LOVE IN THE HEART
Cast : kaisoo / Hunsoo, all member exo
Genre : Romance, Hurt, Friendship and many more,,
Rete : T (+) mungkin
Warning : YAOI, plot pasaran, banyak flashback dan masih banyak lagi
Selamat membaca
.
.
.
Sepi, yah satu kata itu yang bisa mewakili keadaan disekitarnya dan juga suasana hati seorang namja cantik yang kini duduk termenung sendiri. Malam yang biasa nya menyajikan pemandangan bintang - bintang yang selalu setia mendampingi sang bulan kini kosong, hampa, sama seperti suasana hatinya. bulan pun seakan menggambarkan dirinya yang kini memang seorang diri menduduki bangku di taman belakang rumahnya.
"apa kau bahagia?' Tanya seorang namja tampan yang tiba tiba sudah ada disamping sang namja cantik.
" ,,,"
"apa kau masih akan terus menutup diri dari kenyataan yang ada? Berpura –pura tidak mengetahui nya? Atau kau memang terlalu bodoh?" ejek si namja tinggi lagi.
Namja cantik tersebut Menutup mata dan menghela nafas pelan berkali – kali, membuka matanya perlahan dan menengadahkan kepala nya menghadap si namja tinggi "kau benar oh sehun, aku memang bodoh karena perasaan ini, aku bodoh dan tuli, anni,, bahkan aku mejadikan diriku buta agar semua tetap berjalan semestinya." Jawab si namja cantik.
"kau egois baek, sangat egois" balas sehun sambil menahan emosinya.
" yah,, itulah aku ", " sudahlah sehun ah, sebaiknya kau segera tidur malam ini, aku harap kau tidak akan terlambat untuk datang ke pernikahanku besok." Terang baekhyun sambil melangkahkan kakinya memasuki pintu belakang rumah meinggalkan sehun yang masih beridri membelakangi dirinya, baekhyun berhenti tepat didepan pintu tanpa berbalik dan berucap " aku sakit, dia sakit, kyungsoo sakit, dan kau pun sakit, bukankah itu adil sehun ah,?"
",,,,,,"
" jalja oh sehun "
OTHER SIDE
Seorang namja mungil berbaring menghadap k eke arah meja nakas lebih tepatnya memperhatikan kotak music yang kini tengah memutar alunan music klasik, barang berharga miliknya karena merupakan pemberian dari orang yang paling berharga dalam hidupnya.
"apa aku sanggup untuk hari esok? Apa aku kuat untuk melihatmu mengucap janji jongin ah? " monolog kyungsoo seorang diri.
Lagi – lagi tanpa permisi air mata mengalir di pipi gembilnya, meski tanpa isakan atau suara yang menyertai. Menutup mata dan membuka nya perlahan berharap air mata tersebut dapat berhenti dan mengering dengan sendirinya, " nightmare,, may I expect the miracle happen? " gumam kyungsoo, perlahan mulai menutup mata nya mencoba tertidur untuk melepaskan lelah batinnya, berharap dirinya dapat bermimpi mengubah kenyataan dari yang seharusnya, dan tidak ingin bangun dari mimpi indahnya tersebut. Didalam alam sadarnya kyungsoo mulai merangkai Bagaimana semua ini terjadi, berawal, proses, dan bagaimanakah cerita ini harus berakhir? Sesuai keinginannya kah? Atau tetap teguh pada kenyataan yang telah ditakdirkan?
Flashback on
Bunyi derap langkah yang berlalu lalang semakin menegaskan keramaian yang kini tengah terjadi di bandara Gimhae Busan, kerumunan orang yang berteriak nama – nama penumpang yang telah turun dari pesawat, berharap menemukan keluarga, kerabat, teman atau bahkan boss yang mereka telah nantikan dari tadi. Seorang namja manis yang tengah ikut berdesak desakan diantara kerumunan tersebut hanya bisa pasrah dan menggerutu kecil. Salahkan badannya Yang mungil yang membuatnya terdorong - dorong bahkan tertutupi oleh para ajhussi – ajhussi tinggi didepannya. Lelah berusaha maju namun tanpa hasil akhirnya namja tersebut memilih mundur dan menunggu saja hingga kerumunan tersebut berkurang, barulah ia akan kembali maju untuk memanggil nama orang yang sedang ditunggunya. Hemmm rencana yang bagus menurutnya. Menit menit terlewati tidak terasa hampir 20 menit ia duduk diam dan menunggu, dan kini sesuai dengan perkiraannya, kerumunan tersebut sudah berkurang yang hanya menyisakan beberapa orang saja yang masih setia berdiri dan memegang papan nama, mungkin masih menunggu pikir kyungsoo. Setelah merasa menempati bagian terdepan barulah kyungsoo mulai membuka selembar kertas yang dibawa nya dari tadi dan mengangkatnya tinggi – tinggii –walaupun tangannya kyungsoo kurang tinggi sih-. Kertas yang ternyata berisikan nama seseorang yang dijemputnya itu rupanya mampu membuat seorang namja tam melangkahkan kaki mendekatinya. Kyungsoo berkedip dua kali memperhatikan namja yang kini berdiri dihadapannya, melarikan matanya dari atas hingga kebawah menelisik penampilan namja tampan ini, kaki nya yang jenjang terbalut degan epik skinny jeans hitam, tubuhnya yang tegap berbalut kaos putih dengan dilapisi kemeja flannel kotak – kotak biru berlengan pendek, serta tidak lupa kaca mata yang bertengger di hidungnya semakin menambah kadar ketampanannya. Wow, perfect! Summer's man, batin kyungsoo berteriak.
Kyungsoo yang masih sibuk dengan segala pemikiran randomnya tidak menyadari sebuah telapak tangan tengah melambai Indah didepan wajahnya. " hello, are you okay?" sapa sang pemilik tangan tersebut, membuat kyungsoo segera tersadar dari kekagumannya, dan tersenyum dengan kikuk.
Rasa malu mulai merambat diwajahnya memerah hingga mencapai telinganya, kyungsoo sangat merutuki kebodohannya dan bingung harus bersikap apa. " a,,ah,, joesonghabnida, naneun gwaenchanh-a" jawab kyungsoo terbata, masih merasa malu akan keadaannya tadi.
"are you baekie?, ups, I mean are you byun baekhyun?" Tanya kembali si namja berkulit tan.
" anhimmida, I'm kyungsoo, baekhyun's cousin" jawab kyungsoo sambil tersenyum memperlihatkan bibir bentuk hatinya.
"oh, I'm Kim Jongin " terang jongin sambil mengulurkan tangannya dan dibalas jabatan tangan serta anggukan dari kyungsoo.
" baiklah, jongin ssi mari aku bantu bawakan barang – barangmu menuju mobilku " dengan sigap kyungsoo mencoba membawa trolli yang kini dipegang oleh jongin, namun jongin menolaknya secara halus dan mulai mendorongnya kembali menuju pintu keluar yang akhirnya hanya bisa di ikuti oleh kyungsoo yang berada dibelakangnya.
Jongin POV
Aku berdiri dipinggir pintu keluar arrival hall bandara ini, mataku menatap satu persatu papan nama yang banyak dipegang oleh orang – orang dikerumunan sana, meski aku lama tinggal di inggris namun tentunya aku tidak lupa dengan Bahasa asli negeri aku dilahirkan sehingga aku bisa tau jika tidak ada namaku dari sekian banyak papan nama yang semerawut di kerumunan itu. Uhh siapa sih yang akan menjemputku? Apakah calonku itu atau saudara ku yang bermuka kotak? kenapa kemarin jongdae hyung hanya menyuruhku untuk tenang – tenang saja, "kau tenang saja, akan ada yang menjemputmu besok dibandara, sehingga kau tak perlu tersesat" begitu katanya. Dasar bodoh dia kira aku anak umur 5 tahun apa yang bisa tersesat. Berkali – kali aku mengecek arloji yang melingkar di tangannku, huh sudah 20 menit aku menunggu orang yang akan menjemputku, tapi jangankan batang hidungnya muncul, teriakan yang memanggilku saja tidak ada. Namun ketika aku melarikan tatapanku ke sebelah kiri, aku melihat seorang namja mungil berdiri dan mengangkat kertas keatas dengan tangannya, dan itu adalah namaku, yah! Benar itu namaku. Aku mulai melangkahkan kaki ku mendekatinya, melihat dia menatapku dengan mata besarnya dan mulut yang sedikit terbuka menelisik penampilanku dari atas hingga bawah seperti sedang menilai. Jika dperhatikan orang ini apa benar namja, kenapa sangat imut seperti wanita? Apa dia tertukar jenis kelaminnya? Hahh,, pikiran macam apa itu jongin pabbo. Melihatnya yang tidak kunjung berhenti menatapku maka aku coba untuk meggerakkan tanganku didepannya, tapi rupanya dia masih saja dalam mode kaget sepertinya, hingga akhirnya aku memutuskan berdehem dan mulai berbicara lebih dulu.
" hello, are you okay?", sapaku yang ternyata berhasil membuat nya tersentak lalu tersenyum kikuk, sepertinya dia malu karena tertangkap sedang memandangiku, terbukti dari wajahnya yang memerah hingga ke bagian telinganya dan dia membalas sapaanku dengan terbata "a,,ah,, joesonghabnida, naneun gwaenchanh-a", uhh dia lucu sekali sih.
"are you baekie?, ups, I mean are you byun baekhyun?" kuputuskan bertanya seperti itu karena jujur aku penasaran bagaimana rupa calon yang akan dijodohkan denganku. Yah walaupun sebenarnya calonku itu adalah teman masa kecilku, tapi hey, namanya juga masa kecil sekarang pasti sudah berubah kan wajahnya jadi aku tidak tau.
" anhimmida, I'm kyungsoo, baekhyun's cousin" jawabnya sambil tersenyum Indah dihadapanku, kenapa ada perasaan kecewa saat dia mengucapkan itu, tapi yah sudahlah, mungkin saja calonku juga cantik sepertinya, bahkan dari kecil saja baekhyun memang sudah mirip anak perempuan.
"oh, I'm Kim Jongin " akhirnya kuputuskan mengenalkan diri secara formal mencoba berjabat tangan dengannya. Dan dia pun membalasnya disertai anggukan kepala. tidak lama kemudian dia mencoba mengambil trolliku sambil berucap " baiklah, jongin ssi mari aku bantu bawakan barang – barangmu menuju mobilku ", sontak aku segera menolak secara halus bantuannya, ohh, tidak,, bagaimana mungkin aku membiarkan namja yang lebih kecil dariku membawakan barang-barangku, rasanya seperti aku bukan lelaki gentle saja.
Kami mulai berjalan keluar meninggalkan bandara gimhae, aku duduk disamping kyungsoo yang tengah fokus memperhatikan jalan didepan dengan tangan yang memegang kemudi. "if you are baek's cousin, so, where is he?" aku mulai mencoba pembicaraan memecahkan keheningan yang ada. "uhm, baekhyun tinggal dan kuliah di seoul, dia masih sibuk dengan skripsi akhirnya, tapi dia akan datang kesini setelah ujian semesternya selesai", jawabn kyungsoo. Aku bersyukur kyungsoo memahami Bahasa yang kupakai meski dia menjawab dengan Bahasa negeriku. "lalu kamu tidak sekolah?" tanyaku mencoba berbicara menggunakan Bahasa yang sama dengannya, dia menengok ke arahku seakan kaget bahwa ternyata aku bisa Bahasa korea. " tentu aku bisa Berbicara Bahasa tempat lahirku, hanya saja karena selama ini aku menggunakan Bahasa inggris jadi aku terbiasa berucap dengan Bahasa universal itu" jelasku yang mengerti akan kekagetannya. Dia hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti, belum sempat dia menjawab pertanyaanku mobil yang kami tumpangi telah berhenti di sebuah rumah besar yang di batasi oleh pintu gerbang besi yang cukup tinggi. Kami turun dari mobil dan mulai membawa barang – barangku memasuki rumah yang sepertinya familiar olehku. "untuk sementara kau akan tinggal disini dikarenakan jongdae hyung masih akan pulang seminggu lagi dari urusannya di jepang, dan dia juga yang meminta izin dari hal-abeoji untuk kau.". dasar si muka kotak, dia benar-benar takut aku akan hilang apa hingga menitipkan aku seperti anak kecil yang tidak punya orang tua. Aku hanya bisa mengangguk pasrah menerima nya. Dia membuka pintu sebuah kamar dan memasukan semua barang-barangku kedalamnya, yang aku yakin ini pasti akan menjadi kamarku nanti. "ini kamar yang akan kau tempati sementara jongin ssi, aku harap kau menyukainya, hal-abeoji sedang berada diseoul bersama samchon dan imo karena urusan perusahaan tapi mereka akan kembali dalam beberapa hari. jika kau merasa rumah ini terlalu sepi" jelas kyungsoo panjang. "oh, ya, satu lagi, aku tidak bersekolah jongin ssi" lanjut kyungsoo menjawab pertanyaan ku sebelumnya, "aku sudah lulus dari universitasku tahun lalu, dan sekarang aku bekerja disebuah cafe" lanjut kyungsoo sambil tersenyum.
What!ternyata dia lebih tua dariku, ya tuhan aku malu sekali telah salah menilainya, wajah dan tubuhnya benar-benar menipuku dengan baik. "uhm,, kalau begitu mianhamnida, aku telah keliru kyungsoo ssi" aku menggaruk tengkuk ku canggung.
Lalu dia terkekeh kecil, sungguh dia itu benar – benar manis seperti permen saja setiap kali tersenyum atau tertawa. "gwaenchanh-a, kau bisa memanggilku hyung, tidak usah terlalu formal" ujar kyungsoo.
"ahh, ne,, kalau begitu aku akan memanggilmu hyung, dan kau juga harus memanggilku tanpa embel – embel ssi, otthe?" jawabku mulai mencoba mengakrabkan diri, toh sebentar lagi kami akan menjadi keluarga, jadi tidak ada salah nya kan mulai saling mengenal. Dia hanya menjawab dengan anggukan kepala dan tersenyum ke arahku.
Setelah dia meninggalkanku sendirian di ruangan ini, aku menjatuhkan tubuh lelahku di atas ranjang empuk ini, oh, sungguh Kasur ini seakan mengajak ku untuk segera berlayar ke alam mimpi, perlahan – lahan kupejamkan mataku, mengistirahatkan tubuhku yang lelah akibat jet lag yang kualami. Sungguh perjalanan London ke busan membuat tubuhku lelah yang teramat. Sebelum aku benar – benar terlelap dalam tidurku aku masih menyempatkan diri mengucapkan "welcome to the busan, jongin" untuk diriku sendiri.
Jongin POV ends
Sementara di sebuah kamar lainnya terlihat seorang namja mungil tengah berbincang dengan seseorang. "hmm, dia tampan" ucap si namja mungil ditengah kegiatannya yang tengah mengetik sesuatu di laptopnya dengan handphone yang tengah terjepit di antara telinga dan lehernya. "berapa yah? Mungkin nilainya sekitar 8.5, yah meski dia sangat tampan, tidak ada manusia yang sempurna baek, aku tidak mungkin memberi nilai 10 untuknya.".namja mungil itu terus berbincang dengan seseorang ditelpon selularnya sambil tertawa pelan.
"arra,, aku tutup telpon nya sekarang ne,, aku harus menghubungi jongdae hyung, dia terus mengirimiku pesan menanyakan saudaranya itu"
"ne,, bye"
Jongin terbangun dari tidur cantiknya akibat handphone yang terus berdering tanpa henti, berterimakasihlah kepada saudara nya yang berwajah kotak itu. Yang tidak henti – henti menelpon.
"hmm,, hello?" jawab jongin dengan suara seraknya
"yak! Jongin ah, kau tidur atau mati hah, kenapa tidak mengangkat panggilanku? Kau sungguh membuatku khawatir" cerocos jongdae dengan suaranya yang nyaring.
"aku lelah hyung, kau sendirikan tahu perjalanan dari London ke busan cukup panjang, dan jetlag ini membuat tubuhku serasa remuk" terang jongin yang mulai mendudukan dirinya dan bersandar pada tepi ranjangnya. Perdebatan kecil terus berlanjut antara dua bersaudara itu, namun justru menandakan perhatian dan rasa sayang yang ada.
"hum,, aku tutup ne,"
Setelah menutup handphone, jongin mulai bangkit dari kasurnya menuju pintu, dia sangat merasa lapar, hingga dia keluar mencoba mencari sesuatu untuk mengisi perutnya. Saat jongin mulai menuruni tangga dia melihat angka yang berada di jam yang bertengger didekat tangga, jam 10.00 pm ternyata sudah sangat larut, pantas saja perutku ini sudah tidak dapat berkompromi, pikir jongin. jongin mulai melangkahkan kakinya asal, tentu dia masih belum tau letak ruangan di rumah ini, tadi saat tiba dia langsung diantar oleh kyungsoo menuju kamar dan belum diajak berkeliling oleh sang pemilik rumah. Instingnya menyuruh jongin menuju sebuah ruangan yang masih diterangi cahaya lampu, berbeda dengan banyak ruangan yang keadaannya sudah gelap gulita. saat jongin memasuki ruangan yang ternyata dapur itu, dia melihat seorang yang kini tengah berdiri disamping kulkas sambil meminum sesuatu, seperti susu pikir jongin.
"ehm, jongin, kau sudah bangun? Maaf aku tidak berani membangunkanmu, aku pikir kau pasti lelah karena perjalananmu" jelas kyungsoo yang kini telah berada di hadapan jongin.
"uhm, nee, aku lelah tapi aku haus jadinya aku terbangun" jawab jongin mencoba menutupi alasan sebenarnya terbangun karena lapar.
Kyungsoo hanya menganggukan kepalanya mengerti, belum sempat kyungsoo berucap menawarkan minuman padanya, perutnya telah lebih dulu mendeklarasikan keinginan nya dengan bunyi yang cukup nyaring, sehingga jongin harus menunduk malu karena ketahuan telah berbohong. Dan kyungsoo hanya tersenyum mendengar itu mencoba menahan tawa.
"tunggulah di sana, aku akan membuatkan makanan untukmu" uajr kyungsoo sambil menunjuk arah kursi makan dengan dagu nya.
Jongin yang masih malu segera menuju tempat yang kyungsoo tunjuk tadi dan menunggu kyungsoo memasak dalam diam, namun matanya tak berhenti memperhatikan kyungsoo yang lincah memasak. Dengan cekatan kyungsoo berhasil menyelesaikan masakannya, walaupun yang makanan yang disajikan hanyalah mie goreng biasa, tapi dari harumnya benar-benar menggoda lidah jongin. Jongin dengan perlahan mulai menyuapkan makanan itu dan mengunyahnya.
"otthe?" Tanya kyungsoo
"mashta" jawab jongin sambil mengacungkan ibu jarinya. Tidak lupa terus memasukan makanan itu kedalam nya dengan cepat, sepertinya dia benar – benar lapar.
"aku senang kau menyukainya" balas kyungsoo sumringah, karena masakannya diterima dengan baik oleh jongin. Dalam waktu singkat makanan itu telah habis tak tersisa di piring, dan menyisakan jongin yang tersenyum konyol.
"hyung kau sangat pintar memasak, besok kau harus memasakan aku makanan lagi ne,?" pinta jongin.
Yang dijawab dengan anggukan dan senyum dari kyungsoo, sepertinya mereka akan cocok sebagai keluarga nanti pikir jongin.
Yah, cocok sebagai keluarga.
TBC
.
.
.
Note:
Udah panjang belum chap ini menurut reader? Mudah – mudahan udah cukup panjang yah. #berpikirkerasdenganotakyangpendek
Maaf untuk chap sebelumnya yang penuh dengan typo, semoga chap ini bisa sedikit lebih baik, walau pasti ada typo juga sih,,#nyengirkuda
Wow, surprise ada yang suka dan mau membacanya. Gomabseubnida nee,,
Jika berkenan bisa meninggalkan jejak ne, tidak juga rapopo. hehehehe
