FF ini merupakan remake dari ff lawasku di dunia entah. Terasa sayang pabila dibuang, lebih baik kudaur ulang.
.
.
.
RHIANNON? OR JOONHEE?
.
.
.
SuLay
.
.
.
GS! for UKE
.
.
.
-000-
Tuhan mendengarkan doanya. Kenalannya yang bernama Chanyeol meneleponnya ketika dia baru pulang dari seongdang*, mengabarkan sesuatu yang seolah menjadi jawaban atas pertanyaan dalam doanya selama di seongdang tadi.
"Sudah hampir dua minggu ini jam kerjanya berkurang dari biasanya. Dia juga tak datang ke klub. Setiap kali ditanya, dia bilang sibuk demi Rhiannon, lalu Joonhee."
DEG
Jantung Yixing seolah melorot ke dengkul begitu mendengar penuturan Chanyeol di telepon.
"Noona, maaf. Bukan bermaksud lancang, hanya saja… Noona dan Joonmyeon Hyung… Ehm, baik-baik saja?" Suara Chanyeol terdengar khawatir sekaligus tak enak hati.
"Maksudmu... Joonmyeon… Mengencani perempuan lain?" Suara Yixing sedikit bergetar menanggapi Chanyeol. Wajah cantiknya serta-merta berubah pias. "Perempuan yang bernama Rhiannon… Dan… Joonhee?"
Oh Tuhan, apakah ini jawaban atas kecurigaannya belakangan ini?
"Entahlah, Noona. Aku tak tahu-menahu soal itu, makanya aku bertanya padamu. Maaf, aku tak bermaksud apa-apa. Aku hanya khawatir. Sebentar lagi kalian menikah..." Nada bicara Chanyeol berubah, kedengaran berhati-hati.
"Joonmyeon tidak pulang seminggu ini..." Kali ini suara Yixing terdengar jelas bergetar.
"Dia bilang sibuk bekerja..."
"Rhiannon dan Joonhee... Maksudmu... Dia sibuk mengencani mereka berdua? Bergantian mengencani mereka berdua? Satu perempuan Barat dan satu perempuan Korea?"
Tiba-tiba dadanya terasa sangat sesak oleh amarah yang mendesak. Hatinya terasa sakit bukan main. Siapa yang tak sakit hati, mendengar calon suaminya diam-diam mengencani perempuan lain, bahkan dua perempuan sekaligus?
Laki-laki itu benar-benar brengsek!
"Chanyeol-ah, apakah dia sebrengsek itu? Aku bahkan sedang mengandung anaknya!" Yixing tiba-tiba saja kehilangan kontrol, tak kuasa menahan amarah hingga suaranya meninggi. Satu tangannya bergerak mengusap perutnya yang buncit, merasakan sesuatu bergerak di dalam sana. Bayinya.
Amarahnya semakin memuncak memikirkan bayinya yang baru dua puluh lima minggu. Apa jadinya nasib Si Bayi jika ayahnya telah berpaling bahkan sebelum dia dilahirkan?
"Noona, aku tak tahu pasti tentang itu. Sebaiknya Noona tanyakan langsung pada Joonmyeon Hyung," Chanyeol tak kuasa menutupi waswas dalam nada bicaranya.
"Kuharap Joonmyeon Hyung hanya bercanda," dia menambahkan.
Yixing tak mengatakan apapun untuk menanggapi Chanyeol. Perempuan cantik ini memilih menjatuhkan ponselnya ke sofa.
"Keterlaluan kau, Kim Joonmyeon!"
Berseru kesal, Yixing turut menjatuhkan dirinya ke sofa. Air matanya mulai merebak. Perempuan ini merasa kacau balau. Hatinya terasa sakit, juga panas memikirkan kekasihnya sekaligus ayah dari bayi yang dikandungnya, Kim Joonmyeon.
"Dasar brengsek! Siapa Rhiannon dan Joonhee? Beraninya kau mengencani mereka, bahkan disaat aku tengah mengandung anak ini!"
Nanar, Yixing menunduk untuk menatap perutnya yang buncit.
"Chobin*-ah, mianhae... Ayahmu benar-benar brengsek."
Semakin bicara semakin kacau pula perasaan Yixing. Pada akhirnya dia hanya bisa menangis sambil menutupi paras cantiknya dengan bantal sofa. Sesekali dia memukul-mukul bantal sofa itu dengan geram, mencoba melampiaskan perih di dalam hati yang semakin merajam.
"Kim Joonmyeon brengsek! Benar-benar brengsek! Tahu begini lebih baik aku ikut Baba dan Mama pulang ke Changsha, hiks… Sia-sia saja aku memilihmu, hiks…"
Yixing meratap disela isak tangisnya, bukan main mengibakan di telinga.
-000-
Lelaki yang memiliki postur tidak terlalu tinggi itu melangkah dengan santai menuju pintu apartemen nomor 231 sambil bersiul-siul. Dia tampan, juga menarik perhatian lantaran penampilannya terbilang tak biasa. Rambutnya yang dikeriwil dan dibelah tengah memberikan kesan unik, ditambah bandana berwarna cokelat sebagai pilihan aksesoris. Konsep reggae terlihat jelas dari sosoknya berkat pilihan busana berupa kaus tanpa lengan berwarna pelangi, memamerkan lengannya yang kekar dengan bisep menggoda. Kekar sekaligus gahar lantaran sejumlah tato menghiasinya bak lukisan, mulai dari gambar unicorn seperti umumnya unicorn dalam manuskrip atau lukisan-lukisan asal Eropa abad pertengahan yang berlandaskan Bible, tetesan air yang memiliki corak unik hingga quote dari buku pertama trilogi The Lord of The Rings, yaitu The Fellowship of The Ring yang berbunyi 'All that is gold does not glitter' dan ditulis menggunakan aksara Tengwar.
Unik sekaligus seksi, demikian kesan yang bisa ditangkap darinya. Jelas dia masuk tipikal lelaki jantan yang menggoda di mata kaum hawa. Jika saja saat ini ada pencari bakat yang melihatnya, bukan tidak mungkin dia bakal direkrut menjadi bintang reggae!
Lelaki itu memasuki apartemen nomor 231 dengan langkah ringan. Akan tetapi, langkah kakinya mendadak terhenti begitu netranya menangkap sosok wanita cantik berperut buncit yang tengah berdiri tegak di ruang tamu, tampak garang dengan tatapan membunuh.
"Untuk apa kau datang kemari, Kim Joonmyeon?" Yixing bertanya sebelum lelaki yang bernama Joonmyeon sempat membuka mulut.
"Bukankah apartemen Rhiannon dan Joonhee jauh lebih nyaman dan hangat, hmm?" Matanya yang biasa sayu kini tampak berkilat-kilat berbahaya, terarah lurus pada sepasang manik hitam cermerlang milik Joonmyeon.
Joonmyeon terheran-heran mendapati sambutan yang tidak terduga-duga semacam itu dari Yixing.
"Jagi-ya, ada apa? Kenapa ekspresimu menyeramkan seperti itu, eh?" Joonmyeon mengerutkan kening.
"Jangan pernah memanggilku 'jagi-ya' lagi! Aku tak sudi mendengarnya!" Yixing tiba-tiba berseru.
"Dan jangan pernah kau kembali ke sini! Pergi kau ke tempat Rhiannon atau Joonhee! Aku tak sudi melihat tampangmu lagi, Kim Joonmyeon! Dasar lelaki kardus! Beraninya kau berselingkuh disaat aku sedang mengandung anakmu!"
Yixing melengking, marah besar. Bahkan secara naluriah dia melemparkan bantal sofa ke arah Joonmyeon untuk melampiaskan kemarahannya.
"Pergi kau! Pergi sekarang juga kataku! Aku tak mau dekat-dekat laki-laki brengsek seperti kau! Pergi kau sekarang juga!"
Lagi, satu bantal sofa melayang ke arah Joonmyeon yang terkaget-kaget, tetapi Joonmyeon ternyata lebih dari cekatan untuk menangkapnya. Lelaki itu buru-buru menyingkirkan bantal itu, kemudian bergegas menghampiri kekasihnya yang tengah muntab.
"Jagi-ya, kau ini bicara apa?"
"Jangan memanggilku 'jagi-ya'!" Yixing langsung menjerit. "Aku jijik setengah mati mendengarnya! Kutebak kau pasti memanggil selingkuhanmu, Si Rhiannon dan Joonhee itu dengan panggilan yang sama, 'kan? Iya, 'kan? Mengaku sajalah!"
"Zhang Yixing, kau ini kesurupan apa, sih? Kenapa bicaramu sangat sangat ngawur? Selingkuh dengan Rhiannon dan Joonhee, katamu? Kau ini ngomong apa, sih?" Joonmyeon meraih tangan kekasihnya, sayangnya langsung dihempaskan kasar oleh Yixing.
"Jangan berpura-pura di depanku! Aku sudah tahu semua! Kau tak pulang seminggu ini, mengurangi jam kerjamu di Ko Ko Bop, jarang bergabung dengan teman-temanmu di klub, semua itu demi mengencani Rhiannon dan Joonhee, 'kan? Chanyeol memberitahuku semuanya. Dia bilang kau sibuk demi Rhiannon dan Joonhee! Memang benar, 'kan? Iya, 'kan? Jawab dengan jujur!" Yixing nyaris histeris.
Joonmyeon membelalakkan matanya, kaget bukan kepalang menyaksikan reaksi Yixing.
"Kau berselingkuh dengan Rhiannon dan Joonhee! Mengaku sajalah! Dasar brengsek, menyesal aku mengenalmu sampai sejauh ini, Joonmyeon-ah! Masa mudaku sia-sia!"
Yixing tersengal saking marahnya. Perempuan cantik itu bermaksud mendorong tubuh kekar Joonmyeon, sayang seribu sayang dia gagal lantaran Joonmyeon dengan sigap menahan kedua tangannya.
"Lepas!" Yixing lagi-lagi berseru penuh amarah. "Lepas atau kupanggil polisi!"
"Yixing-ah! Berhentilah marah-marah dan berteriak! Kau membuat Rhiannon Kim Joonhee-ku kaget!" Joonmyeon mendesis. Manik hitam cemerlangnya sekilas melirik perut buncit Yixing.
"Apa?" Mata indah Yixing mendelik. "Apa kau bilang?"
"Kubilang berhentilah marah-marah dan berteriak. Apa kau lupa? Di dalam perutmu sekarang ada Rhiannon Kim Joonhee-ku. Joonhee kita," Joonmyeon menjawab, tegas.
Yixing tercengang. "Rhiannon Kim Joonhee? Maksudmu?"
"Biar kujelaskan sejelas-jelasnya." Joonmyeon menatap kekasihnya lurus-lurus.
"Rhiannon dan Joonhee, itu nama yang kuinginkan untuk anak kita," ungkap Joonmyeon. "Dia perempuan, 'kan? Begitu melihat hasil pemeriksaan USG dan tahu kalau aku bakal punya anak perempuan, aku langsung mencari nama-nama."
"Rhiannon dan Joonhee, aku menyukai kedua nama itu dan ingin memberikan nama itu untuk Chobinnie kita nanti." Satu tangannya terulur, memberikan usapan lembut di perut Yixing.
"Keduanya bukan nama selingkuhanku. Lagipula aku tak punya satu pun selingkuhan. Bagaimana mungkin aku tega berselingkuh? Kuakui aku ini brengsek, tapi 'kan tidak brengsek sekali."
Yixing mendadak ternganga mendengar penjelasan Joonmyeon.
"Aku tak pulang, mengurangi jam kerjaku di Ko Ko Bop dan tak datang ke klub karena aku sibuk bekerja di tempat lain," Joonmyeon melanjutkan penjelasannya.
"Aku kerja di konstruksi kalau kau mau tahu. Malam-malam pun harus kerja untuk mengejar waktu. Kau bisa mengeceknya langsung kalau tak percaya. Pekerjaan yang melelahkan dan menyita waktu, tapi kupikir itu yang terbaik. Sebentar lagi kita menikah dan punya anak. Bekerja di Ko Ko Bop dan tattoo shop rasanya belum cukup."
Joonmyeon terlihat begitu serius dan sungguh-sungguh. Rasanya mustahil dia berbohong jika kau melihat kesungguhan dalam tatapan matanya.
"Aku minta maaf tak memberitahumu soal ini, Jagi-ya," suara Joonmyeon mulai melembut. "Tahu begini lebih baik sejak awal aku berterus terang saja."
Sekarang Yixing tak bisa berkata-kata. Demi apa, ternyata dia salah paham belaka!
"Kubilang aku tak selingkuh," Joonmyeon menegaskan seraya meremas tangan Yixing, sedikit gemas lantaran perempuan itu tak bereaksi.
"Rhiannon Kim Joonhee, itu nama yang kusukai. Siapa tahu kau juga suka. Bagaimana? Apa kau suka? Kupikir memberi uri Chobinnie nama Barat tidak ada salahnya, siapa tahu saat dewasa nanti dia tinggal di luar negeri. Orang-orang tak perlu repot memanggil Chobinnie dengan nama Korea-nya."
"Kim Joonmyeon, kau ini..." Yixing menggigit bibir. Ekspresinya berangsur-angsur berubah, tampak malu berat.
"Seharusnya kau bilang dari awal..."
"Seharusnya begitu." Joonmyeon mengangguk setuju. "Agar kau tak perlu mengamuk seperti tadi. Kasihan Chobinnie. Dia pasti kaget."
Joonmyeon melepaskan tangan Yixing, beralih menggunakannya untuk mengusap perut Sang Kekasih sehingga kini kedua tangannya bertumpu di sana.
"Chobin-ah, ibumu sangat mengerikan saat marah-marah," Joonmyeon mengajak calon anaknya berbicara. Tatapannya yang lembut terarah pada perut Yixing.
"Nanti jangan kau tiru. Chobinnie harus jadi anak yang manis dan anggun. Mengerti, Chobin-ah?"
Tanpa sadar, Yixing tersenyum mendengar monolog Joonmyeon, ditambah dia merasakan bayi mereka bergerak, seolah-olah memberikan respon pada Sang Ayah. Kelegaan dan kehangatan bercampur menjadi satu. Kelegaan yang timbul karena Joonmyeon ternyata tak selingkuh dan kehangatan yang hadir berkat interaksi kecil antara Joonmyeon dan bayi mereka.
"Salahmu," kata Yixing pada Joonmyeon, masih malu-malu. "Membuatku marah-marah."
"Baiklah, baiklah. Aku minta maaf," Joonmyeon mengalah. "Siapa mengira nama Rhiannon dan Joonhee membuatmu ngamuk seperti tadi?"
Semburat merah mulai menghiasi pipi mulus Yixing, tapi perempuan itu berusaha untuk mengendalikan rasa malunya dengan cara mencoba bersikap biasa-biasa saja.
"Ngomong-ngomong soal nama," Yixing berkata, "aku sebenarnya sudah menyiapkan nama China sekaligus Korea untuk Chobinnie dan salah satu suku katanya kebetulan 'joon'," dia memberitahu Joonmyeon.
"Ah, sudahlah. Nanti saja kita membahas nama. Sementara ini cukup dengan Chobinnie."
"Baiklah. Aku setuju," Joonmyeon menanggapi, cukup pengertian untuk menjaga mood Yixing. "Sekarang kau sudah tidak marah, 'kan? Yixing-ah, asal kau tahu saja. Belakangan ini aku tersiksa karena tak pulang berhari-hari, merindukanmu teramat sangat. Sekarang aku ingin menebusnya dengan cara menghabiskan waktu sepuas-puasnya di rumah, bersama kekasihku yang cantik ini, jadi tolong jangan marah-marah lagi padaku."
Joonmyeon melingkarkan kedua tangannya di pinggang Yixing, memeluknya seraya mendekatkan tubuh milik kekasih cantiknya itu ke tubuhnya sendiri. Pelan-pelan, khawatir menekan perut buncit Si Cantik.
"Bersikaplah yang manis dan jinak, Jagi-ya." Joonmyeon mendekatkan wajahnya ke wajah Yixing, sukses memperparah rona mawar di pipi kekasihnya itu.
"Karena aku ingin bersenang-senang setelah ini." Tatapannya berubah nakal, bahkan dia iseng menaik-turunkan alisnya yang tebal.
Kekasihnya hendak protes, tetapi Joonmyeon tak sudi memberinya kesempatan. Tanpa permisi Joonmyeon merenggut bibir ranum Yixing, menciumnya dalam-dalam tanpa ragu.
.
.
.
FIN
.
.
.
Seongdang: gereja Katolik
Chobin: (dia) yang berwajah cerah
.
.
.
Ydyakonenko
