A/N : Diloxy minta maaf untuk semua kekurangan di chapter 1. Tentang alur yang terlalu cepat jadi memusingkan dan miss typos yang masih bertebaran. Semoga chapter 2 ini tidak mengecewakan yah. dan kebingungan di chapter 1 akan coba dijelaskan di chapter ini. Enjoy! ^_^

Harry Potter © JK Rowling

Dramione

Rate : T

Genre : Romance, Family, Little Humor

Time line : Tahun 7. Anggap saja Voldemort hanya mitos.

Warning : miss Typo(s), beberapa tokoh yang tak kalian kenal milik Author etc

Twins Baby © Diloxy

"MALFOY, KAU MEMILIKI WANITA DAN ANAK SIMPANAN, HAH?" teriak pemuda itu sekeras-kerasnya.

Chapter 2.

Suara hak sepatu berkelotak di sepanjang koridor. Entah sudah jam berapa ini, namun yang pasti sudah sangat larut malam. Hermione berjalan pelan seraya mendorong kereta bayi. Matanya terasa begitu berat. Begitu sulitnya untuk mengerjap. Kantuk sukses menguasai dirinya. Mata hazel itu sesekali melirik sosok di depannya. Draco malfoy.

Pemuda itu berjalan pelan menyusuri lorong yang sama dengan Hermione. Sebuah lorong cukup panjang dimana terdapat pintu-pintu berjejer. Ya, apartemen para muggle. Seperti yang dikatakan Draco beberapa saat yang lalu. Kini mereka tengah berjalan menuju apartemen milik Draco Malfoy.

504

505

506

507

Dan langkah Draco pun terhenti di depan sebuah pintu yang bernomor 507. Ia merogoh saku celananya sejenak, dan kemudian mengeluarkan sebuah kunci yang ia dapatkan dari peri rumahnya yang ia panggil saat di Santo Mungo. Membuat Draco harus beralasan mendapatkan tugas yang membuatnya harus menggunakan apartemen di kota muggle ini pada kedua orang tuanya.

Draco membuka pintu itu. Dan kemudian, ia masuk. Diikuti kereta bayi serta Hermione. Pintu pun dikunci kembali. Draco melempar kunci tersebut ke atas sofa dan ia pun segera merebahkan diri disana. Lelah rasanya. Lelah menjalari sekujur tubuhnya. Mata kelabunya melirik sejenak pada Hermione yang juga merebahkan diri di atas sofa yang sama dengan Draco. Gadis itu memijat-mijat kepalanya yang terasa berdenyut.

"Lalu?" gumam Hermione tiba-tiba. Draco menyipitkan matanya menoleh pada gadis itu.

"Apa?" tanya Draco.

"Bagaimana setelah ini?"

"Seperti katamu, Granger! Temukan ibu bayi ini lalu selesai."

"Apa itu artinya aku harus terus bersama bayi ini? Yang berarti juga bersamamu, Malfoy?"

"Tepat."

Hermione mendengus keras. Sungguh. Ia menangkupkan kedua telapak tangannya menutupi wajahnya. Rambut ikalnya dibiarkan tergerai begitu saja. Pusing. Mau jadi apa ia jika harus satu atap berlama-lama dengan si pirang congkak di sebelahnya itu? Hermione mengeluh yang kesekian kalinya. Gadis itu tiba-tiba menoleh.

"Aku mau tidur. Lelah!" gumam Draco berjalan ke sebuah kamar tak jauh dari sofa itu. Mendengar itu, Hermione pun bangkit seketika dan segera mendahului Draco menuju pintu kamar itu. Hermione pun segera memegang knop pintu kamar tersebut.

"Eh?" Draco heran.

"Ada berapa kamar di apartemen ini?" tanya Hermione segera.

"Satu," ucap Draco yang masih menampakkan wajah bingung.

"Bayi kembar itu akan tidur dimana?" tanya Hermione cepat.

"Ehm, denganku saja," gumam Draco malas.

"Aku?" tunjuk Hermione pada hidungnya sendiri.

"Sopa nampak nyaman, Granger!" ucap Draco seraya membuka pintu yang dihalangi Hermione. Namun gadis itu tak membiarkan Draco masuk ke kamarnya.

"Heh, kau tak kasihan padaku? Lagi pula aku ragu kedua bayi itu aman bersamamu, Malfoy!. Hey, kau yang sudah membawaku ke dalam masalah dengan bayi itu, jadi mengalahlah. Biarkan aku tidur di kamar itu bersama si kembar!"

Hermione mundur. Draco masih tak bisa membuang wajah herannya. Kini gadis itu mendorong kereta bayi itu masuk ke dalam kamar. Draco yang sepertinya baru sadar dengan tingkah rekan setugasnya itu kini mulai panik

"Kau mau apa Granger?" tanya Draco cepat.

"Tidur. Dikamarmu bersama si kembar," ucap Hermione.

"Aku dimana?" tanya Draco yang tanpa sadar menampakkan wajah memelas.

"Sofa nampak nyaman, Malfoy!"

BRAKKK

Pintu pun sukses di banting oleh Hermione. Memekakkan telinga. Namun tak ada yang lebih ternganga selain Draco. Ya, pemuda itu sukses ternganga lebar. Baru saja saingannya itu membanting pintu setelah mencuri kamarnya. Huh, menyebalkan. Draco hanya mengeluh pelan. Tubuhnya sudah terlalu lelah untuk berdebat apalagi bertengkar. Dan akhirnya, otaknya pun membenarkan bahwa sofa terlihat nyaman.

0o0o0

00

Selasa pagi. Matahari masih malu-malu untuk menampakkan seluruh sinarnya. Ia hanya berani mengintip dari celah-celah awan stratus yang menjadi tabir di langit luas. Menampilkan citraan-citraan keindahan yang sejuk dan teduh. Ya, semoga bisa sedikit menghangatkan makhluk bumi dari angin kencang yang terus saja berhembus beberapa hari ini. Musim gugur. Dimana pepohonan tinggal batang. Dan kehangatan menjadi sesuatu yang sulit didapatkan.

Well, sebuah kehangatan pun terpancar dari satu apartemen di bagian dapurnya. Sesuatu yang jika kita amati, maka kita akan sedikit salah persepsi. Salahkan Draco dan Hermione yang tak memperhatikan tubuh anak kembar itu. Yang mereka kira bayi sejak kemarin. Kini kedua anak itu tengah bergelayut manja di tangan dan kaki seorang gadis manis berambut coklat. Ya, Hermione yang pertama kali tahu itu. Dua malaikat kecil itu bisa berjalan rupanya. Segera saja ia hapus kata bayi menjadi batita barang kali. Ah entahlah apa itu, yang pasti kedua anak kecil itu kini tengah bergelayut manja pada Hermione yang tengah memasak.

"Kalian suka roti bakar?" tanya Hermione riang kepada kedua anak kecil itu yang ternyata adalah sepasang laki-laki dan perempuan. Dan segera saja yang ditanyai itu menggangguk cepat. Ah, manis sekali. Hermione pun menaruh beberapa roti bakar itu di atas piring. Dan kemudian pergi menuju ruang depan bersama si kembar.

Hermione menggiring kedua anak anak lucu itu hingga sampai di ruang depan yang masih gelap. Tirainya belum dibuka. Dan seonggok tubuh masih terbuai mimpi di atas sofa empuk. Hermione pun tersenyum sejenak. Dan ditariknya dengan cepat tirai itu sehingga cahaya matahari kini menembus seluruhnya. Satu kata. Silau.

"Euuhhh, apa harus sepagi ini waktunya menggangguku, Granger?" gerutu Draco menarik selimutnya hingga menutupi seluruh wajahnya.

"Ini sudah siang pemalas!" cibir Hermione seraya menarik selimut milik Draco.

Pemuda pirang itu kini bangkit dan mengacak-acak rambutnya. Matanya merah seperti kurang tidur. Wajahnya juga agak kusut. Hermione hanya tertawa aneh kepada rekannya itu.

"Puas?" tanya Draco kasar. Namun tawa Hermione malah semakin renyah. Begitu pun dengan si kembar yang tertawa karena melihat tawa Hermione.

"Lihatlah Malfoy! Bahkan Aurora dan Auron pun ikut tertawa melihat wajah anehmu," celoteh Hermione. Draco hanya menyipitkan matanya mendengar ucapan Hermione tadi. Heran, sungguh.

"Eh, Aurora dan Auron?" tanya Draco heran dengan nada merendahkan.

"Yap, nama si kembar ini. Aku ingin bisa memanggil mereka, jadinya aku namai mereka," gumam Hermione.

"Kau tak bisa memberikan nama yang lebih bagus, Granger?" cibir Draco.

"Ah ya, jika kau yang menamai mereka mungkin akan menjadi ehm, apa yah?" Hermione pura-pura berpikir, sementara Draco hanya mendengus sebal. "Kalajengking, eh?" Hermione mencibir.

"Hey, kalau pun iya mungkin Scorpius. Itu nama rasi bintang. Bukan sesuatu yang buruk," gumam Draco malas.

"Baiklah, kucing saja," celoteh Hermione. Draco segera mendelik tajam.

"Kau kucingnya!" dengus Draco.

"Kau anjingnya! Ah tidak, tikus saja. Seperti Tom and Jerry," cibir Hermione.

"Menyebalkan!" gerutu Draco kesal.

"Ya sudah, Aurora dan Auron," ucap Hermione melipat kedua tangannya.

"Euhhh, tidak! Aku saja yang menamai mereka," gumam Draco.

"Apa jadinya?" tanya Hermione sanksi.

"Well, yang pria olehku, yang perempuan olehmu! Aku mengusulkan Orion," ucap Draco.

"Aku tetap Aurora untuk gadis kecil ini. Aurora Granger!" ucap Hermione tertawa kecil. Draco melotot mendengar itu.

"Heh, nama keluarga itu berasal dari sang ayah! Jadi nama keluarga kedua anak ini Malfoy!" ucap Draco.

"Eh? Itu tak adil, seperti tak ada bagian untukku dengan anak ini," gerutu Hermione.

"Nama tengah saja cukup. Jadi Aurora Hermione Malfoy," ucap Draco malas.

"Sudah tak perlu," gerutu Hermione.

"Baiklah, Orion dan Aurora Malfoy, Deal? Kita tak mungkin memberikan nama keluarga berbeda pada kedua anak ini, Granger!" gerutu Draco kesal.

"Well, setidaknya mereka berdua sama-sama ada di langit," gumam Hermione

Akhirnya setelah perdebatan yang panjang untuk nama kedua anak kembar itu, dicapailah sebuah kesepakatan. Ya, mereka berdua terlalu sibuk berdebat hingga tak menyadari bahwa Aurora dan Orion sedari tadi asyik melahap roti bakar di atas meja. Menyadari itu, Hermione pun segera mengigit rotinya. Ia pun mengerling kepada Draco untuk memakan roti itu.

"Kita cari orang tua mereka sekarang. Ayo cepat kau mandi, Malfoy!" suruh Hermione yang lebih kepada seorang istri. Dan anehnya, Draco menurutinya tanpa banyak babibu lagi.

Beberapa menit berlalu dan Draco saat ini tengah memakai baju di kamar. Sementara Hermione bermain-main bersama si kembar Aurora dan Orion. Tak lama dari itu, Draco pun keluar dari kamarnya. Hermione melirik sekilas. Setelan atasan T-shirt hijau dengan bawahan jeans hitam. Ia hanya melirik sebentar dan kemudian meminta Hermione dan kedua anak itu mengikutinya keluar dari apartemen.

..

..

Diagon Alley. Hari yang cukup ramai sepertinya. toko-toko dipadati banyak penyihir. Dan sepertinya matahari cukup ramah hari ini. Membuat banyak orang keluar rumah mereka setelah bosan bergelut dengan dingin yang mencekik. Ya, musim gugur ini mereka tetap harus beraktivitas.

Keramaian Diagon Alley rupanya menjadi salah satu alasan mengapa Hermione dan Draco seolah menjadi magnet tersendiri. Bayangkan saja, bagaimana mereka berdua sampai tak menjadi pusat perhatian jika saat itu Hermione menggendong si kecil Aurora yang memiliki rambut ikal pirang se punggung, dan Draco menggendong si kecil Orion yang memiliki rambut ikal pirang yang sedikit gondrong. Wajar anak kecil.

Berpasang-pasang mata tentu akan berpikir bahwa mereka adalah pasangan muda yang memiliki anak kembar yang sangat menggemaskan.

"Keluarga yang hangat sepertinya," bisik salah satu penyihir yang sedang berdiri di depan toko pada temannya saat Hermione dan Draco lewat.

Hermione hanya mendengus pelan mendengar bisikan-bisikan tersebut. Juga tatapan-tatapan kagum. Ah, pasangan yang sangat bahagia memang. Hermione melirik sekilas pada pemuda pirang di sampingnya yang sedari tadi hanya berjalan dengan wajah datar dan dingin. Hermione hanya membatin, apakah pemuda itu tak mendengar ocehan-ocehan pengunjung Diagon Alley? Hermione menggeleng pelan.

Perhatian gadis itu kita beralih pada gadis kecil nan menggemaskan yang ada di gendongannya. Ah, lucu sekali. Aurora menangkup kedua pipi Hermione seraya tersenyum manis. Gadis kecil itu menggumamkan sesuatu sepertinya, Hermione mendengarkannya baik-baik.

"Kau mau ice cream sayang? Tunggu sebentar lagi ya, kita akan segera sampai di Florean Fortescue. Nah itu dia, kau bisa melihatnya!" ucap Hermione tersenyum. Aurora pun segera bertepuk riang begitu melihat toko ice cream terbaik se dunia sihir itu. Anak kecil semua suka ice cream.

Ya, tujuan Hermione dan Draco adalah Florean Fortescue. Dimana disana mereka akan bertemu dengan nyonya Gricell. Mereka berdua sengaja tidak mengadakan pertemuan di toko milik nyonya Gricell. Selepas dari santo mungo malam kemarin, wanita tua itu memang berniat menginap di rumah saudaranya. Sementara auror membereskan dementor itu.

Draco membuka pintu toko tersebut. Dan membiarkan Hermione masuk lebih dulu. Dan kini mereka semua berjalan menuju meja untuk memesan. Ah, dan lihatlah. Si kembar menggemaskan itu begitu riang saat melihat gambar-gambar ice cream yang berwarna-warni dan beraneka ragam. Hermione dan Draco pun segera memesan.

Begitu mendapatkan pesanan mereka, Draco dan Hermione pun segera mengarahkan pandang ke seluruh ruangan. Ya, tepat. Mereka pun segera berjalan ke arah sebuah meja dimana nyonya Gricell tampak menunggu.

"Maaf membuatmu menunggu, nyonya!" ucap Hermione seraya mengangguk. Mereka pun duduk.

"Oh, tak apa. Aku juga baru datang. Ehm, terima kasih atas bantuan kalian kemarin," ucap nyonya Gricell tanpa basa-basi.

"Ya, untung saja auror datang cepat setelah aku mengirim patronus. Sekarang sudah beres, nyonya?" tanya Draco kemudian.

"Iya. Kalian bilang ada sesuatu yang ingin ditanyakan?" tanya nyonya Gricell. Draco dan Hermione pun sontak saling lirik. Agak lama hening di antara mereka. Sampai akhirnya Draco yang memberikan isyarat untuk bicara.

"Ehm, sebenarnya ini tentang anak-anak ini. Kami harus mengetahui orang tuanya," ucap Draco.

Nyonya Gricell pun mengernyit heran. Ia tertawa kecil melihat dua murid Hogwarts yang juga heran melihat reaksi wanita tua di depannya.

"Aku kira kedua anak ini adalah anak kalian. Kalian perhatikan, ikal dan pirang. Ah, kalau saja aku tak tahu kalian murid Hogwarts dan selama menjadi murid tak boleh menikah, pasti aku akan yakin kalian lah orang tuanya," ucap nyonya Gricell dengan tawa renyahnya.

Ya, sementara nyonya Gricell tertawa renyah, Draco dan Hermione hanya bisa tertunduk lesu. Mereka bersama pikiran masing-masing antara malu satu sama lain, dan kenyataan mengenai, apa? Orang-orang mengira mereka orang tua anak itu. Buru-buru pikiran itu mereka enyahkan jauh-jauh.

"Aku bukan ibunya," gumam Hermione tiba-tiba.

"Eh? Ah ya sudah. Maaf sudah mencandai kalian. Ehm, sebenarnya ada apa dengan anak ini?" tanya nyonya Gricell kemudian.

"Ini terjadi saat dementor menyerang anda nyonya. Anda ingat? waktu itu aku menghancurkan pintu dengan bombarda. Dan setelahnya dementor itu keluar dan menyerang. Hermione berusaha mengeluarkan patronus namun tak bisa," Draco menarik nafas sejenak.

"Saat itu, kami seperti mendengar bunyi bel pintu berkelontang. Aku dan Hermione panik. Dan akhirnya, aku berlari ke ruang depan. Disana ada seorang wanita. Cukup muda. Dia datang membawa kereta bayi, dan berkata ingin membeli beberapa rempah-rempah dari toko anda. Saat itu aku menyuruhnya untuk segera pergi karena ada dementor," Draco terhenti sejenak. Mengingat ingat kejadian. Namun Hermione sepertinya tahu.

"Saat aku aku berhasil mengeluarkan patronus setelah nyonya Gricell hampir dikecup. Namun dementor itu malah melesat ke ruang depan. Selanjutnya, aku hanya mendengar jeritan," ucap Hermione.

"Ya, aku melihat dementor itu melesat mendekat. Aku berusaha mengeluarkan patronus. Sulit sekali. Dementor itu malah menghisap kebahagiaan wanita itu. Sementara kereta bayinya terdorong hingga ke dekat pintu. Aku berusaha, dan akhirnya bisa mengeluarkan unicorn perak. Dementor itu kabur. Aku menggunakan jampi memori pada wanita tadi. Ia masih pingsan. Dan kemudian, Hermione datang. Aku mengeluarkan patronus lagi untuk menggiring dementor itu ke kamar belakang," ucap Draco.

"Tak lama setelah Draco mengunci dementor itu di kamar belakang, wanita itu bangun. Namun ternyata ia tak mengingat anaknya dan kejadian serangan dementor tadi. Sepertinya amnesianya tidak permanen, karena setelah berdebat dengan Draco, wanita itu pergi dengan jaringan Floo," ucap Hermione.

"Aku tak melihatnya?" tanya nyonya Gricell heran.

"Wanita itu telah pergi sebelum anda sadar dan mendatangi kami, nyonya," ucap Hermione.

"Dan sekarang kalian berdua yang mengurus bayi wanita itu?" tanya nyonya Gricell dengan tatapan prihatin. Hermione dan Draco pun serempak menggangguk. Nyonya Gricell hanya bisa menatap bersimpati.

"Tak apa lah, kalian bisa menganggap ini pelajaran untuk anak-anak kalian nanti begitu, lagi pula kalian pasangan yang serasi," gumam nyonya Gricell tersenyum.

Sungguh, jika Draco saat itu tengah meminum sesuatu, pasti ia sudah terbatuk-batuk mendengarkan penuturan nyonya Gricell tadi. Begitu pun dengan Hermione yang hanya menganga heran dan aneh.

"Kami hanya rekan, nyonya!" ucap Draco dingin.

"Apakah anda kenal orang tua bayi ini?" lanjut Draco.

"Sepertinya tidak. Entahlah, jika kenal juga, aku tak ingat. bagaimana ciri-cirinya?" tanya nyonya Gricell.

"Wanita itu memiliki rambut lurus berwarna pirang, kau tak kenal?" tanya Draco.

"Lurus pirang, keluarga Malfoy begitu?" tanya nyonya Gricell. Draco hanya menepuk dahinya.

"Tentu bukan. Itu keluargaku," gumam Draco pelan.

"Aku tak tahu. Ingatanku buruk. Maaf anak-anak, sepertinya aku tak banyak membantu. Kalian bisa menyerahkannya pada auror," ucap Nyonya Gricell.

"Kami kasihan pada si kembar, nyonya. Sebaiknya kami saja yang urus mereka sampai ibu si kembar ditemukan," ucap Hermione.

"Kalian mengurusnya bersama? Bagaimana reaksi orang tua kalian membawa bayi ke rumah?" tanya nyonya Gricell agak terkejut.

"Orang tua kami tak tahu. Kami mengurus si kembar di apartemen milik Draco," ucap Hermione.

"Astaga, hanya kalian dan si kembar yang menetap disana?" tanya nyonya Gricell lebih terkejut.

Hermione dan Draco pun mengangguk pelan. Lalu berpamitan kepada wanita tua itu setelah dirasa pertemuan hari ini cukup. Draco menggendong Orion yang sudah belepotan ice crem, sementara Hermione membersihkan mulut ke dua anak kembar itu. Hermione pun kemudian menggendong Aurora mereka pun akhirnya bangkit dan melangkah pergi. Namun sebelum langkah mereka jauh, Nyonya Gricell memanggil,

"Ehm, jangan sampai menambah anak lagi yah!" gurau nyonya Gricell dengan tawa rengahnya.

Apa artinya itu? Otak Hermione dan Draco yang terkenal paling pintar se Hogwarts itu mengartikan maksud gurauan tadi agak lama. Dan, HAP. Itu artinya? Buru-buru Draco dan Hermione kompak menggeleng sekencang-kencangnya. Berusaha mengusir imajinasi aneh karena perkataan tadi. Menambah anak?

Baik Draco dan Hermione kini tak dapat menyembunyikan rona merah di pipi mereka berdua. Dan setelahnya, mereka pun berjalan cepat meninggalkan toko ice cream itu. Meninggalkan Diagon Alley. Dengan tak saling bicara. Dingin? Tidak. Gugup? Tentu saja. Sepanjang perjalanan mereka hanya sibuk dengan anak di gendongan masing-masing.

0o0o0

00

"Mengapa muggle suka sekali dengan sinetron?" tanya Draco yang tengah menonton televisi. Pemuda itu menoleh sejenak pada Hermione yang tengah menyuapi si kembar makan malam. Walau pun ini sudah terlalu malam sebenarnya. Jam 9 malam. Jangan salahkan orang tua dadakan ini. Bahkan mereka baru ingat makan lima menit yang lalu kalau Orion tak menangis super kencang.

Hermione melirih ke arah Draco. Merasa ditanyai, gadis itu pun segera memperhatikan televisi yang ditonton Draco. Sinetron ternyata. Hermione hanya tertawa pelan melihat Draco yang notabene penyihir darah murni tentu sangat asing dengan barang-barang muggle.

"Hey, bukankah kau anti dengan barang muggle?" tanya Hermione.

"Ehm, memang. Tapi aku hanya penasaran. Dan ternyata acaranya bodoh," gumam Draco.

"Acara bodoh. Tapi terus kau lihat. Tapi, sinetron memang tak mendidik kebanyakan. Aku dan orang tuaku tak suka menonton sinetron. Kami lebih senang menonton chanel pendidikan," ucap Hermione seraya perhatiannya kini tertuju pada Aurora yang memainkan makanannya.

"Eh, chanel? Apa itu?" tanya Draco dengan mimik ingin tahu.

"Itu saluran televisi. Tiap chanel berbeda-beda tayangannya. Kau bisa mengubah-ubah chanel televisimu dengan benda muggle aneh yang bernama remote," cibir Hermione dengan tawa mengejek. Draco hanya mendengus sebal.

"Ah, aku mau tidur!" gerutu Draco sebal. Ia pun berdiri dan berjalan ke arah kamarnya.

"Hey, kau mau tidur di kamar? Aku bagaimana?" tanya Hermione panik.

"Aku mau ambil selimut, Granger!" desis Draco.

"OH, ya sudah. Orion, Aurora, ayo kita tidur di kasur yang nyaman!" ejek Hermione seraya melirik Draco. Pemuda itu pun hanya mendengus sebal.

0o0o0

00

Tok Tok Tok

Tok Tok Tok

Tok Tok Tok

Kelabu dingin itu terbuka sempurna. Matanya terasa masih berat. Ia menghela nafas seraya melirik jam dinding. Jam 5 pagi. Ah, siapa yang bertamu sepagi ini, gerutu pemuda itu dalam hati. Draco pun menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya. Menguap sebentar dan menggosok-gosok matanya. Dan setelahnya, pemuda itu pun bangkit.

"Ya, sebentar!" teriak Draco seraya berjalan menuju pintu. Ia pun membuka kuncinya.

CKLEK

Draco membuka pintu itu dan mengintip sebentar. Tiba-tiba matanya menyipit menatap seseorang di balik pintu itu.

"Blaise?" tanya Draco heran.

Pemuda yang dipanggil Blaise itu pun segera masuk ke dalam apartemen Draco. Ya, Blaise Zabini. Teman seasrama Draco.

"Ku kira kau kemana. Aku tanyakan kau, orang tuamu bilang kau sedang mengerjakan tugas di apartemen muggle. Eh? Aku kaget. Bagaimana seorang Draco Mlafoy bisa tahan berlama-lama dengan muggle?" ucap Blaise.

"Ah, ini tugas. Mau apa lagi. Kau ada apa kemari?" tanya Draco yang berjalan ke arah dapur untuk mengambil beberapa camilan dan minuman.

"Aku pinjam buku ramuanmu. Punyaku entah kemana. Hilang!" teriak Blaise dari ruang depan.

"Ada di kamarku. Ambil saja!" teriak Draco dari dapur.

Blaise pun bangkit dari sofanya dan berjalan ke arah pintu kamar Draco. Ia berjalan pelan sampai akhirnya sampai di depan pintu itu. Memutar knop pintu itu dan mendorongnya perlahan.

CKLEK

"Tumben kau bangun sepagi ini," gumam Hermione yang baru tersadar. Namun hazel itu sepertinya melihat sosok lain yang bukan pria yang dimaksudnya.

Astaga, sungguh. Mata Blaise saat itu melebar sempurna. Ia ternganga. Lebar. Melihat Seorang Hermione Granger. Putri Gryffindor. Nona tahu segala. Kebanggaan Hogwarts. Tengah memakai piyama tidurnya di atas tempat tidur milik, Draco? Dan, siapa itu?

Blaise makin menganga lebar dan keheranan saat dua anak kembar di samping Hermione menggeliat dan bersuara. Menggumamkan sesuatu. Sungguh sesuatu yang mengejutkan sepagi ini.

"MALFOY, KAU MEMILIKI WANITA DAN ANAK SIMPANAN, HAH?" teriak pemuda itu sekeras-kerasnya.

Dan setelahnya, suara lari seseorang terdengar menghambur dari dapur.

..

..

TBC

Trims untuk yang sudah membaca.. kali ini bagian Question/Answer.

Kenapa tiba-tiba ada dementor dan untuk apa dementor kesana? pengakuan nyonya Gricell tentang kedatangan dementor itu mendadak dan semua juga aneh mengapa bisa ada dementor disana. Ada di chap 1. Jadi masih dipertanyakan. Ibu si bayi itu nyonya Gricell? Bukan. Ibu si bayi belum diketahui siapa sampai chap ini. Kenapa ibu si bayi bisa ingat menggunakan floo? Ada istilah amnesia sebagian. Jadi, dia masih ingat jelas dia penyihir. Namun tak ingat tentang anaknya dan tujuannya datang ke toko nyinya Gricell. Kapan Draco kasih jampi memori untuk ibu si bayi? Di chap 1 memang tak diperlihatkan karena ditulis versi yang dilihat Hermione saat penyerangan itu. Jadi waktu Hermione mendengar ada orang teriak, ia baru ke ruang depan dan melihat ibu si bayi. Wanita tua yang muncul lagi? Itu nyonya Gricell yang baru sadar dari pingsan. Hermione meninggalkannya di ruang belakang saat pingsan untuk melihat siapa yang berteriak di ruang depan. Nanti mencari ortu si bayi? Benar. Perjalan fict selanjutnya begitu. Dramione tinggal satu apartemen? Betul sekali. Namun Draco tidur di sofa depan. Dan Hermione tidur di kamar bersama si kembar.

Yups, sekian chap ini. Silakan tinggalkan jejak review kalian untuk saran dan kritiknya. Tapi jangan flame yah. ^_^

Trimsss