Baiklah, perlu saya beritahu, saya melanjutkan fanfic ini karena sedang tak ada kegiatan *dipukulin.

Tapi meski begitu, saya tetap bersemangat membuatnya. Terima kasih untuk kalian yang sudah membaca dan me-review \(^_^)/


"O,Ono-sensei?!" mataku dan Heiji membulat ketika melihat siapa orang yang menggebrak meja kami tadi. Oh tidak.. Alamat buruk...

"Hattori dan Toyama, bisa kalian jelaskan kepada saya?!" di damprat oleh Ono-sensei bukan pertanda baik -tentu saja-. Perluku tegaskan, setiap tahun anak-anak dari tiap kelas akan mengadakan angket tentang para guru. Dan aku tak peduli kalian percaya atau tidak, Ono-sensei telah memenangkan angket 'guru terkejam' selama 5 kali berturut-turut! Itu buka 'prestasi' yang biasa-biasa saja, tentu kalian juga tahu! Dan parahnya lagi, Ono-sensei mengajar dibidang bahasa -pelajaran yang bisa membuat siapa saja tertidur dengan cepat-

Mendapat bentakan mendadak membuatku dan Heiji membisu mendadak.

"Jadi kalian tak bisa menjelaskan?" Ono-sensei memasang senyum yang paling manis -baginya-.

"A,anu ..." aku mencoba membuka mulut. Namun, tetap saja. Aku tak bisa merangkai kata-kata atau apalah itu. Oh Heiji.. Kenapa disaat seperti ini kau juga tak bisa diandalkan?! Tak bisakah kau menganggap Ono-sensei ini pembunuh atau sejenisnya? Ups... Kurasa aku berlebihan.

"Baiklah... Mungkin kalian memang bisu atau lidah kalian sudah dikunci." dia mendelik. Sungguh menyebalkan. "Beruntung, moodku sedang baik hari ini. Jadi ..." pak tua itu menunjukan barisan gigi-gigi putihnya. Kurasa giginya lebih putih dan rapih dibanding Heiji. Uuuh! Konsentrasi Kazuha! "Kalian cukup mengepel dan membersihkan kantorku. Kebetulan sudah lama tidak ada yang membersihkan." aku bagai tercekik. "Dan juga, PR ekstra tentunya..." lagi-lagi si Tua itu memasang cengiran menyebalkannya. Tiba-tiba aku merasa Ono-sensei adalah hakim, dan aku-Heiji adalah terdakwanya.

"Ini semua karena kau." Heiji berbisik ditelingaku. Apa katanya?! Bisa-bisanya ia mash berkata begitu saat palu sedang diketuk!

"Apa?! Ini juga salahmu!" aku membalas bisikan Heiji.

"Sudah ah. Bawel."

"Kau yang bawel." aku menatap Heiji dengan awas-kau-cari-mati-dengan-ku.

"Apa masih belum cukup?" geretak Ono-sensei melihat kami -yang masih sempat-sempatnya kembali- berdebat.

"Ah! Sudah! Sudah cukup sensei! Sudah cukup kenyang!" Heiji berkata dengan cepat.

"Baiklah kalau begitu. Kalian semua, buka buku paket kalian halaman 75. Kerjakan soal-soal tersebut," jujur saja, saat berkata hidung pak Tua itu sedikit terangkat dengan posisi aneh.. "Sekarang." tambahnya. APA?!

Aku segera mengeluarkan bukuku dan mengecek halaman 75. Dasar guru gila! Kini didepan mataku berderet 60 soal. Dan parahnya soal ESSAY yang kini sedang menari-nari dimataku!

"Sial!" aku bisa mendengar gumaman Heiji yang sama seperti anak-anak lain.

"Seperti biasa: tanpa pertanyaan-tanpa gumaman-tanpa keluhan-tanpa protes." dan tanpa melihatmu lagi, tambahku.

Ini hukum karma atau apa ya?

Setelah Heiji membuat mood pagiku rusak, mood siangku juga sudah dikacaukan oleh Ono-sensei -padahal sekarang belum siang, kalian mengerti?-.

oOoOo

"Nah, nampaknya jam hari ini sudah selesai. Kumpulkan sekarang." ucap pak Tua itu saat bel istirahat berbunyi. Kumpulkan sekarang? Terdengar gumaman protes dan keluhan dari sana-sini. Bagaimana tidak? Aku saja baru berhasil mengerjakan 47 soal! Dan itu sukses membuat uratku putus -mmm...-

Dengan berat hati kami semua berjalan untuk mengumpulkan kertas kami. Bisa kukira, nilai terbesar yang akan kami dapat itu C.

"Baiklah. Dan untuk Toyama dan ... siapa tadi namamu? Hanori?"

"Hattori." ucap Heiji singkat-padat-jengkel.

"Ya. Untuk kalian kerjakan semua soal yang ada dibuku paket dan kumpulkan besok." ucapnya santai. Ya Tuhan... Apa poniku sudah berdiri? "Dan, selamat pagi semua." ucap Ono-sensei sambil melirik kearahku dan Heiji. Kini kumengerti bagaimana caranya mempertahankan prestasi konyolnya itu: dengan membuat murid-murid semenderita mungkin...

"Oh iya." tiba-tiba kepala botaknya menjulur lagi kedalam kelas. Uuh.. "Jangan lupa bersihkan kantorku sepulang sekolah." tambahnya. Apa aku boleh menendang kepalanya itu?

"Aku akan sangat senang jika diizinkan untuk memukul kepala botaknya yang beruban itu..." geram Heiji.

"Jadi kau juga berpikiran begitu?" aku memutar kepalaku menghadapnya.

"Kupikir kita semua berpikitan seperti itu." ada sedikit nada mencemooh dikalimatnya barusan.

"Oh iya.. Kau benar.." aku bergumam tak jelas.

"Menurutmu cara mati apa yang paling pantas untuknya?" dan pertanyaan Heiji ini sukses membuatku membatu.

"Kau mau membunuhnya?!" aku sedikit memekik.

"Tidak.. Tidak sekarang.." Heiji nyengir. "Tapi mungkin untuk jaga-jaga.." dan Heiji tertawa. Entah mengapa aku juga jadi ingin tertawa.

"Ide yang menarik." tiba-tiba Honekawa-kun menimpali pembicaraan kami. "Mungkin dengan kalium sianida?"

"Jangan bilang kalau kalian mau berkomplot membunuhnya." aku tersenyum sendiri.

"Ide bagus." Honekawa-kun tersenyum.

"Kurasa makan siangnya kali ini cocok..." tak kusangka Heiji menimpali ocehan konyol Honekawa-kun.

"Hei hei kalian!" aku sedikit berkacak pinggang.

"Tenanglah Kazuha, kami cuma bercanda! Tapi seandainya memakai pedang pasti lebih menarik." Heiji nyengir lagi.

"Heiji!" aku memekik.

"Sudah kubilang, aku cuma bercanda." Heiji memandangku dengan pandangan kau-terlalu-berlebihan-menanggapi-nya. Kemudian, dia berdiri dan berjalan ke pintu kelas.

"Eh? Tunggu Heiji! Kau mau kemana? Aku ikut!" spontan aku langsung berlari mengejar Heiji.

"Heh? Buat apa sih kau ikut?" Heiji memandangku dengan sebal.

"Aku 'kan sedang tak ada kegiatan. Jadi aku ikut ya!" aku memasang senyumku yang paling manis.

"Haa-h.. Ya sudah. Toh kau memang selalu mengekor padaku." kalimat terakhir Heiji tiba-tiba membuatku merasa wajahku memanas.

"Aku tidak selalu mengekor padamu!" aku berusaha membela diri.

"Oya?" Heiji menaikan sebelah alisnya dengan tatapan jahil.

"Tidak selalu, tapi yaah.. cukup sering..." tiba-tiba aku merasa malu.

"Tuh kan!" Heiji berkata penuh kemenangan. Kemudian mulai berjalan. "Oi, ikut gak nih?" begitu sadar, aku langsung mengejar Heiji.

Baru beberapa langkah kami berjalan -masih disertai saling bertengkar-, tiba-tiba aku merasa seseorang menabrakku. Yaah.. sebenarnya bisa saja aku yang menabaraknya.

"Ah, ma,maaf!" aku segera meminta maaf sambil menunduk. Saat mengangkat wajah, begitu terkejutnya aku.


Aku tahu chapter ini pendek. Tapi yaah.. tiba-tiba aku kehilangan ide untuk melanjutkanya. Mohon maaf kepada pembaca, dan terima kasih sudah mau membaca!

Ditunggu review nya ^^