Langkah kakinya berjalan dengan angkuh. Menyusuri jutaan butir salju yang menyatu di atas jalan setapak yang membelah hutan. Kepalanya berhiaskan bandana yang mencegah helaian kebanggaan klannya jatuh menutupi mata kebanggaan klannya juga.
"Sakura.." gumaman kecil keluar dari mulutnya saat ia telah berdiri di hadapan sebuah gerbang raksasa yang bertuliskan 'Konoha'
~Adilla Fiqria~
Musim dingin telah sampai pada puncaknya. Hal itu ditandai dengan salju yang mulai berjatuhan di wilayah Konoha yang biasanya tertutupi oleh daun. Namun, musim dingin tidak berlaku di desa sebelah.
Sunagakure.
Desa itu hanya mamiliki satu musim sepanjang tahun. Yaitu musim pasir, ya begitulah pikiran Sakura. Wanita cantik dengan rambut pink sebahu.
"Channaroo" dia benar-benar kesal saat ini. Jangan mengganggunya atau kau akan menadapatkan tinju manis yang bisa melunakkan seluruh tulangmu.
Dia kesal kepada semuanya.
Pertama, dia kesal kepada Hokagenya. Dia kesal kepada mantan gurunya itu karena tega membiarkannya menjalani misi sendirian. Memang itu bukan salah siapa-siapa. Sejak Naruto, rekan setimnya, menikah dengan Hinata di musim semi yang lalu, Kakashi lebih sering menempatkan mereka berdua dalam satu misi bersama. Lalu Sai? Rekan setim barunya itu telah ditunjuk sebagai ANBU yang memiliki misi yang sangat rahasia dan tentu saja Sakura sebagai Jounin biasa tidak boleh ikut campur.
Tapi semua itu tidak bisa dijadikan alasan untuk mengirim Sakura ke Suna seorang diri kan? Dia selalu merutuki kebosanannya karena dikirim sendiri ke Suna untuk membantu tim medis Suna mengenali obat-obat khas Konoha yang tidak bisa didapatkan di wilayah tandus seperti Sunagakure. Kekesalannya pada Kakashi adalah mengapa pria berambut putih itu tidak mengirim orang lain untuk menemaninya? Ino misalnya atau genin juga bisa. Ia bosan sendirian di daerah orang lain tanpa teman sabangsa.
Memang benar dia ada teman disini, tapi teman-temannya itu orang penting. Gaara, Temari dan Kankuro. Mereka semua pejabat desa yang tidak mungkin Sakura minta untuk menemani kesehariannya di Suna. Bisa-bisa Negara Angin dan Negara Api berperang hanya karena dia meminta mereka menemaninya membeli Ice Cream di Suna yang panas ini.
"Aku bosaannn" Sakura kembali mengerang dan memutar-mutar dirinya di atas futon penginapannya.
Alasan kekesalannya yang kedua adalah tidak bisa pulang. Misinya sudah selesai. Ia sudah seminggu di Sunagakure. Tapi ia tidak bisa pulang karena badai pasir yang melanda Sunagakure dalam 3 hari ini. Jadi Sakura hanya bisa mendesah kasar. Ia benar-benar jobless 3 hari ini. Kabarnya badai akan berhenti 4 hari lagi. Memikirkan itu sudah membuat Sakura ingin menghancurkan seluruh penginapan ini.
Sebenarnya ia bisa saja menerobos badai pasir itu, ia benar-benar yakin bisa. Tapi orang-orang Suna melarangnya. Mereka mengatakan bukannya mati terkubur di pasir yang bahaya, tapi ke tidak tersediaan air dalam jarak yang panjang. Sehebat apapun seorang Ninja, mereka tetap minum air bukan minum pasir.
Tok. Tok
Sakura mendengar ketukan di pintu kamarnya. Ia dengan malas ia menyeret kaki untuk membuka pintu kamarnya.
"Aah Gaa- maksudku Kazekage-sama" Sakura kalap ketika orang tertinggi di Desa itu mengunjunginya.
"Gaara saja Sakura" ucap Gaara berusaha ramah, tapi raut mukanya berkata sebaliknya. "Kakashi mengirimkanku pesan dari Konoha. Ia mengatakan Sasuke kembali" sambungnya.
DEG
Sakura terdiam. Hatinya bergemuruh seperti awan yang akan memuntahkan jutaan volt listrik yang bernama petir. Rasa senang membungkus rapat hatinya, mengalir keseluruh sarafnya, dan memaksa otaknya untuk memerintahkan semua organ di tubuhnya merasakan kebahagiaan.
Ia merindu. Ia mendamba. Ia ingin bertemu dengannya. Seseorang yang tidak pernah absen dari mimpi malamnya. Seseorang yang selalu ia mendapatkan tahta tertinggi di hatinya. Seseorang yang selalu ia elukan namanya setiap harinya. Pujaannya. Sasukenya. Sakura ingin bertemu.
"Sakura. Aku akan ke Konoha sekarang, aku ada urusan aliansi bersama Kakashi. Kau pulang saja bersamaku. Aku bisa melewati badai pasir itu" jelas Gaara.
Sakura tak bergeming. Meski matanya terbuka lebar di hadapan Gaara, pikirannya telah melayang. Dia benar-benar ingin bertemu dengan Sasuke, pujaan hatinya.
"Sakura?" Gaara mengeluarkan suaranya melihat Sakura yang tak merespon kabarnya barusan.
"Ah? Eeh. Maafkan aku" Sakura tersentak kaget. "Maaf aku tidak mendengarkanmu, bisa kau ulangi Gaara-sama?"
Gaara menghela nafas. Jika dia adalah dirinya yang dulu, dia pasti akan meremukkan Sakura dengan pasirnya. Tapi Gaara sudah berubah. Maka ia memutuskan untuk tersenyum meski terlihat tidak tulus. "Ayo pulang bersamaku ke Konoha. Aku ada urusan dengan Kakashi" ucap Gaara lembut dan dibalas anggukan ceria oleh Sakura.
Sakura benar-benar bahagia saat ini. Ia tidak sabar untuk bertemu dengan Sasukenya.
To Be Continued
Awalnya aku mau buat cerita ini Twoshot, cerita fluffy aja gitu. Tapi aku lupa kemarin mau buat cerita ini gimana. Akhirnya aku memutuskan untuk menambah sesuatu yang lewat gitu aja dikepalaku. Ini cerita setelah Naruto nikah sama Hinata ya, sebelum adanya Boruto & Sarada
Karena Masashi-sama gak buat. Aku pun berimajinasi teman-teman. Yuhuu
Mungkin ini 2 atau 3 chapter lagi baru tamat. Kayak Next Stage juga ni, makin banyak yang suka makin banyak sekuel. Tapi cerita intinya tetap 4-5 chapter kok. Hehe.
Okay. Sampai disini saja. See you~
