Sejak saat itu, Donghae selalu menyempatkan diri untuk pulang ke rumah, yang membuat Hyukjae sedikit lega karena suaminya adalah orang yang selalu berusaha menepati janjinya. Meskipun sikap dingin itu masih menempel di seluruh wajah dan tingkah lakunya, tak mengapa asalkan ia tidak akan menyentuh orang lain lagi.
Meskipun Hyukjae masih menjadi budak seksnya.
Terkadang, Donghae dengan kasar akan memerintahkan sang istri untuk duduk di bawahnya dan mengulum penisnya. Mengeluarkan hasratnya dengan tidak berperikemanusiaan di seluruh tubuh dan wajah Hyukjae, tidak berhenti meskipun istrinya hampir pingsan sekalipun, bahkan membiarkan teriakan Hyukjae semakin keras saat ia mencambuk setiap inchi dari tubuh Hyuk kasar—entah setan apa yang sedang merasuki dirinya.
Donghae hanya tidak bisa membayangkan istrinya yang setia tidur bersama laki – laki lain. Walaupun hanya satu malam, 20 tahun Hyukjae menjadi budak seksnya sekalipun tak akan menghapus jejak sakit di hati Donghae.
Atau mungkin istrinya telah menghianatinya jauh dari itu akan tetapi ia tidak mengetahuinya?
Ada berapa orang yang pernah menyentuh tubuh sang istri selain dirinya?
Apakah ia memiliki selingkuhan selama ini?
Pikiran – pikiran nista itu semakin menghantui Donghae, membuatnya berteriak marah melihat Hyukjae yang saat ini sedang merapikan kamarnya. Didekatinya sosok kurus berambut blonde itu sebelum Donghae mendorong tubuh Hyukjae dari belakang menuju tempat tidur, mengagetkan istrinya.
"D—donghae?"
Hyukjae berusaha menahan isakan tangisnya saat sang suami dengan kasar merobek kemeja panjang yang telah ia kenakan, membiarkan benda kebanggaan suaminya memasuki lubangnya tanpa persiapan—membuat lubang itu berdarah.
"Apa kau menangis juga saat mereka memperkosamu seperti ini?"
Tidak ada lagi bisikan menggairahkan dan lembut saat mereka bercinta, atau lebih tepatnya saat Donghae mengeluarkan hasratnya.
"A—aku tidak pernah tidur dengan mereka."
Gelengan Hyukjae membuat Donghae semakin marah dan menampar pipi mulus sang istri.
"PEMBOHONG!"
"Ak—aku bersumpah." Hyukjae akan terus berusaha meyakinkan suaminya meskipun ia tahu itu percuma.
"Diam kau, pelacur."
Dan selanjutnya hanya isakan tangis beserta lenguhan lemah yang mengiringi malam. Donghae lebih kasar malam ini, Hyukjae dapat merasakannya. Tubuhnya serasa di robek menjadi dua dengan darah yang mongering kemudian keluar lagi terus menerus dari lubang dan luka yang ditorehkan Donghae.
"Dimana laki – laki bodoh itu?"
"Maaf Tuan Kim, baik tuan dan nyonya muda tidak memperbolehkan siapapun menjenguk nyonya muda Hyukjae saat ini."
"Persetan dengan majikanmu!" Heechul berteriak kasar, mengagetkan Sunye ketika ia melewati tubuh berpakaian maid itu dengan cepat. "Saya mohon, Tuan! Nyonya muda sedang tidak—"
"Ruangan mereka di lantai tiga, kan?"
Seharusnya Sunye tahu jika tidak ada yang dapat melarang seorang Kim Heechul. Salah satu sahabat Donghae yang saat ini tinggal sebagai dokter kandungan di Amerika itu memiliki kepala dan kepribadian sekeras batu. Bahkan baik orang tua Donghae maupun Hyukjae menurut untuk tidak mengunjungi anak – anak mereka, saat Sunye menyampaikan pesan dari majikannya.
"Dasar!"
Heechul hanya tak habis pikir, bagaimana sosok Hyukjae yang setia dan bertanggung jawab itu tiba – tiba dikabarkan telah berselingkuh dengan Choi Siwon—mantan pacarnya. Ia paham bagaimana Hyukjae dan Donghae saling mencintai satu sama lain, dan kenyataan bahwa apa yang ia baca di salah satu koran terkenal—tentang hubungan pernikahan mereka yang sedang retak membuatnya langsung terbang ke Korea, mengingat Donghae yang tiba – tiba juga menjadi sangat dingin di telepon dan mengultimatum Heechul untuk tidak membicarakannya.
Donghae yang lembut dan penyayang tidak pernah berani mengultimatum seorang Kim Heechul—tidak ada yang berani.
"Hyukjae!" beberapa gedoran keras membuat Sunye hanya dapat mengelus – elus dadanya melihat Heechul yang seakan – akan semakin marah setiap detiknya. "Hyukjae, buka pintunya!"
Mendapat respon hening dari Hyukjae, membuat laki – laki cantik berambut merah itu semakin naik pitam. "DASAR JALANG! BUKA PINTUNYA! KAU INGIN AKU MENDOBRAK PINTU INI, HAH?!" diambilnya kursi kayu bercorak klasik yang terdapat di depan pintu sebelum diarahkannya kursi itu untuk menghancurkan pintu kamar Donghae dan Hyukjae.
"Tuan, saya rasa—"
BRAK!
Sekali lagi Sunye hanya dapat menghela napasnya perlahan ketika melihat pintu itu tergeletak menyedihkan setelah Heechul berhasil menghancurkannya. Perempuan it uterus mengikuti langkah Heechul memasuki kamar majikannya.
"HYUKJAE! DIMANA KAU?!"
Bagaikan bom yang sudah siap meledak, Heechul mengernyitkan keningnya sembari memeriksa setiap ruangan yang ada di kamar sahabatnya—mulai dari ruang keluarga kecil di bagian depan sampai balkon yang sedang terbuka. Ia tak menemukan apa yang ia cari sampai Heechul mendapati pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
Dan sosok Hyukjae yang terbaring lemah di dalamnya seakan – akan ia sekarat.
"…Oh my God."
Hyukjae dapat merasakan tubuhnya retak dan sangat lemas. Namun sebuah kain dingin yang saat ini tengah menempel di keningnya membuat laki – laki bersurai blonde itu terbangun.
"Kau sudah bangun?"
Heechul tahu itu merupakan salah satu pertanyaan paling retoris dan tidak penting. Namun, terlalu banyak yang ia ingin tanyakan kepada Hyukjae sampai laki – laki itu tak tahu harus memulai dari mana.
"H—hyung?"
"Sejak kapan?"
"Huh?" Hyukjae menatap Heechul yang sedang duduk dan melipat tangannya di kursi tepat di sebelah tempat tidurnya tak mengerti.
"Aku memeriksamu tadi." Dan tatapan mengintimidasi itu membuat jantung Hyukjae seakan berhenti berdetak, "Sejak kapan Donghae menjadikanmu budak seks nya?"
Heechul bukanlah orang bodoh. Bahkan manusia awampun yang bukan seorang dokter dapat melihat betapa bengkak dan parahnya luka di lubang anus milik istri Donghae itu, ditambah dengan sayatan – sayatan merah yang mirip bekas cambuk dan lebam di sekujur tubuh Hyukjae seakan – akan untuk menandakan bahwa laki – laki cantik itu telah dimiliki oleh seseorang.
"A—aku—"
"Atau itu bukan Donghae?"
Dan kalimat itu membuat Hyukjae terisak kecil. Meskipun ia berusaha untuk berbicara dibalik sesegukannya. "Ha—hanya Donghae, Hyung. Ha—ha—hanya di—dia yang pernah menyetubuhiku. Ku—kumohon percayalah pada—ku."
Masih dengan wajah datar untuk menyembunyikan rasa kasihannya, Heechul bertanya kembali. "Sejak kapan Donghae menjadikanmu budak seks nya?"
"Du—dua bulan lalu."
"Bajingan itu!" Hyukjae menahan tangan Heechul yang hendak beranjak dari kursinya, membuat laki – laki jangkung bak model itu kembali duduk ketika melihat isyarat sang blonde untuk mendengarkan ceritannya, "A—aku yang memintanya, H—hyung."
Hyukjae menahan napasnya dan menghembuskannya kembali, menpersiapkan dirinya untuk bercerita sedikit panjang.
"Setelah kami bertengkar, i—ia tak pernah pulang lagi. Dan dua hari setelahnya Donghae pulang dengan membawa Sandara."
Iris milik Heechul melebar, seakan – akan ia sudah tahu kelanjutan dari kisah ini.
"Dia secara terang – terangan bercumbu dengan Sandara di ruang tamu, dan aku menawarkan tubuhku sebagai jaminannya agar Donghae mau pulang ke rumah. A—agar ia tidak menyentuh tubuh siapapun lagi se—selain tubuhku." Selanjutnya hanya isakan Hyukjae yang terdengar di seluruh penjuru kamar.
"Aku tidak tahu harus bersyukur atau mengumpat keras dengan keadaanmu sekarang."
Hyukjae menatap Heechul tidak mengerti, masih dengan kedua mata sembabnya.
"Fuck this! Kau hamil, Hyuk! Dan Tuhan sangat menyayangimu untuk menjaga kandungan yang sedang berumur empat minggu itu dengan baik meskipun Donghae terus menyiksamu dan janin itu."
"A—apa?"
Ingin rasanya Hyukjae menganggap sahabatnya sedang bercanda, namun wajah yang ditunjukkan sang diva membuat prasangkanya hilang seketika. Laki – laki cantik itu tak tahu harus tertawa bahagia atau malah semakin menangis tersedu – sedu.
"Ba—bagaimana ini…" air mata tak dapat berhenti mengalir dari pelupuk Hyukjae, "Aku tak tahu harus bagaimana, Hyung…"
Hyuk memeluk perutnya lembut. Mommy akan menjagamu, Sayang… sembari terisak ia tersenyum pilu, tak peduli daddy akan berkata apa tentangmu…
Setelah itu hanya terdapat isakan – isakan menyedihkan yang mengisi ruang tidur Hyukjae. Dengan Heechul yang terus mengerutkan keningnya tanpa berkata apapun seperti biasanya. Ia harus menyelesaikan masalah rumit ini, harus!
Donghae baru saja akan membuka lembaran baru dari salah satu kontrak kerja yang ia pegang ketika sebuah dobrakan keras membuka pintu kembar ruangan kerjanya secara brutal.
Dan melihat sosok cantic dari Amerika yang tengah berdiri penuh amarah di baliknya.
"Hee—chul hyung?"
Laki – laki itu tak berkata apapun, wajahnya begitu dingin dan Donghae mengisyaratkan baik sekertaris dan beberapa sekuriti yang kini tengah memiliki cakaran merah di wajah mereka untuk menjauh perlahan—tidak ada yang dapat menghentikan amarah seorang Kim Heechul, tidak pernah ada kecuali dirinya sendiri.
Namun ketika Donghae berdiri dan akan mempersilahkan Heechul untuk duduk, sebuah tamparan keras menggema di ruangan sang direktur—diikuti rasa panas dan perih milik pipi kanan laki – laki dengan tatanan rambut brunette nya yang sedikit berantakan tersebut.
"Aku tidak pernah mengajarimu untuk menjadikan istrimu sebagai seorang budak seks."
Dan tatapan pilu yang ditangkap manik kosong Donghae membuatnya untuk pertama kali selama beberapa bulan ini terlihat kaget. "Aku—"
"Kenapa tidak kau ceraikan saja Hyukjae setelah ia mengecewakanmu?"
"Dia yang memintanya."
"Bukan berarti kau berhak memperlakukannya seperti binatang."
"Hyukjae pantas mendapatkannya." Donghae dapat merasakan sedikit bagian dari hatinya menghilang saat Heechul memandangnya kecewa. "Dia menghianatiku, Hyung. Apa yang pernah kuperbuat padanya sehingga ia bisa menyerahkan tubuhnya dengan begitu mudah kepada laki – laki lain?"
"Lalu apa yang kau lakukan dengan Sandara adalah sesuatu yang benar?"
"Aku hanya ingin Hyukjae tahu betapa sakitnya dibohongi orang yang paling kau cintai."
Heechul masih berdiri dalam diam saat Donghae mulai menjelaskan duduk perkara dari masalah ini, wajahnya dibuat sedater mungkin meskipun sebenarnya hatinya menangis tersedu ketika melihat Donghae dengan tatapan dingin namun begitu rapuh di saat yang bersamaan.
"Aku selalu berusaha membuatnya bahagia. Apakah laki – laki bernama Siwon itu begitu hebat sehingga ia lari ke dalam pelukannya? Apakah Siwon selalu ada di saat ia menangis meskipun pada hal yang paling sederhana? Aku disana, Hyung. Aku selalu ada di saat ia menangis dan butuh sebuah pundak untuk bersandar, saat ia tertawa dan butuh seseorang untuk berbagi kebahagiaan yang ia rasakan, sakit yang ia alami. Aku bahkan disana menopang beban aib yang ia torehkan kepada keluarga kecil kami—menjawab seluruh pertanyaan dari wartawan dan orang – orang terdekat kami dengan bingung apakah benar rumah tangga ini dapat dibangun kembali di atas kebohongan yang ia buat. Aku tahu aku salah dengan berlaku biadab seperti ini."
Sebuah jeda, dan Donghae menghela napasnya panjang agar ia tidak menangis sedikitpun. "Namun aku hanya tak dapat melepaskannya untuk pergi. Tidak kali ini, tidak untuk selamanya."
"Kamu menyakiti Hyukjae dan dirimu sendiri di saat yang bersamaan."
Donghae hanya terdiam. Kakinya bergetar kecil seiring dengan napasnya yang makin pendek karena isakan tangis yang mulai ia keluarkan.
Aku tahu.
"Bagaimana jika aku percaya bahwa Hyukjae tidak pernah tidur dengan siapapun kecuali suaminya?"
"Tanda merah itu mengatakan segalanya, Hyung."
"Hanya karena ia bercumbu dengan mantan pacarku bukan berarti Hyukjae tidur dengannya."
Donghae menutup matanya erat – erat—mencoba menghilangkan baying – baying sang istri yang tengah bercumbu mesra dengan orang lain di otaknya.
"Donghae." Kali ini nada milik sang diva begitu lembut, membuat Donghae menengadahkan kepalanya ke atas untuk menatap manik sedih dari kedua mata di hadapannya. "Aku tak akan memaksamu percaya dengan berita apa yang kubawa kali ini, namun kuharap kamu mau mendengarnya."
"Kau akan kuseret masuk dengan bekas sepatuku di penismu jika kau tak masuk sekarang, Siwon."
Donghae membelalakkan matanya tak percaya saat sosok tinggi yang begitu ia kenal menginjakkan kaki jenjangnya di karpet merah milik ruangannya. Dan sebelum Donghae dapat menghentikan dirinya sendiri, ia dengan keras menonjok hidung mancung milik pemuda itu sehingga Siwon sedikit terhuyung sebelum terjatuh. Dan Donghae memutuskan untuk menduduki tubuh Siwon yang tengah terkapar akibat pukulannya yang pertama sebelum memukuli seluruh bagian dari wajah tampan laki – laki tinggi itu keras – keras.
Hanya ada suara pukulan dan ringisan Siwon setelahnya.
"Hy—hyung!" meskipun berusaha untuk mengindar, seharsunya Siwon tahu jika kekuatan laki – laki ini begitu besar mengingat tubuh Donghae yang kekar meskipun tak sebesar dirinya.
"De—dengarkan aku dulu!" perkataan laki – laki itu lewat bagaikan angina lalu, kali ini Donghae malah memukulnya lebih keras.
"H—hyung!"
"Donghae, kau akan membunuhnya."
Sebuah celetuk kecil dari Heechul dan Donghae menghentikan semua aksinya, mereka masih terdiam dalam beberapa saat—larut di pikiran masing – masing.
Sebelum suara berat milik laki – laki berambut jet hitam di hadapannya mulai membuka suara, "Kami tak pernah melakukannya, Hyung."
"Masih berani kau berbicara di hadapanku?"
"Aku mencintai Hyukjae." Sebuah pukulan mendarat di mata kanannya, membuat penglihatan Siwon kembali kabur. Sedangkan Heechul hanya dapat menutup matanya saat pukulan Donghae terus melayang brutal di wajah tampan Siwon.
"Namun ia terlalu mencintaimu untuk melakukannya denganku."
Dan pukulan – pukulan itu .
"Hyuk—Hyukjae pergi saat ia menerima pesan darimu, dan aku bersumpah kami hanya berciuman, tak lebih."
Tidak.
Donghae terdiam, ia berdiri perlahan dari posisinya yang kini menduduki perut Siwon dan berjalan gontai ke kursinya—kembali duduk dalam diam.
Tidak mungkin.
Hyukjae tidak mungkin benar, atau Donghae yang terlalu malu untuk menolak bahwa selama ini kesalahan ada dalam pihaknya.
"Malam itu, artikel, kissmark yang ada di leherku—aku bersumpah aku tidak tidur dengannya!"
"Huu—ah! Sakit! Aahh! Sakit, Hae!"
Tidak.
Dan sebuah kenyataan bahwa dalam dua bulan ini Donghae memperlakukan istrinya dengan tidak manusiawi membuatnya ingin mencabik seluruh rambut di kepalanya hingga lepas.
Ia berjanji di hadapan Tuhan untuk selalu menjaga Hyukjae, tak menyadari bahwa dirinya sendirilah yang membuat sang istri tersiksa.
"Jangan bersama perempuan lain… disini sakit sekali rasanya."
Masih pantaskah aku menjadi suamimu?
"Heechul Hyung." Sebuah bisikan lirih membuat si perempuan cantic yang masih terdiam mengarahkan perhatiannya penuh ke Donghae. "Tolong… jaga Hyukjae."
"Apa maksudmu?"
Donghae menggigit bibirnya, pandangannya liar dan tak menentu seolah – olah ia sedang dilanda bingung yang amat sangat. "Aku… tidak pantas lagi melindunginya."
"Jangan berkata hal bodoh."
"Aku akan tetap memberinya uang, materi, mansion milik kami kepadanya."
"Donghae, apa yang kau bicarakan?" bahkan Siwon yang masih memegangi wajahnya kesakitan menoleh pada sosok tampan yang tengah duduk di kursi dengan bimbang.
"Aku terlalu hina untuk berada di sampingnya."
Kemudian, sebuah gebrakan keras di atas meja Donghae membuat laki – laki itu tersadar dari lamunannya. "DENGAR, BAJINGAN TAMPAN! AKU HANYA AKAN MENGATAKAN HAL INI SATU KALI DAN JIKA KAU MEMOTONG PEMBICARAANKU SEDIKITPUN, KUPASTIKAN NASIBMU AKAN LEBIH BURUK DARI SIWON!"
Masih dengan wajah yang saat ini sedikit lebih pucat, Donghae mengangguk.
"HYUKJAE HAMIL!" Donghae sekali lagi membelalakkan matanya lebar – lebar ketika Heechul lanjut berteriak, menekankan beberapa kata dalam ucapannya. "DAN YA, BERHENTI MEMASANG WAJAH KAGET SEPERTI ITU KARENA HAL TERKAHIR YANG KUINGINKAN ADALAH KAU, SEBAGAI AYAH DARI ANAKNYA UNTUK LARI DAN MENINGGALKAN HYUKJAE!"
"Hyukjae… hamil?"
Bagaikan sebuah tamparan keras, Donghae hanya dapat melongo lebar sembari otaknya sibuk memproses berbagai fakta mengejutkan yang datang padanya hari ini.
Namun Heechul benar. Hal terakhir yang ingin ia lakukan sebagai manusia adalah lari dari tanggung jawabnya—tentu mereka berdua telah melenceng jauh dari apa itu arti kebahagiaan yang mereka cari dari pernikahan, namun tidak ada jalan lain selain memperbaiki kesalahan itu bersama – sama saat kata 'bahagia' hanya dapat diraih jika mereka bersama – sama.
Aku akan memperbaikinya.
a.n. another update! makasih bangeet buat yang udah review, follow, like? masih rada asing sama peraturannya ffn, but i hope you guys will like this one! ;)
