Disclaimer ― I do not own Naruto or Highschool DxD

Chapter 2 ― The Moment It Truly Begin


"Yūto-san, bisa katakan lagi kenapa kita melakukan ini?"

Suara monoton yang mempunyai isyarat bahwa orang itu jengkel terdengar dari samping Yūto Kiba. Sang Pangeran dari Kuoh Academy itu hanya menggaruk belakang lehernya dengan malu pada orang di sampingnya.

Naruto dan Yūto, diberi misi oleh Rias untuk mengawasi seorang Hyoudou Issei. Tentunya, seluruh penghuni di Kuoh Academy tentu tahu siapa Hyoudou Issei. Hyoudou Issei adalah salah satu dari tiga Trio Genit yang terkenal di seluruh Akademi bersama Motohama dan Matsuda.

Sungguh, Naruto benci orang genit. Naruto lebih membenci Issei lagi karena Issei pernah mengintip Akeno mengganti baju, tetapi itu adalah cerita lain hari. Naruto masih bingung kenapa Issei dan Trio Genit tidak pernah mati dari hajaran para wanita.

Hyoudou Issei mempunyai rambut berwarna coklat kehitaman dan warna mata hitam. Ia juga adalah penggemar berat Oppai. Walaupun wajah Issei bisa dibilang cukup tampan, sifat genitnya itu yang membuat wanita membencinya.

Itu sangat ironik menurut Naruto. Impian pria genit adalah wanita cantik, sementara wanita cantik benci pria genit. Dan, para pria genit selalu bingung kenapa tidak pernah ada wanita yang berkencan dengan mereka…

"Ah Namikaze-senpai," Suara Yūto membuat Naruto kembali ke realitas. "Hyoudou-san, menurut laporan Buchou diincar oleh Fallen Angels yang berada di kota ini. Untuk alasan apa, kita tidak tahu. Karena itu kita mengawasi Hyoudou-san untuk melihat apa tujuan para Fallen Angels itu." Jelas Yūto dengan suara gentlenya.

Naruto hanya mendengus. Mereka berdua kini sedang berada di taman, dan dari tempat yang jauh, mengobservasi Issei yang kini sedang berada di jembatan penyebrangan sendiri dengan depresi, dan melihat pemandangan dari jembatan itu.

"Mungkin dia membuat kesal salah satu Fallen Angels." Ujar Naruto dengan kasual sambil mengangkat bahunya.

Yūto menaikan alisnya, "Sungguh? Apa yang ia buat, seorang manusia, yang akan membuat Fallen Angels mengincarnya?" Tanyanya dengan agak bingung.

Naruto memberi Yūto wajah face-palmed, "Tentu sangat banyak." Ujarnya, "Mungkin dia suatu hari bertemu dengan istri Azazel yang sedang tersesat, dan kemudian memutuskan untuk memperkosanya? Itu alasan yang masuk akal." Jelas Naruto dengan kasual, seolah tidak perduli dengan nyawa Issei sama sekali.

Yūto hanya face-palmed mendengar jawaban sarkastik Naruto. Ia memberi Naruto pandangan blank, "…Istri Azazel? Kau tahu darimana bahwa Azazel mempunyai istri?" Tanyanya dengan sweatdrop.

Naruto hanya mengangkat bahunya pertanda ia tidak tahu, membuat Yūto kembali sweatdrop. Sungguh, Naruto adalah orang yang sangat dingin pada seroang yang genit. Yūto yakin Naruto lebih membenci Issei karena Issei pernah mengintip Akeno daripada Issei karena dia genit.

"Hyoudou Issei-kun!"

Obrolan mereka terhenti ketika melihat seorang perempuan memanggil Issei. Mata Naruto dan Yūto menyipit ketika merasakan aura perempuan ini adalah aura seorang Fallen Angels. Naruto hanya bisa berpikir bahwa Fallen Angels sudah membuat gerakan apapun yang mereka rencanakan.

Berjalan lebih dekat, tetapi tetap hati-hati untuk tidak terlihat, Naruto mencoba mendengar konversasi mereka.

"Um…. Namaku Amano Yuuma. Aku sering melihat kau melewati jembatan, dan setiap melihatmu dadaku selalu bergetar…" Ucap perempuan yang mengakui namanya Amano Yuuma.

Isse melihat kearah Yuuma dengan blush dan ekspresi berharap di wajahnya.

"Aku.. Aku terlalu malu untuk berbicara ini padamu… Jadi…. Um….. Maukah kau berkencan denganku?!" Ucap Yuuma, sedikit berteriak di bagian akhir.

Issei melihat Yuuma dengan pandangan shock, sebelum akhirnya sembuh, dan kemudian menggaruk kepala belakangnya sambil tersenyum malu kearah Yuuma. Dua buah blush terlihat di kedua pipinya.

"Um, baiklah, Yuuma-chan. Kapan kencannya?" Tanya Issei dengan ekspresi malu-malu.

Naruto harus mengakui, bahwa sebenarnya Issei bukanlah orang yang buruk kalau saja Issei tidak genit. Tetapi Naruto harus memuji Issei untuk kebodohannya. Apa lelaki itu tidak pernah berpikir bahwa itu aneh, perempuan yang baru ditemuinya, tiba-tiba mengajaknya untuk kencan? Terlebih lagi, ditambah dengan sebuah fakta bahwa seluruh perempuan benci pria genit.

Naruto mendengar lagi, bahwa mereka akan kencan saat hari minggu pukul 5 sore. Dengan itu, Issei dan Yuuma, berjalan kearah yang berlainan. Naruto yakin Issei hanya ingin menyombongkan 'pacar' barunya pada kedua temannya yang juga adalah member dari Trio Genit.

Memutuskan bahwa Naruto sudah mendengar secukupnya, Naruto kembali ke tempat Yūto. Disana ada Yūto menunggunya dengan eskpresi penasaran sekaligus serius.

"Apa yang terjadi, Namikaze-senpai?" Tanya Yūto dengan ekspresi serius.

Naruto kemudian melihat kearah tempat dimana Issei dan Yuuma mengobrol tadi, dan melihat kearah Yūto lagi, "Kita harus melaporkan ini pada Rias-sama. Fallen Angels sudah muali bergerak." Ujar Naruto.

Yūto mengangguk. Naruto kemudian berjalan kearah Yūto, memegang pundaknya. Tanpa perkataan apapun, mereka menghilang dalam cahaya kuning.


-Occult Research Club-

Sebuah cahaya kuning muncul di tengah-tengah ruangan klub meeting Penelitian Makhluk Gaib. Cahaya iitu meredam, menunjukan dua figur, yaitu Yūto dan Naruto.

Seperti biasa, Yūto langsung terjatuh lagi ketika mendarat dari Hiraishin, sementara Naruto mendarat tanpa masalah apa-apa.

"Ugh…. Aku masih tidak tahu kenapa kau selalu bisa mendarat dengan mudah, senpai." Ucap Yūto sambil mengusap kepalanya yang sakit.

Naruto tetap membiarkan wajahnya impasif, "Mungkin karena aku sudah sering melakukan tekhnik ini?" Jawabnya dengan sarkastik. Naruto kemudian melihat kearah para penghuni klub lainnya.

Akeno dan Rias, sedang bermain catur dengan serius, seolah tidak melihat kedatangan mereka. Koneko masih di sekolah, jadi yang ada di ruangan klub hanyalah Akeno dan Rias.

Naruto berjalan kearah Akeno dan Rias, yang sepertinya sedang sangat serius. Melihat Rias baru saja jalan, Naruto bisa melihat Akeno memikirkan untuk melakukan gerakan selanjutnya. Melihat tidak ada yang jalan selama beberapa menit, Naruto hanya menaikan bahunya dengan kasual. Ia kemudian mengambil bishop Akeno, dan kemudian menjalankannya untuk memakan Rook Rias. Dengan ini, King Rias terperangkap, dan bagaimanapun ia jalan, King dari Rias bisa dimakan Bishop atau tidak Knight dan Rook Akeno yang memerangkap Rias.

Dengan senyuman, Naruto berkata, "Checkmate."

Rias melebarkan matanya ketika melihat ini. Ia belum pernah kalah melawan Akeno saat bermain catur, dan ini adalah pertama kalinya ia kalah melawan Akeno! Dengan pikiran seperti itu, Rias memberi glare kepada Naruto.

"Oh my, sepertinya aku menang kali ini Buchou." Goda Akeno yang kini menutup mulutnya dengan tangannya untuk menahan tawanya.

Rias hanya memberi Akeno glare, "Kau dibantu oleh Naruto-kun, Akeno. Itu tidak termasuk menang." Balas Rias.

Akeno hanya tersenyum menggoda, "Tidak ada peraturan yang berkata bahwa pemain tidak bisa dibantu, bukan? Aku menang dengan adil, Buchou." Goda Akeno.

Rias hanya cemberut, dan kemudian melipatkan tangannya di bawah dadanya. Ia kemudian menengok kearah Naruto, yang kini sudah duduk di sofa bersama Yūto, berusaha untuk bertindak innocent.

Akeno kemudian berdiri dari tempat duduknya, dan berjalan kearah Naruto. Melihat Naruto menaikan alisnya, Akeno hanya duduk di sampingnya, dan memberi Naruto senyuman. Naruto membalas senyumannya.

"Ehem," Rias membatuk. "Jadi, apa yang ingin kau laporkan, Naruto-kun? Bukankah kau dan Kiba-kun masih dalam durasi misi?" Tanya Rias.

Naruto mengangguk, "Fallen Angels sudah membuat gerakan mereka." Jelas Naruto, mendapat perhatian dari Rias dan Akeno. Melihat Rias mengisyaratkannya untuk melanjutkan, Naruto kembali menjelaskan, "Salah satu Fallen Angels, yang mengakui namanya Yuuma Amano menghampiri Hyoudou Issei beberapa menit yang lalu saat aku dan Yūto-san mengawasinya. Yuuma Amano mengajak Hyoudou-san kencan pada hari minggu pukul 5 sore. Menurutku, apapun yang akan dilakukan Fallen Angels akan dilakukan pada hari itu." Jelas Naruto.

Rias mengangguk, dan mengusapkan dagunya dengan tangannya, memikirkan sesuatu. Selama beberapa menit, tidak ada yang berbicara. Satu sama lain masih memikirkan apa yang ingin dilakukan Fallen Angels pada Issei.

Keheningan itu akhirnya dipecahkan oleh Rias sendiri, "Dan, Issei tidak mencurigai apapun?" Tanya Rias, sedikit kebingungan kenapa Issei tidak curiga.

Naruto hanya menatap kearah Rias sambil menaikan alisnya, "Curiga ketika ada gadis yang sangat cantik, menghampirinya dan mengajaknya kencan ketika mimpinya adalah untuk memegang Oppai? Tentu saja dia sangat curiga." Jawab Naruto dengan sarkastik.

Rias hanya menghela nafasnya, "Aku serius, Naruto." Ucapnya.

Naruto hanya menatap Rias dengan flat, "Dan aku Naruto. Senang bertemu denganmu, 'Serius.'" Canda Naruto, membuat Akeno terkekeh dengan tingkah laku anak kecilnya, sementara Yūto tersenyum karena candaan Naruto. Rias sendiri hanya memutarkan bola matanya ketika mendengar komentar sarkastik lagi dari Naruto.

"Tetapi sungguh, apa yang ingin didapatkan oleh Fallen Angels?" Tanya Rias, lebih kepada dirinya sendiri daripada ke yang lain.

Yūto, yang daritadi diam saja berdiri dari sofanya, "Apa mungkin Hyoudou-san mempunyai Sacred Gear?" Tebak Yūto, melihat kearah yang lain.

Mata Rias melebar sedikit karena itu sesuatu yang masuk akal, "Tetapi, Sacred Gear apa yang Hyoudou Issei punyai sampai-sampai mendapat perhatian Fallen Angels?" Tanya Rias.

Naruto kemudian memutuskan untuk berbicara, "Apa yang dikatakan Yūto-san cukup masuk akal. Dari yang kudengar, Azazel, Ketua dari Grigori adalah fanatik Sacred Gear. Mungkin saja Azazel memerintahkan beberapa Fallen Angels untuk mengobservasi Hyoudou-san, dan mungkin memintanya bekerja kepada Fallen Angels." Jelas Naruto, memberikan opininya.

"Atau mungkin Sacred Gear yang dimiliki Hyoudou-san adalah salah satu dari Longinus?" Akeno yang daritadi diam, kemudian berbicara.

Seluruh penghuni di ruangan hanya menatap Akeno dengan ekspresi yang aneh, sementara Akeno hanya tersenyum manis seperti biasanya. Selama beberapa menit, mereka hanya hening saja, mempunyai pikiran tersendiri atas opini Akeno.

Keheningan itu dipecahkan oleh Naruto yang terkekeh, "Oh, lelucon yang bagus, Akeno. Sacred Gear Longinus ada di tubuh orang genit itu?" Tanya Naruto, berpikir bahwa ide itu gila.

Rias sendiri tidak seperti Naruto yang melihat bahwa itu gila, "Itu mungkin saja, Naruto-kun. Mmm…. Mungkin aku akan menawarkannya menjadi Peerage ku. Bisakah kau bayangkan, salah satu dari Longinus berada di peerage ku? Oooh aku tidak sabar untuk memamerkan ini pada Sona." Ujar Rias dengan ekspresi berharap di wajahnya.

"Jadi, apa yang akan kita lakukan, Buchou?" Tanya Yūto.

Rias hanya tersenyum yang terlihat seperti seringaian, "Kita hanya tunggu saat yang tepat saja. Sekarang, kita hanya mengawasinya saja." Ucap Rias, kembali ke majanya dan duduk disana, menandakan bahwa diskusi ini selesai.

Tepat saat itu juga, tangan Yūto mengeluarkan cahaya sedikit, pertanda ada kontrak yang harus ia penuhi.

"Maaf, sepertinya ada yang memanggilku. Sampai jumpa, President, Vice-President, dan Namikaze-senpai." Dengan itu, Yūto berjalan ke Magic Circle dan mengaktifkannya, membuatnya teleportasi ke tempat sang pemanggil.

Melihat bahwa hanya tinggal Naruto dan Akeno saja yang bebas jadwal, Naruto melihat kearah Akeno, "Kau sudah makan siang, Akeno?" Tanya Naruto. Ketika melihat Akeno menggeleng, Naruto tersenyum, "Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Aku tahu café di dekat sini." Naruto menyarankan.

Akeno tersenyum besar, "Ara, ara, apa Naruto-kun mengajakku kencan?" Goda Akeno.

Naruto hanya menaikan alisnya, "Hmm, bagaimana kalau iya?" Jawab Naruto.

Akeno blushing, tetapi senyumannya makin besar. "Baiklah, ini kencan!" Seru Akeno, dan kemudian berlari sambil menyeret Naruto.

Sementara Rias di belakang hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Naruto dan Akeno. Rias tidak tahu kenapa mereka berdua tidak berpacaran saja, karena terlihat sekali mereka berdua bukan saja suka sama lain, tetapi mencintai satu sama lain.

Rias hanya sedikit cemburu pada Akeno. Naruto adalah apa yang semua wanita inginkan. Akeno sangat beruntung untuk bisa mendapatkan Naruto, lelaki yang mendedikasi hidupnya untuk melindungi Akeno. Rias masih ingat saat dimana Naruto memohon padanya untuk mengambil Akeno.

Rias hanya berharap, ia bisa menemukan seseorang yang mencintainya juga. Yang mencintai Rias karena ia adalah Rias, bukan Rias Gremory dari Keluarga Gremory. Ditambah lagi dengan kontrak 'itu' Rias tahu bahwa ia harus menemukan orang itu secepatnya.


-With Issei-

Namaku adalah Hyoudou Issei. Murid kelas dua SMA di Kuoh Academy, yang dulunya adalah sekolah khusus wanita sebelum akhirnya berganti menjadi sekolah campuran. Bersama dua sahabatku, Motohama dan Matsuda, kami bertiga dikenal sebagai Trio Genit. Tiga murid yang paling dibenci oleh seluruh wanita di sekolah.

Issei hanya bingung kenapa ia dibenci. Seluruh lelaki adalah orang genit! Ia tahu ia sedikit― ehem, oke, ia tahu ia lebih sering mendeklarasikan pada dirinya bahwa ia seorang genit, tetapi tetap saja, menjadi genit bukanlah sebuah kejahatan.

Ia hanya ingin sebuah Oppai! Oppai adalah impian seluruh lelaki yang sehat! Kau harus memerasnya, merasakannya, dan mengulumnya! Bahkan Motohama dan Matsuda setuju dengannya.

Ia kini sedang berada di jembatan yang biasa ia lewati, dengan eskpresi depresi di wajahnya. Kalau begini terus, ia tidak akan bisa memegang Oppai ketika ia lulus nanti. Saat ia pertama kali masuk masa SMA, ia kira ia akan menjadi lelaki yang dikelilingi wanita. Pertama, ia akan mengencani wanita, lalu seminggu kemudian, ia mengencani yang lain, dan begitu seterusnya.

Dengan begitu, saat ia lulus, seluruh wanita di Kuoh akan merebutkan dirinya, dan akan ada kompetisi untuk mendapatkan hati Issei-sama! Lalu, nanti ia akan memberhentikan kompetisinya dengan dramatik, dan kemudian mengatakan bahwa ia mencintai mereka semua dengan sama. Dengan begitu, saat ia kuliah, ia sudah menjadi Harem King!

Lalu kemudian saat kuliah, para lelaki akan cemburu padanya, sementara para wanita akan cemburu pada Harem Issei. Dengan begitu, seluruh wanita di kampusnya akan berkompetisi dengan wanitan di SMA-nya untuk merebut hati Issei-sama!

Ia kembali ke realitas ketika seseorang memanggilnya, "Hyoudou Issei-kun!"

Mendengar suara itu, Issei menengok ke sang sumber suara. Ketika melihat seseorang yang memanggilnya, mata Issei melebar dan sebuah blush terlihat di kedua pipinya.

'Sangat cantik….' Pikir Issei. Issei kemudian melihat kearah dadanya, 'Lumayan besar. Andai saja aku mempunyai kekuatan Motohama untuk mengukur dada perempuan hanya dengan sekali melihat! Damn you, Motohama!'

Perempuan yang memanggil Issei terlihat seumuran dengannya, dengan rambut berwarna raven sepinggang dan mata violet yang indah yang hanya bisa ditandingi oleh Akeno-senpai. Perempuan itu memakai seragam sekolah yang terdiri dari jaket merah gelap, dengan huruf P yang dimoles dengan warna emas. Kaus berwarna putih dan rok berwarna hijau.

"Y-ya?" Jawab Issei, masih tercengang dengan cantiknya wanita di depannya.

Wanita itu blushing, membuat Issei blushing juga, 'Inilah saatnya! Aku pernah membaca ini di manga! Ini scene dimana karakter utama perempuan mengakui perasaannya pada pahlawan yang menyelamatkannya! Pahlawan yang menyelamatkannya lalu tersenyum, dan kemudian menciumnya sambil membisikan I love you too ke telinganya!' Batin Issei dalam hati, memikirkan apakah ia bisa melakukan seperti itu apa tidak.

"Um…. Namaku Amano Yuuma. Aku sering melihat kau melewati jembatan, dan setiap melihatmu dadaku selalu bergetar…" Ujar Yuuma dengan blush di wajahnya, dan dengan malu-malu mengetuk kedua jari telunjuknya.

Issei melihat ke Yuuma dengan pandangan penuh harapan, 'Oh oh! Aku tahu yang ini! Ini dimana sang protagonist perempuan, karena terlalu malu memberitahu perasaannya, langsung meloncat ke pelukan sang pangeran yang menyelamatkannya, dan lalu menciumnya dengan panas!' Issei kemudian memikirkan sebuah scene di kepalanya dimana sang perempuan di depannya, dengan blush di wajahnya, menggumam kepada Issei, 'Tubuhku hanya untukmu, Issei-sama!'

"Aku.. Aku terlalu malu untuk berbicara ini padamu… Jadi…. Um….. Maukah kau berkencan denganku?!" Seru Yuuma dengan blush di pipinya yang membuatnya semakin lucu.

Hati Issei tepat berhenti ketika Yuuma mengucapkan itu. Ia tidak percaya tuhan mengabulkannya! Ia tidak sabar untuk memamerkan ini kepada Motohama dan Matsuda. Pertama, ia harus memastikan dulu apakah ini fantasi atau tidak.

Setelah menyubit pipinya sekali, menandakan bahwa ia tidak mimpi, Issei tersenyum besar. Akhirnya! Ia tahu bahwa suatu saat ada wanita yang menyukainya! Dengan ini, seluruh lelaki akan cemburu. Dan lalu, wanita yang membencinya di Kuoh, akan cemburu pada Yuuma karena Issei akan memperlakukan Yuuma seperti princess.

Dengan itu, semua perempuan akan merebutkannya dan ia akan menjadi Harem King!

"U, um… Hyoudou-kun?"

Suara Yuuma kembali membawanya ke realitas. Ia kemudian menggaruk belakang lehernya sambil tersenyum malu pada Yuuma, "A-ah ya! Tentu saja, Yuuma-chan, aku akan berkencan denganmu! Baiklah Yuuma-chan, kapan kencannya?"

Yuuma tersenyum besar dengan dua buah blush di pipinya, "Minggu pukul 5 sore!" Seru Yuuma, ia kemudian mengambil suatu kertas dari kantungnya, dan memberinya ke Issei, "Ini adalah nomor telfonku. Jangan lupa ya, Hyoudou-kun!" Dengan itu, Yuuma pergi berlari dari Issei.

Issei hanya disana. Ekspresi bodoh terlihat di wajahnya. Ia kemudian pelan-pelan menampar wajahnya, mendapatkan erangan kesakitan "Aw!" dari dirinya sendiri. Menyadari bahwa ini bukan mimpi, Issei kemudian tersenyum besar, dan menggenggam erat nomor telfon Yuuma-chan. Oh, ia tidak sabar untuk memberitahukan ini pada Motohama dan Matsuda.


-The Next Day-

Pagi di Kuoh Academy adalah pagi biasa untuk sekolah menengah atas lainnya. Banyak murid yang datang dengan kendaraan sport untuk dipamerkan. Banyak juga murid yang lebih memilih datang kesekolah dengan berjalan untuk bertemu dengan teman mereka di tengah perjalanan.

Di gerbang Kuoh Academy, terlihat 3 figur yang sedang mengobrol pada satu sama lain. 3 Figur itu adalah 3 figur yang paling dibenci oleh seluruh wanita di Kuoh Academy. Siapa lagi kalau bukan Sang Trio Genit.

"Oy, Issei! Apa kau bercanda? Kau mempunyai pacar itu seperti pluto adalah planet terbesar! Mustahil!" Seru Matsuda. Pria botak yang dulunya adalah pemain olahraga, tetapi berhenti karena ia ingin menggapai impian genitnya.

"Aku setuju dengan Matsuda, Issei." Ucap Motohama. Pria yang memakai kacamata, yang katanya bisa mengukur 3 asset wanita hanya dengan sekali lihat.

Issei hanya menyeringai kepada kedua sahabatnya, "Tenang saja. Aku akan berjanji untuk memperkenalkan Yuuma-chan pada kalian! Dan lagipula, besok sore kita juga akan berkencan!" Seru Issei.

Matsuda hanya menggeleng, masih memilih untuk tidak mempercayai Issei. Beberapa detik kemudian, wajah Matsuda kemudian berbubah menjadi wajah genit, "Apa kalian tahu? Aku berhasil mendapatkan DVD Playboy!" Seru Matsuda dengan bangga.

Mata Motohama melebar, "Tidak mungkin! Playboy? Playboy majalah Amerika itu?" Tanya Motohama yang tidak yakin.

Matsuda hanya mengangguk, dan mereka berduapun mendiskusikan tentang sesuatu yang 18+, mendapatkan pandangan jijik dari perempuan sekitar, sementara pandangan cemburu dari beberapa lelaki yang mendengar percakapan mereka.

Issei hanya menghela nafasnya. Ia sudah tidak perduli dengan apa yang didiskusikan oleh dua sahabatnya. Yang ia pikirkan kali ini adalah kencannya dengan Yuuma-chan! Beberapa skenario yang berakhir dengan suatu yang genit kini sedang bermain di kepalanya, membuat hidungnya mimisan sedikit.

Ia terhenti dari fantasinya ketika melihat beberapa wanita kini sedang mengelilingi seseorang. Seseorang itu mempunyai rambut blonde, penampilan bishounen, dan mata hitam. Issei kemudian cemberut.

'Yūto Kiba kelas 2-C. Lelaki yang dijuluki Pangeran Kuoh Academy. Musuh dari seluruh lelaki di Kuoh Academy.' Pikir Issei, mengingat profil Yūto Kiba di kepalanya. 'Ahli olahraga Kendo, dan selalu mempunyai jadwal sparring bersama Namikaze-senpai di Klub Kendo setiap hari Senin.'

Issei hanya menggeleng, dan kemudian mencoba melihat yang lainnya. Ia kemudian melihat sebuah wanita, yang mempunyai ekspresi serius. Perempuan itu mempunyai rambut sebahu, dan memakai kacamata.

'Shitori Souna-senpai. President Dewan Mahasiswa, kelas 3-A. Selalu mempunyai nilai yang bagus, dan salah satu siswa teratas Kuoh Academy. Perempuan terpopuler ke-3 setelah Rias Gremory-senpai dan Himejima Akeno-senpai.' Pikir Issei.

Issei mengalihkan pandangannya lagi, kini kepada sebuah pasangan lelaki dan perempuan yang sedang mengobrol satu bersama satu sama lain. Yang lelaki itu mempunyai rambut pirang yang lebih gelap daripada Yūto, dan wajah yang tampan. Sementara yang perempuan, mempunyai rambut hitam panjang yang ia kuncir menjadi high-ponytail. Keduanya sama-sama memakai seragam Kuoh Academy.

'Kuoh Academy Greatest Couple. Namikaze Naruto-senpai dan Himejima Akeno-senpai dari kelas 3-C. Diromurokan selalu bersama sejak mereka berada di tahun pertama di sini. Namikaze Naruto, yang dijuluki Pangeran Misterius, musuh dari seluruh lelaki di Kuoh. Himejima Akeno, salah satu dari Dua Kuoh Greatest Woman. Wanita impian seluruh lelaki di Kuoh.' Pikir Issei.

Issei hanya menghela nafasnya. Ia kemudian mendapatkan senyuman lagi di wajahnya, karena esok hari ia akan kencan dengan Yuuma-chan!


-With Naruto-

Kini sedang jam istirahat. Dan kalian bisa melihat Naruto dan Akeno berada di kantin Akademi, bercanda bersama satu sama lain. Walaupun mereka biasanya makan siang bersama di Klub, bersama memberi peerage Rias lainnya, kini mereka memutuskan untuk makan di kantin.

Akeno, dengan cemberut, melihat Naruto memakan ramen, "Naruto-kun, kemarin kau sudah makan ramen. Dua kali. Itu tidak sehat kau tahu," Akeno menceramahi.

Naruto hanya memutarkan bola matanya, "Setahuku minggu yang lalu kau memakan ramen 2 kali sehari." Balas Naruto. Dan langsung saja, pipi Akeno blushing karena malu.

Melupakan malunya, Akeno kemudian mengambil mangkuk ramen Naruto, mengabaikan teriakan protes Naruto, dan kemudian menggantikannya dengan kotak bento yang entah ia ambil dari mana. Akeno kemudian menaruh kotak bento itu di depan Naruto.

Naruto hanya menaikan alis matanya melihat kotak bento di depannya, "….Um, ini apa?" Tanyanya kebingungan.

Akeno hanya deadpan mendengar pertanyaan Naruto. Memberi Naruto pandangan jengkel, Akeno menjawab, "Tentu saja bento. Apa kau tidak lihat?"

Naruto hanya memutarkan bola matanya jengkel. Ia kemudian membuka kotak bento itu, dan kemudian hidungnya diserang oleh harumnya bau makanan itu. Melihat baunya sangat enak, Naruto langsung mengambil sumpit yang disediakan, dan mencicipinya.

Naruto mengunyah makanannya, tidak sadar akan pandangan penuh harapan dari Akeno. Ketika sudah menelannya, Naruto langsung tersenyum besar dan matanya mengkilau sedikit.

"Sangat enak!" Seru Naruto, kembali memakan bentonya. Ia kemudian melihat kearah Akeno, yang entah kenapa mempunyai blush di pipinya dan senyuman senang, "Dimana kau membelinya Akeno?" Lanjutnya.

Dan hanya dengan itu, senyuman bahagia Akeno langsung berubah menjadi senyuman gerogi, dan sebuah blush terlihat di kedua pipinya. Akeno yang ini beda sekali daripada Akeno yang biasanya sangat percaya diri dan manis.

Naruto, melihat perubahan aura dari Akeno, melihat kearah Akeno dengan khawatir, "Um… Ada apa, Akeno?" Tanyanya.

Akeno hanya tersenyum gerogi, "A-ah… i-itu… itu adalah buatanku sendiri, bentonya." Jawab Akeno dengan malu-malu.

Naruto, mendengar ini, langsung terselak, dan kemudian membatuk. Ia kemudian kembali melihat kearah Akeno, "Um, apa kau bilang?" Tanyanya.

Aura Akeno kemudian berubah menjadi gelap, dan ia terlihat mempunyai senyuman manis, terlalu manis menurut Naruto, "Itu adalah buatanku. Ada masalah, Naruto-kun?" Tanyanya dengan nada yang sangat manis.

Hanya dengan itu, Naruto Namikaze, Seorang Devil dan pemegang energi Chakra, jenius yang menginventasi Hiraishin dan satu-satunya High-class Devil dalam Peerage Rias selain Rias sendiri, menjadi gerogi, "A-ah, Akeno, um…. Aku sudah kenyang. Bagaimana kalau kita ke klub?" Naruto menyarankan dengan gerogi.

Akeno masih tersenyum manis, dan menangkap tangan Naruto yang tadinya sedang ingin berdiri dari meja mereka, menjadi kembali duduk sambil menelan ludahnya dengan gerogi.

Akeno kemudian memberi Naruto glare, walaupun senyuman manisnya masih ada disini, "Kau tetap tinggal disini, dan habiskan makanannya, Namikaze Naruto." Perintah Akeno dengan stern.

Naruto hanya jaw-drop, ia kemudian melihat Akeno dengan gila, "Akeno, aku masih trauma dengan masakanmu. Apa kau tidak ingat terakhir kalinya kau ingin memberiku bento saat kita hanya berumur 5 tahun?"

Akeno, walaupun di situasi seperti ini, masih sempat untuk blushing karena malu. Ia kemudian memberi Naruto glare, "Itu waktu kita berdua hanya 4 tahun! Lagipula, mana aku tahu kalau berasnya saat itu harus dimasak dulu untuk menjadi nasi." Protes Akeno.

Naruto memandang Akeno dengan deadpan, "Ya, tentu saja. Jangan lupa kau juga menaruh daging ikan yang masih mentah ke dalam bentonya, dan memaksaku untuk memakannya." Balas Naruto lagi.

Akeno kembali blushing, "Saat itu aku masih 5 tahun! Aku belum tahu apa yang namanya masak." Akeno kembali protes, berusaha memenangkan argumennya.

Naruto memutarkan bola matanya, "Yep. Anak 5 tahun yang tidak tahu memasak. Dan orang dewasa tidak tahu apa yang namanya sex," Naruto kembali membalas dengan sarkastik.

Akeno hanya melipatkan tangannya di dada, dan dengan huff, memalingkan wajahnya, "Kalau begitu kenapa kau memakannya?" Akeno membalas. Sebuah senyuman kemenangan terlihat di wajahnya.

Naruto melebarkan matanya. Ia membuka mulutnya, tetapi tidak ada yang keluar, dan hanya menutup mulutnya lagi. Ia membukanya lagi, masih tidak ada kata yang keluar, dan menutupnya lagi. Dengan blush di pipinya karena malu, Naruto memlaingkan wajahnya karena malu. Sungguh, kau tidak akan pernah menang argumen melawan seorang perempuan.

Naruto melihat kearah Akeno lagi, dan melihat, bento yang tadi sudah ada di tangan Akeno dan Akeno mencondongkan bento itu ke Naruto.

Dengan huff, Naruto mengatakan, "Aku masih tidak akan memakannya. Aku masih trauma. Apa kau tidak ingat setelah memakan makanan itu aku berada di rumah sakit selama 2 hari karena sakit perut?"

Akeno hanya memutarkan bola matanya jengkel, "Kau terlalu childish, Naruto-kun. Makan atau kupaksa?" Akeno mengancam. Melihat Naruto masih diam, Akeno kemudian mencubit tangan Naruto, membuat Naruto mengerang sakit dan berteriak 'Aw!', tepat disaat mulutnya terbuka, Akeno memasukan sesumpit bento ke mulut Naruto.

Melihat bahwa ia ditipu oleh Akeno, Naruto hanya memberinya glare, sementara mengunyah bentonya, berharap bahwa ia tidak harus ke rumah sakit untuk beberapa hari kemudian. Naruto mengunyahnya saja, dan ketika sudah menelannya, Naruto hanya blushing malu karena bentonya memang benar, enak.

Akeno, melihat wajah malu Naruto, tahu apa yang ada di pikiran Naruto. Dengan senyuman manis, Akeno menggoda, "Jadi, bagaimana?" Tanyanya dengan nada menggoda.

Naruto memalingkan wajahnya, "Aku akui, bahwa itu sangat enak…" Gumam Naruto. Suara Naruto sangat kecil, dan lebih terdengar seperti bisikan.

Akeno, hanya karena peningkatan pendengarannya karena ia adalah iblis, bisa mendengarnya. Dengan senyuman puas, Akeno kembali mengambil sesumpit bento dan menyondongkannya ke mulut Naruto. Naruto hanya menyerah, dan membuka mulutnya, membiarkan Akeno menyuapinya.

Selama jam makan siang, mereka menghabiskan waktunya dengan menyuapi satu sama lain. Tidak mengetahui mereka mendapatkan pandangan kagum dari murid setempat yang terpesona karena momen romantis mereka.


Sehabis makan siang, mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu di Klub. Sesampainya disana, disana ada semuanya. Terlihat sekali mereka juga habis makan siang. Langsung saja, Rias menawari Akeno bermain catur, sementara Naruto duduk di sofa di samping Kiba dan Koneko.

Tidak beberapa menit kemudian, ia dan Yūto kini sedang mendiskusikan tentang pedang dan kendo, sekaligus berdebat tentang Turnament Kendo Nasional yang baru saja berakhir beberapa hari ini. Turnamen itu dimenangi oleh seseorang bernama Masaka Kyuudo. Mereka berdua berdebat tentang kendo, memberitahu kesalahan di pemain favorit lawan argumen mereka, dan kadang Koneko menambahkan perkataan mereka sedikit sambil memakan permen lolipopnya.

"Sudah kubilang berapa kali, Namikaze-senpai, bahwa kuda-kuda Shinzuku sangat perfek. Bagaimana Masaka bisa menang, kita tidak tahu." Ucap Yūto, yang kini sedang menatap Naruto, sebuah tantangan terlihat di wajahnya.

"Ah," Naruto memulai, "Tetapi kau lupa, Yūto-san, bahwa Shinzuku lebih mengandalkan strategi hit and run sementara Masaka adalah tipe yang ofensif dan cepat. Walaupun kuda-kuda Shinzuku kuat, lama-lama strategi defensifnya akan dioverpower oleh Kyuudo." Naruto membalas argumennya.

Yūto memberi Naruto glare candaan, dan mengakui bahwa ia kalah. Merekapun langsung berganti topik percakapan tentang olahraga yang lain, seperti sepakbola, atau basket, dan kadang Koneko juga memberi opininya, walaupun overral, mereka berdua yang sepertinya mendiskusikan itu.

Sementara itu, Rias, yang sudah menang melawan Akeno untuk keberapa kalinya dalam catur, memutuskan untuk merilekskan dirinya, dan berjalan kearah jendela yang terbuka untuk melihat pemandangan.

Ketika disana, ia baru menyadari bahwa ada seseorang di dekat rumah kosong dekat sekolah yang klub mereka tempati. Ia kemudian menangkap pandangan Hyoudou Issei, dan ia hanya menaikan alisnya. Tempat ini sudah diberi barrir agar tidak ada yang melihat seseorang disini, kecuali orang yang mempunyai magic yang lumayan besar. Sungguh, mereka tidak ingin tempat klub mereka dikelilingi oleh papparazi fangirl dan fanboy.

Walaupun Issei mempunyai Sacred Gear, Sacred Gear Issei masih belum terlatih, dan tetap akan membuat Issei tidak melihatnya. Ia hanya bisa mengasumsikan, bahwa Sacred Gear Issei memang sangat kuat, untuk bisa membuat Issei menembus barrir itu. Ia kini mulai merekonsiderasikan perkataan Akeno bahwa Issei mempunyai Sacred Gear.

Mengabaikan Issei dan kembali duduk di sofa, Rias baru menyadari sesuatu, "Ah, Hyoudou Issei-kun. Itu adalah pertama kalinya aku melihatnya." Gumam Rias, tetapi masih terdengar oleh seluruh penghuni ruangan.

Naruto, yang tadi masih mengobrol dengan asik bersama Yūto memberi Rias pandangan face-palmed. Ketika merasakan hawa Issei di bawah tadi, ia hanya mengasumsikan bahwa itu yang dilihat Rias, "Sungguh, kau baru pertama kali melihatnya, Ojou-sama? Selama ini, kau memberi kita misi untuk mengawasi Hyoudou Issei dan mendengar komplain seluruh orang tentang Hyoudou-san, tetapi kau tidak tahu orangnya sama sekali?" Tanya Naruto dengan sedikit jengkel.

Rias hanya tersenyum malu, dan rona merah terlihat di kedua pipinya sementara Yūto, Koneko dan Akeno memandang Rias dengan face-palmed.

Rias kemudian menggagapm sedikit, "Hey! Bagaimana bisa aku tahu?" Serunya, mencoba melindungi dirinya.

Naruto memutarkan bola matanya, "Um, mungkin karena dia satu sekolah kita dan reputasinya terkenal oleh seluruh wanita?" Jawab Naruto dengan sarkastik biasanya.

Rias memberi Naruto glare, "Aku hanya mendengar dari gossip. Aku tentu pernah mendengarnya, tetapi jika aku pernah mendengarnya, belum tentu aku pernah melihatnya." Jawabnya lagi.

Naruto hanya menyeringai kearah Rias, "Tentuuuu." Ucapnya dengan nada godaan, membuat Rias cemberut.

Menyadari bahwa besok adalah waktu kencan Issei, Rias membatuk untuk memberi perhatian seluruh peeragenya. Ketika ia sudah mendapatkan perhatian semuanya, ia kemudian mengumumkan, "Baiklah. Besok adalah waktu Hyodou-san kencan dan dimana Fallen Angels akan memulai gerakan mereka. Kita harus mengawasi ini. Ada yang ingin mengawasi Hyoudou-san?" Tanya Rias.

Naruto menjulurkan tangannya. Rias melihat kearah Naruto, dan menaikan alisnya, "Apa kau yakin?" Tanyanya.

Naruto hanya memberi Rias face-palmed. "Sejujurnya, aku mengangkat tanganku karena aku ingin meminta izin untuk…. Meminta hari libur minggu depan. Aku mempunyai urusan di Dunia Bawah." Jelas Naruto, mendapat pandangan sweatdrop dari seluruh anggota klub.

Rias juga sweatdrop, "Apa itu berhubungan dengan Beelzebub-sama?" Tanya Rias balik.

Naruto menaikan alis matanya, "Darimana kau tahu?" Tanyanya dengan sedikit kaget.

Rias memutarkan bola matanya, "Karena Beelzebub-sama sudah memberitahukannya kemarin." Jelasnya.

Naruto memandang Rias dengan ekspresi blank. Ia kemudian menutup mulutnya, dan tetap diam saja. Rias hanya tersenyum. Rias kemudian membatuk, mendapatkan perhatian dari seluruh anggota, "Jadi, ada yang ingin mengawasi Issei-kun?" Tanyanya lagi.

Koneko menaikan tangannya. Ketika melihat ekspresi bingung dari yang lain, ia menjelaskan, "Kenapa tidak membiarkannya mati?" Ucapnya blunt dengan nada dan ekspresi monoton.

Semuanya sweatdrop. Yūto menggaruk lehernya dan menatap Koneko dengan sweatdrop, "Ah, Koneko-chan… apa itu tidak terlalu.. um, kasar?"

"Itu rencana yang bagus, menurutku." Naruto menambahkan. Wajahnya kini kembali kepada ekspresi impasif seperti biasa, "Intinya adalah, apa tujuan kita untuk Hyoudou Issei. Apa kita akan mengubahnya menjadi iblis, atau hanya mempreventasikannya untuk mengambil sisi dengan salah satu musuh iblis. Walaupun kau menyuruh kita untuk mengawasinya, Ojou-sama, kau masih belum jelas tentang apa yang harus kita lakukan dengan Hyoudou Issei-san." Jelasnya.

Mendengar penjelasan Naruto, semuanya melihat kearah Rias. Mengekspektasi sebuah jawaban dari King mereka. Tetapi yang mereka dapat hanyalah wajah sedih dan frustasi.

Naruto, seperti tahu apa yang dipikiran Rias, menghela nafasnya, "Ojou-sama, aku tau kau… membutuhkan seseorang yang lebih kuat, untuk menghadapi orang itu. Tetapi, apa kau yakin dengan keputusan ini? Ini adalah sebuah taruhan. Jika taruhan ini gagal, kau tahu konsekuensinya." Ucap Naruto. Seluruh anggota, seperti seolah mengetahui apa yang dimaksud Naruto, mengangguk setuju.

Rias membuang nafasnya dengan frustasi, "Aku tahu, Naruto-kun. Ini adalah sebuah taruhan, tetapi aku harus mengambilnya. Issei-san harus menjadi iblis untukku." Jawabnya.

Akeno yang tadi diam, memutuskan untuk berbicara, "Apa kau yakin, Buchou? Jika ternyata Issei-san tidak mempunyai Sacred Gear yang kuat sama sekali, kita tidak akan mempunyai harapan untuk menang melawan dia di rating game. Jika ada Naruto, mungkin kita bisa mengalahkannya, tetapi kau tahu sendiri, Naruto tidak akan bisa ikut."

Rias menghela nafasnya lagi, "Aku tahu, Akeno. Aku tahu." Jawabnya. Ia kemudian melihat keseluruh anggota klub, "Baiklah, meeting dibubarkan." Perintahnya. Yūto dan Koneko langsung saja keluar, sementara Akeno dan Naruto masih di dalam bersama Rias.

Naruto melihat kearah jam tangannya, melihat bahwa waktu makan siang sudah habis dan kini sudah saatnya untuk kembali ke kelas. Ia kemudian melihat kearah Rias dan Akeno, "Ini saatnya untuk kita pergi ke kelas, Akeno, Rias-sama."

Rias dan Akeno mengangguk. Mereka kemudian keluar dari ruangan klub mereka, dan menuju ke kelas. Selama di perjalanan ke sana, hanya Akeno dan Rias yang mengobrol, sementara Naruto tetap membuat wajahnya impasif seperti biasa, dan memerhatikan mereka berdua dengan senyuman kecil.

Entah kenapa, Naruto selalu tersenyum ketika melihat Akeno tersenyum dengan damai. Naruto tidak tahu kenapa. Mungkin menurutnya, itu mengingatkan dirinya lagi saat mereka masih kecil. Saat mereka berdua hanyalah dua anak innocent biasa.

Memikirkan itu, membuat Naruto kembali berpikir. Bagaimana jadinya jika ia dan Akeno hanyalah manusia biasa, dan tidak mempunyai hubungan apapun dengan dunia supernatural? Mereka tetap hanya akan menjadi tetangga. Pergi ke sekolah bersama. Dan kemudian ke universitas yang sama. Menjalin hubungan romantis, dan menikah. Mempunyai anak. Mungkin satu atau dua.

Naruto kemudian berhenti di pikirannya. Ia tidak pernah sama sekali memikirkan Akeno dengan romantis! Apalagi tentang pernikahan dengan Akeno. Itu terdengar seperti… aneh, tetapi nyaman. Narutopun menghela nafasnya. Apa ia jatuh cinta dengan Akeno? Mungkin saja. Pertanyaan itu selalu datang ke Naruto. Walaupun begitu, Naruto tidak ingin Akeno mencintainya balik.

Akeno butuh seseorang yang lebih baik daripada dirinya. Dan lagipula, ia hanyalah teman masa kecil Akeno dan sahabatnya. Tidak kurang, tidak lebih. Dan ia tidak ingin apapun yang lebih dari ini. Dengan keputusan itu, Naruto mengangguk, walaupun ada sebuah perasaan tidak enak di dalam dirinya ketika ia mengucapkan itu.

"Naruto-kun?"

Suara Akeno kembali membuatnya ke realitas. Ia melihat ke sampingnya, dan melihat Akeno dan Rias memandangnya dengan khawatir sekaligus penasaran.

"Hmm?" Balasnya sambil menaikan alisnya.

Akeno memiringkan wajahnya, pertanda ia bingung. "Kau terlihat seperti kehilangan dirimu di duniamu sendiri. Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanyanya.

Naruto melihat ke arah Akeno, dan sedikit blushing. Itu sedikit awkward menurut Naruto ketika seseorang yang berada di pikirannya, menanyakan padanya apa yang ada di pikirannya.

Naruto hanya menggelengkan kepalanya, "Sesuatu yang tidak penting." Jawabnya, dan mereka bertiga kembali berjalan.

Jawaban Naruto terlihat sekali tidak memuaskan Akeno, karena seringaian godaan terukir di mulutnya, "Ara, ara, apa Naruto-kun memikirkan aku?" Godanya.

Naruto melihat kearah Akeno, "Yap." Jawabnya simpel. Jawaban itu jelas sekali mengagetkan Rias dan Akeno, karena mereka berdua mempunyai ekspresi kaget, walaupun Akeno juga blushing. "Memikirkan bagaimana caranya untuk tidak membuatmu menyelinap ke kamarku. Setiap malam." Lanjutnya.

Jawaban Naruto membuat Rias terkekeh dan Akeno cemberut. Akeno kemudian kembali mendapatkan seringaian godaan lagi di wajahnya, "Ara, ara… tidak usah malu, Naruto-kun. Kita berdua tahu kau menikmatinya." Goda Akeno, memberi Naruto kedipan.

Naruto blushing terang-terangan. Tanpa mengatakan apapun, ia berjalan lebih cepat daripada Akeno dan Rias, meninggalkan dua wanita itu untuk terkekeh bersama satu sama lain.

Ketika Naruto sudah tidak terlihat lagi, Rias melihat kearah Akeno dengan ekspresi serius di wajahnya, "Kenapa kau tidak bilang saja padanya, Akeno?" Tanya Rias dengan serius.

Akeno melihat kearah Rias dengan senyuman paksa, "Apa maksudmu, Buchou?" Tanyanya balik, walaupun mereka berdua tahu apa yang dimaksud Rias.

Rias menghela nafasnya, "Kau tahu maksudku, Akeno." Balas Rias, "Perasaanmu pada Naruto-kun. Kenapa kau tidak mengatakan padanya?" Tanyanya lagi.

Akeno membuang nafasnya. Senyuman sedih terukir di wajahnya, "Mengenal Naruto-kun, walaupun aku mengatakan padanya, ia akan melihat kearahku dan tersenyum. Ia kemudian akan mencium keningku dan membisikan bahwa dirinya tidak pantas untuk orang sepertiku." Jawab Akeno. "Sifat rendah hatinya adalah sifat yang paling aku sukai, tetapi kadang, sifat itu juga yang paling aku benci." Lanjutnya.

Rias hanya diam saja. Tidak mengatakan apa-apa. Mereka berjalan kearah kelas dengan keheningan.


Keesokan harinya adalah waktu dimana kencan Issei berada. Mereka semua setuju bahwa familiar Rias yang akan mengawasi Issei, sementara mereka menjaga dari jarak jauh. Anggota Klub Penelitian Makhluk Gaib kini ada di ruangan klub mereka walaupun ini hari Minggu, dan secara tekhnikal, adalah hari libur.

Sementara Naruto, hari minggu ini, ia dipilih oleh guru olahraga Kuoh untuk menjadi asistennya untuk ekstakurikuler senam pagi untuk para kelas 1. Laki-laki kelas 3 yang paling fit di olahraga akan dipilih oleh guru olahraga Kuoh untuk menjadi asistennya.

Sayang sekali, hari ini adalah urutan Naruto, jadi dari pagi sampai jam 11, Naruto harus berada di sekolah. Setelah selesai itu, Naruto juga biasanya sparring atau latihan. Ia latihan dalam Ninjutsu dan Magic. Tentunya, sebagai pengguna chakra setelah beribu-ribu tahun, Naruto harus membuat ninjutsu untuk dirinya sendiri, karena tidak ditemukan catatan ninjutsu yang dipakai oleh pengguna sebelumnya.

Ketika sudah selesai sparring, biasanya di hari minggu, ia berjalan-jalan keliling Kuoh atau menonton bioskop dengan Akeno, atau hanya menyendirikan dirinya sendiri. Untuk hari ini, Naruto lebih memilih menyendiri karena ketika ia sudah membuat janji bahwa ia tidak ingin Akeno jatuh cinta padanya, ia terlalu sakit untuk melihat Akeno.

Karena itu, kalian melihat Naruto mengawasi kencan Issei dari jauh. Karena tidak tahu apa yang harus ia lakukan, sang Ksatria atau Kuda dari Rias ini memilih untuk mengawasi Issei. Naruto hanya ingin berjaga-jaga bila ada sesuatu yang tidak bisa dilakukan familiar Rias.

Ia tahu, Rias akan membiarkan Issei mati, dan kemudian menghidupkannya kembali menjadi iblis. Menurut Naruto, itu seperti memaksa Issei menjadi iblis. Issei tidak diberi pilihan, apakah ia ingin menjadi iblis atau tidak.

Walaupun Naruto menghormati Rias, kadang ia tidak suka metode Rias. Karena itu, ia ingin Issei selamat, dan nanti diberi pilihan apakah ia ingin menjadi iblis atau tidak. Jika Issei tidak mau, mereka bisa membuat persetujuan untuk membantu Rias, atau tidak, tidak menyerang iblis kecuali dalam bahaya.

Naruto kembali meneliti Issei dan Fallen Angel yang mengakui bernama Yuuma. Mereka kini sedang berada di sebuah taman. Naruto tidak mendengarkan apa yang mereka bicarakan, tapi Yuuma mengeluarkan Killing Intent yang sangat banyak. Naruto cukup kaget bahwa Issei tidak menyadarinya sama sekali.

Tepat disaat Yuuma berubah menjadi Fallen Angel, Naruto memulai gerakannya. Ia melempar kunai Hiraishin-nya ke araha mereka. Dalam cahaya kuning, ia menghilang dalam kecepatan cahaya.

Muncul lagi, ia sempat mendorong Issei untuk menghindari tombak cahaya yang dilemparkan sang Fallen Angel, tetapi gerakan itu membuat kaki Naruto tertusuk tombak itu. Naruto mendesis kesakitan ketika merasakan energi cahaya menusuk darahnya.

"Namikaze-senpai?!" Teriak Issei dengan kaget.

Sementara sang Fallen Angel yang berada di langit menyipitkan matanya ketika melihat Naruto, "Aku tidak merasakanmu sama sekali, iblis. Siapa sebenarnya kau?" Tanyanya.

Naruto mencabut tombak cahaya yang menusuk kakinya, walaupun itu membuat tangannya sakit. Naruto tetap membuat wajahnya impasih ketika ia melihat keatas dan menatap mata sang Fallen Angel.

"Fallen Angel. Apa kau tahu bahwa daerah ini adalah teritori Gremory? Apa kau tahu apa akibatnya jika kau memviolasi persetujuan yang sudah dibuat oleh tiga fraksi?" Tanya Naruto dengan nada tenang.

Yuuma menggertakan giginya dengan marah, "Jadi kau adalah budak dari Gremory?" Tanyanya dengan marah, sekaligus mencoba membuat Naruto marah dengan kata budak.

Naruto hanya menaikan alisnya, "Mungkin iya, mungkin tidak." Hanya dengan itu, ia melempar kunai Hiraishinnya dengan cepat ke kepala Yuuma.

Yuuma melebarkan matanya, dan disaat terakhir, ia bisa memiringkan wajahnya untuk menghindari kunai itu. Yuuma menyeringai, ia kembali ingin mengejek Naruto ketika matanya melebar ketika ia merasakan luka panjang di punggungnya, membuat ia berteriak kesakitan.

Yuuma kemudian terbang keatas lagi, dan membalikan badannya untuk melihat siapa yang melukainya. Ia hanya melebarkan matanya ketika melihat Naruto, yang sekarang sudah berada di bawah lagi. Yuuma melebarkan matanya.

'Ba-bagaimana bisa? Tidak ada iblis tidak, tidak ada iblis, malaikat, ataupun Fallen Angel yang mempunyai kecepatan seperti itu!' Pikir Yuuma ketakutan. Percaya dirinya tadi sudah menghilang, dan ekspresi takut terlihat di wajahnya. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia terbang, dan menghilang dalam kegelapan.

Naruto hanya disana, melihat kearah tempat dimana Yuuma tadi. Satu tangannya berada di sakunya, semntara satunya lagi memegang sebuah kunai berkepala tiga. Ia kemudian menatap kearah Issei yang menatap ini dengan ekspresi shock sekaligus bingung.

Naruto menghela nafasnya. Sepertinya ia harus menjelaskan semuanya pada Issei. "Hyoudou-san," Panggil Naruto.

Issei, yang sudah sembuh dari shocknya, menatap kearah Naruto dengan takut, "Na-Namikaze-senpai! A-apa yang terjadi?" Tanyanya dengan ekspresi takut sekaligus bingung.

Naruto hanya diam, dan membuat sebuah gestur untuk Issei untuk menghampirinya. Issei menghampiri Naruto, setelah sudah dekat, Naruto meninju perutnya dengan sangat kuat, membuat Issei pingsan. Naruto menghel nafasnya. Ia kemudian mengangkat Issei, dan menggendongnya dengan Bridal Style.

Memberikan satu pandangan terakhir pada familiar Rias, ia kemudian menghilang dalam cahaya kuning.


-Occult Research Club-

Di ruangan utama Klub Penelitian Makhluk Gaib, kalian bisa melihat aktivitas biasanya. Akeno dan Rias yang sedang bermain catur, walaupun Rias dan Akeno terlihat sekali pikiran mereka berdua tidak pada catur yang mereka mainkan.

Koneko sedang memakan coklat, walaupun kadang, ia mengobrol beberapa konversasi dengan Yūto. Yūto adalah orang yang dekat dengan Koneko di Klub ini, selain Naruto, tentu saja. Ia dan Naruto mempunyai banyak sifat yang sama, jadi tidak heran jika mereka berdua akrab. Lagipula, coklat buatan Naruto selalu enak.

Memikirkan Naruto, Koneko langsung mengingat sesuatu, "Apa ada yang melihat Namikaze-senpai?" Tanyanya di tengah keheningan. Ia mendapatkan perhatian dari semua anggota klub. Koneko kemudian melanjutkan, "Aku tidak melihat Namikaze-senpai sejak tadi pagi." Jelasnya.

Mendengar itu, Rias kemudian melihat kearah Akeno, "Apa kau tahu dia dimana, Akeno?" Tanya Rias, "Kau biasanya selalu bersamanya setiap hari minggu. Apa kau tahu dia kemana?" Tanyanya lagi.

Rias cukup kaget ketika Akeno hanya menggeleng. Sama sekali tidak ada senyuman godaan, atau ekspresi gentle. Hanya ada ekspresi khawatir di wajahnya. Ini membuat Rias juga khawatir dimana keberadaan Naruto.

"Aku… aku tidak tahu keberadaan Naruto-kun, Buchou. Maaf." Jawabnya. Nada khawatir terdengar dari perkataannya, membuat seluruh penghuni Klub menjadi khawatir juga akan keberadaan Naruto.

Sebelum mereka bisa mengatakan apa-apa lagi, cahaya kuning muncul di tengah-tengah klub, yang kemudian memunculkan figur Naruto dengan Issei yang berada di gendongannya.

Melihat Naruto, Akeno langsung saja tersenyum besar, "Naruto-kun!" Serunya, "Kemana saja kau?" Tanyanya dengan instan. Ketika ia melihat Issei di gendongannya, Akeno langsung mempunyai ekspresi 'jelaskan'. Ekspresi yang juga dicerminkan oleh Rias.

Naruto menghela nafasnya, dan kemudian membaringkan Issei di sofa, membuat Yūto dan Koneko harus berdiri. Ia kemudian menghadapkan dirinya ke anggota Klub yang lain.

Naruto kemudian menunduk, "Maafkan aku, Ojou-sama, untuk melanggar perintahmu. Aku hanya sedang jalan-jalan keliling Kuoh, dan kemudian aku bertemu dengan Hyoudou-san dan Fallen Angels. Fallen Angels itu terlihat seperti ingin membunuh Hyoudou-san, jadi aku mengintervensinya. Sekali lagi, maafkan aku, Ojou-sama." Ucapnya.

Rias menghela nafasnya dan memijat keningnya, "Aku maafkan, Naruto-kun." Ucap Rias. Ia kemudian melihat kearah tubuh Issei, "Apa dia terluka?" Tanyanya lagi.

Naruto menaikan alisnya, tetapi tidak bertanya apa-apa lagi. "Setahuku tidak. Aku mengintervensinya di waktu yang tepat." Jawabnya.

Rias mengangguk, tetapi Akeno dan Koneko melihat sebuah luka di kaki Naruto, membuat mata mereka melebar.

"Kau terluka, Namikaze-senpai/Naruto-kun." Ucap Koneko dan Akeno bersamaan. Ketika menyadari itu, mereka melihat kearah satu sama lain, dan entah kenapa memberi glare kepada satu sama lain.

Naruto menaikan alisnya ketika melihat tingkah mereka berdua. Ia hanya menggelengkan kepalanya dan berpikir bahwa itu tingkah laku semua wanita. Menyadari apa yang mereka katakan, Ia melihat ke arah kakinya tadi yang sempat tertusuk tombak cahaya.

"Ah," Naruto baru menyadari ia belum sempat menutup pendarahan yang keluar dari kakinya. Ia langsung saja mengeluarkan perban dan mengikatnya di tempat lukanya, "Aku sempat… tidak siaga." Ucapnya, agak malu.

Semuanya, Yūto dan Rias sweatdrop, sementara Akeno dan Koneko makin khawatir dengan Naruto. Akeno langsung saja pergi ke tempat dimana P3K berada, sementara Koneko hanya menunggu, tetapi terlihat sekali ia juga khawatir dengan Naruto.

Naruto seperti tidak menyadari kekhawatiran mereka berdua, karena ia kini sedang menatap Issei dengan tajam, 'Sacred Gear miliknya… Aku merasakannya…. Jadi dia memang mempunyai Sacred Gear Longinus.' Pikirnya. 'Entah kenapa, aku merasakan, keberadaan dia akan menjadikan hidupku semakin merepotkan….'

To Be Continued…


A/N: Cliffhanger disaat yang ga tepat, haha. Sekalian untuk menjawab banyak review yang tidak bisa aku bales lewat PM, tidak, Naruto tidak punya Sacred Gear. Naruto hanya punya chakra. Aku sempet pengen Naruto punya Rinnegan, tapi kayanya itu kelihatan kaya Naruto kuat banget jadinya. Walaupun aku suka God-like Naruto, bakal agak bosen kalo Naruto selalu bertarung tanpa usaha.

Oh, disini, Koneko gak tau energi yang Naruto punya adalah chakra, chakra yang sama seperti yang dia pake, walaupun sedikit beda. Koneko tahu Naruto punyau sesuatu yang spesial, tapi dia Cuma mengasumsikan kalo itu adalah Sacred Gear atau apalah.

Dan well, aku sudah memperlihatkan moment Naruto/Akeno. Semoga terlihat romantis, soalnya aku sedikit payah dalam romance.

Ohya, disini aku membuat sifat Naruto seperti Grayfia sedikit.

Di chapter selanjutnya, aku merencanakan untuk Sona dan Tsubaki muncul, dan memperlihatkan ketertarikan mereka pada Naruto, tetapi aku masih gatau jadi apa engga. Chapter depan akan sedikit lama, karena akhir-akhir ini aku lagi sibuk.

Sayonara!