I'm Yours Chap 2
Main Cast : Oh Sehun, Lu Han
Rate M
Summary : I'm yours and you're mine.
"Hey yo, Luhaen!"
Luhan menengokan kepalanya untuk melihat pria bertubuh yang sama mungil seperti dirinya dan tersenyum kepadanya. Sehun yang berada disamping Luhan hanya memutarkan bola matanya malas untuk melihat pria mungil lainnya yang menghampiri mereka.
"Hey Baek, bagaimana kencan panasmu semalam?" Tanya Sehun dengan maksud sindiran sarkastik yang diucapkannya. Sehun sungguh kesal dengan semua curhatan menyebalkan Baekhyun pada Luhan yang banyak mempengaruhi pikirannya.
Mendengar pertanyaan Sehun, Baekhyun langsung bersemangat menarik Luhan kedalam kelas dan meninggalkan Sehun di koridor sekolah. Sehun hanya bisa berdecak kesal. Toh, walaupun dia mengeluarkan protesannya tidak akan digubris oleh dua pria cantik itu.
Dari kejauhan Sehun melihat Chanyeol melambaikan tangan dan menghampirinya dengan senyum idiot yang terpampang diwajah tampannya. Chanyeol dengan ringan merangkul Sehun yang dihadiahi tepisan tangan darinya. Mereka memasuki kelas dengan Chanyeol yang mengumpati Sehun yang merupakan teman terdinginnya.
Jam pulang sekolah telah berakhir sejak 1 jam 30 menit yang lalu. Dan seperti biasanya, Sehun akan menemani Luhan untuk bermain bola sebelum hari menggelap dan mereka pulang kerumah.
Dengan gesit Luhan merebut bola yang berada dijangkauan Sehun. Mencoba menghindar menuju gawang menambahkan kecepatannya menggiring bola lalu menendang dengan begitu kencang dan tepat bola itu menerobos gawang.
Luhan memekik "Yeah!" dan menghampiri Sehun yang sedang menetralkan deru nafasnya yang terengah.
"Kejaran yang bagus, Sehunnie."
Terselip nada ejekan dikalimat pujiannya untuk Sehun. Luhan tertawa bangga akan kegesitan dirinya dalam bermain bola. Sehun pun mengakui Luhan selalu memiliki energi lebih dalam olahraga.
Dengan tubuh mungilnya Luhan akan mudah dengan gesit menyalip lawan yang merebut bolanya. Tak heran bila Luhan lah yang dipilih untuk menjadi kapten tim futsal di sekolahnya karena dia merupakan striker yang hebat dan juga perencana tim yang handal.
"Bagaimana dengan basket? Aku akan mengalahkanmu dengan point tertinggi." Tawar Sehun yang masih tidak ingin menyatakan kekalahannya hari ini.
Luhan yang mendengarnya hanya mengangkat bahu dengan seringaian dibibir mengetahui bahwa Sehun belum menerima kekalahannya jadi dia hanya mengiyakan ajakan Sehun.
"Dengan syarat jika kau kalah, kau harus membawakan seluruh barangku sampai kamarku. Jika aku kalah, aku akan menggendongmu sampai kamarmu."
Tanpa berpikir Luhan langsung berkata "Deal!" untuk menyetujui persyaratan yang diajukan Sehun.
Sehun berlari kepinggir lapangan untuk menukar bola blitter dengan bola basket.
Mereka memulai permainan dengan didahului oleh Sehun yang mendribble bola dengan gerakan gesit menghindari Luhan yang memcoba merebutnya. Melakukan gerakan memutar tubuh dengan bola yang masih dalam kuasanya Sehun menyeringai melihat Luhan yang kewalahan menghadapinya.
Dirasa sudah dekat dengan ring basket Sehun mendribble bola sekali lalu melakukan gerakan lay-out dengan sempurna bola masuk kedalam ring.
Sehun tersenyum puas dipoint pertamanya. Luhan dengan cepat mengambil bola yang memantul lalu membawa bola itu menjauh dari Sehun. Sehun dengan semangat mengejar bola berusaha merebutnya kembali namun gagal karena Luhan dengan cepat memasukan bola kekeranjang dengan tepat.
Luhan memekik girang namun tak lama dia mengambil bola sebelum Sehun mencoba mengambilnya. Luhan mendribble bola dengan cepat namun Sehun dengan tak kalah cepatnya berhasil merebut bola itu dari tangannya. Dia melihat sehun akan melakukan shoot dari jauh dan berhasil memasukan tiga point kedalam ring dan menambah angka point yang telah didapatnya.
Sudah lebih dari 1 jam mereka bermain basket dan Luhan tersadar bahwa pointnya tertinggal jauh dari Sehun maka ia pun meminta Sehun untuk menghentikannya dengan alasan lelah ditubuhnya. Luhan mengakui kekalahannya dan menerima hukuman yang dibuat oleh mereka tadi dengan membawakan barang Sehun hingga sampai kamarnya.
Dengan susah payah dia membawa tasnya yang ia letakan dipunggungnya dan tas Sehun yang ia letakan didepan dadanya sedangkan tas bola mereka ia sampirkan dipundaknya.
Sehun nyaris tertawa kencang saat melihat Luhan yang berjalan lucu karena kesulitan membawa barang mereka ditubuh mungilnya. Namun Sehun tidak ada niatan untuk membantunya dan itu yang membuat Luhan terus menggerutu, mengumpati Sehun dengan berbagai kata yang terlintas diotak kecilnya.
Sesampainya dirumah Sehun mereka langsung menuju kamarnya dan Luhan dengan kesal membanting barang Sehun yang dibawanya ketempat tidur. Sehun yang melihat itu hanya pura-pura tak perduli lalu berjalan santai menuju kamar mandi yang ada dikamarnya.
Luhan merebahkan dirinya diranjang Sehun dan ketika ketukan pintu terdengar olehnya dia hanya menolehkan kepala dan melihat Hyojin wanita yang baru memasuki usia kepala tiga. "Halo Mama." Luhan menyapa Hyojin tanpa membangkitkan dirinya.
"Kalian sudah pulang hm..? turun kebawah untuk makan malam. Mama sudah memasakan makanan untuk kalian."
"Aku akan segera kebawah bersama Sehun setelah dia selesai mandi." Hyojin tersenyum menanggapinya dan menutup pintu kamar putranya.
Wanita dengan suara lembut itu merupakan wanita favoritenya yang kedua setelah mamanya sendiri tentu saja. Wanita itu telah dianggapnya sebagai ibunya sendiri. Keluarganya sudah bertetangga lama dengan keluarga Oh jadi keluarganya Sehun sudah ia anggap keluarganya juga, begitupun Sehun. Dan terkadang Luhan sering juga menginap dirumah Sehun tetapi Sehun sangat jarang menginap dirumah Luhan. Karena kata Luhan, lebih baik dia yang kerumahnya daripada datang kerumah Luhan yang membosankan.
Luhan lebih menyukai kamar Sehun dibanding kamar dirinya sendiri. Itu salah satu alasan yang sering digunakan Luhan untuk terus menginap dirumah Sehun. Rumah Sehun lebih menyenangkan dan penuh kehangatan. Tidak seperti rumahnya yang sering dibiarkan sepi tanpa penghuni selain pelayan yang bertugas membersihkan rumah.
Diusia mereka yang masih tergolong remaja ini merupakan masa-masa emas mereka sebelum berkelut dengan kehidupan sebagai orang dewasa yang rumit nanti mereka masih membutuhkan kasih sayang dan dukungan orangtua.
Bukan, bukan bermaksud untuk mengatakan Luhan kekurangan kasih sayang. Luhan sangat disayang kedua orangtuanya dan Luhan sangat menyayangi mereka. Namun kesibukan orangtuanya yang sangat padat untuk memenuhi kebutuhan Luhan membuat mereka jarang merasakan moment keluarga yang utuh. Mereka bisa berkumpul keluarga hanya di hari ulang tahun Luhan dan perayaan natal mereka, selebihnya itu hanya kalau mereka memiliki jadwal kosong dan itu nyaris tidak ada.
Beruntung Hyojin selalu berada dirumah berperan menjadi ibu rumah tangga keluarga Oh dengan baik. Hyojin selalu memperhatikan tumbuh kembang putra semata wayangnya. Dia ingin pertumbuhan Sehun selalu didampingi dan diperhatikan olehnya. Tak satupun perkembangan yang terlewat oleh pengawasannya.
Dan dengan datangnya Luhan yang menjadi tetangga mereka disambut hangat oleh Hyojin yang saat itu tengah berada di teras rumah sedang menyiram tanamannya.
Hyojin yang sedang menyapa tetangga barunya itu tidak sengaja melihat anak laki-laki berumur sekitar 6 tahun seusia anaknya yang ia tau adalah anaknya Liyin langsung membawanya kedalam rumah berniat untuk memperkenalkannya kepada Sehun.
Luhan merupakan anak yang ramah dan sopan. Itu yang terlintas dipikiran Hyojin kala dirinya mengajak Luhan untuk bermain dirumahnya dan beristirahat sampai barang-barang dirumahnya Luhan siap untuk dihuni, dan itu disetujui oleh Liyin dan mendapat anggukan dari Luhan.
Kesan pertama Luhan saat melihat Sehun adalah dia tipe anak lelaki yang menyebalkan. Karena saat Luhan mengulurkan tangan untuk mengajaknya berjabat tangan sebagai perkenalan pertama mereka Sehun hanya memandang dirinya dengan tatapan tajam sebelum dia membalas uluran tangannya dan mengacuhkannya kembali.
Luhan tersadar dari ingatan masa lalunya yang tiba-tiba terlintas saat mendengar pintu kamar mandi berderit terbuka. Sehun keluar dari kamar mandi dengan memakai sehelai handuk yang dililit disekitar pinggangnya dan rambut basah yang masih meneteskan bulir air. Berjalan santai kearah lemari untuk mengambil pakaian.
Luhan yang sudah terbiasa melihat Sehun dalam keadaan seperti itupun hanya memandangnya malas. "Sudah berapa kali kuberitahu. Hilangkan kebiasaan burukmu itu. Jangan berkeliaran dengan hanya menggunakan sehelai handuk seperti itu didalam kamar yang berisi orang lain selain dirimu. Pakai bajumu di kamar mandi." Luhan bersungut sebal karena setiap dia berkata seperti itu tidak digubris.
"Biarkan saja. Toh, hanya didepanmu saja aku seperti ini." Luhan bersungut sebal setiap kali dia mendapatkan jawaban yang sama atas nasehatnya.
"Dan tidak ada pihak yang dirugikan. Kau bebas melihatku telanjang seperti ini." Lemparan bantal segera didapat Sehun setelah menggoda Luhan dengan perkataannya barusan.
Mengabaikan ledakan tawa Sehun, Luhan merungut seraya keluar kamar dan membanting pintu. Berada didekat Sehun yang sedang berada dalam mode jahilnya tidak baik untuk kesehatan jantung Luhan yang berdebar kencang. Menuju ruang makan adalah pilihan yang tepat untuk mengalihkan debarannya.
Sehun yang mendengar bantingan pintu kamar yang dilakukan oleh Luhan pun tak bisa menghentikan tawanya. Menjahili Luhan dengan kalimat yang frontal adalah kebahagiaan Sehun tersendiri. Mengingat dua hari yang lalu pria mungilnya itu ingin merasakan pengalaman bercinta jadi anggap saja pemanasan sebelum Luhan benar-benar melihat 'alat bermainnya'.
Sehun terkekeh pelan hanya dengan membayangkannya. Sebelum pikirannya kembali meliar Sehun dengan cepat memakai bajunya dan turun ke ruang makan.
To be continued
_
_
makasih buat yang udah review di chap sebelumnya. kirain ini bakalan gak ada yang ngerespon :3
terima kasih banyak buat :
selynLH7 , Guest (deer.eyes), Sehunaah17, hhs aeri, Seravin509, xiHan.a-oh, imgezz, DeerLu947
terima kasih :) #HappyLuhanDay nyonya besar ulang tahun :) beberapa jam lagi.
