Bullying? Chapter 2

Bleach by Tite Kubo

Warning : OOC, Typo, dsb

.

.

.

Mengetukan kaki pelan sambil sesekali melirik waktu di pergelangan tangan kiri, seorang laki-laki yang sudah setengah jam berdiri di areal parkiran Karakura Academy masih bertahan dengan posisi santainya menyandar di badan mobil. Pengendara mobil silver itu sedang memperhatikan orang-orang yang keluar dari bangunan sekolah, berharap orang yang ditunggunya berada diantara mereka. Lelaki berjas hitam ini untungnya jenis orang yang sabar. Masih sedia saja ia menanti kedatangan seseorang yang hendak dijemputnya, meski orang yang dimaksud tidak juga menampakan wujudnya meski jam sekolah sudah usai sedari tadi.

Saat dilihatnya sudah tidak ada lagi manusia yang keluar dari gedung sekolah, barulah ia memutuskan untuk masuk ke gedung besar bertingkat lima itu.

Meja resepsionis yang letaknya tidak jauh dari pintu masuk ganda sudah tak berpenghuni. Wajar saja kosong, sekarang sudah waktunya para pekerja sekolah pulang. Karena tidak ada yang bisa ditanyainya dan juga sudah hapal dengan tata letak gedung, laki-laki berambut hitam itu memutuskan untuk langsung mendatangi tempat dimana orang yang ditunggunya berada.

Di pertengahan jalannya menuju sebuah ruangan, lelaki tersebut berpapasan dengan sosok berambut putih panjang.

"Hai! Selamat siang, Usui. Sudah lama sekali kau tidak berkunjung kemari." sapa Si rambut putih sembari tersenyum ramah.

"Ah… selamat siang Dokter." meski Si penyapa tidak memanggil dirinya dengan nama asli, pria pucat berambut hitam membalas sapaan ramah itu seraya membungkuk hormat.

"Tidak perlu formal begitu," protes seseorang yang dipanggil dokter saat melihat laki-laki yang merupakan mantan muridnya membungkuk hormat di depannya. "Mau menjemput kekasihmu?" lanjut dokter itu bertanya saat lelaki dihadapannya kembali berdiri tegak.

"Ya," jawabnya singkat. Tipikal orang yang tidak suka berbasa-basi.

Dokter Ukitake tersenyum maklum, ternyata sifat to the point lawan bicaranya tidak berubah sampai sekarang. Masih ingin melanjutkan acara beramah tamah, pria paruh baya itupun menawarkan diri, "tadi dia ada di ruang kesehatan. Kalau mau kau tunggu saja disini biar kupanggilkan."

"Aa… baiklah. Terima kasih, Dokter." pria kurus yang memang tidak suka repot itu tak menolak niat baik Ukitake. Ia memutar langkahnya kembali menuju lobi depan sementara mantan gurunya kembali menuju Klinik Sekolah.

.

.

.

"Aku ingat siapa dirimu."

Berbanding terbalik dengan Ichigo yang tersenyum menawan, Rukia malah was-was dengan kata yang barusan diucapkan Ichigo. Sesi saling mengagumi keindahan mata masing-masing terpaksa harus disudahi.

"Kau adalah…"

Jeda sejenak Ichigo berkata, dan hal itu bagai melodi mencekam pengiring suara jantung Rukia yang tak hentinya berdetak semakin keras. Keringat dingin mulai bermunculan menemani wajahnya yang memucat. Benteng pertahanannya sudah roboh, sepertinya kali ini ia tidak bisa bersembunyi lagi.

"Perempuan yang sudah men– "

"Kuchiki? Kau masih di dalam?" yes… pernyataan Ichigo sukses terhenti saat suara deritan pintu dibuka terdengar, beriringan dengan panggilan bernada riang dari penunggu ruang kesehatan.

Sujud syukur dipersembahkan Rukia untuk dokter sekolah yang datang di waktu yang sangat tepat, sedangkan di pihak Ichigo penghargaan berupa kata umpatan lah yang diberikan pada dokter tersebut.

Memanfaatkan kesempatan saat Ichigo tidak fokus padanya karena panggilan tiba-tiba tadi, Rukia segera saja melarikan diri dari penjara kedua lengan besar anak didiknya. bergegas guru muda itu keluar dari bilik ranjang perawatan untuk menemui penyelamatnya.

"Dokter Ukitake, anda mencari saya?" masih dengan napas memburu Rukia bertanya. Satu poin kemenangan dimiliki penggemar Chappy, posisi Ichigo yang masih berbaring menyulitkan lelaki itu untuk mengejarnya.

"Ah, ya. Ada Usui datang menjemputmu, segeralah berkemas pulang." meski heran dengan tingkah Rukia yang seperti dikejar maut, Ukitake tak menyudutkan perempuan itu dengan ungkapan rasa herannya.

"Terima kasih Dokter. Saya permisi." secepat kilat salah satu keturunan keluarga pemilik tempat pendidikan ini undur diri dari ruang kesehatan. Ia harus segera pergi sebelum Ichigo kembali menghadangnya.

"Hei…Rukia, tunggu! Jangan lari kau!" setelah bangkit dari pembaringannya Ichigo bergegas mengerjar Rukia, tapi sayang bukannya sosok mungil cantik yang dilihat malah sosok ringkih dokter sekolah.

Belum hilang rasa heran atas perilaku Rukia, dokter sekaligus guru itu kembali dibuat terkejut dengan kemunculan Ichigo yang berlari sambil berteriak.

"Aku tahu kalau kalian sepertinya sebaya. Tetapi memanggil gurumu langsung dengan namanya sangat tidak sopan Kurosaki." Guru ramah nan baik hati itu tetap mempertahankan senyum tulusnya saat menasehati Ichigo.

Siswa yang di nasehati merasa salah tingkah karena sudah kepergok berlaku tak sopan. "Maaf Dokter. Anda tahu Ibu Kuchiki kemana?" berusaha bertanya dengan sopan tetapi nada tidak sabar masih kentara di tuturnya.

"Kuchiki sedang bersiap-siap pulang karena kekasihnya sudah menjemput." jawaban yang menjelaskan sekaligus mengejutkan untuk Ichigo.

"A-apa? Kekasih?" pertanyaan terkejut Ichigo dibalas dengan anggukan ringan serta senyum polos dari guru yang terkenal paling ramah itu.

Sesaat kemudian samar-samar kata "sial" menyapa di indra pendengaran Pak Ukitake saat murid labil itu melintas buru-buru di sampingnya tanpa pamit. Dan respons guru yang tidak pernah marah itu hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum simpul.

.

.

.

Sejak berbaur dengan aura kehidupan Karakura Academy, Ichigo sering kali mengalami nasib buruk. Tetapi jika bukan karena hal-hal apes yang belakangan sering dialaminya tidak mungkin ia bisa bertemu kembali dengan jelmaan berupa perempuan mungil itu. Mungkin inilah hikmah dari kasus penganiayaan yang menimpanya. Tapi sepertinya mengucapkan terima kasih pada papa Isshin juga perlu dilakukan. Soalnya Ichigo bisa terdampar di sekolah ini karena kebijaksanaan beliau.

Langkah kaki Ichigo masih aktif berlari menuju pintu utama, mengejar eksistensi wanita yang dicapnya sebagai hantu. Meski dulu sempat beniat untuk melupakan ingatan tentang gadis berpostur pendek, kini dalam hatinya Ichigo bertekad, kali ini ia harus berhasil mendapatkan hantu cantik itu. Yah, mumpung gadis itu saat ini berada dalam jangkauannya, tidak mungkin kan kalau dibiarkan begitu saja.

Entah mendapat kutukan darimana lagi-lagi nasib tidak mujur menyertai si pemburu hantu jadi-jadian. Padahal tinggal menuruni beberapa anak tangga lagi ia sudah bisa membekuk target buruan, tetapi visual yang tercetak di hadapannya seketika membekukan langkah mantap Ichigo. Suasana hati yang tadinya cerah langsung berubah jadi mendung.

Ia melihat Rukia berjalan sambil menautkan jemarinya dengan seorang pria bertubuh kurus. Sepertinya itu lelaki yang tadi dibilang oleh dokter Ukitake sebagai kekasih Rukia. Mereka terlihat… serasi dan mesra sekali.

"Arghh…sial! Jadi dia benar-benar sudah punya kekasih!" kepalan tangan Ichigo makin mengerat seiring dengan masuknya Rukia ke dalam kendaraan beroda empat bersama kekasihnya. Kasihan sekali pegangan tangga yang jadi luapan kekesalan pemuda yang sedang terbakar cemburu itu. Bukannya mengejar ia malah melampiaskan kemaran pada benda-benda sekitar. Keinginan untuk mengejar pujaan hati pun berevolusi jadi emosi menggebu.

"Sudah seenaknya kau terus bergentayangan di hidupku. Sekarang kau malah dengan pria lain. Dasar wanita siluman. Lihat saja kau nanti!" sepertinya ada yang dendam karena patah hati. Sudah merasa ditolak padahal belum pernah diungkapkan.

.

.

.

Perjalanan kali ini sama saja dengan sebelumnya. Pengemudi dan penumpang mobil silver ini tak pernah bosan menyajikan suasana hening. Biasanya Rukia santai-santai saja dengan sunyi ini tetapi gerak tubuhnya sekarang menampakkan sekali kalau ia sedang gelisah. Banyaknya helaan napas serta raut kusut di wajah manisnya berhasil memancing si pengendara mesin untuk unjuk suara. "Kau baik-baik saja, Rukia?"

Yang diberi pertanyaan masih sibuk dengan fantasinya, jadi pemilik lensa hijau itu kembali bertanya dengan meningkatkan sedikit volume suaranya, "Rukia, kau baik-baik saja?"

"Ah! Y-ya, kenapa?"buah usaha untuk suara yang lebih keras, pertanyaan tersebut berhasil masuk telinga Rukia.

"Kau terlihat gelisah, ada apa?" pria itu bertanya lagi. Karena terlihat jelas dari bahasa tubuhnya kalau Rukia seperti punya masalah besar.

"Aku hanya… ehm… sedang lapar."

Dahi pengusaha muda itu sedikit mengernyit mendengar jawaban Rukia yang sangat nyata asal-asalannya, tetapi karena tidak ingin ikut campur lebih banyak dengan masalah Nona Kuchiki ia hanya berinisiatif memberi saran, "baiklah. Kita mampir di Restoran dulu kalau begitu."

Gara-gara sibuk mencari Ichigo, Rukia memang belum sempat makan siang. Tapi sungguh bukan rasa lapar yang membuatnya tidak tenang seperti ini. Jadi tentu saja ia segera mencari alasan untuk menolak ajakan seniornya semasa sekolah dulu. "Tidak perlu. Aku ingin segera sampai di rumah saja. Tidak apa-apa kan?"

"Kau yakin?" sebenarnya tawaran untuk makan hanya basa-basi pria itu saja, dan pertanyaan yang dilontarkan barusan hanya sebagai kamuflase agar ia terlihat perhatian pada gadis yang sudah diajaknya merajut hubungan.

"Ya, aku ingin pulang dan istirahat. Hari ini terasa melelahkan sekali."

Tidak ada lagi sahutan dari pemuda itu, karena sejujurnya ia memang tidak terlalu peduli dengan masalah pribadi Rukia. Obrolan yang sangat jarang terjadi di antara pasangan itupun berakhir. Dan sisa perjalanan mereka menuju hunian keluarga Kuchiki kembali diisi dengan bungkamnya suara sejoli itu.

.

.

.

Baru kali ini siswa kadaluarsa itu mengharapkan hari segera pagi, ia ingin secepatnya kembali berada pada jam-jam sekolah. Tapi bukan untuk belajar melainkan untuk bertemu dengan guru pendek yang merangkap jadi wali kelasnya. Daritadi sepasang matanya masih belum bosan memandangi angka digital di layar ponsel, mengamati perjalanan waktu yang dirasanya sangat lambat. Kalau saja bisa dengan mudah keluar dari asrama, tidak perlu hari esok ia pasti sudah memburu hantu mungil itu malam ini juga.

Frustasi karena langit tak juga terang, Ichigo berniat menghabiskan malam ini hanya dengan duduk terpekur menghadap jendela kaca kamarnya yang masih berdebu tebal. Otaknya sama sekali tidak memberinya perintah untuk tidur, bahkan untuk sekedar mengganti seragam yang sedari pagi di kenakannya.

Sejak kejadian yang dilihatnya di areal parkiran sekolah siang tadi, Ichigo dilanda kegalauan luar biasa. Rasa senang dan amarah bercampur kecewa sedang berebut posisi untuk menguasai suasana hatinya. Baru kali ini cowok yang cinta masa-masa sekolah itu dilanda kekecewaan berat. Yah Salahkan ia yang terlalu percaya diri, berpikiran bahwa gadis pengganggu pikirannya itu tidak akan menjalin hubungan serius dengan pria manapun selain dirinya.

Ternyata selama sekian tahun ini hanya ia yang tersiksa memendam perasaan yang sebenarnya dia sendiri masih kesulitan mendefinisikannya. Yang jelas selama waktu-waktu itu ia terus saja dibayangi sosok manis perempuan mungil yang suka muncul dan hilang secara tiba-tiba. Yah, seperti sekarang ini, matanya lagi-lagi berhalusinasi melihat sosok wanita berambut sebahu sedang tersenyum manis kearahnya. Bahkan disaat hatinya gundah pun perempuan itu masih saja suka gentayangan di … benar-benar hantu merepotkan.

.

.

.

Sepanjang perjalanan pulang hingga tiba di kediaman Kuchiki, raut gelisah Rukia belum juga berubah. Ia masih saja sibuk berkelana dalam pikirannya, sampai-sampai orang yang sudah berbaik hati mengantarkan dirinya pulang pun tidak dihadiahi ucapan terima kasih atau ucapan sampai jumpa. Untungnya si pacar tidak suka meributkan hal-hal seperti itu, jadi dibiarkannya saja Rukia yang asal nyelonong keluar mobil tanpa pamit.

Tujuan utama Rukia ketika sampai di rumah adalah mengurung diri dalam kamarnya. Mujur, si gondrong kepala keluarga Kuchiki sedang tidak ada dirumah, jadinya ia bisa bebas semedi dalam kamar tanpa adanya gangguan.

Tidak jauh beda dengan keadaan Ichigo yang mengalami gangguan tidur, kelopak mata Rukia juga menolak untuk dipejamkan. Padahal ia sudah membolak-balik posisi berbaringnya di atas kasur, tapi tetap saja kantuk tidak datang-datang. Mungkin juga ia susah tidur karena sedari tadi otaknya terus saja bekerja, memikirkan cara yang tepat untuk menghindar dari Kurosaki yang paling malas itu.

Rasa percaya diri Rukia menghilang entah kemana, sehingga ia tidak punya nyali untuk bertemu Ichigo. "Kenapa aku harus bertemu lagi dengannya?" keluhnya putus asa.

Tahun demi tahun yang berlalu ternyata tidak cukup untuk membuat cowok orange itu lupa akan dirinya. Yah wajar saja, siapa yang bisa melupakan tindakan memalukannya di kejadian lampau itu?

"Argh…" dengan membayangkan peristiwa itu saja sudah membuatnya stress.

Drtt…drtt…drtt

Suara getar dari alat komunikasi di sampingnya menjeda kegiatan Rukia yang sedang mengacak-acak rambut. Ada sebuah pesan singkat mampir di ponsel ungu miliknya.

Senyumnya pun mengembang ketika ia membaca pesan tersebut. Susunan kalimat yang dikirimkan teman kuliahnya itu memberikan Rukia jalan keluar. Solusi untuk menghindari Ichigo akhirnya ketemu. Meski tidak lama, setidaknya dalam kurun waktu seminggu ke depan ia tidak perlu repot memikirkan cara bersembunyi dari muridnya itu.

.

.

.

Walau sudah bertekad terjaga semalaman untuk menunggu pagi, pada akhirnya Ichigo jatuh tertidur juga. Secara tidak sadar pada pukul sebelas malam tubuh dan bola matanya memberontak minta di istirahatkan. Mungkin kinerja tubuhnya sudah lelah mengikuti kehendak egois sang pemilik.

Karena jendela kamar yang belum sempat di bersihkan, sinar terik mentari tidak dapat masuk mengusik tidur Ichigo. Jam alarm – yang entah dilemparkannya kemana – sama tidak berfungsinya. Gedoran pintu dari Ishida pun juga tidak cukup ampuh mengganggu tidurnya. Jadi dipastikan, Si Ichigo dari klan Kurosaki itu bakal bangun kesiangan.

Entah sampai kapan murid kadaluarsa ini akan tertidur, mengingat alarm tambahan – yang berupa wali kelasnya – tidak datang-datang membangunkan meski waktu sudah hampir tengah hari. Sedangkan guru-guru lain tidak ada yang se-frontal Rukia untuk menerobos masuk ke kamar murid biang kerok itu. Siapa memang yang mau berurusan dengan anak kepala batu.

Yah… Jadi, ditunggu saja sampai ia bangun sendiri.

Tepat jam 12 siang, sepasang lensa coklat kembali melihat dunia. Saat bangkit, Ichigo sedikit melakukan peregangan otot. Badannya terasa pegal-pegal. Efek tertidur di lantai sepertinya.

"Ah! Aku ketiduran. Jam berapa sekarang?" gumamnya saat selesai melakukan senam ringan.

"APA?!" kagetnya saat melihat jam. "Sial! Kenapa sampai sesiang ini!" panik melanda Ichigo. Buru-buru lelaki itu segera keluar dari kamarnya.

Saat ini sedang jam istirahat, guru-guru pasti tidak ada yang mengajar. Oleh karena itu arahnya berlari langsung menuju ruang kerja Rukia.

Sempat menabrak beberapa siswa di perjalanannya menuju ruang kerja guru, akhirnya Ichigo sampai juga. Dengan tidak sabar ia memutar kenop pintu. Kesal karena pintunya membandel tidak mau terbuka, Ichigo menggedor-gedor kuat benda berhahan kayu tersebut. Hal yang sia-sia, pintu itu kan dikunci karena pemiliknya sedang tidak ada. Mau digedor sampai kapanpun tentu tidak akan terbuka.

"A-apa yang sedang kau lakukan disana? Bu Rukia kan tidak ada di dalam." teguran gugup dari seseorang di belakang Ichigo menghentikan kegiatan mubajirnya mengetuk pintu.

"Kau tahu dia dimana?" tanpa berbalik badan Ichigo tidak basa-basi bertanya.

"Ti-tidak tahu. Beliau kan tidak masuk hari ini."

"APA?!" seruan kaget dari Ichigo membuat nyali siswa penggugup itu menciut, tanpa berpikir dua kali segera saja ia pergi meninggalkan pemuda galau yang sedang meninju-ninju pintu.

"Ck. Sial. Dia sengaja menghindariku rupanya."

Setelah puas berantem dengan pintu, Ichigo bergerak untuk mencari tahu dimana keberadaan Rukia.

Dan dari salah satu staff Tata Usaha, Ichigo dapat kabar buruk kalau walinya di sekolah menjalani seminar pendidian selama satu minggu. Hatinya dongkol setengah mati. Sia-sia saja dia grasak-grusuk semalaman menanti hari berganti untuk segera bertemu dengan Si manis Kuchiki. Nyatanya orang yang dinanti tidak akan menampakkan diri sampai minggu depan.

"Huh, mentang-mentang dia cucu pemilik sekolah jadi bisa seenaknya ijin selama itu," cibir Ichigo dalam hati saat mendengar informasi tersebut. Ichigo mencoba bersabar menunggu kedatangan Rukia hingga wanita itu kembali mengajar. Meski setan kecil disebelahnya sudah menyuruh ia agar segera menemui Rukia, tapi cowok itu masih tahan iman untuk tidak mengganggu aktivitas kependidikan Rukia. Cukup dirinya saja yang jadi pelajar abadi, Rukia tidak perlu ikut-ikutan.

.

.

.

Walau sudah berusaha keras memendam egonya, tetap saja selama empat hari ini ichigo terus saja uring-uringan. Bahkan seringkali ia berulah saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Para guru yang kebanyakan sudah hampir menginjak fase sesepuh, tidak bisa banyak bertindak untuk mendisiplinkan kelakuan Ichigo. Mereka masih sayang nyawa. Lagipula Ibu Kepala Sekolah yang tidak ingin staff-staff pengajarnya jantungan berjamaah, tidak memberatkan guru-guru itu untuk terlalu mengurusi tingkah Ichigo. Karena tanggung jawab mendidik bocah nakal itu sepenuhnya sudah diserahkan pada Rukia, guru termuda yang dijamin masih sehat jantungnya.

Para guru sih boleh saja menyerah menghadapi perangai buruk Ichigo, tapi tidak untuk murid-muridnya. Dalam otak-otak cerdas mereka sedang memikirkan cara untuk membuat Ichigo jera jadi anak badung. Kalau bisa sih sekalian jera untuk bersekolah di sini. Para siswa teladan itu tidak rela kalau rumah kedua mereka dicemari prestasi merah Ichigo. Karakura Academy harus selalu jadi tempat bernaung anak-anak pintar, jadi tidak ada tempat untuk murid yang sudah berkali-kali tinggal kelas seperti keturunan Kurosaki itu.

Beberapa kali sempat terjebak jadi korban bully, kini Ichigo sudah lebih mahir menghadapai para kutu berkacamata yang lagi-lagi ingin menindasnya. Yah walaupun cara menghadapinya dengan bertindak tidak jantan, yaitu sembunyi. Tapi mau bagaimana lagi, Ichigo terpaksa main petak umpet dari mereka soalnya kalau dihadapi tidak akan selesai-selesai. Mereka itu kan seperti Hydra, dibasmi satu malah muncul semakin banyak.

Ide brilian tiba-tiba mampir di otak jahil Ichigo. Ia yang sudah tak sanggup menanti kedatangan Rukia, memutuskan untuk membuat guru junior itu yang datang sendiri padanya. Meski konyol dan cukup beresiko, Ichigo akan menjalani aksi nekad ini. Yah, hitung-hitung sekalian balas dendam pada orang-orang culun yang sering mem-bully-nya.

Setelah berhasil keluar dari tempat sembunyi tanpa ketahuan, kini Ichigo sedang mengintai target pertama misi balas dendamnya, yaitu seorang siswa berambut pink yang sedang asyik bereksperiman di laboratorium seorang diri. Karena siswa itu punya warna rambut yang harusnya tak lazim bagi pria, ia jadi yang paling mudah diingat Ichigo sebagai pelaku utama penindasan.

Strategi sudah dirancang Ichigo dengan mantap, perlahan ia mendekati cowok yang bercita-cita jadi ilmuan dari arah belakang. Bibirnya menyunggingkan seringai menakutkan saat Ichigo melihat kerangkeng berukuran sedang berisi tikus-tikus putih percobaan. Si pinky itu kan kurus, sepertinya ia muat jika dimasukkan dalam kandang tikus tersebut.

Tidak perlu usaha ekstra bagi Ichigo untuk menangani siswa yang namanya susah dieja itu. Rupa-rupanya ia hanya kuat dan sombong jika bersama dengan geng culunnya. Jadi setelah berhasil mengurung pria itu Ichigo segera menuju target selanjutnya.

.

Lelaki yang sebelah matanya tertutupi rambut pirangnya jadi korban terakhir Ichigo. Padahal maunya Ichigo sih, Ishida yang mempati list terakhir korban. Tapi berhubung si mulut tajam itu tidak pernah terlibat kasus pem-bully-an secara fisik, Ichigo membebaskan Ishida dari acara penyiksaannya. Ia tertawa puas melihat siswa pirang bermata sayu itu tergantung di salah satu dahan pohon. Misinya selesai dengan sukses, tinggal tunggu satu atau dua jam kedepan Rukia pasti sudah ada dihadapannya.

.

.

.

"Kenapa kau tidak berhenti membuat masalah, Kurosaki!"

Tepat sesuai kalkulasi Ichigo, dalam rentang waktu dua jam setelah realisasi ide gilanya, sekarang ia dan Rukia kembali duduk berhadapan dalam ruang guru. Hanya meja kerja Rukia yang membatasi jarak mereka.

Menikmati wajah marah gurunya, jadi kesenangan sendiri bagi cowok yang sedang fallin' in love itu. Soalnya selama ini mimik Rukia yang sering menghantui dirinya selalu tersenyum manis. Ichigo jadi ingin tahu ekspresi apa lagi yang bisa terlukis di rupa cantik itu.

"Aku bicara padamu, Kurosaki!" kesal karena Ichigo hanya senyam-senyum tidak jelas saat dirinya sedang marah, Rukia berdiri dari duduknya sambil menggebrak meja. Dasar murid biang onar, baru ditinggal beberapa hari saja sudah membuat segunung masalah.

"Ya, aku tahu. Lalu?" rupanya masih kurang puas juga Ichigo menguji kesabaran Rukia.

"Apa? 'Lalu' kau bilang? Kau itu sudah membuat banyak masalah, dan tanggapanmu hanya itu?!" keraguan Rukia untuk bertemu dengan Ichigo menguap sudah jadi kemarahan. Ingin sekali ia melempar muridnya itu jauh-jauh dari muka bumi.

"Jadi aku harus berkata apa, Sensei?"

"Setidaknya jelaskan alasanmu bertindak brutal pada kelima orang itu?"

"Mereka saja tidak punya alasan saat menindasku. Anggap saja dengan perbuatanku itu kami impas." penjelasan Ichigo ditutup dengan cengiran tanpa dosanya.

"Tapi kau tidak perlu berbuat hal yang sama." geram Rukia frustasi.

" Lalu aku harus diam saja saat mereka mengerjaiku? Aku melakukan hal ini juga karena dirimu?"

"Kenapa jadi aku yang salah?"

"Kalau kau tidak bolos selama itu tentu hal ini tidak akan terjadi. Mana tanggung jawabmu sebagai waliku? Harusnya kau menjagaku agar tidak dikerjai para murid." kadar kekesalan Rukia semakin menjadi mendengar tudingan Ichigo.

"Aku. Tidak. Bolos!" tekannya penuh emosi. "Kalau kau tidak ingin ditindas lagi, berubalah jadi anak baik. Penampilanmu saja masih urakan seperti ini."

"Tch. Jadi maksudmu aku harus berpenampilan ala kutu buku seperti mereka?"

"Kalau memang harus, ya lakukan saja. Jangan melimpahkan kesalahanmu jadi tanggung jawabku. Tidak bosan ya jadi anak bodoh."

Lama-lama Ichigo jadi kesal juga dikatai terus oleh Rukia. Cukup sudah basa-basinya, kalau diteruskan perdebatan ini tidak akan selesai jadi langsung saja tembak pada masalah inti.

"Terserah dengan masalah ini. Aku minta pertanggungjawabanmu atas hal yang lain?"

"hal lain apa?"

Hanya seringaian menggoda dari Ichigo yang menyambut kalimat bingung Rukia. Perlahan laki-laki itu mulai berdiri menyamakan posisi mereka. Melihat Ichigo yang berdiri menjulang di depannya membuat Rukia grogi. Entah mengapa tiba-tiba ia punya firasat buruk. Oh… tidak jangan bilang kalau…

"Kau harus bertanggung jawab karena sudah mencuri ciumanku!"

… Ichigo mau membahas kejadian memalukan itu.

.

.

.

TBC