(****)
(part 2)
Puri ini sudah tidak bertuan, tanahnya juga. Wanita pendatang ini, Emma Michiels, mendapatkan puri dengan cuma-cuma. Yang tidak ingin memberikannya cuma-cuma adalah masyarakatnya! Mereka tidak ingin hal buruk terjadi pada nona itu. Mereka, mematok puri beserta tanah bekas ladangnya dengan harga sangat tinggi. Tidak berdiskusi terlebih dahulu akan dibagi kepada siapa saja uangnya, yang mereka harapkan adalah Emma tidak mampu membeli dan langsung pulang.
"Aku akan membelinya, berapapun!"
Setinggi apa pun mereka mematok harga, Emma selalu dapat menyanggupi. Hingga akhirnya mereka berhenti, karena tidak tahu akan diapakan uang-uang itu.
Strategi penduduk yang kedua adalah menceritakan semua kisah-kisah seram tentang Puri.
Emma hanya tersenyum dan berkata, "Itu tak mengapa!"
Setelah melalui beberapa masalah, akhirnya Emma mendapatkan apa yang ia mau. Puri beserta ladangnya yang berpetak-petak.
Emma Michiels rupanya wanita yang cerdas. Dia menanggapi cerita-cerita warga yang berkaitan dengan puri ini sebagai cerita-cerita penduduk desa yang umumnya dibuat-buat agar menyeramkan. Mereka membuatnya begitu sakral dan tidak tersentuh, untuk melindungi apa yang penting bagi mereka. Emma menebak kalau itu hutan di belakang Puri. Karena Puri itulah orang-orang tak dapat membuka lahan yang lebih luas. Bukankah itu membuat hutan terlindungi? Atau mungkin tanah Puri yang sangat subur.
Di situlah, Emma harus mencari jawabannya sendiri.
Siang hari saat dia pertama kali menempati puri, debu dan berbagai macam serangga menyapanya. Seperti kapal karam dan terkubur di lautan, seperti itulah puri itu menurutnya.
Masalah pertama sebelum bersih-bersih adalah listrik. Dia tidak ingin hanya cahaya lilin menemani malamnya, karena itu dia mengendarai mobilnya menuju kota, memasang listrik dengan generator sendiri. Dibantu dengan pemuda-pemuda kota, tak hanya listrik, mereka juga membantu merenovasi bangunan. Emma juga membayar mereka untuk tinggal selama beberapa hari.
Tak ada masyarakat setempat yang membantunya, memasuki puri yang mereka yakini seram dan berbahaya saja tidak berani.
Hari pertama di puri, biasa saja. Bunyi angin, dahan pohon yang mengetuk-ngetuk jendela saja. Selanjutnya Emma menyuruh para pemuda untuk memangkas pohonnya, menghilangkan suara-suara itu. Hari-hari berikutnya, setiap gangguan yang mereka dapati, mereka hilangkan.
Pemuda-pemuda itu dari kota, mereka tak mengenal takhayul dan rasa takut. Kalaupun mereka merasa takut, Emma akan menghardiknya, "Jangan kampungan!"
Minggu-minggu melelahkan itu pun terlewati. Puri sudah layak ditinggali, walau belum 100 persen. Listrik menyala, air mengalir, lantai kayu dilapisi karpet merah cerah, dinding diberi cat berbagai warna, perapian kembali berfungsi, atap telah diganti, semua sudah diperbaiki. Puri tampak benar-benar baru, seperti baru saja dibangun.
Setelah pemuda terakhir memberikan nomor dan alamat kelompok pekerjanya, lalu meninggalkan puri, Emma akhirnya benar-benar sendiri.
"Saatnya membuat teh!" setelah menyalakan pot berisi air, dia juga menyalakan perapian.
Saat itu musim panas menjelang gugur. Untuk yang tinggal dekat perbukitan, hawanya sudah bisa dikata musim gugur.
Emma pun duduk di depan perapiannya, di atas sofa kuning yang empuk, meneguk teh-nya, menghangatkan tubuhnya di malam yang dingin itu. Lalu gangguan seperti malam-malam sebelumnya, dimulai. Ketukan-ketukan di lantai atas samar-samar terdengar, lalu di dinding, semakin lama semakin kuat. Malam saat pertama ia dan para pemuda mengetahui ini, mereka langsung mengadakan pencarian. Tidak ada yang takut, mereka mencari tahu dengan senter, hasilnya tidak ada apa-apa. Emma serius untuk menghilangkan gangguan-gangguan itu. Setidaknya setelah berminggu-minggu penyebab gangguan benar-benar telah dihilangkan. Kalau masih ada, berarti memang puri itu berhantu. Fakta inilah yang membuatnya senang.
Karena merasa tidak ada hal penting lain yang perlu dikerjakan, dia meninggalkan teh-nya lalu berjalan menuju lantai dua. Tangga reyot sudah diganti, tidak menghasilkan bunyi yang berderit. Dia sampai di lantai dua, yang hanya terdiri dari kamar-kamar tidur dan beberapa ruang termasuk gudang, terlihat biasa saja. Cat berwarna merah muda dan karpet merah terang membuat atmosfir ruangan di puri itu tak angker lagi.
"Hantu, sebenarnya apa yang ingin kau katakan? Ketahuilah, aku datang ke sini untuk membantumu!"
