Dingin...
Disini dingin...
"Toushiro..."
Tolong, Rukia. Berhenti manggil nama gue. Elo ngebuat gue kedinginan disini.
"Elo bisa denger gue, 'kan?"
Iya, gue bisa mendengar elo, Rukia. Tapi maaf, gue nggak bisa ngejawab elo dari sini. Gue harus tetap berada disini sampai semua orang merelakan kepergian gue.
[Apa kau mau kesana?]
Sebuah suara menggema di padang salju dingin tempat gue berdiri. Seharusnya tidak ada siapapun disini, karena ini adalah bagian dari dunia setelah kematian untuk orang-orang yang masih terikat dengan dunia manusia. Seperti gue.
[Kutanya sekali lagi, apa kau mau kesana?]
Gue menoleh. Yang ada di pandangan mata gue seolah cerminan diri gue sendiri, dalam versi gelap. Bentuk makhluk itu persis kayak gue. Hanya saja makhluk itu memiliki rambut hitam dan mata merah. Seolah sebuah dark version dari Hitsugaya Toushiro—diri gue.
Tanpa sadar, gue mengangguk. Disini, kebohongan tidak diizinkan. Setiap kali kau hendak berbohong, kau malah akan mengatakan yang sebenarnya. Seperti gue sekarang.
"Ya. Aku ingin kesana."
Makhluk itu mendekat ke arah gue. Mengangkat tangan kanannya, kemudian menyentuh jidat gue dengan jari telunjuk dan tengah yang dirapatkan. Tidak lama kemudian, cahaya yang sangat terang muncul dari jarinya.
Cahaya itu makin terang, hingga akhirnya membuat gue nggak bisa melihat apapun lagi.
Saat gue membuka mata sekali lagi, yang ada di hadapan gue adalah sosok perempuan yang sangat gue kenal sedang memeluk sebuah batu nisan.
Apa? Kenapa gue ada disini?
Kenapa gue... Nggak ingat apapun?
Hak Cipta: BLEACH © Tite Kubo. Terinspirasi dari AnoHana.
Peringatan: AU, OOC, penggunaan bahasa gaul pada sudut pandang orang pertama. Galau detected.
Catatan: "..." = dialog biasa.
[...] = dialog dari 'bukan manusia'.
— Ano hi Mita Keitai no Namae wo Boku-tachi wa Mada Shiranai —
— (Kita Masih Belum Tahu Nama Ponsel yang Kita Lihat Waktu Itu) —
— Episode #02: Eksistensi Arwah Musim Dingin —
"Toushiro?" panggil gue nggak percaya dengan apa yang gue lihat. Gue mengucek mata gue berkali-kali menggunakan tangan, tapi sosok pemuda berambut putih itu nggak menghilang dari sana.
Jadi itu... Nyata? Atau cuma perbuatan orang iseng yang memakai hologram?
Gue berjalan ke arahnya dengan langkah pelan, kemudian menyentuh pipinya dengan tangan gue yang tidak terbungkus apapun. Toushiro langsung nyingkirin tangan gue.
"Dingin! Ngapain, sih?" ujarnya dengan pandangan sinis.
Gue kemudian langsung memeluk sosok di depan gue dengan eratnya. Mengubur wajah gue di pundaknya yang lebih pendek dari gue. Meskipun agak repot, gue merasa nyaman disana.
"R-Rukia! Elo kenapa?!"
"Gue terlalu seneng ngeliat elo hidup lagi."
"Apa yang elo maksud dengan 'hidup' lagi? Lagian, gue kapan mati? Terus, kenapa tinggi elo beda dengan yang seharusnya?"
Gue terdiam sebentar, kemudian melepaskan pelukan gue. Gue lalu mulai bicara, "T-tapi, 'kan—"
"Ah, tunggu sebentar," potong Toushiro. Dia memasukkan tangan kanannya ke dalam kantong celana piyama putihnya. Mengambil sebuah... Ponsel? Itu adalah ponselnya dulu.
Toushiro menggerakkan jari-jarinya di atas layar, kemudian menunjukkan layar HPnya kepada gue.
"Rukia, gue seneng elo ngucapin gue ulangtahun. Tapi, umur gue tahun ini baru 15 tahun, tauk. 18 tahun darimananya?"
Gue terdiam sebentar, kemudian mengambil ponsel gue yang ada di kantong celana. Menghidupkannya, kemudian melihat ke pojok dari layar ponsel. Tanda pesan tidak terkirimnya...
Hilang.
T-tunggu dulu, jadi maksudnya, bersamaan dengan munculnya 'Toushiro' di hadapan gue, nomor HP dan HPnya yang seharusnya sudah entah dimana, aktif dan berada lagi di tangannya? Juga, apa maksudnya umurnya 15 tahun?
"Toushiro, elo tahu tahun berapa ini?"
Toushiro menatap gue dengan pandangan bingung. "Hah? Maksud lo apaan? Ini jelas-jelas tahun 2016."
"Toushiro... Elo... Hilang ingatan?"
"Nggak! Gue inget semuanya! Gue inget nama gue sendiri, dimana rumah gue, nama elo, nama anggota-anggota klub kita, bahkan gue inget sama Yukio yang ngincer folder #KoleksiDewa gue!"
Gue menatapnya dengan pandangan nanar. "Toushiro—"
Gue membuat jeda sesaat. Menarik nafas, kemudian mengatakannya dengan nada yang sedikit berirama getir,
"— Klub WIFI sudah bubar sejak kita lulus dari SMA."
"Bohong," bantah Toushiro dengan cepat. Dia menatap tangannya sendiri dengan pandangan terkejut. Kedua bola matanya membesar, seolah tidak mau mempercayai apa yang baru saja dia dengar.
"—gue, elo, dan Ulquiorra masih kelas 10. Ishida masih kelas 11, dan meskipun Hirako udah kelas 12, tapi harusnya masih ada enam bulan lagi sebelum dia lulus... Lagipula, bukankah seharusnya sekarang masih bulan juli? Rasanya baru kemarin kita jadi bintang iklan Pop Mie—"
"— Kenapa salju turun? Pemanasan global, kah? Garis Khatulistiwa yang bergeser, kah? Atau Indonesia yang bergerak keluar dari garis Khatulistiwa? Kenapa gue ulangtahun? Bukannya ulangtahun gue pas desember?"
Pertanyaan-pertanyaan terus meluncur dari mulut Toushiro. Wajahnya terlihat kesakitan. Dia memegangi kepalanya. Gue menatapnya dengan pandangan nanar, nggak berani menyela setiap pertanyaannya.
Toushiro terdiam sebentar. Karena gue merasa pertanyaannya sudah habis, maka gue memutuskan untuk menjelaskannya—
Toushiro menoleh ke batu nisannya. "—Kenapa ada nama gue di batu nisan itu?"
Tubuhnya kemudian jatuh dengan perlahan menghantam dinginnya salju. Gue berlari ke arahnya. Gue meneriakkan namanya sambil mengangkat tubuhnya, menyandarkan kepalanya di atas paha gue.
—Kenapa gue nggak merasakan berat apapun? Kenapa di paha gue rasanya nggak ada beban?
— Toushiro, sebenarnya... Elo itu apa?
[Pukul 18.30 WIB — Kos Putri Karakuraity]
Gue membaringkan tubuhnya di atas ranjang gue dengan mudahnya. Rasanya sama seperti melemparkan boneka.
Hal pertama yang gue sadari, Toushiro sudah tidak lagi memiliki massa. Gue memang dapat merasakan sensasi lembutnya kulit atau kerasnya tulang saat menyentuhnya, tapi gue nyaris nggak merasakan apapun saat menggendongnya di pundak gue selama perjalanan kesini tadi.
Kedua, cuma gue yang bisa melihat Toushiro. Karena selama perjalanan kesini, nggak ada satu orangpun yang protes (atau setidaknya menoleh) ketika melihat gue menggendong Toushiro.
Ketiga, 'Toushiro' yang ada disini... Bukanlah 'manusia'. Mungkin ini adalah arwahnya, atau semacam itu.
Mungkin, arwah Toushiro merasa terganggu karena gue nggak bisa merelakan kepergiannya. Itu satu-satunya alasan yang masuk akal tentang keberadaan Toushiro disini.
Ini... Salah, 'kan? Alam Toushiro harusnya bukan disini lagi. Tapi gue malah membuatnya dikembalikan kesini.
Jadi... Lagi-lagi, gue merampas kehidupan elo. Setelah gue membuat elo 'pergi' ke dunia lain, gue malah membuat elo datang lagi ke dunia sini.
Gue... Menyedihkan.
Gue berjalan dengan lesu ke dalam kamar mandi. Gue sama sekali nggak berniat buat mandi hari ini, jadi gue cuma mencuci wajah gue di wastafel. Mengambil handuk yang bertengger di dekat sana, kemudian mengelap wajah dan rambut gue.
Gue kemudian menatap ke arah cermin yang ada di atas wastafel tersebut. Menatap wajah gue yang berantakan dengan mata sembab yang memerah. Gue menatap bayangan gue dalam diam. Tetapi, bayangan gue di cermin itu menggaruk-garuk kepalanya.
"A-aa—"
Apa itu? Kenapa bayangan gue nggak bergerak sesuai gerakan gue?
Bayangan gue di cermin itu perlahan mulai berubah. Rambutnya mulai memutih dari puncak. Matanya memerah, dan bayangan jaket hitam yang gue pakai berubah menjadi putih polos.
Gue mundur dua langkah. Tanpa sadar, gue ingin berteriak—
[Jangan berteriak.]
Sosok diri gue dalam balutan serba putih yang ada di dalam cermin itu menggerakkan bibirnya, mengeluarkan suara perempuan yang dalam. Gue menutup mulut gue nggak percaya, kemudian mundur beberapa langkah.
"K-kau itu apa?" tanya gue memberanikan diri. Keringat dingin sudah meluncur deras dari pelipis gue. Menatap matanya yang merah menyala yang setengah terbuka.
[Aku? Bagaimana menjelaskannya, ya... Aku adalah makhluk yang diciptakan oleh Yang di Atas untuk menggoda dan manguji manusia. Mungkin di dunia manusia disebut sebagai... Iblis?]
"J-jangan-jangan kau yang membuat Toushiro hidup lagi?"
[Tidak, bukan begitu.]
"Apa maksudmu?"
[Baiklah, akan kujelaskan secara panjang lebar. Lebih baik kau siapkan telingamu untuk mendengarkan.]
Sosok bayangan gue di cermin itu mengangkat kepalanya yang tertunduk, menampakkan wajah putih pucatnya. Bibir pucatnya bergerak pelan, mengeluarkan kata-kata penjelasan.
[Hitsugaya Toushiro, seperti yang kau tahu, telah meninggalkan dunia pada tanggal 13 Juni 2019. Tapi, dikarenakan beberapa orang yang masih menjadi 'sangkutan'nya di dunia, maka dia ditempatkan di sebuah tempat yang disebut 'Padang Penantian'.]
"Padang Penantian?"
[Ah, kau tidak perlu khawatir. Tempat itu hanyalah sebuah padang es yang sangat dingin, dimana kau tidak akan bisa mati disana. Tapi seiring dengan direlakannya kepergianmu, maka tempat tersebut akan menjadi hangat.]
Gue diam tanda mengerti. Dia kemudian kembali melanjutkan penjelasannya.
[Setelah enam bulan Hitsugaya Toushiro disana, keadaan disana menjadi lumayan hangat. Kami bahkan sudah memutuskan untuk memindahkannya ke tempat yang seharusnya. Tapi, hari ini, tiba-tiba 'Padang Penantian' mencapai tingkat paling dingin yang pernah dicapainya.]
Maksudnya—
[—Ya. Tepat seperti yang ada di kepalamu sekarang. Itu adalah salahmu. Karena perasaan 'tidak rela' yang sangat berlebih, maka Yang Di Atas menyuruhku, salah satu 'iblis'nya, untuk menguji kalian.]
"Ujian? Apa yang harus diuji?! Kenapa kau tidak bisa membiarkan Toushiro langsung saja pergi ke tempat dimana seharusnya dia berada?!"
[Pertama, aku harus menanyakan tentang keinginan hati Hitsugaya Toushiro, apakah dia masih ingin berada di dunia atau tidak. Jika iya, maka aku disuruh untuk mengembalikan ingatannya ke saat bulan Juli 2016, dan menghapus ingatannya bahwa dia sudah mati. Jika tidak, maka dia harus menunggu keadaan di 'Padang Penantian' menjadi hangat kembali.]
"Kalau Toushiro ada disini, itu berarti—"
[—Tepat sekali. Itu karena dia menginginkannya. Ujian individual untuk Hitsugaya Toushiro sudah selesai, dan ujian untuk kalian, orang-orang terdekatnya baru akan dimulai.]
Gue terdiam. Menunggu dai melanjutkan kata-katanya.
[Ujiannya adalah: menemukan alasan kenapa Hitsugaya Toushiro ingin tetap tinggal di dunia manusia, dan melaksanakan keinginan terakhir Hitsugaya Toushiro sebelum kematiannya yang belum sempat diucapkannya.]
"T-tunggu dulu! Bagaimana bisa gue dan yang lain melaksanakan keinginan terakhir Toushiro, jika ingatannya sendiri adalah ingatannya saat tahun 2016?!"
[Temukan kuncinya.]
"Apa yang kau maksud dengan kunci?!"
[Tidak dapat kusebutkan.]
"Kalau begitu, beritahu gue, apa yang bakal gue dan yang lain dapatkan kalau berhasil menyelesaikan ujian itu?"
[Kau akan tahu begitu selesai.]
Sebelum sempat gue menanyakan pertanyaan yang lain, sosok putih di dalam cermin itu sudah berubah kembali menjadi bayangan gue yang asli. Gue mencoba melambaikan tangan. Bayangan gue mengikuti.
Jadi... Gue yang dulu hanya berurusan dengan gadget-gadget, sekarang harus berurusan dengan arwah dan iblis? Rasanya aneh sekali. Tapi...
Mau tidak mau, itulah kenyataannya.
[Pukul 21.00 WIB — Masih di Kamar Rukia di Kos Putri Karakuraity]
"Oi, Rukia."
Gue menoleh dari buku pelajaran yang gue baca. Toushiro sudah bangun dari sekitar jam delapan tadi, tapi setelah itu yang dilakukannya hanya melamun di atas kasur gue aja.
"Apa?"
"Kita dimana? Perasaan gue, ini bukan kamar elo, deh."
"Emang bukan."
"Jadi?"
"Kos-kosan. Karena jarak dari rumah gue yang di samping rumah elo itu jaraknya kelewat jauh dari kampus gue, makanya gue ngekos disini," jawab gue sambil ngebaca buku gue lagi.
Ah, ngomong-ngomong, gue baca buku bukan karena gue rajin. Tapi karena gue nggak tahu mau masang muka apa di depan Toushiro.
"Kos-kosan? Kampus? Bukannya kita masih kelas sepuluh, ya?"
"Toushiro, dengerin gue baek-baek. Jangan ngebantah. Ini udah tahun 2019. Kepala elo aja yang isinya masih tahun 2016."
"Elo ngibul, ih."
"Elo liat batu nisan yang ada nama elo tadi? Itu kuburan elo."
"Jadi maksud elo... Gue udah mati?" tanyanya dengan tatapan wajah kosong. Gue mengintip dari ujung mata gue. Karena nggak mau ngebuatnya tambah stres, gue coba buat ngelawak dikit.
"Ya gitu, deh. Tee-hee."
"Kalo sekarang udah tahun 2019, dan ingatan gue adalah ingatan di tahun 2016, apa aja yang udah gue lupain?" Toushiro nanya lagi tanpa menjawab pertanyaan gue yang sebelumnya. Oke, kayaknya setelah mati, ini anak sekarang punya bakat nyuekin orang.
Gue menjawab dengan wajah muram. "Banyak, sih. Ulquiorra udah balik ke Spanyol, Ishida dan Hirako yang sekarang udah agak ngejauhin gue, Karin yang sekarang udah jadi anggota klub basket di SMA kita dulu, Ibu Rangiku kawin sama Pak Ichimaru, terus, yang paling penting..."
"Apa?"
"Bokap lo kawin lagi. Terus elo punya kakak angkat."
"Oh. Nyokap gue yang baru cantik nggak?"
"Ngomong-ngomong, elo juga ngomong gitu ke Bokap elo dulu pas Bokap elo bilang mau kimpoi lagi."
"Ah. Ternyata diriku beberapa tahun ke depan benar-benar mengatakan apa yang gue pengen gue katakan dulu kalo semisalnya Bokap gue kawin lagi."
"Bohong. Jadi elo udah ngerencanain buat bilang 'Nyokap yang baru cantik, nggak?' ke Bokap elo? Sejak kapan?"
"Sejak Bokap dan Nyokap gue yang asli cerai."
Entah kenapa, suasana sekarang menjadi berbau nggak enak. Toushiro diam terus setelah bilang begitu, sedangkan gue masih pura-pura baca buku pelajaran.
Sepuluh menit berlalu, keadaan masih tetap sama.
Setelah gue pikir-pikir... Mending coba gue tanyain hal yang dibilang sama si 'iblis' tadi.
"Toushiro, kenapa elo pengen hidup lagi?"
"Hidup lagi apaan? Mati aja belum."
"Tadi 'kan udah gue bilang, bahkan elo juga udah denger tadi kalo elo itu udah mati."
"Ah, iya. Lupa."
"Jadi?"
"Wakaranai, desu~"
"Toushiro, plis, deh. Jangan ngomong pake bahasa Jepang, kenapa? Gue nggak ngerti."
Bahkan setelah matipun, dia masih mencintai Jepang sampe segitunya.
"Gue nggak tahu. Kayak yang elo bilang tadi, ingatan gue cuma sampe tahun 2016. Tepatnya cuma sampe saat gue ditembak seorang cewek cantik buat jadi adeknya, dan elo tiba-tiba ngelempar gue pake tas. Terus kita kejer-kejeran, gue sembunyi di bawah meja bareng Ishida. Lalu... Elo nanya ke Ulquiorra dimana gue—"
Sampai disitu, suara Toushiro sudah sedikit bernada parau.
"—Ulquiorra nunjuk ke bawah meja. Terus gue nyumpahin Ulquiorra pengkhianat dari dalam hati. Lalu, Ishida nyerahin gue ke elo. Ah, gue juga inget, saat itu elo nampar Ishida pake tabletnya—"
Oke. Toushiro cuma cerita biasa. Sama sekali nggak ada unsur kesedihan yang ada disana. Tapi kenapa... Airmata mulai netes dari mata gue?
"Saat itu juga, Ibu Rangiku masuk saat gue dan Hirako nonton anime Highschool DxD New episode 2 bareng-bareng."
Gue tertawa. Toushiro juga tertawa. Padahal di mata gue ada sedikit airmata yang menggenang. Padahal Toushiro menutupi matanya dengan tangannya. Tapi kami tertawa.
Itu bukanlah sesuatu yang pantas ditertawakan, ataupun ditangisi. Itu hanyalah nostalgia tiga tahun ke belakang bagi gue, dan mengingat kemarin bagi Toushiro.
Tapi kenapa... Kami tertawa sambil menangis?
"Rukia, bagi selimut kenapa?" sewot Toushiro dari belakang punggung gue, sambil narik-narik selimut yang sedang menutupi tubuh gue.
Oke, ehm. Gimana ngejelasinnya, ya. Tapi intinya, gue dan Toushiro sekarang mau tidur, dan karena keadaan yang terpaksa... Seranjang. Toushiro yang punya jiwa nijikon dan nggak tertarik sama perempuan asli (di mata gue) jelas bertingkah biasa aja.
Masalahnya, gue. Sekarang, coba gue tanya, gimana perasaan elo jika elo dulu pernah suka sama seseorang, dan setelah elo mikir 'udah, deh, kayaknya temenan lebih enak daripada pacaran', si orang yang elo sukai itu malah tidur di samping elo?
Enam huruf, tiga huruf yang sama, dan dua kata.
Deg deg.
Parahnya lagi, kasur gue itu cuma kasur kecil yang harusnya cuma muat buat satu orang. Bantalnya satu, dan gulingnya juga satu. Tentu aja, gulingnya gue yang meluk.
"Iya, iya. Pake sesuka hati," ujar gue males sambil ngebiarin dia narik selimut gue.
Gue mejem. Nggak ngurusin lagi apa yang dilakuinnya di balik punggung gue.
Gue merasa rambut gue dipegang-pegang dari belakang. Kemudian, gue mendengar suara Toushiro, "Rukia, rambut elo wangi."
"Jangan dicium," sewot gue sambil tetep mejem.
"Rukia, sekarang umur elo 18 tahun, 'kan?" tanyanya lagi. Ini anak nggak bisa tidur atau gimana, sih?
"Ho'oh. Emang kenapa?"
"Dada elo tambah besar, nggak?"
Gue balik badan. Ngadep ke arahnya yang juga lagi ngadep ke arah gue. Dia masih dengan piyama putih polosnya tadi siang. Karena kasur yang sempit, wajah gue sama dia cuma terpisah beberapa senti.
Di saat Toushiro mejem—dikiranya mau cipokan kali, gue langsung mencolok lubang hidungnya, kemudian melepaskannya.
"Rukia, elo nyaris membuat lubang hidung gue melar."
"Itu salah elo sendiri karena mengatakan sesuatu yang mesum. Udah, tidur sana."
"Gue cowok, elo cewek. Tidur seranjang. Kenapa kita nggak melakukan sesuatu?"
"Maaf, gue nggak tertarik sama orang yang udah mati."
"Sindiranmu menusuk sekali."
Toushiro dan gue terdiam untuk beberapa saat. Gue dapat merasakan tatapan matanya yang memperhatikan wajah gue dari jarak sedekat itu. Sedangkan gue hanya pura-pura melihat ke arah lain.
"Oi, Rukia..."
"Apa lagi?"
"Gue... beneran udah mati?" tanyanya dengan wajah sedih. Gue menghela nafas. Sepertinya memang terlalu sulit untuk menerima kenyataan kalau kau sudah mati, padahal yang kau tidak merasakan apa-apa.
Gue mengangguk pelan. "Iya... Elo udah mati."
"Jadi... Gue ini... Cuma arwah?"
"Iya."
"Arwah itu... Nggak kelihatan, 'kan?"
"Iya."
"Lalu... Ini kos putri, 'kan? Berarti penghuninya cewek semua?"
"Iya."
"Berarti gue bisa ngintip, dong," jawabnya dengan wajah seolah itu bukan apa-apa. Gue reflek menendang kakinya dengan kaki gue. Dia cuma cengar-cengir, "bercanda, bercanda."
Gue menghela nafas sekali lagi. Sedangkan dia memperhatikan gue menghela nafas. Gue yang mulai merasa risih diperhatikan mulu akhirnya nanya, "Apa?"
"Elo bilang tadi, Ishida dan Hirako ngejauhin elo, 'kan?" gue mengangguk menjawab pertanyaannya. Toushiro kemudian bertanya sekali lagi, "Kenapa mereka ngejauhin elo?"
"Karena gue adalah penyebab kematian elo."
"Eh?"
"Waktu itu, gue baru selesai belajar naik motor. Karena pengen nyombongin, gue ngajak elo duduk di boncengan gue. Karena elo kelewat ketakutan, elo ngajakin gue ngomong mulu pas gue lagi nyetir. Tanpa sadar, di depan gue udah ada mobil... dan... Terjadilah."
Toushiro diam sebentar, kemudian mengangguk. Dia kemudian berkata sekali lagi,
"Apa gue bisa ngelihatin elo dari atas sana, ya?"
"Itu pertanyaan yang harusnya gue tanyain ke elo, tauk."
"Tadi, elo sempet tanya kenapa gue pengen balik ke dunia manusia, 'kan?" Toushiro memberi jedak sejenak, kemudian melanjutkan kalimatnya. "Gue rasa gue tahu apa alasannya."
Gue diam menunggu jawaban.
"Gue... Pengen kita semua berkumpul lagi seperti sediakala."
~ Bersambung ~
Catatan Penulis:
Halo, Kira Kazuki disini. Setelah melawan kemalesan, akhirnya saya berhasil membuat chapter kedua. Mungkin, menurut kalian, ada kejanggalan disana-sini, ya?
Seperti, Bokap Toushiro—Hitsuto, OC saya—yang kawin lagi, dan Toushiro punya kakak angkat. Itu adalah spoiler untuk Para Pencuri Wifi S2 kelak. Begitu juga dengan pernikahan Rangiku dan Ichimaru, kenapa Karin nggak gabung ke klub WIFI. Nantikan saja. Stay tune on Kira Kazuki Channel. Btw, stay tune artinya apaan, ya?
Makasih banyak buat yang udah ngefap—maksud saya, ngefav dan ngefollow. 8 orang favers di chapter pertama itu sebuah kejaiban untuk saya. Mana jumlahnya sama dengan jumlah ripiu lagi. ^^
Oke, mulai dari sini, genre supernaturalnya mulai menampakkan diri. Bagi yang nebak kalo 'Toushiro hitam' yang muncul di bagian paling atas sama dengan 'Rukia putih' yang muncul di tengah cerita adalah makhluk yang sama, maka jawabannya benar. Anggap saja dia sebagai makhluk-tanpa-nama-dan-wujud.
Dan, saya nggak akan menyebutkan sesuatu kayak nama Tuhan, nama tempat di 'akhirat', ataupun nama malaikat dan iblis disini. Karena Indonesia adalah negara yang sensitif terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan SARA. Jadi sebisa mungkin, saya akan 'menyamarkan'nya, atau malah membuat istilah baru.
Akhir kata, sampai jumpa di episode selanjutnya.
Bagaimana pendapat anda tentang chapter ini? Silahkan ceritakan di kotak review.
Tertanda, manusia setengah jadi,
Kira Kazuki.
