Chapter 2

.

Naruto POV

"Uzumaki! Lupakan apa pun yang kau lihat di toilet tadi. Jika kau berani buka mulut. Aku pastikan hidupmu tidak akan tenang." ancamnya dengan nada yang sangat sangat dingin.

"B-b-baik." Jawabku gemetaran. Berasa seperti jantungku hampir copot mendengar ancamannya yang lebih mirip seperti vonis sidang hukuman mati.

Ini masih hari pertamaku bekerja di Hyuga Corp. dan aku sudah mendapat ancaman seperti ini. Aku tidak habis pikir apa yang akan terjadi dengan hidupku di hari-hari berikutnya. 'Oh Tuhan! Selamatkanlah hambamu ini!', ucapku meratapi nasib.

"Apa yang kau pikirkan? Kau mencoba untuk menyumpahiku mengalami kejadian buruk, huh?", Tanya kaichou tiba-tiba, membuyarkanku dari lamunan.

"T-tidak kaichou", jawabku, lebih dari sekedar gemetaran. Ini kaichou benar-benar kelewatan. Bukan hanya galak tapi juga selalu berpikiran buruk pada orang lain.

"Kalau begitu, daripada kau melamun dengan muka aneh seperti itu lebih baik sekarang kau ambil file-file di sebelah sana, pelajari semuanya karena besok kita ada meeting. Aku tidak mau ada anggota teamku yang tidak mengerti apa-apa", perintahnya panjang lebar... dan lagi-lagi aku harus mempelajari tumpukkan file-file yang entah bisa aku selesaikan sebelum jam pulang atau tidak. Benar-benar terasa diperbudak si kaichou galak.

.

"Naruto-kun, ganbatte!", ucap Sai sambil tersenyum. Entah kenapa kali ini aku merasa kesal melihat senyumannya.

"Yo, Naruto! Bersemangatlah!" Chouji ikut menyemangati dari tempat duduknya. Dan entah kenapa pula kali ini aku ingin sekali menonjok pipi bulatnya.

"Butuh lebih dari sekedar kesabaran untuk bisa benar-benar bergabung dngan team ini. Berusahalah", kata Shikamaru sambil menepuk pundakku. Aku hanya membalas perkataannya dengan senyuman tipis. Kemudian kami kembali ke tempat kerja kami masing-masing.

'Bertahanlah Naruto', ucapku dalam hati.

.

Normal POV

Esok harinya, Team Akai sudah bersiap di ruang meeting bersama dengan direktur utama Hyuga Corp, Hyuga Neji.

Naruto, Shikamaru, Sai, Kiba, Shino, dan Chouji terlihat menyimak yaitu Gaara yang sedang mempresentasikan strategi promosi untuk produk baru yang akan dikeluarkan oleh Hyuga Corp. Naruto yang untuk pertama kalinya menyaksikan Gaara berbicara di depan cukup terhipnotis dengan aura kharismatik si kaichou. Tegas, cerdas, dan menawan, itulah gambaran Gaara di mata Naruto.

'Seandainya dia wanita mungkin aku sudah jatuh cinta', pikir Naruto yang masih tidak bisa melepas pandangannya dari Gaara.

'Eeeh…apa yang aku pikirkan? Dia itu kan laki-laki berdada rata', ucap Naruto dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengibaskan tangannya di depan muka.

"Oi, Naruto! Apa yang kau lakukan? Focus!", ucapan Kiba sukses membuyarkan lamunannya.

"H-hai!", jawab Naruto canggung.

Presentasi selesai, Gaara mendapatkan tepuk tangan dari semua peserta meeting. Tanpa disadari, Naruto justru memberikan tepuk tangan paling keras. Menyadari itu, Gaara langsung melirik ke arah Naruto. Saat pandangan mereka bertemu, Gaara hanya menatap si pirang dengan tatapan dingin dan datar, merasa heran bagaimana bisa anggota teamnya yang satu ini bisa begitu heboh. Sementara Naruto, melihat tatapan dingin Gaara hanya bisa nyengir kuda dan pura-pura menatap ke arah lain. 'Bakayaro', keluhnya

Saat ia berbalik menatap ke arah Gaara, si merah sedang tersenyum manis. 'Eeh….si galak bisa juga tersenyum manis?' tapi sayang senyuman itu ditujukan ke orang lain. Naruto mengarahkan pandangannya ke objek yang sudah sukses membuat kaichou galaknya tersenyum manis. Disitulah dia mendapati sang direktur Hyuga Corp, Hyuga Neji sedang tersenyum dengan tampang sok coolnya? pada si merah. 'Pantas! Pasangan gay yang lagi dimabuk cinta,' batinnya, enek ngeliat pasangan sok mesra di depan matanya.

"Hoi, Naruto! jangan cuma diem ngelamun di tempat. Ayo bantu beres-beres!", pinta Kiba agak maksa. Naruto hanya bisa menghela nafas sebelum akhirnya bangkit dari tempat duduknya dan membantu rekan teamnya membereskan sisa-sisa presentasi.

.

Setelah presentasi, Naruto dan semua rekan teamnya pun harus kembali mengerjakan banyak hal untuk persiapan peluncuran produk baru. Naruto mendapat tugas untuk memfoto copy semua file-file penting. Tak ada alasan untuknya bersantai di meja kerjanya. Kini dia harus berdiri di samping mesin foto copy, menunggu satu persatu file terfoto copy dengan benar. "Ingat! Foto copy semua file-file ini 10 kali, jangan sampai ada yang luput satupun!", itulah perintah yang ia dapatkan dari si kaichounya. Memang hanya 10 kali tapi ayolah…. File-file tersebut tidak hanya berjumlah 10 lembar, melainkan 1000 lembar yang artinya ia harus menunggu 10.000 lembar keluar satu persatu dari mesin foto copy.

.

Waktu demi waktu telah berlalu, hingga kini waktu menunjukkan jam makan siang. Kiba dan rekan teamnya yang lain mengajaknya untuk makan siang. Ketika isa hendak beranjak dari tempat duduknya, matanya tanpa sadar menatap ke ruangan Gaara. Entah kenapa ia sempat terhenti dan terdiam memperhatikan Gaara yang masih sibuk membaca tumpukkan file-file di mejanya. Ia berfikir, kenapa bisa Gaara selalu terlihat kaku dan dingin, bahkan ia selalu bekerja keras dan jarang sekali bersosialisasi dengan rekan kerjanya. Di jam makan siang seperti ini pun, ia masih bekerja dan sama sekali tak berniat untuk bersantai sedikit dengan rekan kerjanya. Sangking seriusnya Naruto menatap ke arah Gaara, ia tak menyadari bahwa si kaichou kini berbalik perlahan menoleh ke arahnya, menyebabkan mereka berdua bertatapan mata.

' EEE ' teriak Naruto di benaknya dan kepalanya reflek menoleh ke arah lain.

Naruto terlihat kikuk dan langsung pergi menyusul teman-temannya yang sudah berjalan ke kantin duluan.

Langkah demi langkah ia lalui, tapi pikirannya masih saja meliput tentang Gaara. Entah kenapa dia tak bisa berhenti untuk tidak memikirkan si kaichou. Rasa penasarannya kepada si kaichou semakin lama semakin besar. Selalu saja muncul tanda tanya di kepalanya. 'Kenapa si kaichou bisa jadi gay? Kenapa si kaichou selalu bermuka dingin? Kenapa si kaichou bisa memiliki hubungan special dengan direktur perusahaan? Dan pertanyaan terakhir yang terlintas di kepalanya adalah 'Kenapa aku harus memikirkan si kaichou galak itu?'. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha menyingkirkan pertanyaan-pertanyaan bodoh tersebut.

Sementara Gaara masih duduk diam di ruangannya, terlihat heran dengan tingkah laku Naruto. 'Dasar orang aneh', pikirnya dalam hati.

.

Di Kantin Perusahaan

"Oh ya, kita belum sempat mengadakan pesta penyambutan untukmu Naruto. Bagaimana kalau nanti sepulang kerja kita semua pergi makan-makan", Chouji dengan semangat menyampaikan gagasannya. Sebenarnya dia lebih semangat untuk makan daripada mengadakan pesta penyambutannya.

"Ide yang bagus", ucap Kiba tak kalah bersemangat.

"Yah…aku sih setuju saja, tapi aku tidak janji akan mentraktir kalian ya", jawab Naruto to the point. Maaf saja, dia masih karyawan baru, masih belum merasakan memegang gaji dari perusahaannya.

"Hahaha…. Kau tidak perlu khawatir. Kita bisa bayar sendiri. Atau mungkin Shikamaru mau mentraktir kita. Dia yang paling punya banyak uang disini", kata Kiba enteng. Shikamaru hanya meresponnya dengan satu kata, "mendokusai!".

"Bagaimana kalau kita ajak Gaara-kaichou? Mungkin dia mau mentraktir kita", saran Sai tiba-tiba. Semuanya memasang tampang cengo.

"Eh? Kenapa? Ada yang salah dengan saranku?", tanyanya sok polos.

"Kalau ngomong dipikir dulu napa", jawab Kiba.

"Apa salahnya mengajak kaichou?"

"Kau tahu sendiri kan bagaimana dia? Si pangeran es yang tak pernah bisa keluar dari lemari es," jelas Kiba tanpa basa-basi.

"Dia tak seburuk itu. Kadang dia juga bisa bersifat manis", Shikamaru angkat bicara, Kiba cengo, heran kenapa tiba-tiba teman satu teamnya ini membela si kaichou. Melihat ekspresi Kiba yang super duper aneh, Shikamaru hanya bisa menepuk dahinya. Harusnya dia diam saja tadi. "sudahlah lupakan!", ucapnya menyerah.

Sementara Naruto, pikirannya mulai kemana-mana lagi. 'Apa jangan-jangan Shikamaru tertarik pada kaichou? apa mereka punya hubungan special?' sangking seriusnya berpikir sampai gak menyadari kalau Chouji sudah memakan onigirinya.

"Hoi! Onigiriku!", protes Naruto telat, onigiri sudah masuk ke mulut Chouji.

"Haha! Salah sendiri melamun", jawab Chouji enteng, menjilati sisa-sisa onigiri di jarinya.

.

Skip Time

Jam pulang kerja.

Ketika semua anggota team akai beres-beres untuk persiapan pulang, terlihat Gaara keluar dari ruangannya. Sai yang mengungkapkan saran agar si kaichou bergabung dalam pesta penyambutan, memberanikan diri untuk mengajak si kaichou.

"Ano…Gaara kaichou, kami berencana mengadakan pesta penyambutan untuk Naruto dengan pergi makan-makan bersama. Jika tidak keberatan apakah anda mau bergabung bersama kami?"

Gaara hanya menatapnya datar. Setelah menghela nafas, dia menjawab "maaf aku rasa aku tidak bisa".

"Ke-kenapa kaichou? Mungkin acara makan-makan akan lebih rame jika ada kaicou", Chouji ikut bicara.

"rame? Memangnya aku pelawak yang bisa meramaikan suasana?" ucap Gaara sadis, dahinya sedikit berkerut membuat Chouji mati kutu. Sementara Kiba di belakang hanya bisa menahan tawa.

"Tidak ada salahnya kan bergabung dengan anggota team anda untuk makan-makan? Sesekali bersosialisasi dengan rekan kerja itu hal yang baik", Shikamaru menimpali, nadanya lebih santai dari teman-temannya.

Gaara terlihat mempertimbangkan omongan Shikamaru sebelum akhirnya menyerah dan menerima tawaran anggota teamnya tersebut. "Baiklah, untuk kali ini saja".

"Yatta! Ini baru kaichou kami", kali ini Chouji yang bersikap berlebihan.

Sementara Naruto, cukup kaget mendengar jawaban Gaara. 'EEE….dia mau bergabung dengan kami? Apa jangan-jangan karena yang ngajak Shikamaru? Apa jangan-jangan benar ada hubungan special di antara mereka?' lagi-lagi pikirannya mulai kemana-mana sampai tak henti-hentinya memandangi Gaara dan Shikamaru secara bergantian denga ekspresi penasaran.

.

Mereka pergi ke kedai yakiniku dekat perusahaan. Chouji dengan penuh semangat memesan porsi jumbo untuk semua rekan-rekannya. Sementara Kiba sengaja memesan bir untuk semuanya.

"Yosh! Ayo kita makan dan minum sepuasnya!", kata Kiba penuh semangat.

Ketika semua berbicara dan tertawa karena lelucon yang dibuat kiba dan Naruto, Gaara hanya duduk dengan tenang sambil menikmati makanannya.

Tiba-tiba saja, Kiba yang sudah setengah mabuk menyodorkan 1 gelas besar bir kepada Gaara. "Neh neh kaichou.. cobalah minum ini! Satu gelas tak akan membuatmu mabuk…hik!".

"Maaf aku tak meminum alcohol", jawab Gaara singkat. Tapi Kiba tak mau kalah. "Ayolah kaichou! Bukan lelaki kalau tak bisa meminum ini", ungkap Kiba dengan nada mengejek.

'Cih! Apa dia sengaja mengejekku?' batin Gaara kesal. Tanpa berpikir panjang Gaara mengambil segelas bir di tangan Kiba dan meminumnya denga cepat. Melihat itu Kiba tersenyum puas. Shikamaru menatap horror. Dia tahu betul kalau Gaara tak bisa minum alcohol.

"Hik….

"Hik…

Gaara mulai cegukan, pandangan matanya mulai kabur, kepalanya pun terasa sangat berat. Dia mulai merasa mual.

"Mendokusai! Seharusnya anda tak meminum birnya", kata Shikamaru, wajahnya khawatir melihat Gaara yang sudah hampir ambruk gara-gara mabuk.

"Baiklah ini sudah larut malam. Sebaiknya kita pulang saja. Shino, kau bisa mengantar Kiba pulang kan?"

"Ya", jawab Shino singkat. Manusia satu ini emang irit ngomong.

"Chouji, Sai, kalian bisa pulang sendiri kan?"

"Tenang saja, kami bisa pulang sendiri", jawab Chouji

"Lalu bagaimana dengan Naruto?" tanya Sai

"Sepertinya aku harus pulang sendiri. Arah rumah kita berlainan", ungkap Naruto.

"Kau bisa ikut dengan ku. Kita antar kaichou pulang dengan mobilnya, lalu kita bisa naik taksi untuk pulang." Ajak Shikamaru.

'Eh…..mengantar si kaichou pulang? Sepertinya Shikamaru benar-benar dekat dengan Gaara kaichou', batinnya.

"B-baiklah!"

Shikamaru menggendong Gaara di pundaknya, berjalan menuju tempat dimana mobil Gaara terparkir. Naruto mengikutinya di belakang. Memperhatikan betapa perhatiannya teman kerjanya itu pada si kaichou galak.

Sesampainya di mobil, Shikamaru merebahkan Gaara di tempat duduk belakang. Sementara dia yang duduk di kursi kemudi dengan Naruto duduk di sampingnya.

Naruto masih saja memperhatikan Shikamaru, sampai akhirnya Shikamaru sadar telah diperhatikan olehnya.

"Eh? Ada apa?" tanya Shikamaru heran.

"T-tidak apa-apa", jawab Naruto. Lebih memilih untuk menghindar. Tapi sayang, rasa penasarannya yang semakin besar mengalahkan ketidak enakannya untuk mencampuri urusan orang lain.

"Eto…Shikamaru. Sepertinya kau mengenal kaichou lebih baik dari yang lain. Apa ada hubungan special di antara kalian?" tanyanya tanpa basa basi lagi.

"HUH?", Shikamaru langsung kaget dengan pertanyaan Naruto.

"Ah..ano..maksudku apa…", belum selesai Naruto berbicara, Shikamaru langsung memotongnya. "Jangan salah paham. Aku lebih akrab dengannya itu karena onee-nya adalah tunanganku."

"EEH! K-kau tunangan kakak perempuan kaichou?"

"Yah. Begitulah! Temari namanya. Dia perempuan yang cerewet. Sering sekali mengingatkanku untuk menjaga adik kesayangannya", jelas Shikamaru. Naruto hanya diam meresapi perkataan Shikamaru.

'Shikamaru dekat dengan kaichou karena kakak perempuan kaichou adalah tunangannya. Jadi intinya Shikamaru tidak tertarik dengan kaichou. Shikamaru normal. Bukan gay. Syukurlah!' pikirnya, dia mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum aneh.

"Apa yang sedang kau pikirkan?", tanya Shikamaru yang heran melihat Naruto nyengir gak jelas.

"Hehe…bukan apa-apa".

.

Masih setengah dari perjalanan mereka, tiba-tiba handphone Shikamaru berbunyi.

"Moshi-moshi. Ada apa?"

Naruto tak bisa mendengar dengan jelas apa yang disampaikan orang dibalik telepon itu kepada Shikamaru. Shikamaru hanya diam mendengarkan sebelum akhirnya berkata, "Baiklah, aku akan kesana sekarang." Setelah itu Shikamaru menghentikan mobilnya.

"K-kenapa berhenti?"

"Ada berkas yang harus aku ambil di perusahaan. Kau bisa menyetir mobil kan?"

"Eh?"

"Bisa atau tidak?"

"B-bisa. Kenapa?" tanya Naruto.

"Antarkan Gaara-kaichou ke apartemennya. Aku akan kembali ke perusahaan dengan taksi. Aku tidak tega kalau harus memutar balik. Kaichou harus cepat istirahat. Kondisinya tidak baik."

"T-tapi aku tidak tahu dimana apartemennya."

"Ikuti saja GPS di mobil. Kamar apartemennya ada di lantai 16. Kamar nomor 1644. Kunci apartemennya ada di saku tasnya. Aku titipkan dia padamu. Jya". Ucap Shikamaru sebelum keluar dari mobil, mengahadng taksi yang lewat dan pergi ke arah yang berlawanan.

'Huh? Kenapa jadi aku yang harus mengantar si kaichou?' keluhnya dalam hati, sesekali melirik ke tempat duduk belakang dimana Gaara masih tetap memejamkan matanya.

10 menit kemudian dia sudah sampai di depan apartemen Gaara. Setelah memarkirkan mobil, dia menggendong Gaara di punggungnya dan menenteng tasnya di pundak kirinya.

'Dasar, kalau tak bisa minum alcohol kenapa memaksa untuk minum', omel Naruto dalam hati.

Sesampainya di depan pintu apartemen Gaara, Naruto berusaha keras untuk mencari kunci dan membuka pintu apartemenya. Naruto berjalan perlahan memasuki ruangan, berusaha mencari saklar lampu. Syukurlah saklar lampu tidak jauh dari pintu masuk ruangan. Setelah dia menghidupkan lampu, dia pun bisa melihat ruangan apartemen yang luas dan mewah. Jika dibandingkan dengan apartemen Naruto sendiri mungkin hanya 10:1.

'Beruntung sekali dia.' batinnya.

Ada ruang tamu, dapur, dan 4 ruangan lainnya. Naruto membuka satu persatu ruangan yang masih tertutup. Ruangan pertama penuh dengan buku-buku. Ada meja kerja di pojok kirinya. 'Bukan kamar tidurnya'.

Lanjut ke ruangan kedua. Ruangan penuh dengan lukisan yang dipajang di dinding. Di tengah ruangan ada satu meja lengkap dengan perlengkapan melukis. 'Eh! Dia pelukis juga? Sugoi!' ucapnya dalam hati, terpana melihat beberapa lukisan bertema klasik dan beberapa lukisan potret diri. 'Ok, bukan saatnya untuk menikmati lukisan-lukisan ini. Aku harus cepat menemukan tempat tidurnya.'

Lanjut ke ruangan ketiga. Syukurlah Naruto tak harus pergi memeriksa ruangan keempat karena ruangan yang ia buka saat ini merupakan tempat tidur si kaichou.

'Saatnya istirahat kaichou', ucapnya sambil perlahan merebahkan Gaara di tempat tidurnya. Saat ia ingin berdiri, tiba-tiba saja ia merasakan pegangan erat pada tangan kirinya. Naruto pun melirik tangannya. Ia syok saat mendapati Gaara sudah dalam posisi duduk dengan memegang erat tangan kirinya.

'EEE….kenapa dia memegang tanganku?'

Mata Gaara yang sedari tadi terpejam, perlahan terbuka. Sayup sayup mata tersebut mulai menatap Naruto.

Bangkit, mendekat, mendekat dan semakin mendekat. Kini Gaara sudah dalam posisi berdiri tepat di hadapan Naruto. Tangan kanannya masih memegang tangan kiri Naruto sementara tangan kirinya sekarang memegang erat bagian depan kemeja Naruto. Kepalanya yang awalnya tertunduk mulai terangkat. Dan lagi-lagi mata sayu nya menatap Naruto lekat-lekat. Dari jarak sedekat ini, Naruto bisa memastikan bahwa si kaichou benar-benar lebih pendek 10 cm darinya, dan wajah putih pucatnya masih memerah hampir menyamai warna rambutnya. Dan bibirnya…terlihat lembut. "Kawaii" tanpa sadar kata itu keluar dari mulut Naruto.

Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali. Berusaha menghilangkan pikirannya yang semakin tak bisa dicerna. 'Bisa-bisanya memikirkan itu. Dia ini laki-laki berdada rata. RATA', ucapnya dalam hati, meyakinkan dirinya bahwa ia sama sekali tak tertarik pada sesama jenis.

Saat Naruto berusaha melepaskan diri dari Gaara, tapi entah kenapa genggaman tangan Gaara di kemejanya semakin erat. Wajah memerah yang menatapnya datar kini berubah ekspresi. Mulut yang sedari tadi tertutup mulai membuka dan… 'HUWEEEK!'

"What the…." Naruto hanya berdiri mematung saat Gaara muntah tepat di kemejanya. Sepertinya si kaichou tidak pernah berhenti membuat hari-harinya menjadi buruk.

'Musibah macam apa lagi ini?', keluhnya.

Selesai memuntahkan isi perutnya, tubuh Gaara kembali melemas, ia hampir ambruk tapi untung Naruto masih punya hati untuk menumpunya. Dengan cepat ia merebahkan Gaara kembali ke tempat tidur.

Kemudian Naruto pergi ke kamar mandi tepat di pojok kanan kamar tidur. Dia melepas kemejanya dan memilih untuk bertelanjang dada. Membersihkan bekas-bekas muntahan dengan handuk dan sedikit air. Lalu mencuci kemejanya sampai bersih dan menggantungnya kedalam pengering baju otomatis. Setelah itu ia kembali ke kamar Gaara dengan membawa sebaskom air dan handuk kecil untuk membasuh muka Gaara dan membersihkan sisa muntahan di sudut bibirnya.

"Pusing….kepalaku pusing", keluh Gaara dalam tidurnya. Naruto kembali bangkit untuk mencari kotak P3K. Ia mengambil 1 tablet aspirin dan meminumkannya pada Gaara.

Jam sudah menunjukkan pukul 2.00 malam saat Naruto selesai mengurus Gaara. 'Akan sangat sulit mencari taksi tengah malam begini, belum lagi bajuku masih basah. Apa sebaiknya aku bermalam disini saja?' pikirnya dalam hati. Dia juga tidak mau ambil resiko pulang larut malam dan dihadang penjahat di luar sana. Lebih baik tidur se kamar dengan kaichou galak. Lagipula, ia bisa bangun dan pergi sebelum Gaara terbangun. Ia melirik ke arah Gaara yang sekarang sudah tertidur dengan tenang, sebelum akhirnya memutuskan untuk bermalam di apartemen si kaichou. 'Sepertinya aku memang terpaksa harus bermalam disini', ungkap Naruto yakin, beranjak menuju sofa dekat tempat tidur Gaara dan merebahkan tubuhnya disana. 'nyamannya…' ucapnya sebelum akhirnya tertidur dengan pulas.

.

AN: Maaf updatenya agak telat. author lagi sibuk ngurus tugas akhir. btw thanks banget buat yang udah review...seneng banget bisa nemu temen yang sama2 suka Narugaa.. shipper mereka gak banyak. tapi author tetap setia buat ngeshippin mereka. Author jadi shipper beratnya Narugaa setelah baca ffnya Silentz. keren2 banget , langsung jatuh cinta apalagi sama And:Reboot. taulah udah berapa kali baca itu ff. kagak keitung. :P

kalau kalian, siapa author narugaa favoritnya?