Naruto © Masashi Kishimoto
Warning: AU, OOC (Naruto-fans, back off~! He is a very BAD person here! *kicked-to-hell*)
…
Keesokan harinya Sakura mengacuhkannya di kelas. Tidak mau membalas sapaan selamat paginya, tidak mau melihatnya sama sekali. Gadis itu tidak menganggap keberadaannya sama sekali.
Ia hanya menghela nafas dan memutuskan untuk tidak peduli dengan sikap Sakura. Ia juga tidak akan peduli kalau gadis itu menceritakan kejadian semalam pada Naruto, karena apa yang ia katakan adalah kebenaran. Hanya Sakura sendiri yang menutup mata akan hal itu.
Tapi sepertinya ia tidak mengatakan apa pun pada Naruto. Pemuda itu masih menyapanya dan mengobrol dengannya tentang segala sesuatu yang tidak penting, terutama tentang pacar-pacarnya yang lain. Benar saja, kemarin dia memang menghabiskan waktu dengan salah satu pacarnya di kafe. Dan ia tidak tahu kalau kemarin Sakura berada di luar sendirian saat hujan.
"Kemarin kami menghabiskan hari yang dingin bersama. Mendengarkan live musik di sebuah kafe di tengah melodi hujan, bergandengan tangan. Harus kuakui, belum pernah aku bersikap romantis seperti itu pada siapa pun Sasuke." Naruto tertawa, ia pun meneruskan memakan bekal yang Sakura buatkan untuknya. Nasi goreng rasa ramen. Rupanya gadis itu tahu apa kesukaan Naruto.
Dan kau tidak tahu pacarmu yang cerdas itu kedinginan di tengah hujan, batin Sasuke. Ia tidak akan memberitahu Naruto. Tidak ada untungnya melakukan hal itu. Hanya membuang waktunya saja.
"Sepertinya hubunganmu dan Haruno berjalan dengan baik?"
"Ah, iya. Tentu saja. Gadis itu terlalu polos, Sasuke! Tempat yang ia tahu di sekolah hanya ruang kelas dan perpustakaan! Aku sangat yakin ia bahkan tidak akan tahu kalau aku mengencani Tenten yang duduk di belakangnya!" Lagi-lagi ia tertawa, hanya berhenti untuk menelan makanannya.
"Tapi aku beruntung, Sasuke. Baik sekali kan dia sampai membuatkanku bekal? Dia membuatku bisa menyimpan uang jajanku untuk kencan selanjutnya dengan Ino!"
Orang ini gila.
Awalnya ia sempat percaya kalau Naruto benar-benar jatuh cinta pada si peringkat dua itu. Tidak biasanya ia menyukai gadis dengan ukuran dada biasa saja seperti Haruno. Ternyata memang benar, ia hanya sedang bosan dan ingin mengubah suasana saja. Berpacaran dengan gadis manis dan cerdas macam dia cukup menguntungkan. Memangnya siapa yang meminjami pekerjaan rumah pada Naruto? Siapa yang membatunya menyelesaikan laporan praktikum? Siapa yang melakukan penelitian untuk tugas Fisika? Siapa yang membuatkannya bekal?
Siapa lagi kalau bukan Haruno-baka itu?
Sasuke sampai gemas dibuatnya. Bahkan semua orang tahu apa yang Naruto lakukan kalau tidak ada Haruno. Dia menggoda hampir semua anak sekelas, meski pun mereka tidak ambil pusing dengan perbuatannya. Tidak juga mengatakan pada Haruno. Karena sudah seharusnya ia tahu tentang belangnya Naruto.
"Kenapa kau tidak memutuskannya saja?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja.
"Kenapa? Masih banyak yang bisa kumanfaatkan darinya, Sasuke! Selama ia tidak keberatan, kenapa tidak? Sayang sekali kalau aku melepasnya begitu saja. Tapi kalau memang dia minta putus, aku akan memutuskannya saat ini juga. Terserah dia saja sih," Naruto mengangkat bahu.
Jadi fungsi Haruno hanya itu? Kau manfaatkan sesuka hatimu?
Sasuke menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak akan mengambil tindakan apa pun. Ia sudah memperingatkan gadis itu, tapi ia malah menilai Sasuke menusuk teman sendiri. Lihat saja, suatu saat nanti ia akan sadar siapa yang menusuk siapa!
Pintu yang membawa ke atap terbuka. Orang yang menjadi topik pembicaraan Sasuke dan Naruto itu berjalan ke arah mereka. Senyuman Naruto mengembang, ia melambaikan tangannya menyambut salah satu pacarnya.
"Sakura!"
Gadis itu menganggukkan kepalanya dan tersenyum, duduk di sebelah Naruto. Tanpa sekilas pun melihat ke arah Sasuke. Ia benar-benar tidak menganggap keberadaan pemuda berambut pantat ayam itu.
"Sudah selesai mengerjakan tugas untuk pelajaran selanjutnya?" Naruto bertanya, melingkarkan tangannya ke pinggang Sakura.
"Sudah."
"Gadis pintar! Kau memang kekasihku yang paling hebat~!" Tanpa mempedulikan Sasuke di depan mereka, Naruto memiringkan kepalanya dan mengecup bibir Sakura dengan cepat.
Ia begitu terkejut dengan tindakan Naruto barusan dan mukanya langsung merona merah. Begitu kontras dengan warna pucat yang biasanya. Sasuke juga terkejut, tapi ia tidak berkomentar apa-apa.
"Na-Naruto…" Ia berusaha menyembunyikan mukanya yang memerah, menutupi mulutnya.
Naruto menggunakan tangan kirinya untuk mengelus rambut merah muda Sakura yang berkilauan memantulkan cahaya matahari.
"Ciuman pertamamu? Kita melakukannya di depan Sasuke! Kau juga akan jadi saksi untuk yang kedua, Sasuke!" seru Naruto senang. Ia menarik tangan Sakura yang menutupi mulutnya dan kembali mengecup bibir gadis itu. Kali ini dengan sedikit paksaan karena Sakura terlihat memberontak.
Sasuke berdecak pelan.
Orang ini benar-benar gila.
Bagaimana bisa ia mencuri ciuman pertama seorang gadis semudah itu? Dan melakukannya lagi untuk kedua kalinya, dengan orang lain di depannya?
Setelah beberapa saat Naruto pun menarik diri, meninggalkan Sakura yang berusaha mengumpulkan nafasnya kembali. Muka gadis itu sudah seperti kepiting rebus. Kalau mungkin, asap akan mengepul dari kedua telinganya. Naruto keterlaluan sekali.
"Lihat, mukamu memerah, Sayang! Kau manis sekali!" Naruto mengacak Sakura yang panjangnya sebahu dan mengecup pipinya yang memerah. Sekarang bukan cuma Sakura, Naruto pun menganggapnya tidak ada.
Sasuke mengalihkan pandangannya dari tontonan di hadapannya, Naruto lagi-lagi mencium Sakura. Tanpa peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Bukan hanya mereka bertiga saja yang makan siang di atap sekolah!
Ia mengepalkan tangannya. Rasanya ingin meninju Naruto tepat mengenai mukanya dan membuatnya menghentikan semua tingkah kurang ajarnya ini. Dadanya terasa sesak melihatnya.
…
Beberapa hari setelah kejadian memalukan di atap.
Sekarang setiap orang akan berbisik-bisik tiap kali melihat Sakura. Lebih tepatnya tiap kali melihat Sakura sendirian. Karena mereka tidak berani berkomentar apa pun kalau ia bersama dengan Naruto. Bukan sesuatu yang menyenangkan, bahkan sangat mengganggunya. Ia tidak suka jadi pusat perhatian, tidak suka jadi bahan omongan. Tapi tidak ada yang bisa ia lakukan untuk membuat mereka diam. Ia pun memutuskan untuk tidak peduli.
Sudah beberapa hari pula ia menghindari Sasuke. Sama sekali tidak mau bahkan sekedar membangun kontak mata dengan sepasang mata onyx yang tajam itu. Sasuke juga terlihat tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Tidak lagi berusaha untuk menyapanya seperti saat hari pertama ia mengacuhkannya. Mungkin begini lebih baik, karena dengan begini Sasuke juga tidak bisa berkomentar tentang kejadian di atap waktu itu.
Kegiatan belajar mengajar sudah berakhir sejak satu jam yang lalu. Sekolah sudah sepi dan hanya beberapa siswa yang masih sibuk dengan kegiatan klub tertentu. Sakura melemparkan pandangannya ke luar jendela, memandangi langit dengan semburat keemasan yang indah.
Di atas mejanya adalah buku tugas dengan nama Naruto Uzumaki tertera di depannya. Ia baru saja menyelesaikan pekerjaan rumah Naruto. Kalkulus yang rumit, tapi tidak cukup rumit untuknya.
Apa yang ia lakukan? Kenapa ia melakukan semua ini?
Ini kan untuk Naruto-kun, ia berbisik dalam hati. Tersenyum, meyakinkan dirinya sendiri kalau inilah caranya mencintai Naruto. Caranya menunjukkan rasa terima kasihnya atas semua kebahagiaan dan waktu yang menyenangkan yang sudah Naruto berikan untuknya.
Senyumannya memudar. Tapi mengapa ia merasa ini semua tidak benar?
Sakura kembali teringat pada kata-kata Sasuke.
Aku hanya tidak ingin dia mempermainkanmu.
Apakah benar Naruto hanya mempermainkannya?
Tapi ia bilang menyukainya…
Dan ia juga yang sudah membuatnya bahagia selama ini. Tidak mungkin kalau Naruto hanya mempermainkannya. Ia pun meyakinkan dirinya lagi, setiap orang punya cara masing-masing untuk menunjukkan rasa cinta mereka. Dan inilah cara Naruto menunjukkan cintanya pada Sakura.
Dengan apa?
Dengan membuatnya tersenyum bahagia sepanjang hari. Sesuatu yang sebelumnya belum pernah ia rasakan. Perasaan yang hangat, seperti sinar matahari pagi yang bersahabat. Sesuatu yang memenuhi dadanya, seperti permen kapas yang manis dan lembut. Ia belum pernah merasakan semua ini. Rasanya ia ingin terus membuat Naruto bahagia, seperti bagaimana ia telah membuatnya bahagia juga. Perasaan ini timbal balik, kan?
Sakura tersenyum.
Mengapa ia meragukan Naruto? Padahal terbukti hanya bersamanyalah ia bahagia.
Keraguan itu tidak pada tempatnya. Ia yakin Naruto menyukainya, seperti ia menyukai Naruto.
"Sakura?"
Ia menolehkan kepalanya. "Naruto-kun?"
Pemuda berambut kuning itu berjalan ke arahnya. "Kau belum pulang?"
Sakura menggelengkan kepalanya. Saat Naruto menarik salah satu kursi dan duduk di sampingnya, ia pun memandangi sepasang matanya dan tersenyum manis. Membuat Naruto mengangkat kedua alisnya dengan isyarat tanya. "Ada apa?"
Lagi-lagi ia menggelengkan kepalanya. "Naruto, terima kasih. Aku sangat bahagia…"
Mendengarnya, Naruto terdiam. Keheningan di antara mereka adalah sesuatu yang nyaman. Sayup-sayup terdengar alunan piano dari ruang musik.
Tak lama kemudian ia pun mengukir seulas senyum. Tangannya menggenggam tangan Sakura dan mengusapnya dengan sayang. "Aku juga bahagia."
Naruto mengangkat dagu Sakura dan perlahan mendekatkan wajahnya, kemudian mengecup bibir tipis Sakura dalam. Gadis itu tidak memberontak, ia membalas ciuman Naruto.
Saat sedang menikmati bagaimana bibir keduanya berpagutan, mereka tidak menyadari keberadaan Sasuke yang menyandarkan badannya di balik pintu kelas.
