Kriiiiiiiiiiiiinggg.

Kagura membelalakkan matanya seketika. Bunyi keras jam weker itu terasa dua kali lebih memekakkan daripada biasanya. Kagura tidak akan pernah terbiasa dengan suara nyaringnya itu.

Pening di kepalanya merasuk tiba-tiba. Pandangannya yang semula jernih itu mendadak kabur dan berputar. Mulutnya asam, perutnya mual. Menambah penderitaan Kagura pagi hari ini.

Kagura mendecih pelan. Sesekali mengumpat karena vertigonya ini makin hari makin menyebalkan saja. Ayolah, ia harus sekolah dan beraktifitas. Ini hari pertama pembukaan tahun ajaran baru. Meskipun ia pemalas, ia tidak ingin melewatkan hari pertamanya sekolah.

Teringat pesan dokternya kemarin, Kagura pun memilih untuk memejamkan matanya ketimbang berusaha melawan vertigonya itu. Sebelah tangannya bergerak meraba-raba meja kecil di samping kasur, mencari satu strip obat pereda nyeri yang biasa ia simpan disana. Setelah strip sialan itu ia temukan, langsung saja dua tablet obat depresan itu ia tenggak sekaligus dengan air botor mineral yang juga ia simpan dekat meja.

Kagura memejamkan matanya. Kedua alis tipisnya itu saling bertaut, menahan denyut yang mendera keningnya itu. Setelah kira-kira lima menit waktu terlewat, barulah ia membuka matanya pelan-pelan. Masih terlalu takut kalau vertigo itu belum hilang.

Tidak ada yang berputar. Tidak ada yang kabur. Pandangannya sudah kembali seperti semula.

Kagura mendesah pelan. Peluh di keningnya mengalir pelan. Keringat dingin juga membanjiri tubuhnya. Selalu seperti ini setiap kali vertigonya kambuh. Menyedihkan.

Kedua mata biru Kagura melirik jam weker yang masih berbunyi itu. Sudah pukul tujuh lebih. Ia belum terlambat.

Kagura pun beranjak dari kasurnya. Mematikan weker sialan itu, lalu berjalan menuju kamar mandinya.

Namun baru satu langkah kakinya menjejak, tubuh kecil Kagura sudah limbung nyaris jatuh terjerembab. Kagura mendecih lagi. Kepalanya mulai berdenyut, matanya sudah berkunang-kunang. Karena tidak mau mengambil resiko, Kagura memilih untuk menutup matanya lalu berjalan perlahan sambal berpegangan pada dinding atau meja di sekitarnya.

Sesampainya di kamar mandi pun Kagura hanya bisa berpegangan erat pada dinding westafel. Tubuhnya terlalu lemah untuk bisa berdiri dengan tegak.

Bunyi keran air yang terbuka bisa Kagura dengarkan. Ia pun membasuh kasar wajahnya dengan air dingin itu. Setelah wajah pucatnya itu basah dengan air, barulah ia berani untuk membuka matanya lagi.

Satu kata yang Kagura ucapkan ketika melihat pantulan dirinya di kaca. Parah. Benar-benar parah.

Kantong matanya menebal. Terlihat lebih gelap daripada biasanya. Kontras sekali dengan kulitnya yang putih pucat itu. Rambutnya acak-acakan. Kulitnya kusam tidak secerah dulu.

Insomnianya semakin parah. Kagura tahu itu tapi ia tidak mau ambil pusing. Peduli setan jika penampilannya semakin hari semakin buruk. Toh tidak ada bedanya juga. Hidupnya jauh lebih buruk daripada wajahnya saat ini.

Tidak ingin membuang waktu semakin banyak, ia pun membasuh mukanya dengan air keran yang dingin, menyikat giginya dengan pasta gigi yang tinggal sedikit itu, lalu merapihkan rambutnya dengan dua cepolan cina kebiasaannya. Setelah yakin penampilannya jauh lebih baik, barulah ia keluar dari kamar mandi dengan langkah normalnya. Tidak sempoyongan lagi.

Kemeja putih bersih yang menggantung di dinding itu ia kenakan. Rok setengah paha juga blazer krem seragam sekolahnya juga tidak luput dari pandangannya. Setelah yakin dirinya telah rapi. Kagura beranjak dari kamarnya, turun ke lantai satu, mengambil sepatunya, lalu pergi meninggalkan rumahnya yang kosong.

Juga dengan perut kosong.


.

.

.

Savior
Rate M|Romance, drama, angst

.

.

©SorachiHideaki
©KanaHarisu2018

.

.

.


[1]


Bunyi kasak kusuk siswa terdengar memenuhi aula sekolah. Upacara pembukaan tahun ajaran baru selesai beberapa menit yang lalu. Seluruh siswa mulai beranjak dari kursinya satu per satu, berjalan menuju ruang kelas masing-masing.

Kagura hanya bisa menguap bosan ketika melihat antusiasme siswa yang semangat untuk masuk ke kelas barunya. Tipikal siswa baru yang semangat menuntut ilmu, semua siswa tampaknya ingin cepat-cepat masuk ke kelas untuk mengetahui dengan siapa ia sekelas dalam dua semester nanti. Beruntung jika ia sekelas dengan teman mereka sebelumnya, atau bahkan orang yang mereka sukai.

Sebenarnya, Kagura tidak semalas itu masuk kelas. Ia hanya malas berdempet-dempetan ketika keluar dari aula sekolah. Ayolah nyaris lima ratus siswa keluar dari satu pintu secara bersamaan? Pasti sesak sekali.

Oleh karena itu ia lebih memilih untuk duduk di kursinya ketimbang harus beranjak untuk pergi ke kelas. Toh sebentar lagi pintu aula akan sepi, tidak masalah jika ia duduk satu atau dua menit lagi.

"Kagura-chan!"

Suara nyaring itu memanggilnya. Familiar. Kagura jelas tahu siapa yang memanggilnya barusan.

"Soyo-chan! Apa kabar-aru?"

Soyo, perempuan bersurai hitam pekat, sedang berlari pelan menghampiri Kagura. Tubuhnya kecil, tapi tidak sekecil Kagura. Seragamnya sangat rapi dan cukup mencolok. Hanya ia, satu-satunya siswa, yang memakai rok di bawah lutut.

Kulitnya putih bersih dan rambutnya hitam panjang sepinggang. Diurai bebas dengan pita kecil berwarna biru di puncak kepalanya. Manis sekali. Tipikal putri raja.

"Mou, Kagura-chan! aku mencarimu dari tadi! Kau ada dimana? Terlambat lagi?"

Kagura hanya tertawa kecil. Sahabatnya ini memang tidak pernah berubah. Selalu memberondonginya dengan banyak pertanyaan sekaligus. "Kau tahu 'kan kebiasaanku? Dan lagi, hari ini aku tidak terlambat, masih kurang dua menit sebelum upacara dimulai—aman," ucap Kagura santai sambil mengacungkan jempolnya.

"Ah, kau ini! Selalu saja begitu—kita itu sudah kelas tiga! Kelas T-I-G-A! Harus serius sekolah!" gerutu Soyo berapi-api.

"Iya, iya—aku tahu. Tidak perlu memberitahuku lagi," jawab Kagura malas. Soyo ini makin hari makin cerewet. Pas sekali untuk menyadarkan dirinya yang pemalas. "Lagipula, apa kau sudah mengisi rencana karir yang dibagikan semester lalu?"

"Ah kertas itu … entahlah. Aku sudah bicara dengan ani-ue tentang karirku besok. Ia menyarankanku untuk mengambil bisnis—tapi … entahlah, aku masih ragu."

Tidak begitu kaget. Kagura justru sudah menduga kalau Soyo akan mengambil jurusan itu.

Soyo adalah putri bungsu dari keluarga konglomerat Tokugawa, keluarga yang terkenal akan perusahaannya yang menyeluruh di berbagai bidang. Mulai dari dunia hiburan, pendidikan, manufaktur, media, hingga supermarket.

Walaupun ia hanya putri bungsu dan perempuan, keluarganya pasti tidak akan main-main terhadap pendidikannya. Sekolah tempat Soyo menuntut ilmu sekarang mungkin tidak sehebat yang dipikirkan orang. Hanya sekolah negeri biasa. Itupun ia sekolah disini karena ngotot ingin bersama Kagura.

Selepas SMA pasti Soyo akan kembali ke jalannya. Sekolah di sekolah yang terbaik dan jauh dari sini. Mungkin di luar negeri? Kagura tidak tahu.

"Bagaimana dengan dirimu, Kagura? Kau sudah menentukan karir apa yang ingin kau ambil?"

Kagura terdiam sejenak. Ia bingung harus menjawab apa. "Entahlah. Kertasku juga masih kosong. Aku menunggu papi untuk membicarakannya."

"Aaa … papimu belum pulang? Lama sekali, perasaan dari akhir semester lalu belum pulang juga?"

"Ah mungkin. Aku sudah lupa," lagipula botak itu juga tidak akan pulang, "Ah pintunya sudah sepi, kita harus segera bergegas, Soyo-chan."

Kagura pun beranjak dari kursinya tanpa menunggu balasan Soyo. Ia pun juga tidak menjelaskan lebih lanjut pertanyaan yang terakhir kali Soyo ucapkan tadi. Ia sangat ingin menghindari pertanyaan semacam itu.

Ia benci membahasnya.

Soyo sendiri terlihat tidak begitu mempermasalahkan sikapnya seperti itu. Putri konglomerat itu terkesan cuek dan ikut saja kemana Kagura pergi tanpa banyak bertanya.

Mungkin Soyo tidak begitu peka dengan keadaan sekitar. Lagipula Soyo adalah tipikal perempuan polos yang harus diberi tahu secara gamblang.

Kagura sih senang-senang saja. Ia tidak ambil pusing dengan sikap Soyo yang tidak pedulian. Tentu saja, ia senang. Senang sekali.

"Ngomong-ngomong, Soyo-chan, kau ada di kelas berapa?"

Soyo bergumam pelan, "3A? Kenapa?"

"Aku belum lihat kelasku. Mungkin aku akan ke akademik dulu—"

"—tidak usah, Kagura-chan. Tenang saja, aku sudah melihat kelasmu juga," ucap Soyo cepat sembari meringiskan senyum lebarnya. "Kita sekelas lagi setahun ini. Syukurlah …."

Segaris senyuman terukir di bibir Kagura. Soyo mungkin tidak peka terhadap orang lain. Ia juga terlihat cuek dengan sekitar kalau bukan menyangkut dirinya. Tapi, sesungguhnya Soyo itu adalah teman yang perhatian dan baik.

"Ya, untung saja. Aku masih bisa meminjam catatanmu untuk dua semester kedepan."

"Mou, Kagura-chan! Aku 'kan sudah bilang. Kita sudah kelas tiga. Kelas T-I-G-A. Harus rajin sekolah!"

"Iya, iya. Aku dengar. Kau tidak perlu—"

Brukkk. Ucapan Kagura terhenti tiba-tiba karena tubuhnya limbung menabrak orang lain.

Kagura mungkin sudah jatuh jika orang itu tidak menahan tubuhnya. Dengan cepat ia menegakkan dirinya lagi. Merapihkan seragamnya yang agak kusut, lalu membungkuk sopan pada orang yang ia tabrak itu.

"—maaf—"

"—aaa …."

Seorang pemuda bersurai coklat pasir berdiri tepat di depan kagura. Tubuhnya tinggi. Terpaut sekitar lebih dari dua puluh senti dengan Kagura. Kulitnya tidak terlalu putih. Tidak seputih Kagura, maksudnya. Seragamnya tidak terlalu rapi. Hanya kemeja putih dan celana panjang. Tanpa blazer yang notabenenya adalah seragam wajib ketika pembukaan tahun ajaran baru.

"Kagura-chan—"

"—menyingkir dariku bodoh," potong pemuda itu sebelum Soyo merampungkan pembicaraannya.

Kagura membelalakkan matanya. Terlalu kaget dengan sifat ofensif pemuda di depannya ini.

Bodoh? Apa katanya?

"Oi, apa begitu caramu berkenalan dengan orang?" tanya Kagura emosi.

"Kenapa? Ada masalah? Kalau hanya kau aku tidak peduli," balas pemuda itu bosan, "Sialan, drama picisan itu sudah update ya? Hijikata-san harus mati," gumam pemuda itu sambil mengutak-atik ponsel pintarnya.

"Bocah ini—minta dihajar ya?!" teriak Kagura keras, "Dengarkan orang kalau sedang bicara, berengsek!"

Sebuah tinju melayang ke dada bidang pemuda itu. Namun dengan cepat ia menangkap pemilik tinju itu.

Kagura terkesiap. Baru pertama kali ada orang yang bisa melawan tinjunya.

"Apa begini sikap orang di awal semester? Kau tidak ada urusan yang lebih penting?" ucap pemuda itu dengan nada yang sama seperti sebelum-sebelumnya. "Pergelangan tangan ini terlalu kecil. Kau yakin bisa meninjuku-eh?"

"Berengsek—lepaskan tanganku—"

"—tidak. Kau yang memberikannya padaku."

"Apa-apaan itu?!" Kagura kembali melayangkan tinjunya. Namun lagi-lagi kembali ditangkap oleh pemuda itu dengan tangannya yang masih memegang ponsel.

Kagura merintih pelan. Sebelah pergelangannya terasa diremukkan. Terlebih ponsel yang menghalangi tangannya itu seperti menambah tekanan pada pergelangannya.

"—Kagura-chan—" pekik Soyo yang selama ini hanya diam menonton. "Lepaskan dia Okita-san. Dia tidak sengaja."

Mendengar ucapan Soyo, pemuda yang bernama Okita itu melepaskan cengkraman tangannya. "Ya … karena aku baik aku melepaskanmu. Kau harus berterima kasih pada teman princess-mu itu."

Soyo hanya diam ketika mendengar sarkasme yang diucapkan Okita barusan. Ia tidak begitu peduli karena dia memang princess sungguhan. Dibandingkan itu, ia lebih peduli dengan keadaan Kagura yang sepetinya sangat kesakitan. "Kagura-chan, kau tidak apa-apa?"

"—Tidak Soyo-chan. Kau bisa lihat kalau pergelangan tanganku sudah menguning seperti milik spongebob!" gerutu Kagura sambil mengangkat pergelangan tangannya tinggi-tinggi. "Orang bodoh ini yang harus diberi pelajaran—"

"—tapi, Kagura-chan—"

"—Pelajaran. Pelajaran. Naif sekali. Kau tidak lihat ini sudah jam berapa?" Pemuda itu menyela ucapan Soyo barusan. "Justru kau itu yang bodoh. Sekarang sudah jam setengah Sembilan. Kelas akan dimulai. Menyingkir saja kalau tidak ingin mati," ucap pemuda itu ketus sembari mendorong kasar tubuh kecil Kagura.

"—Hei! Mau kemana kau! Urusan kita belum selesai—"

"—urusan apa hah?" dan suara lain yang jauh lebih berat ikut menyela.

Seorang pria akhir dua puluhan itu berdiri tepat dibelakang Kagura. Rambutnya berwarna perak berantakan. Pakaiannya tidak begitu jelas jenis dan style-nya apa. Memakai jas lab dan kaus warna kuning yang tidak faedah untuk digunakan mengajar. Sebelah tangannya menenteng buku. Sedangkan mulutnya mengulum sesuatu yang mirip rokok.

Lolipop lebih tepatnya.

"Gin-chan!" seru Kagura senang, "Bocah ini berisik-aru. Penjarakan saja!"

"Astaga, anak ini. Sudah kubilang pakai sensei kalau di sekolah! Benar-benar," decak Gintoki heran, "Dan lagi, ini sekolah, bukan penjara bodoh," lanjut Gintoki sambil menggeplak kepala Kagura menggunakan buku yang ia tenteng.

"Selamat pagi sensei," sapa Soyo ramah sambil membungkuk hormat.

"Tokugawa-san, kau masih berteman dengan si bodoh itu? Sudah kubilang carilah teman baru yang lebih baik," decak Gintoki lagi sambil mengeluarkan sesuatu yang seperti pemantik, "Kau akan ketularan rabies nanti."

"Apa-apaan itu Gin-chan?!—"

"—nah kan? Kelihatan bodohnya."

Soyo yang notabenenya anak rajin dan baik-baik itu hanya membungkuk sopan ketika mendengar ucapan Gintoki yang sangat tidak berwibawa. Sedangkan dua orang lainnya—Kagura dan Okita-san—hanya diam dengan wajah datarnya ketika melihat guru tidak competen itu.

Ralat. Okita-san yang diam sedangkan Kagura menahan emosi.

"Baiklah anak-anak. Rapatnya ditutup. Cepat masuk kelas. Kalian tidak mau jadi budak korporat 'kan?" Ucap Gintoki malas-malasan sambil mengupil, "Dan kau, Ookami-kun, aku tidak mau mendapat cacian dari kakakmu yang menyebalkan itu hanya karena kau mengusili anak kelinci itu. Mengerti?"

Pemuda yang disebut Ookami-kun oleh Gintoki itu hanya mengangguk lalu membungkuk hormat. "Okita-desu. Dan lagi, Hijikata-kono yaro itu bukan kakakku. Dia babu di rumahku."


.

.

.


"Ya … selamat datang di kelas 3. Kelas yang penuh penderitaan."

Suara riuh keluhan siswa terdengar serempak ketika Gintoki memulai premisnya hari ini. Muka-muka yang awalnya sumringah karena semangat tahun ajaran baru kini berubah serratus delapan puluh derajat menjadi muka-muka penuh tekanan emosional akan masa depan.

Gintoki … gintoki …. Bukannya membakar semangat siswa tahun akhir, ia malah menambah penderitaan mereka. Ia bahkan terlihat seakan tidak merasa bersalah. Ia hanya memasang muka innocent sambil terus mengulum sesuatu yang mirip rokok—lolipop, maksudnya—dengan tatapan bosan seperti biasa. Tipikal sekali.

"Yak, yak, diam anak-anak. Kita mulai pelajarannya—"

"—Sensei, kelas lain tidak pelajaran," sahut seorang siswa yang ber-name tag Uzumaki.

Gintoki terdiam sejenak. Sesuatu yang mirip rokok itu masih terselip dibibirnya. Bergerak naik turun pertanda ia sedang berpikir.

"Haah? Siapa yang bilang itu? Yamazaki-kun, ya? Yamazaki-kun kau keluar karena sudah menyebarkan hoax!"

"A-apa?! Bukan aku Sensei!" teriak Yamazaki dari pojok kelas.

Namun bukan namanya Gintoki kalau tidak peduli dan tidak nyambung. Guru yang mengampu pelajaran fisika itu hanya bisa menatap datar kelasnya yang saat ini masih ricuh. Baginya tidak ada yang lebih penting selain kencannya besok minggu dengan Ketsuno Ana, guru Sastra dan Budaya Jepang yang ia anggap paling cantik dan seksi.

"Yak, yak, diam anak-anak. Apasih yang orang tua mereka makankan ke mereka? Pantas saja ledakan penduduk terjadi dimana-mana," gerutu Gintoki dengan suara yang cukup keras, "Baik, karena Yamazaki-kun tidak mau mengakui perbuatannya, hari ini tidak ada pelajaran. Tidak ada praktikum juga. Tidak ada laprak!"

Sontak seisi kelas bersorak riang begitu mendengar ucapan Gintoki barusan. Tak hanya itu, mereka pun juga mengelu-elukan Yamazaki karena telah menyelamatkan mereka dari neraka Fisika yang mengerikan.

Sehari tanpa fisika adalah suatu berkah yang luar biasa. Apalagi Gintoki adalah guru yang terkenal akan ketidakjelasannya dalam mengajar. Hari ini pelajaran kosong, besok ulangan, lusa kuis. Intinya, tidak dapat diprediksi. Gintoki dan fisika adalah perpaduan dari badai dan topan. Lengkap sekali.

"Tapi sebagai penggantinya, kerjakan soal latihan bab satu dan bab dua. Dikumpulkan lusa nanti di meja saya. Pengurangan 20 poin jika telat sehari."

Setelah dua kalimat itu terucap, tidak ada sorak riang seperti sebelumnya. Kelas yang tadi ramai dipenuhi puja dan puji syukur pada Yamazaki, kini dipenuhi oleh hujatan dan sumpah serapah yang khusus ditujukan untuk Yamazaki.

Namun, namanya siswa ya siswa. Memiliki seribu satu cara untuk melawan ketidakadilan. Ya, benar. Berdemo.

"Sensei! Ini tidak adil! Kita baru mulai tahun ajaran baru! Materinya belum diajarkan!"

"Benar, Sensei! Ini tidak adil. Kelasnya Hasegawa-sensei saja kosong hari ini!"

"Iya sensei! Ini tidak adil!"

"Iya! Sensei memperbudak murid sendiri!"

"Sensei tidak cocok dengan Ketsuno-sensei-aru!"

"SIAPA YANG BILANG SENSEI TIDAK COCOK DENGAN KETSUNO-SENSEI?!"

Kelas hening seketika. Teriakan histeris dari mulut Gintoki itu benar-benar sanggup membekukan kelas yang awalnya ricuh seperti orang sedang demo di monas.

Gintoki yang sadar wibawanya sebagai guru telah hilang, hanya bisa berdeham sok keren sok ganteng. Niatnya mencairkan suasana. Tapi justru semakin mencekamkan keadaan karena siswa jadi takut dengan dirinya.

"Kalian ini. Apa begini sikap kalian terhadap sekolah? Benar-benar …" Gintoki berdecak kesal. Sok kesal tentunya. "Kalian bahkan lebih berisik daripada titan-titan yang ada di Shingeki no Kyojin."

"Sensei, titan di shingeki no kyojin tidak bisa bicara," bantah seorang siswa dengan name tag Shimura.

"Tepat sekali, seperti itulah kalian," balas Gintoki dengan muka seriusnya. Setelah itu ia berbalik dan menggambar tiga puluh kotak berjajar yang disertai nomor urut dari angka satu. "Baiklah, kasus ditutup. Tugas tetap seperti biasa. Tidak menerima sanggahan apalagi bantahan. Sesuai perjanjian, tidak ada pelajaran hari ini karena kita akan mengacak tempat duduk kalian."

Tidak ada kericuhan yang berarti. Kelas cenderung tenang tapi tidak diam. Beberapa siswa malah terlihat bersemangat akan pengacakan kursi. Beberapa dari mereka bahkan sudah membuat pengharapan ingin duduk dekat siapa.

Terutama golongan-golongan perempuan yang selalu cekikikan di pojok kelas. Dari awal kelas hingga sekarang mereka selalu berbisik-bisik sambil melirik tempat duduk bagian laki-laki.

Kagura pribadi tidak begitu ambil pusing. Duduk dimana saja tidak ada bedanya. Mau di depan, di belakang, di tengah, di samping, sama saja. Ia akan tertidur pulas saat jam terakhir pelajaran.

Berbeda hal dengan Soyo-chan, sahabatnya sendiri. Putri konglomerat itu selalu berharap agar bisa duduk di barisan depan. Kalau di belakang tidak kelihatan, katanya.

"Ambil undiannya di depan ya, anak-anak. Satu orang satu. Tidak boleh ada yang membuka sebelum aba-aba. Tidak boleh ada yang bertukar nomor karena nanti anak kalian tertukar."

Satu per satu anak mulai mengambil nomor undian yang ada di meja guru. Kagura sendiri sudah mengambil nomor undiannya. Ia sempat mengintip lewat kertas tipis undian itu.

Enam? Sembilan? Entahlah. Kagura tidak peduli.

"Baiklah, karena semua sudah ambil, buka nomor undiannya. Lalu duduk sesuai dengan nomor meja di papan ini."

Lima belas. Ternyata kagura salah membaca.

Tidak ingin membuang waktunya, Kagura pun memberesi seluruh barang-barangnya ke dalam tas lalu pindah ke nomor meja tempatnya duduk nanti.

Tepatnya di belakang kelas. Dekat jendela yang tepat mengarah ke trek lari sekolah. Sempurna sekali. Seperti di manga-manga. Kalau dia bosan dia bisa melihat trek itu sampai mengantuk. Itung-itung pengganti menghitung domba, pikir Kagura.

"Kagura-chan! Kagura-chan!" suara sayup-sayup itu terdengar memanggil Kagura.

Selang satu meja di depannya, membujur diagonal, Soyo-chan sudah duduk di sana sambil tersenyum-senyum karena ia mendapatkan tempat duduk kesukaannya. Ya, di depan persis papan tulis.

Putri konglomerat itu masih menatap Kagura sekalipun Gintoki sudah akan memulai kelas. Ia malah memanggil-manggil Kagura lewat gerak bibirnya yang tidak ada suaranya.

"Kagura-chan. Kita berdekatan," begitu katanya.

Kagura hanya terkekeh lalu membalas ucapan Soyo dengan cara yang sama. Menggerakkan bibir tanpa suara, tentu saja.

"Nanti istirahat kita makan bareng ya!"

Soyo hanya terkikik geli lalu mengacungkan jempolnya. Setelah itu tidak ada obrolan lagi di antara mereka karena Gintoki sudah memulai kelasnya.

"Ya … ini adalah kursi kalian selama dua semester. Ada yang merasa keberatan? Tidak ada. Oke," ucap Gintoki cepat tanpa menunggu respon dari murid-muridnya."

"Karena kalian semua sudah duduk. Kita akan memulai pelajarannya."

Riuh kekesalan siswa mulai memenuhi seisi kelas. Namun berbeda dari sebelumnya, Gintoki terlihat cuek dan langsung saja membuka buku teks lalu mengajarkan materi yang tertulis di sana. Sehingga, mau tidak mau, siswa pun mengikuti apa yang dilakukan Gintoki.

Kagura sendiri tidak begitu peduli ada pelajaran atau tidak. Toh nanti kalau dia mengantuk tinggal tidur saja. Maka, dengan sikap malas-malasannya, ia mengambil buku teksnya dari tas lalu mencatat pelajaran yang ada.

Namun, sebelum rencana itu terlaksana. Seseorang menendang kursinya dengan keras sampai ia nyaris terjungkal.

Sialan! Umpat Kagura dalam hati.

Kagura menolehkan pandangannya ke belakang, memeriksa siapa gerangan orang kurang ajar yang sudah menendang kursinya itu. Kalau si Yamazaki bodoh itu, maka dia akan habis saat istirahat nanti.

Sayangnya yang ia lihat bukanlah Yamazaki, pemuda berambut hijau gelap dengan tatapan bodoh. Tetapi Okita, pemuda berambut pasir dengan tatapannya yang menyebalkan.

Padahal Okita hanya menatap lurus papan tulis, tapi Kagura sudah merasa kesal setengah mati. Ia teringat kejadian di depan pintu kelas barusan. Bocah berengsek itu benar-benar meremehkannya. Keparat sekali.

Kedua mata Kagura melototi Okita. Tidak peduli kalau yang dipelototi itu tidak menatapnya balik. Yang penting ia bisa menyalurkan telepati yang tersimpan di otaknya.

"Kau yang menendang kursiku ya?!"

Okita hanya diam. Ia sama sekali tidak menatap Kagura. Apalagi membalas telepati itu. Ia terlihat seakan tidak menyadari kalau Kagura sedang memelototinya.

Oke, Kagura memang kesal. Kesal sekali. Pertama, karena ia tahu benar siapa pelaku penendangan kursinya—tentu saja, si Okita sialan itu—siapa lagi? Kedua, karena ia kesal dengan sikap congkak Okita itu yang seakan tidak menanggapinya.

Berengsek! Memangnya dia siapa? Sultan? Jika tidak sedang pelajaran saja sudah Kagura hajar manusia sialan itu.

Namun, karena tidak ingin memperpanjang masalah dan tidak ingin digeplak Gin-chan lagi, Kagura memilih untuk menahan emosinya. Ia pun berbalik lalu kembali memperhatikan pelajaran yang sedang berlangsung.

Tapi apa daya, si Okita itu kembali menendang kursinya lagi. Bahkan tendangannya jauh lebih keras daripada sebelumnya.

Tenang Kagura …. Tenang Kagura ….. Tenang …. Rapal Kagura dalam hati.

Sayangnya, mau sebanyak apapun Kagura merapal kalimat itu, tetap saja tidak ada gunanya. Okita malah semakin terlihat bersemangat ketika melihat Kagura sedang menahan emosinya.

Satu tendangan.

Dua tendangan.

Tiga tendangan.

Oh berengsek sekali. Tendangan pertama, tendangan kedua, Kagura mungkin masih sabar. Tendangan ketiga, Kagura mulai emosi. Menginjak Tendangan keempat dan kelima, Kagura sudah tidak tahan.

"Sensei," panggil Kagura dengan tangan teracung keatas.

Gintoki yang saat itu sedang menjelaskan tentang gelombang, mau tidak mau menghentikan pelajarannya sejenak. Kedua matanya yang mirip ikan mati itu hanya menatap Kagura datar seakan sudah mengetahui apa yang bakal perempuan itu lakukan.

"Ada apa, Yato-san? Apa kau ingin kentut?" tanya Gintoki asal-asalan.

Kagura menggeleng, "Tidak, sensei. Saya hanya ingin tukar tempat duduk."

Sunyi. Tidak ada jawaban yang pasti kecuali jarum panjang jam dinding yang terus berdetak tiap detiknya.

Gintoki dengan mata ikan matinya itu hanya menatap malas Kagura. Sesekali mendesah lelah seakan umurnya sudah sangat tua.

"Anak-anak, kalian ingat ganjaran orang yang tidak mendengarkan omongan orang lain?"

Tidak ada jawaban. Seluruh murid seakan kehilangan kata-katanya. Tepatnya, kehilangan otaknya karena Gintoki selalu membuat pertanyaannya yang mind blown.

Mind bloon kali.

"Ya … yang bisa menjawab dapat nilai bonus," dan semua siswa mengacungkan tangannya ke atas. Tipikal sekali.

Gintoki mendesah lagi. Sembari mengulum permen yang mirip rokok itu ia mendecih—setengah mengumpat—pelan. "Astaga, apa semua anak-anak sifatnya seperti ini? Bekerja hanya demi uang?" well, itu dirimu, Gintoki-sensei, "Kalian benar-benar ingin jadi budak korporat ya?"

"Sensei, itu tidak ada hubungannya, saya ingin pindah tempat duduk," sanggah Kagura.

"Benar sekali Yato-san. Itulah ganjaran orang yang tidak mendengarkan omongan orang lain. Tidak dapat tempat duduk," ucap Gintoki malas lalu kembali ke buku teks yang sedang ia bawa, "Baiklah, kita lanjutkan para calon budak korporat, kita harus mengejar materi sebelum titan-titan itu menjebol dinding kelas ini."

Gintoki kembali melanjutkan pelajarannya. Tidak peduli dengan tatapan sengit Kagura yang terus menghujami punggungnya.

Kagura mendesah berat. Rasanya ingin sekali menendang kepala keriting ubanan itu. Tapi mengingat ia harus menjadi murid yang baik dan benar tahun ini, ia urungkan semua niat buruknya itu.

Buku teks sudah di depan matanya. Materi tentang gelombang yang tidak ia pahami itu sedah berlangsung di depan sana. Kagura dengan malasnya mulai memperhatikan pelajaran yang sedang diampu oleh Gintoki.

Namun sebuah kertas kecil terselip di kerah bajunya. Tepat di tengkuknya yang terekspos itu.

Kagura berjengit. Dengan cepat ia mengambil lipatan kertas itu lalu membukanya asal-asalan. Sebaris tulisan acak-acakan ada dalam sana. Tidak begitu jelas. Tapi Kagura bisa menangkap maksud dari tulisan tersebut.

Senang berkenalan denganmu, Yato-san. Teehee v v

Kagura mengeram rendah. Dalam sekali remukan ia meremas kertas kecil itu menjadi gumpalan kecil tidak jelas. Sebelah matanya menatap sinis orang yang ada di belakangnya saat ini, pemuda berengsek berambut coklat pasir.

Mohon bantuannya.

Begitu yang Kagura tangkap dari gerak bibir pemuda itu yang tanpa suara.

Kagura mendecih. Ia mengumpat ketika menyadari itu. Seringaian pemuda itu yang seakan ingin menjatuhkannya.


.

.

.

.

.


An.

It s wonderfull day.

Sebenernya ff ini udah usang. Berdebu. Dan mungkin nggak ada yang nungguin. Huhu.

Tapi salah satu goal-ku tahun lalu itu ingin menamatkan ff ini. Baru bisa jalan akhir tahun ini.

Btw, gimana? Kalian suka chapter ini? Fandom gintama akhir-akhir ini sepi banget. Aku jadi sedi TT

Bagian mana yang paling kamu suka?