Tolong aku...
Tolong aku...
Tolong aku...
Dilatarkan dengan seorang wanita albino yang ingin meminta tolong kepada Somchai. Tepatnya berada di The House. Ia mendekati Somchai dengan pakaian dress biru panjang miliknya yang berdarah. Ia memegang pisau dapurnya. Ia sudah mendekati Somchai dalam jarak 10 cm.
9 cm
8 cm
7 cm
6 cm
Somchai sama sekali tak bisa bergerak ataupun bicara dengan membatin, 'Tolong aku. Aku berharap ini akan berakhir dan aku akan bangun dari mimpi buruk ini, ana.'
5 cm
4 cm
Somchai pasrah
3 cm
2 cm
Dan...
1 CM!
Somchai ditusuk jantungnya oleh wanita itu
Dibukalah pakaian Somchai termasuk pakaian dalamnya
Wanita itu lalu menguliti Somchai dengan perlahan, perlahan, dan perlahan
Setelah itu ia mengiris daging Somchai kecil-kecil dengan perlahan, perlahan, dan perlahan hingga tulang-belulang
Tak lupa juga ia mencongkel kedua bola mata Somchai
Memenggal dan membelah kepala Somchai yang berisi belahan otak lembek dan organ lainnya
Mencongkel isi kepala Somchai
Dan menuangkan darah milik Somchai ke dalam gelas besar
Ia mengambil piring makanan kecil, sendok, dan garpu miliknya untuk memakannya
Ia memakan belahan otaknya
Memakan kedua bola matanya
Memakan dagingnya
Dan ia meminum darahnya
Selesai
~ Mystery of The House ~
Arc 0 : The House (Original Story) - Chapter 2 : Study Tour
Disclaimer : Hetalia diciptakan oleh Hidekaz Himaruya
Warning : Human!AU, Beberapa Karakter Nyotalia Muncul, Gore, Non-Hentai, Non-Yaoi/Yuri tetapi ada beberapa hints seperti Si A berbicara tentang shonen-ai kepada Si B, Cannibalism, dan Miss Typo (Seperti EYD dan diksi.
Human Names : Bisa dilihat di profil saya
+ 17 December 2011 At 10 A.M. In London, England +
"Somchai? Kamu sakit ya? Tidak biasanya kau jadi pemurung gini."
Somchai segera menyadarkan dirinya. Ia berkata dengan senyuman yang memaksa, "Eh? Lien? Aku tidak sakit kok. Aku cuma melamun, ana."
"Oh…"
Bagi Somchai, bersyukurlah jika Lien tak bertanya lagi. Pasalnya ia sedang memikirkan mimpi buruknya semalam. Sekarang, ia berada di sekolah. Tepatnya berada di kelasnya, XI-A. Ia duduk di bangku paling depan bersama sebangkunya, tentunya Lien.
"Oh ya, kamu ikut Study Tour 'kan?" Celetuk Lien.
"Iya. Kita ke Liechtenstein 'kan?"
"Benar. Kita akan ke sana selama 2 minggu. By the way, yang ikut Study Tour di kelas kita itu cuma kita dan Elizaveta. Yang lainnya tak diizinkan sama orangtuanya. Kasihan."
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh teman-teman sekelas mereka.
"CIYEEE! PACARAN NI YEEE!"
"Ehem! Ehem! Ehem!"
"WAH! Ada suami istri di kelas kita nih! Ehem."
"Akan kubuat doujin hentai tentang mereka berdua, ah." Seru Elizaveta. Muka mereka berdua memerah. Maklum, mereka sering djadikan korban bullying. Maksudnya sering dipairingkan di kelas mereka. Mereka kabur dari kelas mereka dan segera menuju ke kelas XI-D. Sesampainya di kelas tersebut mereka disapa oleh Nesya. "Hai, Somchai dan Lien. Ngapain kalian di sini?"
"Er… Kami ke sini untuk sekedar ngumpul-ngumpul saja kok." Jawab Somchai berbohong, 'Kalo aku kasih tahu kepadanya nanti malah disoraki lagi.'
"Oh… Aku panggil Azizah dulu ya."
"Baiklah,"
Nesya segera mencari sepupunya yang bernama Azizah sekeliling kelas namun hasilnya nihil. 'Dimana dia? Pasti dia sudah pergi. Huh!' Pikir Nesya gelisah. Ia kembali lagi ke tempat ia berbincang dengan Somchai dan Lien. "Somchai. Azizah tak ada. Hah… Dia memang orangnya begitu sih. Sukanya pergi secara diam-diam."
"Sudahlah, Nesya. Jangan mengeluh. Optimislah. Pasti ia kembali." Ujar Lien menenangkan Nesya.
"Benar juga." Kata Nesya datar, "Kalian ikut gak Study Tour?"
"Kami ikut kok." Jawab Lien enteng, "Kalo kamu, Nesya, ikut gak?"
"Tentu saja aku ikut. Sayangnya, Azizah gak dibolehin sama orangtuanya. Jadi, aku kesepian."
"Sabarlah, Nesya. 'Kan ada kami. Benar gak, Somchai?"
"Benar, ana." Jawab Somchai tersenyum, "Bagaimana kalo kita makan di kantin?"
"SETUJU!" Jawab Lien dan Nesya bersemangat.
…
+ 24 December 2011 At 7 A.M. From London, England To Vaduz, Liechtenstein At 11 A.M. In 6 January 2012 +
Sudah tak terasa sepekan bagi Somchai. Kini beberapa murid yang ikut study tour bergembira ria, termasuk dia sendiri. Mereka semua berkumpul di depan Hetalia Academy lengkap dengan sebuah bus pariwisata. Sang kepala sekolah, Romulus Vargas, mulai mengumumkan sesuatu dengan megaphone miliknya, "Anak-anak, kalian masuklah ke dalam bus itu. Saya, Pak Beillschmidt, Bu Kirkland, Bu Hassan, dan Bu Karpusi akan mengawasi kalian."
Somchai mengambil 2 lembar kertas yang isinya tempat duduk seluruh murid yang ikut study tour dan jadwalnya. Ternyata, ia duduk di depan sebelah kiri bagian pinggir. Ia juga duduk bersama Kiku. Namun, temannya itu telah tiada. Jadi ia duduk sendirian. Ia lalu masuk ke dalam bus pariwisata tesebut. Di dalam bus itu banyak temannnya berdesak-desakkan. 'Benar-benar ramai sekali.' Ia akhirnya duduk di tempatnya dan membuka notebook indigo miliknya. Ia tak juga lupa memasang modem miliknya itu. Setelah itu ia browsing lewat Mozilla Firefox dan menjelajah ke Google. Ia mengetik 'The House History' di kotak pencariannya. Sayangnya, hasilnya tak ditemukan.
'Aneh' Batin Somchai lagi, 'Padahal sudah jelas-jelas ada bukunya. Mungkinkah buku itu kurang laris penjualannya? Ataukah terbatas? Entahlah. Mungkin Gilbert tahu soal ini.'
Bus yang ia tumpangi mulai berjalan tanpa disadarinya. Ia lalu mematikan notebook miliknya dan meniduri dirinya sendiri. Namun, ia dibangunkan oleh Lien yang berada di belakang tempat duduknya, "Somchai! Somchai! Bangun! Ada hal penting nih!"
"Ngh… Pasti yaoi lagi, 'kan?" Tanya Somchai sedikit kesal.
"Kau tertipu!" Ujar Lien jahil, "Di sebelahmu itu… Siapa, ya?"
Somchai melihat ke samping namun tak ada hasilnya dan ia menjawab, "Tak ada siapa-siapa, ana. Ciri-cirinya seperti apa, ya?"
"Ng… Ciri-cirinya tuh cewek berambut platinum blonde panjang sepinggang dan bermata pink di atas dan biru di bawah. Singkatnya heterochromia."
"Oh…" Somchai lalu melanjutkan tidurnya. Bus itu menabrak sesuatu sehingga semua penumpang bus itu kaget termasuk Somchai dan Lien. Bus itu tak hancur sama sekali dan hanya sedikit lecet di depannya. Ternyata yang ditabrak bus itu adalah mobil VW T2 Camper berwarna jingga. Hampir seluruhnya melihat mobil itu. Mobil itu sudah penyok alias hancur. "Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku." Ujar sopir itu terlihat menyesali perbuatannya. Begitu juga dengan teman-teman Somchai termasuk Lien. Lalu bus itu mengeluarkan darah merah yang segar, usus manusia yang terburai, beberapa pasang bola mata yang berjatuhan, dan juga dengan potongan jari-jari manusia. Kepala manusia jatuh tepat dipaha Somchai yang merasa syok atas kejadian itu.
…
"Somchai! Somchai! Bangun!"
Somchai terbangun sambil melihat suara yang dibelakangnya, yang ternyata adalah Lien. Somchai lalu menjawab, "Ada apa, ya?"
"Bus kita berhenti di kapal feri. Kita keluar dulu yuk! Yang lain udah pada keluar semua kecuali kita dan sopirnya." Ajak Lien.
"Baiklah, ana." Ujar Somchai, 'Syukurlah. Itu hanyalah mimpi.'
Mereka segera keluar dari bus itu untuk menuju ke bagian buritan. Sesampainya di sana mereka berbincang-bincang seputar kehidupan mereka terutama kehidupan teman-teman mereka.
"Lien. Di rumahmu itu seperti apa, ya?"
"Hm… Rumahku itu bergaya oriental. Oh ya! Kamu 'kan belum pernah ke rumahku. Palingan aku keseringan ke rumahmu. Hehehe…" Jawab Lien tersenyum.
'Jarang-jarang ia tersenyum.' Pikir Somchai sedikit kagum.
"Kamu punya sepupu dari India 'kan?" Tanya Lien.
"Iya. Namanya Krishna." Jawab Somchai datar, "Krisna itu sukanya…"
"Ahem!" Suara Krishna sontak mengagetkan mereka berdua dari belakang, "Pasti Somchai mau bicarain kejelekanku 'kan?"
"Tidak, ana. Aku tadinya mau ngomongin kesukaanmu." Jawab Somchai tenang.
"Oh…" Kata Krishna, "Kita masuk ke dalam aja yuk!"
Mereka masuk ke dalam kapal feri tersebut dengan senang hati. Namun sesampainya di sana ada suara teriakan, "AAAAA!" Mereka bertiga segera ke arah sumber jeritan tersebut tepatnya ke arah kiri. Ternyata suara itu berasal dari ruang nahkoda. Krishna segera membuka pintu tersebut. Ia, Somchai, dan Lien segera memasuki ruangan itu. Terlihat salah seorang anak buah kapal pingsan. Krishna bertanya kepada nahkoda yang terlihat khawatir, "Pak von Bock. Mengapa Raivis menjadi begini?"
"… Ketika saya memasuki ruangan ini, anak buah saya berbicara sendiri dengan berkata, 'Wanita aneh! Jangan ganggu aku!" dan diulang lagi kalimat itu. Setelah itu ia mengamuk seperti orang gila dan ia pingsan." Jelas von Bock singkat namun khawatir.
"Oh…" Gumam Krishna.
"Toris. Tolong bawa dia ke ruang UKS." Suruh Krishna kepada anak buah kapal lain bernama Toris.
"Baik, Tuan Sharota." Jawab Toris datar. Ia menggendong Raivis yang pingsan tadi sambil keluar dari ruangan itu.
"Somchai. Kenapa dia dipanggil Tuan Sharota, sih?" Tanya Lien penasaran.
"Lien, Krishna itu anak pengusaha kapal ini tepatnya pamanku. Nama ayahnya adalah Rama Singh Sharota. Begitu…" Jelas Somchai singkat, 'Apakah orang yang bernama Raivis tadi mengalami hal yang sama sepertiku? Aneh…'
"Oh…" Gumam Lien.
"Somchai, Lien. Kita pergi dari sini." Ujar Krishna, "Pak von Bock. Saya dan teman-teman saya ingin keluar dulu. Sampai jumpa."
"Sampai jumpa." Pamit von Bock sedikit khawatir.
…
Mereka sekarang memasuki bus pariwisata itu dan duduk pada tempatnya masing-masing terutama Krishna duduk di depan bagian kanan pinggir dan juga duduk bersama Arthur yang berada di sebelahnya. Mereka berempat berbincang-bincang.
"Krishna, boleh gak aku minta nomor telepon dan PIN-mu?" Kata Arthur.
"Boleh." Krishna mengeluarkan smartphone miliknya dari saku jeans miliknya, "Nomorku 08xxxxxxx."
"Hm… ya." Kata Arthur sambil memegang smartphone milknya, "Lalu PIN-mu?"
"23xxxxx."
"Thank you, Krishna." Ucap Arthur senang.
"You're welcome, Arthur."
"Somchai, Krishna, Arthur. Boleh aku minta foto kalian?" Ujar Lien sambil mengeluarkan smartphone miliknya.
"Umh… Boleh saja kok." Jawab Somchai dan Krisna tenang.
"Jangan ambil gambarku, Bitch!" Bentak Arthur.
"Arthur, Jangan malu-malu. Berfotolah bersama mereka, OK?" Ujar Lien yang mengetahui sifat tsundere Arthur.
"B-Baiklah!" Jawab Arthur dengan muka memerah.
"Somchai! Duduklah di sana." Bimbing Lien sambil menunjuk ke arah tempat duduk Somchai, Krishna, dan Arthur, 'Ihihi… Threesome pairing nih! Krishna x Arthur x Somchai.'
Somchai segera duduk di antara Krishna dan Arthur. Lien juga segera duduk di tempat Somchai dn berkata, "Kalian siap, ya? 1, 2, 3, Cheese!"
…
Kini seluruh murid, guru, dan kepala sekolah yang ikut Study Tour tentunya sangat senang karena mereka telah sampai di Kota Vaduz di Liechtenstein. Mereka semua turun dari bus itu. Sekarang, mereka berada di pusat kota Vaduz. Tiba-tiba, ada sebuah kereta yang disebut city train mendatangi mereka dan berhenti. Seorang pengemudi City Train menyambut mereka dengan ramah. "Selamat datang di City Train! Nama saya Michel. Saya akan memandu anda keliling kota. Silahkan naik." Seluruh murid, guru, dan kepala sekolah Hetalia Academy naik ke dalam kereta itu, termasuk Somchai, Lien, Krishna, dan Arthur. City Train tersebut mulai berjalan. Mereka semua menikmati pemandangan luar dari jendela kereta itu. Beberapa saat kemudian, mereka melihat sebuah bangunan bernama Red House. Kereta itu berhenti. Seluruh murid bersorak senang ria sambil mengatakan 'Hooray' dan 'Yes'. Mereka semua termasuk pengemudi City Train turun dari kereta itu. Mereka masuk ke dalam Red House. Tepatnya gudang rumah itu. Di dalam gudang itu berisi 20.000 liter wine.
"Red House merupakan bangunan tertua di kota ini. Bla… Bla… Bla…" Jelas Michel panjang lebar.
"Wuih. Banyak banget wine itu! Seandainya aku sudah dewasa, aku akan-" Perkataan Arthur dipotong oleh Alfred, "Hey Arthur! Jangan mengkhayal seenaknya! Kamu 'kan masih remaja. Iya 'kan?"
"Diam, bloody git! Jangan berisik di sini! Malu, tahu!" Jawab Arthut dengan muka memerah.
"Oh gitu, ya." Ujar Alfred kecewa, "Yang lain pada mau keluar tuh. C'mon!"
"Tcih. Baiklah." Jawab Arthur ketus. Mereka semua termasuk Arthur dan Alfred keluar dari rumah itu. Mereka melihat bagian belakang rumah itu yang ternyata isinya alat pembuat wine. Michel menjelaskan, "Di sini merupakan tempat pembuat wine bla… bla… bla…"
"Oh… Jadi alat pembuat wine itu begini ya?" Kata Lien seakan-akan terkagum-kagum melihat alat pembuat wine tersebut.
"Iya," Ujar Somchai datar.
"Sekarang kita akan melihat Kastil Schloss dari sana. Akan tetapi, kalian tak bisa mengunjungi kastil itu karena kastil itu dihuni oleh keluarga Pangeran. Pangeran Hans Adam II dan Putri Marie menjalankan tahtanya di sana." Jelas Michel, "Mari kita ke perkebunan anggur milik Pangeran Herawingert."
Mereka semua pergi ke perkebunan anggur milik Pangeran Herawingert. Sesampainya di sana, Michel menjelaskan kepada mereka semua sambil mengelilingi kebun tersebut, "Kebun ini merupakan kebun anggur yang paling tradisional dan paling penting di Vaduz. Kebun ini dianggap sebagai jantung untuk produksi anggur kerajaan sejak tahun 1712. Sekarang, kebun ini milik Sang Pangeran. Di kebun ini ditemukan anggur yang berkualitas sangat baik. Setiap tetes anggur di sini sangat mahal sekali harganya sehingga petani yang ada di sini harus berhati-hati memerasnya."
"Oh…" Gumam Somchai, "Aku sangat senang berada di sini,"
"Ya. Begitu pula denganku." Kata Arthur tersenyum.
"Baiklah. Kalian masuk ke dalam City Train lagi. Kita akan berkeliling melihat pemandangan di Liechtenstein." Pandu Michel. Mereka semua segera masuk ke dalam kereta itu.
…
Somchai dan seluruh warga sekolah yang ikut Study Tour segera turun dari City Train. Wajah mereka terlihat sangat senang walaupun mereka lelah. Somchai berpikir bahwa perjalanan hari itu cukup mengesankan. Sesaat seluruhnya turun dari kereta itu, Michel berpamitan dengan mereka semua, "Saya menyudahi perjalanan ini. Sampai jumpa!" Ia dan kereta itu pergi dari tempat itu. Namun, kereta itu meledak tak jauh dari tempat itu. Hanya 3 meter. Sontak seluruhnya kaget mendengar ledakan itu. Bahkan Matthew yang merupakan sepupu Alfred pingsan. Alfred mencoba membangunkan sepupunya, "Mattie! Mattie! Bangun! Bangun!"
Namun tak ada hasilnya.
'Sialan!' Umpat Alfred, 'Mengapa Mattie bisa pingsan dalam keadaan ini?'
Seluruhnya melihat kejadian itu. Tiba-tiba, sebuah mobil pemadam kebakaran datang ke tempat itu. Mobil itu menyiram kereta yang terbakar itu. Polisi setempat juga datang ke tempat itu dan memeriksa kereta itu. Salah satu petugas polisi itu menemukan Michel yang tak bernyawa lagi. Dan juga datanglah ambulans. Kondisi tubuh Michel sudah nyaris hancur diantaranya terburai-burai dagingnya dengan darah yang mengucur, jantung dan paru-parunya yang hancur, ususnya terburai sampai mengeluarkan feces, dan potongan anggota tubuh seperti tengkorak yang terbelah menjadi dua dan begitu pula dengan kedua kaki dan lengannya. Di dalam tubuhnya ditemukan sebuah peledak. Dan juga sebuah 'pesan' yang ditulis di belakang peledak itu. Seluruhnya melihat tempat kejadian tersebut tetapi dihalangi oleh garis kuning. Keadaan Michel tersebut membuat hampir seluruh siswi muntah-muntah terkecuali Lien. Lien memang sudah terbiasa dengan hal seperti itu karena ia sering menonton gore movie. Bagian-bagian tubuh Mitchel dibungkus dengan kantung jenazah oleh petugas ambulans itu. Kantung jenazah itu kemudian dibawa ke dalam mobil ambulans.
Sementara itu, kepala petugas polisi yang melihat kondisi Michel itu menaruh peledak ke dalam kantung plastic berwarna hitam. Tiba-tiba, petugas itu dipanggil oleh rekannya, "Pak van Janssens. Apakah ada yang aneh dengan korban ini?"
"Ya. Di dalam tubuhnya itu terdapat peledak dan juga pesan di belakang peledak itu. Pesan itu adalah 'Somchai. Datanglah ke The House. Kami menunggumu. Dari Maria Beillschmidt.' Kita harus menyelidiki The House dan orang yang bernama Somchai dan Maria itu, Toni."
"Ah~ Andaikan Lovi sayangku ada di sini, aku akan lebih-" Ucapan Toni dipotong oleh van Janssens, "Kau jangan mengandai-andaikan hal itu. Kita ini sedang menyelidiki kasus ini, tahu!"
"Baiklah~ Fusososososo~"
…
Somchai yang masih ada di lokasi tersebut melihat kejadian itu dan bertanya kepada Romulus yang tadi berbicara dengan van Janssens tadi, "Pak Vargas. Apa yang dikatakan polisi itu tadi, ana?"
"Katanya, kau harus datang menghadapnya." Jawab Romulus datar.
"Baiklah. Saya akan menghadap-" Ucapan Somchai dipotong oleh van Janssens, "Kau yang namanya Somchai, ya?"
"Benar, Saya Somchai."
"Ikut aku."
Bersambung
Info :
1) Tempat wisata di Vaduz, Liechtenstein didapat dari hasil pencarian melalui om gugel. City Train adalah kereta wisata yang berada di pusat kota Vaduz, Liechtenstein
2) Bagi yang gak tahu siapa Toni itu, Toni itu Antonio alias Spain.
3) C'mon itu bahasa gaulnya American English (kalo gak salah) yang berarti Ayo!
.
Balasan Review :
Bunga-san : Uhm… Gaya penulisan saya memang begini (maaf) tapi saya berterima kasih atas kritikan anda (^_^)
shouta-warrior-san : Btw, Saya juga cukup muak dengan fanfic FHI yang kebanyakan genre Romance atau Drama. Tapi saya tetap menghormati karya-karya mereka kok (^ v ^)
.
Ah~ Saya terkena WB lagi selama liburan ke Palembang. Maaf ya, saya terlambat update karena hal yang tadi. Oh ya! Mohon maaf, saya akan terlambat update lagi dikarenakan adanya UN SMP tahun ini yang (T ^ T). Saya akan kembali ke FFn pada bulan Mei nanti. Sampai jumpa… *menangis terisak-isak* Di Arc 0 Chapter 3 ada pengumuman.
.
Silahkan review asalkan jangan flame yang tak membangun.
.
Tomato Bun (5 January 2013, final revision in 22 March 2015)
