Bagian 2
Ketika Rasa itu Muncul
" Lukamu sepertinya sudah sembuh!" ujar Naruto.
Sudah lima hari Hinata tinggal dirumah Naruto. Naruto memegang perban yang melekat di pipi Hinata.
" Kau mau buka perbannya." Tanya Naruto merapikan helaian rambut Hinata.
Hinata mengangguk. Wajahnya tampak bercahaya.
Naruto pelan membuka perban yang melekat dipipi Hinata. Luka Hinata sudah sembuh. Pipinya tak meninggalkan bekas luka. Membuat wajahnya makin sempurna dimata Naruto.
" Nah, kau sudah sembuh. Lukanya tak memberi bekas." Kata Naruto.
Hinata tersenyum simpul. Dielusnya pipinya, tak berbekas.
" Arigato, Naruto." Kata Hinata.
Bersamaan, handphone Hinata berdering. Diangkatnya. Telepon dari ayahnya.
" Ya, ayah?" mulai Hinata.
" Neji bilang kau ada dirumah temanmu. Berapa hari kau disana?"
Naruto menghela nafas. Mungkin sudah saatnya ia melepas Hinata. Namun...
" Tiga bulan ayah." Jawab Hinata.
Naruto terhenyak mendengar jawaban Hinata.
" Oh baiklah." Kata ayahnya menutup telepon.
" Kenapa kau...?" Naruto setengah kaget.
Hinata hanya terseyum.
" Aku sudah berjanji untuk menemanimu selama tiga bulan bukan?" kata Hinata.
Naruto setengah terkejut. Tak disangka, jawaban Hinata saat itu serius. Hinata langsung masuk kedalam dekapan Naruto.
" Tak mungkin aku mengingkari janji kepada orang yang telah menyelamatkan ku." Kata Hinata memeluk Naruto.
Naruto yang tanpa ba-bi-bu langsung dipeluk Hinata, terkejut. Tak disangka demikian. Naruto hanya membalas memeluk Hinata.
" Naruto..." lirih Hinata.
Dilepasnya pelukannya pada Naruto. Keduanya bertatapan. Dengan pipi merona indah, Hinata mencoba mendekati wajah Naruto. Naruto hanya diam. Menutup mata. Saat hal itu akan terjadi..., handphone Naruto berdering. Hinata pun menjauhi wajah Naruto.
" Gomen, Naruto." Hinata menyadari kekhilafannya.
Naruto hanya tersenyum. Tak sedikit yang seperti Hinata, mencoba mencuri kehangatan yang dimiliki Naruto. Namun, kali ini entah mengapa, Naruto merasakan sensasi yang berbeda dari gadis Hyuuga tersebut. Kehangatan dan kebeningan dari Hinata membuat Naruto tak sanggup menolaknya. Diangkatnya panggilan yang masuk. Dari ayahnya
" Hallo, ayah. Nani?" kata Naruto.
" Tidak apa-apa, bagaimana keadaanmu?" tanya ayahnya.
" Baik." Jawab Naruto.
" Gadis itu?"
" Baik, lukanya sudah sembuh. Tadi baru saja dibuka perbannya." Kata Naruto.
" Ya sudah, kau jangan macam-macam dengan gadis itu, ya." Kata ayahnya ganjil.
" Em..., apa.."
Telepon terputus.
Diletakkannya kembali handphonenya. Dilihatnya Hinata tak ada ditempat tidurnya. Dicarinya kedapur, tak ada. Diruang tengah, tak ada juga. Tiba-tiba ia mendengar suara gemericik dari kamar mandi. Didekatinya kamar mandi yang dekat berada didapur tersebut. Di intipnya sedikit. Ternyata Hinata yang sedang membersihkan pipinya dari bercak darah.
" Oh, kau disini rupanya." Kata Naruto.
Hinata melihat bayangan Naruto dari cermin seraya tersenyum.
" Bagaimana? Masih sakit?" tanya Naruto.
" Tidak, hanya sedikit kotor saja." Kata Hinata
" Oh..., Naruto ber-oh pendek.
" Em..., Naruto." Lirih Hinata.
Naruto menoleh.
" Kan aku disini selama tiga bulan, tapi nanti aku pakai baju apa nantinya?" tanya Hinata.
Naruto hanya tersenyum.
" Tenang saja, baju ibuku ada kok. Masih bagus, Cuma udah nggak kepake. Soalnya udah kekecilan. Kayaknya pas deh buat kamu." Kata Naruto.
Hinata hanya menunduk. Airmata nya kembali menetes sendu.
" Gomen, aku sudah banyak membuatmu susah." Kata Hinata.
Naruto mendekati Hinata. Diusapnya airmata Hinata dengan tangannya dan diletakkannya dibahu Hinata.
" Aku senang kau bisa menemaniku. Sangat senang sekali. Kau tak membuatku susah, justru sebaliknya." Kata Naruto.
" Benarkah?"
Naruto mengangguk.
Hinata tersenyum manis sekali. Ia kembali masuk kedalam dekapan Naruto.
" Berjanjilah, kau tak akan menangis lagi, kecuali demi orang yang kau cintai, Hinata." Kata Naruto.
" Aku berjanji." Lirih Hinata.
Dan perasaan itu muncul di hati keduanya. Ya, rasa itu!
