Disclaimer :Masashi Kishimoto 'kan!
A/N : Inih fic asli OOC. Jangan marah ya…? X)
Haloo… Ini saiah lagih. Yeah! Akatsuki tuh keren abiiss… Makanya saiah bikin fic inih! :)
Wuaaah! Makasih banget yah yang udah mau mereview! Terimakasih saiah ucapkan bagi para senpai sekalian. Duuuh, nggak nyangka deh, bakal ada yang mau mereview fic yang masih picisan inih! Saiah doakan supaya senpai sekalian selalu sehat dan tetap eksis di fanfiction… ^_^. Untuk request, mungkin akan saiah masukkan di chapter depan, atau depannya lagih (saiah lagi enggak ada ide, mikir ulangan XD).
Next, here we go…!
XxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxX
-Akatsuki's Part Time-chapter 2-
Di saat krisis yang berkepanjangan seperti ini, wajar lah kalau semua bahan-bahan (bahan apa ajah, bahan bakar, bahan makanan, bahan baju, bahan bangunan, dll) semakin mahal. Karena himpitan krisis inilah, Akatsuki yang kehabisan uang untuk makan harus rela ber-part time. Mereka acuhkan gengsi mereka sebagai penjahat sekaligus buronan kelas kakap demi mendapatkan uang untuk makan esok hari… -cieeh-. Kali ini, adalah sekelumit cerita tentang Kisame yang kebagian ber-part time. Penasaran seperti apa? Yuuk, scroll ke bawah…
--Kisame's Part Time--
Kisame berhasil mendapatkan pekerjaan. Kali ini dia berprofesi menjadi seorang kuli bangunan yang dibayar per hari. Jadi kalau hari ini dia bekerja dengan baik, maka dia akan membawa uang pulang. Dia tak menyesal kerja serabutan seperti ini. Karena, bagi dia yang bukan lulusan sarjana ini, tentunya sudah beruntung dapat pekerjaan seperti ini untuk menafkahi keluarganya, maksudnya teman-temannya di Akatsuki. Yak! Hari ini adalah hari pertamanya diterima kerja, karena itu dia semangat sekali.
"Kisame-san tolong angkat itu tumpukan semen, terus pindahin ke sono!" perintah pak mandor sambil nunjuk tempat yang dimaksudnya. Tangannya belepotan bumbu keripik kentang rasa barbekyu. Tubuhnya tambun dan lebar. Tangan kirinya memegang bungkus keripik kentang, dan tangan kanannya menyuapkan keripik kentang itu ke mulutnya. Yup, pak mandor itu ternyata adalah Chouji.
"Baik!" jawab Kisame.
Kisame mengangkat satu sak semen dan memanggulnya.
"Wah, enteng ya?" katanya. –gila! 40 kg dia bilang enteng?? Yah, tapi bayangin aja tiap hari biasanya kan dia nenteng pedang Samehada yang entah berapa kuintal tuh beratnya-.
Kemudian dia memanggul 4 karung sekaligus. Jadi total 160 kilo. Hebaaatt… Two thumbs up buat Kisame!! Yeah!
"Wah, Kisame-san kuat banget ya?" kata salah seorang pekerja di sana.
"Yaaah… Lu liat aja dong, tuh otot dia. Ngalahin Ade Rai kali! Gede banget badannya…" jawab temannya.
"Iya juga…"
"Eh, ngomong-ngomong kita juga mesti semangat nih. Kita kan lebih senior dibanding dia… Jangan kalah dong!" usul salah seorang pekerja.
"He-eh! Kisame aja bisa ngangkat 4 karung… Masa kita enggak?"
Akhirnya, para pekarja yang ketularan semangat membaranya Kisame, ikut-ikutan mengangkat 4 karung semen. Dan alhasil, sudah bisa ditebak. Mereka jatuh bergelimpangan tertindih 4 karung semen. Pekerja yang aneh…
Kisame bekerja dengan semangatnya. Dia mengangkat berkarung-karung semen, bertumpuk-tumpuk batu bata, bergerobak-gerobak pasir, berbatang-batang besi, bertimba-timba air, dan banyak lagi material-material bangunan yang dia angkut. Bahkan teman-temannya pun dia angkut. Yah, pekerjaannya memang hanya sekedar mengangkat dan mengangkut. Karena dia tak pandai menata bata, memasang besi fondasi, atau membuat adonan semen.
"Kisame-saan… Itu bawa kayunya ke atas. Terus batu batanya kasih ke orang yang lagi ngerjain bagian di dalem. Abis itu batu yang baru turun dari truk itu kamu singkirin agak ke belakang sana ya!" ujar Chouji memerintah.
"Iya…!" jawabnya.
Kisame garuk-garuk kepala. "Tadi disuruh ngapain aja ya?" dia mengingat ingat. Meskipun tubuhnya besar, tapi otaknya tak sebesar penampilannya. Maklum, dia kan ikan, ya kecil lah otaknya!
"Mm… tadi disuruh bawa batu bata ke atas, terus kayunyanya disingkirin ke belakang, batunya dikasih ke orang di dalem… Yup! WOKEH… Kisame akan bekerja!!!" Dia bersemangat kembali.
Dia mengangkut batu bata ke atas, tapi sampai di sana… "Apaan nih bang?" tanya seorang pekerja di atas.
"Ya batu bata lah! Masa' kue apem sih!" jawab Kisame.
"Iya, tapi buat apa? Orang kita mau pasang genteng kok dikasih bata sih…"
"Hah? Salah ya? Ya udah deh… tak bawa lagi. Lha terus ni taruh mana dong?" tanyanya lagi.
"Ya meneketehek!" orang itu meneruskan pekerjaannya.
Kisame masih berpikir. "Ah, apa yang disingkirin tadi ni batu bata ya? Mungkin iya!" Lalu dengan cepat Kisame melaksanakan tugasnya.
Beberapa menit kemudian… "Selesai! Sekarang tinggal angkut batu ke dalem…"
Lalu dia mengangkut batu ke para pekerja yang mengerjakan bagian dalam bangunan.
"GUBRAKK!!" setumpuk batu tumpah. Pekerja yang di dalam kaget dan melihat siapa dalangnya.
Kisame tersenyum memamerkan barisan gigi hiu-nya yang super tajam sambil mengangkat gerobaknya. "Beres."
"Hei, buat apaan nih??" tanya para pekerja bingung.
"Ya elah! Ya buat ngebangun inih dong! Masa buat campuran gule kambing sih!" jawab Kisame sekenanya. Dari tadi pikirannya hanya makanan melulu.
"Kita nggak butuh batu tahu! Fondasinya udah selesai, ngapain pake batu segala? Kita butuhnya batu bata… Noh! Buat bikin tembok!!" kata pekerja itu mulai jengkel.
"Hah? Waduh! Salah lagi…" ujar Kisame pelan karena malu.
Kisame terpaksa mengangkut batu-batu itu keluar lagi.
"Ah! Iya, ya… Yang disingkirin tadi batu ini, batu bata kasih di dalem, terus kayunya kasih ke atas… Duuh, dodol banget sih gue!"
Akhirnya, dengan berpeluh keringat, pekerjaan melelahkan Kisame usai juga. Dia berhasil menyelesaikan pekerjaannya dengan benar. Meskipun tersendat-sendat, karena beberapa kali terbalik. Yay! Dua sorakan untuk Kisame!! Hip-hip Horeeh!!
"Duuh laper nih…" keluh Kisame setelah selama 2 jam dia berkutat dengan pekerjaannya yang terbalik melulu. Selain itu, dia sepertinya kepingin juga keripik kentang yang sedari tadi dilahap oleh mandornya itu.
"Bos, kapan makan makan siangnya yah?" tanyanya kemudian pada Chouji.
"Tahun depan!" jawab Chouji jengkel sambil membuka bungkus keripik kentang yang baru. "Kamu ini belum juga becus kerja kok maunya makan aja!"
"Yaah, si bos…" keluh Kisame.
"Udah, kamu kerja dulu! Nanti juga ada kok, istirahat siangnya! Sekarang, kamu tolong pindahin itu pasir dari sono. Soalnya bakal menghalangi truk material yang mau masuk. Udah, kerjain gih!" usir Chouji.
Kisame menurut. "Nasiib, nasib..." ratapnya. Entah ke mana perginya 'semangat' Kisame yang tadi. Dia berubah jadi tidak semangat bekerja. Tapi, kemudoan dia teringat akan teman-temannya di Akatsuki. Ah! Pokoknya, kali ini dia harus dapat uang, biar besok bisa makan enak lagi… -Ayo, semangat Kisame-san!-
Beberapa jam kemudian, pekerjaannya selesai. Kini dia diperbolehkan istirahat oleh mandornya. Dia juga dapat jatah makan siang.
"Asiiik… Makan siang nih! Waah… ada telur dan ikannya juga! Setidaknya lebih enak dari sarapan buatan Kakuzu tadi pagi…" batinnya girang .
"Itadakimasu…" Kisame menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya yang lebar.
Namun baru saja nasi itu hampir masuk ke dalam mulutnya, dia mendengar suara yang sangat mengganggu telinganya.
"Grreeek… Grreeek…" Begitu berulang-ulang tanpa nada yang pas, pich-control yang nggak karuan, dan dengan vibrasi yang hancur-hancuran.
Dia pun menoleh. Dan ternyata suara jelek itu berasal dari…
"Wuih! Ampuh juga ni gergaji! Baru empat kali gesek, udah putus nih besi… Tapi kok bentuknya aneh ya? Berat banget lagi!"
Seorang pekerja menggunakan pedang Samehada miliknya untuk menggergaji besi.
"TIIDDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKK!!!!!" Kisame melompat dari tempatnya duduk dan menuju ke pria itu.
"Balikin pedang gueh!!!" teriaknya.
"Hah? Pedang apaan?" pria itu bengong.
"Yang lu pegang itu goblok!!! Anjrit lu!" Kisame misuh-misuh dan berlari menuju pekerja itu.
"Gue bunuh lu!! Awas ya!" Kisame terus lari mengejar orang itu. Sementara, pria yang bakalan dibunuh Kisame lari pontang-panting menuju arah bangunan untuk mencari perlindungan. Kisame yang sudah mendapatkan pedang Samehada, lagsung mengayunkannya membabi buta. Dan apakah yang terjadi para pemirsah…
Sudah jelas bangunan yang belum jadi itu hancur lebur karena sabetan dahsyat pedang Samehada milik Kisame.
"Hoshigaki Kisameeee…!!! Kamu dipecat!!!" teriak Chouji marah besar.
Kisame sendiri buru-buru lari, sebelum terlindas tubuh gempal Chouji dengan jurus ampuhnya.
Kisame benar-benar putus asa. Bukannya dapat upah, malah dipecat. Dan yang paling parah, dia tadi belum sempat makan siang. Sudah begitu, kelihatannya beberapa sisik di pedangnya perlu diasah ulang gara-gara buat gergaji besi tadi.
Sudah jatuh, tertimpa tangga, nyebur ke got lagi! Itu mungkin peribahasa yang tepat untuknya. Akhirnya dia pun gagal dalam kerja part timenya.
--End of Kisame's Part Time—
-- To be continue--
XxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxX
Hehehe… Maap, chapter ini aneh ya? Soalnya Kisame OOC banget. Tapi saiah sebenernya suka banget kok sama Kisame… Buat yang nggak sreg, sekali lagih maaf ya… Yang selanjutnya, saiah akan lebih berusaha lagi. O, iyah. Ni chapter ko cuma ada Kisame dan Chouji yah, karakter yang dari Naruto? Soalnya saiah bingung kalo mesti nambahin banyak karakter laen. Yah, namanya juga masih pemula. So, review dari pembaca sekalian akan saiah terima dengan senang hati. Yang selanjutnya, ditunggu yah… ^_^
Mohon maaf apabila karya ini masih jelek. Untuk ituh, dukungan, kritik, dan saran sangat saiah harapkan dari pembaca sekalian. Karena review dari anda adalah semangat bagi saiah.
