Cinta Lama Yang Bersemi Kembali

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Cerita oleh Avrill

Pairing: SasuSaku, NaruHina, Saino, ShikaTema, NejiTen

Bab 2

Trek ...

Aku mengernyit ketika korden dikamarku tiba-tiba tersibak-lebih tepatnya disibak oleh seseorang membuat sinar matahari masuk kedalam kamarku yang bernuansa putih dan pink. Kucoba membuka mataku perlahan dan menyesuaikan dengan keadaan sekitar.

"Saki bangunlah nak ini sudah pagi ..." ucap Nenek Chiyo padaku.

"Ini jam berapa Nenek Chiyo?"tanyaku dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.

"Masih jam 6, bersiaplah dan segera turun kebawah sarapan sudah siap."sambil berjalan meninggalkan kamarku. Segera saja aku melangkah menuju kamar mandi dan bersiap-siap.

Selesai mandi aku menuju lemari dan memilih kaos berwarna pink lengan panjang dan juga rok pendek agak mengembang sedikit diatas lutut, setelah itu kuoleskan sedikit make up tipis di wajahku. Ku gerai rambut panjang sepinggangku, tapi sesekali jika aku bosan akan ku kuncir ponytail seperti Ino. Selesai dengan semuanya segera saja aku turun kebawah untuk sarapan dan pergi ke cafe seperti biasa.

"Ohayou Sakura-sama."sapa maid-mai padaku ketika aku melewati mereka yang sedang sibuk bekerja.

"Ah ohayou." balasku ramah dengan senyuman.

"Sakura-sama sarapannya sudah siap anda bisa sarapan Sakura-sama."

"Ah arigatou."

"Sama-sama Sakura-sama."

"Emm Shisune-nee-san mana jus ku?" kulihat tak ada jus dimeja seperti biasa. Biasanya Kaa-chan yang- Ah aku lupa kalau Kaa-chan sedang tidak dirumah.

"Mau saya buatkan Sakura-sama?"tawar Shisune.

"Teh herbal saja Shisune-nee."

"Akan segara saya siapkan."

Selesai sarapan segara saja kulahkan kakiku menuju garasi untuk mengambil sepedaku yang berwarna pink. Saat siap akan kukayuh terdengar suara Yamato ji-san menginterupsiku dari arah belakang.

"Ah Sakura-sama anda mau kemana? Kenapa anda naik sepeda, saya bisa mengantarkan anda dengan mobil."tuturnya padaku menawarkan untuk mengantarku. Sebenarnya aku lebih suka jalan kaki atau naik sepeda kemanapun dari pada naik mobil, bagiku itu membosankan. Walaupun aku hidup lebih dari cukup aku selalu diajarkan oleh Kaa-chan untuk tidak sombong, angkuh dan suka pamer. Aku juga selalu diajarkan sopan santun juga oleh Kaa-chan untuk menghormati orang yang lebih tua dariku, contohnya Yamato-ji-san dan Shisune-nee-san. Walaupun mereka Hanya sopir dan pekayan dirumahku tapi aku tetap memghormati mereka karena mereka lebih tua dariku.

"Emm tidak apa Yamato-ji-san aku hanya ingin haik sepeda ke cafe lebih menyenangkan hehe..." ucap ku yang langsung mengayuhkan sepedaku keluar rumah tanpa memberikan Yamato-ji-san untuk berbicara. Hehe gomen Yamato-ji-san...

Rasanya menyenangkan ketika naik seperti ini. Jarak rumah dan cafe meamng tidak terlalu jauh jika naik sepeda sekitar 30 menit. Kulihat bunga Sakura sudah mulai banyak yang bermekaran disepanjang jalan. Ah sudah mulai masuk pertengahan musim semi rupanya. Kulihat beberapa remaja berangkat sekolah bersama-sama orang-orang yang berpakaian formal bersiap untuk berangkat kerja, bahkan tukang loper koran pun sudah memulai aktifitasnya pagi ini untuk mengantar koran kepada pelanggannya. Tanpa terasa sebentar lagi aku sampai di cafe. Kulihat Kiba dan Lee yang sedang membawa keluar kantong sampah untuk diambil tukang truk pengangkut.

"Ohayou Kiba, Lee." sapaku pada mereka berdua.

"Ah Sakura ohayou./Ohayou Sakura-san." Balas mereka Berdua Yang awalnya sedang sibuk DENGAN beberapa kantong plastik.

Kulangkahkan kaki masuk kedalam cafe, sesegera mungkin memakai celemek dan membantu Tenten dan juga pegawai yang lain.

"Ohayou minna."sapaku ramah pada semua orang di kafe. Terdengar mereka menjawab serempak ucapan selamat pagi.

Kuhampiri Tenten yang sedang mengelap dinding kaca kafe dan membantunya.

"Bisa aku membantumu Tenten?"

"Ah Sakura, ohayou. Tentu saja."sambil menyerahkan lap dan juga botol cairan pembersih kaca padaku

"Ohayou Tenten." jawabku menerima lap dan pembersih kaca.

"Sakura aku tinggal kebelakang sebentar bisa? Masih belum beres untuk yang dibelakang."

"Tentu Tenten, kau urus saja yang dibelakang yang disini biar aku yang urus."

"Terimakasih Sakura." Ucapnya sambil berjalan meniggalkanku.

Aku lalu kembali membersihkan dinding kaca didepanku, biasanya Cafe kami buka jam 08.00 pagi. Sesekali kusenandungkan lagu-lagu kesukaan ku ditengah-tengah kegiatanku. Kuarahkan mataku luar kaca kafe, nampak jalanan sudah mulai ramai oleh orang-orang yang akan beraktifitas. Tampaknya hari ini cuacanya bagus. Tapi tidak menutup kemungkinan akan berubah tiba-tiba, seperti contohnya hujan. Entah kenapa aku tidak terlalu suka dengan hujan. Tapi aku senang dengan kebahagiaan kecil yang aku miliki untuk saat ini. Dan semoga semua berjalan seperti ini.

Di sebuah apartemen nampak seorang laki-laki yang baru selesai mandi dan akan bersiap kekantornya. Berbalut jas, hem bewarna putih dengan dasi biru juga rompi hitam dan setelan jas hitamnya. Siapa lagi kalau bukan CEO muda yang terkenal kejeniusan, kepiawaiannya dan juga ketampananya, Uchiha Sasuke.

Drt ... DRT ... DRT ...

Sekai wa koi ni ochiteiru hikari ada ya mune wo sasu

Kimi wo wakaritainda yo

"Nee. Oshiete..." terdengar suara dengar dering telpon dari ponsel Sasuke. Sasuke hanya mengernyit tidak suka dengan orang yang beraninya pagi-pagi menelponnya. Melihat ponselnya siapa yang menelponnya.

"Itachi?"guman Sasuke sambil mengangkat teponnya.

"Hn."

"Ah Sasuke bisa kau membantuku?"tanya Itachi di sebrang sana.

"Air?"

"..."

"Hn."

"..."

"Hn."

"..."

"Iya iya kau ini cerewet sekali Itachi."

Tut ... tut ... tut ...

Dan sambungan telepon diputus sepihak oleh Sasuke.

Dasar Baka Aniki, membuat moodku jadi buruk gara-gara ocehannya. Segera saja aku keluar apartemen. Udara sejuk dan semilir angin seketika menerpa wajahku. Pertengahan musim semi ya...entah kenapa tiba-tiba aku teringat gadis dengan rambut merah jambu. Langsung saja kakiku melangkah kearah cafe Cherry Blossom. Moodku yang tadinya buruk seketika hilang dan menjadi besemangat kembali ketika mengingat gadis berambut merah jambu. Aku sudah tak sabar melihatmu Cherry...

Sekitar 30 menit aku berjalan dari partemenku untuk ke cafe Cherry Blossom. Aku sengaja tidak membawa mobilku, alasannya cukup simpel aku hanya ingin mengikutinya lagi kemana dia pergi seperti kemarin. Lagi pula kantor Uchiha Corp's tak begitu jauh dari cafe itu. Dan disinilah aku, bediri dibawah pohon dengan jarak agak jauh dari cafe tapi tetap bisa melihat seorang gadis yang sedang memberikan permen kepada segerombolan anak kecil didepan cafenya. Sesekali gadis itu tersenyum, terkikik geli dan juga mengusap kepala salah satu kapala anak kecil disana. Aku selalu rindu dengan senyuman yang begitu mehangatkan dimiliki gadis itu. Ekspresi lucu ketika marah yang akan menggembungkan pipinya, ekspresinya ketika tertawa dan segala apa pun ekspresi yang ada pada gadis gulali itu miliki membuatku semakin merindukannya. Apa lagi mata hijau teduhnya yang sangat begitu meneduhkan hati. Tapi aku begitu bodohnya dulu telah menyakiti hatinya membuat mata itu menangis dan meninggalkannya ketika dia sedang bersedih. Aku tahu gadis itu tidak berbohong bahwa gadis itu memang tidak selingkuh dibelakangku bersama Gaara, dan itv pun aku tau ketika pindah ke Inggris selama 1 tahun. Aku benar-benar menyesal telah menyakitinya, membuatnya menangis dan meninggalakannya begitu saja. Sudah 5 tahun sejak kejadian itu dan itu terjadi saat kami berumur 18 tahun dan diwaktu upacara kelulusan sekolah kami. Huh... penyesalan selalu datang akhir. Tapi aku akan tetap mendapatkan apa yang sudah menjadi milikku. Uchiha selalu mendapatkan apa yang mereka mau.

Selesai memberikan permen kepada anak-anak tadi aku segera bergegas masuk kedalam Cafe dan memastikan bahwa semua sudah siap dan Cafe siap dibuka. Aku berjalan menghampiri Kiba dan Tenten yang sedang berbincang didepan meja kasir.

"Kiba Tenten bagaimana semua, sudah beres?"

"Sudah Sakura, semua sudah siap dan beres tinggal membuka Cafe ini."jelas Tenten

"Ok. Kita buka sekarang.". Aku berjalan kearah pintu kaca yang tergantung sebuah papan bertuliskan 'Closed' menajdi 'Open'. Dan hariku kembali dimulai hari ini.

ino POV

Sejak kemarin sebenarnya aku sangat kepikiran tentang perkataan Sai bahwa tidak menutup kemungkinan Sakura akan bertemu Sasuke dalam waktu dekat ini. Aku cukup khawatir jika Sakura nanti akan sakit hati lagi melihat Sasuke kembali ke Konoha setelah apa yang dulu pernah dia lakukan dimasa lalu. Hubungan mereka berdua memang belum ada kata putus mareka berdua berhak bertemu tapi ini timing yang tidak tepat sekali, disaat Sakura sudah bisa melupakan dan kembali menjalani hidup barunya laki-laki dari masa lalunya datang kembali. Oh Kami-sam ini membuatku bingung. Haruskah aku memberitahu pada Sakura ? Tapi aku tidak bisa ikut campur dalam urusan mereka. Aku yang sedari tadi didalam kamar hanya bisa mondar-mandir begelut dengan pikiranku sendiri. Aku befikir keras apa yang harus kulakukan ? Aku tahu Sasuke pasti akan segera mungkin menemui Sakura. Aku mengenal bagaimana seorang Uchiha Sasuke, segala apa pun yang dia ingin dan sudah menjadi miliknya pasti akan dia dapatkan.

Untuk: Hinata

Dari: Ino

Hinata, bisa kita bertemu ?

Kita bertemu di Ramen ichiraku jam makan siang...

Kirim...

Dari: Hinata

Untuk: Ino

Bisa Ino-chan

Nanti aku akan kesana...

Tin ... tin ... tin ...

Ah itu Sai-kun sudah datang. Segera saja ku ambil tasku dan keluar dari apartemen. Kulihat Sai-kun bersender pada pintu mobil menungguku. Segera saja kami berdua masuk kedalam mobil. Dalam mobil aku hanya melamun menatap jalanan yang, masih memikirkan tentang Sakura dan Sasuke.

"...tidak...?"

"Saya tidak?!"

"Saya tidak!"

"Yamanaka Ino!" Aku tersentak saat suara Sai-kun naik satu oktaf untuk memanggilku. Oh Kami-sama...

"E-eh a-ada apa Sai-kun?"ucapku kikuk.

"Apa yang kau pikirkan?"

"Ti-tidak ada Sai-kun."bohongku.

"Kau bohong Ino."

"Huh...baiklah baiklah...aku berbohong. Sai-kun menurutmu kita sebagai sahabat harus bagaimana, aku jujur saja masih kepikiran dengan perkataan Neji kemarin. Apalagi Sasuke sudah tau kalau Sakura ada disana bukan?"

"Apa yang kau khawatirkan Ino?"

"Aku hanya khawatir pada perasaan Sakura, betapa besar usahanya untuk melupakan Sasuke hingga saat ini dia bisa menjadi Sakura yang kita kenal kembali. Kau tidak lupa bukan bagaimana Sakura waktu itu bukan ? 1 bulan dia seperti itu, terus saja mengurung diri tak mau berbicara pada siapapun tidak mau keluar rumah seperti mayat hidup Sai-kun. Tubuhnya sangat kurus sekali waktu itu, aku yang ikut merawat dan tinggal disana karena terkadang Sasori-nii dan Bibi sibuk, aku sangat sedih melihat Sakura yang kukenal biasanya ceria dan cerewet menjadi pendiam dan ya kau taulah seperti apa. Aku hanya takut jika hatinya terguncang lagi karena kedatangan Sasuke."jelasku pada Sai-kun dengan kilas balik tentang kejadian dimana Sakura sangat-sangat rapuh disaat itu. Jujur saja aku sebagai sahabat sangat tidak tega melihat Sakura terluka lagi.

"Tenanglah Ino, kau berlebihan. Aku percaya Sakura yang sekarang jauh lebih kuat dan bisa menghadapinya nanti jika bertemu Sasuke."

"Ya aku tahu itu tapi tidak ada salahnya bukan aku khawatir pada Sakura?"

"Tidak. Percayalah Ino, kita hanya bisa mendukungnya dari belakang."

"Ya kau benar Sai-kun."

"Ya sudah sampai."kata Sai-kun padaku. Aku segera turun dari mobilnya dan menuju lokasi pemotretan setelah mengucapkan salam perpisahan pada Sai-kun. Baiklah hari ini aku juga harus semangat.

End Ino POV

Hari ini aku berencana membuat kue yang sering aku buat dirumah dan mempromosikan di Cafe hari ini. Langsung saja aku kedapur dan membuat kue. Sebenarnya ini hanya kue cookies biasa tapi tidak ada salahnya mencoba bukan.

"Sakura-san anda sedang apa didapur? Anda tidak didepan?" tanya salah satu pegawaiku yang mendapatiku didapur.

"Ah...maaf aku pinjam dapur sebentar, aku ingin membuat cookies dan di bagikan pada pelanggan nanti. Tidak ada salahnya bukan ? Hanya promosi saja dan semoga para pelanggan nanti suka."

"Bisa saya bantu?"

"Ah bisa saja kenapa tidak?"

Segera saja aku dan pegawaiku memulai pekerjaan kami membuat cookies.

Loncat waktu

Lama aku dan salah satu pegawaiku berkutat di dapur akhirnya selesai. Kupandangi kue cookies yang sudang matang, satu kata SEMPURNA. Aku tersenyum dengan hasil karyaku saat ini. Ku letakkan kue cookies tadi pada sebuah toples berukuran cukup besar agar dapat memuat banyak kue cookies nantinya, sisanya nanti aku taruh dipiring-piring kecil.

"Sakura-san kelihatannya cookies ini enak boleh saya mencobanya?"tanyanya padaku.

"Tentu saja kenapa tidak?"

"Oishi ..."

"Arigatou."

"Wah yang lain harus memcoba cookies ini!"

"Tentu sa-" belum sempat aku melanjutkan kata-kataku aku tersadar dengan ucapanku sendiri dan pegawai tadi sudah pergi keluar dapur. Huh...sudahlah...

Aku pun segera keluar dari dapur. Pemandangan pertama yang kulihat adalah...tatapan semua para pegawai padaku. Ada apa ini ? Kenapa mereka menatapku seperti itu ? Aku hanya mengedip-medipkan mataku.

"Sakura cookies mu enak sekali."ucap tenten.

Tiba-tiba kiba dan Lee ikut-ikutan juga...

"Iya Sakura kue mu enak."

"Benar Sakura-san yang dikatan Kiba tadi."

"Arigatou Tenten, Kiba, Lee ... kita promosikan nanti pada para pelanggan."

"Iya/Baik/Ok."jawab mereka bertiga.

Aku senang mereka semua menyukai kue cookiesku yang sederhana ini. Aku sering membuatnya dirumah ketika sedang senggang. Dulu waktu masih duduk bangku sekolah dasar sampai bangku SMA aku sering membuatnya tetapi ketika sumah kuliah ak jadi jarang membuatnya karena kesibukanku dikampus.

"Sakura-san Kaa-san anda menelpon, ponsel anda tadi berbunyi di meja kasir."

"Ah terima kasih."kataku dan langsung saja kuangkat telpon dari Kaa-chan.

"Moshi Moshi-kereta api-chan, ada apa?"

"Ah Saki bisa Ibu minta tolong padamu?"

"Tentu saja Kaa-chan apa yang bisa Saki bantu ?"

"Bisa kau datang kerumah sakit ? Kaa-chan kan tidak dirumah sakit tolong kau cek beberapa pasien dirumah sakit?"

"Tentu Kaa-chan aku akan segera kerumah sakit."

"Terima kasih Saki."

"Sama-sama Kaa-chan."

"Jaga dirimu, Kaa-chan tutup telponnya."

Sambungan pun terputus. Segera saja kuambil tasku dan berpamitan pada Tenten bahwa aku akan kerumah sakit sebentar untuk mengecek keadaan disana. Kalau jarak cafe kerumah memanglah tidak jauh jadi kuputuskan untuk jalan kaki saja. Aku yang buru berjalan hampir semapat menabrak beberapa orang yang juga berjalan disana.

Gunakan ...

Dan aku jatuh dengan indahnya dengan pantat mendarat pertama pada trotoar.

"Ittai~"ringis ku. Kurasakan nyeri pada bagian pantatku. Aku yang sibuk sendiri sampai tidak menghiraukan orang yang bertabrakan denganku tadi. Hingga orang yang bertabrakan denganku tadi mengulurkan tangannya padaku. Aku pun mendongak untuk melihat orang yang bertabrakan denganku tadi. Aku hanya membulatkan mataku tidak percaya dengan orang yang ada didepanku. Mata itu wajah itu dan rambut ravennya. Onyx dan Emerald bertemu. Bibirku bergetar melihat orang yang ingin ku lupakan kini ada didepanku. Mataku siap menumpahkan air matanya yang siap meluncur dari mataku ini, rindu benci kesal sakit hati dan cinta becampur jadi satu didalam hatiku.

"Sakura?/Sakue-kun?"ucap kami berdua bersamaan. Kami bepandangan cukup lama hinnga aku memutuskan kontak mata antara kami terlebih dahulu. Aku pun bangkit berdiri dan merapikan pakaianku.

"Maaf telah menabrakmu Uchiha-san. Permisi."ucapku sambil berojigi padanya. Tanpa pikir panjang lagi aku langsung saja pergi dari hadapannya secepat mungkin.

"Sakura. Tunggu sebentar!"ucapnya sambil memegang pegelangan tanganku yang baru melangkah 2 langkah darinya.

"Lepaskan tanganku Uchiha-san!" tanpa menoleh kebelakang.

"Ada ap-"

"KUBILANG KEPASKAN TANGANKU UCHIHA!"bentakku padanya. Aku pun menyentakkan tangannya kasar dari pergelangan tanganku dan pergi secepat mungkin darinya. Aku segera berlari dari tempat itu dan menghindarinya agar tidak mengejarku. Jujur saja aku belum siap dengan semua ini. Ini terlalu tiba-tiba. Kenapa...kenapa dia kembali lagi ? Kami-sama kenapa...

Entah kemana kakiku berlari hingga kini membawaku kesebuah taman yang sepi. Kuedarkan pandanganku kepenjuru taman. Aku pun mendekati sebuah ayunan yang ada disana. Tenggelam dalam segala pikiran yang ada dalam kepalaku. Hingga aku tidsk menyadari seseorang menghampiri dan berdiri tepat didepanku. Aku yang menunduk hanya dapat melihat sepatunya dari bawah.

"Sakura ..."

Anda ...

Suara ini...

Kudongakkan kepalaku untuk melihat orang yang memanggilku ...

Aku langsung saja buru-buru bangkit dan pergi dari sana. Tapi belum sempat aku melangkah pergi lagi-lagi dia memegang pegelangan tanganku mencegahku untuk pergi.

"Kumohon Sakura jangan pergi dengarkan aku dulu."

"Lepaskan aku Uchiha-san!"

"Tidak."

"Lepaskan aku mohon!" isakku lirih.

"Tidak. Sebelum kau dengarkan aku bicara!"

"Apa yang perlu dibicarakan Uchiha-san? Semua sudah selesai kau dan aku sudah tidak ada apa-apa lagi?"ucapku yang mati-matian menahan tangisku.

"Berhenti memanggilku dengan sebutan Uchiha!"

"Aku mohon biarkan aku pergi..."kataku yang masih menunduk dan terisak, kurasakan cengkraman tangannnya sedikit mengendur pada pergelangan tanganku. Tanpa membuang kesempatan lagi aku langsung menyentakkan tangannya dan berlari menjauh darinya. Saat ini yang kupikirkan adalah kabur darinya.

Bug ...

Kurasakan punggungku membentur sebuah dinding pembatas taman. Aku mirinngis sakit pada punggungku. Semua terlalu cepat hingga kedua pergelangan tanganku kini sudah dia cengkram dengan posisi sebelah kanan diatas kepalaku dan sebelah kiri disamping kepalaku. Mata kami bertemu, dan dapat kurasakan hembusan nafasnya pada wajahku. Wajahnya begitu dekat dengan wajahku. Aku memang membencinya tapi aku juga merindukannya dan juga masih mencintainnya. Berbagai perasaan bekecambuk di dalam hatiku.

"A-apa yang kau lakukan padaku?"

"Mengurungmu agar tidak lari lagi."

"Lepaskan aku kubilang!"

"Tidak akan. Tidak akan kulepaskan kau sebelum kau mendengarkanku!"

"Tidak. Lepaskan aku!"

Aku memberontak sekuat yang aku bisa. Tapi semakin aku memberontak semakin kuat cengkraman tangannya pada pergelangan tanganku. Aku bingung apa yang harus kulakukan sekarang, disini sangat sepi, tidak ada orang yang lewat. Kami-sama bantu aku.

"Lepaskan!"sambil mencoba melepaskan cengkraman tangannya pada pergelangan tanganku. Matanya masih saja menatapku. Mata hitam sejatam elang itu seakan menyedot ku kedalamnya. Aku pun terisak pelan dengan air mata yang sudah meleleh dipipiku.

"Hiks...aku mohon... lepaskan aku, hubungan kita hiks... sudah berakhir."

"Apa? Sudah berakhir? Tidak ada yang berakhir disini Sa-ku-ra!"

"Apa maksutmu?"

"Kau masih kekasihku Sakura, apa kau ingat apa aku pernah mengatakan bahwa kita PUTUS? Tidak pernah bukan?"

"Tapi kau yang meniggalkanku waktu itu tanpa mau mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu! Semuanya sudah membuktikan kalau hubungan kita berakhir dihari itu!"

"Tidak kau masih milikku!"

"Semua sudah berakhir, terima kenyataannya dan lupakan aku!"

"Semua belum berakhir dan aku tidak akan pernah melukapanmu dan kau akan menjadi milikku kembali."

"Itu tidak akan mungkin terjadi!"

"Apa yang mungkin untuk seorang Uchiha? Semua yang mereka inginkan pasti akan mereka dapatkan."

"Tidak akan pernah!"ucapku dengan emosi.

Dengan segala kekuatan yang masih aku miliki aku mencoba memberontak dari kurungan dan juga cengkramannya. Tapi bukannya lepas dia malah menciumku dan semakin mengeratkan cengkramannya. Dia menciumku dengan kasar tidak memperdulikan aku yang sulit bernafas. Kurasakan dia mengigit bibir bawahku yang membuatku membuka mulutku yang membuat lidanya kini masuk kedalam mulutku, menjelajah didalam mulutku mengabsen gigiku. Cukup lama dia menciumku hingga dia melepaskan biibirnya pada bibirku. Aku yang sudah kehabisan kehabisan oksigen pun secepat mungkin meraup udara yang ada. Dan...

Plak ...

Entah dari mana kekuatan itu berasal aku kini menamparnya dengan keras membuatnya kepalanya menoleh kesisi kanan.

"Apa yang kau lakukan... dasar bajingan brengsek!"geramku padanya.

Toko Ramen Ichiraku ...

ino POV

Kuedarkan mataku pada kedai itu mencari Hinata yang mungkin saja sudah datang. Ketemu. Disana meja nomor 2 dari melakang paling ujung. Dia pun tersenyum padaku dan melambaikan tangannya padaku.

"Sudah lama Hinata?"

"Tidak juga kok Ino-chan aku juga baru saja sampai."

"Oh begitu, kau sudah pesan?"

"Sudah, Ino-chan juga sudah aku pesankan."

"Ah terima kasih Hinata."

"Jadi ada apa Ino-chan mengajakku kemari?"

"Begini Hinata apa pendapatmu jika Sakura dan Sasuke bertemu? Kau taukan seperti apa Sakura waktu itu, dia sangat kacau bukan? Aku yang ikut merawatnya sangat sedih melihatnya seperti itu aku hanya ingin dia tidak terluka lagi."

"Tapi kita juga tidak bisa berbuat apa-apakan Ino-chan, jadi kupikir kita sebagai sahabat hanya mendukungnya."

"Ish...kata-katamu seperti Sai-kun tadi pagi ... tapi kata-katamu dan Sai-kun ada benarnya juga Hinata."

"Ini pesanan kalian Ino-chan Hinta-chan," ucap Paman Teuchi yang menyerahkan pesanan kami.

"Arigatou Paman." ucap Ino.

".Ayo Kita Makan dulu Ino-chan."

Aku dan Hinata yang selesai makan akhirnya keluar dari toko ramen ichiraku. Aku dan Hinta berjalan bersisihan.

"Arigatou Ino-chan sudah mentraktirku tadi."

"Tak masalah Hinata. Setelah ini kau akan kembali ke kantor lagi?"

"Iya Ino-chan, Ino-chan Sendiri?"

"Aku entahlah Hinata, sesi pemotrteanku sudah selesai aku bingung akan kemana."

"Eh? Ino Hinata-chan? Kalian dari kedai Paman Teuchi?"tanya Naruto yang berjalan dari sisi lain yang juga bersama dengan Sai.

"Iya begitulah, lalu kalian dari dan mau kemana?"tanyaku balik.

"Kami ingin menyusul kalian berdua tadinya tapi karena kalian sudah ada disin ya tidak jadi."

"Bagaimana kalau kita kecafe Sakura saja?"saran Ino pada yang lain.

"Boleh juga, ayo." timpal Naruto menyetujui.

"Tapi Naruto-kun kita harus kembali bekerja?"

"Pekerjaan kita sudah selesai, tadi sudah aku serahkan pada yang tangan kananku untuk mengurusnya jadi kau tenang saja."

End Ino POV

Sasuke POV

Kami berdua masih dalam posisi yang sama. Dia masih menoleh kesisi kanan setelah aku menamparnya tadi. Sungguh aku sangat marah dan kecewa dengan perlakuannya tadi padaku. Aku langsung beranjak dari sana dan pergi darinya, kulihat dia masih syock karena aku menamparnya tadi.

Aku tidak percaya Sakura menamparku. Tapi ini semua pantas aku dapatkan karena aku sudah menciumnya tadi dengan kasar. Pantas juga untukku yang sudah menyakiti hatinya dan juga meniggalkannya begitu saja. Rasa sakit ini tak sesakit dengan apa yang dirasakan oleh Sakura. Aku yang sadar Sakura sudah pergi meninggalkanku segera saja ku kejar. Kulihat Sakura berjalan sambil memegang didnding pembatas taman.

"Sakura tunggu! Sakura!"teriakku padanya. Ck, dia itu... aku pun segera mengejarnya dan menghampirinya.

"Sak-"belum sempat aku menyelesaikan kataku Sakura suda memotongnya dan menyentakkan tanganku.

"JANGAN SENTUH AKU!" bentaknya.

"Maaf-"

"CUKUP! Kubilang cukup Sasuke, kumohon jangan ganggu aku lagi, pergi dari hidupku Sasuke aku mohon..."isaknya sambil menunduk. Jujur saja mendengarnya terisak membuat hatiku sesak.

Disis lain...

Ino, Sai, Naruto Dan Hinata ...

Saat kami berempat berjalan kecafe Sakura-chan aku melihat Sasuke keluar dari taman didepanku beberapa meter dari sini.

"Bukankah itu Sasuke?" seru Naruto sambil menunjukkan jarinya kesebuah taman.

Kami bertiga lalu mengikuti arah jari Naruto menunjuk.

"Kau benar Naruto Sasuke, dan tunggu perempua itu bukankah itu Sakura?" Kata Ino.

"Eh ? Kau benar Ino itu Sakura-chan, yang memiliki rambut seperti itu hanya Sakura-chan saja. Tapi kenapa dia bersama Sasuke ? Jangan-jangan..."

"Jika mereka bersama itu tandanya mereka tadi sudah bertemu Naruto." Kata Sai.

"Tapi lihat mereka sepertinya habis bertengkar Ino-chan."

"Kau benar Hinata."ucap Ino membenarkan kata-kata Hinata.

"Ayo kita cepat ketempat Sakura-chan."ajak Naruto yang siap melangkah tapi ditahan Sai.

"Tidak Naruto...kita lihat saja apa yang mereka bicarakan dan akan lakukan jika keadaan berubah membuat kita harus kesana kita hampiri mereka. Ayo kita mendekat sedikit agar kita bisa mendengarnya."jelas Sai pada kami semua. Kami semua akhirnya berjalan sedikit mendekat kearah Sasuke dan Sakura berada, posisi mereka yang membelakangi kami berempat membuat mereka berdua tidak menyadari kami.

"Sakura dengarkan aku dulu kenapa kau keras kepala sekali!"bentaknya pada Sakura.

"Apa? Aku keras kepala katamu? Bukankah itu kau sendiri Tuan Uchiha Sasuke? Kau ingat bagaimana kau juga sama keras kepalanya waktu itu, tidak mau mendengarkan apa pun penjelasanku dan meninggalkanku begitu saja?!"ucap Sakura sekaratik.

"Ok. Aku akui aku salah aku minta maaf telah menyakitimu dan...meninggalkanmu."

"Apa kau bilang, maaf? Setelah sekian lama baru sekarang kau datang padaku dan minta maaf? Lucu sekali..."kata Sakura mengejek.

"Ini memang terlambat tapi aku mohon maafkan aku Sakura..."mohon Sasuke.

"Semudah itukah? Tidak akan pernah Sasuke!"sambil membalikkan badan dan melangkah pergi.

"Sakura ku mohon maafkan aku,"cegahku.

"Minggir! Aku mau lewat! Kau menghalangi jalanku!"

"Saku-"

"Cukup! Jangan bicara padaku. Permisi!"Sakura pun melangkah melewatiku.

Sasuke End POV

Sakura POV

Kami-sama kenapa kau peRtemukan aku dengannya lagi disaat aku bisa melupakannya. Aku harus cepat menghindar darinya, lebih cepat lebih baik. Aku sudah tidak kuat lagi berdiri dan berjalan, kepalaku terasa pusing sekali tenagaku juga sudah habis untuk berlari tadi dan juga untuk kejadian tadi.

Grep ...

Kurasakan seseorang memelukku dari belakang, kurasakan hembusan nafasnya ditengkukku. Jujur saja aku merindukan pelukan ini, pelukan dari seseorang yang sangat aku cintai dan juga sangat aku benci. Aku hanya mampu menundukkan kepalaku.

"Maafkan aku Sakura, kumohon..."bisiknya dengan suara agak serak.

Dengan sisa tenaga kulepaskan pelukannya dariku.

"Kumohon Sasuke jangan ganggu aku lagi..."ucapku tanpa menoleh padanya. Aku harus segera pergi dari sini dan segera pulang kepalaku sakit sekali rasanya. Rasanya berputar-putar. Baru 3 langkah aku berjaalan sakit dikepalaku semakin bertambah dan tak tertahankan. Pandanganku tiba-tiba mulai kabur. Oh tidak jangan sampai aku pingsan disini. Kulangkahkan kembali kakiku untuk berjalan. Kami-sama beri aku kekuatan untuk bertahan aku mohon. Kupejamkan mataku sambil memegangi kepalaku, badanku sedikit oleng akan jatuh jika seseorang tak memegangiku.

"Sakura kau baik-baik saja ?"tanya Sasuke.

"Aku baik-"belum semapat aku kata-kataku selesai tiba-tiba semuanya jadi gelap dan seseorang menangkapku dan sayup-sayup memanggilku.

Sakura END POV

Sasuke POV

Kulihat Sakura sedikit oleng. Kudekati dia dan memegangnya agar tidak jatuh. Kulihat wajahnya sedikit pucat dan memegangi kepala.

"Sakura kau baik-baik saja ?"tanyaku padanya.

"Aku baik-"jawabnya yang tiba-tiba ambruk dan aku denga cepat menangkapnya.

"Sakura sadarlah, kau kenapa Sakura? Hey Sadarlah!" ucapku sambil mengoyang-goyangkan badannya.

Ino, Sai, Naruto dan Hinata yang awalnya masih memperhatikan mereka kini mendekati Sasuke yang sedang memangku Sakura yang pingsan.

"Teme apa yang terjadi pada Sakura-chan ?/Apa yang terjadi Sasuke ?/Sakura-chan?/Apa yang kau lakukan pada Sakura Sasuke ?"ucap Naruto, Sai, Hinata dan Ino pada Sasuke bersamaan. Sasuke yang awalnya sibuk dengan Sakura menolehkan kepalanya pada sumber suara.

"Aku tidak tau, tiba-tiba dia pingsan."

"Badan Sakura-chan panas Ino-chan!" Tutur Hinata. Ino pun menempatkan teleplak tangannya didahi Sakura.

"Kau benar Hinata, Sasuke cepat bawa Sakura kerumah sakit."

Kami semua pun bangkit dan segera mungkin membawa Sakura kerumah sakit.

Sasuke End POV

Rumah Sakit sakura ...

Sesampainya dirumah sakit segera saja aku menyuruh beberapa suster disana untuk menangani Sakura. Kulihat Sakura dibawa masuk keruang UGD. Aku tak menyangka akan jadi seperti ini akhirnya. Aku sangat cemas dengan keadaan Sakura.

POV Naruto

Kami semua saat ini hanya berharap Sakura-chan tidak apa-apa, tapi baru kali ini kulihat Sasuke begitu berantakan. Rambut pantatnya yang sedikit turun dan sudah acak-acakan, jas yang sudah tidak terkancing lagi dan raut wajah yang cemas. Sungguh rasanya aku ingin mengabadikan moment ini tapi ini dalam situasi yang tidak tepat.

"Teme tenanglah Sakura-chan pasti baik-baik saja aku yakin itu."ucapku sambil menepuk pundak Sasuke.

End Naruto POV

Loncat Waktu ...

Keluarlah dokter dari ruang UGD. Kami semua langsung menghampiri dokter itu.

"Bagaimana keadaan Sakura?" Tanya Sasuke.

"Dia baik-baik saja hanya demam saja tidak perlu khawatir. Sebentar lagi juga akan sadar." jelas dokter tersebut.

"Yokatta...terimakasih dokter." ucap Ino lega.

"Kami akan akan segera pindahkan keruang rawat inap, saya permisi"

Diruang rawat inap Sakura...

Kupandangi wajah damai Sakura yang sedang tertidur. Kukecup keningnya cukup lama. Aku sangat menyesal telah menyakitinya dan berakhir seperti ini. Sakura kumohon cepatlah sadar. Aku disisni menunggumu Sakura, Cherryku...

Menyewa ...

Masuklah Naruto, Sai, Ino dan Hinata.

"Yo teme kami pulang dulu jaga Sakura-chan baik-baik."

"Hn."

"Bisakah kau ganti kata ambigumu itu teme?"

"Hn."

"Itu lagi...Kami-sama kenapa ada manusia es macam dia hidup di dunia ini!"gumam Naruto dengan memutar bola matanya.

"Aku dengar itu baka dobe."

"Apa kau bilang teme?"

"Ck, urusai dobe!"

"Hentikan Naruto Sasuke kalian bisa membangunkan Sakura dia sedang sakit sebaiknya kita pulang dulu dan biarkan Sakura istirahat."jelas Ino melerai pertengkaran kecil antara Sasuke dan Naruto.

"Sasuke kami pamit dulu.."pamit Sai.

"Hn."

"Jaga Sakura-chan teme."

"Aku tahu dobe."

Mereka berempat pun keluar dari ruang rawat Sakura. Dan kini menyisakan Sasuke dan Sakura. Sasuke masih setia duduk didekat ranjang Sakura menggegam tanggan Sakura, mencium punggung tangannya. Satu tangannya yang bebas membelai wajah damai Sakura.

Sudah lama sekali rasanya Sasuke tak melihat wajah Sakura sedekat ini. Sakura aku rindu senyumanmu tawamu mata teduh mu dan segala ekspresimu itu... Sakura aku mohon cepatlah sadar...

Loncat waktu ...

Drt ... DRT ... DRT ... DRT ...

"Engh~".Tidurku sedikit terusik akibat getaran dari ponselku. Segera saja kulihat siapa yang mengirimiku pesan pagi-pagi begini.

Dari: Baka Aniki

Untuk: Sasuke

Baka Otoutou kau dimana?

Aku kepartemenmu tapi kau tidak ada ...

Kau tidak lupa kan hari ini ada rapat penting dengan kolega?

Untuk: Baka Aniki

Dari: Sasuke

Hn. Iya ...aku tidak lupa...

Kirim

Kukumpulkan seluruh jiwaku yang sepenuhnya belum terkumpul lalu berdiiri dan berjalan kearah kamar mandi di ruang rawat Sakura untuk mencuci mukaku dan merapikan sedikit pakaianku. Setelah itu aku segera menghampiri ranjang Sakura mendekatinya dan memberikannya kecupan didahinya. Kupandangi lama wajahnya yang masih tertidur dengan damai.

"Dobe, suruh Hinata menemani Sakura dirumah sakit dan juga minta Hinata untuk mengajak sabahat pirangnya Sakura."

"..."

"Aku ada rapat penting."

"..."

"Hn."

"..."

"Ck, berisik dobe."

"..."

"Hn."

Dan kutup secara sepihak sambungan telponku, aku terlalu malas mendengar si Baka Dobe yang berisik itu dipagi hari ini dan merusak mood pagiku ini. Untuk terakhir kalinya kupandangi wajahnya lagi dan mencium punggung tangannya, lalu segera beranjak pergi dari ruang rawat Sakura.

Saat aku keluar dari ruang rawat Sakura kulihat Hinata dan sahabat pirangnya Sakura, Ino sudah datang.

"Ohayou Sasuke." Sapa Hinata.

"Hn."

"Kau mau kemana? Dan meminta kami berdua untuk menemani Sakura?"tanya Ino.

"Rapat."

"Ck, dasar kau itu tidak berubah sama sekali."dengus Ino.

"Jaga Sakura." Ucapku lalu berjalan meninggalkan mereka berdua.

Aku harap rapat hari ini cepat selesai dan aku bisa menemani Sakura kembali...


Tbc ...

jeng jeng ...

gmana-gmana ?

pendek kah?

panjangkah ?

garing kah?

atau mungkin...

aneh atau apa...

entahlah...

hehe...

yup krisan dan coment na yak ok...

ktemu d chap dpan ok...