Mengapa kau menangis, saat aku tak lagi ada di sampingmu

Aku hanya bisa mengasihani diri ku sendiri, bahkan aku tak tahu apa yang salah denganku

Jika kita bersama, hari ini akan jadi saat-saat berharga bagi kita berdua

Payung-payung berwarna hitam berjejer di satu titik tempat bukit pemakaman keluarga Byun. Seorang pastur berambut putih terdengar membacakan bait syair doa kala sebuah peti diturunkan dalam liang makam itu. Seakan ikut berduka cita, langit pagi itu terlihat mendung seperti tak ingin ada cahaya matahari yang menerangi bumi Seoul.

Apakah aku masih memiliki sedikit kesempatan untuk dapat bersamamu?

Melihatmu tertawa itulah yang selalu ingin kulihat

Kau yang lembut seperti bunga matahari dengan segala kehangatannya

Karena itu sekarang aku ingin sampaikan bahwa aku bahagia berada di sini

Seseorang di atas kursi roda menatap kosong kepada peti putih gading yang sebagian telah tertutupi oleh tanah. Mata, hidung, telinga, dan pipinya memerah. Langit mendung membawa serta angin yang berhembus pelan menerpa wajah sendunya. Menerbangkan beberapa helai anak rambut coklatnya yang pendek.

Kita sering bersama-sama melihat jauh ke masa depan

Aku selalu percaya bahwa masa depanmu akan lebih baik dengan cara ini

Aku selalu berharap kau akan melangkah di jalan yang kita lalui sekarang

Kata 'amin' terucap pelan dari bibirnya yang pucat bersamaan dengan orang-orang yang hadir dalam acara pemakaman itu kala pastur selesai melantunkan bait doanya. Ia melirik satu-satu tamu yang hadir dan berakhir pada lelaki tinggi di samping kanannya. Hanya sekian sekon ia memaku pandangannya pada lelaki itu dan setelahnya menatap gundukan tanah yang tepat di hadapannya.

Jangan pernah lupakan saat-saat kita bersama

Kau yang tersenyum saat kita berpisah

Kau yang lembut seperti bunga matahari dengan segala kehangatannya

Jika kau ingin aku kembali, bisakah kau bilang bahwa kau percaya padaku?

Lelaki tinggi itu berganti menatapnya. Pandangannya begitu sendu. Satu persatu tamu beranjak dari tempat pemakaman itu dan membuat lingkaran di sana perlahan merenggang dengan sendirinya. Hanya tinggal beberapa yang tetap pada tempatnya bersama dengan payung hitam mereka. Titik-titik air hujan mulai turun membasahi tanah makam yang mulai basah. Semua tamu yang tersisa segera beranjak untuk pulang sebelum hujan benar-benar akan turun dengan deras. Sepasang suami istri yang mengenakan pakaian hitam masih saja tetap berdiri di sisi makam.

Seseorang menepuk pundaknya dan membuatnya mendongak membiarkan beberapa tetes air hujan membasahi wajahnya yang merah dan sembab.

"Ayo kita pulang, nak." Ajak si pria paruh baya kepada anaknya yang masih diam di atas kursi rodanya.

Lelaki itu menggeleng.

"Paman dan Bibi pulang saja dulu, aku akan menemani Baekhyun di sini sampai ia mau pulang." Lelaki tinggi di sampingnya menyahut.

"Tidak apa-apa, Chanyeol?" Tanya wanita paruh baya di depannya. Chanyeol hanya mengangguk.

Ibu Baekhyun menitipkan sebuah payung hitam dan jaket milik Baekhyun kepada Chanyeol. Orang tua Baekhyun mulai beranjak menuju mobil mereka di bawah bukit pemakaman itu. Setelah memastikan kedua orang tua itu masuk ke dalam mobil, Chanyeol berjongkok tepat di samping pemuda kecil di sampingnya. Pandangannya masih saja kosong dengan menatap makam baru di hadapan mereka.

"Tak perlu menungguku, Chanyeol. Pulanglah." Lirihnya tanpa melepaskan pandangannya dari makam itu.

"Tidak tanpamu."

"Lupakan permintaan Luhan padamu. Pulanglah."

Chanyeol tersenyum lembut. "Aku akan menunggumu." Seakan tuli, Chanyeol tetap mengabaikan saran Baekhyun yang menyuruhnya pulang meninggalkannya sendiri.

Setelahnya Baekhyun memilih untuk diam. Berdiam diri membiarkan rintik hujan yang mulai bercampur salju kecil turun menutupi makam saudaranya. Chanyeol membuka payung mereka dan memakaikan jaket nya pada Baekhyun. Lelaki itu hanya diam menerima perlakuan Chanyeol padanya.

Baekhyun mulai berdiri dengan perlahan dari kursi roda yang sejak kemarin selalu bersamanya. Duduk bersimpuh di samping nisan saudaranya, membiarkan kemeja hitam yang dikenakannya kotor oleh salju dan air hujan. Chanyeol segera memayungi Baekhyun dari belakang.

"Luhan.."

Apakah aku masih memiliki sedikit kesempatan untuk dapat bersamamu?

Melihatmu tertawa itulah yang selalu ingin kulihat

Kau yang lembut seperti bunga matahari dengan segala kehangatannya

Karena itu aku ingin sampaikan bahwa sekarang aku sudah menemukan arti kebahagiaan sejati

-Motohiro Hata – Himawari No Yakusoku-

Baekhyun menangis di sampingnya. Lagu kesukaan Luhan tak sengaja terputar dari headset yang ia sambungkan pada ponselnya. Baekhyun membiarkan Chanyeol berbuat sesukanya termasuk meletakkan kepalanya pada bahu kiri lelaki tinggi itu.

Chanyeol menghela nafas kembali saat merasakan bagian bahunya basah.

"Uljima Baekhyun.." Baekhyun menutup matanya merasakan tangan hangat Chanyeol mengusap pipinya yang basah.

Tuan Kim dari depan kemudi menatap prihatin pada Tuan Mudanya. Usapan tangan Chanyeol pada alisnya membuat Baekhyun mengantuk dan tertidur pulas setelah lelah menangis.

"Luhan benar mengatakan bahwa Baekhyun akan tidur jika diperlakukan seperti ini." Chanyeol berusaha membuka percakapan dengan Tuan Kim. Ia melepaskan headset pada telinga Baekhyun setelah mematikan lagu yang terputar, ia tersenyum kecil saat melihat playlist Baekhyun banyak terisi oleh lagu dari Girls Generation.

"Mereka memang mengerti satu sama lain." Balas Tuan Kim.

"Terima kasih karena membantuku dengan membawakan kursi roda Baekhyun.." Chanyeol menatap Baekhyun. "Kuharap ia tak akan menggunakan kursi roda lagi nanti."

Tuan Kim mengangguk samar. "Kematian saudaranya membuatnya sangat down sampai tak sanggup membuatnya berdiri."

Chanyeol berusaha mulai sekarang untuk membahagiakan Baekhyun. Lelaki itu sepertinya sangat tertekan dan menanggung beban yang sangat berat. Hatinya begitu polos sampai ia sendiri lebih memilih merendah ketimbang menunjukkan jati dirinya yang sesungguhnya.

"Aku tak tahu apa alasan dia mengatakan hal itu. Dia berkorban untukku sedangkan aku? Aku bahkan tak pernah berkorban untuknya. Aku selalu saja tak bisa memberikan sesuatu yang berarti untuknya. Kadang aku merasa tak pantas untuk sekedar menjadi saudara kandungnya. Kita sangat jauh berbeda. Luhan jauh di atasku, dia lebih muda dariku tetapi sikapnya begitu dewasa dibandingkan diriku."

"Jangan kau berkata seperti itu Baekhyun. Luhan akan sangat sedih. Dia menganggapmu malaikatnya di dunia. Asal kau tahu saja, dia justru yang merasa kurang daripada kau."

"Baekhyun hanya tidak tahu bahwa Luhan juga menganggapnya special. Dia selalu merendah dan itu kekurangannya." Chanyeol teringat pembicaraan mereka saat di pemakaman tadi.

"Tuan Muda Baekhyun sangat menganggap istimewa saudaranya." Ucapan Tuan Kim dibenarkan oleh Chanyeol dalam hati. "Anda benar."

Chanyeol menghela nafas. "Mereka sangat special dengan diri mereka masing-masing."

.

Suasana temaram dalam rumah keluarga Byun sangat terasa siang itu. Sepi seakan menemaninya selalu dalam perasaan dukanya yang mendalam.

Chanyeol pulang lima menit yang lalu setelah ibunya menawarkan makan siang bersama di keluarga Byun. Chanyeol menempati kursi makan Luhan, dan Baekhyun merasa amat terpukul karena itu.

Baekhyun menolak menggunakan kursi rodanya yang dibawa oleh Tuan Kim ke ruang keluarga. Dan ia berakhir dituntun oleh sang ayah menuju kamarnya untuk beristirahat.

Bed cover rapi di kamar Luhan membuatnya kembali menangis mengingat bahwa kamar itu mulai sekarang akan selalu rapi karena tak akan ada yang mendiaminya. Saudaranya tak akan tidur di sana lagi.

Baekhyun mulai melangkah memasuki kamar Luhan melalui pintu penghubung kamar mereka.

"Luhan.."

Kedua orang tua itu hanya menatap prihatin anak mereka satu-satunya yang memasuki kamar saudaranya. Tuan dan Nyonya Byun menatap Baekhyun dari pintu kamar Baekhyun, dan lelaki paruh baya itu menghela nafas berat. Keningnya bertautan menatap sang istri bergantian dengan anaknya di sana.

"Ku rasa kita memang harus pindah untuk kebaikan Baekhyun."

.

Sepasang kaki kecil milik Baekhyun melangkah keluar dari mobil bersama sang ayah di sebelahnya. Menatap gedung sekolah saat ini sangat tidak menarik baginya, terlebih bayang-bayang seorang Luhan terputar di otaknya.

Baekhyun memasuki rumah pohon mereka malam itu di hari pemakaman Luhan. Udara dingin seakan tidak mampu membuat Baekhyun kedinginan yang bahkan hatinya pun lebih dingin dari udara di titik beku sekalipun. Tak ada kebahagiaan yang mampir sejenak dalam hatinya. Semua terasa kosong.

Dan semua terasa menamparnya secara perlahan saat matanya menemukan sebuah kanvas berukuran 40 x 30 tersandar di samping kasur lipat yang tertutupi kain motif kotak-kotak. Baekhyun sudah terbiasa dengan itu, namun sesuatu dari lukisan itu membuatnya lebih dari sekedar biasa.

Itu lukisan dua orang lelaki dengan wajah yang mirip.

Untuk pertama kalinya, ternyata Luhan melukis wajah mereka berdua.

Di balik kanvas itu tertulis sebuah tulisan tangan milik Luhan.

'Lukisan terakhirku, akhirnya aku bisa melukis wajahku dan Baekhyun'

"Apakah karena ini kau melarangku datang ke rumah pohon kita? Kau ingin memberikan surprise padaku? Jika iya, kau gagal karena kau tidak memberikannya padaku secara langsung."

Baekhyun tersenyum getir dan matanya lagi-lagi tergenang oleh air mata. Hari ini keluarganya secara resmi akan memberitahu pihak sekolah mengenai kematian Luhan. Selain itu, Baekhyun bersama ayahnya akan mengurus kepindahan Baekhyun di sekolah.

"Ayo Baekhyunnie." Tn. Byun menggandeng tangan sang putra untuk memasuki gedung sekolahnya. Sekarang pukul tujuh pagi dan pelajaran pertama akan dimulai setengah jam lagi.

Selama berjalan menyusuri koridor, selama itu juga Baekhyun teringat bagaimana ia selalu berjalan bersama Luhan di sampingnya saat pagi hari. Bagaimana mereka berdua menyapa teman-teman di koridor dengan senyuman cerah. Bagaimana dirinya mengantar Luhan menuju kelasnya sebelum menuju kelasnya sendiri. Semua kenangannya bersama Luhan di sekolah akan selalu ada di benaknya.

"Kau anak yang kuat Baekhyun. Jangan bersedih."

Kepala sekolah Lee mengelus kepalanya lembut. "Kau bisa bangkit dari kesedihan ini."

Tn. Byun tersenyum hangat melihat anaknya yang mengangguk samar. Baru saja beliau mengatakan kepada kepala sekolah tentang Luhan dan kepala sekolah Lee akan mengadakan doa bersama di aula nanti bersama seluruh warga sekolah.

Baekhyun tersenyum kecil mendengarnya. Luhan adalah sosok yang baik dan pandai di sekolah. Itu sebabnya Luhan pantas mendapatkan hal seperti ini. Banyak orang yang menyukainya dan itu sungguh berarti pada saat-saat seperti ini.

"Saya juga akan mengurus kepindahan sekolah Baekhyun Tn. Lee. Kami sekeluarga memutuskan untuk pindah ke Los Angeles, kebetulan Paman Baekhyun juga tinggal di sana dan dia menyarankan agar Baekhyun bersekolah di sana bersama sepupunya. Awalnya hanya Baekhyun yang akan pindah ke sana untuk bersekolah, namun sepertinya kami tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Itu sebabnya kami juga akan pindah ke sana." Jelas ayahnya panjang. Tn. Lee mengangguk mengerti.

"Saya setuju dengan keputusan Anda, ini juga demi kebaikan Baekhyun."

.

Murid-murid dikumpulkan semua di aula sekolah untuk pemberitahuan tentang kematian salah satu teman mereka. Baekhyun juga ayahnya berdiri di samping kepala sekolah Lee yang memberi pengumuman.

"Saya sengaja mengumpulkan kalian, anak-anakku tersayang." Bisik-bisik mulai terdengar di tengah-tengah murid. Mereka heran melihat Baekhyun berdiri di sana tanpa mengenakan seragam. Sebagian dari mereka juga bertanya-tanya di mana Luhan. Berita kematian Luhan memang nyarus tidak terdengar di sekolah itu karena pihak keluarga juga berusaha untuk menutupinya. Mungkin hanya Chanyeol yang mengetahui hal ini dan itupun karena ketidak sengajaan.

"Diberitahukan untuk seluruh warga sekolah kita tercinta, bahwa kita telah kehilangan salah satu keluarga kita di sekolah ini, Byun Luhan yang telah meninggal lusa malam kemarin. Mari kita berdoa untuknya." Seluruh murid di sana nampak terkejut dengan berita duka ini. Bagaimana tidak? Selama ini Luhan terlihat baik-baik saja, dan beberapa bulan lalu memang ia memutuskan untuk menjalani home schooling tanpa alasan yang jelas. Tahu-tahu hari ini mereka mendapat berita bahwa Luhan telah meninggal lusa lalu.

"Luhan meninggalkan kita semua karena penyakit kanker yang dideritanya. Mari kita berdoa untuk Luhan."

Dan selama berdoa di aula itu, Baekhyun tak henti-hentinya mengeluarkan air mata.

'Kau lihat Lu? Semua menyayangimu dan mendoakanmu. Namun mengapa kau pergi secepat ini?'

.

Acara berdoa bersama di aula telah usai beberapa menit yang lalu dan semua murid mulai memasuki kelas mereka. Baekhyun duduk di koridor menunggu sang ayah yang tengah mengurus surat-surat kepindahannya.

Baekhyun memilih untuk berjalan-jalan di koridor demi mengusir perasaan sedihnya. Ia melihat dua orang gadis sedang menempelkan sesuatu di madding sekolah. Baekhyun penasaran dengan apa yang telah mereka tempel di madding dan setelah menunggu kedua gadis itu pergi, Baekhyun mendekat demi melihat apa yang ada di sana.

Telah tertempel suatu surat di madding sekolah

Byun Luhan teman kami, selamat jalan kawan. Kami akan selalu mengenangmu dalam sesuatu yang baik dan berjasa. Semoga kau bahagia. God always bless you.

Baekhyun tertegun membacanya. Ia mengusap kertas itu pelan dan bergumam. "Ya, semoga kau bahagia saudaraku."

"Amin."

Baekhyun terkejut saat suara seseorang terdengar dari arah belakangnya. Baekhyun memutar tubuhnya dan ia langsung memeluk orang itu.

"Kyung, aku sangat merindukanmu." Baekhyun memeluk erat teman sebangkunya itu.

Kyungsoo balas memeluk Baekhyun tak kalah erat. "Aku juga Baek. Aku turut berduka atas Luhan. Aku yakin dia akan bahagia di sana. Kami akan selalu menyayanginya, juga dirimu." Kyungsoo tersenyum saat merasakan Baekhyun mengangguk.

Kyungsoo yang lebih dulu melepaskan pelukan mereka. "Mengapa kau tidak memakai seragam? Apa kau akan pulang sebentar lagi?"

Baekhyun mengangguk. Ia tersenyum kecil kepada sahabatnya. "Aku akan pulang, dan mungkin aku tak akan kembali lagi ke sekolah ini."

"Apa maksudmu?"

Baekhyun menghela nafas lelah. "Aku akan pergi Kyungsoo, aku akan ke Los Angeles bersama orang tuaku." Kyungsoo terkejut mendengarnya. "Kau akan pindah?"

Dan melihat Baekhyun mengangguk telah memperjelas semuanya. "Tapi, kenapa?"

"Aku tak bisa hidup dengan bayang-bayang kesedihan. Dan aku akan pindah ke Los Angeles untuk memulai kehidupan baru.."

Kyungsoo terdiam menanti perkataan Baekhyun selanjutnya. "tanpa Luhan."

"Kau akan meninggalkan makam Luhan? Lalu bagaimana jika kau ingin mengunjunginya?"

"Entahlah Kyung, aku hanya berpikir, mungkin ini pilihan terbaik saat ini."

"Kau akan kembali bukan? Maksudku-" Kyungsoo menjeda kalimatnya demi mendapatkan kalimat yang cocok untuk melanjutkan. "..kau akan tinggal sementara di sana? Dan kau akan kembali ke Korea?"

Baekhyun terdiam cukup lama membuat Kyungsoo cemas menanti jawaban Baekhyun.

"Entahlah, aku tidak tahu."

"Baekhyun! Lalu bagaimana denganku? Aku akan kesepian tanpa sahabat sepertimu!"

"Kita bisa tetap berkirim kabar lewat email? Aku janji tak akan melupakanmu Kyungsoo." Ucap Baekhyun meyakinkan.

Kyungsoo memeluk erat sahabatnya. "Baek, aku harap ini keputusan terbaiknya. Jika kau akan merasa lebih baik seperti ini, aku bisa apa?" Baekhyun membalas pelukan Kyungsoo. "Hiduplah dengan baik. Aku berjanji jika aku juga akan hidup dengan baik meski tanpamu."

"Mungkin, kita bisa bertemu lagi Kyung. Jika waktunya memungkinkan. Kau tenang saja." Baekhyun mengusap punggung sahabatnya.

"Berjanjilah jika kau mendapat sahabat baru di sana dank au tidak akan melupakan aku di sini?"

Baekhyun terkekeh dan melepaskan pelukan mereka. "Kau bisa pegang janjiku Sir."

"Di sini kau rupanya nak. Ayah mencarimu dank au di sini bersama uhm-"

"Ayah, ini Kyungsoo. Dia teman sebangku ku." Baekhyun memperkenalkan Kyungsoo kepada ayahnya. Kyungsoo membungkuk hormat. "Saya Do Kyungsoo, paman Byun."

Tn. Byun tersenyum seraya mengacak rambut anaknya. "Ah jadi ini Kyungsoo. Kata anakku yang manis ini, kau adalah murid terpandai di kelasmu? Benarkah?" ucap Tn. Byun dengan sedikit gurauan di kalimatnya.

Kyungsoo tergagap menatap Baekhyun bingung.

"I-itu itu tidak benar. Baekhyun saja yang melebih-lebihkan paman Byun."

Baekhyun menyenggol perut ayahnya dengan siku. "Ishh ayah, Kyungsoo jadi malu. Jangan menggodanya. Lebih baik ayah ke mobil dulu saja nanti aku akan menyusul." Baekhyun mendorong kecil tubuh ayahnya yang masih terkekeh dengan sikap anaknya dengan temannya.

"Baiklah nak. Tapi cepat ya? Ayah tak mau ibumu marah karena kita tidak membantunya membereskan pakaian kita." Baekhyun mengacungkan kedua ibu jarinya. "Siap komandan!"

"Paman pergi dulu ya Kyungsoo."

Kyungsoo mengangguk. "Ya paman Byun."

Setelah tak melihat ayahnya di tikungan koridor, Baekhyun mengalihkan pandangannya pada Kyungsoo. "Maafkan ayahku. Dia memang suka sekali menggoda seseorang. Jangan Tanya berapa kali aku digoda oleh ayahku. Sifatnya benar-benar usil." Gerutunya.

Kyungsoo tersenyum. "Sama sepertimu."

"Yak! Kau-"

"Hahaha~ oke maaf. Baek, kapan kau akan berangkat?"

Baekhyun mengedikkan bahunya. "Entahlah, tapi aku dengar sedikit dari ibu, mungkin nanti malam karena pesawat menuju Amerika hanya akan ada nanti malam."

"Maaf aku tak dapat mengantarmu ke bandara."

"Oh ayolah Kyung, santai saja. Aku tidak apa-apa."

"Baek, apakah ada murid selain aku di sini yang mengetahui kepindahanmu?" Tanya Kyungsoo. Dan Baekhyun membalasnya dengan gelengan. "Jangan beritahu siapapun. Aku mohon. Ini rahasia kita oke?"

Kyungsoo mengangguk. "Aku janji."

Baekhyun menatap jam tangannya sebelum berkata. "Aku harus pergi sekarang. Aku harus bersiap-siap." Mereka berpelukan sekali lagi.

"Selamat tinggal Baek. Aku akan menunggumu kembali."

Baekhyun melepaskan pelukannya seraya memasang senyum lembutnya. "Selamat tinggal juga Kyung. Aku tak akan pernah melupakanmu."

Selanjutnya hanya ada Kyungsoo yang berdiri di koridor menatap punggung sahabatnya yang menjauh untuk terakhir kalinya.

.

.

Ny. Byun menata isi koper Baekhyun yang ketiga di saat Baekhyun datang dan membantu ibunya membereskan apapun yang dapat ia bawa. Pandangannya tertuju pada sebuah lukisan kanvas yang terdapat lukisan wajahnya dan Luhan.

"Ibu.."

Wanita paruh baya itu membalasnya dengan gumaman.

"Apakah aku boleh membawa ini?" Ia mengangkat lukisan kanvas itu dan sang ibu menoleh. Wanita itu terdiam beberapa saat sebelum menjawab dengan senyuman lembut. "Jika kau ingin membawanya, maka bawalah lukisan itu."

Ny. Byun tahu itu adalah lukisan terakhir karya Luhan dan beliau juga tahu lukisan itu pasti akan berarti bagi anaknya.

"Ibu." panggil Baekhyun lagi saat Ny. Byun telah usai menutup koper ketiga Baekhyun. "Iya sayang?"

"Bisakah kita mengunjungi Luhan sebelum ke bandara?"

Ny. Byun mendekati anaknya yang terduduk di atas ranjangnya. Wanita itu memeluk kepala Baekhyun dan menenggelamkan wajah Baekhyun pada perutnya. Ia mengusap lembut puncak kepala Baekhyun sayang. "Kita akan mengunjunginya untuk berpamitan kepada Luhan."

.

Baekhyun menidurkan kepalanya ke bahu kanan sang ayah sambil bergumam menyanyikan beberapa lagu Girls Generation. Tuan Kim di depan kemudi mengantarkan keluarga Byun ke tempat pemakaman Luhan sebelum mengantar mereka ke bandara untuk berangkat ke Los Angeles.

"Apakah kau memberitahu Chanyeol bahwa kita akan pindah Baek?" Tanya Ny. Byun kepada anaknya. Baekhyun menggeleng. "Nanti pasti dia akan tahu sendiri."

"Tapi bukankah lebih baik jika kau memberitahunya sekaligus untuk mengucapkan kata perpisahan untuknya?"

"Tidak usah ibu. Chanyeol sibuk dan pasti aku akan mengganggunya." Itu hanya alibi yang digunakan Baekhyun agar dia tak bertemu dengan Chanyeol. Jujur saja, sebenarnya Baekhyun sungguh tidak siap bertemu dengan Chanyeol di saat seperti ini. Dia masih menyukai lelaki itu dan dia takut saat nanti ia mengucap kata perpisahan, namun akhirnya dia tak sanggup untuk meninggalkan lelaki itu.

"Baiklah terserah padamu."

"Ayah."

"Hnn?"

"Aku ingin ponsel baru saat di Amerika nanti."

"Kenapa sayang? Apakah ponselmu rusak?" sahut ibunya yang duduk di samping kiri Baekhyun. Lelaki mungil itu menggeleng. "Ani. Hanya saja aku ingin melepas semua yang ada di Korea nanti saat aku telah tinggal di Amerika."

"Baiklah, ayah akan membelikan ponsel baru untukmu." Baekhyun dengan cepat memeluk tubuh sang ayah erat dengan tersenyum. "Yey! Terima kasih ayah~"

"Jadi hanya ayah saja yang dipeluk?" ucap Ny. Byun dengan aksen sedihnya yang dibuat-buat. Baekhyun tersenyum amat lebar hingga matanya menghilang. Ia memeluk ibunya tak kalah erat. "Aku sayang ibu~"

Ny. Byun mencium pipi Baekhyun gemas. "Ibu juga menyayangimu bayi besar ibu~"

Tn. Byun tersenyum menatap pemandangan di hadapannya. Melihat bagaimana senangnya Baekhyun saat ini berbanding terbalik dengan Baekhyun saat hadir di pemakaman saudaranya. Lelaki paruh baya itu berharap Baekhyun benar-benar akan bangkit dari rasa sedihnya saat ia telah tinggal di Amerika nanti.

Mobil sedan berwarna putih itu berhenti tepat di bawah bukit pemakaman. Keluarga Byun beserta Tuan Kim berjalan menapaki setiap anak tangga kecil menuju bukit tempat Luhan dimakamkan. Baekhyun mengenggam sebuah pigura foto dirinya dan Luhan. Ny. Byun membawa satu keranjang penuh berisi bunga matahari yang tadi sore dibeli oleh Tuan Kim di toko bunga.

Baekhyun berlari kecil saat ia melihat makam saudaranya. "Luhan.. Aku merindukanmu."

Baekhyun dapat merasakan air matanya mulai tergenang lagi. "Luhan.. aku akan pindah. Aku akan meninggalkanmu di sini –"

"Maafkan aku karena justru aku meninggalkanmu sendirian Luhan. Maafkan aku."

Ny. Byun meletakkan keranjang penuh bunga matahari itu di depan nisan Luhan.

"Luhan." Baekhyun jatuh berurai air mata meremas tanah makam Luhan.

Tn. Byun mengusap pundak sang anak untuk menenangkannya. "Sshh tenang Baekhyun-ah."

Baekhyun mengangguk dan meletakkan pigura foto yang dipegangnya tapat di atas keranjang penuh bunga matahari. Mengelus nisan Luhan penuh sayang. Tak lupa ia selipkan sebuah surat yang ia tulis sebelum berangkat tadi di belakang pigura.

"Aku sayang pada Luhan. Aku rindu pada Luhan. Aku tak pernah melupakan Luhan sedetikpun."

'Aku juga menyayangimu Baekkie.'

Mengucapkan hal terakhir kepada Luhan sebelum mereka pergi di waktu yang lama. Satu jam menunggu di dalam bandara dan pada akhirnya keluarga Byun memasuki pesawan tujuan Los Angeles meninggalkan semua kenangan menyedihkan mereka di Korea.

"Selamat tinggal Seoul. Aku akan merindukanmu."

.

.

Dua jam menunggu pergantian tahun terasa sepi bagi Chanyeol. Sejak pemakaman Luhan, Baekhyun tidak bisa dihubungi sama sekali. Saat Baekhyun bersama ayahnya datang ke sekolah pun ia tak bisa bertemu karena ujian sedang berlangsung. Semua akses hubungan antara ia dan Baekhyun terasa hilang begitu saja.

Angin malam begitu dingin terasa meski ia telah menggunakan jaket yang tebal. Jalanan depan rumahnya nampak ramai dengan perayaan ala tahun baru. Chanyeol membuka kunci layar ponselnya dan menatap waktu yang ditunjukkan dalam layar ponselnya. Masih pukul sepuluh lewat lima menit.

Membuka aplikasi SNS demi melihat-lihat profil Baekhyun berharap ada sedikit pencerahan mengenai keadaan lelaki mungil itu.

"Kau ada di mana? Aku mengkhawatirkanmu."

Memandang wajah Baekhyun di foto profilnya mengingatkan ia pada sosok Luhan. Mereka sangat mirip dan cantik. Chanyeol sendiri mengaku bahwa jika ia dihadapkan pada Baekhyun dan Luhan secara bersamaan, ia tak yakin dapat menentukan mana Luhan dan mana Baekhyun secara tepat.

Chanyeol membuka aplikasi LINE di ponselnya dan membuka ruang obrolan antara ia dan Baekhyun.

Baekhyun

Baekhyun kau di mana?

Kau baik-baik saja? Kau kemana saja Baekhyun?

Ku mohon jika kau sudah membaca pesanku cepat balas.

Chanyeol menambahkan emoticon brown yang sedang bersedih.

Baekhyun . .

Kau marah?

Dan Chanyeol hanya mendapati pesan-pesannya yang tidak terbaca oleh Baekhyun hingga keesokan harinya di tahun baru.

.

"Siang nanti aku akan mengunjungi makam Luhan."

Chanyeol mengecup pipi kiri ibunya dengan cepat kemudian mengambil sepotong roti isi dari meja makan.

"Lalu setelah ini kau mau kemana?" Tanya sang ibu.

"Aku ada janji dengan Donghae hyung berlatih band, ibu."

"Bahkan di saat tahun baru?"

"Ayolah bu, aku janji setelah aku latihan dan ke makam Luhan, aku langsung pulang dan ibu dapat memelukku sesuka ibu." Chanyeol terkekeh di akhir kalimatnya. Tuan Park menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang anak. "Kalau begitu aku harus pergi. Sampai jumpa ibu ayah!"

Chanyeol keluar dari rumahnya dan mulai memasuki mobilnya. Helaan nafas terdengar dari lelaki tinggi itu. Batinnya benar-benar lelah untuk mencari tahu bagaimana keadaan Baekhyun. Ia juga heran mengapa ia sampai mengkhawatirkan seseorang sampai seperti ini.

"Dimana kau Byun Baekhyun? Apa kau hilang ditelan bumi?" Chanyeol bermonolog sambil menyetir mobilnya dalam kesunyian, tak berniat untuk memutar lagu di playlist mobilnya.

Lima belas menit diisi oleh Chanyeol yang terus bertanya pada dirinya sendiri tentang di mana keberadaan dan keadaan Baekhyun sekarang. Lelaki itu sudah melihat belasan bahkan puluhan kali pesan yang dikirimnya pada Baekhyun lewat aplikasi chat LINE, tapi tetap saja Baekhyun tidak membalas bahkan membacanya pun tidak.

Chanyeol benar-benar kehilangan mood untuk berlatih band seperti yang telah dijanjikan oleh salah satu sunbae nya. Mobil yang ditumpanginya berhenti tepat di depan studio latihan namun Chanyeol enggan untuk turun dari sana. Rambut hitamnya sudah diacak berkali-kali hingga berantakan.

"Aku tidak mau berlatih di saat seperti ini. Sungguh Ya Tuhan." Chanyeol bergumam sambil menatap gedung studio. Ia merogoh ponsel dari tas dan mengetikkan pesan di sana.

To : Donghae Hyung

Hyung, maafkan aku hari ini tidak jadi latihan band. Tiba-tiba ada kepentingan mendadak. Aku sungguh minta maaf hyung. Aku akan berlatih dua kali lipat untuk menggantinya minggu depan. Sampai jumpa hyung, selamat berlatih dan sampaikan salamku untuk semua.

Chanyeol telah memutuskan untuk tidak latihan hari ini dan memilih mengunjungi makam Luhan lebih awal di pagi hari.

.

Salju tebal di bukit pemakaman menampakkan jejak kaki Chanyeol yang telah berdiri tepat di samping makam Luhan. Di tangan kirinya terdapat rangkaian bunga matahari, matanya tertuju tepat di nisan Luhan, namun bukan itu yang membuatnya tertegun. Melainkan ada sebuah pigura di dalam sebuah keranjang penuh bunga matahari. Pigura dengan foto Baekhyun yang tersenyum jenaka dan Luhan yang tersenyum manis dengan mengenakan seragam sekolah menengah atas.

Chanyeol berlutut dan meraih pigura foto itu. Menatapnya lekat-lekat kepada dua wajah yang sangat mirip.

"Mereka benar-benar mirip." Pandangan Chanyeol jatuh kepada sebuah surat yang ada di keranjang bunga. Dan Chanyeol sangat yakin jika surat itu adalah milik Baekhyun dan lelaki itu sudah pasti sengaja meletakkannya sebelum pergi entah kemana.

Hari pertama aku dan Luhan menjadi murid senior high school. Saat yang paling lucu adalah nametag kami yang tertukar karena kami sangat terburu-buru kkk. Untung aku langsung menyadarinya saat masuk ke kelas, kalau tidak, mungkin teman sekelasku akan memanggilku Luhan. Kami memang si ceroboh yang sangat kompak ^^

"Apa ini?!"

.

.

September 10th 2013

Chanyeol berjalan di koridor sekolah pagi itu. Banyak wajah-wajah bingung sepertinya berlalu-lalang mencari di mana keberadaan ruang kelas mereka. Suasana yang sangat ramai sampai Chanyeol dibuat bingung bagaimana mencari ruang kelasnya sendiri.

Saat Chanyeol hampir menjauh dari kerumunan siswa, dari arah belakang seseorang berlari cukup kencang hingga menubruk punggungnya. Ia merintih kesakitan karena orang yang ada di belakangnya jatuh tersungkur tepat di atas punggungnya. Chanyeol menunggu hingga orang itu berdiri dan mengulurkan tangannya.

"M-maafkan aku, aku sungguh terburu-buru tadi sampai berlari kencang dan menabrakmu." Lelaki itu membungkuk berkali-kali. Chanyeol sedikit tertawa melihat kepanikan di wajah lelaki itu. Tangannya bergerak untuk membersihkan debu yang menempel di tubuh depannya.

"Tidak masalah. Tapi jangan ulangi itu lagi."

Lelaki itu mengangguk dengan cepat dan menjabat tangannya. "Terima kasih. Aku harus pergi, sampai jumpa."

"Ah tunggu!" Chanyeol mencekal kembali tangan kecil itu dan membuat si lelaki mungil kembali menatapnya. Chanyeol diam-diam membaca nametag yang tersemat di seragamnya.

"Ada apa?"

"Hati-hati dan jangan menabrak lagi." Chanyeol menyempatkan diri untuk tersenyum.

"Baiklah sampai jumpa lagi!" lelaki itu kembali berbalik dan berjalan cepat menjauh sebelum berbelok di ujung koridor. Namun tiba-tiba lelaki itu berbalik dan berteriak. "Namaku Byun Baekhyun! Salam kenal!"

Namun Chanyeol tak dapat mendengarnya dengan baik saat itu karena suasana koridor yang sangat bising. Chanyeol hanya dapat menangkap kalimat 'Byun' dan tidak terdengar apapun setelahnya. Setidaknya Chanyeol telah mengetahui nama lelaki itu selengkapnya. Meskipun sesuatu yang salah telah terjadi.

"Byun Luhan, jadi itu namanya. Ini konyol jika aku menyukainya pada pandangan pertama." Chanyeol terkekeh kecil dan kembali berjalan mencari kelasnya.

.

Dunia sungguh sempit dalam pikiran Chanyeol. Senyumnya tidak sadar merekah begitu saja saat matanya menangkap sosok lelaki yang ditemuinya di koridor secara tidak sengaja tadi pagi.

"Hai! Ternyata kita berada di kelas yang sama?" Sapa Chanyeol pada lelaki itu.

"Maaf? Aku tidak mengerti maksudmu." Lelaki bernama Luhan di hadapannya tersenyum canggung saat Chanyeol mengajaknya berbicara hal yang tidak ia mengerti.

"Kau tidak ingat? Aku yang kau tabrak di koridor tadi pagi."

"Benarkah?" Luhan tampak tidak yakin dengan lelaki di depannya.

"Mungkin kau lupa." Chanyeol mengulurkan tangannya. "Aku Park Chanyeol."

Luhan membalas uluran tangannya. "Umm- mungkin kau salah, mungkin yang kau maksud adalah sa-"

"Selamat pagi!"

Ucapan Luhan pagi itu kemudian terputus dan tidak pernah terucapkan kembali, membiarkan Chanyeol tidak mengerti akan apa yang terjadi sebenarnya hingga saat ini.

.

.

Sekelebat bayangan masa lalunya terputar bagaikan film usang yang diputar kembali secara paksa. Tenggorokannya terasa kering dan membuatnya harus mengerti semua kenyataannya secara langsung. Tiba-tiba semuanya terasa masuk akal bagi Chanyeol.

Alasan mengapa Luhan tidak mengerti apa-apa tentang kejadian pagi itu.

Alasan mengapa sikap Luhan yang berbeda, tidak se Hiperaktif yang diketahuinya.

Alasan mengapa Baekhyun sedikit terkejut saat pertama kali melihatnya.

Semua alasan yang sangat masuk akal menamparnya.

"Sejak awal aku menyukai Baekhyun?"

Karena sejujurnya Chanyeol menyukai sosok 'Luhan' yang sangat berlebihan, suka berlari-lari, dan sangat Hiperaktif. Dan ia mengerti sekarang, mengapa 'Luhan' yang sebenarnya tidak menunjukkan sosok 'Luhan' yang menabraknya di koridor pagi itu. Karena 'Luhan' yang menabraknya adalah Baekhyun.

Chanyeol merasa menjadi manusia paling bodoh karena tidak menyadari bahwa Baekhyun memiliki sifat itu semua. Sifat berlebihan, suka berlari-lari, dan sangat Hiperaktif. Sosok kekanakan yang membuatnya mengetahui apa arti detakan jantungnya yang berdetak berlebihan. Chanyeol merasa amat bodoh karena menyukai orang yang salah, hanya karena sebuah nametag dan mengubah semuanya.

Dirinya merasa sangat bersalah, baik kepada Luhan maupun kepada Baekhyun.

"Aku mencintai Baekhyun." Lirihnya di samping makam Luhan. Masih berlutut dengan dinginnya salju menemaninya. Di hari pertama tahun ini, Chanyeol mengetahui segalanya. Mengetahui bahwa ia mencintai Baekhyun, yang keberadaannya tidak ia ketahui sama sekali.

.

.

.

.

.

.

Tobecontinue

.

Maaf atas keterlambatannya yang sangat keterlaluan. Dan maaf karena chapter dua harus dipotong karena terlalu panjang. Chapter depan menceritakan Chanyeol yang mencari keberadaan Baekhyun dan masa depan mereka. So, just wait for the next chapter. ^^