Dream Delusion
.
Chapter 2 :
Ingatan-ingatan itu berkumpul.
Seperti setumpuk gelembung sabun yang lama kelamaan makin banyak.
Muncul perlahan ke permukaan dari dasar yang tidak diketahui yang mana.
Dan menutupi segalanya.
.
Character:
Yoon Doojoon
Jang Hyunseung
Yong Junhyung
Yang Yoseob
Lee Gikwang
Son Dongwoon
.
Genre:
Brothership, Family, Drama
.
Hyunseung hyung.
Dengan langkah tergesa Dongwoon berusaha mengejar pria yang sudah berjalan beberapa meter jauh didepannya. Panggilannya tidak digubris sama sekali. Beberapa kata umpatan melayang dibenak Dongwoon untuk hyung, teman satu tim, sekaligus temannya itu. Tapi tidak bisa.
Diantara putus-putus nafasnya saat ini, mengatai Hyungseung ditengah pengejaran –dan kerumunan banyak orang- orang adalah hal yang mustahil.
Jalanan Seoul hari ini terlalu ramai. Setidaknya menurut Dongwoon. Kenapa harus seramai ini ketika dia sibuk bermain kejaran dengan hyung tertua nomor 2 itu?
Dongwoon masih sibuk mengatur setiap alunan nafasnya, Hyunseung hyung makin jauh saja dari jangkauannya. Dari tempat Dongwoon berdiri, dapat dilihatnya Hyungsung dengan jeans ketat berwarna abu-abu dan kemeja putih panjang nyaris selutut –yang biasanya di pakai Junhyung- mencuat diantara jaket musim dinginnya yang berwarna biru laut. Sementara sepatu berwarna hijau yang dikenakan Hyunseung itu terlihat begitu timpang dengan segala pernak pernik yang pria itu kenakan.
Rambut berwarna abu-abu itu terlihat kentara sekali diantara orang-orang yang berlalu lalang dengan surai hitam khas penduduk timur ini. Tapi Dongwoon tidak peduli dengan semua itu. Satu-satunya hal yang memenuhinya sekarang adalah duduk bersama Hyunseung dan bertanya dengan segala cara, jika pemuda itu tidak mau diajak ngobrol dengan cakupan kata bahasa korea yang tenang. Bahkan pilihan untuk menelepon para hyungnya didorm atau siapapun –sekalipun mereka sedang sibuk mandi- untuk datang ke hadapan Dongwoon bersama Hyunseung yang tengah terikat dan menginterogasi dia secara sepihak.
Oke berlebihan. Tapi, Dongwoon merasa pikiran sehatnya entah melayang kemana. Intuisinya hanya mengatakan untuk menghentikan Hyunseung secepat mungkin.
Perasaannya mengatakan akan ada sesuatu yang fatal. Meskipun itu hanya berupa perasaan. Terlepas dari beberapa masalah kecil yang baru saja terjadi diantara mereka. Dongwoon bertaruh.
Dongwoon masih bertahan diposisinya setelah selesai mengatur nafasnya. Berdiam di tempat yang sama. Sementara kedua tangannya sibuk memasukkan jari-jemarinya lebih dalam ke mantel hitam yang sempat disambarnya sebelum merangsek menerobos jalanan mengejar Hyunseung. Dongwoon pasti akan diberikan nasihat dengan kalimat,
'Babo! kenapa kau keluar tanpa penyamaran? Kau ini seorang idol. Kau bukan manusia biasa.'
Pasti semacam itu. Mungkin dari Yoseob yang kelewat posesif padanya meski berstatus sebagai teman satu tim. Atau mungkin Gikwang yang kelewat sok khawatir untuk ukuran pemuda yang berumur kepala dua. Doojoon bahkan lebih parah. Dia akan langsung mengecek seluruh tubuh Dongwoon. Meraba-rabanya. Apakah ada yang salah dengan fisik orang tertinggi di grup mereka dan segera memberikan pertolong pertama sebisa mungkin.
Beberapa keping kejadian begitu rupa tersusun di kepala Dongwoon. Rongga kepalanya yang diisi dengan otak itu mulai kembali menimbang-nimbang apakah dia perlu untuk mengejar Hyunseung. Jika dipikirkan lagi, bukan kali pertama Hyunseung bertingkah seperti ini.
Dia selalu melarikan diri –atau menghilang sejenak- entah kemana ketika ada sesuatu yang mengganggunya. Lalu akan muncul ke lokasi pekerjaan, tepat sebelum perkerjaan mereka dimulai. Sukses membuat Dongwoon dan yang lain cemas dan bingung bukan kepalang.
Hari ini berbeda. Dongwoon tahu itu. Tapi apa?
Surai kecoklatan milik Dongwoon kini hanya tertiup beberapa lembaran angin.
Hyunseung masih terus didepannya berjalan dengan kecepatan sedang. Terserah dengan kebiasaan menghilang Hyunseung. Yang penting sekarang, Dongwoon harus mengejar Hyunseung.
"Hyung! Tunggu aku."
Bisik Dongwoon yang hanya terdengar olehnya. Sadar, sekarang dia berada di salah satu jalanan Seoul diantara banyak pejalan kaki. Bungsu BEAST tidak sebodoh itu untuk membuatnya terjerat dalam kesulitan terlepas diantara manusia yang beberapanya seperti begitu mengagumi mereka secara berlebihan.
Dipercepat langkahnya yang lebar-lebar. Mengejar Hyunseung yang sudah jauh di depannya. Ujung matanya kini sama sekali tidak mampu menunjukkan dimana Hyunseung.
Tapi, tak masalah. Berterima kasihlah pada warna rambut mencolok milik Hyunseung dan perasaan saudara yang begitu kuat milik Dongwoon.
Hampir sampai. Sedikit lagi, kini mereka hanya dipisahkan jarak beberapa meter.
Satu hal.
Kenapa Hyunseung yang hanya berjalan, bisa bergerak secepat ini sementara Dongwoon yang nyaris berlari kecil malah terengah-engah dan sama sekali tidak bisa menaruh salah satu telapak tangannya pada bahu Hyunseung yang penuh misteri itu?
"Hyung. Hyunseung hyung."
Ucap Dongwoon lagi. Tapi Hyunseung masih tidak menanggapi, tidak dengarkah dia?
Sepuluh meter di depan Dongwoon, Hyunseung ikut menyeberang. Lampu hijau untuk pejalan kaki. Tunggu. Sekarang sudah berwarna merah.
Apa yang di pikirkan oleh dia, sih?
Teriak Dongwoon dalam hati.
"Hyung!"
Hyunseung masih tidak mendengar. Dongwoon sudah berteriak keras.
"Hyunseung hyung!"
Teriaknya lagi. Tapi percuma. Hyunseung masih berjalan dengan santainya sementara pejalan kaki yang lain sudah berlari keseberang jalan yang satunya lagi.
Dari kejahuan sebuah mobil truk berwarna putih melaju dengan kecepatan kencang. Dongwoon terlalu jauh. Sebagus apapun rekornya dalam berlari, mustahil sekali untuk bisa berlari ke tengah jalan dan menarik Hyunseung. Sekarang teriakan Dongwoon makin kencang.
"Hyung!"
Sama sekali tidak digubris. Para pejalan kaki lainnya juga turut sibuk mengingatkan Hyunseung, untuk cepat kembali ke ujung jalan. Entah apa yang berkeliaran di labirin pikirannya. Hyunseung membuat orang cemas.
Detik-detik berikutnya, semua terasa berat. Ingin sekali Dongwoon bisa menghentikan waktu barang satu menit saja untuk –membatalkan takdir yang akan terjadi- lalu berlari ketengah jalan. Tapi itu tidak mungkin. Mustahil.
Tepat ketika langkah kaki Dongwoon tiba di ujung jalan, tubuh ringkih dihadapannya tertabrak. Dan semua merah.
Gerutu Dongwoon berjuta untuk Tuhan. Kenapa ini harus terjadi pada Hyunseung?
Dengan langkah ragu, didekatinya dimana Hyunseung tergeletak. Sekarang Hyunseung hyungnya bercecer darah. Merah menjadi warnanya sekarang. Itulah kenapa Dongwoon menolak dan menentang mentah-mentah, hingga melarang Hyunseung memakai warna merah untuk rambutnya tempo hari. Karena Dongwoon mempunyai perasaan buruk untuk itu. Hari ini terbukti.
Dari jarak dua meter ini semua terlihat begitu jelas. Truk putih itu sebisa mungkin menghentikan laju kendaraannya dalam kalut sang pengemudi. Namun itu terlalu sulit, kendaraan putih itu masih bergerak. Derit ban dan aspal timbul karena gerakan hentian paksa dari rem. Kini, Dongwoon mendapat senggolan dari truk itu yang juga sukses membuatnya terpental hingga mendarat beberapa meter disamping Hyunseung. Di sudut matanya terlihat Hyunseung yang bersimbah merah, kemeja putihnya dalam pengelihatan Dongwoon kini berubah merah.
Rasa sakit yang hadir mendadak pada pikirannya sama sekali terabaikan. Rasa sakitnya lebih pada hatinya. Dihadapannya yang juga hanya bisa tergeletak disamping Hyungseung. Menyaksikan tarikan nafas terakhir Hyunseung yang baru saja menyampaikan senyum diantara sengalnya.
Diiringi suara teriak penuh para saksi, beberapa orang yang sibuk menelepon 911.
Secara mendadak, Dongwoon disesaki perasaan yang tidak mampu ia terjemahkan. Detak jantungnya meningkat. Segala sesuatu yang dia saksikan ini terlalu cepat dan tidak bisa dia olah. Kenapa? Mengapa? Siapa?
Tubuhnya tersentak begitu rupa. Meskipun pandangannya tidak bisa di alihkan dari Hyunseung yang sudah menutup mata. Sesuatu yang mengalir dipipinya, yang Dongwoon yakini adalah air matanya. Tubuhnya bergetar hebat. Sebisa mungkin memerintahkan seluruh anggota tubuhnya mendekat ke Hyunseung meski percuma. Dia ingin teriak tapi tidak bisa. Diiringgi derap langkah yang makin dekat dengannya, perlahan, kesadaran Dongwoon ditarik paksa kedalam tempat yang gelap.
Salah satu persimpangan jalan di Seoul hari ini mendadak macet. Ramai menatap betapa mengerikannya kecelakan yang terjadi barusan. Sebagus apapun sistem yang dimiliki suatu negara, kemungkinan terburuk masih tetap ada.
.
...
.
Dongwoon tersentak bangun. Berteriak.
Hal pertama yang mampu ditangkap pengelihatannya adalah langit-langit ruangan yang tidak dia kenali. Ruangan ini terang. Dongwoon sendirian. Bau menyengat alkohol medis tertangkap jelas dari udara disekitarnya. Dongwoon berusaha menggerakkan tangan kanannya, namun sebuah rasa nyeri pada ujung menghentikannya. Dapat dilihatnya sebuah selang infus di lengan bawahnya.
Detak jantungnya semakin cepat. Beberapa mesin rumit disampingnya juga mengikuti dan berbunyi semakin cepat disetiap pertambahan yang terjadi.
'Apa yang terjadi? Dimana aku?'
Bagian kepala Dongwoon terasa sakit dan berdenyut. Ada rasa nyeri tak berkesudahan yang merayap di situ. Dengan salah satu tangannya yang bebas, Dongwoon mengangkat lengannya sambil menyentuh kulit kepalanya dengan hati-hati.
Di balik rambut kusutnya, mampu Dongwoon rasakan beberapa bekas yang diyakini berupa bekas luka.
Dia memejamkan mata. Mengatur nafasnya yang terasa mulai sesak. Berusaha mengingat-ingat kecelakaan.
Tidak ada apapun. Kosong.
Pikirkan.
Hanya gelap yang mampu Dongwoon temukan. Berusaha Dongwoon mengingat apa yang dilewatkannya dan bagaimana dia bisa ditempat yang tidak asing ini.
Seorang pria berseragam operasi –warna hijau- bergegas masuk. Tampaknya terpanggil akibat mendapatkan peringatan dari monitor jantung milik Dongwoon yang berbunyi cepat. Tinggi 176 cm, berkumis. Bermata lembut dengan iris kecoklatan berbingkai kacamata dengan frame hitam yang memancarkan ketenangan mendalam.
"Apa yang terjadi padaku?"
Tanya Dongwoon.
"Apakah aku mengalami kecelakaan?"
Tanya Dongwoon lagi. Tapi seingatnya, ia tidak mengendarai mobil selama nyaris 1 bulan. Jadi bagaimana bisa ia mengalami kecelakaan?
Lelaki dengan kacamata itu memberikan isyarat untuk diam dengan meletakkan jari telunjuknya didepan bibir. Kemudian bergegas keluar. Memanggil seseorang.
Dongwoon berusaha menoleh menyaksikan apa yang hendak dilakukan pria yang Dongwoon percaya sebagai seorang dokter. Tapi gerakan itu mengirimnya rasa sakit keseluruh bagian kepalanya.
Diambilnya opsi untuk mengamati keadaan sekitarnya dari zona yang membuatnya mengurangi rasa sakit yang dideritanya itu.
Kamar rumah sakit yang Dongwoon tempati hanya memiliki satu ranjang –yang sekarang tengah Dongwoon pakai-. Tidak ada bunga bahkan kartu ucapan. Bercat putih. Dikanan kirinya terdapat beberapa alat yang dia kenali tapi tidak mengetahui apa namanya. Dia sendirian. Beberapa saat kemudian sang dokter berkacamata tadi belum juga tiba dan membuat Dongwoon terus melakukan kemungkinan yang tejadi. Sadar, kini dia juga mengguakan semacam alat bantu pernafasan terpasang menutupi hidung dan mulutnya.
Apakah ini ruang ICU?
Batinnya bertanya. Seumur hidupnya, setidaknya ia pernah bertandang keruangan semacam ini untuk dua kali. Kenangan yang tidak menyenangkan mengenai rumah sakit membuatnya terus mengingat bagaimana ruangan ini. Meskipun dia belum menyakini hal itu.
Kini, Dongwoon memutar kepalanya perlahan-lahan ke arah jendela besar yang ada di samping kirinya. Di luar gelap. Malam. Yang bisa di lihatnya hanyalah pantulan dirinya –yang begitu menyedihkan- samar yang terlihat pucat, letih, lesu, tersambung berbagai selang kabel, dikelilingi peralatan medis.
Suara-suara mendekat dilorong, dan Dongwoon kembali mengarahkan pandangan ke dalam kamar. Menatap satu-satunya pintu masuk yang berwarna putih. Dokter itu kembali, bersama seorang perempuan.
Berpakaian sama seperti dokter itu, setelan jas putih khas para penyembuh yang berkeliaran di rumah sakit. Rambutnya yang diikat kuncir kuda membuat gerakan terayun ketika melakukan tiap gerakan.
"Saya dr. Wei Liu." kata perempuan itu sambil terseyum pada Dongwoon yang masih menatapnya penuh tanya.
"Saya bertugas bersama dr. Shin malam ini."
Dongwoon hanya bisa memberikan anggukan lemah. Beberapa kalimat yang ingin ditanyakannya mulai menguar diantara pikirannya yang mulai terbiasa.
dr. Wei Liu, yang jangkung –untuk ukuran seorang perempuan, 177 cm- bergerak dengan langkah cepat. Memeriksa dan sepertinya menganalisa berbagai alat bersama sebuah catatan ditangan kanannya.
Meski terlihat muda untuk pekerjaannya sebagai seorang dokter –di taksir Dongwoon umur tidak lewat dari 30 tahun- dia terlihat begitu berpengalamann dengan segala gerak-geriknya.
"Saya yang menangani dan bertanggung jawab tentang keadaanmu selama dirumah sakit ini."
Jelas perempuan itu sambil duduk disamping Dongwoon.
"Gomawo..."
Jawab Dongwoon dengan suara parau. dr. Liu mulai beranjak berdiri dan menatap Dongwoon, memulai pekerjaannya.
"Oke." Nada suaranya berubah resmi.
"Siapa nama anda?"
Perlu beberapa saat untuk Dongwoon menjawabnya.
"Son... Dongwoon."
Dr. Liu mengarahkan senter pena ke mata Dongwoon.
"Pekerjaan?"
Informasi untuk jawaban ini bahkan muncul dalam waktu lebih lama lagi.
"Artis. Tergabung dalam grub yang bernama...BEAST. Di bawah manajement Cube."
Dr. Liu menurunkan senternya, tampak terkejut. Dokter yang berkacamata itu juga melakukan ekspresi yang sama.
"Ada rasa nyeri?"
"Kepala ku, sepertinya."
Jawab Dongwoon. Seluruh kepalanya berdenyut-denyut makin parah ketika senter yang terang itu mampir pada matanya. Untungnya dr. Liu sudah menyingkirkan senter pena itu dan memasukkan ke saku jas putih dokternya dan meraih pergelangan tangan Dongwoon. Memeriksa denyut nadinya.
"Anda terjaga sambil berteriak." kata perempuan itu. "Anda ingat mengapa?"
Kembali Dongwoon berusaha mengingat dan menggali apapun di sisa memorinya. Hanya gelap.
"Tidak. Hanya warna hitam dan beberapa bercak merah."
Ekspresi dr. Liu masih sama seperti sebelumnya, netral dan menuliskan segala sesuatu yang dikatakan pasiennya pada papan klip.
"Tahukah anda, apa kemungkinan yang menyebakan anda melihat hal semacam itu?"
Dongwoon menjelajahi pikirannya, lalu menggelengkan kepalanya yang kemudian berdentam-dentam memrotes kerja yang di paksakan.
"Tuan Son." kata dr. Liu lagi yang masih menuliskan entah apa itu. "Ada beberapa pertanyaan rutin untuk anda. Ingat ini hari apa?"
Dongwoon berfikir sejenak.
"Rabu. Saya ingat berjalan ke sebuah supermarket sendirian. Berjalan melintasi gedung latihan menuju dapur asrama...hanya itu yang saya ingat. Apakah saya terjatuh?"
"Kita akan membahasnya nanti. Anda tahu dimana anda berada?"
Dongwoon menyiapkan jawaban terbaik yang bisa di temukan pikirannya.
"Rumah Sakit Umum Seoul. Ruang ICU."
Dr. Liu kembali mencatat.
"Tuang Son, ketika anda tiba, anda terus-menerus mengucapkan sesuatu."
Dongwoon melirik dr. Shin yang memegang perekam digital dan kemudian menekan salah satu tombolnya.
Rekaman itu mulai di putar dan terus-menerus memperdengarkan suara yang sama. Suara Dongwoon yang terus mengatakan: "Hyun...hyung. hyun...hyung"
"Kedengarannya, anda seperti mengatakan, 'hyung. Hyung'"
Dongwoon setuju dengan hal itu, tapi dia sama sekali tidak ingat. Dr. Liu memandang Dongwoon dengan tatapan tajam yang membuat Dongwoon resah.
"Apakah anda tahu mengapa anda mengatakan seperti itu? Apakah anda menyesali sesuatu?"
Secepat kalimat itu dilafalkan, jutaan neutron di otak Dongwoon dengan segera menjelajahi setiap jengkal pikirannya. Menggali ingatan yang mungkin terlewatkan. Sekali lagi, bayangan hitam dan beberapa bercak merah. Kali ini beda. Ada gambaran baru dalam pikirannya. Dongwoon mengejar seseorang. Dingin yang menusuk-nusuk kulit mampu ia rasakan.
Dongwoon dikuasai insting mendadak mengenai rasa takut. Untuk dirinya sendiri dan beberapa orang yang tidak dia ketahui siapa. Bunyi monitor jantungnya meningkat pesat. Otot-otot tubuhnya menegang dan berusaha bangkit untuk duduk.
Dengan segera dr. Liu meletakkan tanggannya di dada Dongwoon, memaksanya berbaring kembali. Sudut matanya melirik dokter berkacamata itu yang sedang berjalan menuju meja yang ada di ruangan ini dan mulai menyiapkan sesuatu.
Memastikan pasiennya dalam keadaan baik adalah tugas utama seorang dokter. Dr. Liu mendekatkan tubuhnya ke Dongwoon dan berbisik,
"Tuan Son, kecemasan adalah sesuatu yang wajar dalam cedera otak. Walaupun begitu anda harus mempertahankan detak jantung anda. Berbaring diam dan beristirahat saja. Anda akan baik-baik saja. Ingatan anda akan pulih secara perlahan-lahan."
Kini dr. Shin hadir di samping dr. Liu membawa alat semacam suntik yang kemudian diserahkan kepada dr. Liu. Perempuan itu menginjeksikannya ke dalam infus Dongwoon.
"Hanya obat penenang dan pengurang rasa sakit."
Dr. Liu berdiri hendak pergi.
"Anda akan baik-baik saja, Tuan Son Dongwoon. Tidur saja. Jika anda membutuhkan sesuatu, silakan tekan tompol di samping ranjang anda. Akan ada seorang perawat yang mengecek keadaan anda setiap jam."
Dr. Liu mematikan lampu dan menutup pintu dengan tangan kanannya.
...
TBC
Catatan : Wei Liu : dibaca Wei Ryu.
A/N:
Hai hai hai.. kembali bawa lanjutan Dream delusion. Karena secara pribadi aku penasaran bagaimana jika cerita ini di lanjutkan.
Sepertinya chapter ini begitu membosankan, ne? Karena hanya dari sudut pandang Dongwoon saja. Hyunseung juga Cuma nyempil sedikit, itupun berdasarkan narasi doang. Gimana? Apakah ff ini terasa? Ada yang kurang? Typo? Mian. Aku masih belajar. Hehehe *alasan*
Aku akan berusaha memberikan yang terbaik untuk kelanjutan ff ini. Apa lagi bulan ini aku dalam keadaan yang sedikit bebas.
Terima kasih telah menyempatkan diri untuk membaca ff ini dan memberikan komentar. Para Guest (Keyna) dan yang login (hatakehanahungry dan zyeLna VIPELF).
Aku tidak mempermasalahkan tentang silent reader, tapi setidaknya, tolong berikan apresiasi untuk karya sederhana ini. Flame juga di terima jika ada yang mau kasih. Aku terima semuanya. Semuanya...
(curhatnya panjang banget)
review, ne? *senyum bareng Yoseob*
