Previous chapter

BRUG

Kris menghempaskan tubuh Tao diatas ranjangnya. Tao lantas langsung menatapnya dengan pandangan tak suka. "Bisakah kau bersikap lebih lembut?"

"Kau tak pantas menerima perlakuan baik, kau tahu?" ucap Kris ketus.

"Sungguh aku tidak mengerti dengan dirimu Kris." ucap Tao dengan wajah terlihat lelah. Kris membuka pakaiannya seketika dihadapan Tao sambil memandangi Tao dengan gaya menggoda. Tao membelalakkan matanya.

"Ka..kau mau apa Kris?" ucap Tao gugup.

"Kenapa? Kau gugup hah?" Kris membisikkan itu ditelinga Tao. Tao tak merespon apapun. Jantungnya berdetak tak karuan saat ini. "Aku hanya penasaran, apa benar kau bisa ha-mil?" ucapnya seduktif dan menggoda.

Kris hendak menyentuh pipi Tao tapi Tao segera menampiknya dengan kasar. "Pernikahan kita hanya main-main. Aku tak akan membiarkanmu menyentuhku sedikitpun Kris!" tapi ucapan Tao itu hanya dibalas dengan seringaian licik dari bibir Kris saja.

Seketika itu Tao beranjak pergi untuk menjauh dari manusia berbahaya itu. Tao merasa dirinya harus lebih waspada sekarang.

PART 2

Tao menghela nafas lega saat dia bisa pergi dari hadapan Kris. Tao merasa jika dia harus lebih waspada jika sedang dekat dengan Kris. Menurutnya Kris itu orang yang tidak mudah ditebak, kadang kala suka berbuat hal diluar gudaannya. Contohnya seperti hal tadi itu. Kris hendak berbuat hal kotor padanya walaupun sebenarnya itu tidak masalah jika mereka melakukannya, toh mereka sudah menikah. Tapi yang ada dipikiran Tao adalah mereka tidak menikah berdasarkan cinta dan pernikahan mereka hanyalah pernikahan permainan perjanjian belaka, jadi tak seharusnya hal semacam itu terjadi dalam pernikahan mereka.

"Tao?" Tao seketika menolehkan wajahnya ketika seseorang memanggilnya, Tao tersenyum ketika mengetahui siapa yang baru saja memanggilnya.

"Baba.." ucap Tao.

"Baba harap kau bisa betah tinggal disini, untuk masalah tadi itu. Baba benar-benar minta maaf, tolong jangan diambil hati omongan istriku." Tao hanya menganggukkan kepalanya saja.

"Iya, aku juga sudah melupakannya." ucap Tao seadanya.

Ayah Kris seketika tersenyum, "Lebih bersabarlah dalam menghadapi suamimu, Kris memang sedikit kekanakkan. Aku gagal mendidiknya dengan baik." ucap ayah Kris sambil termenung seakan menyesali waktu yang sudah berlalu.

"A-ku..." ucapan Tao terpotong saat terdengar suara perutnya yang keroncongan. Tao seketika menunduk malu.

"Kau lapar?" Tao mengangkat wajahnya lalu dengan malu dia menganggukkan kepalanya. Seketika ayah Kris tertawa karena gemas melihat ekspresi menantunya.

"Aku akan menyuruh pelayan untuk mengantar makanan untukmu. Tunggu saja." lantas setelah itu ayah Kris berbalik badan untuk pergi dari hadapan Tao, namun ucapan Tao menghentikan langkahnya.

"Baba, Tao makan di ruang makan saja." ucap Tao.

"Kris?"

"Hmm, dia sedang tidur." jawab Tao berbohong. Setelah itu Tao berjalan mengikuti sang ayah mertua. Bagaimanapun dia belum tahu tata letak ruangan di rumah megah ini. Dia baru pertama datang kemari.

.

Sesampainya di ruang makan, ayah Kris langsung menyuruh pembantunya untuk menyiapkan makanan. Tak butuh waktu lama sang pelayan langsung menyuguhkan berbagai macam hidangan di meja. Tao merasa tak terbiasa makan dilayani seperti ini.

"Makanlah yang banyak. Tidak usah sungkan." ucap ayah Kris. Tao menganggukkan kepalanya.

"Tapi.. ini terlalu banyak. Aku tidak mungkin menghabiskannya sendiri. Maukah Baba ikut makan bersamaku?" tawar Tao pada ayah mertuanya.

"Baiklah, melihat makanan lezat ini membuatku jadi lapar lagi.." Tao tersenyum cerah ketika mendengar penuturan ayah Kris itu. Merekapun makan bersama layaknya keluarga pada umumnya.

Sekitar sepuluh menit berlalu, tiba-tiba ibu Kris datang menghampiri mereka berdua.

"Duh duh, harmonis sekali..." ucap ibu Kris terlihat tak suka suaminya terlihat akrab dengan Tao. Seketika Tao menatap pada ibu suaminya itu.

"Mama.. ayok makan bersama." ajak Tao kemudian.

"Hah.. baru tinggal disini saja sudah bersikap layaknya pemilik rumah." seketika Tao merasa tak enak hati mendengar penuturan ibu Kris tadi.

"Apa maksudmu? Tao itu menantu kita, jadi rumah ini pun rumahnya juga. Tak bisakah kau bersikap lebih baik pada istri putramu sendiri?" ucap ayah Kris sambil memandang wajah istrinya dengan pandangan memohon. Tapi ibu Kris justru pergi dari hadapan mereka begitu saja. Seketika ayah Kris langsung menggelengkan kepalanya.

Ayah Kris memandang kearah menantunya, "Tolong jangan diambil hati ucapan tadi itu.." seketika Tao hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum simpul. Dia hanya ingin menunjukkan kalau dia baik-baik saja dan tak mempermasalahkan ucapan ibu Kris tadi.

.

"Hah, menyebalkan sekali. Buat aku tak betah berada di rumah ini saja!" gerutu ibu Kris.

Kris yang baru saja turun dari tangga, seketika bertanya pada ibunya. "Mama kesal kenapa?"

"Oh sayangku, ayok kita pergi jalan-jalan?" ucap ibu Kris dengan bergelanyut manja pada putranya.

"Mama bukannya Kris tidak mau, tapi aku lelah saat ini." ucap Kris berbohong, sebenarnya dia hanya sedang malas menemani ibunya berjalan-jalan.

Ibu Kris terlihat cemberut, "Ayolah Ma.. jangan ngambek seperti ini.. jadi tidak cantik lagi kan.. bagaimana kalau besok kita Shopping? Kris janji.." dan saat itupun juga ibu Kris langsung memeluk putra kesayangannya.

"Kau memang putra Mama.." Kris tersenyum cerah melihat ibunya yang tengah bertingkah manja padanya.

"Hmm, Mama lihat Tao tidak?" tanya Kris setelahnya. Dan seketika ibu Kris itu kembali terlihat bad mood.

"Kenapa memangnya? Jangan bilang kalau kau saat ini tengah merindukannya." ucap ibu Kris asal.

"Huh? Tentu saja tidak.. aku hanya..." belum sempat menyelesaikan ucapannya. Tao muncul dihadapannya. Tak jauh dari Kris dan ibunya berdiri saat ini. Dalam hati kecil Kris, sebenarnya ada rasa cukup senang mendapati Tao dalam pandangannya. Tapi dia tak menunjukkannya secara langsung. Dia tak tersenyum sama sekali dan tetap terlihat angkuh dihadapan Tao.

Tao mengabaikannya, Ia memilih untuk melewati mereka berdua dan naik ke lantai atas. Tapi suara Kris yang terdengar tak enak ditelinganya menghentikan langkah Tao seketika saat menuju anak tangga.

"Ada suamimu disini dan kau diam begitu saja?"

Tao seketika menolehkan wajahnya perlahan, dilihatnya sang suami yang tengah berdiri sambil melipat kedua tangannya didepan dada, disampingnya ada ibu mertuanya yang terlihat sama memandanginya dengan pandangan tak suka padanya.

Sebenarnya Tao merasa malas untuk meladeni Kris saat ini. Tapi disamping Kris saat ini ada ibu mertuanya, walaupun sang mertua selalu bersikap tak bersahabat padanya. Tapi Tao harus tetap menghormatinya.

"Maaf, kalian terlihat serius jadi aku-"

"Tapi bukan berarti kau bisa melewati kita berdua begitu saja.. apa kau tidak diajari sopan santun oleh orangtuamu?" ibu Kris menyela ucapan Tao seketika. Tao hanya berdiri mematung mendengar penuturan tak mengenakkan dari ibu mertuanya. Sebenarnya Tao marah jika membawa nama kedua orangtuanya dalam hal seperti ini, tapi lawan bicaranya saat ini adalah ibu Kris - yang merupakan ibu mertuanya. Tao memilih untuk tidak ambil panjang urusan itu.

"Maaf, Ma.." ucap Tao sambil menatap ibu mertuanya. Tapi ibu Kris tak berucap apapun atas ucapan maaf Tao itu.

Kris hendak protes karena Tao hanya meminta maaf pada ibunya saja, tapi Tao segera berucap, "Maafkan aku Kris.." Tao merasa harus menjadi orang yang lebih bersabar dan mengalah untuk hal seperti ini sepertinya.

Seketika Kris langsung tersenyum senang mendengar Tao berucap maaf padanya. "Baiklah, untuk kali ini aku memaafkan tingkah tak sopan istriku." sambil memandang Tao dengan senyuman menyeringai. Seketika Tao terlihat gugup dan mengambil pandangan kearah lain seketika.

"Hmm, kalau begitu aku pamit.. ingin ke kamar." ucap Tao sambil memandang kedua orang dihadapannya untuk izin undur diri dari hadapan mereka. Ibu Kris hanya meresponnya dengan gerakan kepala seakan menjawab silahkan saja. Sedangkan Kris hanya diam saja dan terus memandanginya. Tao sendiri tak mengerti kenapa Kris memandanginya seperti itu.

Tao terlihat sudah menaiki anak tangga, Kris tak lepas pandangannya sedari awal dari objek dihadapannya. Lalu dia menatap ibunya dan berkata, "Kris ke kamar dulu Ma.." belum sempat ibunya menjawab, Kris pergi begitu saja. Dan membuat gerutuan kecil meluncur dari mulut sang ibu.

.

Cleck,

Tao seketika terlonjak kaget mendengar suara pintu kamarnya terbuka. Dia tengah duduk disisi ranjang dan sempat melamun tadi. Tao melihat Kris berjalan menghampirinya, dan seketika itu pula rasa gugup, takut melandanya. Jantungnya berdetak cepat sejalan Kris berjalan menuju padanya.

"Kenapa? Apa ada yang salah dengan penampilanku?" tanya Kris heran kenapa Tao memandangnya dengan pandangan mata yang melebar. Padahal Tao saat ini sedang gugup bukan main karenanya, tapi Kris salah menilai ekspresi Tao.

"Hmm, tidak ada yang aneh." ucap Tao lalu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke sisi lain untuk menjauh dari Kris. Kris memandangnya aneh.

Kris hendak bertanya, tapi Tao lebih dulu mengeluarkan ucapannya. "Jadi kita akan tinggal disini terus?"

Kris mengkerutkan keningnya seketika, "Kenapa kau menanyakan hal itu memangnya?" Kris menebak sepertinya Tao tak betah karena sikap ibunya itu.

"Tidak apa-apa, hanya saja Guangzhou sangat jauh dari Beijing. Aku menghawatirkan Baba." ucap Tao, seketika perasangka buruk itu sirna begitu saja dari pikiran Kris setelah mendengar jawaban dari Tao.

"Hanya sementara saja kita tinggal disini, lagipula aku masih harus bekerja." ucap Kris, seketika Tao merasa lega.

"Eum begitu.."

.

Suasana seketika sunyi setelahnya, Tao tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Kris tak bertanya atau berkata apapun lagi padanya, Kris memilih untuk berbaring kembali dikasurnya yang empuk sedangkan Tao dia masih berdiri mematung ditempatnya semula.

"Kemarilah." ucap Kris sambil menepuk kasur empuk yang masih ada space kosong disampingnya. Tao seketika menggeleng dan langsung mencari objek di ruangan kamar yang cukup luas itu. Tao seketika memilih menghampiri sofa dan duduk disana.

Kris langsung tertawa kecil dan menebak sepertinya Tao tengah menghindarinya. Tapi sikap Tao itu justru membuatnya semakin senang untuk menggodanya, sepertinya Kris merasa hidupnya tidak akan bosan lagi, karena sekarang dia punya objek untuk dimainkan.

Tao duduk di sofa dengan pandangan wajahnya yang menoleh kearah lain, yang jelas tak memandang kearah Kris saat ini. Kris memperhatikan terus tingkah Tao itu. Dia tak berkata sama sekali, dan membiarkan Tao dalam suasana kecangungannya itu.

"Aku ingin tidur, tolong bangunkan aku saat jam lima sore nanti." ucapan Kris itu berhasil membuat Tao menoleh kearahnya kembali, lalu Tao mengangguk pelan. Kris pun mulai memejamkan matanya, dan setelah itu, Tao benar-benar merasa bisa bernafas bebas. Pilihan Kris untuk tidur siang, membuatnya merasa lebih baik.

.

.

.

Tak banyak hal yang dilakukan Tao siang tadi, sebenarnya dia merasa bosan karena sedari tadi hanya diam dan duduk di sofa saja, sesekali memperhatikan Kris saat pria yang berstatus suaminya itu tertidur - terlihat damai, berbeda jika saat pria tampan itu tengah sadar. Benar-benar sangat menyebalkan.

Tao beranjak dari tempat duduknya dan memilih untuk berendam di kamar mandi mungkin bisa membuat pikirannya lebih segar. Tidak butuh waktu lama dia berada di kamar mandi untuk berendam, hanya 30 menit dia berada di kamar mandi. Tao menyudahi acara berendamnya lalu melanjutkannya untuk mandi dibawah shower. Setelah acara mandinya itu selesai Tao berjalan menuju cermin. Dia memandang tubuhnya yang telanjang di depan cermin. Dia menatap dirinya sendiri di cermin dalam diam. Dia merasa tak banyak yang berubah dari dirinya dibanding 6 tahun lalu. Setelah itu dia menatap pakaian yang tadi dikenakannya berada di keranjang pakaian kotor. Seketika dia baru menyadari jika dia datang kemari tak membawa pakaian sama sekali dan Tao pun sedikit merasa cemas. Tao mengitari isi kamar mandi dan mendapati sebuah lemari kecil. Dia membuka lemari itu dan terdapat beberapa handuk dan baju mandi yang tertata rapi. Tao mengambil salah satu baju mandi yang pas untuk ukuran tubuhnya. Tao keluar dari kamar mandi dengan memakai baju bandi berwarna putih bersih dengan rambutnya yang masih basah terlihat menetes membasahi baju mandi itu dibagian bahunya. Tao menoleh kesamping dan mendapati Kris masih tertidur nyenyak. Tao ingin bertanya pada Kris saat pria itu bangun nanti, tentang perihal pakaiannya.

Tao duduk didepan cermin hias di kamar itu. Dia mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil. Tak disangka ternyata bau shampo yang menguar wangi itu tercium oleh hidung mancung Kris dan membuatnya terbangun kealam sadar. Kris menggeliat pelan, dan pandangan pertama yang dia dapat adalah...

Tao tengah mengeringkan rambutnya. Seolah tersihir dengan raut rupawan yang dimiliki Tao, Kris terdiam dan sempat memandanginya beberapa detik sebelum dia membuka suaranya, "Habis mandi?" ucapan Kris itu cukup membuat Tao kaget, karena Tao tidak menyadari saat Kris sudah terbangun. Tao langsung berdiri dan menghadap Kris.

"Iya.." jawab Tao singkat sambil menatap wajah sang suami yang masih berbaring di ranjang. Kris menatap Tao dari bawah hingga atas, dan Kris menyadari jika Tao dihadapannya sungguh sexy. Kris menyeringai dalam hati. 'Pasti dibalik baju mandi itu tak ada apapun lagi yang menghalaginya.'

Tao merasa gugup dipandangi tak enak begitu oleh Kris. "Eum, aku tidak membawa pakaian saat kemari." ucap Tao menyadarkan Kris dari lamunannya.

"Oh ya... kalau begitu kau bisa memakai baju mandi itu. Sangat cocok untukmu." jawab Kris sambil mulai beranjak dari ranjangnya.

"Bisakah kau meminjamkan bajumu padaku, Kris?" ucap Tao sambil menatap memohon pada Kris. Kris saat ini sudah ada tepat berdiri dihadapan Tao dan dia tak langsung menjawab apapun untuk pertanyaan Tao tadi itu.

Kris menatap langsung sepasang bola mata dihadapannya. "Aku tak yakin jika pakaianku itu cocok untukmu." ucapnya.

"Pinjamkan saja pakaianmu yang sudah tak terpakai lagi." ujar Tao lagi. Kenapa Kris begitu sulit untuk meminjamkan pakaian untuknya? Tao pikir mungkin pakaian Kris itu sungguh pakaian mahal yang mungkin enggan dan tak mau Kris pinjamkan sama sekali pada orang lain.

"Bagaimana ya... tapi aku lebih suka melihatmu begini.." ucap Kris sambil melihat Tao begitu intens, dan Tao pun menyadari kalau Kris saat ini memandangnya dengan pandangan lain. Tao seketika meletakkan kedua tangannya didepan dada.

"Ke..kenapa?" tanya Tao gugup, Kris melangkah perlahan dan seketika itu pula Tao memundurkan langkahnya. Tao terus memundurkan langkahnya seiring dengan Kris yang memajukan langkahnya, sampai Tao tak ada lagi tempat untuk menghindar. Dibelakangnya lemari hias yang sempat Ia gunakan untuk bercermin tadi itu.

"Kris.. ingat.. kita tidak menikah karena cinta bukan?" ucap Tao mengingatkan.

"Ya memang, tapi pernikahan tetap pernikahan. Awalnya aku tak berniat sama sekali menyuntuhmu, tapi... aku tarik kembali kata-kataku, aku sungguh ingin tahu bagaimana rasanya dirimu." ucapnya, Kris meniupkan angin ke wajah pria dihadapannya, seketika Tao langsung menutup matanya menerima angin hangat yang menerpa wajahnya. Posisinya saat ini sungguh tak menguntungkan. Kris menghalangi pergerakannya, dan membuatnya tak bisa lari entah kemana.

Kris mengambil satu tangan Tao dan menempatkannya keatas, dia menahan tangan Tao agar pria yang berstatus sebagai istrinya itu tak bisa memberontak sama sekali. Satu tangannya yang bebas mulai membelai pipi halus Tao begitu lembut.

"Eum.. Krishh.." Tao terlihat gugup menerima perlakuan Kris tersebut, Tao menurunkan tangan Kris yang tengah menyentuh wajahnya dengan satu tangannya yang bebas. Tapi Kris langsung mengambil tangan Tao yang masih terbebas itu dan menempatkannya keatas sama dengan dengan posisi tangan Tao satunya lagi, Kris benar-benar kencang menahan kedua tangan Tao agar tetap pada posisinya.

Tao memalingkan wajahnya kearah lain dan memilih untuk menutup kedua matanya, sejujurnya bisa saja dia melawan Kris saat ini. Tapi entah kenapa, tubuhnya tak bereaksi untuk melakukan sebuah perlawanan, dia justru terlihat pasrah dan seakan terhipnotis untuk menurut pada manusia dihadapannya.

Tubuh Tao menempel pas pada cermin hias dibelakangnya, dan dia mendudukkan pantatnya diatas meja hias itu. Kakinya terbuka lebar karena tubuh Kris berada ditengah kakinya menghimpitnya. Membuat baju mandi yang dikenakannya terlihat terbuka dibagian bawah dan menampakkan sedikit paha dalamnya yang ketat itu.

Kris mulai menjelajahi wajah Tao dengan bibirnya. Di mengecup berbagai area yang ada di wajah Tao itu begitu detail. Kris mengangumi bentuk tekstur wajah Tao yang terlihat begitu sempurna. Sepasang mata unik, hidung yang bangir, dan bibir kecilnya yang sexy. Kris baru menyadarinya.. kalau Tao begitu indah. Dia sendiri tidak mengerti dengan perasaan kagum yang tiba-tiba muncul itu, karena dulu dia bahkan selalu mengejek pria manis di depannya ini..

"Eungh Krishh.." Tao melenguh tertahan saat Kris mencium diarea dagunya. Tapi hal itu justru membuat rahang Kris semakin mengeras dan menginginkan lebih dari sekedar mencumbui seluruh wajah indah dihadapannya.

Kris berhenti sejenak, dan dia memandang area leher Tao yang tampak jelas dan terlihat pasrah untuk dijamah. Pandangannya pun turun kearah dada Tao yang sedikit terbuka, baju mandinya hanya diamankan oleh satu tali di area pinggang itu, dan tali itu tak sepenuhnya membuatnya aman. Jika Kris membuka pengait tali itu, seketika dia bisa melihat semua yang ada dibalik baju mandi itu dengan jelas.

Tapi Kris punya pemikiran lain, dia tak mau terlalu terburu-buru. Jadi dia berusaha untuk mengontrol nafsunya. Dia memilih untuk menjamah leher mulus tanpa cacat dihadapannya terlebih dulu. Kris mulai mencumbuinya, menghisapnya sampai benar-benar basah dan meninggalkan bekas kemerahan di leher mulus itu.

"Ahhh Kris.. hentikan.." ucap Tao berusaha menyadarkan Kris kembali. Kepala Tao bergerak kesana kemari karena merasa tak nyaman dengan posisinya itu. Seakan tak peduli dengan penolakan dari Tao, Kris tetap pada aktivitasnya mencumbui seluruh tubuh dihadapannya dengan nafsu. Baju mandi yang dikenakan Tao sudah cukup terbuka, keadaannya sekarang sudah terlihat setengah telanjang.

Tao ingin melawan, tapi Kris menekan kedua tangannya begitu kuat dan membuatnya tak bisa memberontak. Kedua kakinya seakan lemas dan tak berdaya karena menerima perlakuan Kris terhadapnya membuat ransangan tersendiri ditubuhnya.

"Eungh.. eungh.." desahan kecil tertahan mulai keluar perlahan dari mulut Tao, rasanya aneh. Tapi dia menikmatinya. Pikirannya ingin menolak semua perlakuan Kris, tapi tubuhnya justru merasa ingin menerima lebih dan lebih.

Kris terlihat asyik menyusu di dada yang terpampang dihadapannya. Walau Tao seorang pria, dia memiliki dada dengan ukuran cup-nya cukup besar sehingga membuat Kris nyaman dan bergairah untuk menjamahnya. Tidak hanya menghisap putingnya saja, tapi dia juga memelintirnya sedikit bahkan menekan-nekan secara perlahan.

Kris terlihat seperti kesetanan menjamah tubuh dihadapannya, wajahnya sudah memerah panas karena dia sudah benar-benar teransang. Tapi aktivitasnya terganggu ketika suara ketukan pintu sampai di indera pendengarannya.

Tok Tok Tok

Pertama Kris mengabaikannya, toh jika dia tidak meresponnya pasti orang yang sedang mengetuk pintu itu pasti akan pergi dengan sendirinya. Tapi dugaannya ternyata salah. Orang itu mengetuk pintu itu lagi dan lagi.

"Kris.. hentikan.. sudah cukuphh.. ada orang.." ucap Tao mengingatkan seseorang dibawahnya yang masih sibuk menyusu seperti bayi.

"Beuh! Menganggu saja!" akhirnya mau tidak mau, Kris melepaskan Tao dan berjalan menuju pintu.

Cleck,

Kris membuka pintu itu dengan pandangan tak suka, siapa gerangan yang sudah menganggu acaranya tadi itu?

"Eum.. maaf bos.." ucap sang bodyguard Kris, aura bosnya terlihat seram sepertinya dia memang tidak pas menemui bosnya saat ini.

"Kenapa?!" tanya Kris ketus pada bawahannya.

"I..ni pesanan yang bos minta." ucapnya lagi sambil menyerahkan tas cukup besar berwarna hitam. Kris lalu menerimanya dan langsung menutu pintu dihadapannya dengan kasar, sehingga menimbulkan suara cukup keras saat pintu itu tertutup.

Kris langsung menaruh tas hitam itu dekat pintu, dia tidak mau repot-repot membawanya masuk lebih dalam. Lalu dia memutuskan untuk kembali ke istrinya, tapi... Tao tidak ada ditempatnya semula? Kris mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar dan dia tidak menemukan Tao disana.

Cleck,

Suara pintu kamar mandi terbuka, dan didepan sana menampakkan Tao yang sudah rapih berpakaian. Tao mengambil pakaian di lemari dan memakainya, dia tidak peduli jika Kris marah karena tak seizin Kris dia meminjam pakaian suaminya itu.

"Maaf, aku pinjam bajumu." ucap Tao saat Kris tengah menatapnya. Kris diam saja dan hanya memandangnya, membuat Tao merasa risih. Kaos yang Tao pakai terlalu besar sehingga terlihat jelas tubuh Tao itu sungguh kecil dan ramping. Juga celana bahan yang Tao pakai terlihat sangat panjang dan Tao melingkisnya dibagian bawahnya. Terlihat jelas kalau celana yang Tao pakai itu juga kebesaran.

Tao berjalan melalui Kris begitu saja, namun kemudian dia berhenti sebelum dia keluar dari kamar itu. "Aku sudah melupakan kejadian tadi, aku memaafkanmu. Aku harap kau tidak mengulanginya lagi." Setelah itu, Tao keluar dari dalam kamar dan menutup pintu.

Mendengar penuturan Tao barusan, Kris langsung berdecak. "Melupakan? Huh? Ckck," sambil bergumam tak jelas. Melihat hari sudah menjelang petang, Kris pun memutuskan untuk membersihkannya badannya itu.

.

Tao dan Kris belum bertemu kembali dan berbincang lagi setelah kejadian tadi itu. Mereka baru bertemu dan bertatap muka kembali di ruang makan diacara makan malam bersama sekarang ini. Suasananya sungguh sepi, walaupun ada empat orang yang duduk bersama disana. Masing-masing hanya sibuk dengan makanannya sendiri.

"Eum.. ini enak sekali." ucap Baba Kris tiba-tiba. "..apa ini buatanmu Tao?" ayah Kris bertanya.

"Ah.. iya.." jawab Tao singkat.

"Rupanya kau pintar memasak." ucap ayah Kris sekali lagi sambil tersenyum. Tapi Tao langsung menggelengkan kepalanya.

"Tidak juga Baba, Tao hanya bisa memasak itu saja." ucapnya lagi sambil tersenyum.

"Baguslah, itu lebih baik untukmu jika membantu pekerjaan di rumah ini juga. Jangan hanya bisanya Cuma numpang seperti parasit." ucap ibu Kris tiba-tiba. Ibu mertuanya memang terlihat tak begitu menyukai Tao sama sekali.

Tao hanya tersenyum kecil menanggapinya, "Tao akan membantu menyiapkan sarapan dan juga makan malam Ma.." dan setelah itu ibu Kris langsung diam. Ayah Kris pun tak mengatakan hal apapun, dia malas untuk menimpali ucapan istrinya tadi.

"Bukankah itu baju Kris?" tanya ayah Tao sambil menunjuk kearah Tao.

"Ah, iya.. aku meminjamnya."

"Bukankah pakaianmu sudah diantar tadi?" tanya ayah Kris sambil menatap Tao. Tapi Tao tidak mengerti dan dia langsung menatap Kris. Kris langsung berpura-pura sibuk dengan makanannya setelah ditatap oleh Tao tadi.

"Eum iya.. Tao belum sempat membereskan pakaian yang diantar kemari, jadi Tao pinjam baju Kris dulu."

"Kalian seumuran?"

"Eum, tidak." Jawab Tao seadanya. "Aku lebih muda 3 tahun dari Kris." Jelas Tao.

"Ada baiknya kau memanggilnya Gege, itu terdengar lebih sopan. Bagaimanapun Kris kan sudah menjadi suamimu Tao.." ucap ayah Kris.

"Maaf Baba..."

"Iya.. panggil suamimu ini.. Kris Gege." ucap Kris setelah bungkam sedaritadi sambil menatap Tao menyeringai, dan Tao hanya bisa diam memandang Kris.

"Aku sudah selesai." ucap ibu Kris lalu beranjak dari tempat duduknya dan pergi dari ruang makan meninggalkan tiga orang yang masih duduk ditempatnya masing-masing.

.

To be continued...