Kalau kau sudah menginjakkan kaki di akademi ini, jangan berani berkata kepada siapa pun kenapa kami sampai hati membunuh sesama manusia.

Kau harus lihat di luar sana, mereka menuntut kami untuk berkuasa atas nyawa. Jadi apa salah kami untuk terpaksa tunduk pada dunia luar?


Afterschool

Second Death Starting

Axis Powers Hetalia dimiliki oleh Hidekazu Himaruya, dan Nusantara Ardiana adalah OC Fem!Indonesia milik Arte Stella. Tidak ada keuntungan material yang didapat dari fanfiction ini.

Peringatan bahwa cerita ini ditulis dalam Dark Gakuen!AU dan mengandung pair berkisar Male x Fem!Indonesia, dan fokus utama berupa UKIndo. Akan ada beberapa karakter Nyotalia, banyak adegan gore dari berbagai kisaran, characters death, selingan lime, dan beberapa pairing pendukung lainnya. Mungkin saja minim dialog dan deskripsi yang mendetail.

Setting dan konsep sedikit terinspirasi dari Tokyo Girls Destruction karya BETTEN Court serta Redox milik Ferra Rii.

Last but not least, enjoy.


"Halo, kamu Nusantara Ardiana, 'kan?"

Esok paginya, disambutlah pendatang baru itu oleh dua orang dengan tipikal ras Kaukasian itu. Wajah ramah dari dua orang yang nampak senantiasa energik itu. "Ya, saya sendiri. Ada apa ya, kalau saya boleh tahu?"

"Kami adalah escort-mu untuk sebulan ke depan." satu lagi, yang mengenakan kacamata rimless dan secuat rambut yang berdiri melawan gravitasi tersebut. Pin SC tersemat dengan manis di kerah lelaki yang bergaya agak serampangan dan sepertinya tidak peduli untuk mengenakan jubah hitam panjang seperti anak-anak lainnya. "Aku Alfred F. Jones, dan ini Tino Väinämoinen. Woah, I didn't expect you to be this pretty, dude!"

Jitakan pun melayang ke kening sang American. Sang Finnish itu pun segera menyalami sang Indonesian yang nampak sedikit malu karena pujian frontal yang barusan. Sepertinya gadis berkulit sawo matang itu tak terbiasa menerima apresiasi atas kecantikannya. "Ma-maafkan kami, Nusantara. Mulut anak ini memang perlu dioperasi, hahaha..."

Nusantara―atau mari kita sebut saja dirinya Tara sejak sekarang―tak mampu menahan tawa kecilnya. Balas ia menyalami lelaki dengan tampang lembut bagaikan seorang ibu tersebut. "Ah, tak masalah. Tapi akan lebih baik lagi kalau kau mau memanggilku Tara saja..." mulailah ia membalasi Tino. "Senang berkenalan dengan kalian, semoga keberadaanku tidak merepotkan kalian."

"No, no, no. Of course not! Mana mungkin kami keberatan dengan keberadaan gadis secantik dirimu, Tara?" sebelah kedipan mata dari Alfred semakin membuat Tara tersipu. "Hmm, setengah jam lagi pukul tiga... Ah, kalau begitu, mari, akan kuajak kau berkeliling ke seluruh akademi ini. Kemarin dua kakek tua itu belum membawamu kemana-mana, 'kan?"

"Ka-kakek tua?"

"Anu... Maksudnya mungkin Arthur dan Francis... Jangan pedulikan istilah tak jelas darinya, oke?" didorongnya gadis itu keluar oleh sang pemuda Finlandia, meninggalkan sang American yang berkomentar tak jelas di belakang mereka sembari mengejar kedua orang yang sudah keluar kelas itu.

World Academy II itu sebuah akademi dengan arsitektur yang begitu menarik. Total tujuh gedung berdiri di atas konstruksi baja yang demikian kuat, anti-karat, dan tahan akan kebanyakan situasi. Begitu lucu, karena kalau pernah kau menonton Harry Potter, salah satu serial film legendaris awal abad 21 itu, kurang lebih begitulah. Kastil yang begitu klasik, seolah kita dibawa kembali ke peradaban penuh sejarah milik bangsa Anglo-Saxon yang saat ini tengah terancam keberadaannya.

Bagi Tara, segala pemandangan yang sangat berbeda dengan apa yang ia lihat di tanah kelahirannya itu begitu menarik. Sungguh sayang karena kalau gedung ini adalah imitasi dari apa yang dulunya berdiri di sepanjang Inggris, Skotlandia, Wales, bahkan Ireland dan beberapa kawanan yang tergabung dari negara yang telah punah, "United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland", pastilah aslinya akan jauh lebih hebat! Ia sering melihat foto-foto dari perpustakaan nasionalnya, betapa indah pemandangan di sana, sampai seolah ia ditarik kembali ke masa kejayaan dari masing-masing kastil itu.

"Oh ya, Tara, ada seni bela diri atau setidaknya, teknik senjata yang kau benar-benar tekuni, 'kan?" pertanyaan itu berhasil membuyarkan khayalnya, kembali berhadapan dengan sang escort asal Finlandia.

Tara pun merasa kebingungan. Bela diri? Uh, fisiknya tak begitu mendukung untuk urusan semacam itu. Bahkan tubuhnya yang boleh dikata proporsional secara berat badan ini hanya bisa mendukung sampai maksimal untuk kayang dan double-split. "U-uh, tak terlalu... Memangnya kenapa―?"

Dan berbunyilah paduan bel yang menandakan pukul tiga sore. Suasana akademi pun mendadak menjadi begitu hening tanpa adanya keberisikan seperti sebelumnya. Bahkan Tara merasa bahwa suasana sekitarnya saja berubah menjadi aneh, lantaran cicit burung yang semenjak tadi menghiasi suara di taman yang tengah menjadi posisi mereka kini langsung terbang berhamburan dan nampak panik.

"Seems like it's show time..."

Gumaman dalam bahasa Inggris tersebut membuat Tara mengalihkan perhatiannya kepada Alfred. Telah bersiap di kedua tangan pemuda itu, steel knuckle yang mengkilap, dan dari Tino, baton estafet yang memanjang kala tombol merah itu dipijat, menjadi satu tongkat besi yang panjang. "Alfred, ingat, ini bukan hari terakhir bulan Januari. Jangan sampai ada yang tewas, aku tak mau kena pengurangan nilai dan detensi denganmu." lanjut, Tino berkata. "Tara, kutanya sekali lagi: kau bisa bertarung atau tidak?"

Cepat, Tara menjawab tidak kepada Tino, yang kemudian memberikan kepadanya sebuah stun gun. "Kalau begitu, lihat kami, usahakan untuk tetap hidup sambil kita lanjutkan tur akademinya, oke?" senyuman inosen-agak-keibuan Tino menyapa wajah Tara yang nampak merinding. Firasatnya sangat jelek untuk kali ini, terutama pada bagian 'tetap hidup' yang baru saja dikatakan oleh Tino.

"Oke, pertanyaan pertama, tahu kenapa akademi ini ada, my dear Tara?"

Tara menggeleng lagi, sekarang dalam hatinya ia merasa begitu miris karena masuk kemari dengan terlihat begitu bodoh, apa-apa tidak tahu dan tidak bisa. Namun ia tak dapat menahan keterkejutannya kala ia menyaksikan segerombolan orang―kalau ia coba hitung cepat, mungkin ada tujuh atau delapan orang―kini menyerang dadakan dari semak-semak yang ada di sekitar mereka. Semakin terkejutlah ia, karena kini Alfred telah membopong dirinya ala bridal style, berlari menjauh dari kawanan murid-murid yang kini mengejar mereka.

Tino tertawa kecil, sambil mereka berlari, dihajarnya para murid-murid yang hendak menyerang mereka dengan tongkat besi itu, melumpuhkan pada bagian kaki dan sekitarnya. "Baiklah, sedikit bantuan untukmu, kudengar kau suka sejarah, jadi kau pasti tahu ada apa dengan dunia tujuh tahun yang lalu, bukan?"

Tentu saja, mana mungkin tak ada yang tak tahu ada apa dengan kejadian tujuh tahun yang lalu? "Umm, Perang Dunia Ketiga." kali ini cepat ia menjawabnya, walau suaranya sedikit gemetar karena ini baru pertama kalinya ia digendong oleh seorang lelaki yang boleh ia anggap sebaya dengannya. "Dan akademi ini berdiri setahun setelah perang itu dimulai, benar?"

"Correct!" seruan dengan aksen English-American itu keluar dari bibir Alfred dengan lantang. "Yah, namanya akademi 'kan gunanya adalah untuk mendidik semua muridnya, dan tentu saja tak banyak yang tahu kalau akademi yang diberitahukan kepada dunia sebagai ajang pembentukan ikatan perdamaian dari murid-murid di seluruh dunia akan menjadi... begini."

Tubuh Tara kali ini dilempar kencang ke atas. Membuat sang gadis asal Indonesia itu pun terkejut bukan main. Siapa yang sangka kalau Alfred punya tenaga sebesar itu? Sebisa mungkin ia tahan teriakan yang bisa ia keluarkan, dan beberapa detik sebelum ia jatuh menghantam tanah, Tino telah menangkap tubuhnya. Sebagai gantinya, kali ini Alfred menghajar beberapa murid yang hendak menyerang mereka, menghajar mereka sampai pingsan dan membuat beberapa di antaranya mencucurkan darah dari mulut dan hidungnya.

"Nyatanya, akademi ini ada untuk menjadi bahan pelatihan anak-anak muda dari seluruh dunia untuk saling bertarung satu sama lain, satu ajang training yang dibuat seolah sangat realistis dengan keadaan perang di luar sana, dan bagi siapa pun yang memiliki prestasi terbaik―dan berhasil pulang sampai ia lulus kelas XII, tentu saja―akan dihadiahi berupa pangkat yang sangat tinggi di kemiliteran masing-masing negaranya." kali ini, Tino menjelaskan. Menurunkan tubuh mungil dari gadis berambut sebahu tersebut ketika mereka sudah sampai ke tempat yang lebih aman dan lanjut berjalan dengan lebih santai. "Oh ya, kau masih pegang kartu kuningmu, 'kan?"

Kartu kuning yang dimaksud berukuran seperti SIM Card dan hanya tertera sebuah bar code dan nomor induk dari pemegangnya. Tara mengangguk, yakin bahwa kartu kecil berwarna kuning itu masih terkalungkan dengan manis. Lagipula rantainya sudah sengaja ia ganti dengan besi yang ia campuri dengan titanium, jadi pasti tak akan putus segampang itu. "Uhm, masih ada. Tapi bukannya kartu ini hanya untuk merekam jadwal dan alat tukar untuk mengambil makan kita saja?"

"Lebih dari itu, my babe." coba lihat, sampai kapan Tara bisa tahan akan tawa menggelegar dari sang American satu ini? Uh, sepertinya kalau pun bisa, tidak akan dalam waktu dekat. "Itu juga digunakan untuk merekam catatan nilaimu, jadi usahakan untuk jangan hilangkan itu, okay?"

Tanpa perlu mengedarkan pandangannya ke arah belakangnya, Tino sudah menghajar pingsan seorang murid yang kembali menyerang mereka hanya dengan sekali pukul di dagunya. "Tapi semua yang ada di sini tidak semuanya berasal dari negeri yang maju. Beberapa pemerintahnya kurang menyuplai mereka dengan baik dalam hal makanan, dan itu, yah, membuat beberapa murid di sini saling mencuri Kartu Kuning murid lainnya. Apalagi kau dari Indonesia, Tara, salah satu negara termaju saat ini, kurasa itu akan sangat riskan untukmu. Mengerti?" dan kembali, senyum manis itu terukir dari si pemuda Finlandia.

"Oh, kami juga punya semacam time table untuk saat bertarung seperti ini." Alfred kembali menambahkan. "Waktu bertarung dan persaingan kasar macam ini hanya diperbolehkan setelah bel jam tiga sore. Untuk tanggal 1 sampai 12, para murid tak boleh membawa dan menggunakan alat bantu senjata dalam bentuk apa pun. 13 sampai 16 adalah tanggal tenang, waktu tanpa pertempuran. 17 sampai 29 adalah waktu dengan senjata tangan, seperti yang kami pakai sekarang, dan 30 sampai 31 adalah waktu dimana penggunaan senjata api diperbolehkan, dengan syarat senjata api yang digunakan hanya sebatas hand gun. Machine gun, sub-machine gun, dan sniper gun hanya diperbolehkan bagi SC."

"Jangan lupa untuk ingat, di luar tanggal 30 dan 31, tidak boleh ada murid yang terbunuh."

"Kalau kau membunuh sekali di luar tanggal itu, hukumannya pengurangan poin."

"Dua kali tercatat membunuh di luar tanggal itu, masuk ke dalam ruang detensi."

"Tiga kali tercatat membunuh, urusan nyawamu di tangan kepala sekolah."

"Dan kami, yang tergabung di SC, adalah sekumpulan petarung terbaik di akademi ini. Pin yang selalu kami sematkan di kerah baju ini adalah bentuk lain dari kartu makan yang selalu kalian pegang, sekaligus satu lambang bahwa kami ada di posisi teratas dari food chain yang ada di sini." Alfred pun menyambung penjelasan Tino. "Jika kehilangan kartunya, kau akan ditempatkan ke kelas E tanpa pertimbangan apa-apa lagi, dan baru bisa kembali ke kelas awalmu jika kau sudah bisa merebut kartu lain atau kartumu kembali. Tapi bagi kami, para anggota SC, hanya ada satu hukum yang bisa jatuh kepada kami jika pin ini terebut―"

"―Hukuman mati."


Sosok dengan alis tumpuk itu menyaring daun teh yang keluar dari bibir poci tersebut, menuangkan cairan berupa teh dari poci ke cangkir keramik yang berada di hadapannya. Setelah dirasa takarannya sudah cukup, ia pun segera meletakkan poci tersebut dan menyesap teh yang baru saja ia buat. Sama sekali tak peduli bahwa di luar sana, terdapat huru-hara dengan ramainya anak-anak yang saling tonjok-menonjok satu sama lain.

Tapi sepertinya, hari ini, ia akan mengambil sedikit peduli pada huru-hara itu.

Lelaki itu pun keluar dari ruangannya, menyaksikan pemandangan yang tak begitu membuatnya tertarik, dan hanya mampu membuatnya berkata "Hmph." lalu menyeruput teh yang ia bawa beserta dengan piringnya, meminumnya lagi sambil melihat sang wakil ketua SC yang tak lain dari Francis Bonnefoy beraksi membuat dua belas orang pingsan dan mencucurkan sedikit darah dari wajah mereka, bertebaran di lantai lorong depan Headquarter SC.

"Oh, tak biasanya kau akan bergabung dalam pesta, mon chér."

"Hmm..." masih dengan wajah tak tertariknya, ia berjalan bersebelahan, lalu menyerahkan cangkir yang terletak di atas piringnya itu kepada Francis. Memakai sarung tangan kulit hitamnya, dan memelintir tangan salah satu anak perempuan yang datang menyerangnya dengan pisau. "Aku hanya sedang bosan, dan ingin membuktikan firasat bahayaku atas anak itu." ia tarik lagi teh yang berada pada Francis, dan ia sesap lagi dengan penuh nikmat.

Berjalan masuklah kedua orang itu menuju lift. Nampaknya mereka sedang malas untuk turun satu lantai saja melalui tangga. "Semua orang yang ada di sini berbahaya, Arthur sayang." sengaja Francis ucapkan itu dengan nada jenaka hanya untuk mengerjai sang Englishman. "Contohnya saja aku, seperti istilah dalam bahasamu, dangerously beautiful."

Mendengarnya, Arthur tersedak. "Dasar jijik kau." Arthur mengusap dadanya, merasa cukup untuk menegak teh-nya saat ini, mungkin ada baiknya jika ia sisakan sedikit, toh, perjalanannya masih agak jauh. Kala pintu elevator itu terbuka, tampillah sebuah medan perang dengan anak-anaknya saling bertarung satu sama lain. "Jangan kira karena kita sudah kenal sejak kecil, kau kira kau bisa naik pangkat dari menjadi sekadar butler-ku, eh, Francis?"

Tentu itu hanyalah bualan semata, ditambah, mereka berdua menyenangi hal-hal berhubungan dengan drama. Kau tak perlu bingung jika pembicaraan mereka berdua berubah seolah tengah bermain lakon. Kenyataannya, Arthur sendiri sudah tahu kalau Francis adalah ketua SC tahun lalu, jelas, orang ini punya kemampuan. Boleh jadi itulah alasan Arthur untuk tak merasa terkesima menyaksikan Francis mengeluarkan cambuknya dan sepuluh orang tak mampu berdiri di hadapan mereka kurang dari satu menit penuh cetaran hasil pecahan gelombang supersonik kemudian.

"Ah, saya sakit hati, tuan muda nampaknya meragukan saya, oui?" berjalanlah mereka dengan tenang, melewati kerumunan yang masih bertarung antara satu dan yang lainnya. Berjalan mereka menuju taman, mengikuti jalan dari batu yang begitu indah, sampai di tengah jalan, hampir tiga puluh anak telah menunggui mereka lewat di sana.

"Aku tidak meragukanmu, butler-ku."

Diam, dua orang itu bertatapan dengan tiga puluh orang yang masih belum bergerak. Masih dengan wajah tak tertariknya, Arthur kembali menyesap teh-nya sedikit lagi. Masih setengah cangkir, bolehlah.

"Lantas kalau bukan ragu, apakah itu, tuan muda?"

Tiga puluh murid itu pun datang serentak dalam kecepatan lari yang tinggi.

"Anggaplah―"

Dilemparlah cangkir dan piring teh itu oleh Arthur ke udara. Tinggi, tinggi sekali terlempar, lalu dihantamlah dengan tendangan dan pukulan, berduet aksi dengan Francis, menumbangkan tiga puluh murid itu dengan sangat cepat menggunakan tubuh mereka yang sudah terbiasa bermanuever lincah.

"―kalau tidak mungkin bagiku untuk mencari seorang yang lebih baik darimu dalam waktu dekat, jadi apa mau dikata?"

Dan tepat di telapak tangan Arthur, piring teh itu kembali jatuh dengan mulus. Tangan satunya lagi menangkap cangkirnya dan cairan teh yang menyusul jatuh di wadahnya, tanpa setetes pun jatuh menyentuh tanah. Segera disesap kembali tehnya, dan sebuah tepuk tangan pun mengiringi jalan mereka, melewati kumpulan murid yang sudah pingsan sekarang.

"Kau memang berbakat menjadi aktor, mon ami. Coba kita hidup di era tiga puluh sampai lima puluh tahun yang lalu, karir kita di Broadway pasti melejit."

Arthur tertawa kecil, lalu tersenyum lembut di hadapan cangkir tehnya. Menatap pada refleksi dirinya di cairan yang kini tersisa tinggal seperempatnya. "Yah, mungkin saja." mereka telah berjalan, terus berjalan sampai tibalah mereka pada sebuah patio besar di atas bukit buatan ini dengan pemandangan laut biru tanpa batas. "Oh, awannya sedang bagus hari ini."

"Oui, sangat."

Selanjutnya, hanya desir angin ombak dan sekali-kali tawa kecil dari sang Frenchman yang tengah bercakap sembari menatap melalui binocular-nya, melihat pada pemandangan pertarungan antarmurid di kebanyakan tempat. "Oh, akhirnya kutemukan juga anak itu, si Ta―E-eh? Dia tampak lemah sekali!"

Cepat, Arthur rebut binocular itu. Menyaksikan dari kejauhan, Tara yang dilindungi oleh Tino dan Alfred, tak membantu apa-apa dan nampak bergidik ketakutan. Satu reaksi yang aneh dari delegasi Republik Indonesia yang kuat dan tak tertandingi, hmm―?

―Kala itulah, bulu kuduknya mendadak terasa berdiri semua.

"Arthur? Wajahmu pucat, ada apa?"

Tidak, ia tak merasa salah lihat. Anak perempuan bernama Tara itu begitu lemah.

Termasuk untuk bagian Tara menyorotkan pandangannya langsung ke arahnya, tersorot begitu tajam melalui binocular ini, seolah tahu bahwa dirinya tengah diintai dari kejauhan.

"Ada apa dengan anak ini sebenarnya..."


Pukul enam adalah waktunya berhenti bertarung. Seluruh anak murid akademi ini pun kembali ke asramanya masing-masing. Di tempat ini, jangan heran, kau jadi murid, kau dapat satu ruangan pribadi untukmu sendiri sampai kau lulus.

Ini baru hari kedua, dan ia sudah mendengar lewat surat-surat kakaknya, tapi ia tak menyangka bahwa kenyataannya akan sesadis ini…

.

Dari kejauhan, dilihatlah oleh Tara, sekumpulan anak kecil yang barangkali baru menginjak kelas SMP di tempatnya. Melihat mereka juga bertarung tanpa kenal berhenti, begitu sangar dan tak tertahankan.

"He-hei, ada anak kecil di sana! Bagaimana kalau mereka terbunuh?!"

Alfred kembali terbahak. Menepuk pundak sang gadis dan lanjut berkata, "ayolah, jangan kira kami ini seliar bayanganmu. Kami juga harus patuh pada peraturan sehubungan dengan pembantaian. Tentu maksudnya adalah untuk mengajarkan bahwa perang juga masih punya etikanya."

"Anak yang berbeda bangku kelas dari kami, tidak boleh dilawan. Intinya, kami tak boleh melawan siapa pun di luar dari high-school dan peraturan itu juga berlaku bagi mereka di jenjang bawah sana."

.

Dan walau telah mendengar hal itu, ia masih tak bisa merasa tenang. Kalau begitu, bukankah sama saja dengan membangun sebuah mentalitas yang menghilangkan rasa kemanusiaan? Tidakkah hal semacam ini hanya akan memperpanjang perang? Tidakkah mereka berpikir bahwa suatu hari anak-anak yang berada di sini akan membangun satu keluarga, dan akan mendidik anak-anak mereka seperti bagaimana mereka masih seusia mereka? Kalau begitu bisalah mereka katakan bahwa 'membunuh itu adalah satu perkara yang tak perlu dipusingkan. Toh kau akan mati juga nantinya' dan hal itu bisa saja diterima benar, bukan? Pikiran itu pun akhirnya membawa pada satu kesimpulan yang membuatnya menyeringai kecil sambil merebahkan dirinya di atas ranjang yang empuk:

Dasar pemerintah busuk.

Tapi apa haknya juga untuk merasa kasihan? Ia juga tak punya haknya, ia juga tak ubahnya dengan mereka. Mereka saja yang belum tahu siapa seorang Nusantara Ardiana sesungguhnya, sama seperti dengan kakaknya, Saka Wirgantara. Lagipula tidak seperti hal itu penting, tidakkah semua yang datang kemari juga pasti sudah memiliki satu latar belakang pribadinya masing-masing?

Tok, tok, tok.

Ketukan pintu terdengar di telinga Tara. Bergegaslah ia membuka pintunya dan hanya untuk menemukan sosok si ketua SC, Arthur Kirkland. Masuklah sang pemuda beralis tebal itu dengan gayanya yang begitu sembrono, sama sekali tidak berkata permisi atau apa pun. Mau tak mau, Tara merasa kesal juga dengan perlakuannya yang seperti ini. Kenapa orang ini bisa terpilih jadi ketua, sih?

"Tidak peduli untuk sedikit sopan santun, eh, ketua?"

"Hmm." sepertinya gumaman adalah satu hal favorit dari Arthur. Pasalnya, sejak tadi ia tak merasa tertarik dengan apa pun yang disaksikannya.

"Dengan digabungnya asrama wanita dan laki-laki seperti ini juga menandakan bahwa sepertinya sopan santun sudah menghilang dari sekolah ini. Tentu saja aku tak mengharapkanmu untuk berubah menjadi lebih baik, tuan ketua." cerocosan dari sang perempuan itu pun berlanjut lagi. "Hanya saja, alangkah baiknya kalau kau belajar sedikit sopan santun dengan menyapa dan menunggu diperbolehkan masuk oleh pemilik ruangan, tidakkah itu susah?"

"Penggabungan asrama itu bukan perkara sopan santun, miss. Kalau memang untuk mencegah kontak badan antar lawan jenis, memangnya sesama laki-laki dan sesama perempuan tidak bisa berhubungan seksual? Heh, sama saja."

"Tetap saja―"

Segera, Arthur memotong perkataan Tara. "Lagipula apa gunanya aku meminta izin padamu juga? Toh, kau juga akan membiarkanku masuk, 'kan?" kali ini ia menyeringai jahat, dan mau tak mau membuat Tara semakin jengkel. Ayolah, ia tak mengerti teriakan keseruan dari anak-anak gadis di kelasnya kalau Arthur Kirkland itu ganteng dan lain sebagainya. Dengan sifat seperti ini, ganteng itu jadi perkara nomor kesebelas yang baru ia lihat, mungkin.

Mendecak, lalu kemudian menatap tajam lagi kepada Arthur. "Jadi apa maumu?" desahan napas pasrah pun muncul, ya sudahlah. Ia menyerah saja.

"Aku baru dikirimi perubahan jadwalmu dari pihak akademi. Harus disampaikan hari ini karena perubahan jadwal khusus untukmu ini langsung berlaku mulai besok pagi." Arthur segera menyampaikan sekeping tablet kecil hologram berukuran lima kali lima cm, begitu kecil, yang cukup dengan meletakkan sidik jari kita, isinya baru akan keluar. "Jangan hilangkan itu, agenda itu hanya bisa dibuka olehmu dan akan terus dilakukan update dari pihak sekolah, jadi pastikan untuk mengecek adanya perubahan setiap hari. Ada yang kurang jelas?"

Tara menggeleng pelan.

"Bagus, kalau begitu selamat malam. Aku masih akan bangun sampai jam sebelas malam, jadi kalau kau masih ada pertanyaan, cari aku di kamar 747. Seandainya aku sedang keluar, cari saja Francis di kamar sebelahku, 746."

Dan pintu pun ditutup, meninggalkan Tara sendirian kembali, dengan seringai kecilnya.

.

.

"Lihat saja, kak Saka, akan kucari tahu siapa yang sudah membunuhmu dengan sesadis itu."

.

.

To Be Continued


Review Reply


Silent Reader

Terima kasih reviewnya, sama sekali gak random kok! Iya, ini lebih ke arah improvisasi konsep dari manga Tokyo Girls yang tadi sudah disebutkan, sih, nyesuaiin sama latar belakang fic yang saya adaptasi sendiri :) aww, kapan Arthur enggak sadis sih? Makin sadis 'kan makin ganteng jadinya~ /bukangitujuganak

AnonAnon

Ahahahaha, terima kasih banyak untuk kesediaannya meninggalkan review ^^ sebenarnya banyak loh cerita kayak begini, jadi sempat minder juga mau publish takut idenya pasaran ehehehe. Makasih ya udah bersedia mau review, semoga update-an kali ini cukup memuaskan :) hmm, untuk kelanjutannya gorenya bisa naik sedikit lagi, soalnya mungkin nanti ada yang benar-benar eksplisit, tapi saya usahakan untuk dalam batasan ini, oke? :3 /baleskedipinjuga


Author Notes


Halo, terima kasih sudah mau membaca sampai disini :) saya tak akan berbicara banyak, jadi langsung saja, ya?

Saya benar-benar butuh dukungannya loh, kawan-kawan. Bukannya saya akan memelas dengan "enggak akan lanjut kalo enggak dikasih review" tapi serius, ini pertama kalinya saya bikin cerita yang sangat panjang (kalau anda melihat dokumen plot saya, tentunya. 6000 kata hanya untuk plot dan beberapa keterangan detail harusnya cukup untuk mendeskripsikan panjangnya cerita ini, 'kan?) dan dengan alur yang benar-benar kompleks. Saya butuh sekali masukan akan cerita ini, dan saya rasa, sedikit kata-kata di kotak review mungkin bisa jadi bentuk yang paling mudah kita bagikan, umm?

Oh, dan untuk menambah semuanya, pada dasarnya, saya kurang bisa mengerjakan romance. Jadi tolong, sangat tolong jangan protes ke saya kalau kedepannya, cerita ini enggak punya unsur romance yang kuat di sini. Lagipula tujuan utama saya memang bukan bond secara percintaan, tapi lebih ke arah friendship dan betrayal.

Terima kasih, semoga anda senang membaca cerita ini :)