- Ai Wa Itsumo Iedearu Toki -

( Saat Cinta Selalu Pulang )

Sumary : Memendam cinta bukanlah hal yang baik, karena cinta bukan untuk di pendam. Saat kau menyadari bahwa cinta itu ada di dekatmu, maka kejarlah sekuat tenaga. Meski jalannya berliku, meski jaraknya sejauh mata memandang. Jangan membuatmu menyesalinya saat cinta itu pergi menjauh darimu dan tak lagi kembali.

Pairing : Sasuke x Hinata

Genre : HGTG (Hero Gets The Girl), Drama, Romantic ( maybe )

Rating : T

Warning : SI, Gaje, Alur berantakan, Typo (s), membingungkan dan semua kesalahan yang sering di lakukan amatiran sepertiku.

Disclaimer © Masashi Kishimoto Sensei

Play Your Imagination

Enjoy!

Chapter 2 : Naruto : "Aku Menyukainya"

Hari hari naruto belajar di rumahku sudah habis, tiga hari sudah terlewatkan. Dan aku kecewa karena waktu benar benar cepat berlalu. Dia tak mengerti betapa aku ingin tiga hari itu menjadi waktu yang panjang, sangat panjang.

Entah, setelah ini aku tak tau apakah Hinata masih mau datang ke rumahku lagi seperti tiga hari yang lalu atau tidak. Meskipun aku hanya bisa melihat dan memperhatikan tingkahnya saat belajar bersama Naruto dan Sakura, itu sudah cukup untuk mengisi kekosongan di hatiku ini.

Bila datang waktunya Hinata pulang, tanganku seolah ingin menahannya dan berkata "tetaplah tinggal Hinata! aku akan menjagamu". Tapi nyaliku terlalu kecil untuk melakukan itu dan pada akhirnya, aku hanya menjadi seorang pecundang yang tak bisa apa apa.

Setiap malam sejak ada Hinata di antara kami, aku selalu merindukannya. Aku ingin cepat cepat tidur agar esoknya aku bisa bertemu lagi dengannya dan lagi, memperhatikannya. Namun, semakin aku mencoba untuk memejamkan mata, saat itu juga wajah Hinata hadir di tengah tengah gelapnya mataku.

Aku tidak bisa, aku tidak bisa menghapusnya. Dan aku tidak ingin.

Kami - sama, apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? Beginikah rasanya?. Kami - sama, jika benar aku telah jatuh cinta pada Hyuga Hinata, maka jagalah rasa ini sampai aku mampu mengungkapkannya pada Hinata, sampai aku tau Hinata juga jatuh cinta padaku, sampai kami selalu bersama, sampai kami menua dan sampai Engkau memanggil kami untuk kembali pulang ke keabadian.

06.45 AM

- Konoha High School -

"Sasuke - kuuun" Aku menghentikan langkahku, seseorang memanggil namaku dan aku kenal suara cempreng ini

"Pasti Sakura" Gumamku. Dan benar, Sakura setengah berlari menyusulku dan naruto.

Aku dan Naruto sudah menunggu lama di depan gerbang sekolah tadi, tapi karena batang hidungnya tak kunjung terlihat, akhirnya aku dan Naruto memutuskan untuk meninggalkannya dan masuk ke kelas lebih dulu.

"Hey sakura - chan! Dari mana saja? Aku dan teme sudah menunggu lama di depan gerbang. Dan lagi, kenapa hanya nama Sasuke yang kau panggil? Namaku tidak!" Naruto mengeluh dengan gaya khasnya.

"Baka! Memang nama yang sering di teriakan itu nama Sasuke - kun, jadi~ kalau namamu yang ku teriakan, aku bisa di tertawakan gadis gadis lain baka!" kata sakura sambil berkecak pinggang.

Aku sedikit kaget. Bukan karena ucapan Sakura, tapi karena Sakura datang tidak sendirian, di samping belakangnya ada seorang gadis yang sedari tadi tersenyum karena ocehan kedua sahabatku ini.

"hnn~ jadi kau kerumah Hinata lebih dulu?" Aku mencoba memastikan,apakah yang ada di pikiranku itu benar atau tidak.

"Ha'i, aku ke rumah Hinata lebih dulu untuk mengembalikan buku yang aku pinjam kemarin sekalian mengajak Hinata berangkat bersama, lalu mengobrol dengan ibu hinata sampai lupa kalian, itu karena ibunya sangat ramah padaku, he he he". Benar,pantas dia terlambat. Aku hanya memutar bola mataku.

"Yoo~ ohayou Hinata - chan!" Naruto menyapa Hinata sambil menunjukan senyum lima jarinya dan di balas dengan sapaan yang sama dengan di bumbui senyum manis dari bibir Hinata. Teramat manis, aku hanya terdiam meskipun aku juga ingin menyapanya, tapi itu bukanlah kebiasaanku, aku merasa kikuk bila harus menyapa seseorang terlebih dahulu.

"O-ohayou Sa-Sasuke - kun" Dan akhirnya Hinatalah yang menyapaku lebih dulu yang sukses membuatku salah tingkah.

"Hnnn..." Kuso! Kenapa selalu hanya itu yang terucap dari mulutku? Darah uciha benar - benar telah menyatu dan mengendalikan tubuhku.

"Ehem - ehem, yokey, ayo ke kelas, sebentar lagi bel masuk berbunyi. Ayo Hinata!" Sakura menggandeng tangan Hinata dan berjalan di belakangku dan Naruto yang sudah lebih dulu berjalan di depan.

"Cih! kenapa aku jadi merasa canggung pada hinata? menyebalkan!" Aku mengumpat dalam hatiku.

- One Week Later -

- 08:45 -

- Ruang Kelas -

Hari - hari yang merepotkan akhirnya sampai pada ujungnya. Sekarang adalah hari terakhir test kenaikan kelas, dan ku lihat wajah wajah murid lain di pagi ini lebih sumringah dari hari - hari sebelumnya. Mungkin di otak mereka sudah tergambar liburan indah yang sudah mereka rencanakan untuk mengisi liburan panjang ini.

* Kriiiinnnnggggg *

Bel tanda istirahat berbunyi, dan aku senang karenanya, akhirnya pekerjaan yang membosankan berakhir juga. Murid murid mengumpulkan lembar jawab mereka, begitupun aku. Sebenarnya aku sudah selesai dari tadi, tapi karena tugasnya harus di kumpulkan bersama sama saat bel istirahat di bunyikan, aku jadi harus menunggu lebih lama dan tentu kalian tau, menunggu itu pekerjaan yang paling membosankan.

Seperti biasa, aku, Naruto dan Sakura langsung menuju ke kantin. Ku lihat di sana murid murid lain sudah banyak yang berdatangan. Aku dan Naruto lebih dulu duduk di meja yang masih kosong, sementara Sakura langsung menuju ke penjaga kantin untuk memesan makanan dan minuman yang biasa kami pesan.

Ku topang daguku dengan tangan kanan, sambil memainkan jari jari tangan kiriku mengetuk ngetuk meja makan. Begitulah caraku menahan bosan yang akan datang karena lagi lagi harus menunggu makanan dan minuman yang sedang di pesan Sakura.

"Yoo teme! Sakura itu cantik ya?"

Aku kaget mendengar penuturan Naruto yang begitu polos sambil memandangi punggung sakura, apa yang di pikirkan anak bodoh ini?

"Hnn...relatif" jawabku singkat sambil terus mengetukan jariku di atas meja.

Ku lihat Naruto masih saja memandangi sakura yang sedang menunggu pesanan di depan sana. Lalu ku ikuti dengan mengalihkan pandanganku pada Sakura yang sedang duduk manis di depan sana, rambut merah jambunya terlihat indah karena di biarkan terurai. Sedetik kemudian ada yang datang menghampiri sakura, Hinata.

"Hinata juga cantik ya teme? demo, menurutku sakura lebih cantik di banding hinata, benarkan teme?"

Kata kata gila dari mulut si baka itu keluar lagi, aku hanya bisa mengangguk malas menjawab pertanyaan bodoh Naruto. Apa yang sedang di pikirkan Naruto tentang Sakura? Tak biasanya dia begini.

Aku sedikit berfikir tentang itu. Tunggu! Jangan-jangan!

"ne, kau suka Sakura? dobe?" Aku mencoba meyakinkan dugaanku. Ku alihkan pandanganku ke arah Naruto.

Mendengar pertanyaanku, Naruto terlihat kaget dan salah tingkah. Tak mendapat respon dari yang bersangkutan, aku coba menegaskan pertanyaanku sekali lagi dan akhirnya, kepala Naruto tertunduk memandangi meja makan kantin yang masih kosong.

Kedua tangannya saling menggenggam erat di atas meja. Aku bisa merasakan perubahan wajah naruto dengan jelas.

"memang, aku menyukainya, teme. Aku menyukai Sakura" Suara Naruto terdengar lirih dan bergetar. Aku tidak heran dengan situasi seperti ini. Sahabat,lalu berganti cinta, itu hal biasa yang sering terjadi di luar sana.

Aku hanya terdiam memandangi naruto.

"Apa aku salah teme? Apa aku salah kalau aku mencintai sahabatku sendiri? Apa aku salah bila inginkan lebih?" Naruto berhenti sesaat, mencoba menstabilkan emosinya, dan meneruskan kembali ucapannya.

"Aku sudah lama memendamnya, teme. Aku kira aku bisa menghilangkan rasa ini, karena pikirku rasa ini seharusnya tak ada. Demo, aku kalah, aku kalah melawan perasaanku sendiri, aku tak bisa membohongi diriku sendiri karena semakin aku mencoba melupakan dan menguburnya dalam dalam, cinta itu seolah memberontak lebih kuat dariku. Teme, saat aku bersama Sakura, aku merasakan bahagia, aku merasa aku menemukan alasan untukku hidup lebih lama. Aku...aku...aku tidak bisa melupakan sakura,juga rasaku ini! Dattebayo!"

Ku lihat wajah Naruto dengan seksama, dia kepalkan kedua tangannya di atas meja dan menggigit bibir bawahnya sendiri untuk menahan emosi yang keluar. Baru kali ini aku melihat Naruto sedemikian rupa. Dia memang sering bercerita soal gadis - gadis yang menarik perhatiaannya padaku, tapi untuk yang satu ini, sangat berbeda.

Ku pejamkan mataku dan ku tarik nafas dalam dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. Aku lihat lekat lekat wajah naruto.

"Dobe." Aku memanggilnya dengan nada serius. Naruto mengangkat wajahnya, dan menatapku.

"Kau benar - benar cengeng. Perlu kau tau baka, cinta tak pernah salah, karena cinta itu anugerah. Kalau kau suka sakura, katakan saja padanya" Kataku sedikit menaikkan nada bicara.

"Demo, persahabatan kita..." Naruto semakin mengeratkan kepalan tangannya.

"Tak apa, persahabatan itu ibarat kepompong dan cinta itu kupu - kupu, banyak persahabatan yang berubah jadi cinta di luar sana. Yah, yang pasti tidak mudah menjalaninya, karena cinta memang butuh proses dan perjuangan" Kataku mencoba menenangkan hati Naruto yang sedang bergejolak, ku lihat naruto menatap kembali sakura.

"Apa aku harus mengatakannya pada Sakura - chan?"

"yah, itu terserah kamu dobe" Kataku singkat sambil menopang kembali kepalaku dengan tangan kanan.

"Yang pasti, kau harus siap dengan segala konsekuensinya dobe, kalau cintamu tertolak, kau harus bisa bersikap dewasa, menerimanya dan mengembalikan kembali persahabatan ini tanpa rasa canggung, ketidak enakan dan yang lainnya yang bisa membuat seolah olah ada beteng pembatas antara kau dan sakura" Terangku panjang lebar pada naruto. Kalau bukan karena Naruto yang bercerita, aku pasti memilih diam dan pergi dari sini.

Kulihat kepala Naruto mengangguk angguk tanda dia mengerti ucapanku dan sedikit demi sedikit senyum menjijikannya kembali terukir di wajahnya, senyum menjijikan yang sangat kurindukan saat Naruto tak ada.

"he he he, sankyu temeee! kau benar benar sahabatku yang baik! Dattebayo!" Akhirnya dia kembali seperti sedia kala. Aku hanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan.

Oh tidak! Naruto baka! Dia memeluk pundakku! Kalau orang lain melihat ini, mereka pasti berfikir yang tidak tidak tentang aku dan Naruto. Dasar baka!

"Lepaskan baka! Kau menjijikan!" Ku dorong kepala dan tubuh naruto dari ku.

Akhirnya dia melepaskan pelukannya, Ku rapikan kembali seragamku yang berantakan gara gara ulah naruto. Benar benar menjijikan. Dan naruto hanya cengengesan seolah tanpa dosa.

Tidak beberapa lama kemudian, Sakura datang membawa makanan yang sudah kami pesan tadi.

"Taraaa! Pesanan dataaangggg" Sakura bergaya seolah dia pelayan profesional, dengan senyum dan bungkukan tubuh dia menyodorkan dua mangkuk ramen untukku dan naruto, dan satu gelas jus lemon dan tomat, sedangkan satu mangkuk berisi sayuran hijau yang entah jadi apa namanya itu di letakan di sisi mejanya sendiri beserta satu gelas teh tawar.

Ku putar bola mataku, jadi wanita memang merepotkan, mereka harus diet agar tidak menjadi gemuk, padahal tidak semua laki laki suka dengan wanita kurus, laki - laki juga ada yang suka dengan wanita gemuk. Ah, biarkan saja, aku malas mengurusinya.

Kulihat di belakang Sakura ada Hinata yang sedang berdiri membawa jus coklatnya.

Aku meliriknya wajahnya, dan...cessss...pandangan kami bertemu, seolah ada yang menyiram air hangat di hatiku yang dingin ini. Mata abu - abunya sungguh indah, aku ingin melihatnya sedikit lebih lama, tapi otot otot leherku memaksaku untuk memalingkan wajahku.

Waktu istirahat ku habiskan di kantin bersama sahabat sahabatku dan seorang gadis yang sepertinya benar benar telah singgah di hati dinginku, meski aku tak punya nyali untuk mengatakannya.

Waktunya pulang. Ku ambil tasku, ku lihat ke arah Naruto, dia sedang membicarakan sesuatu dengan Sakura, lalu tersenyum puas, entah apa yang dibicarakan mereka aku tak tau juga tak mau tau. Aku akan menunggu mereka di luar.

- Luar Gerbang Sekolah -

Aku benar benar tidak suka menunggu, saat aku tinggalkan mereka di kelas tadi, mereka masih membicarakan sesuatu dan sudah 10 menit aku menunggu mereka di sini. Ibiki, sopir pribadiku pun sepertinya sudah mulai bosan.

Akhirnya, sesaat kemudian batang hidung mereka terlihat juga. Apa yang di bicarakan mereka sampai selama ini? Kuso.

"Sudah 10 menit lebih aku menunggu di sini. Ayo masuk." Kataku sambil membuka pintu belakang mobilku.

Aku memang sering mengajak mereka pulang bersama dengan mobil ku, meskipun saat berangkat, aku tidak menjemput mereka.

"he he, gomen teme, sepertinya aku dan Sakura tidak bisa ikut pulang bersamamu, kami akan jalan berdua sekali kali, dattebayo" kata Naruto dan di susul dengan anggukan kepala Sakura.

Kuso ah! Sudah lama lama aku menunggu mereka, dan sekarang malah di kecewakan. Sungguh menyebalkan.

Aku langsung masuk ke mobil tanpa menanggapi ucapan Naruto. Ku lambaikan tanganku pada Naruto dan Sakura yang masih berdiri di depan gerbang sekolah, lalu melaju meninggalkan mereka.

- 19.15 -

- Kediaman Uciha -

Aku sedang menunggu Naruto di ruangan khususku. Tadi sore, saat sampai dirumah, Naruto mengirim pesan singkat yang mengatakan kalau dia ingin kerumahku malam ini.

Karena Naruto tak kunjung datang, aku mengisi kekosongan waktuku dengan memetik senar senar gitar kesayanganku. Saat aku sedang asik dengan gitarku, tiba tiba aku teringat saat pertama kali Sakura mengajak Hinata kerumahku, saat pertama kalinya aku kalah dalam bermain game, saat pertama kali aku tak sengaja menyentuh tangan hangatnya, saat hinata terpaku melihatku bertelanjang dada. Seolah baru kemarin saat memori itu kembali muncul di otakku. Aku tersenyum tipis mengingatnya.

"Hinata, apakah kau akan datang kembali kesini?" gumamku lirih sembari menopang dagu.

* tok tok tok *

Lamunanku terganggu karena mendengar ketukan pelan di pintu. Siapa? apa aniki? kalau Naruto tidak mungkin, dia pasti langsung masuk tanpa harus mengetuk pintu terlebih dahulu. Aku bangkit dan berjalan menuju pintu. Sebaiknya aku periksa langsung dari pada memikirkannya. Benar,ternyata kakakku.

"Aniki, ada apa?" Tanyaku malas.

"oi oi,tidakkah kau senang,nii san kesayanganmu ini mengunjungi ruang khususmu, sasuke?" kata aniki dan aku hanya memutar bosan bola mataku.

"hnn, kita setiap hari selalu ketemu nii san" ucapku malas.

"hoo,kau selalu dingin walaupun bicara dengan nii san mu. Ne, ada temanmu di bawah, kau mau menemuinya tidak?" kata kakakku sambil tersenyum ramah,kakakku memang ramah dan murah senyum,berbeda 180 derajat denganku.

"Naruto?" Tanyaku pada kakak.

"Bukan, seorang gadis cantik. Mungkin pacarmu" kakakku tersenyum gaje dan aku hanya memutar bola mataku bosan. Lagi.

"Sakura?"

"Bukan,aniki belum pernah melihatnya sebelumnya, kau temui saja" Kata kakakku sambil berjalan kembali ke bawah.

"Siapa? Sepertinya aku tidak punya teman gadis selain sakura" Aku berfikir sejenak sambil menuruni tangga.

Tunggu, jangan - jangan...

"Hinata?" Aku tak percaya, baru saja aku memikirkannya, dan sekarang dia ada di rumahku. Ku lihat Hinata sedang duduk sendirian di sofa ruang tamu dengan menggunakan jaket abu abu.

"Mau apa malam - malam begini dia kerumahku?" Ku dekati Hinata, kepalanya yang tadi tertunduk kini mendongak melihat ke arahku. Wajahnya, ada apa? Kenapa wajahnya menyiratkan kekhawatiran?Apa yang terjadi?

"nani wa?" Tanyaku singkat, lalu meletakkan tubuhku di atas sofa empuk ruang tamuku. Hinata tidak langsung menjawab, dia terdiam, kedua tangannya meremat - remat kedua lengannya, menunjukan ada sesuatu yang buruk terjadi.

"Hinata? Nani wa?" Untuk yang kedua kalinya aku bertanya. Dan akhirnya Hinata mengeluarkan suaranya.

"Sa-sasuke-kun, na-naruto-kun" Suara Hinata terdengar bergetar.

"Naruto? Ada apa dengan si baka itu?"

"nande? Ada apa dengan naruto?" Aku mencoba tenang, meskipun dalam hati ada rasa khawatir pada Naruto jikalau terjadi apa - apa dengannya.

"E-etoo Sasuke-kun, Na-Naruto-kun...Naruto-kun tertabrak mobil"

Hinata menggigit bibir bawahnya, sementara kedua mataku membulat tak percaya dengan apa yang baru saja Hinata katakan.

"Naruto tertabrak!?" Aku tak bisa tenang lagi. Emos, khawati, membuatku tak bisa berfikir jernih.

Aku langsung berlari keluar. Baka! saking tegangnya, aku sampai melupakan hinata yang masih ada di dalam. Aku berlari kembali ke dalam ke arah Hinata yang berdiri termangu melihatku tadi pergi begitu saja.

"Ayo pergi ke tempat Naruto" Kataku sambil menarik tangan Hinata, ku pegang erat tangan mungilnya, sangat erat.

"itai!" Terdengar suara hinata kesakitan karena genggaman tanganku. Aku tersadar, genggamanku terlalu erat untuk gadis seperti hinata, ku lepaskan genggamanku. Ku buka garasi rumahku, ku ambil motor sportku dan menyalakan mesinnya dan menghampiri Hinata yang berdiri di luar garasi.

Di perjalanan menuju rumah sakit aku sama sekali tak bisa tenang, otak ku terus saja memaki si baka itu. Apa yang sedang di pikirkannya sampai sampai bisa tertabrak begitu. Dia benar benar menyusahkan!

Ku lajukan motorku secepat mungkin, melenggak lenggok menyalip kendaraan yang lain, kurasakan Hinata mulai berpegangan di pinggangku, mungkin dia takut karena aku benar benar melajukan motorku secepat cepatnya. Gomen Hinata, kita harus buru - buru.

Sampai di halaman Rumah Sakit Konoha, ku parkirkan motorku dan langsung masuk kedalam rumah sakit.

"Kau tau di ruangan mana Naruto dirawat?" tanyaku pada Hinata.

"ha-ha'i, ikuti saja aku" Jawab Hinata lalu melangkah mendahuluiku.

"Cepatlah Hinata"

Hinata setengah berlari di depanku, menuntunku menuju ke ruangan tempat Naruto di rawat. Beberapa saat kemudian, setelah melawti lorong lorong rumah sakit, aku melihat sosok sakura duduk di tempat tunggu depan sebuah kamar padien. Aku dan hinata menghampirinya.

"Sa-Sasukee-kun" Mata Sakura terlihat merah dan membengkak. Tanpa bertanya aku sudah tau, dia baru saja menangis.

Aku berjalan menuju pintu kamar, ku pegang gagang pintu, ingin membukanya, tapi ku urungkan. Dari kaca pintu itu aku melihat ayah Naruto, Namikaze Minato dan ibunya, Khusina Uzumaki, sedang menunggui Naruto yang masih belum sadar.

Ku lepaskan genggamanku pada knop pintu kamar itu perlahan. Biarlah, aku tak mau masuk dulu, meskipun aku khawatir, tapi mereka pasti lebih khawatir dari pada aku. Mereka orang tua Naruto.

Aku mundur beberapa langkah, lalu mengambil tempat di samping Sakura untuk duduk.

"Apa yang terjadi pada dobe? Apa benar dia tertabrak mobil? Kau tadi bersamanya kan?" tanyaku lirih pada sakura. Ku lihat mata emerlad sakura kembali berkaca-kaca, dia gigit bibir bawahnya, kedua tangannya menggenggam erat di atas pahanya. Sepertinya, cerita Sakura akan memperjelas semua.

"Gomen sasuke-kun, gomenna, aku yang menyebabkan kecelakaan ini terjadi. Saat itu, aku tidak langsung pulang kerumah bersama Naruto, kami berjanji akan ke taman kota terlebih dahulu..."

Sakura mulai membuka mulutnya, meski dengan suara yang gemetar menahan tangis.

- Flashback -

Naruto dan Sakura berjalan meninggalkan gerbang sekolah setelah Sasuke pergi dengan bmw hitamnya. Mereka menuju jalan ke arah taman kota yang tidak jauh dari sekolah.

Di sana, di taman kota banyak pohon pohon rindang yang membuat udara di sekitar taman menjadi sejuk, selain itu banyak juga pohon bunga sakura yang memperindah suasana.

Naruto dan Sakura duduk di sebuah kursi panjang yang terbuat dari kayu yang menghadap ke jalan raya. Di sebelah kursi itu ada pohon sakura yang sedang berbunga, memang, sekarang adalah musim semi, sangat indah.

"Jadi, mau apa kau mengajakku kesini, Naruto?" tanya Sakura.

"ummm, ettoo, bagaimana mengawalinya ya? hehehe, aku bingung Sakura-chan" kata naruto cengingisan sambil menggaruk pipinya yang sebenarnya tidak gatal.

"Dasar baka! Jadi benar kau cuma mau mengatakan sesuatu? Kenapa harus di sini? Di sekolah tadi kan bisa" Eluh Sakura dengan meninju pelan kepala naruto.

"Hehehe, aku inginnya di sini, supaya terkesan romantis, dattebayo" Kata Naruto yang masih menunjukan muka polosnya.

"Dasar! Untuk apa romantis romantis segala?" Sakura terlihat salah tingkah.

Sesaat keduanya terdiam. Dan akhirnya, Naruto mulai angkat bicara.

"Sakura-chan" Naruto menghadapkan tubuhnya dan menatap wajah Sakura.

"Na-nani? Jangan melihatku seperti itu, baka!" Sakura bertambah salah tingkah karena Naruto menatapnya dengan tatapan yang berbeda dari biasanya.

"Aku, aku, aku menyukaimu, Sakura-chan!" Kata itu akhirnya terlontar juga, perasaan yang telah di pendam lama akhirnya keluar dari mulut pemuda pirang ini.

"E-eh? A-apa yang kau maksut Naruto? A-aku juga menyukaimu, kita kan sahabat sejak kecil" Jawab sakura.

"Iie. Bukan itu yang ku maksut, aku menyukaimu Sakura-chan, lebih dari persahabatan ini" Naruto diam sejenak dan memberanikan diri meraih kedua tangan Sakura.

"Aku mencintaimu"

* Deg *

Tubuh Sakura bergetar, matanya menyiratkan kekagetan seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan naruto, meskipun dia tau bahwa naruto benar benar serius dengan ucapannya. Dia tidak tahu apa yang harus di katakan pada sahabatnya ini. Haruskah dia menerimanya dan mengakhiri persahabatan ini? Atau dia menolak kata kata itu dan menyakiti hati sahabat baiknya? Ini sungguh sebuah dilema, dilema yang tidak semua orang bisa menghadapinya. Menentukan pilihan yang terbaik itu tidaklah mudah.

"Saat kupu-kupu mencoba terbang, jangan kau halangi dia, karna sungguh, kupu-kupu itu lebih terlihat indah saat dia terbang. Kupu-kupu itu, kupu-kupu cinta"

- Flashback, to be continued -

- Story,to be continued -

.

.

.

hi guys,thanks for lot,udah mau baca fanfictku,but don't forget RnR,and please please please criticism and suggestions that helped me to become better,tankyu for read,hope you like you later...bye - bye...sayonara ( ^^ )/~~~

me,kirito.