanya berayun, "Aku tahu masalahnya dengan Makoto-senpai, kakakku, dan Sousuke-kun sudah selesai, dan masalah masa depannya juga sudah beres. Tapi kukira dia akan berubah dan ... dan—"

"—Dan akan mulai memikirkan masalah percintaan. Misalnya, tertarik pada perempuan, khususnya kau?" Satsuki menahan tawanya. "Apa aku salah?"

Gou menenggelamkan kepalanya di antara piring dan gelas serta papan puzel lagi. Dia melewatkan gilirannya dan Satsuki mencurinya untuk meneruskan penyusunan puzel itu.

"Iya ..."

"Jadilah orang yang selalu ada untuknya, Gou-chan. Orang yang nanti datang belakangan—maksudku orang-orang yang akan ditemuinya saat dia kuliah—akan kalah dengan orang yang terus bertahan padanya."

"Apa aku tetap bisa dekat dengannya sampai kapanpun? Ah, satu pertanyaan, Satsuki-chan," Gou menyela untuk minum sebentar, "Apa dia tidak terganggu?"

"Seperlunya saja," Satsuki mengangkat bahu sambil tersenyum. "Apa selama ini dia pernah marah ketika kauikut menungguinya berenang sampai sore? Kalau tidak, nah, ini kesempatanmu."

Gou mengulum bibirnya. Matanya berhenti sejenak di jendela. Matahari sudah mulai turun. Sudah berapa jam sejak pulang sekolah, dia rasa sudah lama. Dan artinya selama itulah dia duduk-duduk bersama Satsuki di kafe tempat mereka pertama kali mengenal satu sama lain.

"Jadilah puzel yang selalu cocok untuknya di segala waktu," Satsuki mengangkat kepingan yang baru saja diambilnya, diperlihatkannya pada Gou. "Maka ketika kalian terpisah, itu artinya dia tidak akan melepaskanmu lagi karena kaulah bagian dirinya yang hilang."

"Cara menjadi puzel untuknya?"

Momo tertawa kecil, "Jadilah yang selalu ada," dia mengembalikan kata-kata sebelumnya. "Temani dia dan bantu dia untuk hal-hal kecil. Tapi, jaga jarakmu dan jangan sampai membuat Haruka-senpai tidak nyaman. Lakukan dengan tulus," Satsuki membungkukkan diri ke arah meja sedikit untuk berbisik, "Dan bukan dengan menggoda."

Gou diam sesaat, namun akhirnya menopangkan dagunya di kedua tangan dan menatap Satsuki lekat-lekat. Kemudian dia terkekeh, kelihatannya lega sekaligus mood riangnya telah kembali (hampir) sepenuhnya, "Apa Satsuki-chan juga menjadi puzel untuk Aomine-san?" dia kemudian menurunkan dua tangannya dan mengambil dua keping puzel yang berpasangan satu sama lain dari papan untuk diperlihatkan di depan Satsuki. "Seperti ini?"

Satsuki mengibaskan tangan di udara, "Mmmh, bukan seperti itu," ucapnya dengan santai kemudian memilah-milah kepingan lain, "Aku adalah potongan, sedangkan dia papannya. Aku terlalu banyak melakukan hal-hal untuknya. Mm, bukan cuma mengatur hidupnya sebagai pemain basket—tapi aku jugalah yang sering membangunkannya, mengerjakan PR-nya—ha, banyak, pokoknya!"

"Jadi kau seperti penyusun hidup Aomine-san?" Gou nyengir, dan dia tidak dapat menyembunyikannya.

"Kalau boleh berbangga hati, bisa dibilang begitu."

"Oh manisnya~"

"Hush," Satsuki lagi-lagi memainkan tangannya di udara, "Tapi kau—bahkan aku sendiri—tidak tahu, apakah kami papan puzel denngan judul 'Sepasang Sahabat' atau 'Teman Hidup'."

Gou memainkan salah satu kepingan di atas meja, memutar-mutarnya, "Satsuki-chan pilih yang mana, sebenarnya? A atau B?"

Satsuki mengembuskan napas sambil sedikit menunduk. "B."

"Tuh 'kaaan~" tunjuk Gou sambil tertawa.

"Iya, iya. Oke, kau menang. Terserah."

Gou cuma menggeleng, "Kita sama, kok," dia pun berkonsentrasi pada puzelnya lagi. "Um, omong-omong, Satsuki-chan—puzel ini boleh kupinjam? Untuk mengisi waktu sore-sore, sementara menemani Haruka-senpai besok. Besok adalah jadwal rutin berenang—walaupun dia sudah pensiun dari klub, dia tetap datang dan berenang sendirian sampai hampir malam ..."

"Tentu!"


Haruka tidak mengusir ketika tahu Gou menolak ajakan Makoto dan yang lain untuk pulang bersama. Alih-alih, gadis itu mengambil tempat di sisi samping kolam renang beserta dengan tas, snack dan sebuah papan puzel besar dengan isinya yang langsung dihamburkannya begitu saja di tepian kolam.

Gou memasang earphone di salah satu telinganya dan mulai mengisi waktu dengan apa yang mulai dia sukai. Walaupun sudah menyelesaikan tiga perempatnya dengan Satsuki kemarin, puzel ini tetap menyenangkan untuknya. Terlalu rumit dan terlalu besar, namun tidak membuat cepat bosan.

"Kou."

Gou masih asyik bermain.

"Kou."

Masih belum.

"Kou—"

"—Eh? Y-ya, senpai?"

"Kenapa tidak pulang?"

"Aku manajer," jawab Gou sambil menyusun, tanpa melihat ke arah Haruka. Namun, ada senyuman tipis di bibirnya. "Dan aku harus memastikan bahwa semua anggota klub baik-baik saja sampai jam latihan selesai."

"Tapi aku sudah bukan anggota klub. Pulanglah."

Gou menoleh, "Senpai akan selalu jadi tanggung jawabku. Karena—"

Tuk. Tangan Gou yang sedang bergerak dengan tak sengaja menjatuhkan salah satu kepingan. Haruka tidak melihatnya karena sedang memandangi air yang berada di telapak tangannya, tetapi Gou menyadarinya segera.

"Kepingannya!" dia menjangkau sambil membungkuk—

—tetapi sayangnya tangannya yang menopang dirinya, yang berada di ujung kolam terpeleset karena permukaan yang sangat licin, dia kehilangan pegangan dan tercebur ke kolam.

Semua orang terdekatnya tentu tahu bahwa Gou tidak bisa berenang.

"Ugh," dia mencoba bertahan sambil berdiri, walau dia tidak bisa menjangkau dasar kolam dengan ujung kakinya , dia mencoba berjalan di dalam air dan merentangkan tangannya untuk mengambil benda itu. Gerakannya yang gegabah karena cukup panik berada di dalam air menimbulkan gelombang yang menghanyutkan potongan puzel itu lebih jauh lagi.

Gelombang terasa semakin mengerikan seolah di lautan. Separuh wajah Gou tenggelam dalam air, kemudian yang dia sadari berikutnya adalah tubuhnya yang ditangkap kemudian melayang. Dan sedikit diangkat sehingga dia bisa menghirup udara segar lagi. Dia membuka mulutnya lebar-lebar, menarik napas secara tiba-tiba dalam jumlah besar. Ada trauma mendadak yang membuatnya takut melihat ke bawah, namun tahu-tahu dia sudah didudukkan di tepi kolam dengan kaki yang menjuntai ke air.

Gou harus mengatur napasnya dulu sebelum berterima kasih. Dia meredakan kepanikannya dengan memejamkan mata beberapa saat.

Lalu ketika dia akan mengucapkannya, ternyata Haruka sudah kembali ke hadapannya dengan sepotong karton kecil yang sudah basah.

"Ugh ... maaf merepotkanmu, senpai ..." dia meringis pelan.

"Jangan nekat."

"... Iya, maaf ..."

"Ini milikmu," Haruka menaruhnya di pangkuan Gou. "Kaubisa mengatakan tolong."

"... Ah, iya. Terima kasih sekali lagi ... dan maaf."

"Aku tidak menerima permintaan maafmu," Haruka masih mengapung di depan kaki Gou. "Asal kaulanjutkan kata-katamu tadi."

Gou mengerutkan keningnya, "Yang ... mana?"

"Tanggung jawabmu. Aku. Alasanmu."

Gelombang kolam sepertinya agak mengguncang kepala Gou sehingga dia butuh waktu cukup lama untuk mengingatnya. Dan ketika dia mengingatnya, dia mencoba untuk menghindar dari tatapan Haruka namun Haruka sudah meletakkan kedua tangannya di lutut Gou, dan mengujarkan keinginan untuk menunggu lewat keping biru yang cahayanya lurus untuk Gou.

"Karena ... yah," Gou menarik napas, "Senpai adalah orang yang berharga untukku."

Haruka diam saja, namun naik ke tepian kolam dan duduk di samping Gou, dengan jarak yang nyaris nol.

"Terima kasih."

Lalu sebuah tangan berada di atas tangan. Hanya sebentar, tapi cukup untuk membuat Gou terperangah dan menatap tanpa berkedip. "S-senpai?"

Tangan itu sekarang digenggam—yang awalnya Gou kira akan dilepas begitu saja.

Lalu Haruka menyelam lagi setelah sempat menerbangkan Gou ke angkasa fantasinya. Dan Gou tertinggal dengan mulut yang setengah terbuka, namun kemudian dia mengubahnya menjadi senyuman.

"Sama-sama, senpai," bisiknya, sambil menggoyangkan kaki di dalam air.


"Kau harus dengar ceritaku soal puzelmu tadi sore! Aku benar-benar harus berterimakasih pada puzelmu dan kau yang sudah meminjamkannya, Satsuki-chan!"

"Apa? Apa? Kenapa?!"

Hingga tengah malam, mereka menghabiskan waktu hanya untuk dua hal: cerita soal kejadian tadi sore dari Gou dan analisa kemungkinan juga perkiraan akan apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya dari Satsuki.


A/N: tentu saja, akan ada lanjutannya! insya Allah secepetnya ya wwww menulis gou-momoi dan cerita cinta anak SMA itu rasanya ... menyegarkan kepala (iya yang bukan anak SMA lagi iya iya)