Fate Stay Night Fanfiction

Genre : Fantasy/Romance/Tragedy


Fate Stay Night isn't mine. But this fanfic belong to me.

Hajimemashite ^_^

Semoga Anda sudi untuk sekedar melihat apalagi membaca lagi fanfic yang saya buat ini.

...Happy Reading...


"THE BEGINNING OF FATE"

...

...

Chapter 1.5 : "Pengakuan"

...

...

Dada Arturia mulai sesak. Paru-parunya melemah. Darahnya hampir membeku. Detak pada jantungnya juga melemah karena kekurangan suplai oksigen. Intinya, Arturia sedang diambang batas kematian. Beberapa saat lalu, ia masih berusaha menahan tekanan air untuk mencari Gilgamesh. Ia bahkan tidak sadar akan dirinya yang tidak bisa berenang. Keberanian dan perasaannya, membuat ia bertahan. Walau semua itu tidak berlangsung lama.

Dimana ini?

Arturia!

Tempat ini begitu sepi!

Arturia, kumohon!

Aku rasa, aku mengenal suara itu…

Arturia!

Arturia membuka kelopak matanya, menampilkan iris hijau nan teduh. Dilihatnya iris merah Gilgamesh yang sedang menatapnya cemas. Dengan cepat ia bangkit dari posisi tidurnya lalu memeluk Gilgamesh. Dengan keduatangannya yang melingkari leher pemuda itu. Gilgamesh awalnya terkejut dengan tingkah Arturia, tapi ia langsung membalas pelukan perempuan itu. Badan Arturia terlihat bergetar ketakutan. Dengan suaranya yang serak Arturia berkata.

"Aku sangat takut, kukira aku tidak bisa bertemu lagi denganmu karena tindakan bodoh yang kulakukan, aku akan mengutuk diriku seumur hidup jika sesuatu terjadi padamu" air matanya turun dengan deras dari pelupuk mata membasahi kedua pipinya.

Gilgamesh membelalak mendengar kata-kata Arturia.

"Arturia?!"Pemuda itu mencoba menenangkan Arturia, tapi perempuan itu terus berbicara tanpa henti.

"Bodoh, kenapa kau melakukan tindakan konyol yang membuatku sangat malu sehingga aku kehilangan kendali, aku tidak tahu kenapa setiap kali kau melihatku, setiap kali kau berbicara padaku, setiap kali kita bersentuhan, jantungku, aku-"

Gilgamesh akhirnya membungkam bibir Arturia menggunakan bibirnya. Saat itu pula Arturia berhenti berbicara, matanya terbelalak menatap mata yang kini tengah menutup di depannya. Ia setengah tak percaya atas perlakuan laki-laki itu. Gilgamesh menciumnya. Sangat lembut. Arturia perlahan ikut memejamkan matanya. Menenangkan pikirannya sejenak, dan lebih memilih menyalurkan persaannya melalui ciuman itu. Pemuda itu merengkuh wajah Arturia, membuat perempuan itu menatapnya.

"Maaf... Aku mohon maafkan aku, Yang Mulia.." ucap Arturia kemudian, suaranya sangat pelan. Gilgamesh menghapus air mata itu dari pipi Arturia. Lalu memeluk gadis itu erat.

Dengan menggunakan sihirnya, Gilgamesh mengeluarkan kain handuk berwarna merah untuk menutupi tubuh Arturia yang mana bajunya basah karena terjun tadi. Tak lupa ia pun mengeluarkan satu lagi untuk dirinya yang juga kebasahan.

...

"Sebaiknya kau menginap dulu di sini, hari sudah mulai gelap, akan berbahaya jika kau pulang sekarang" suara Gilgamesh terdengar menggema di lorong istana.

"Tidak apa-apa Yang Mulia, aku akan baik-baik saja" jawab Arturia.

Gilgamesh seketika menghentikan langkahnya. Hal ini membuat Arturia sedikit terkejut.

"Kalau begitu, atas nama Raja Uruk, aku memintamu agar menginap beberapa hari di sini" Laki-laki itu kini menyeringai penuh kemenangan. Arturia jengkel dengan tingkah Raja muda yang berdiri tegap di depannya.

"Eh, kau curang"

"Apa kau akan membantah?"

"Baiklah, aku menerima permintaan itu" jawab Arturia pasrah.

Gilgamesh dan Arturia memasuki istana. Banyak pasang mata yang melempar berbagai macam pandangan penuh tanda tanya, melihat mereka yang basah kuyup. Gilgamesh menyuruh beberapa pelayan perempuan untuk merawat Arturia dengan baik juga menyiapkan tempat istirahat untuk putri Britain itu. Setelah selesai mandi, Arturia disuruh memakai gaun kombinasi abu-putih yang indah pilihan sang raja. Dengan rambut yang digerai, beberapa helaiannya diikat sedikit ke belakang, dihiasi pita berwarna putih, dirinya terlihat sangat cantik juga anggun. Semua orang yang melihatnya akan langsung jatuh dalam pesona yang dimiliki Arturia.

"Tuan Putri, Anda terlihat sangat cantik" sahut salah seorang pelayan.

"Benar kah? A..apa tidak ada baju lain yang lebih sederhana?"

Arturia sangat gugup ketika melihat pantulan dirinya pada cermin. Kejadian di air terjun membuat dirinya merasa tidak sanggup untuk bertemu lagi dengan raja muda itu.

"Ini perintah langsung dari Yang Mulia, bahwa Tuan Putri harus memakai gaun itu"

Arturia dengan penuh wibawa dan keanggunannya sebagai seorang putri, berjalan melewati para penjaga yang sedang bertugas. Mereka menunduk memberi hormat. Tibalah ia di depan pintu yang megah dan cukup besar. Di sana terlihat dua orang pelayan hendak menyuguhkan teh pada sang Raja.

"Apa Yang Mulia ada di dalam?" Tanyanya ragu pada dua orang pelayan yang kini tengah memberi hormat.

"I..Iya Tuan Putri, ini tempat favorit Yang Mulia di sore hari, beliau menyuruh kami untuk menyuguhkan teh sebagai teman untuk membaca buku"

"Emm.. kalau begitu biar aku yang berikan pada Yang Mulia"

"Ba..baik!" jawab mereka serempak.

Sambil mendorong roda berwarna perak, dengan teko berisi teh, dua cangkir kosong, juga secangkir penuh gula, dengan pelan Arturia memasuki ruangan bersama perasaannya yang tak menentu. Ia memberanikan diri untuk menemui Gilgamesh. Sepertinya ada hal yang harus ia pastikan.

"Permisi, Yang Mulia" suaranya yang merdu memenuhi ruangan yang penuh dengan rak-rak berisi buku.

Gilgamesh yang fokus membaca buku, spontan menengadahkan wajahnya.

"Arturia?!"

"Teh nya Yang Mulia?"

Arturia menata teko dan cangkir-cangkir sedemikian rupa di atas meja. Tangan-tangannya bergerak dengan lihai. Benar-benar seorang putri dari Kerajaan ternama. Iris merah itu tak bosan-bosannya memperhatikan setiap gerak-gerik yang di lakukan perempuan di depannya.

"Sudah kuduga, kau akan terlihat sangat cantik memakai gaun itu"

Seketika Arturia menghentikan gerakannya.

"Terimakasih" jawabnya. Dengan susah payah dirinya menyembunyikan rasa gugup yang muncul.

"Jadi, hobi Yang Mulia adalah membaca buku, sungguh jauh dari apa yang aku bayangkan"

Sambil menyediakan teh, Arturia tersenyum meremehkan.

"He~ sekarang kau berusaha untuk lebih mengenalku"

Sindir Gilgamesh tak mau kalah. Arturia terdiam, merasa mengingat sesuatu yang penting.

"Yang Mulia, apa aku mengganggumu?"

"Tentu saja tidak, aku senang kau datang, kukira kau sudah beristirahat"

Laki-laki itu kini berdiri lalu berjalan sambil membawa secangkir teh bersamanya. Ia duduk di kursi panjang dekat jendela yang sangat besar, menampilkan pemandangan kota yang indah. Dengan tenang, Gilgamesh menyesap aroma teh itu lalu meminumnya. Arturia mengikutinya, ia duduk di sudut kursi sebelah kanan menyisakan jarak di antara mereka berdua. Tiba-tiba wajahnya bersemu ketika ia kembali mengingat kejadian di air terjun tadi. Gilgamesh pun memecah suasana canggung yang meliputi keduanya.

"Aku dengar banyak Raja yang ingin melamarmu, tetapi kau menolak mereka semua"

Arturia yang sedang menikmati pemandangan melalui jendela kini menoleh pada Gilgamesh ketika suara laki-laki itu merambat melalui udara menggetarkan gendang telinga miliknya.

"Waktu itu aku berpikir lebih baik hidup sendiri, aku tidak mempunyai ketertarikan soal mencintai pasangan hidup" jawab Arturia kemudian. Kepalanya menunduk, matanya seperti menerawang masa lalu.

"Kau tahu, jika kau menerima salah satu dari mereka, aku akan turun tangan memerangi orang itu"

"Memerangi mereka?"

"Arturia, apa kau mencintai seseorang?" Gilgamesh tidak menanggapi pertanyaan Arturia, kini ia malah balik melempar sebuah pertanyaan.

Arturia terdiam, iris merah itu kini menatapnya begitu dalam. Sebenarnya seberapa penting kah dirinya bagi raja yang kini berada di hadapannya. Perempuan itu mulai membuka suara akan masa lalu.

"Aku mempunyai seseorang yang sangat aku kagumi, namanya Lancelot, dia seorang panglima utama kerajaan, dia orang yang cerdas, kuat, dan pemberani, tapi dia sudah meninggal sebagai seorang pahlawan Kerajaan Britain"

...

Lancelot dengan luka di sekujur tubuhnya memasuki hutan yang bahkan tak dikenalinya. Pasukannya sudah habis, tinggal ia seorang diri. Bukan maksud menjadi seorang pengecut. Tapi musuh begitu banyak, ia juga tak mau menjadi makanan para buaya lapar itu. Kesadarannya perlahan mulai menghilang.

Tuan!

Tuan!

Dia merasa mendengar suara seseorang memanggilnya. Suara perempuan yang begitu indah. Apakah dia seorang bidadari yang dikirimkan Tuhan untuk menolongnya. Entahlah, ia berdoa bahwa perempuan itu bukanlah nenek sihir yang dikirimkan sekutu musuh untuk merenggut nyawanya.

"Syukurlah, Anda sudah siuman" ucap perempuan dengan rabut panjang agak bergelombang.

Dengan jelas ia bisa melihat cahaya yang keluar dari tangan perempuan itu menempel di kepalanya. Rasanya begitu hangat dan menenangkan.

"Untunglah mana ku cukup untuk mengobati Anda, walaupun belum sepenuhnya sembuh" perempuan itu tersenyum.

"Te..terimakasih" ucap Lancelot ragu.

"Ini sudah kewajiban seorang manusia untuk saling tolong menolong" terdengar dari kata-katanya, perempuan itu sangatlah berpendidikan.

"Aku Guinevere" perempuan itu mengulurkan tangannya. Wajah riang dan senyum manis tak pernah luput dari wajahnya.

"Aku Lancelot"

Sejak saat itu mereka menjalin sebuah hubungan dari pertemanan yang terus tumbuh menjadi kasih sayang juga cinta. Tanpa mengetahui identitas satu sama lain. Mereka tinggal di gubuk yang kecil, tapi penuh dengan canda tawa dan kebahagiaan di dalamnya.

"Besok aku akan pulang dulu untuk melihat ibuku, aku berjanji akan menemuimu lagi, nanti aku pasti akan membawamu bersamaku kemana pun aku pergi"

Lancelot mengelus-elus rambut Guinevere yang berada dalam dekapannya.

"Aku akan sangat menantikan dimana hari itu tiba"

Dua hari menelusuri hutan dan desa, Lancelot akhirnya sampai di Kerajaan Britain. Tempat dimana ia mengabdi sebagai seorang panglima utama langsung di bawah perintah Raja Arthur Pendragon.

"Lancelot" seorang gadis berumur tujuh tahun berlari langsung memeluknya.

"Tuan Putri"

"Arturia, jaga sikapmu!" suara seseorang datang dari belakang mereka.

"Baik ayah"

Arturia langsung turun dari gendongan Lancelot yang langsung menunduk memberi hormat.

"Raja Arthur!" ucapnya.

"Selamat datang kembali Lancelot, aku sangat menghawatirkan keadaanmu" ucap sang Raja.

"Terimakasih Yang Mulia"

"Ayah boleh aku bermain dengan Lancelot" ucap Arturia sambil menarik-narik jubah ayahnya yang merupakan Raja Kerajaan Britain.

"Tetapi Lancelot baru saja sampai sayang"

"Tidak apa-apa Yang Mulia" Lancelot tidak keberatan untuk mengajak putri kecil, Arturia, bermain dengannya.

Arturia merasa nyaman jika Lancelot bersamanya. Lancelot mengajarinya banyak hal, mulai teknik bermain pedang, taktik berperang, dan yang lainnya. Jika ada Lancelot, ia bisa bebas dari pelajaran keputriannya. Lancelot juga bercerita tentang seorang bidadari yang ia temui di tengah hutan, dan ia sangat mencintai bidadari itu.

"Jadi Lancelot lebih memilih bidadari itu dibanding Arturia?" ucap putri kecil itu cemburu, dia terlihat sangat menggemaskan.

"Suatu saat, Tuan Putri juga akan menemukan seseorang yang Tuan Putri cintai lebih dari siapa pun dan hidup bahagia bersamanya"

Beberapa bulan kemudian Lancelot akhirnya meutuskan untuk membawa Guinevere bersamanya ke istana. Di perjalanan, ia sudah tidak sabar melihat reaksi Guinevere yang akan merasa senang, pikirnya. Akhirnya ia sampai di sebuah gubuk kecil.

"Guinevere" panggilnya.

"Lancelot" mata perempuan itu berkaca-kaca menyiratkan rasa rindu yang mendalam.

Lancelot langsung memeluk Guinevere dan mencium bibirnya lembut. Menyalurkan perasaan rindu mereka masing-masing.

"Ikutlah bersamaku" ajak Lancelot.

Dengan senang hati Guinevere menerima ajakan kekasihnya itu. Mereka menunggangi kuda. Menyusuri hutan dan desa. Sebuah kastil megah sudah terlihat dari kejauhan. Akhirnya mereka sampai di kota, berjalan di tengah –tengah ramainya penduduk. Guinevere dengan perasaan senang menggenggam tangan Lancelot sambil bersenandung melihat keadaan kota yang begitu ramai. Tiba-tiba saja matanya membelalak tak percaya melihat bendera yang berkibar di istana. Lagunya tak lagi terdengar. Tangannya dengan paksa ia lepaskan dari genggaman Lancelot.

"Tidak, ini tidak mungkin"

"Ada apa Guinevere?" Lancelot memandangnya heran.

"Lancelot, kau penduduk kerajaan Britain?"

Lancelot mengira, Guinevere tidak percaya dengan dirinya yang hidup di salah satu Kerajaan Ternama di negeri ini. Maka dengan bangga ia mengatakan.

"Bukan penduduk, aku panglima utama Kerajaan Britain"

"Apa?" Guinevere sangat terkejut bukan main.

"Kita tidak bisa bersatu Lancelot, aku tak bisa hidup bersamamu, aku harus pergi"

Guinevere hendak pergi tapi pergelangan tangannya dengan cepat ditangkap oleh Lancelot.

"Kenapa? Tolong jelaskan padaku!"

"Aku adalah putri dari kerajaan yang merupakan musuh Kerajaan Britain,aku lari dari istana" jelas Guinevere.

"Apa? Mungkinkah?"

"Benar, maka dari itu, aku harus pergi dari sini"

Guinevere berlari di antara keramaian kota membuat Lancelot kehilangan jejaknya.

Seminggu berlalu. Kini Lancelot berdiri dengan gagah di atas kereta kuda perang. Lawannya adalah Kerajaan dimana perempuan yang ia cintai menjabat sebagai putri di sana. Tapi sekarang ia harus memenangkan perang ini demi Kerajaan Britain dan mengesampingkan masalah hatinya. Pertarungan sudah sampai pada puncaknya. Kemenangan condong pada Kerajaan Britain yang dipimpin Lancelot. Lancelot kini berhadapan langsung dengan Raja musuh yang merupakan ayah dari kekasihnya.

"Yang Mulia, sebelum kita beradu pedang, ada sesuatu yang harus kukatakan pada Anda" sahut Lancelot.

"Apa itu panglima Lancelot, karena sebentar lagi, hidupmu akan berakhir"

"Aku dan Tuan Putri Guinevere saling mencintai, aku mohon restu dari Anda" dengan penuh keberanian Lancelot mengungkap perasaannya.

"Apa? Sudah jelas aku tidak akan merestui kalian, kecuali jika Kerajaan Britai menyerah pada kami"

Lancelot terdiam, ia berpikir. Kemudian dengan penuh ketegasan ia berkata.

"Tidak! Kerajaan Britain akan menang"

Mereka sama-sama menebaskan pedang mereka. Dan terakhir, pedang mereka sama-sama menusuk pada jantung.Mereka pun meninggal dunia. Tapi karena pasukan Kerajaan Britain masih banyak dan pertahanannya pun kuat,jadi Kerajaan Britainlah yang memenangkan peperangan ini. Kabar itu pun dengan cepat sampai pada Guinevere. Sejak saat itu, ia pergi dari istana dan dari semua orang. Dia tidak pernah kembali. Tidak pula orang menemukan mayatnya.

...

"Sejak saat itu aku memutuskan untuk meneruskan tekadnya, kepentingan rakyat dan kerajaan lebih berharga daripada kebahagiaan kita sendiri, aku mulai bersikap egois demi kerajaan, aku tidak pernah memikirkan sedikit pun tentang pernikahanku apalagi setelah kepergian ayah, saat kecil dulu, aku menganggap bahwa aku menyukai Lancelot, tapi lama-kelamaan aku menyadari bahwa perasaan itu hanya sebatas rasa kagum"

Arturia pun menghela napas. Sorot matanya masih menunjukan kekosongan dari masa lalu. Begitu pula dengan pikirannya saat ini.

"Aku kira aku tidak akan pernah bisa mencintai seseorang, tapi sekarang aku jatuh cinta padamu, Yang Mulia"

Gilgamesh terkejut mendengar penuturan Arturia yang kini tertunduk dengan wajah yang bersemu. Tangan perempuan itu terkepal erat di atas pangkuannya. Gilgamesh dengan cepat menyimpan teh nya. Ia berjalan ke arah Arturia yang tak jauh darinya. Kemudian berlutut di hadapan perempuan itu yang langsung melihat ke arahnya dengan tatapan bingung. Semburat merah tipis masih menghiasi wajah Arturia. Dirinya sangat gugup saat ini. Gilgamesh mengulurkan tangannya lalu berkata.

"Arturia Pendragon, mau kah kau menikah denganku, dan berada di sampingku untuk selamanya?"

Arturia tercengang mendengar perkataan yang berisi lamaran dari raja muda itu.

"Hmm" Iya pun mengangguk dan menerima uluran tangan Gilgamesh. "Dengan senang hati".

Gilgamesh langsung menarik Arturia ke dalam pelukannya. Air mata bahagia perlahan membasahi kedua pipi Arturia.

"Syukurlah, kukira kau membenciku dan mencintai orang lain" ucap Gilgamesh, ia menghela napas lega.

Arturia menggeleng. Lalu melontarkan seuntai kata yang lagi-lagi membuat Gilgamesh terkejut.

"Aku mencintaimu, Gil"

Mereka melonggarkan pelukan mereka. Tangan Gilgamesh perlahan menyusuri pipi Arturia menghapus jejak air mata di sana. Gilgamesh mengecup kening perempuan yang begitu ia sayangi.

"Kau tahu Arturia, pada saat ulang tahunku yang ketujuh, seorang peramal berkata padaku, bahwa aku berjodoh dengan seorang gadis yang akan membawa kebahagiaan dan perubahan, ia berasal dari kerajaan musuh, putri tunggal dari Raja Pendragon, yaitu ArturiaPendragon, itu merupakan takdirku"

Arturia terkejut mendengar penuturan dari Gilgamesh.

"Aku juga mencintaimu, bahkan aku rela mengorbankan semuanya untukmu" lanjut Gilgamesh.

Selama ini Arturia meragukan perasaan laki-laki itu terhadapnya. Dia selalu berpikir alasan apa yang membuat laki-laki itu ingin menikah dengannya. Ternyata, Gilgamesh sudah jauh lebih dulu mencintainya. Matahari yang tenggelam juga menyaksikan pengakuan atas cinta mereka masing-masing.

...

Kini mereka berdua duduk berdampingan di kursi taman setelah makan malam. Disuguhi pemandangan yang tak kalah menakjubkan dari siang tadi. Tangan Gilgamesh menggenggam tangan Arturia, seolah-olah tak akan mau dipisahkan oleh apapun. Angin berhembus menerbangkan helaian rambut mereka.

"Aku juga memiliki kisah yang menyedihkan seperti tadi" sahut Gilgamesh kemudian.

"Apa maksudmu dengan menyedihkan?" Arturia telihat jengkel.

"Dulu Lancer salah satu servant ku, sebelum menjadi servant dia bekerja sebagai pengawal putri bangsawan, diam-diam mereka menjalin hubungan, karena perbedaan status sosial, ayah putri itu tak merestui hubungan mereka, akhirnya Lancer pun diusir, tapi Lancer tak menyerah pada takdirnya, ia datang ke suatu perguruan untuk belajar sihir dan bela diri menggunakan tombak"

"Apa yang terjadi dengan putri bangsawan?" Tanya Arturia kemudian, ia sepertinya tertarik dengan kisah ini.

"Karena frustasi putri itu pun bunuh diri"

Arturia kini yang mendengarkan Gilgamesh bercerita.

"Hal yang sama juga terjadi pada saudaranya, Diarmuid, yang mencintai seorang putri, dia juga tidak ingin menyerah pada takdir, dia yakin cinta yang dimilikinya murni dan Tuhan juga merestui mereka, putri meminta untuk membawanya kabur dari tempat asalnya, tapi di perjalanan, ayahnya datang dan pura-pura memberikan mereka restu, Diarmuid pun mati di tangan ayah kekasihnya sendiri"

"Mengenaskan" sahut Arturia.

"Semua orang memiliki takdir dan kebahagiaannya masing-masing, aku yakin mereka tetap bahagia karena memperjuangkan cinta sejati mereka, Lancelot juga seperti itu, dia akan terus mencintai Guinevere untuk selamanya"

...

~Bersambung~

...


Sekian dulu darisaya. Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan (TYPO), OOC, juga EYD yang jauh dari kata sempurna.

Inspirasidari : Fate Zero dan Fate Stay Night (Unlimited Blade Works) jugabeberapa anime lain.

ArigatouGozaimasu^_^


- Balasan Review -

Untuk Nafalfa :

Saya sangat berterima kasih, Nafalfa-san mau membaca dan mereview fanfic saya. (Saya jadi terharu^^, hiks...)
Sebenarnya karakter di fanfic saya lebih fokus pada Fate/Stay Night : Unlimited Blade Works,
Maaf karena saya tak begitu tau tentang karakter Lancelot dan Guinevere, jadi saya hanya memasukan mereka dalam ingatan masa lalu saja...
Aduh, maaf banget... Gomenasai :'( Sekali lagi terimakasih atas dukungannya...
Hontouni Arigato gozaimasu ^_^