Ohayou/Konnichiwa/Konbanwa! Terima kasih karena sudah nge-review/favorite/follow cerita ini! owo
Maaf kalo chapter yang ini agak pendek dan terburu-buru, i tried my best TwT
I don't own Cardfight! Vanguard. Saran dan perbaikan sangat dibutuhkan owo
Update (14/9/2013) : terima kasih pada Furecchu yang udah nunjukkin typo~ XD
-Chapter I-1 : My Best Friends-
The Last Chance
'Dia' melihat seorang laki-laki. Laki-laki itu terbaring diatas tempat tidur. Matanya tertutup, tertidur dengan pulas. Mimpi apa yang sedang dilihat laki-laki yang tengah tertidur ini? Apakah dia sedang melihat mimpi indah sehingga dia tidak ingin terbangun?
'Dia' tidak mengetahui sudah berapa lama 'ia' memandangi sosok tertidur dari laki-laki ini. Yang 'dia' ketahui, laki-laki ini telah tertidur sangat lama.
'Dia' merindukan laki-laki ini. 'Dia' ingin melihat senyum laki-laki ini. 'Dia' menginginkan laki-laki ini.
Kemudian, 'dia' membuat sebuah harapan…
…chi!"
Mata Aichi terbuka perlahan begitu mendengar panggilan adiknya dari lantai bawah. Dia tidak langsung bangkit dari tempat tidurnya, namun memandang langit-langit kamarnya yang gelap. Seperti kemarin, dia terbangun setelah melihat mimpi aneh.
Namun mimpi kali ini berbeda.
Bahkan perasaan sedihnya tidak menghilang ketika Emi masuk kedalam kamarnya dan menyeretnya keluar dari kamarnya.
'Dia' berdiri di hadapan seorang laki-laki; laki-laki yang mengenakan baju baja berwarna putih. Di tangannya, dia memegang sebuah pedang yang berwarna putih. Mata hijau tosca laki-laki itu memandang'nya' dengan tatapan kosong, namun 'dia' dapat melihat seberkas kesedihan dan kesepian disana.
…Bukankah seharusnya kita bertarung bersama?
Pertanyaan itu tidak pernah terjawab. Laki-laki itu mengangkat pedangnya, kemudian mengayunkannya kearah'nya'.
Aichi membuka matanya perlahan. Matanya masih berusaha untuk menyesuaikan dengan cahaya dalam ruangan yang terang. Dia berkedip sekali, dua kali, sebelum akhirnya dapat membuka matanya dan kemudian menguap.
Dia berada di ruang yang tidak asing; ruang kelas. Papan putih di depan penuh dengan angka-angka yang tidak ia mengerti. Hamparan meja dan kursi di sekelilingnya sudah kosong, kecuali kursi di depannya yang diduduki oleh seseorang, yang tidak lain adalah sahabatnya, Katsumi Morikawa dan Yuuta Izaki yang berdiri di samping Morikawa.
"…Jarang sekali kau tertidur di tengah pelajaran." Izaki berkata tiba-tiba, memiringkan kepalanya dengan bingung ke arah Aichi. "Apa kau belajar semalaman?"
Morikawa menyeringai lebar sambil tertawa pelan, "Kau tahu, Yuuki-sensei tadi memanggilmu dan langsung marah-marah ketika melihatmu tidur!"
"B-Benarkah?" Yuuki-sensei, guru matematika yang terkenal galak dan ditakuti seluruh siswa SMP Hitsue. Wajar saja Aichi takut jika sudah dibenci oleh guru seperti itu, belum lagi nilai matematika Aichi yang tipis berada di atas rata-rata.
"Heheh, dari tadi kau tertidur terus, kau beruntung aku memutuskan untuk maju dan—" Morikawa tidak sempat menyelesaikan kata-katanya, Izaki langsung memukul kepala laki-laki berambut hitam berantakan itu.
"Jangan percaya padanya," Izaki mendesah pelan, lalu menoleh kembali pada Morikawa. "Bukankah ada yang ingin kau katakan pada Aichi?"
Morikawa terlihat kesulitan. Mata abu-abunya yang biasa memancarkan semangat menghilang sementara, sebelum berubah menjadi serius.
"Aichi... Aku… minta maaf soal yang kemarin."
Kemarin. Aichi mengingat tentang laki-laki misterius itu; Toshiki Kai. Segala tentang laki-laki itu tampak misterius bagi Aichi. Mengingat laki-laki itu… membuat Aichi teringat akan perasaan anehnya; perasaan seolah mereka pernah bertemu sebelumnya, sangat dekat, malah. Di satu sisi, dia merasa bahagia bertemu dengan laki-laki berambut cokelat itu, namun di sisi lain, dia merasa kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa mengingat orang itu.
Tanpa sadar, Aichi menggumamkan nama laki-laki itu, dan terdengar oleh kedua sahabatnya.
"Orang yang misterius." Komentar Izaki. Laki-laki berambut cokelat keriting itu menggigit bibir bawahnya seolah tengah berpikir. Namun akhirnya menyerah dan mengalihkan pembicaraan, "Apa yang kalian bicarakan kemarin?"
"E-Eh?" Aichi mendongak, kemudian melirik Morikawa, yang sepertinya tidak ingin melanjutkan pembicaraan tadi, sebelum menjawab, "Dia menyuruhku untuk tidak bermain Vanguard…"
"HEEE?!" Cahaya kembali ke mata laki-laki berwajah ganas yang sejak tadi murung. Matanya melotot, terkejut. "AKU BARU SAJA INGIN MENGAJAKMU BERMAIN!"
Aichi mengangkat bahunya dengan acuh, kemudian mengumpulkan barang-barangnya dan memasukkan mereka kedalam tas. "Aku harus pulang. Emi pasti marah-marah jika aku pulang terlam—" Tiba-tiba, Morikawa menahan tangan Aichi yang hendak memungut salah satu bukunya.
"Tidak secepat itu! Ayo kita ke Card Capital!"
"E-Eh?! Tidak bisa, Morikawa-kun! Aku harus segera—"
"Izaki! Bantu aku!"
Izaki, yang terlihat tertarik dengan ide Morikawa, mengambil tas Aichi.
"Yosh! Ayo kita pergi ke Card Capital!" Morikawa mengumumkan sambil meninju udara dengan semangat. Sambil tertawa, Morikawa menyeret Aichi yang masih berusaha melepaskan diri, dan Izaki memegangi tas Aichi, berjalan dibelakang mereka.
Tidak lama kemudian, mereka sudah ada di Card Capital.
Aichi mendesah pelan. Morikawa sedang memilih booster yang tertata rapi di meja kasir sambil menggumamkan sesuatu yang tidak ia mengerti. Izaki berdiri dibelakangnya, seolah berusaha supaya Aichi tidak kabur. Benar-benar keras kepala, kedua sahabatnya ini, batin Aichi sambil memandangi para pemain yang sedang bermain Vanguard di daerah bertarung.
Aichi tidak pernah tertarik dengan Vanguard, maupun permainan kartu yang sering dimainkan oleh laki-laki seusianya. Tidak. Aichi selalu sibuk melarikan diri dari kerasnya dunia luar, melindungi dirinya sendiri dalam kotak sempit buatannya. Namun, setelah ibunya meninggal beberapa tahun yang lalu, kotak itu seolah hancur. Pikirannya makin tidak stabil karena tekanan kesedihan dan kesepian, bahkan dia sempat berusaha membunuh dirinya sendiri, namun, sayangnya, gagal.
Namun semua itu berubah ketika Aichi bertemu Morikawa dan Izaki, 2 tahun lalu.
Laki-laki berambut biru sebahu tersenyum kecil. Morikawa dan Izaki telah menyelamatkannya. Mereka berdua terkenal sebagai seorang preman di sekolah. Saat itu, Aichi menemukan mereka tertidur di atap saat istirahat makan siang. Aichi memutuskan untuk mencoba menyapa mereka. Tentu saja, Morikawa dan Izaki sangat terkejut karena tidak ada orang yang berani menyapa mereka karena wajah seram mereka. Akhirnya Aichi dapat berteman, bahkan bersahabat dengan mereka yang terkenal dengan sebutan, 'Preman SMP Hitsue'.
"Heeei! Aichi! Jangan tersenyum seperti itu!" Morikawa melambaikan tangannya di depan wajah Aichi, menariknya kembali ke kenyataan. "Kau ingin clan yang mana? Kagerou atau Royal Paladin?"
Dahi Aichi mengerut mendengar kata-kata asing tersebut, namun menjawab, "Terserah Morikawa-kun saja. Aku tidak peduli."
"Baiklah! Karena Toshiki Kai menggunakan Royal Paladin, kau pakai Kagerou saja!"
"A-Ah, tunggu, Morika—"
Terdengar suara pintu otomatis terbuka.
Gadis dibelakang meja kasir langsung berbicara dengan nada datar seperti biasa, "Selamat datang di Card Capital." Tanpa melihat siapa yang datang, masih terfokus dengan buku yang ia baca.
Aichi menggigit bibir bawahnya begitu mengetahui siapa yang datang. Memalingkan wajahnya ketika mata hijau tajam itu terarah padanya.
"Yoo! Kami datang lagi—oh! Kau yang kemarin!" Seorang laki-laki berambut pirang melongokkan kepalanya dari belakang laki-laki berambut cokelat yang tengah memandangnya dengan tatapan tajam.
"Toshiki Kai! Kenapa kau datang kesini?!" Morikawa meletakkan beberapa booster yang sedang ia pegang ke meja kasir dan menatap tajam Toshiki Kai.
Kai tidak menghiraukan pertanyaan Morikawa dan menarik tangan Aichi dengan kasar hingga laki-laki berambut biru itu meringis kesakitan. Laki-laki yang jelas lebih kuat dari Aichi dengan mudahnya menyeretnya keluar dari toko.
"K-Kai-kun, s-sakit—"
"Kau sudah berjanji padaku."
Kai melepas tangan yang digenggamnya dan langsung berbalik, menatap Aichi dengan amarah yang meluap—bahkan membuat Aichi mundur selangkah karena ketakutan.
Dia tidak pernah bertemu orang ini, tapi kenapa dia terus ikut campur dengan urusan pribadinya? Pikiran itu membuat Aichi kesal. Kesal pada laki-laki dihadapannya ini. Bahkan perasaan kesalnya ini membuatnya agak menyesal.
"Jangan sentuh Vanguard. Kau tidak perlu mengetahui apa-apa tentang permainan ini. Ini hanya permainan. Tidak. Penting." Kai menegaskan dua kata yang ada dibelakang.
"Kalau begitu, biarkan aku bermain Vanguard! Bukankah ini hanya—"
"Jika kau berani menyentuh Vanguard…" Kai mendekatkan wajanya—sangat dekat, terlalu dekat, bahkan hingga Aichi dapat merasakan nafasnya, membuat wajah Aichi agak memanas, "…Aku akan menghancurkanmu hingga kau tidak bisa berdiri lagi."
Tanpa menunggu kata-kata Aichi, Kai langsung berbalik dan berjalan pergi. Aichi memandangi hingga punggung laki-laki itu menjauh, namun debaran jantung Aichi tidak kembali normal juga.
Aichi menggigit bibir bawahnya. Dia merasa kesal pada orang itu; Toshiki Kai, yang sembarangan saja mengganggu urusannya. Dia kesal pada dirinya sendiri karena tidak bisa melawan orang itu.
Dia merasa bingung karena, seberapa kerasnya dia berusaha, dia tidak bisa membenci Toshiki Kai.
