This Is Too Much
Menerangkan : Manga NARUTO milik Masashi Kishimoto
Peringatan : TYPO, OOC, dll
3 Tahun 10 hari
Bos ku adalah pria yang tampan. Oh.. jangan percaya kata-kataku barusan, ku ralat, dia itu sangat-sangat-sangat tampan. Aku bisa meleleh dalam sekali lirikan. Mata biru, rambut pirang dipangkas pendek, tubuh tinggi tegap berotot, gaya berpakaiannya yang cool, kulit gelapnya yang humm sexy… astaga imanku benar-benar diuji bekerja ditempat ini. Dulu dia adalah salah satu motivasi terbesarku saat melamar kerja di perusahaan ini, ku dengar dia sedang mencari seorang sekertaris baru, awalnya bingung juga kenapa posisi yang sangat menguntungkan seperti itu bisa mendadak kosong. Tapi ku abaikan, ku anggap tuhan sudah menjawab semua doaku selama ini. Mungkin aku kebanyakan membaca novel romantis tentang cinta yang bersemi antara bos dan sekertarisnya, hahaha… waktu itu kupikir akan semudah itu menggodanya.
Tapi rupanya tidak… well dia sudah punya tunangan, nenek sihir bernama Hinata Hyuga. Itu lah kesan pertamaku saat pertama kali bertemu wanita itu.
"Make-up mu terlalu tebal, memangnya kau pikir tempat ini club apa..? Kau ini mau bekerja atau mau berpesta sih?"Sapaan perkenalan diriku dihari pertamaku bekerja mendapat jawaban sebuah kalimat seperti ini.
"Rok mu terlalu pendek… mulai besok pakailah rok yang panjangnya ada di bawah lututmu!" waktu itu ia mengatakan ini sambil berkacak pinggang di depan meja kerjaku. WTF...?
"Kancingkan kemejamu dengan benar..! Memangnya siapa yang mau kau goda dengan belahan dada huh…?" hari itu aku tidak menyangka akan dipermalukan di depan semua rekan kerjaku.
"Ku dengar matamu minus ya..? Kalau begitu pakai kaca mata saja jangan pakai contact lens.."dan terkadang dia bisa menjadi benar-benar absurb.
Akkhhhh….. kalau saja aku tidak memandang gaji besar yang kudapat, mungkin aku sudah lama angkat kaki dari sini. Dia selalu ikut campur, posesif, obsesif, kudengar dia mengidap gangguan kejiwaan. Pokoknya tidak ada hal baik yang ku dengar tentang wanita ini, orang-orang dikantor ini memanggilnya Medusa. Sekali saja dia mendapati kau melirik Naruto dengan cara berbeda maka tamatlah riwayatmu. Yah… punya tunangan sekaliber Naruto Uzumaki mungkin memang akan membuatmu begitu, kau harus menumbuhkan cakar dan taring untuk menjaga wilayah kekuasaanmu.
Ia adalah putri seorang pemegang saham terbesar perusahaan ini, penyumbang modal terbanyak. Putri manja yang arogan kiraku saat itu. Tetapi semakin kesini aku semakin mengenal wanita ini. Ruanganku dan Naruto hanya berbatas sebuah pembatas ruangan kertas antik seharga 10 tahun gajiku, itu lah yang membuatku mau tidak mau menjadi bisa menguping hubungan pribadi mereka. Itu bukan salahku ya, kalau aku bisa mendengar teriakan-teriakan pertengkaran mereka. Hinata adalah yang paling sering melengos pergi kalau suasana sudah sangat memanas. Matanya akan berair, namun saat melewati mejaku ia sudah akan memasang tampang dinginnya, seolah meja kerjaku ini adalah batas dia diperbolehkan memperlihatkan kelemahannya. Putri es… salah satu julukannya juga di kantor ini. Semakin sering aku mendengar pertengkaran mereka, semakin aku bisa memahami kondisinya, semakin bisa memposisikan diri sebagai Hinata. Aku kasihan padanya.
Aku diam-diam mengamatinya, ingin mengajaknya mengobrol, atau sekedar bertukar salam, mungkin yang dia butuhkan hanya teman. Tapi aku tidak berani, dia adalah tipikal orang yang sulit didekati, mungkin karena terlalu sering dikelilingi orang tidak tulus membuatnya menjadi pencuriga dan terlalu berhati-hati. Tapi kejadian sepuluh hari yang lalu membuatku terkaget-kaget.
"Mau makan siang denganku..?" Ia tiba-tiba menghampiri mejaku, sambil menenteng makan siang yang setiap hari ia bawakan untuk Naruto, ketika aku menatap wajahnya saat itu juga aku sadar kalau Naruto sepertinya tidak mengabarinya kalau pemuda itu akan melakukan perjalanan dinas keluar negeri untuk satu minggu kedepan.
"Astaga maafkan aku Nona… Aku lupa menyampaikan pesan dari Naruto-San padamu! Dia memintak…" Ingin sekali rasanya menghibur gadis itu saat itu, walau itu artinya aku harus berbohong.
"Aku tahu..!" Ia memotong kalimat kebohonganku dengan senyum kecil tidak perdulinya. "Aku sudah tahu! Itulah gunanya detektif Mia!" Ia sangat sering melakukan itu, seingatku ia sangat sering menunjukkan sorot mata terluka itu.
Kamipun mulai mengobrol sambil makan, saling bertanya kabar dan membahas hari kami. Obrolan ringan antara orang yang sama sekali tidak mengenal satu sama lain.
"Ngomong-ngomong… terimakasih ya. Aku suka seleramu…" Ia tiba-tiba berterimakasih padaku dengan wajah acuh tak acuhnya. Rupanya ia tahu… astaga… kukira aku sudah cukup berusaha keras.
"Oh ayolah Mia…?" aku bisa mengingat kekehan kecilnya itu "Make-up limited edition…? Kau pikir Naruto akan tahu hal-hal seperti itu?" Yah, mungkin saja karena aku terlalu berusaha keras makanya ia jadi tahu kalau semua hadiah-hadiah ulang tahunnya, hadiah-hadiah hari jadinya, ataupun hari valentine yang ia terima bukanlah hadiah pilihan Naruto, melainkan pilihanku.
Aku tahu ada yang salah saat itu juga, ia tidak seperti biasanya. Ia terkesan lelah, lemah, pasrah. Berkali-kali menghela napas besar kemudian tersenyum kecut sambil menggeleng. Tidak hanya itu, ia bilang aku boleh berpenampilan sesukaku. Ketika aku bertanya kenapa, ia hanya bilang karena dia lumayan suka padaku lalu kemudian melenggang pergi begitu saja. Itu adalah terakhir kali aku melihatnya. Ia tidak pernah datang lagi kekantor ini sejak hari itu.
Dan sekarang kurasa yang menyadarinya bukan hanya aku lagi.
"Aku tidak pernah membelikan anda makan siang sebelumnya Naruto-San." Aku menjawab pertanyaan dari bosku yang sedang menatapku lekat. Ia mengernyit bingung saat mendengarnya. Sepertinya dia sudah bosan makan ramen instan tiga hari ini, sehingga akhirnya dia mempertanyakan ke absenan kotak bekal makan siang yang biasanya selalu ada dimeja kerjanya setiap kali ia merasa lapar.
"Lalu… siapa yang…" ia berucap ingin protes namun kemudian terdiam. Sepertinya baru menyadari atau mungkin baru mengingat siapa yang sebenarnya membawakannya makan siang setiap hari selama tiga tahun terakhir.
"Ok…!" Naruto mengatupkan rahang sambil mengangguk-angguk, ia terlihat bingung sambil masih menatapku.
"Baiklah..!" Ucapnya mengangguk-angguk sambil membuang muka, menatap layar laptopnya, tapi sepertinya tidak juga benar-benar memperhatikan layar itu. Bola matanya bergerak-gerak liar, keningnya bertaut, apa yang sedang dipikirkannya? Aku penasaran.
"Baiklah…!" Ulangnya sekali lagi , akhirnya bisa kembali mengendalikan dirinya.
"Kalau begitu mulai hari ini itu adalah tugas tambahan untukmu!" ia kembali menatapku sambil menautkan jemarinya dalam genggaman seperti yang setiap kali ia lakukan ketika memutuskan sesuatu.
"Baik Pak…!" Jawabku cepat. Dan sekarang 'memastikan bos ku kenyang' ada dalam Job Desc ku juga, bagus sekali.
"Dan ingat… aku ingin makan siangku kau beli dari tempat yang sama seperti dimana Hinata membelinya!" Ia berkata sambil melanjutkan pekerjannya yang sepertinya tadi ia kerjakan sebelum memanggilku, secara tidak langsung mengisyaratkan kehadiranku sudah tidak lagi diperlukan diruangan ini. Mendengar permintaannya keningku mengkerut.
"Ehmm… " aku ragu bagaimana harus mengatakannya. Merasa aku belum kunjung meninggalkan ruangannya Naruto mengangkat wajahnya untuk menatapku, keningnya terangkat bertanya padaku.
"Sepertinya itu akan sulit pak…!" cicitku tidak nyaman mamandang wajah bosku yang mendadak tidak senang.
"Kenapa…?" ucapnya halus, namun menuntut. Mood nya sedang jelek.. aku bisa lihat itu.
"Sepertinya... yang biasanya itu buatan rumah Pak!" tubuh Naruto menegang, ia membuka mulut namun tidak berkata apa-apa. Matanya masih mengarah padaku, tapi tatapannya kosong seperti dia sedang memikirkan sesuatu, atau mungkin mengingat sesuatu. Ia seperti itu selama beberapa detik, membuatku menjadi semakin tidak nyaman.
"Kalau begitu, terserah padamu saja mau membeli dimana!" Ia kembali membuang muka, melanjutkan mengetik dengan tenaga ekstra, seperti dia ingin menghancurkan keyboard malangnya itu. Menganggapnya sebagai kode untuk menyingkir aku segera memutar badan ingin kabur, takut jadi pelampiasan kekesalannya.
"Aku punya alergi udang, kepiting, cumi, dan… " tapi baru beberapa langkah aku beranjak, ia kembali bicara, terlihat gusar.
Sesaat kemudian dia meringis memegangi kepalanya, ia sepertinya sangat kesal. Tapi pada siapa…? Padaku..? Memangnya apa salahku? Ia seolah marah karena harus memberitahuku hal itu, kelihatannya sangat mengesalkan untuknya memberitahuku list alergi yang dimilikinya. Seperti hal itu sangat merepotkan, mungkin sebelumnya dia tidak harus melakukan ini, mungkin sebelumnya semua orang yang mengurusi makanannya akan tahu sendiri tanpa diberi tahu. Heh… memangnya dia pikir aku cenayang apa? Bisa meramalkan alergi yang dimilikinya tanpa diberi tahu?
Tapi aku jadi teringat, mungkin Hinata tidak pernah membuatnya harus menjelaskan hal ini… gadis itu mungkin tahu dengan sendirinya… Aku menatap sedih pada Naruto, sedikit prihatin, apa sekarang dia akhirnya sadar seperti apa perhatiannya Hinata padanya?
Naruto meraih botol obat yang seingatku selalu bertengger manis di sisi kanan meja kerjanya. Tepat disebelah tempat ballpoinnya berada. Ia punya migrain yang sering kambuh, tapi secara medis tidak ada terlihat masalah yang ada dikepalanya, itu lebih kepada faktor psikologinya. Katanya akan kambuh saat dia sedang tertekan, setidaknya itulah tulisan di laporan hasil pemeriksaan kesehatannya yang diam-diam ku intip beberapa tahun yang lalu. Dengan beratnya beban pekerjaan dan tanggung jawab yang ada dipundaknya aku tidak heran dia sangat memerlukan obat itu. Dan botol itu kosong…! O..o… astaga wajah bosku memerah… dia marah. Aku mengigit bibir takut saat botol kosong itu melayang dibanting kelantai.
"Obat itu juga bukan kau yang membelinya kan…?" bisiknya dengan nada rendah menyeramkan padaku, ia menatap nanar botol obat yang tadi ia hempaskan. Memang bukan, Hinatalah yang menyiapkannya juga, kurasa Naruto juga menyadari itu dan sekarang dia jadi semakin kesal. Pada siapa..? Mungkin pada dirinya sendiri. Aku menyumpah dalam hati… Tapi kenapa harus aku yang menjadi sasaran pelampiasan kekesalannya. Eh, tapi tunggu..
"Oh.. obat itu… " Aku jadi sumringah saat teringat, Naruto mengangkat wajah menatapku penasaran. Segera aku bergegas menyeberangi ruangan menuju sebuah lemari penyimpanan P3K diruangan ini. Dengan senyum lebar aku meraih botol obat itu kemudian menyerahkannya pada Naruto.
"Ini tiba tadi pagi. Ada 9 botol lagi disana!" Kataku senang, sambil menunjuk arah lemari dimana aku menyimpan obat migrainnya yang sangat berharga itu. Lega karena akhirnya punya sesuatu yang mungkin bisa membuatnya senang. Tapi rupanya tidak… oh tentu saja tidak. Naruto menerima obat itu kemudian terdiam sambil memandanginya hampa. Pria pirang ini pasti sedang teringat pada tunangannya itu. Aku benar-benar kagum pada Hinata, dia benar-benar mengurus tunangannya dengan baik.
"Ada resep dokter dan nama perusahaan farmasi penyuplainya juga. Kita bisa mengordernya lagi kalau persediaannya sudah habis." Aku berucap hati-hati sambil mengingat bundelan dokumen yang datang bersama obat itu.
"Obat ini adalah pesanan khusus. Dari yang saya baca bapak alergi pada beberapa jenis komponen penyusun obat sakit kepala pada umumnya." Hinata mungkin sudah punya pengalaman melihat Naruto yang nyaris mati akibat reaksi alergi obat sampai-sampai dia bisa begini telitinya.
"Mungkin…" kalimatku dipotong oleh anggukan lemah Naruto, dan isyarat tangan memintaku berhenti bicara.
"Kau boleh pergi…!" ucapnya pelan tanpa menatapku. Dilihat dari tampilannya dia sepertinya sangat kesakitan.
"Apa anda baik-baik saja pak…?" aku jadi khawatir.
"Aku baik-baik saja!" Ia menghela napas lelah, kekesalannya sepertinya sudah reda. Tapi dia jadi terlihat putus asa, dua-duanya tidak enak dilihat, terlebih bagiku bawahannya yang akan merasakan langsung imbas mood jelek ini.
"Lajutkan pekerjaanmu..!" ia mengusirku dengan halus. Baiklah, tidak ingin berlama-lama dan takut disemprot lagi aku segera menyingkir. Meski begitu aku menyempatkan diri melirik kebalik punggungku.
Naruto menelungkupkan wajahnya di atas meja, bahunya gemetar. Bagai diguyur air dari langit, akhirnya tiba-tiba aku bisa mengerti situasinya. Keabsenan bekal buatan Hinata, kiriman obat beserta bundelan dokumen pendukung untuk pemesanan mendatang, tidak heran sejak menerimanya pagi ini aku merasa ada sesuatu yang menggangguku. Semua ini seperti mengatakan sesuatu, bukan untukku tapi untuk Naruto.
Sebuah isyarat bahwa gadis itu, sudah tidak lagi akan melakukannnya.
"Sialan…!" umpatan Naruto membuatku mempercepat langkahku meninggalkan ruangannya. Ku kira sekarang seharusnya ia sudah tahu… kerugian sebesar apa yang sudah ia alami ini.
Yap... lagi hyper ngetik...mumpung ada waktu...
