"Tadaima..."

"Okaeri, Sakura-chan."

Sakura berjalan memasuki rumahnya dengan tidak bersemangat. Tubuhnya ia jatuhkan tepat di atas sofa ruang tengah. Ia lelah, sangat. Memutari lapangan yang panjangnya 28.5 meter dan lebarnya 15 meter itu sangat berat pemirsa. Sakura hampir saja pingsan kalau saja tidak ada Kiba yang bersikap gentleman. Cowok itu menggendongnya ke UKS, membelikannya minuman elektrolit dan memijat kakinya yang sedang kram.

Pada awalnya Sakura merasa sangat tersanjung dengan perlakuan Kiba yang so care itu. Dia merasa dicintai. Siapa yang tahu kan kalau selama ini Kiba memendam perasaan pada Sakura tapi tidak berani mengungkapkan?

"Arigatou, Kiba." ucap Sakura sambil tersipu malu.

"Sama-sama, Sakura." Kiba yang memang memiliki senyum manis jadi bertambah manis karena gigi gisulnya. Sakura jadi semakin salah tingkah, "oh, ya, Sakura. Aku dengar dari Naruto kalau kau akan melakukan misi penting di rumah Sasuke?"

Senyum malu-malu ala anak gadis yang sedang jatuh cinta mulai luntur bagai makeup ibu-ibu yang disiram hujan dadakan."Hehe.. heh.. he..." Sakura menelan harapannya pahit-pahit.

Kiba termasuk cowok populer di sekolah, dia ketua klub lari, fansnya tak kalah bejibun dari Gaara sang ketua klub basket dan Naruto si ketua klub astronomi. Jadi, rasanya agak mustahil kalau Kiba mempunyai perasaan pada gadis super tidak oke sepertinya kan?

"Ya, kenapa?" Kalau saja otaknya berjalan dengan benar, seharusnya Sakura sadar kalau Kiba bersikap baik padanya pasti ada sesuatu yang dia inginkan.

"Begini Sakura, errr... klub lari sebenarnya membutuhkan dana yang lumayan banyak untuk Sport Day Minggu depan tapi kau tahu sendiri kalau Sasuke menolak proposal kami karena dana yang kami ajukan terlalu besar."

Nah, sekarang sudah jelas. Kiba sama seperti Naruto, dia bersikap baik karena ingin minta stempel dewan murid juga. "Oke, aku mengerti. Kau ingin minta stempel milik dewan murid, 'kan?"

"Benar."

"Apa yang akan kau berikan padaku kalau seandainya aku bisa mencuri dan memberikan stempel itu padamu?" Sakura sebenarnya baik. Dia tidak suka memanfaatkan orang yang lemah. Tapi, kalau sudah begini urusannya, dia tidak mau dirugikan sendiri.

"Aku akan menggantikan jadwal piket-mu selama 2 Minggu berturut-turut. Bagaimana?"

Sakura berdecak kagum. Itu adalah negosiasi yang sangat menjanjikan. Lagipula ini setimpal dengan bahaya yang akan ia dapat nanti kan?

"Oke, deal!" Setelah kesepakatan disetujui, Sakura segera pergi meninggalkan ruang kesehatan karena bel pulang baru saja berbunyi, dia harus pergi ke kelas untuk mengambil tas dan segera pulang.

"Sakura..."

Kalian tahu apa bagusnya? Saat Sakura ke luar dari ruang kesehatan, Sasuke terlihat kesal entah karena apa Sakura tidak tahu dan tidak mau tahu. Dia terlalu senang, kapan lagi kan bisa melihat si pantat ayam itu menampilkan ekspresi lain selain wajah sedatar papan reklame.

"SAKURA!"

Sakura tersentak dari lamunannya. Ia menatap sang Ibu dengan tatapan protes. "Kaa-san, jantung Saku bisa copot!"

Mebuki menabok pelan tangan Sakura yang hendak mencomot bolu lapis yang hendak ia tata ke dalam box makanan. "Jangan dimakan, itu untuk bibi Mikoto. Sana, ambil sendiri di dapur." hardik Mebuki pada anak gadisnya tersebut.

Sakura cemberut. Dia segera bangkit untuk pergi ke dapur sampai ia menyadari sesuatu. 'Apa Kaa-san baru saja mengatakan sesuatu tentang Bibi Mikoto?'

Sakura berhenti berjalan dan lekas berbalik. Iris hijau klorofil-nya menatap sang ibu yang sedang sibuk menata ulang kue-nya yang tadi tersenggol jemarinya barusan. "Itu untuk Bibi Mikoto?"

Mebuki mengangguk, "Em-hem."

Aaa... Sepertinya Sakura punya alasan masuk akal untuk menyelinap ke rumah Sasuke tanpa harus menaruh curiga. "Boleh Sakura saja yang mengantar kue itu ke rumah Bibi Mikoto?"

Mebuki menoleh bersamaan dengan tatapan menyelidik dan senyum jahil di bibirnya. "Pasti mau bertemu Sasuke-kun kan?"

"Ih, tidak. Aku memang lagi kangen sama Bibi Mikoto. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan si pantat ayam menyebalkan itu, Kaa-san."

Mebuki terkekeh. Anak gadisnya itu memang tak pernah akur dengan anak lelaki keluarga Uchiha. Sejak masa sekolah dasar dulu, yang mereka lakukan hanya bertengkar dan bersaing. Tapi anehnya ketika salah satu dari mereka ada yang sakit, mereka akan datang untuk menjenguk. Itu namanya benci atau cinta tapi tidak sadar diri?


Tidak butuh waktu lama bagi Sakura untuk sampai di rumah keluarga Uchiha, karena jarak rumah mereka hanya terpisah oleh dua rumah lainnya. Sakura sudah berdiri tepat di depan pintu kediaman Uchiha, tangannya siap untuk mengetuk pintu namun sebelum tangannya menyentuh kayu jati kokoh itu, pintu lebih dulu terbuka, menampakkan sosok wanita seusia Ibunya dari balik pintu besar tersebut.

Sebuah senyum hangat langsung menyambut kehadiran Sakura, tangan wanita itu terentang dan ... selanjutnya sebuah pelukan rindu mengalir ke sekujur tubuh Sakura. "Sudah lama sekali rasanya tidak melihatmu Sakura-chan, Bibi kangen tahu!"

Sakura meringis, "Bibi, kita sudah bertemu di warung Akatsuki saat belanja sayur tadi pagi."

Mikoto terbahak, "Iya yah... tapi entah mengapa Bibi rasanya sudah lama tidak bertemu dengan Sakura-chan. Sini, sini, Bibi baru saja selesai membuat puding tomat. Sakura-chan harus mencicipi resep baru Bibi."

Hah? Maksudnya, aku dijadikan bahan percobaan resep gagal Bibi Mikoto, begitu? - Sakura bergidik ngeri saat kakinya memasuki area dapur yang sudah mirip dengan wilayah perang dingin. Hmmph, rasanya Sakura ingin menutup hidung ketika bau gosong menusuk Indra penciumannya.

"Bibi Mikoto, Kaa-san membuatkan kue kesukaan Bibi." ujar Sakura seraya menunjukkan box kecil ditangannya.

Mikoto menoleh sejenak, "Letakkan saja di atas meja, Sakura-chan." Kemudian dia kembali sibuk dengan kegiatan sebelumnya. "Taraaaa... ini dia puding tomat karya Nyonya Uchiha." Ibu dua orang anak itu berseru riang seraya membopong piring kecil berisi potongan puding menuju meja makan.

Tidak, selamatkan aku, Tuhaaaan.

Kalau bukan karena stempel berharga di kamar Sasuke, mungkin Sakura sudah kabur sejak ia mendengar puding tomat pertama kali. Oh, mungkin ini adalah karma karena tadi dia sempat berbohong pada sang Ibu yang mengatakan kalau dia datang ke kediaman Uchiha karena kangen dengan Bibi Mikoto.

Kalau begini jadinya, Sakura tidak mau berbohong lagi. Janji deh.

"Ayo, Sakura-chan. Jangan malu-malu," kata Mikoto seraya memandu Sakura untuk duduk di kursi makan. Puding tomat sudah disediakannya di atas meja.

Oh, tidak!

Sakura meneguk ludahnya susah payah. Bukan, dia tidak sedang memuja puding di depannya. Justru Sakura menatap puding itu seperti sebuah jalan pintas untuk masuk rumah sakit.

"Bibi, pudingnya dibungkus saja yah. Sakura akan makan itu di rumah karena sekarang perut Sakura sudah sangat kenyang."

Tanpa perlu mencoba, Sakura sudah bisa menebak bagaimana rasa puding itu hanya dengan melihat bentuk dan warnanya saja.

"Kalau dimakan di rumah, nanti bagaimana Bibi bisa tahu rasanya enak atau tidak?"

Sakura segera menimpali. Dia membuat raut wajah serius untuk meyakinkan sang tuan rumah. "Sakura akan memberitahu Bibi melalui telepon. Bagaimana?"

Mikoto terdiam sejenak sebelum akhirnya menganggukkan kepala. "Baiklah. Tapi, Sakura-chan jangan sampai lupa yah?"

Sakura mengangguk mengiyakan. Huffft... nyawanya terselamatkan juga. Eh, atau sebenarnya belum? Sakura masih memiliki satu misi yang belum terselesaikan. Misi penting dengan taruhan nyawa.

"Bibi, ngomong-ngomong ... apa Sasuke ada di rumah?"

Mikoto yang semula sedang menata puding di dalam box yang tadi diserahkan Sakura setelah memindahkan isinya ke piring, kini mengalihkan tatapannya pada gadis manis itu.

"Sepertinya belum pulang. Ini hari Rabu kan? Biasanya kalau hari Rabu, Sasuke pulang agak sore karena ada latihan memanah dengan Ayahnya."

Sakura seperti baru dijatuhi durian runtuh saat mendengar kabar itu karena misi pentingnya akan sukses bebas hambatan.

"Urm, Bibi Mikoto, sebenarnya... Sakura datang ke sini selain karena perintah Kaa-san untuk memberikan kue itu pada Bibi, Sakura juga ingin meminjam buku pada Sasuke."

"Ya sudah ambil sendiri saja ke kamarnya." ujar Mikoto seraya mengedipkan mata pada gadis pink itu.

Kaget saja rasanya tidak cukup untuk menggambarkan bagaimana perasaan Sakura saat ini. Dia ingin berteriak dan menari hula-hula karena terlalu senang. Siapa yang menyangka kan kalau misinya akan semulus ini?

"Apa benar Sakura bisa mengambil sendiri ke kamar Sasuke, Bibi?"

Mikoto mengangguk, "Memangnya Sakura-chan ingin diantar Bibi?"

"Tidak!" Oh, tidaaak. Respon yang terlalu cepat Sakura. Lihat, Bibi Mikoto memasang wajah curiga jadinya. "Hehehe... Sakura tidak mau mengganggu pekerjaan Bibi. Ya sudah, Sakura akan pergi ke atas dulu." sambung Sakura sebelum akhirnya melesat secepat kilat menuju lantai atas.

Rumah Sasuke di desain khusus oleh Itachi-nii yang berprofesi sebagai arsitek. Tata letak ruang dan desain interiornya sangat berbeda dengan kebanyakan rumah. Elegan saja tidak cukup untuk mendeskripsikan rumah keluarga Uchiha ini. Saat Sakura pertama kali main ke rumah ini, Sakura sampai melepas sandalnya karena takut menggores marmer indah dan mengkilap yang sedang dipijaknya. Sasuke mengatainya kampungan karena melakukan hal konyol itu. Sialan memang si pantat ayam itu.

Letak kamar Sasuke berhadapan dengan kamar Itachi-nii di lantai dua, tepat di lorong sebelah kiri sedangkan kamar utama ditempati Bibi Mikoto dan Paman Fugaku di lorong sebelah kanan. Sakura melangkahkan kakinya dengan pasti ke sebuah pintu bercat hitam dengan stiker Aomine Daiki sang member basket kiseki no sedai.

Karena sudah diberi tahu oleh sang Nyonya Uchiha kalau anak bungsunya tidak ada di rumah maka Sakura memutuskan untuk tidak mengetuk pintu lebih dulu. Karena ini bukan pertama kalinya bagi Sakura masuk ke dalam kamar Sasuke, jadi dia tidak merasa terpukau saat melihat bagaimana isi di dalam kamar itu. Tata letak barang yang sangat rapi dan keadaan kamar yang super bersih -padahal Sakura yang notabenenya seorang gadis saja tidak memiliki kamar sebersih itu- tidak lagi membuatnya tercengang.

Kamar ini khas seorang Uchiha yang dingin dan cuek. Di dalam sana hanya ada ranjang yang terletak di tengah ruangan, satu meja belajar di sudut kiri, lemari besar yang letaknya dekat dengan pintu kamar mandi dan tepat di depan ranjang terdapat perabot yang di atasnya terdapat TV layar datar 60 inchi, PlayStation, dan DVD player. Dulu, saat SMP, Sakura dan Ita-nii sering main di kamar Sasuke, kadang mereka main PS sampai malam dan membuat Sasuke marah-marah karena tidak konsen belajar.

"Hahaha membuat seorang Sasuke marah memang sudah jadi hobiku sejak dulu yah ternyata." kekeh Sakura seraya membelai TV besar itu dengan perasaan kangen.

Menatap ranjang dengan seprai biru dongker dan bed cover motif basket membuat Sakura tergiur untuk meloncat ke sana. Berguling, tengkurap, terlentang, Sakura melakukan hal yang dulu selalu ia lakukan di ranjang ini. Hmmpt, hidungnya mengendus wangi jeruk yang bercampur kayu manis yang masih tertinggal di seprai.

"Wangi ini selalu sukses membuat kedua mataku berat." keluh Sakura seraya menghirup seprai itu lebih dalam sampai otaknya teringat sesuatu. "Astaga, aku lupa kalau kedatanganku ke sini karena misi penting!" ia lekas bangkit dari posisi nyamannya. Menatap ke kepala ranjang, Sakura langsung tersenyum. "Kau bersembunyi di sana kan?" ocehnya seraya merangkak menuju dua bantal milik Sasuke. "Hehehe... ketemu!" kemudian ia berseru girang saat tangannya menemukan barang yang dia cari.

"Apa yang kau lakukan?"

Oh, tidak! Jangan katakan kalau orang yang menegurnya tadi adalah si pemilik kamar?

Kepala Sakura menoleh ke belakang dengan kecepatan super pelan, sudah mirip laju internet yang hampir kehabisan paket data. "Sasuke?!" cowok itu berdiri di ambang pintu kamar. Dia mengenakan handuk berwarna putih hanya dari pinggul hingga lutut, dada bidangnya dipamerkan dengan gratis. Rambut basah dan bau lemon segar yang menyeruak membuat Sakura tahu kalau cowok itu baru selesai mandi.

Bukankah Bibi Mikoto bilang Sasuke sedang ada latihan memanah dengan Ayahnya? Lalu apa ini?

"Kau sudah pulang?" tanya Sakura sembari merangkak turun dari atas ranjang.

Alis kiri Sasuke terangkat, "Pulang dari mana?"

"Bibi Mikoto bilang kau sedang latihan memanah dengan paman Fugaku." Sakura meneguk ludah saat tatapan Sasuke tertuju pada tangannya yang ia sembunyikan di belakang tubuh.

"Biasanya memang begitu tapi hari ini aku sedang malas." Sasuke berjalan menuju lemari baju, ia mengambil kaos hitam kemudian memakainya. "Lalu kau sendiri? Apa yang kau lakukan di kamarku?" suara sedingin es balok itu seakan meraup udara di sekitar yang berimbas pada detak jantung Sakura yang melemah. "Apa yang ada di tanganmu?"

Sakura sekarat sekarang. Benar-benar sekarat!

"Tidak ada apa-apa." jawabnya seraya tersenyum hambar.

Sasuke mendengus, tatapannya berubah menyipit dan kaki panjangnya mulai melangkah mendekat.

Oh, tidak. Oh, tidak. Apa yang akan dia lakukan?

Kalau saja Sakura punya kekuatan super, mungkin saat ini dia sudah terjun dari jendela untuk melarikan diri.

Kepanikan kian melambung saat tubuh Sasuke beserta harum lemon-nya semakin mendekat, lebih dekat dan ... Sakura hanya punya satu peluang untuk kabur. Oke, pintu kamar sedikit terbuka, target masih memperlambat langkahnya dan di sini kecepatan larinya benar-benar diuji.

"Oh, aku baru ingat kalau Bibi Mikoto memanggilku untuk mencicipi resep barunya, dah Sasuke ..." Sakura mengerahkan semua tenaganya untuk lari sampai dia tidak memerhatikan mana pintu dan mana kusennya. Benturan antara jidat dan kerasnya kusen tidak bisa terelakkan, tubuh kurus Sakura jadi terhuyung ke belakang dan kembali menabrak sesuatu. Dikarenkan tidak menemukan keseimbangan, secara otomatis tangan Sakura mencari pegangan dan ... "KYAAAA!" kemudian ia memekik setelah menyadari bahwa benda yang ia jadikan pegangan tadi adalah handuk yang melingkar di pinggul Sasuke.


Sakura mendengus sebal pada gadis pirang di seberang meja. Kalau saja dia tidak sayang pada gadis itu, mungkin vas bunga di atas meja sudah ia lempar ke arah si pirang agar dia berhenti menertawainya.

"Hahaha... Serius kau menarik handuk Sasuke, jidat?" Ino kembali mengulang pertanyaan yang sama untuk ke 10 kalinya.

Sakura memutar bola mata jengah. "Bertanya sekali lagi kau akan mendapat hadiah bantal melayang, Ino!"

"Oke, oke ... Aku akan berhenti bertanya dan tertawa."

Sakura mengerucutkan bibirnya.

Jangankan Ino, dirinya sendiri merasa tidak percaya bahwa beberapa jam lalu telah melakukan hal paling memalukan dalam hidupnya. Untungnya Sasuke sudah memakai boxer dibalik handuknya itu. Kalau saja tidak, maka mata suci Sakura akan ternoda.

"Bagaimana wajah Sasuke saat handuknya terlepas karena ulahmu? Lalu apa yang kau lakukan setelah itu?"

Sakura mengambil bantal kemudian membenamkan wajahnya di sana. "Dia terlihat terkejut, Ino. Tapi itu tidak bertahan lama. Sedangkan aku, karena terlalu panik aku tidak sempat meminta maaf padanya, rasa malu menyuruhku untuk segera menghilang dari kamar laknat itu." teriak Sakura yang terhalang bantal namun tetap terdengar jelas di telinga Ino. "Parahnya, stempel yang susah payah aku ambil itu malah aku jatuhkan di lantai. AAAARGHHH!"

Tawa Ino kembali meledak. Entah Sakura masih punya keberanian atau tidak saat bertemu dengan Sasuke besok di sekolah. Kalau boleh Ino tebak, besok Sakura akan menghindari Sasuke mati-matian.

"Sudahlah Ino, kita menyerah saja. Lomba busana tidak akan pernah ada kecuali kita mempunyai modal sendiri." Nada frustasi keluar dari mulut Sakura dengan sangat jelas.

Bukannya merespon ucapan sang sahabat, Ino justru sibuk dengan ponselnya sendiri. Entah apa yang sedang gadis pirang itu lakukan sampai membuat ekspresi serius.

"Ino! Kau dengar aku tidak?"

Ino menoleh sekilas, "Iya aku dengar." setelah itu kembali fokus menarikan jemarinya di atas ponsel.

Merasa diabaikan, Sakura akhirnya bangkit dari duduknya kemudian menyambar ponsel milik gadis pirang di seberang meja. Ino melotot tidak terima, dia berusaha mengambil kembali benda berharga miliknya.

"Sakura, kembalikan itu padaku!"

"Tidak, sebelum kau berjanji untuk mendengarkan semua ucapan ku!"

Ino memutar iris biru safirnya, "Aku sedang berdiskusi dengan Sai tentang masalah ini!"

Alis kiri Sakura terangkat, "Benarkah?" keraguan begitu kental pada suara Sakura.

"Baca saja kalau tidak percaya." Ino tidak mau membela diri karena dia tahu semakin mengelak maka Sakura akan semakin tidak percaya padanya.

Gadis dengan rambut permen kapas itu mendengus sebal seraya mengulurkan ponsel yang tadi direbutnya pada yang punya. "Tidak perlu, cukup ceritakan saja hasilnya padaku."

Ino menerima kembali ponselnya dengan senang hati. "Begini, Sai bilang padaku kalau dia punya ide lain untuk melumpuhkan pertahanan Sasuke. Dia menyarankan kita untuk-"

"Tunggu, Ino." potong Sakura, "kenapa kau tidak meminta Sai saja yang mengambil stempel Dewan Murid dari Sasuke?"

Kepala pirang Ino menggeleng. Menyuruh sang kekasih untuk masuk ke kandang singa bukanlah pilihan yang tepat. Ya, Sai memang sahabat kecil Sasuke, akan tetapi itu tidak menjamin bahwa Sai bisa lolos dari amukan Sasuke.

Bukan, Ino bukan egois atau bagaimana. Hanya saja... hubungannya dengan Sai baru berjalan satu bulan dan dia tidak siap jika harus kembali menyandang label jomblo.

"Sakura ... " panggil Ino dengan suara merengek.

Gadis rambut permen kapas di seberang meja mendengus sebal. "Aku mengerti. Jadi, apa saran Sai untuk masalah ini?"

Ino tersenyum. Ia sangat bersyukur mempunyai sahabat yang sangat pengertian seperti Sakura. "Dengarkan aku baik-baik, jidat. " sekarang ... Ino akan mengatakan ide paling gila dari sang kekasih pada sang sahabat.


T

B

C


An:

Gimana-gimana? Chapter kemarin gimana? Semoga kalian suka dan bisa menghibur yah...

Chapter ini juga aku spice harap masih bisa dinikmati

See you next chapter...